Posted in Chapter, Hurt, I Hate You, I Love You, Married Life

I Hate You, I Love You #3

I Hate You, I Love You #3

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Jung Eunji, Kim Taehyung

Category : Married Life, Hurt

Rate : PG-17

**

“Eomma…”

Lian langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membanjiri keningnya dan nafas yang memburu. Mimpi itu terasa sangat nyata. Lian dapat merasakan sentuhan Anna di pipinya. Bahkan sentuhan itu masih terasa hingga sekarang. Senyuman hangat dan suara lembut Anna masih bisa Lian rasakan. Semuanya terlalu nyata untuk dikatakan mimpi.

Chanyeol yang sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjang dengan laptop di depannya langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh pada sang istri yang tiba-tiba terbangung. Diapun segera mendekati Lian. Meninggalkan pekerjaannya sejenak. Dia duduk di samping istrinya. Menatapnya cemas.

“Sayang? Kenapa? Kau mimpi buruk?” Tanyanya lembut sambil mengelus-elus pipi Lian. Dia mengerutkan keningnya saat tidak mendapat respon dari Lian.

Chanyeolpun memaksa Lian untuk duduk. Istrinya seperti kehilangan arah. Tatapan matanya kosong. Dia mendekap tubuh ringkih Lian dengan erat sambil mengelus-elus rambutnya. Mulutnya juga tidak berhenti menggumamkan kata baik-baik saja. Bukan sekali atau dua kali Chanyeol selalu melihat Lian terbangun tiba-tiba dengan keringat yang membanjiri keningnya. Dan dia tidak pernah tahu apa yang ada dalam mimpi istrinya itu.

Berada di pelukan Chanyeol setidaknya membuat gadis bermarga Kim itu sedikit tenang. Dia masih mencoba mengumpulkan kewarasannya. Pikirannya kosong. Dia kehilangan arah. Mimpi itu membuatnya bingung. Dan merasa dipermainkan. Tidak mungkin dia bisa merasakan sentuhan Anna.

Chanyeol masih berusaha menenangkan Lian. Dia menunggu istrinya itu tersadar. Tarikan nafas berat terdengar di mulutnya. Dia merasa tidak berguna sebagai seorang suami. Hingga dia merasakan kaos yang dia kenakan basah. Itu air mata Lian.

Ini buruk! Chanyeol tidak bisa melihat istrinya menangis. Dengan gerak cepat dia melepas pelukannya dan menangkup wajah Lian. Dapat dia lihat kalau istrinya itu masih kebingungan. Lian tidak pernah mau menatapnya. Dia menundukkan kepalanya dalam.

“Sayang? Hey, lihat aku! Kau baik-baik saja? Katakan apa yang terjadi. Jangan seperti ini, kau membuatku kawatir.” Chanyeol mengeluarkan kekawatirannya. Ibu jarinya menghapus air mata Lian yang mengalir di kedua pipi wanita itu.

Rasa sesak itu kembali menghampirinya. Dadanya seperti terhimpit beban yang sangat berat. Membuatnya sulit bernafas. Semua ucapan Anna masih terekam jelas di kepalanya. Membuat Lian semakin merasa tidak berdaya. Dia memukuli dadanya yang semakin terasa sakit. Mengabaikan Chanyeol yang sangat mencemaskannya.

Pergilah, luka! Biarkan aku bernafas sejenak.

“Park Lian, kumohon hentikan. Jangan melukai dirimu. Astaga!” Pinta Chanyeol sambil menahan tangan Lian yang memukuli dadanya sendiri.

Usahanya membuahkan hasil. Tangan Lian terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya. Selama mereka menikah, Chanyeol tidak pernah melihat Lian menangis. Ini pertama kalinya dan rasanya sangat menyayat hati. Lebih baik dia mendengar segala ucapan pedas Lian, daripada harus melihatnya menangis.

Chanyeol kembali memeluk Lian. Dia membenamkan wajahnya pada rambut Lian. Chanyeol tahu kalau istrinya ini sangat rapuh. Hanya saja Chanyeol dapat melihat dinding kokoh yang membuat Lian selalu terlihat kejam. Chanyeol lebih menyukai wajah dingin Lian, daripada harus melihat wajah cantik yang selalu dia banggakan dipenuhi air mata kesakitan.

Dengan segala kemunafikan dalam dirinya, Lian melingkarkan kedua lengannya pada perut Chanyeol. Dia benci perasaan seperti ini. Disaat dia merasakan nyaman dan tenang dalam pelukan Chanyeol, rasa benci itu selalu menjadi lebih besar. Dapat dia rasakan tubuh menegang dari suaminya tersebut. Namun tidak berlangsung lama, dia merasakan pelukan ini makin erat.

Sangat nyaman. Sampai rasanya Lian kehilangan nafasnya karena menahan segala rasa benci yang menyerangnya.

Bersyukurlah Chanyeol karena akhirnya dia dapat merasakan lagi rengkuhan lemah dari wanitanya. Kalau dengan terpuruknya Lian bisa membuat wanitanya itu datang padanya, tegakah dia membuat Lian terpuruk terus? Oh, bahkan pemikiran brengsek itu tetap tidak hilang dari kepalanya. Sekali brengsek tetap saja brengsek.

Masih dengan tanda tanya besar di kepalanya, Chanyeol memilih diam. Membiarkan istrinya tenang hingga akhirnya kembali tertidur karena lelah menangis. Dia bersenandung kecil agar membuat tidur Lian makin nyenyak. Dengan gerak pelan, dia membaringkan Lian. Sangat pelan-pelan. Tidak ingin mengusik tidur Lian. Setelahnya dia menyelimuti Lian. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Lian. Bekas air mata itu masih ada.

Chanyeol ikut membaringkan tubuhnya di samping Lian dengan posisi menyamping. Dia tersenyum miris melihat penampilan Lian yang kacau. Banyak sekali kesakitan yang Lian rasakan seorang diri. Seharusnya dia bisa menjadi obatnya. Bukan menjadi virus yang bisa memperparah rasa sakit itu.

“Maafkan aku karena terus melukaimu. Aku benar-benar tidak berguna sebagai suami.” Bisiknya sambil mengelus-elus pipi Lian.

Chanyeol memang sangat mencintai Lian. Dengan segenap jiwa dan raganya. Tapi ketahuilah kalau dia adalah seorang maniak. Dia tidak bisa hidup tanpa membobol lubang dari para wanita jalang di luar sana. Kebiasaan itu tidak dapat dia hilangkan. Dia tidak melakukannya pada Lian. Lian terlalu berharga untuk menjadi pemuas nafsu bejatnya. Dia menikahi wanita itu karena cinta, bukan untuk melayaninya.

Sebuah kecupan hangat dia berikan pada Lian di keningnya. Kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sambil terus mengawasi Lian yang sedang tidur nyenyak. Hanya tuhan yang tahu kalau Lian mendengar apa yang dikatakan Chanyeol dan merasakan kecupan manis di keningnya.

Dan ketahuilah… Ini adalah awal. Awal menuju kebahagiaan Lian yang sebenarnya. Belajar memaafkan.

**

“Oppa, apa kau mencintaiku?” Pertanyaan itu keluar dari bibir seorang gadis yang tengah duduk di kursi taman dengan es krim di tangannya.

Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat seorang pria jangkung di sampingnya menatapnya. Saat itu juga pria jangkung itu tidak dapat menutupi senyumnya saat melihat bibir gadisnya belepotan es krim.

“Kau tahu jawabannya tanpa harus bertanya, sayang. Dan… Bisakah kau memakannya pelan-pelan? Aku sangat ingin membersihkan bibirmu itu dengan bibirku.” Jawab pria itu sambil mengerling nakal.

Buk.

Pukulan keras tidak segan-segan diberikan dari gadis yang digoda. Pipinya sudah memerah karena malu. Kekasihnya ini memang sangat blak-blakan. Melihat ekspresi malu-malu dari gadis itu, membuat pria jangkung tidak dapat menahan tawanya. Hobinya memang suka menggoda kekasihnya ini.

“Manisnya, cantikku.” Ucapnya gemas sambil mengacak-acak rambut gadis di depannya.

Suasana menjadi hening. Lian, gadis penggila es krim itu, asik dengan es krim di tangannya. Mengabaikan pria jangkung di sampingnya yang terus menatapnya dengan senyum lebar. Chanyeol terlalu menikmati pemandangan indah di depannya. Kapan lagi dia akan melihat gadisnya sebahagia ini?

Es krim di tangan Lian sudah habis. Dia membuang bungkus es krim di tempat sampah. Dan Chanyeol, dia langsung sigap membersihkan tangan Lian yang lengket. Betapa dia sangat mencintai gadis ini. Senyum tidak pernah hilang dari bibirnya saat berdekatan dengan Lian.

“Apa tidak ada wanita lain yang oppa cintai?” Lian kembali bertanya dengan polos. Tidak mempedulikan dengan ekspresi tegang Chanyeol.

Chanyeol berdehem sejenak untuk mengurangi rasa gugupnya. Dia membuang tisu yang dia gunakan untuk membersihkan tangan Lian.

“Kau satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Ketahuilah kalau jantungku berdetak sangat cepat karenamu.” Jawab Chanyeol sambil mengapit dagu Lian dengan jempol dan telunjuknya. Dia menatap manik biru di depannya dengan intens.

Lian terpaku dengan tatapan mata Chanyeol sekaligus ungkapan manis pria itu. “Jangan menyia-nyiakan kepercayaanku, oppa. Aku akan sangat terluka dan membencimu.” Bisiknya sambil menggenggam tangan Chanyeol. Menunjukkan keresahannya.

Chanyeol hanya bisa menyembunyikan senyum mirisnya. Diapun menarik Lian ke dalam pelukannya. Berharap semuanya akan baik-baik saja.

Hubungan mereka bertahan lama. Setelah tiga tahun lamanya, hubungan itu berlanjut pada jenjang yang lebih serius. Kalau kalian menganggap Chanyeol melamar Lian, jawabannya salah. Singkatnya, keluarga dari kedua belah pihak mengadakan makan malam dan malam itu juga terjadilah perjodohan antara dia dan Chanyeol. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Lian tidak dapat menahan senyum bahagianya. Dia sangat antusias menyiapkan pernikahannya. Dari mulai memilih gaun pengantin hingga cincin nikah.

Pernikahan itu akan dilaksanakan seminggu lagi. Semua persiapan sudah matang. Hanya tinggal menyiapkan mental bagi kedua pengantin. Dan hari itu, Lian memutuskan untuk mengajak Taehyung, sahabat dekatnya, ke pantai. Dia ingin membagi kebahagiaannya dengan Taehyung. Jadilah mereka yang saat ini berjalan menyusuri pantai di sore hari. Menantikan matahari terbenam.

“Aku sangat bahagia.” Lian membuka percakapan setelah lama terdiam. Dia menghentikan langkahnya dan menatap Taehyung. Senyumnya benar-benar tidak bisa hilang.

Taehyung hanya bisa tersenyum paksa melihat wajah bahagia Lian. “Aku juga senang melihatmu bahagia.” Sahutnya.

“Boleh aku bertanya?” Taehyung menatap gadis di depannya intens.

Lian mendongakkan kepalanya menatap Taehyung. “Apa?”

“Bagaimana kalau dia menyakitimu?”

Mendengar pertanyaan Taehyung membuat Lian langsung bungkam. Dia menatap Taehyung dengan tatapan tidak percaya. Chanyeol tidak mungkin melukainya. Itulah janji Chanyeol.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Dia tidak akan menyakitiku, Tae.” Jawab Lian dingin. Dia merasa tersinggung dengan pertanyaan Taehyung.

“Kuharap begitu. Karena aku benar-benar akan membunuhnya kalau dia menyakitimu.” Sahut Taehyung

Lian menatap sahabatnya dengan tatapan sulit diartikan. Dia tahu perasaan Taehyung. Dan dia merasa seperti wanita bodoh karena tidak bisa membalas perasaan pria itu. Hati Lian sudah diisi oleh sosok Chanyeol.

“Maafkan aku.”

“Hentikan. Kau tidak bersalah kenapa meminta maaf? Berjanjilah untuk bahagia dengannya.” Ucap Taehyung cuek.

Lian tersenyum miris. “Kuharap kau menemukan wanita lain yang lebih baik dariku.” Lirihnya dengan kepala tertunduk.

Sore itu berakhir dengan keduanya yang menikmati matahari terbenam. Tidak ada percakapan setelah itu. Lian masih merasa bersalah dengan Taehyung. Dia melukai perasaan Taehyung. Sementara Taehyung hanya mencoba menerima kenyataan pahit yang menimpanya. 

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Mereka berjalan beriringan tanpa kata. Hanya suara debur ombak dan angin yang menemani perjalanan mereka menuju parkir mobil.

“Aku tidak bisa, Eunji-ya.”

Suara itu berhasil menghentikan langkah Lian. Dia kenal dengan suara ini. Dan kepala Lian secara spontan menoleh mencari sumber suara. Tidak mungkin dia berhalusinasi. Dia sangat yakin kalau suara yang dia dengar adalah suara Chanyeol.

“Wae?” Tanya Taehyung heran saat melihat Lian menghentikan langkahnya.

Lian tidak menjawab. Dia masih mencari dimana sumber suara itu berasal. Kakinya bergerak sendiri menuju sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Taehyung mengikutinya dengan perasaan heran.

“Pernikahannya sebentar lagi. Aku tidak bisa membatalkannya.”

Suara itu makin jelas. Lian dapat melihat punggung Chanyeol dan di depannya terdapat seorang wanita yang tidak dia kenal. Sementara itu Taehyung terlihat sangat terkejut melihat Chanyeol bersama wanita lain. Berbeda dengan Lian. Dia sedang berperang dengan ketakutannya. Mencoba yakin kalau wanita itu hanya teman Chanyeol.

“Perjanjiannya tidak seperti ini, Chanyeol. Seharusnya kau sudah berpisah dengannya dua bulan yang lalu. Apa jangan-jangan kau mulai mencintai Lian?”

“Astaga, Eunji. Aku hanya mencintaimu. Sungguh. Aku belum menemukan waktu yang tepat untuk memutuskannya sampai perjodohan ini terjadi.”

Tubuh Lian melemas mendengar ucapan Chanyeol. Pandangannya mengabur oleh air mata. Tidak mungkin! Dia pasti bukan Chanyeol. Chanyeol berkata hanya mencintainya. Tidak ada wanita lain. Pasti dia bukan Chanyeol.

“Lalu sekarang bagaimana? Perjanjian dalam taruhan bukan seperti ini. Kau tidak bisa menikah dengannya.”

Bagai tersambar petir, Lian merasa nyawanya direnggut secara paksa. Taruhan? Jadi selama ini dia menjadi bahan taruhan? Jadi tidak pernah ada cinta dari Chanyeol? Lalu apa maksud perkataannya di taman dulu? Hanya dia wanita satu-satunya. Lian mencengkram dadanya yang terasa sangat sakit.

Sementara itu Taehyung tampak mengepalkan tangannya kuat. Emosinya mendidih kala mendengar semua yang diucapkan Chanyeol. Baru beberapa menit yang lalu Lian sangat yakin kalau Chanyeol tidak akan menyakitinya. Lalu, sekarang ini apa? Taehyung tidak bisa diam saja melihat gadis yang amat dia sayangi terluka karena Chanyeol. Dia baru akan maju untuk melayangkan tinju untuk Chanyeol, sebelum kemudian merasakan sebuah tangan menahannya. Taehyung melempar tatapan protes pada pemilik tangan yang tak lain adalah Lian, namun Lian hanya menggelengkan kepalanya lemah.

“Aku akan menceraikannya setelah tiga bulan menikah.”

Bug!

Taehyung tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Tanpa mempedulikan Lian yang memohon untuk tetap tenang, dia berjalan cepat menghampiri Chanyeol dan melayangkan tinjunya pada pria itu. Dia sangat marah karena lelaki ini berhasil membuat Liannya sangat terluka. Seperti orang kesetanan, Taehyung memukuli wajah Chanyeol.

Sementara itu Chanyeol masih belum sadar dari keterkejutannya. Dia bahkan tidak bisa melawan saat Taehyung memukulnya. Hingga matanya menangkap sosok gadis yang tengah menangis. Chanyeol membulatkan matanya. Bagaimana bisa?

“Brengsek! Kau pikir kau siapa berani menjadikan Lian sebagai mainanmu?! Otakmu dimana, huh?!” Taehyung mencengkram kerah Chanyeol sambil menatapnya bengis. Nafasnya memburu karena marah.

Bug!

Taehyung memberikan pukulan lagi di wajah Chanyeol. Setan seolah merasukinya. Dia tidak bisa membiarkan pria yang menyakiti Lian begitu saja. Kesedihan Lian kesedihannya juga.

“Apa kau pikir pernikahan hanya sebuah permainan?! Kau pengecut! Menjadikan wanita lemah sebagai mainanmu. Dimana otakmu, sialan?!” Teriak Taehyung tepat di depan wajah Chanyeol.

Chanyeol tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat gadis yang baru saja dia sakiti. Hatinya tersayat melihat Lian menangis. Dia tidak bisa melihat gadisnya menangis. Terlebih karenanya. Dan saat itu jugalah rasa penyesalan itu datang. Dia sadar kalau selama ini dia terjebak dalam permainan yang dia buat sendiri. Dia jatuh dalam pesona seorang gadis cantik dan pendiam bernama Kim Lian.

“Tae, hentikan.” Lirih Lian sambil memegang lengan Taehyung.

Taehyung menghempaskan tubuh Chanyeol sampai pria jangkung itu mundur beberapa langkah. Dia beralih menatap Lian yang saat ini masih menangis tanpa suara.

“Li…” Chanyeol hendak mendekati Lian namun langsung ditahan oleh Eunji.

“Selesaikan semuanya sekarang, oppa. Pilihlah salah satu diantara kami.” Ucap Eunji tiba-tiba. Membuat Chanyeol dilema setengah mati. Tatapannya tertuju pada gadis di depannya yang tampak rapuh.

“Ayo pulang.” Lian menarik tangan Taehyung. Dia tidak sanggup lagi melihat kesakitan di depannya. Dia belum siap mendengar Chanyeol memilih wanita itu. Tidak akan siap.

“Li, dengarkan aku dulu. Aku bisa jel-“

“Jangan mendekatinya, sialan! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau saja Lian tidak menahanku. Kau masih bisa membatalkan pernikahan ini dan aku yang akan menjadi suami Lian.”

“Brengsek, jangan mengambil Lian dariku!” Teriak Chanyeol

“Tae…”

“Kim Lian!” Seru Chanyeol sambil berusaha mendekati Lian.

“Aku tidak mengenalmu.” 

Ucapan dingin Lian membuat jantung Chanyeol berhenti berdetak. Dia mematung di tempatnya sambil melihat Lian yang semakin menjauh darinya bersama Taehyung. Kini dia merasakan sakit luar biasa melihat tatapan dingin Lian. Sungguh dia menyesal! Dia tidak bisa melepas Lian. Dan kini keputusannya sudah bulat.

“Eunji, kita berakhir. Aku mencintai Lian dan aku tidak bisa kehilangannya. Maafkan aku.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Chanyeol langsung berlari mengejar Lian. Mengabaikan Eunji yang masih tercengang dengan ucapannya.

“Lian, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan melepasmu.”

**

Tiba-tiba saja ingatan saat semua kebohongannya terbongkar, tiga tahun yang lalu melintas dalam kepala Chanyeol. Sontak dia langsung menghentikan aktivitasnya yang tengah mengetik pekerjaannya. Setiap kali ingatan itu datang, Chanyeol tidak dapat menahan rasa marah kepada dirinya sendiri. Hari itu pertama kalinya dia melihat Lian menangis. Parahnya lagi dia penyebab Lian menangis. Dia begitu menyesali perbuatannya.

Pernikahan itu tetap terjadi. Chanyeol kekeuh pada keputusannya untuk menikahi Lian. Dia juga berulangkali meminta maaf pada gadis itu. Tapi permintaan maafnya hanya dianggap angin lalu oleh Lian. Gadis itu bahkan tidak suka melihatnya hingga pernikahan terjadi. Semua angan dalam benak Chanyeol harus kabur saat tidak mendapati raut bahagia di wajah Lian. Padahal dia sangat ingat betapa gadisnya ini terlihat antusias saat memilih cincin dan gaun pengantin. Berbeda dengan saat berhadapan dengannya di altar.

Chanyeol memijit pelipisnya yang terasa pening. Akhir-akhir dia terganggu dengan ingatan semua kesalahan yang pernah dia lakuka pada Lian. Ditambah dengan pekerjaan yang menumpuk membuatnya harus rela pulang malam dan waktunya dengan Lian berkurang. Dia akan pulang saat Lian sudah tidur. Ngomong-ngomong tentang istrinya tersebut, Chanyeol sangat merindukannya. Hubungan mereka juga sudah lebih baik dari biasanya. Istrinya sudah bisa dia ajak berkomunikasi.

Karena tidak bisa menahan kerinduannya, Chanyeolpun memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Biar saja sekretarisnya yang mengurus. Dia tidak ingin pekerjaannya kacau karena dia yang tidak fokus. Bagaimana bisa fokus kalau yang ada di kepalanya hanya bayangan wajah cantik Lian?

Setelah berpesan kepada sekretarisnya untuk mengosongkan jadwal hingga besok, diapun segera bergegas untuk pulang menemui sang istri. Hitung-hitung memberi kejutan untuk Lian.

**

Hari ini tidak ada kegiatan yang bisa Lian kerjakan. Semua sudah dikerjakan para pekerjanya dan dia dilarang untuk membantu. Tadinya dia berniat untuk membuat kue saja. Tapi bahan-bahannya habis. Jadilah dia sekarang yang hanya diam termangu di depan televisi menunggu pekerjanya datang. Dia juga dilarang untuk membeli bahan membuat kue seorang diri.

Layar televisi di depannya tampak hanya diacuhkan oleh Lian. Pikirannya tidak tertuju pada tayangan itu. Dia bosan. Berada di rumah sebesar ini seorang diri membuatnya sangat kesepian. Tidak ada yang bisa dia ajak berbincang-bincang. Andai saja ada sosok malaikat kecil duplikatnya dengan Chanyeol, pasti dia tidak akan merasa sangat kesepian.

Wajah Lian mendadak murung saat kepalanya teringat akan sosok bayi. Sudah dua tahun pernikahannya, tapi mereka belum mempunyai momongan. Kenapa? Tentu saja karena Lian yang sangat kecewa dengan Chanyeol. Tapi setelah merasa hubungannya dengan Chanyeol berangsur membaik, keinginan untuk mempunyai anak itu muncul. Apalagi diumurnya yang sudah dua lima. Lian yakin suaminya itu juga menginginkan sosok malaikat kecil diantara mereka.

Tapi… Haruskah dia mengatakan keinginannya pada Chanyeol, sedangkan Chanyeol tidak pernah menyentuhnya lebih dalam selain berciuman. Gengsi dalam diri Lian terlalu besar. Helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya.

Membosankan.

Dia mengutuk dalam hati pada pekerjanya yang tidak kunjung tiba. Dia sudah sangat bosan hanya berdiam diri depan layar televisi yang bahkan tayangannya saja tidak menarik. Disaat seperti inilah dia merasakan merindukan suaminya. Dia tahu kalau pekerjaan Chanyeol akhir-akhir ini sangat banyak hingga waktu pertemuannyapun menjadi sedikit.

“Kim Lian.”

Mendengar suara itu sontak membuat tubuh Lian menegang. Di depannya berjarak lima belas meter dari tempat duduknya, berdiri kakak tirinya. Byun Baekhyun. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun yang paling bisa Lian tangkap adalah ekspresi terluka dan penyesalan Baekhyun. Ekspresi yang selalu pria itu berikan untuknya.

Sial. Lian kini merasa bersalah karena mengingat kata-kata kasar yang pernah dia ucapkan pada kakak tirinya itu. Seperti pesan Anna dalam mimpinya waktu itu. Belajar memaafkan. Lianpun mencobanya. Dia memulai komunikasi yang baik dengan Chanyeol. Tapi belum sampai tahap pada keluarganya. Selain tidak pernah bertemu, Lian merasa sangat berat untuk memaafkan mereka. Tapi ketahuilah, kalau hati Lian mulai mencair dan dia sedikit menyesali semua perbuatannya pada Baekhyun.

Lian masih diam mematung. Tidak tahu harus berkata apa saat melihat kakak tirinya berjalan mendekatinya hingga berdiri tepat di depannya. Lian menahan nafasnya sejenak. Dia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang akan dilakukan Baekhyun?

“Ada yang ingin kukatakan. Untuk terakhir kalinya sebelum aku berangkat ke Jerman.” Suara pelan itu kembali memasuki indera pendengaran Lian. Dan Baekhyun tidak tahu kalau ucapannya sedikit membuat Lian terluka karena kata terakhir di dalamnya.

Lian masih diam. Namun matanya mengatakan kalau dia mempersilahkan Baekhyun untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan. Diluar dugaan Lian! Baekhyun tiba-tiba berlutut di depannya dengan kepala tertunduk. Lian membulatkan matanya kaget. Dia ingin berteriak agar Baekhyun berdiri, tapi mulutnya seolah terkunci.

“Aku tahu seribu kata maaf tidak akan bisa menyembuhkan luka di hatimu karena kehilangan ibumu. Akupun tahu segala cara yang kulakukan tidak akan bisa membuatmu memaafkanku. Terlepas dari itu semua, aku tetap ingin minta maaf. Aku minta maaf karena sudah menjadi kesakitan dalam hidupmu. Aku minta maaf karena membuatmu kehilangan ibumu. Aku-”

Baekhyun tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia sudah mengumpulkan keberanian untuk menemui Lian dan mengatakan semua yang ingin dia katakan. Tapi tetap saja dadanya merasa sesak setiap kali melihat adik tirinya yang terlihat menderita. Dia merasa salah. Salah karena hadir dalam kehidupan Lian.

Sementara itu, Lian hanya menatap Baekhyun dengan mata berkaca-kaca. Kalau sebelumnya dia akan mengusir dan menjelek-jelekkan Baekhyun, kali ini Lian ingin memeluk Baekhyun. Lian tidak pernah merasa sesakit ini karena mendengar permintaan maaf Baekhyun.

“Aku seharusnya tidak datang ke dalam kehidupan kalian. Aku menyesal tidak bisa mencegah eomma untuk tetap tinggal. Setiap kali melihat tatapan bencimu, aku merasa nyawaku direnggut begitu saja. Aku sungguh minta maaf.” Suara Baekhyun makin lirih. Seiring dengan bahunya yang bergetar.

Air mata mulai membanjiri pipi Lian. Kini dia tahu apa arti perasaan gelisahnya selama ini. Karena dia menyimpan benci terlalu dalam pada semua orang. Sekarang, saat Lian sudah mulai memaafkan mereka, tubuhnya terasa lebih ringan. Namun rasa bersalah karena sudah melukai perasaan Baekhyun dengan kata-kata kasarnya tetap ada. Baekhyun tidak bersalah. Dia juga korban.

Dengan tangan yang bergetar, Lian menyentuh kedua pundak Baekhyun. Membuat Baekhyun mengangkat kepalanya. Hatinya mencelos saat lagi-lagi melihat Lian menangis. Namun selanjutnya dia dibuat terkejut setengah mati saat Lian tiba-tiba Lian memeluknya. Tubuhnya membeku. Wajahnya juga tampak terkejut. Dia masih belum mencerna apa yang terjadi.

Lian, adik tirinya, memeluknya? Ini seperti mimpi. Tangannya yang bergetar terangkat untuk membalas pelukan adik tirinya. Dalam hatinya dia bersyukur karena Lian mau mendengarkan semua ucapannya, bahkan sampai memeluknya. Mereka menangis bersama dalam pelukan itu dengan Baekhyun yang terus mengucapkan kata maaf. Namun perasaan lega juga mereka rasakan karena beban yang sudah lama mereka rasakan terangkat.

“Aku sudah memaafkan kalian.” Ucap Lian ditengah isakannya. Dia mengatakannya dengan tulus.

Baekhyun semakin menangis kencang saat mendengar kalau Lian sudah memaafkannya. Sekarang, dia merasa lebih tenang. Dia merasa sangat senang hingga tidak tahu harus berkata apa. Namun dalam hatinya dia terus berucap syukur pada Tuhan karena Lian sudah mulai membuka hati untuk memaafkannya.

Mengatakan maaf bukanlah hal memalukan. Karena maaf bisa membawa kebahagiaan yang tidak pernah diduga.

**

Pria jangkung itu memasuki rumah mewahnya dengan langkah lebar dan senyum mengembang. Dia tidak sabar ingin bertemu wanita kesayangannya. Sebelumnya dia sudah menyuruh para pegawainya untuk merahasiakan kepulangannya pada Lian karena memang Chanyeol ingin memberi kejutan untuk istri tercintanya tersebut. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu, jadi Chanyeol pikir memberi kejutan Lian dengan kehadirannya merupakan hal yang bagus.

Para pegawai Chanyeol tidak dapat menahan senyum bahagia mereka setelah melihat hubungan majikan mereka yang berangsur membaik. Selama sebulan ini mereka jarang mendapati tuan dan nyonya mereka bertengkar. Selain itu, sikap ramah Lian kepada mereka juga membuat mereka senang. Dan mereka berharap pemandangan seperti ini akan tetap ada seterusnya. Mereka sangat menyayangkan setiap kali mendengar teriakan kemarahan dari Lian karena ulah Chanyeol.

Tanpa bertanya pada pegawainya, kaki Chanyeol langsung berjalan menuju dapur. Dari ruang tengah dia dapat mencium aroma harum kue kesukaannya. Senyumnya makin mengembang tatkala melihat wanita yang sangat dia rindukan tengah sibuk memasukkan adonan kue ke dalam cetakan. Penampilan istrinya terlihat berantakan dengan apron biru yang menempel di tubuhnya. Tapi ketahuilah, bagaimanapun penampilan Lian, akan tetap terlihat cantik di mata Chanyeol.  Apalagi dengan peluh yang membasahi keringat Lian. Membuatnya terlihat lebih seksi.

Dengan langkah mengendap, Chanyeol berjalan mendekati Lian. Dan saat sudah berada di belakang istrinya yang nampaknya belum menyadari kedatangannya, dia langsung melingkarkan kedua tangannya pada perut Lian. Membuat wanita itu berjengit kaget. Beruntung adonan yang dia pegang tidak jatuh.

“Selamat sore, sayang.” Bisik Chanyeol sambil mencium pipi Lian dari belakang.

Lian tidak pernah siap dengan perbuatan Chanyeol yang tiba-tiba. Termasuk memeluknya dari belakang. Dia heran karena Chanyeol sangat suka memeluknya dari belakang sambil meletakkan dagunya pada bahu Lian. Seperti yang dilakukan sekarang ini. Membuat Lian sedikit kesusahan untuk bergerak bebas.

“Kau menggangguku.” Ucap Lian sambil berusaha melepaskan tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya.

Jujur Lian sangat senang melihat Chanyeol pulang lebih awal. Tidak ingin munafik, Lian memang merindukan Chanyeol. Dan saat ini hatinya tengah berbunga-bunga karena Chanyeol memeluknya dari belakang. Sesuatu yang sudah jarang dia dapatkan belakangan ini karena kesibukan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Tidak dapat dipungkiri kalau jantungnya berdetak kencang.

Ey! Lian malah terlihat seperti seorang remaja yang mabuk cinta. Bukan tipe Lian sekali.

Dengan wajah masam, Chanyeolpun melepas pelukannya. Setengah hati. Dia berpindah untuk berdiri di samping Lian sambil bersandar pada meja. Tatapannya tidak lepas dari wajah serius dominan bahagia dari Lian. Kalau sebulan yang lalu dia hanya bisa melihat wajah dingin Lian, sekarang dia bisa melihat senyum indah itu lagi. Kalau sebulan yang lalu dia hanya bisa mendengar kata-kata pedas Lian, sekarang dia bisa mendapat kalimat indah dari istrinya.

Tampaknya Chanyeol tidak sadar kalau aksinya menatap Lian justru malah membuat wanita itu gugup. Terbukti dengan Lian yang sekarang justru bingung harus berbuat apa. Dia berusaha terus bekerja agar tidak ketahuan suaminya kalau sedang gugup. Memalukan.

Chanyeol menunggu Lian selesai dengan kegiatan memanggang kuenya hingga selesai. Dia tidak ingin mengganggu istrinya. Lagipula kapan lagi dia bisa melihat wajah serius Lian dengan peluh yang membanjiri keringatnya. Melihatnya hanya membuat Chanyeol ingin menelanjanginya sekarang juga.

“Kenapa sudah pulang?” Tanya Lian setelah dia selesai memasukkan adonan terakhir ke dalam oven. Dia mencuci tangannya dulu sebelum akhirnya mendekati Chanyeol yang masih setia menunggunya.

Chanyeol mendengus sebal. “Apakah begitu caramu menyambut suamimu pulang?”

Lian tertawa sumbang. Bahkan sebelum mereka baikan, tidak ada acara menyapa seperti yang dia lakukan saat ini. Takdir memang lucu. Lian tidak sadar kalau Chanyeol sudah berdiri di depannya dengan tatapan penuh rindu. Saat dia menyadarinya, tiba-tiba Chanyeol sudah menciumnya dengan menggebu-gebu. Lian yang belum siap sama sekali hanya bisa membulatkan matanya. Dia menatap Chanyeol yang bahkan sudah memejamkan matanya.

Baru saja Lian hendak membalas ciuman Chanyeol, ciuman itu sudah terlepas. Menyisakan rasa kehilangan pada Lian yang kentara jelas untuk Chanyeol. Kening mereka masih menyatu. Bahkan keduanya bisa merasakan deru nafas lawan jenisnya. Tangan Chanyeol yang tadinya berada di tengkuk Lian, kini berpindah menjadi memeluk pinggang Lian posesif.

“Aku sangat merindukanmu.” Bisik Chanyeol dengan senyum mautnya. Matanya menyorotkan kerinduan yang mendalam.

“Aku juga.” Balas Lian pelan. Terkesan malu-malu. Dia bahkan menundukkan kepalanya karena tidak ingin ketahuan jika pipinya sudah memerah malu.

“Apa Baekhyun ada disini?” Tanyanya kemudian. Masih dalam posisi yang sama. Dia sangat menikmati posisi intim ini.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Lian balik sambil mendongakkan wajahnya. Dan saat itu juga dia menyesal karena jaraknya dengan Chanyeol benar-benar sangat dekat.

“Aku melihat mobilnya di depan.” Jawab Chanyeol dengan senyum tertahan saat melihat semburat merah di pipi Lian. “Kau tidak ingin melanjutkan yang tadi?” Tanya Chanyeol lagi dengan nada menggoda.

“Apa?” Sahut Lian pura-pura tidak tahu. Tapi… Suaranya terdengar bergetar.

Chanyeol menyeringai, “Kau bahkan kecewa saat aku berhenti menciummu.” Ucapnya sambil mengelus-elus pipi Lian.

“A-apa? Aku tidak!” Sergah Lian gugup.

“Jangan berbohong, sayang. Aku tahu kau ingin kita melanjutk-mpphh”

Kalimat Chanyeol langsung berhenti di tengah jalan saat tiba-tiba Lian lebih dulu menciumnya. Pelan dan intens. Khas seorang Kim Lian. Dengan senang hati Chanyeol menerimanya. Dia merengkuh pinggang Lian semakin erat sementara tangan kanannya berada pada tengkuk Lian guna memperdalam ciuman mereka. Chanyeol bisa mati perlahan kalau seperti ini terus. Ciuman Lian sangat memabukkan. Sangat intens dan dalam. Chanyeol akui hanya Lian satu-satunya yang mempunyai ciuman paling menakjubkan.

She’s a good kisser. More than good.

Dan sebenarnya Chanyeol berbohong tentang melihat mobil Baekhyun di halaman rumahnya. Dia mengetahui hal itu sebelum dia tiba di rumah. Tentu saja dia melihat dari kamera CCTV rumahnya. Chanyeol melihat semuanya. Saat Baekhyun berlutut di depan Lian hingga akhirnya mereka berbaikan. Chanyeol lega karena sahabatnya itu bisa mendapat maaf juga dari Lian. Pun dia merasa senang dan bersyukur karena Liannya benar-benar berubah menjadi sosok yang hangat.

Kegiatan panas itu masih berlanjut. Kali ini lebih menuntut. Tangan Lian mulai bergerak merengkuh pinggang Chanyeol. Kepala mereka bergerak ke kiri-kanan guna mencari posisi nyaman dan mencuri pasokan udara. Tangan Chanyeol sudah gatal ingin menyentuh seluruh lekuk tubuh Lian. Tapi…

“Astaga!” Pekik Baekhyun yang tiba-tiba datang dengan penampilan khas bangun tidur.

Suara tersebut mau tidak mau membuat kegiatan dua manusia dilanda mabuk asmara itu berhenti. Chanyeol menatap sebal pada sahabatnya karena merasa terganggu. Berbeda dengan Lian yang justru menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik dada lebar Chanyeol.

Pria berwajah cantik itu menutup matanya dengan kedua tangannya. Tapi dia masih bisa melihat pasangan suami-istri itu melalui celah di jarinya. Sungguh Baekhyun tidak menyangka akan melihat adegan panas di dapur. Dia baru saja bangun tidur dan ingin minum tapi malah melihat sahabat dan adik tirinya sedang berciuman panas. Otomatis, nyawanya yang baru terkumpul lima belas persen, langsung terkumpul sepenuhnya.

Pria berwajah cantik itu mendengus sebal saat melihat Chanyeol dengan tatapan laparnya sedang menggoda Lian yang masih terlihat malu. Diapun kembali melakukan pada niat awalnya ke dapur. Astaga! Dia benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka melakukannya di dapur sementara banyak para pekerja yang berkeliaran di rumah ini?

“Berterimakasihlah aku datang. Kalau tidak, kalian akan lupa tempat dan bercinta disini.” Sungut Baekhyun setelah menghabiskan segelas air dingin.

Lian mendelik kaget mendengar ucapan frontal Baekhyun. Namun sejurus kemudian, wajahnya kembali memanas saat mengingat ciuman panas tadi. Yang dikatakan Baekhyun ada benarnya. Dia bahkan hampir kehilangan akal sehatnya karena terlalu menikmati ciuman tadi. Dan tidak bisa dipungkiri kalau hasratnya meninggi. Dia saja sudah bergairah, apa lagi Chanyeol? Tangan pria itu bahkan masih merengkuh pinggangnya posesif. Diikuti dengan remasan seduktifnya.

Oh, tidak! Dia bisa gila kalau Chanyeol tidak menghentikan kegiatannya. Ada Baekhyun! Akal sehatnya terus berteriak.

Ting!

Hah. Lian bisa bernafas lega saat mendengar suara oven. Rupanya kue buatannya sudah matang. Tanpa mempedulikan Chanyeol yang masih menatapnya, dia melenggang menuju oven untuk mengangkat kue buatannya. Aroma harum kue buatannya langsung menyebar ke seluruh penjuru dapur. Siapapun yang menciumnya akan langsung tergiur.

“Kau terlihat bahagia.” Ucap Baekhyun pelan yang tiba-tiba sudah berada di samping Chanyeol. Dia bersandar pada meja, sama seperti yang dilakukan Chanyeol. Keduanya sedang melihat Lian yang mulai sibuk dengan kue-kuenya.

Chanyeol melirik Baekhyun sekilas sambil tersenyum tipis. “Kurasa kita merasakan perasaan yang sama.” Sahutnya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.

“Aku semakin mencintainya.” Tambah Chanyeol

Obrolan singkat itu berakhir saat Lian mendekati mereka dengan membawa piring yang berisikan kue buatannya. Senyumnya tampak mengembang hanya karena merasa puas dengan resep barunya. Chanyeol dan Baekhyun yang melihat senyum itupun ikut tertular. Betapa bahagianya mereka karena dapat melihat senyum itu lagi.

“Aku mencoba resep baru. Cobalah. Kuharap kalian menyukainya.” Lian menyodorkan kuenya kepada suami dan kakak tirinya.

Baekhyun langsung mengambil satu potong kue berwarna ungu itu kemudian memakannya. Lain halnya dengan Chanyeol yang justru malah menarik pinggang sang istri dan langsung mencium pipinya. Lian melotot kaget melihat kelakuan Chanyeol.

“Aku lebih tertarik untuk memakanmu.” Bisik pria jangkung itu seduktif.

Baekhyun yang mendengarnya hanya mendengus sebal. “Sepertinya kalian butuh ranjang.” Ucap Baekhyun sambil mengambil satu potong kue buatan Lian lagi. “Kuenya sangat enak. Lebih baik kau urusi nafsu suami itu.” Sambung Baekhyun pada Lian sambil menepuk pundak Lian. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan pasangan suami-istri yang sedang terbakar gairah.

Lian melongo mendengar ucapan Baekhyun. Bagaimana bisa mereka berdua sefrontal ini? Tatapannya beralih pada Chanyeol. Dan… Oh tidak! Tatapan Chanyeol benar-benar berkabut. Penuh dengan gairah. Lian juga dapat merasakan nafas suaminya itu yang sudah memburu. Lian dibuat gugup karenanya. Dia bahkan tidak sadar kalau piring yang dia bawa bergetar.

Apa ini saatnya?

Lian kembali ingat dengan keinginannya untuk memiliki anak. Mungkin memang ini saatnya. Bukankah lebih cepat lebih baik? Lagipula, hubungannya dengan Chanyeol sudah memiliki banyak kemajuan dan dia juga tidak pernah mendapat informasi dari mata-matanya tentang tindakan menyimpang Chanyeol.

“Bolehkah?” Tanya Chanyeol dengan suara serak.

Lian mendongakkan kepalanya secara perlahan. Dia menatap mata Chanyeol yang sudah berkabut gairahnya sendiri. Lian sedang berperang dengan batinnya. Setelah dirasa keputusannya sudah bulat, Lian menganggukkan kepalanya malu-malu. Setelah mendapat persetujuan dari Lian, tanpa pikir panjang Chanyeol langsung menggendong istrinya ala bridal menuju kamar mereka.

Saatnya menuntaskan hasrat masing-masing. Lian yang tampak belum siap hanya memekik kaget dan mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol. Dia dapat melihat bibir suaminya itu membentuk sebuah seringai.

Ready for wonderful night, baby?” Bisik Chanyeol seduktif saat mereka sudah berada di depan pintu. Dia menghembuskan nafasnya tepat di samping telinga Lian. Bermaksud menggoda sang istri.

Kemudian dua insan itu hilang dibalik pintu dan mulai menyelami kenikmatan surga dunia yang lama tidak terlampiaskan. Malam itu diiringi dengan erangan dan desahan nikmat dari dua anak adam yang tengah mengejar kenikmatan surgawi.

Tbc~

Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 5

Fool For You Part 5

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – Cho Kyuhyun – Lee Donghae – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

Sudah lima hari sejak Lian kembali dari Swiss. Pekerjaannya semakin banyak. Baik Marcus maupun Aiden, dua pria itu juga sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Perusahaan memang sedang melaksanakan projek besar yang mengharuskan Lian ke luar kota untuk memantau pembangunan hotel tersebut. Karena hotel ini akan menjadi hotel bertaraf bintang lima internasional, Lian harus turun tangan untuk ikut serta memantau proses pembangunan tersebut. Dia tipe wanita yang menginginkan segala hal yang dia kerjakan sempurna. Jadi untuk projek pertamanya menjabat sebagai presdir, dia ingin kinerja yang membuat semua orang puas.

Tapi karena kesibukannya tersebut, membuat Lian sering pulang terlambat dan waktu istirahatnyapun tidak efektif. Dia harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan kemudian pulang hampir malam. Awalnya Lian masih bisa menghabiskan waktu dengan Fellix dan masih bisa menunggu Taehyung. Tapi sudah dua hari ini dia tidak punya waktu untuk Fellix dan jarang ke rumah sakit. Dia hanya bertemu Fellix hanya saat pagi dan malam, saat bocah itu akan tidur.

Selama tiga hari bersamanya, Fellix tidak pernah merepotkan. Bahkan bocah es itu bisa akrab dengan Yoongi dan Anna. Dia diantar jemput oleh Yoongi. Kemanapun dengan Yoongi. Fellix akan ke rumah sakit saat pukul tiga dan pulang saat pukul enam. Rutin seperti itu terus karena memang Taehyung yang menyuruhnya.

Seperti hari ini, Fellix baru saja pulang dari rumah sakit bersama Marcus. Bocah lima tahun itu tampak tertidur pulas di samping Marcus yang sedang menyetir. Kata Yoongi tadi, di sekolah Fellix ada acara perlombaan peringatan ulangtahun sekolah. Dan kebetulan Fellix mengikuti lomba lari. Pantas kalau saat ini dia kelelahan.

“Dia terlihat lelah. Tidurnya pulas sekali.” Ucap Marcus pada Lian di ujung telepon.

Tugasnya kali ini bertambah. Di samping menjaga Lian dan membantu Lian mengurus perusahaan, dia juga harus menjaga Fellix karena memang dia yang bertanggungjawab. Dia kadang yang menjemput Fellix dari rumah sakit. Seperti sekarang ini. Karena pekerjaannya sudah selesai, maka dialah yang menjemput Fellix di rumah sakit.

Sebenarnya tadi dia menawarkan diri untuk membantu pekerjaan Lian yang belum selesai. Tapi gadis perfectionist itu menolak dengan alasan idenya sedang mengalir deras. Jadinya, sepupu cantiknya itu masih mendekam di dalam ruang kerjanya sampai sekarang.

“Jangan kawatir. Kawatirkan saja dirimu. Kau sudah terlalu sering pulang malam. Lanjutkan saja pekerjaanmu besok.” Ucap Marcus

Akhir-akhir ini Marcus sering dibuat khawatir karena jadwal pekerjaan Lian yang menumpuk. Tidak adanya pemimpin di perusahaan kemarin, ternyata membuat semua karyawan kelimpungan. Hingga akhirnya Lian datang dan pekerjaan semua diambil alih oleh Lian.

“Dia sendirian. Temannya sedang ada acara keluarga jadi tidak bisa menemaninya.” Ucap Marcus lagi.

Bukan hanya pekerjannya yang bertambah. Tugas Lianpun juga bertambah untuk menjaga ayah Fellix karena Younbi sudah memberinya amanah. Hal itu mengharuskan Lian bolak-balik rumah-kantor-rumah sakit-rumah.

Marcus meletakkan ponselnya di dashboard mobil saat sambungan teleponnya dengan Lian sudah terputus. Dia menatap Fellix yang masih tidur pulas. Besok hari minggu dan di sekolah Fellix ada acara perayaan ulangtahun. Bocah kecil itu juga mempunyai banyak sekali tugas sekolah.

**

Lian memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menunggu lift di depannya terbuka. Hari ini dia sendirian ke rumah sakit setelah sebelumnya pulang untuk mandi. Dia juga membawakan makan malam untuk Taehyung. Bukan apa-apa. Hanya saja Lian akan menemani Taehyung sehingga dia juga harus makan malam disini. Lian tidak bisa makan sendirian.

Berkali-kali dia menghembuskan nafas kesal karena lift tidak kunjung terbuka. Dia risih dengan tatapan para perawat dan dokter wanita. Mereka menatapnya dengan tatapan siap menerkam. Pasti mereka mengira kalau dia dan Jungkook menjalin suatu hubungan spesial mengingat kemarin Jungkook yang berjalan dengan menggandengnya dan mencium keningnya di depan umum. Karena kejadian kemarin dia sekarang mempunyai banyak musuh. Mereka salah paham.

Bisa saja Lian menggunakan lift khusus jajaran tinggi rumah sakit karena sebelumnya Jungkook pernah menyuruhnya. Tapi Lian tidak ingin membuat para penggemar Jungkook semakin membencinya. Andai saja Jungkook tahu apa yang mereka lakukan, Lian yakin Jungkook akan langsung marah.

Hah! Lian mendesah kasar. Seharian ini dia benar-benar kehilangan kabar Jungkook. Kakaknya itu sangat sibuk. Bahkan malam ini ada dua operasi yang dilakukan. Lian baru saja melihat jadwal Jungkook dalam data pribadi pria itu di rumah sakit. Lian meretas data rumah sakit demi untuk mengetahui data tentang Taehyung. Mungkin setelah ini Lian harus berterimakasih kepada teman kuliahnya dulu karena berkatnya, Lian bisa memanfaatkan teknologi dengan mudah.

Ting!

Nah, akhirnya lift yang ditunggu Lian terbuka. Keluarlah beberapa pengunjung rumah sakit lain. Lianpun segera masuk ke dalam lift setelah seluruhnya keluar dan menekan angka 26 dimana tempat Taehyung dirawat. Lian menyandarkan tubuhnya pada dinding lift. Sebenarnya dia lelah dan sangat ingin istirahat. Tapi dia masih punya tanggung jawab untuk menemani Taehyung. Dia tidak ingin membuat Younbi kehilangan kepercayaan padanya.

Rasanya sulit jika seseorang sudah menaruh kepercayaan. Lian tipe gadis yang profesional dalam segala hal. Dia pantang membuat orang lain kecewa

Tidak kurang dari satu menit, lift berhenti di lantai 26. Lian berjalan menyusuri koridor sepi khusus paseien VVIP dirawat. Setelah sampai di depan ruang 27, Lian langsung membukanya tanpa mengetuk pintu. Lagipula hanya ada Taehyung. Pemandangan pertama yang Lian lihat adalah ranjang kosong. Pasti Taehyung sedang berada di kamar mandi. Lianpun berjalan menuju sofa dan meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja.

“Haruskah aku menginap disini?” Ucap Lian dalam hati sambil menatap langit-langit kamar rawat Taehyung. Lian tidak akan tega membiarkan Taehyung sendirian di rumah sakit. Bagaimanapun juga statusnya masih pasien.

“Lian-ssi, kau datang?” Tanya Taehyung retoris begitu keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menuju ranjangnya sambil menggeret tiang infusnya.

Lian langsung menegakkan tubuhnya saat melihat Taehyung sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat lebih mempesona setiap hari. Kini Lian tidak dapat menampik perasaannya. Lian jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Kupikir kau tidak akan datang. Fellix baru saja pulang bersama Kyuhyun tadi.” Ucap Taehyung sambil berbaring di atas ranjang. Mempunyai jahitan di perutnya membuat gerakannya sangat terbatas. Meskipun sudah lima hari tapi tetap saja jahitan itu akan beresiko jika dia bergerak banyak.

“Apa akan terdengar lancang kalau aku mengatakan aku kesini untuk menemanimu?” Tanya Lian diiringi tawa garingnya. Dia benar-benar berusaha untuk bersikap layaknya orang yang baru mengenal. Memang kenyataannya mereka baru mengenal. Tapi Lian dituntut untuk bisa akrab dengannya.

Terdengar tawa ringan dari Taehyung. Dan sialnya, tawa itu semakin membuat pria satu anak itu terlihat lebih tampan. Tawa kotaknya benar-benar tidak ada duanya. Pria itu selalu berhasil menyedot seluruh atensi Lian. Dengan itu, Lian harus bisa mengontrol mimiknya agar tidak terlihat bodoh. Seperti kata Marcus. Dia menggurui Lian tentang cara bersikap di depan orang yang disukai. Salah satunya bersikaplah biasa.

“Kupikir kau kesini untuk menjemput Fellix.” Ucap Taehyung kemudian.

“Aku kesini untuk melihatmu, bodoh!” Ucap Lian dalam hati.

“Aku membawakanmu makan malam. Sebenarnya untuk kita karena aku juga belum makan. Itupun kalau kau bersedia memakan masakanku.” Lian mengeluarkan nasi dan lauk pauknya yang dia bawa dan menata di atas meja.

Taehyung menatap makanan yang ditata di atas meja dengan mata berbinar. Dia sangat bosan dengan makanan rumah sakit. Dan melihat makanan yang dibawa Lian membuatnya langsung merasa lapar. Tanpa menjawab ucapan Lian, dia langsung turun dari ranjang rumah sakit dan berjalan menuju sofa dengan menggeret tiang infusnya. Taehyung berharap dia bisa melepaskan benda satu ini, karena kehadirannya membuat Taehyung kesulitan.

“Kau tahu saja aku sedang bosan makanan rumah sakit.” Ucap Taehyung sambil mengambil sumpit di depannya.

“Astaga!” Pekik Lian kaget saat dia melihat Taehyung sudah duduk manis di depannya. Dia bahkan sampai memegang dadanya karena saking kagetnya.

Taehyung tampaknya tidak terlalu mempedulikan ekspresi terkejut Lian. Dia sudah asik memakan makanan yang dibawa oleh Lian. Dia terlihat antusias. Persis seperti orang kelaparan. Sementara itu Lian tampak mendengus sebal karena hampir saja jantungan. Dia menatap pria di depannya sebal karena diabaikan. Pria itu lebih asik dengan makanannya.

Jantung Lian mulai berpacu cepat saat melihat Taehyung dari jarak yang lebih dekat. Dia bahkan bisa mencium aroma maskulin dari Taehyung. Lian bisa melihat dengan jelas hidung Taehyung yang mancung dan rahangnya yang tegas. Bibirnya juga tebal. Benar-benar sangat menggoda. Apalagi dalam posisi sedang mengunyah. Tangan Lian sudah gatal ingin menyentuh wajah Taehyung. Dia bahkan menggenggam sumpitnya dengan erat karena sedang berusaha menahan keinginannya.

“Kau tidak makan?” Tanya Taehyung sambil menatap Lian heran.

Lian dibuat gelagapan saat kedapatan sedang memperhatikan Taehyung. Dan sekarang dia benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Saat sedang menjawab, tahu-tahu Taehyung sudah menyodorkan sepotong bola daging kepada Lian dengan sumpitnya. Lian menatap sumpit di depannya dan Taehyung bergantian. Taehyung memberi isyarat dengan matanya agar dia memakannya. Akhirnya dengan ragu Lianpun menerima suapan itu.

Kaki Lian tampak melemas mendapat perlakuan yang tidak bisa dibilang spesial dari Taehyung. Tapi ketahuilah. Sekalipun itu perlakuan kecil asalkan itu dari orang yang spesial, akan terasa sangat spesial untuknya. Dan sekarang Lian melupakan pesan Marcus untuk bersikap biasa di depan Taehyung. Dia malah menatap Taehyung terang-terangan dengan hati yang berbunga-bunga.

“Masakanmu sangat lezat. Lebih lezat dari masakan restoran.” Puji Taehyung sambil menatap Lian dengan senyum lebarnya. Dia mengunyah dan tersenyum bersamaan. Dan itu sangat menggemaskan.

Lian mengedipkan matanya berkali-kali. Apa baru saja Taehyung memuji masakannya? Hati Lian benar-benar sudah memasuki musim semi. Bahkan pujian itu wajar ditujukan untuk wanita yang memang pandai memasak. Lian juga berani bertaruh kalau Taehyung pernah mengatakan hal itu pada mendiang istrinya. Tapi sekali lagi, bagi Lian apapun hal kecil yang diberikan Taehyung terasa sangat berarti untuknya.

“Aku harap itu bukan bualan.” Sahut Lian sambil memfokuskan perhatiannya pada makanan di depannya. Dia tidak ingin menjadi terlihat lebih bodoh karena terus memandangi Taehyung.

“Aku bukan pria pembual.” Ucap Taehyung

“Kau dan Fellix benar-benar mirip.”

“Apa kau memasukkan wortel disini?” Tanya Taehyung dengan nada yang agak tinggi. Wajahnya juga terlihat panik.

“Iya.” Jawab Lian santai. Seolah tidak terganggu dengan wajah panik Taehyung.

Taehyung buru-buru ingin berdiri untuk memuntahkan makanan yang baru saja dia makan. Dia tidak suka wortel. Tapi saat baru saja berdiri, tangannya sudah ditarik lagi sehingga dia kembali duduk. Dia menatap Lian geram. Rasanya sangat mual.

“Kau tidak bisa memuntahkannya. Aku akan terluka.” Ucap Lian dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih. Dia berusaha menahan tawanya karena melihat wajah memerah Taehyung. Sekarang dia tahu kalau Fellix tidak suka sayur karena Taehyung juga tidak menyukainya.

Lian menutup mulut Taehyung dengan tangannya. Dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Hanya gerakan spontan. “Kau harus memakannya.” Ucap Lian

Taehyungpun pasrah. Susah payah  dia menelan sayuran orange itu yang menurutnya sangat tidak enak. Senyum di wajah Lian mengembang. Selain karena berhasil menjaili Taehyung, dia juga bisa menyentuh wajah Taehyung. Setelah puas melihat wajah tersiksa Taehyung, Lian melepaskan bungkaman tangannya pada mulut Taehyung dan mengambilkan minum untuknya. Lian menahan senyum gelinya saat melihat ekspresi kesal Taehyung.

Taehyung langsung meneguk habis air putih yang disodorkan Lian. Wajahnya benar-benar merah karena menahan mual. Dia sangat tidak menyukai sayuran lonjong berwarna orange bernama wortel dan sayuran hijau tua menyerupai rumah jamur bernama brokoli.

Menggelikan.

Itulah komentar yang dia berikan setiap melihat dua sayuran itu. Ditambah dengan ekspresi gelinya yang membuat duda anak satu ini terlihat menggemaskan.

Lian kembali sibuk dengan makanannya dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Lian hanya sedang menghilangkan debaran jantungnya menggila. Dia sampai takut kalau Taehyung akan mendengarnya karena saking kerasnya. Tangannya benar-benar bekerja diluar kendali. Lianpun menyesali tindakan gilanya barusan. Bagaimana bisa Lian menyentuhnyapun masih terus menjadi pertanyaan di kepalanya.

Lian tidak menyukai segala jenis sentuhan dengan orang asing. Laki-laki terutama. Tapi dengan gampangnya dia menjabat tangan Taehyung bahkan sampai menutup mulutnya.

“Apa baru saja aku memakan wortel?” Gumam Taehyung dengan wajah gelinya. Dia masih belum melupakan rupa wortel tadi.

Lian yang mendengarnya mau tidak mau menoleh. Dia terkekeh kecil melihat ekspresi Taehyung. “Apa yang salah dengan wortel? Kalian harus belajar mencintai wortel. Baik untuk mata. Kupikir kau pernah mendapat materi seperti itu dulu saat sekolah.” Timpal Lian sambil kembali fokus pada makan malamnya. Dia tidak ingin jantungnya kembali berulah karena melihat Taehyung terlalu lama. Meskipun hal itu mustahil, karena tubuhnya selalu bereaksi saat berada di dekat Taehyung.

Taehyung mencebik kesal. “Kau berani mengguruiku sekarang?” Ucapnya sewot.

“Kalian berdua memang sama-sama keras kepalanya.” Sahut Lian cuek.

**

“Apa?!” Pekik Marcus saat Kate memberitahunya kalau Lian ke rumah sakit seorang diri.

“Nona tidak mau diikuti pengawalnya. Dia bahkan mengancam kami akan mogok makan selama seminggu.” Jelas Kate lagi.

Marcus mengusap-usap wajahnya kasar. Ini memang bukan pertama kalinya Lian mengancam para pengawalnya agar dia dibebaskan keluar seorang diri. Tapi meskipun begitu tetap ada satu atau dua orang yang mengikutinya dari jarak jauh. Bukan seperti sekarang. Tidak ada satupun yang mengikuti Lian. Wajar memang kalau mereka hanya bisa pasrah setelah mendengar ancaman Lian. Terakhir Lian mengancam akan mengurung diri di kamar juga dia lakukan. Mereka cukup tahu dengan riwayat maag yang diderita Lian.

Marcus langsung mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Aiden. Dia tidak bisa menyusul ke rumah sakit karena harus menjaga Fellix.

Hyung! Lian-”

“Arrayo. Aku yang menyuruh mereka untuk tidak mengikutinya.”

“Kau gila?! Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Lian?”

“Wow! Calm down, dude. Kau tidak perlu kawatir. Aku berada di rumah sakit juga. Menemani eomma check up. Aku akan menjaganya. Lagipula Yoongi juga ada disini.” Terdengar kekehan dari ujung sana, membuat Marcus kesal.

“Kenapa tidak memberitahuku? Aku hampir jantungan.” Sungut Marcus lalu memutus sambungan sepihak.

“Apa makan malam sudah siap?” Tanya Marcus sambil berjalan menuju ruang tengah.

“Sudah, tuan. Nona Jeon yang memasak.” Jawab Kate

“Baiklah. Aku akan membangunkan Fellix dulu.” Sahut Marcus sambil beranjak menuju kamar sementara Fellix.

**

Kedatangan Lian di rumah sakit nampaknya sama sekali tidak mengurangi rasa bosan Taehyung. Setelah acara makan malam bersama mereka, Lian langsung sibuk dengan laptop di depannya. Mengabaikan Taehyung yang hanya diam saja di ranjangnya sambil mengamati Lian. Sudah hampir satu jam ruangan ini sunyi. Siapa yang tidak bosan? Gadis cantik itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Taehyung sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Lian. Wajah gadis itu terlihat serius dan kadang keningnya berkerut membuatnya terlihat semakin cantik. Bahkan Taehyung tidak dapat menutupi senyumnya saat melihat kening Lian berkerut. Sangat cantik. Menurut Taehyung, wajah Lian tidak pernah membosankan. Dengan berbagai ekspresi, Lian masih terlihat cantik.

Sudah malam. Dan Taehyung begitu merindukan suasana rumah. Dia sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Tapi dokter belum mengijinkan pulang. Seketika itu juga Taehyung ingat perkataan Fellix tadi.

“Aku besok akan bermain piano. Tapi appa tidak bisa melihatku.”

Hati Taehyung mencelos. Besok penampilan perdana Fellix di depan teman-temanya. Taehyung bahkan masih sangat ingat dimana seminggu yang lalu Fellix masih berusaha keras berlatih dengannya. Dia bahkan sudah berjanji akan datang. Tapi kondisinya tidak memungkinkan. Taehyung tidak bisa membayangkan wajah kecewa Fellix meskipun putranya itu sudah berkata tidak apa-apa.

Lain halnya dengan Taehyung yang tengah sedih karena tidak bisa melihat putranya tampil. Lian tampak tersenyum penuh kemenangan saat berhasil meretas CCTV di bagian ruangan Jungkook. Dia ingin tahu apa saja yang dilakukan kakaknya itu jika sedang bekerja. Mempunyai kemampuan di bidang IT nampaknya sangat berguna bagi Lian. Dia bisa menyimpan data rahasia perusahaan sekaligus dapat melakukan hal-hal yang dia inginkan.

Nah! Yang ditunggu muncul. Jungkook masuk ke dalam ruangannya dengan wajah lelah. Senyum Lian makin mengembang. Memangnya hanya mereka yang bisa memata-matainya? Namun tidak lama kemudian, senyum di wajah Lian menghilang berganti dengan raut kaget. Seorang wanita yang… Astaga! Apa pantas dia ke rumah sakit dengan pakaian seperti itu? Apa yang dia lakukan di ruangan Jungkook? Mungkinkah pasiennya? Dan, lihat! Ekspresi Jungkook bahkan terlihat biasa. Apa dia sering mendapat pasien seperti itu?

Lian masih menunggu apa yang akan terjadi. Sejauh ini mereka masih berbincang biasa. Sial! Lian ingin mencakar wajah wanita itu. Tidak bisakah dia bersikap layaknya pasien? Dia cukup sehat untuk dibilang pasien. Dan dia juga cukup sehat untuk…

WHAT THE HELL?!” Pekik Lian sambil menutup mulutnya. 

Taehyung sampai terperanjat kaget karena lengkingannya. Dia mengelus-elus dadanya. Berharap jantungnya tidak lepas. Lalu pandangannya beralih pada Lian yang tampak sangat terkejut. Apa yang terjadi?

Mata Lian membulat lebar dan hampir keluar melihat layar di depannya. Apa seorang pasien bisa dengan seenaknya duduk di pangkuan dokternya? Tanpa pikir panjang, Lian langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruangan Jungkook. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak!

Sialan kau, Jeon Jungkook!

Sementara itu Taehyung hanya menatap kepergian Lian dengan tanda tanya besar. Apa yang terjadi? Kenapa dia langsung pergi tanpa membawa barang-barangnya?

**

Brak!

Suara pintu yang dibuka dengan paksa membuat dua manusia yang sedang melakukan hal tidak wajar itu langsung menghentikan aksi mereka dan menoleh ke sumber suara. Di ambang pintu, terlihat seorang gadis dengan nafas ngos-ngosan dan wajah merah padam. Jungkook mematung di tempatnya. Berbeda dengan gadis yang duduk di pangkuannya yang malah menatap Lian sinis. Merasa terganggu.

Lian berjalan cepat mendekati dua manusia itu dan dengan tanpa perasaan, dia menarik tangan wanita yang duduk di pangkuan Jungkook. Tidak peduli dengan kaki wanita itu yang membentur meja. Sementara itu Jungkook hanya bisa terdiam kaku. Dia bahkan tidak bisa bergerak. Persis seperti maling yang tertangkap basah. Dia menatap wajah marah Lian. Dan pertanyaannya adalah, bagaimana Lian bisa ada disini?

Lian menatap wanita seksi di depannya nyalang. Tangannya sudah sangat gatal ingin menjambak rambut wanita itu. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya erat. Melihat tatapan meremehkan wanita di depannya membuatnya semakin marah.

“Kau siapa berani masuk ruangan ini sembarangan?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut wanita di depan Lian.

Jungkook memejamkan matanya sambil terus berdoa untuk keselamatan ruangannya. Dia tidak menyangka Lian akan datang. Dan menyaksikan adegan tidak wajar. Setelah ini dia akan menghadapi kemarahan Lian.

“Kau siapa berani menginjakkan kaki di rumah sakit ini?” Tanya Lian balik dengan nada sinis.

Jungkook dapat merasakan aura gelap di sekitar Lian. Adiknya itu sangat marah. Dia akan sulit meredakan kemarahan Lian.

“Kau ini siapa? Mengganggu saja!” Tanya wanita itu sewot. Bahkan dia tidak malu sama sekali setelah tertangkap sedang berbuat mesum.

“Mengganggu katamu? Cih! Menjijikan.” Desis Lian sambil tertawa sinis.

“Ya!”

“Yuju-ya, pulanglah. Ini sudah malam.” Jungkook mencoba peruntungan untuk memisahkan Lian dan Yuju, wanita yang sangat terobsesi padanya.

Lian menatap Jungkook sinis. Dia tidak menyangka kakaknya akan berbuat sejauh ini. Dia kecewa. Dan Jungkook hanya bisa menelan ludah pahit saat melihat tatapan mematikan Lian. Jungkook tidak lupa bagaimana menakutkannya Lian saat marah.

“Kau membela gadis pengganggu ini?!” Ucap Yuju sambil menunjuk Lian.

Lian tidak bisa menahan emosinya lebih lama. Dia memegang tangan Yuju dan memelintirnya ke belakang. Belum cukup dengan itu, dia menjambak rambut Yuju. Mengabaikan teriakan kesakitan dari wanita jalang ini. Jungkook menelan ludah kasar. Dia tidak bisa mencegah Lian karena dia tahu akibatnya. Adiknya itu tidak pernah main-main saat marah. Ini buktinya.

“Tidakkah kau bercermin dulu sebelum kesini? Apa kau yakin tujuanmu adalah ke rumah sakit ini? Apa kau berniat menjual tubuhmu untuk dokter-dokter disini?” Tanya Lian bengis. Dia mencengkram rambut Yuju dengan kuat.

“Lepaskan aku!” Teriak Yuju kesakitan.

“Kau hanya wanita rendahan. Bahkan sampahpun masih berguna daripada dirimu.” Desis Lian sambil mendorong Yuju dengan keras.

Yuju mengelus-elus lengannya yang sakit dan merapikan rambutnya. Dia menatap Lian dengan tajam. Tidak terima dengan semua hinaan Lian.

“Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku! Pergi!” Teriak Lian

Yuju baru akan membalas perbuatan Lian saat Jungkook sudah menahannya dan memberi isyarat agar segera pergi. Dengan wajah kesal, Yujupun keluar dari ruangan Jungkook. Meninggalkan Jungkook yang diselimuti rasa takut. Dapat Jungkook rasakan aura mencekam di sekitarnya. Dia bahkan tidak berani menatap Lian.

Lian berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Dia baru merasakan nyeri di kakinya karena kesleo saat berlari tadi. Dia bahkan mengabaikan tatapan bingung para pengunjung rumah sakit dan perawat di luar sana. Benar, kan, dugaannya? Terjadi sesuatu yang tidak wajar. Kepala Lian pening karena terlalu jauh berlari. Selain itu dia kembali teringat saat dia hampir dilecehkan temannya di Swiss dulu.

Tanpa berkata-kata, Lian langsung keluar dari ruangan Jungkook. Dia sangat marah dan kecewa. Tidak menyangka kalau Jungkook akan berbuat sejauh itu. Meskipun dia tahu wajar bagi seorang yang sudah dewasa berbuat seperti itu mengingat dia tinggal di negara bebas. Tapi tidak bisakah mereka melakukan di tempat yang wajar? Mata Lian sudah berkaca-kaca karena saking kecewanya dengan Jungkook. Dia mengabaikan rasa sakit di kakinya.

Baby!” Jungkook mengejar Lian yang sudah lebih dulu pergi.

Mereka saat ini menjadi pusat perhatian semua orang yang berada disitu. Seorang presdir rumah sakit ini mengejar seorang gadis yang diduga kekasihnya. Jungkook berhasil menggapai tangan Lian. Dengan segala keberaniannya dia membalikkan tubuh Lian. Dia sadar sudah membuat adiknya ini kecewa. Diapun menyesali perbuatannya. Terlepas dari bagaimana Lian bisa tiba-tiba datang dengan wajah marah, Jungkook lebih takut jika tidak mendapat maaf dari Lian.

Lian menepis tangan Jungkook dengan kasar. Tidak peduli dimana dia sekarang. Dia menatap Jungkook tajam. “Kau… Memalukan.” Desis Lian dengan bibir yang bergetar.

Hati Jungkook bagai teriris mendengar ucapan Lian. Dia memang salah. Lian berhak marah. Tapi Jungkook tidak bisa melihat adiknya menangis. Apa lagi dia penyebabnya.

“Maafkan aku. Aku hanya-”

“Jangan diteruskan! Aku muak!” Potong Lian cepat. Dia bahkan menutup kedua telinganya dengan tangan.

Para pengunjung, perawat, dan dokter yang melihat mereka hanya saling berpandangan penasaran. Tapi tidak sedikit dari mereka yang kesal dengan Lian karena sudah berbuat kasar dengan Jungkook. Beberapa dari mereka beranggapan kalau mereka baru saja putus dan Lian tidak terima. Beberapa juga beranggapan kalau Lian hanya mencari perhatian. Intinya, mereka semua memojokkan Lian.

Jungkook menghela nafas panjang. Dia tidak peduli menjadi tontonan orang-orang. Mendapat maaf Lian lebih penting. Dia berusaha mendekati Lian namun Lian langsung mundur. Lagi-lagi Jungkook harus menelan pil pahit saat melihat penolakan dari Lian.

“Jangan mengejarku.” Ucap Lian sambil berjalan mundur.

Ucapan Lian bagaikan ultimatum untuknya. Jungkook hanya diam di tempatnya. Melihat Lian yang semakin menjauh. Namun baru beberapa langkah, Lian berhenti dan menatap kepada segerombolan perawat dan dokter wanita yang menatapnya sinis.

“Jangan kawatir. Dia kakak kandungku. Kalian tidak perlu menatapku seperti itu karena mengira sudah mengambil pria pujaan hati kalian. Memuakkan.” Ucap Lian dengan lantang. Setelah itu dia melanjutkan jalannya.

Semua orang yang mendengar tampak terkejut. Tidak menyangka kalau gadis yang mereka kira kekasih Jungkook adalah adik kandungnya. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hati mereka. Bahkan mereka hanya menunduk karena takut Jungkook akan marah. Aiden yang hanya melihat dari jauh akhirnya mendekati Jungkook yang masih menatap kepergian Lian dengan nanar. Aiden tidak tahu apa yang terjadi sampai Lian bisa semarah itu. Tugasnyapun akan bertambah untuk membuat hubungan kakak-adik ini membaik.

Aiden menepuk pundak Jungkook. Membuat Jungkook sedikit terkejut. Dia menatap Aiden sendu.

“Penggemarmu sangat menakutkan.” Ucap Aiden mencoba mencairkan suasana.

Jungkook menghela nafas berat sambil menundukkan kepalanya. “Dia sangat marah.” Bisiknya

“Tidak akan lama.” Sahut Aiden tenang.

**

Taehyung terkejut saat Lian tiba-tiba masuk. Dia bahkan masih duduk di depan laptop Lian. Karena penasaran dengan apa yang dikerjakan Lian, akhirnya dia memilih untuk melihatnya sendiri. Namun dia malah dibuat bingung saat melihat tampilan layar yang menunjukkan tayangan CCTV di suatu ruangan. Yang membuatnya kaget adalah saat melihat adegan tidak wajar di dalamnya. Hingga akhirnya Lian datang dengan wajah marah dan menyerang wanita itu.

Taehyung melihat semuanya. Bagaimana marahnya Lian pada wanita itu. Bahkan dia sempat takut melihat wajah mengerikan Lian saat marah. Fokus Taehyung kembali pada Lian yang sedang bersandar pada pintu sambil mengatur nafasnya. Taehyung tidak tahu apa yang membuat Lian semurka itu saat melihat Jungkook bercumbu dengan wanita tadi. Tapi melihat bagaimana Lian sekarang membuat dia berkesimpulan kalau pasti ada alasan besar kenapa Lian marah.

Lian menghapus air matanya yang keluar melalu sudut matanya. Apa yang dia lihat tadi sangat melukai hatinya. Seharusnya Jungkook tidak seperti itu. Jungkook yang dia kenal adalah pria baik-baik. Tapi apa yang dia lihat tadi? Mengecewakan. Kalau dia tidak datang, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Lian tidak sanggup membayangkan. Dia menatap Taehyung yang juga sedang menatapnya. Pasti pria itu sudah tahu apa yang dia lakukan.

Lian berjalan gontai menuju sofa dengan langkah pincang. Baru terasa nyeri di kakinya karena kesleo tadi. Dia berusaha mengabaikan tatapan Taehyung. Gadis Kim itu merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya memanas. Air matanya mendesak ingin keluar.

Benarkah tadi itu Jungkook? Kakaknya yang selalu dia banggakan?

Lian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak peduli kalau Taehyung menatapnya bingung. Air matanya tidak bisa dia tahan lagi. Di sampingnya, Taehyung menatap Lian prihatin. Dia bingung harus berbuat apa. Hal ini sudah bukan lagi urusannya. Tapi melihat gadis di sampingnya menangis membuatnya ikut merasakan sedih.

“Lian-ssi? Kau baik-baik saja?” Tanyanya hati-hati. Tangannya sudah terangkat hendak menyentuh pundak Lian, namun dia urungkan. Apa haknya menyentuh Lian?

Tidak ada jawaban. Oke. Taehyung paham bagaimana perasaan Lian sekarang. Diapun memilih diam dan menunggu sampai gadis ini tenang. Aneh. Taehyung tidak pernah sepeduli ini dengan gadis yang baru saja dia kenal. Tapi Lian merubahnya menjadi sosok yang banyak bicara. Dia juga merasakan perasaan aneh saat sehari saja tidak melihat Lian. Puncaknya adalah detik ini. Dia merasa sedih melihat Lian menangis.

Hal ini tidak boleh terjadi. Taehyung berusaha menyangkal perasaan yang selalu mengganggunya. Dia tidak boleh jatuh cinta pada Lian.

.

.

.

Tbc~

Posted in Chapter, Hurt, Married Life

I Hate You, I Love You #2


I Hate You, I Love You #2

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Taehyung, Jung Eunji

Category : Hurt, Married Life, Chapter

Rate : PG-17

.

.

.

.

.

Lian terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin di keningnya. Nafasnya terengah-engah dan tangannya gemetar. Kenangan buruk itu kembali muncul di tidurnya. Bukan hanya dua kali. Tapi hampir setiap malam kenangan buruk itu muncul dalam tidurnya. Membuatnya takut untuk tidur dan memilih untuk terjaga. Sudah hampir sebulan ini mimpi itu selalu mengganggunya. Dan hal itu membuat Lian harus kembali mengingat kenangan pahit yang membuatnya kehilangan ibunya.

Lian berusaha mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. Dia meminum air putih yang selalu disediakan di atas nakas untuk menenangkan dirinya.

Kejadian itu. Tangis Anna. Teriakan kemarahan Anna. Bentakan ayahnya. Tamparan ayahnya pada Anna. Lian ingat semuanya setelah sekian lama berusaha dia lupakan. Semua yang dilakukan Jeha pada ibunya hari itu tidak bisa Lian lupakan. Rasa nyeri selalu menggerogoti hatinya setiap kali mengingat tangisan Anna yang menyakitkan.

Wanita selingkuhan Jeha dan anaknya. Mereka penyebab keributan itu. Kedatangan mereka membuat Anna menangis dan mendapat tamparan dari Jeha. Lian mencengkram rambutnya erat saat kembali ingat dimana ayahnya lebih memilih wanita itu daripada Anna, sehingga Anna meninggalkannya. Selamanya.

Lian tidak tahu terbuat dari apa hati Anna. Saat Jeha sudah menyakitinya, bahkan dia masih sempat berpesan pada Lian agar tidak membenci pria yang membuatnya menangis. Tidak. Lian tidak bisa menjalankan pesan itu. Lian tidak bisa memaafkan mereka yang menyakiti Anna hingga akhirnya Anna meninggalkannya sendirian. Lian membenci mereka melebihi apapun. Kesalahan mereka tidak akan pernah termaafkan.

Eomma harus pergi jauh.

Seketika itu juga air mata Lian tumpah. Ibunya memang pergi jauh. Sangat jauh hingga sulit untuk dia gapai lagi. Betapa bodohnya Lian yang saat itu membiarkan Anna pergi. Tapi apalah daya seorang Kim Lian yang baru berumur tujuh tahun? Dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Dia tidak pernah mengira kalau Anna akan pergi dari dunia ini.

Sejak saat itu hidup Lian benar-benar berubah. Tidak ada lagi Kim Lian yang manja, suka merajuk, pemarah, dan jail. Kim Lian menjadi sosok yang pendiam, kejam, misterius, pembangkang, dan dingin. Lian merasa hidupnya tidak berguna lagi karena mataharinya sudah pergi. Tidak ada lagi yang bisa meneranginya. Lian kehilangan segalanya. Ibunya, ayahnya, dan kebahagiannya.

Detik saat ibunya dinyatakan meninggal, saat itu juga Lian tidak pernah menganggap ayah dan keluarga barunya. Lian sangat membenci mereka. Seumur hidup akan selalu membenci mereka. Mereka merenggut kebahagiaannya.

Setelah dirasa dirinya lebih tenang, Lian turun dari ranjangnya. Sedikit melirik ke arah jam dan mendapati baru pukul setengah enam. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan dan keperluan untuk sang suami. Lian menggelung rambutnya asal dan bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

**

“Nyonya? Kenapa Nyonya berada disini? Biarkan saya saja yang memasak untuk sarapan.” Rose terlihat kaget saat melihat majikannya yang sudah sibuk memasak di dapur.

Rosepun langsung menghampiri Lian dan membantu majikannya memasak. Lian sedang sakit dan Rose tidak mau mengambil resiko dipecat Chanyeol karena membiarkan Lian memasak. Rose adalah satu-satunya pelayan yang berada di satu rumah dengan Lian dan Chanyeol. Sedangkan pelayan lain tinggal di rumah yang terletak di belakang rumah ini.

Lian membiarkan Rose membantunya membuatkan menu sarapan untuk Chanyeol dan Baekhyun. Lian baru tahu kalau Baekhyun menginap disini karena dia tadi melihat kakak tirinya itu berada di ruang gym.

Setelah masakannya selesai, Lian kembali menuju kamarnya dan Chanyeol. Biarkan Rose yang menata makanan-makanan itu di meja makan. Tugas Lian saat ini adalah menyiapkan pakaian kerja Chanyeol. Setelah itu dia akan mandi. Rutinitasnya setiap pagi. Sebenci apapun Lian pada Chanyeol, Lian tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.

Sesampainya di kamar, dia masih melihat suaminya yang masih tidur. Berusaha mengabaikan keinginannya untuk memandangi wajah Chanyeol lebih lama, Lian berjalan menuju walk in closet. Mencarikan pakaian kerja yang akan digunakan suaminya. Setelah siap, Lian keluar dengan membawa pakaian yang akan dia pakai sendiri dan masuk ke kamar mandi.

Tidak sampai dua puluh menit, Lian keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh. Kemudian Lian berjalan menuju jendela kamarnya dan membuka tirainya. Membuat udara pagi hari masuk ke dalam kamarnya. Lian memejamkan matanya saat angin pagi menerpa wajahnya. Salah satu hal yang Lian suka. Udara di pagi hari. Dimana belum tercemar apapun.

“Kau sudah bangun?” Pertanyaan retoris itu keluar dari sosok yang baru saja bangun.

Lian tidak berniat untuk berbalik. Tepatnya berusaha untuk menahan keinginannya untuk berbalik. Lian tidak bisa melihat wajah Chanyeol. Dia akan ingat semua rasa sakit yang pernah dia rasakan sampai saat ini. Kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya dan berhenti tepat di belakangnya. Sekon selanjutnya Lian sedikit terkejut saat merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Dia menatap tangan yang melingkari perutnya itu dengan tatapan nanar.

Chanyeol memang tidak pernah tahu diri. Sudah tahu kalau Lian membencinya dan tidak suka disentuh, tapi Chanyeol tetap melakukannya. Larangan Lian malah seperti perintah untuk Chanyeol. Si keras kepala dan pemaksa. Wajar saja banyak pesaing bisnis yang selalu kalah dalam tender perusahaan. Tidak ada yang bisa mengalahkan mulut kejam dan otak brilian Chanyeol di Seoul. Semua orang tahu kalau Chanyeol adalah pebisnis muda yang tidak main-main dengan kecerdasaannya. Bukan hal yang sulit bagi Chanyeol untuk membuat sebuah perusahaan bangkrut.

Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Nampaknya Chanyeol sangat menikmati memeluk istri dari belakang sambil sesekali menciumi leher Lian yang wangi bunga mawar. Bau yang selalu membuat Chanyeol ketagihan. Dan membuatnya gila karena gairahnya yang selalu naik setiap kali mencium wangi istrinya. Chanyeol tidak tahu kalau Lian tengah menahan gejolak besar untuk mendorongnya menjauh dari tubuhnya. Mungkin Lian akan lebih puas kalau Chanyeol jatuh dari lantai dua rumah ini. Tapi sekali lagi. Tubuh Lian menginginkan sebaliknya. Lian harus mengutuk dirinya yang juga menikmati suasana intim pagi ini.

Cukup! Lian tidak bisa lagi berlama-lama lagi dengan posisi seperti ini. Lian masih waras. Harga dirinya bisa jatuh.

Lian melepas tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya dan berbalik. Sedikit mundur karena dia tahu jarak mereka sangat dekat. Dia menatap Chanyeol datar. “Sarapan sudah siap. Sebaiknya kau mandi dan turun.” 

Lian baru akan melangkah pergi kalau saja Chanyeol tidak menahan lengannya. Dia menepis tangan Chanyeol yang memegang lengannya dan menatap suaminya sinis. Tapi nampaknya tatapan sinis itu tidak berpengaruh pada Chanyeol. Pria jangkung itu malah memegang kening Lian dan sedetik kemudian sebuah senyum terbit dari bibir tebalnya.

Hampir saja pertahanan Lian runtuh saat melihat senyum itu. Senyum yang dulu selalu membuatnya rajin berangkat ke kampus. Senyum yang selalu menjungkirbalikkan dirinya. Dulu sebelum fakta menyakitkan itu dia ketahui.

“Kau sudah baikan.” Ucap pria jangkung itu. Tangan Chanyeol berpindah ke pundak Lian. Tatapannya tertuju pada mata Lian. Detik selanjutnya, tubuh Lian sudah berada dalam pelukan hangat Chanyeol.

Lian masih diam mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Lian tidak pernah suka sentuhan fisik sejak dia mengetahui kenyataan pahit itu. Hanya dengan Chanyeol. Lian tidak pernah mengijinkan pria itu menyentuhnya. Lian akan selalu menolak bahkan mengeluarkan kata pedas saat Chanyeol menyentuhnya. Tapi… Hari ini? Tubuh Lian seolah terkunci dalam pelukan suaminya. Organ geraknya seolah mati. Otak dan tubuhnya sangat berlawanan. Apa tubuhnya sedang melakukan pemberontakan?

Anggap saja Lian wanita munafik. Nyatanya saat ini tangannya sudah terangkat untuk membalas pelukan Chanyeol. Namun berhenti sebelum benar-benar menyentuh baju Chanyeol. Tangannya terkepal erat. Lian benar-benar sedang berperang dengan hatinya. Tidak. Lian tidak akan semudah itu luluh.

Biarkan aku tersiksa dengan rasa rinduku.

Nyatanya Lian benar-benar sangat membenci Chanyeol sehingga untuk menatap, mendengarkan, apalagi menyentuh suaminya saja dia tidak mau. Jangan lupakan lubang di dada Lian yang semakin menganga lebar karena pria itu.

“Jangan lakukan sesuatu yang berbahaya seperti kemarin lagi. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau kau kenapa-napa.” Bisik Chanyeol sambil mengelus-elus rambut Lian.

Lian menghitung dalam hati. Jika dalam hitungan kelima Chanyeol tidak melepas pelukannya, Lian benar-benar akan mendorong Chanyeol hingga jatuh. Atau justru membalas pelukannya? Kedua opsi itu bukan ide yang baik. Sedangkan hitungan Lian sudah sampai pada tiga.

Empat.

Lima.

Tepat pada hitungan kelima Chanyeol melepas pelukannya. Entah apa yang dirasakan Lian. Hampa dan lega secara bersamaan.

“Aku akan segera turun dan kita sarapan bersama.”

Itu perintah! Kemudian pria itu masuk ke dalam kamar mandi dengan meninggalkan Lian yang masih sibuk dengan pergolakan batinnya. Apa berenang selama empat jam di musim dingin sudah membuat otaknya geser? Lian yakin dia tidak pernah merasa sekacau ini saat ditinggal Chanyeol. Bahkan hanya untuk mandi. Lian masih merasakan hampa saat tiba-tiba Chanyeol melepas pelukannya.

Ini buruk. Apa sekarang hatinya mulai luluh? Atau… Luka itu sudah sembuh?

**

Suasana sarapan pagi ini masih sama seperti biasa. Sunyi. Kuburanpun tidak sesunyi itu. Setidaknya disana ada burung-burung dan beberapa peziarah atau para hantu yang berkomunikasi. Suasana tegang layak ditambahkan untuk mendeskripsikan bagaimana suasana di ruang makan itu. Setelah tiga tahun lamanya, Lian kembali berada satu meja makan dengan kakak tirinya. Terakhir mereka berada dalam satu meja makan, restoran pula, berakhir dengan aksi Lian membanting sebuah piring dan menyiramkan minuman ke wajah ibu tirinya. Belum sampai disitu. Lian menjatuhkan meja yang sudah berisi makanan makan malam mereka.

Lalu, apa yang akan terjadi pada ruang makan kali ini? Akankah Lian membakar meja?

Para pelayan menjadi saksi bisu bagaimana mencekamnya suasana ruang makan. Mereka selalu was-was dengan segala pergerakan Lian. Takut kalau tiba meja makan itu hancur tiba-tiba. Mereka tahu kalau nyonya mereka itu tidak akan repot-repot menyuruh orang untuk menghancurkan sebuah ruangan. Sudah ada bukti konkretnya. Perpustakaan pribadinya misalnya. Dalam hitungan menit, perpustakaan itu hancur dengan rak-rak yang sudah berjatuhan dan buku tersebar dimana-mana karena sebuah berita yang dia dapat bahwa Chanyeol membawa seorang jalang ke apartemennya.

Tangan Lian memang selalu bertindak lebih dulu daripada otak dan mulutnya.

“Aku akan ke Berlin.” Suara Baekhyun memecah kesunyian ruang makan itu.

Entah dengan siapa pria itu berbicara. Tapi Lian tidak tolol untuk tahu maksud kakak tirinya mengatakan itu. Tentu saja untuk memberitahunya. Lian pura-pura untuk tidak mendengarnya dan melanjutkan kegiatan makannya.

“Kenapa tiba-tiba?” Chanyeol bertanya.

Kenapa tidak dari dulu?

Dad sakit dan aku harus mengurus perusahaannya disana.” Jawab Baekhyun sambil melirik Lian. Berharap adik tirinya mengatakan sesuatu.

“Kenapa harus kau?” Chanyeol bertanya lagi.

Lian hampir saja memaki Chanyeol yang terlihat tidak rela kalau Baekhyun pergi. Kalau tidak rela ikut saja dan jangan kembali! 

“Karena hanya aku anak laki-lakinya.” Jawab Baekhyun

Ck. Lian berdecak cukup keras. Berhasil membuat Chanyeol dan Baekhyun menatapnya.

“Aku tidak yakin kalau kau hanya punya dua ayah. Apa ibumu memang mempunyai hobi menikahi pria beristri?” Ucap Lian dengan nada datar.

“Lian!”

Ucapan Lian sangat menohok hati Baekhyun. Dia memang sering mendapat kata-kata kasar dari Lian. Tapi tetap saja Baekhyun merasa sakit hati. Baekhyun tahu kalau Lian sangat membencinya dan ibunya. Bahkan dia sendiripun membenci kenyataan kalau kedatangannya dan ibunya malah membuat hidup Lian berantakan hingga Anna meninggal.

Tapi tidakkah sudah terlalu lama? Tidakkah pintu hati Lian terbuka untuk menerimanya dan ibunya? Baekhyun sangat berharap suatu hari dia bisa melihat adik tirinya itu tersenyum karenanya.

Lian menyudahi kegiatan makannya. Padahal makanannya belum sepenuhnya habis. Dia hanya terlalu muak berada satu meja dengan Baekhyun.

“Sarapanmu belum habis. Kau mau kemana?” Tanya Chanyeol sambil berdiri dan menahan tangan Lian.

Dengan kasar Lian menepis tangan Chanyeol. Dia menatap Chanyeol penuh kebencian. “Aku cukup kenyang untuk melihat wajahnya.” Jawab Lian

Lagi-lagi Baekhyun hanya bisa menahan nyeri di dadanya mendengar kata-kata pedas Lian. Dia menundukkan kepalanya menatap sisa sarapannya.

“Aku akan pergi sekarang.” Baekhyun kembali bersuara sambil berdiri. Dia tidak mungkin membiarkan adiknya yang masih sakit tidak menghabiskan sarapannya.

“Habiskan sarapanmu. Kau baru saja sembuh.”

“Sejak kapan kau peduli padaku? Bukankah kau hanya peduli dengan jalang-jalangmu di luar sana?” Balas Lian sinis.

Para pelayan yang paham akan situasi perlahan meninggalkan area ruang makan. Sadar kalau mereka tidak punya hak untuk tahu masalah rumah tangga majikan mereka.

Chanyeol mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Menghadapi Lian memang harus sabar. Kalau Chanyeol terpancing sedikit saja, percayalah akan ada perang dunia ketiga. Kemudian dia kembali menatap Lian dengan tatapan lembut. Chanyeol sudah bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Lian.

“Sekali ini saja turuti kataku. Kau harus habiskan sarapanmu. Aku dan Baekhyun akan berangkat sekarang.” Chanyeol menangkup wajah Lian. Suaranya bahkan sangat lembut.

Mendengar suara halus Chanyeol membuat Lian nyaris terlena. Dia mengangkat wajahnya menatap Chanyeol. Kenapa jantungnya berdenyut-denyut? Lian tidak mungkin luluh semudah itu.

“Aku akan pulang tepat waktu dan jangan lewatkan makan siangmu.”

Jangan lakukan ini, kumohon!

Lian memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak semakin jatuh pada tatapan Chanyeol. Lian yakin ada yang tidak beres dengan dirinya. Ditengah perang batinnya, Lian merasa kepalanya ditarik dan selanjutnya dia dapat merasakan bibir Chanyeol yang mendarat di bibirnya. Chanyeol sedikit melumat bibirnya sebelum akhirnya melepas ciuman singkat itu.

“Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu.” Bisik Chanyeol sambil mengusap pipi Lian dengan ibu jarinya.

Chanyeol dan Baekhyunpun pergi meninggalkan Lian sendiri di ruang makan. Di tempatnya, Lian masih diam mematung. Tangannya terangkat untuk memegang bibirnya yang baru saja dicium Chanyeol. Rasa manis itu masih meninggalkan sisa. Lian sedikit menyesal karena ciuman itu hanya sebentar.

Lian terduduk lemas di kursinya. Jika bertanya apa dia baik-baik saja, tentu saja jawabannya tidak. Kenapa Lian kembali merasakan saat dimana Chanyeol mencuri ciuman pertamanya? Jantungnya berdebar kencang. Kepalanyapun pening bukan main merasakan sisa-sisa sensasi yang diberikan Chanyeol beberapa menit yang lalu.

Rindu memang menyebalkan. Bisakah aku membuang harga diriku kali ini saja?

Lian menenggak habis air putihnya. Berusaha berpikir normal dan menghilangkan perasaan janggal.

“Nyonya?” Rose tiba-tiba saja sudah di samping Lian dan membuat wanita itu kaget.

Rose menggigit bibirnya takut. Takut mendapat amukan dari nyonyanya. Namun kemudian dia kembali memberanikan diri untuk bertanya, “Apa nyonya baik-baik saja? Ingin saya panggilkan dokter?” Tanyanya hati-hati.

“Tidak. Aku ingin pergi ke suatu tempat.” Jawab Lian sambil bangkit dari duduknya.

“Baik, nyonya. Aku akan menyuruh Landon bersiap-siap.” Sahut Rose dan langsung berlalu begitu saja untuk menemui Landon, supir sekaligus pengawal pribadi nyonyanya.

**

Lian berjalan sendiri menyusuri jalanan yang di kanan dan kirinya ditumbuhi pohon-pohon cemara yang sedang gugur. Di tangannya memegang sebuah bunga tulip putih. Udara dingin tidak menjadi penghalang bagi Lian untuk berjalan menyusuri jalanan kecil ini. Tidak akan ada halangan bagi Lian untuk mengunjungi makam ibunya. Mataharinya.

Kali ini Lian sendirian. Tidak ada Landon yang mengikuti di belakangnya. Lian memang menyuruh Landon untuk menunggu di parkiran karena dia benar-benar membutuhkan waktu pribadi dengan Anna.

Lian tidak pernah berkunjung ke makam ibunya kalau bukan saat hari ulangtahun Anna. Hari ini pertama kalinya Lian datang diwaktu yang bukan selalu Lian tetapkan. Banyak sekali yang ingin Lian katakan. Dengan siapa lagi dia bisa bercerita masalahnya kalau bukan dengan Anna? Lian sudah terlalu terbiasa bercerita seputar kehidupannya pada Anna. Hanya dengan Anna dia bisa jujur.

Kaki Lian berhenti di depan sebuah pohon yang di bawahnya terdapat nisan dengan nama ibunya. Lian meletakkan bunga yang tadi dia bawa di atas nisan itu. Tangannya mengelus-elus nisan Anna. Berkali-kali Lian menghela nafas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca saat membaca nama ibunya di atas nisan itu.

“Sayang, Eomma ingin kau menjadi bintang.”

“Kenapa, Eomma? Aku ingin seperti Eomma. Menjadi matahari.”

“Kau tahu? Bintang itu tata surya paling indah. Dia bisa memancarkan cahaya sendiri. Tidak seperti bulan yang membutuhkan bantuan matahari untuk bersinar. Dan manusia juga selalu meminta harapan pada bintang saat dia jatuh.”

“Tapi bukankah bintang tidak sering muncul?”

“Dia hanya tertutup awan. Percayalah, sayang. Bintang tidak akan pernah meninggalkan langitnya.”

“Kalau begitu aku mau menjadi bintang!”

Potongan percakapan Lian dengan Anna pada suatu malam itu tiba-tiba melintas dalam kepala Lian. Lian merasa sangat bodoh saat ini. Dia paham maksud ungkapan kiasan Anna malam itu sekarang.

“Seharusnya aku menjadi bulan saja. Mungkin dengan begitu Eomma tidak akan pergi.” Lirih Lian sambil mengusap nisan Anna.

Lian mendongakkan kepalanya, berusaha menghalau air matanya yang sudah mulai mendesak ingin keluar. Kala itu Lian masih kecil hingga tidak berpikir sejauh itu tentang kiasan yang diberikan Anna. Lian bukan lagi bintang. Lian sekarang bukan apa-apa. Bukan bintang yang bisa bersinar sendiri dan menjadi tempat manusia menaruh harapan. Bukan meteor yang kata orang indah. Bukan juga bulan yang bersinar dengan bantuan matahari karena  mataharinya sudah lama pergi.

“Eomma…” Bisik Lian. Bahkan suaranya sangat pelan. Lebih mirip dengan bisikan angin 

Lian menghela nafas panjang. Dia bingung harus memulai ceritanya dari mana. Hampir lama Lian terdiam hingga akhirnya dia kembali membuka suara. “Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat membencinya, tapi aku juga merindukannya. Eomma tahu rasanya? Sangat sakit, Eomma. Aku selalu ingat saat melihat dia pulang dengan bekas lipsctik di kemejanya dan bau parfum wanita lain. Aku merasa tidak berharga sebagai wanita dan istri.” Lian berhenti sejenak. Mencoba mengatur nafasnya yang semakin memburu.

Dia juga tidak mau repot-repot menghapus air matanya. Toh akan keluar juga pada akhirnya. Rasa sakit di dadanya memang selalu membuatnya tak berdaya. Semua ingatan kesakitan akibat suaminya kembali melintas di kepalanya. Lian memejamkan matanya dan berusaha mengatur deru nafasnya 

“Eomma, setiap kali melihat dia pulang dengan bau parfum wanita, aku ingat kejadian sore itu. Aku ingat saat wanita itu tiba-tiba datang dan membuat Eomma menangis. Aku ingat…” Lian menghentikan ucapannya karena suaranya tersendat isakannya. Lian membekap mulutnya. Berusaha menahan agar isakannya tidak terdengar.

Lian tidak bisa melanjutkan ceritanya. Kepalanya menunduk dengan tangan yang mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Lian rasa dia sudah mati rasa. Tapi nyatanya dia masih bisa merasakan sakit saat ingat tangisan Anna sore itu dan kelakuan suaminya. Dadanya sesak seperti terhempit beban berat. 

Lian pikir cinta akan membuat hidupnya kembali seperti dulu. Dia pikir bersama dengan orang yang dia cintai akan selalu membuatnya selalu tersenyum. Dia pikir imajinasinya tentang sosok pangeran berkuda putih yang membawa putrinya ke kehidupan indah akan menjadi kenyataan. Tapi kenapa justru perasaan cinta ini membuat hidupnya lebih kelam. Menyiksanya perlahan hingga rasanya mau mati.

Jadi, apa seperti ini yang Eomma rasakan dulu?

Dari kejauhan, tampak seorang pria paruh baya yang juga membawa tulip putih melihat tangis kesedihan Lian. Dia adalah Kim Jeha. Sosok yang dulunya menjadi pahlawan bagi Lian dan sekarang berubah menjadi sumber kesakitan Lian. Jeha turut menangis melihat betapa menderitanya hidup putri kecilnya akibat kelakuan bejatnya. Entah sudah berapa banyak kesedihan yang Lian rasakan karenanya. Jehapun bersedia untuk tidak dimaafkan karena kesalahannya begitu besar.

**

Suara denting piano itu semakin terdengar jelas di telinga Lian, membuat Lian terpaksa membuka matanya. Tidak ada siapapun di taman ini kecuali dia. Tapi kenapa ada suara piano yang dimainkan? Lianpun akhirnya bangkit dari duduknya dan mencari sumber suara tersebut. 

Semakin lama suara itu semakin jelas. Bunyi yang dimainkan sangat indah dan terasa emosional. Sebenarnya siapa yang memainkan music seindah indah ini? Instrumen ini terdengar menyayat hati. Pasti yang memainkan menggunakan hatinya.

Langkah Lian terhenti saat melihat sosok wanita yang sedang bermain grand piano berwarna putih. Wanita itu menggunakan gaun panjang berwarna putih. Kulitnya putih dan bersinar. Dia memainkan piano dengan penuh penghayatan. Dan wanita itu adalah Anna. Ibu Lian. Wanita yang sangat dia rindukan. Mataharinya.

Lian ingin mendekati ibunya yang tampak belum menyadari kehadirannya. Tapi kakinya sangat sulit digerakkan. Dia ingin memeluk Anna. Berkata kalau dia sangat merindukannya. Air mata Lian sudah keluar sejak dia melihat sosok itu. Akhirnya dia bisa melihat ibunya. 

“Eomma!” Seru Lian

Anna menyudahi permainannya dan menoleh ke sumber suara. Dia langsung tersenyum saat melihat bintangnya berdiri tidak jauh darinya. Kemudian dia berjalan mendekati Lian. Masih dengan senyum anggunnya.

“Eomma…” Lirih Lian dengan suara bergetar. Tanganya berusaha menyentuh wajah Anna namun tidak bisa.

“Putriku…” Bisik Anna sambil tersenyum hangat. Senyum yang selalu membuat Lian tenang. 

“Eomma, aku merindukanmu. Kenapa kau meninggalkanku sendirian? Aku sendirian, eomma.” Lian berkata disela isakannya. Dia masih berusaha untuk menyentuh wajah Anna, tapi tangannya menembus wajah cantik ibunya.

“Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu? Eomma, bawa aku pergi. Aku ingin ikut bersamamu. Aku benar-benar sendirian, eomma.”

“Tidak, sayang. Ada appa, ibu barumu, Baekhyun, dan suamimu yang selalu menemanimu, bukan? Kita tidak bisa bersama, sayang. Dunia kita berbeda.” Ucap Anna sambil mengelus pipi Lian.

Ini aneh. Lian tidak bisa menyentuh Anna, tapi Anna bisa menyentuhnya. Lian sangat ingin menyentuh ibunya. Dia ingin memeluk Anna dengan erat agar Anna tidak pergi meninggalkannya lagi.

“Mereka semua tidak menyayangiku, eomma. Chanyeol tidak pernah mencintaiku. Appa juga tidak menyayangiku. Aku membenci mereka. Mereka membuatku kehilanganmu.”

“Sayang, eomma selalu bersamamu. Disini. Tidakkah kau merasakannya? Kau tahu? Eomma tidak pernah meninggalkanmu karena eomma sangat menyayangimu.” Anna berkata sambil menyentuh dada Lian. Tepat di jantungnya.

“Tapi kenapa aku tidak bisa melihatmu? Aku sangat ingin bertemu eomma setiap hari. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Kau hanya bisa merasakan kehadiran eomma, sayang. Di hatimu.”

“Aku tidak bisa, eomma. Ini menyakitkan.” Lirih Lian sambil menundukkan kepalanya. Bahunya berguncang hebat. Dadanyapun sangat sesak.

Anna mendongakkan kepala Lian. Menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi putrinya sambil tetap tersenyum. “Belajarlah memaafkan mereka, sayang. Mereka sangat menyayangimu. Hanya saja hatimu sudah tertutup oleh kebencian. Buka hatimu dan maafkan mereka.”

“Tidak bisa, eomma. Terlalu banyak kesalahan untuk dimaafkan. Aku sangat membenci mereka sampai rasanya mau mati. Aku harus bagaimana, eomma?”

“Kau bisa, sayang. Eomma tahu kau mempunyai hati malaikat. Maafkanlah mereka dan hiduplah dengan baik. Eomma tidak ingin melihatmu menderita.”

“Tidak bisakah aku ikut denganmu? Kumohon, eomma.”

“Tidak, sayang. Tempatmu bersama Chanyeol. Belajarlah memaafkan mereka. Eomma tahu kau bisa. Eomma ingin kau bahagia, sayang.” Anna mengelus-elus pipi Lian.

“Kumohon, eomma.”

“Berbahagialah, sayang.” Perlahan Anna mulai menghilang.

“Eomma!” Seru Lian sambil berusaha mengejar Anna. Namun kakinya tidak bisa digerakkan. Anna semakin menjauh.

“Eomma…”

**

.

.

.

.

.

Tbc~

Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 3


Fool For You Part 3

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

“Apa yang kau lakukan disini sendirian, boy?” Tanya Lian mencoba menutupi rasa gugupnya.

Fellix kembali menundukkan wajahnya. Seolah enggan menanggapi Lian. Lian hanya mengangkat sebelah alisnya karena diabaikan oleh Fellix. “Siapa yang menjemputmu?” Tanya Lian lagi.

“Eomma.” Lirihnya sambil menggenggam ponselnya erat. Lian semakin dibuat bingung dan sedih dalam waktu yang bersamaan.

“Apa Eommamu sudah datang? Kalau belum, aku akan menemanimu.”

“Eomma tidak akan datang.” Sahut Fellix cepat.

Lian mendelik kaget. Apa maksudnya? Sejenak Lian menatap Marcus yang menunggu di mobil. Dia memberi isyarat agar menunggunya sebentar.

“Eomma sudah meninggal.”

Story Begin~

Mendengar tiga kalimat itu langsung membuat Lian mematung seketika. Suara bising di sekitarnya tidak bisa tertangkap indera pendengarannya. Pandangan Lian kosong. Pikirannya kacau. Tiga kalimat yang terucap dari bibir seorang bocah lima tahun yang berhasil membuat Lian kacau. Hati dan pikirannya. Semua ingatan kelam sebelas tahun silam kembali memenuhi kepalanya. Sekali lagi, sebuah kenyataan pahit menghantamnya cukup keras.

Lena sudah meninggal mengenaskan di depan matanya dengan genangan darah dimana-mana. 

Eomma sudah meninggal.

Tiga kalimat itu terus berputar di kepala Lian. Nada datar dan wajah sedih seorang bocah lima tahun di depannya menjadi pusat perhatiannya saat ini. Air mata sudah menggenang di sudut matanya. Jeritan Lena bercampur suara petir, bunyi pedang yang saling beradu, gemuruh hujan, dan suasana gelap itu kembali memenuhi kepala Lian. Tatapan sayu Lena dan hembusan nafas terakhirnya. Lian hampir gila setiap kali mengingat kejadian itu. Dia berulang kali memaki tindakan heroik Lena malam itu.

Seharusnya mereka kabur atau bersembunyi. Bukan malah Lena yang menyembunyikannya di bawah ranjang dan bertarung dengan para penjahat itu. Lian selalu menyalahkan dirinya yang tidak bisa membantu Lena. Disaat Lena sedang bertaruh dengan nyawanya untuk melindunginya, justru dia hanya menyaksikan sambil menangis.

Entah sejak kapan air mata sialan ini jatuh. Lian bahkan tidak sadar kalau saat ini dia masih berada di tempat umum. Seluruh perhatiannya hanya terpusat pada bocah malang di depannya yang tengah menundukkan kepalanya sambil mengusap-usap layar ponselnya. Membayangkan bocah sekecil Fellix yang sudah tidak mempunyai ibu membuat Lian makin merasakan nyeri di dadanya. Hingga sebuah spekulasi itu muncul di kepalanya begitu saja.

Mungkinkah senyum bocah lima tahun ini hilang karena kepergian ibunya? Kepergian ibunya pasti juga membawa serta senyum Fellix sehingga Fellix hanya menampilkan wajah dinginnya. Pasti Fellix sangat kesepian. Diumurnya yang masih kecil seharusnya dia bisa merasakan bagaimana diantar dan dijemput oleh sosok ibu tapi Fellix bahkan tidak pernah merasakannya sekalipun.

Lian merasa kecil seketika. Dia lebih beruntung dari Fellix. Tapi dia tidak lebih kuat dari bocah kecil itu. Lian hanya sibuk menyalahkan diri sendiri dan menghindar dari ketakutan. Bukannya menerima kenyataan. Tangan Lian terulur untuk mengelus-elus rambut coklat Fellix. Rasa ingin berada di samping Fellix tiba-tiba saja muncul. Lian ingin mengembalikan senyum Fellix.

Merasakan sebuah usapan hangat di kepalanya, Fellix langsung mendongakkan wajahnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Lian menangis. Fellix langsung menangkup wajah Lian dengan tangan mungilnya. “Noona? Kenapa noona menangis?” Tanyanya cemas.

Lian tidak dapat menahan senyumnya melihat wajah cemas Fellix. Bagus. Dia bisa melihat ekspresi Fellix yang lain. Lian memegang tangan kecil Fellix yang menangkup wajahnya sambil menghapus air matanya. “Aku teringat dengan Mom.” Jawab Lian jujur sambil berusaha memaksakan senyum.

“Pasti Fellix membuat noona sedih.” Ujar Fellix pelan sambil mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Lian. “Dimana ibu noona?” Tanya bocah kecil itu kemudian.

Mendengar pertanyaan Fellix membuat Lian harus kembali menahan air matanya yang siap meledak. Dia harus kuat. “Mom sudah meninggal.”

Fellix sedikit membulatkan matanya begitu mendengar ucapan Lian. Kemudian terlihat jelas sekali wajah penyesalan dari Fellix. “Mianhae, noona. Aku tidak bermaksud membuat noona menangis.” Lirihnya sambil menundukkan kepalanya.

Lian tersenyum tipis melihat penyesalan dari Fellix. Dia mengusap-usap kepala Fellix membuat Fellix kembali mendongak menatapnya. “I’m fine, boy. Hey! Jangan merasa bersalah.”

“Tapi noona menangis. Aku tidak suka melihat noona menangis.” Sahut Fellix masih dengan wajah penyesalannya. Lian bahkan dibuat gemas melihatnya. Fellix terlihat lebih tampan jika ekspresif.

Sudah hampir setengah jam Marcus menunggu sepupunya itu di dalam mobil. Diapun masih bingung ada hubungan apa Lian dengan bocah kecil itu sampai Lian rela turun dari mobil. Seingatnya Lian tidak mempunyai teman di Korea karena memang ini hari pertama Lian di Korea setelah beranjak dewasa. Jadi mana mungkin Lian punya hubungan dengan bocah lima tahun itu. Dia mengenal Lian dengan baik dan hampir semua teman-teman Lian dia tahu.

Siapapun bocah itu, Marcus tidak terlalu mau ambil pusing. Matanya tetap awas memperhatikan suasana sekitar. Suasana ramai seperti ini biasanya akan mudah bagi musuh untuk memata-matai atau parahnya berbuat jahat. Jadi, Marcus tetap harus siaga dibantu beberapa kawannya yang berada tak jauh dari mobilnya.

Marcus kembali mengawasi Lian. Sebuah senyum tipis terbit dari bibir tebalnya. Lian benar-benar penyayang anak kecil. Lian bisa tersenyum lebar ketika bersama anak kecil. Seumur hidupnya, Marcus tidak pernah menemukan manusia berhati mulai dan mempunyai jiwa sosial tinggi seperti Lian Jeon. Jiwa sosial Lian tidak main-main. Apalagi dengan anak kecil dan manula. Lian sangat ringan tangan. Bahkan Jungkook sampai takut kalau Lian dimanfaatkan karena saking baiknya.

Marcus baru akan memejamkan matanya saat matanya menangkap sesuatu yang membuatnya melotot kaget. Ini buruk! Apa yang terjadi sampai membuat Lian menangis di depan umum? Bagi siapapun yang mengenal Lian dengan baik -seperti Jungkook, Frank, Anna, Aiden, dia, Kate, Jin, dan teman-teman dekat lainnya- tidak ada yang lebih buruk dari melihat Lian menangis. Mereka sangat tahu bagaimana terpuruknya gadis itu saat kematian Lena hingga membuat Lian harus terbaring di rumah sakit selama tiga hari dengan vonis tifus.

Marcus memakai kaca mata hitamnya dan turun dari mobil. Pekikan dari para gadis langsung terdengar begitu Marcus keluar dengan penampilan yang bisa membuat pada gadis meneteskan air liur. Marcus tidak mempunyai waktu untuk meladeni mereka. Dia melangkah lebar mendekati Lian.

“Siapa yang menjemputmu? Kenapa kau disini sendirian?” Tanya Lian begitu sadar kalau Fellix hanya seorang diri.

“Aku memang sendiri. Noona mau pergi kemana?” Jawab dan tanya balik Fellix.

“Li? Are you okay?” Pertanyaan Marcus menginterupsi pembicaraan Lian dan Fellix. Dia memegang pundak Lian dan menatap Lian cemas.

Lian balas menatap Marcus dengan tatapan protes seolah mengatakan, ‘bukankah aku bilang tunggu sebentar?’. Tapi sarkasmenya tersebut tidak membuat kecemasan Marcus berkurang. Bahkan dia tidak peduli dengan tatapan protes Lian. Sementara itu Fellix tampak menatap Marcus dengan tatapan tidak suka. Dia tidak suka Marcus yang tiba-tiba datang dan mengganggu pembicaraannya dengan Lian.

Tatapan Marcus beralih pada bocah kecil di samping Lian yang menatapnya dingin. Rasa sebal langsung saja menyerangnya. “Kau yang membuat Lian menangis?” Todongnya dengan wajah segarang mungkin.

“Ya, Marcus!” Lian memukul lengan Marcus.

Fellix memutar bola matanya malas. Dia balas menatap Marcus tanpa rasa takut sedikitpun. “Kau siapa?” Tanyanya datar.

Marcus tercengang mendengar pertanyaan singkat bocah lima tahun itu. Bagaimana bisa bocah sekecil itu tidak takut dengannya? Dan bagaimana bisa dia mati kutu hanya karena pertanyaan dingin dari seorang bocah lima tahun? Lian spontan menutup mulutnya agar tawanya tidak menyembur begitu melihat wajah tercengang Marcus. Baru kali ini seorang Marcus Cho atau Cho Kyuhyun dibuat tidak bisa berkata-kata.

Tentu saja Lian tidak lupa kalau Marcus mempunyai rasa tidak suka yang teramat besar pada makhluk polos tak berdosa yang bernama anak kecil.

Mereka merepotkan.

Sebuah alasan tidak masuk akal dari seorang Marcus. Diusianya yang dua puluh delapan, seharusnya Marcus sudah bisa menggendong bayi. Tapi nyatanya pada makhluk tak berdosa itu saja Marcus sangat tidak menyukainya.

“Ya! Kau…”

“Fellix, dia sepupuku. Namanya Cho Kyuhyun.” Lian memotong ucapan Marcus. Dia sedikit memberikan pelototan pada Marcus untuk menjaga sikapnya pada anak-anak.

Diam-diam Fellix bernafas lega mendengar kalau pria itu ternyata sepupu Lian. Bukan seseorang yang Fellix tidak harapkan. Kekasih mungkin. Karena entah mengapa sejak pertama kali melihat Lian, Fellix langsung ingin menjadikan Lian sebagai seseorang yang bisa selalu dekat dengannya. Yang jelas hanya menjadi miliknya seorang.

Beralih dari Fellix yang berhasil membuatnya tercengang beberapa saat, Marcus kembali menatap Lian cemas. Dia menangkup kedua pipi Lian. Membuat Lian mendelik kaget. “Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Siapa yang menyakitimu?” Tanya Marcus beruntun.

Lian mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Dia melihat ke sekelilingnya dan sadar kalau saat ini tengah menjadi pusat perhatian. “Aku baik-baik saja. Dan lepaskan tanganmu. Kita dilihat banyak orang.” Desis Lian geram.

Marcus melihat sekitarnya dan langsung meringis saat tahu kalau mereka menjadi pusat perhatian. Diapun melepaskan tangannya dari pipi Lian. Sementara itu Lian hanya bersungut-sungut karena dia menjadi pusat perhatian saat ini. Pasti mereka mengira kalau dia dan Marcus suami-istri sedangkan Fellix anak mereka.

Lian sudah kebal menjadi kekasih bayangan Marcus. Dia selalu dikira kekasih Marcus karena memang saat di kampus dulu mereka selalu bersama. Berangkat, pulang, makan, dan melakukan aktivitas lain bersama-sama. Apalagi sikap Marcus yang sangat protektif dan jail membuat anggapan kalau mereka sepasang kekasih semakin kuat. Dan Lian harus menjadi bulan-bulanan para penggemar Marcus. Dia mendapat teror dimana-mana.

Marcus memang playboy cap kadal. Dia suka tebar pesona. Berbeda dengan Aiden yang kalem dan berwibawa. Membuat pria itu juga menjadi idola di universitasnya. Marcus dan Aiden memang beda universitas.

“Tunggu saja di mobil.” Ucap Lian kesal.

“Oke! Dan kau anak kecil! Jangan membuat Lian menangis.” Marcus berucap sewot pada Fellix.

“Ya! Kau harus ber-”

Ucapan Lian terhenti seketika saat dia merasakan ciuman hangat di keningnya. Pekikan heboh dari para gadis yang melihat langsung terdengar. Dengan gerakan slow motion Lian mendongakkan kepalanya menatap Marcus yang tersenyum miring menatapnya. Mulut Lian masih setengah terbuka.

“Memberi mereka tontonan sedikit sepertinya menyenangkan.” Bisik Marcus sambil mengacak-acak rambut Lian. Lalu dia meninggalkan Lian yang masih membeku di tempatnya.

Marcus tersenyum penuh kemenangan melihat wajah shock Fellix dan Lian. Desas-desus dari para gadis tentang betapa romantisnya dia masih terdengar. Dan itu membuat Marcus semakin besar kepala. Sementara itu Fellix juga masih tampak kaget setelah melihat adegan beberapa detik yang lalu. Benarkah mereka bersaudara? Itulah yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

Lian seolah tersadar dari lamunannya. Dia memberikan death glare pada Marcus. Aish! Sekarang dia benar-benar menjadi pusat perhatian. Lihat! Bahkan beberapa gadis menatapnya sinis. Marcus benar-benar keterlaluan. Memang dasar playboy ulung. Tidak cukup dengan para gadis di luar sana, sekarang suadaranya juga dirayu.

Lian beralih menatap Fellix yang masih tampak kaget. What the…!!! Fellix yang masih kecilpun melihatnya. Sekarang apa yang harus Lian katakan padanya? Lian menghembuskan nafas panjang dan berusaha tersenyum.

“Benarkah kalian hanya bersaudara?” Tanya Fellix tiba-tiba.

“Ya?” Lian spontan memekik. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Marcus memang seperti itu. Lupakan saja.” Jawab Lian kikuk.

Fellix beralih menatap Marcus sebal. Dia tidak terima kalau Lian dicium orang lain.

“Fellix, dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang.” Lian mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku tidak ingin pulang.” Ucap Fellix pelan sambil menundukkan kepalanya. Detik itu juga layar handphone Fellix berkedip tanda ada panggilan masuk. Tapi Fellix tidak langsung menjawab panggilan itu. Hanya memandanginya sendu.

“Kenapa tidak dijawab?” Tanya Lian sambil memegang pundak Fellix. Sekilas dia membaca nama ‘Haraboeji‘ tertera di layar ponsel Fellix. Pasti kakek Fellix kawatir.

“Bagaimana kalau kau ikut kami saja? Kau tidak boleh pergi sendirian di tempat ramai. Kakekmu pasti sangat kawatir sekarang.”

Fellix mengangkat kepalanya dan menatap Lian dengan ekspresi tak terbaca. Namun kemudian bocah lima tahun itu berdiri dan menggandeng tangan Lian. Menandakan kalau dia menerima ajakan Lian. Lian tersenyum senang dan langsung menuju mobil bersama Fellix.

**

Di tempat lain, Taejun tampak sangat kawatir karena Fellix tidak bisa dihubungi. Cucunya itu tiba-tiba menghilang saat supir menjemputnya. Dan saat ini Fellix tidak menjawab telepon darinya. Semua guru, teman-teman Fellix, dan Sohyun, kakak Taehyung, juga sudah Taejun hubungi. Tapi mereka tidak tahu keberadaan Fellix.

Fellix masih kecil jika harus berkeliaran sendiri di tempat ramai. Bocah itu tidak pandai berkomunikasi. Taejun takut kalau Fellix akan dibawa orang jahat. Cucunya masih sangat polos untuk tahu dunia luar yang kejam. Taejun sudah memerintahkan beberapa orang-orang kepercayaannya untuk ikut mencari Fellix. Tapi sampai saat ini belum ada kabar baik.

Younbi tak kalah cemasnya. Bahkan wanita paruh baya itu sudah menangis sejak supir mereka memberitahu kalau cucunya tidak ada di tempat murid menunggu jemputan. Younbi sangat takut kalau cucunya diculik oleh pesaing bisnis Taehyung. Hal itu bisa saja terjadi mengingat kondisi Taehyung yang seperti ini juga karena mereka. Kalau Taehyung tahu putranya hilang pasti dia akan sangat marah.

Yeobo, apa belum ada kabar?” Tanya Younbi lagi.

“Bersabarlah. Fellix akan baik-baik saja.” Jawaban yang sama yang diberikan Taejun saat Younbi bertanya.

Jawaban itu tidak membuat Younbi lebih baik. Justru dia semakin takut kalau tebakannya benar. “Cucuku…” Gumam Younbi sambil meremas-remas jarinya.

“Halo?” Younbi langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara suaminya menjawab telepon. Dia langsung mendekati Taejun.

“Astaga! Apa Fellix baik-baik saja, nak?” Tanya Taejun

Younbi menatap suaminya penasaran. Apa Fellix baik-baik saja?

“Lalu dimana dia sekarang?” Tanya Taejun lagi. Dia memberikan isyarat pada sang istri kalau Fellix baik-baik saja. Younbi sedikit bisa bernafas lega. Setidaknya Fellix baik-baik saja.

“Fellix sedang membeli makanan, sir. Kami akan ke rumah sakit setelah ini.”

“Syukurlah kalau Fellix bersamamu. Terimakasih, nak. Kami sangat takut kalau terjadi hal buruk pada Fellix. Tapi sekarang aku lega karena Fellix bersama gadis baik sepertimu.” Ucap Taejun

“No problem, sir. Aku senang bisa bertemu Fellix.”

“Kalau begitu kami tunggu kedatangan kalian. Sekali lagi terimakasih.”

Taejun bernafas panjang setelah sambungan telepon terputus. Dia menatap Younbi dengan senyum lebar. “Gadis itu benar-benar istimewa.”

**

Lian memasukkan ponsel Fellix ke dalam tasnya. Kakek Fellix pasti sangat kawatir tadi. Pandangan Lian beralih pada Fellix yang sedang membeli makanan bersama Marcus di sebuah restoran. Saat sedang menunggu mereka, tiba-tiba saja ponsel Fellix yang tertinggal bergetar. Tanpa pikir panjang Lian langsung mengangkat panggilan itu. Dia tidak mau membuat kakek Fellix semakin kawatir.

“Seminggu lagi aku ulangtahun tapi Appa belum bangun. Setiap kali aku pulang aku ingat Appa. Aku takut kalau Appa tidak bangun. Fellix memang tidak pernah menuruti kata Appa, tapi Fellix sangat mencintai Appa.”

Lian masih ingat ucapan Fellix tadi. Wajah sedih dan takut dari seorang bocah lima tahun. Lian semakin merasa ingin menjaga Fellix dan membuat bocah itu tersenyum. Bagaimanapun juga Lian pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan dan takut. Dan perasaan itu juga dirasakan Fellix yang masih kecil.

Ucapan Fellix tadi juga membuat seorang Marcus luluh dengan anak kecil. Wajah kasihan Marcus pada Fellix masih Lian ingat betul. Hingga akhirnya kedua pria berbeda umur itu berada di restoran menunggu makanan pesanan mereka. Marcus tiba-tiba saja mengajak Fellix untuk membeli es krim yang kemudian langsung disetujui Fellix. Lian sengaja menolak untuk ikut turun dengan alasan lelah. Padahal dia ingin mengakrabkan Marcus dengan Fellix.

Lamunan Lian terbuyar saat mendengar teriakan Marcus. Rupanya mereka sudah selesai membeli makanan.

“Hey, anak nakal! Jangan berlari! Kau bisa jatuh.” Tegur Marcus pada Fellix yang sedang berlari menuruni tangga.

Mendengar teguran Marcus, Fellix langsung berhenti. Dia menunggu Marcus tiba di sampingnya. Tangannya memegang sebuah es krim cone rasa coklat yang hampir meleleh. Sedari tadi Fellix ingin menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Namun ragu.

Ahjussi!” Panggil Fellix

“Apa?” Sahut Marcus ketus.

“Kenapa ahjussi mencium noona? Bukankah kalian bersaudara?” Tanya Fellix dengan wajah sedikit kesalnya.

Marcus yang mendengar pertanyaan Fellix spontan tertawa. Dia sudah menduga kalau Fellix akan bertanya seperti itu. Lalu dia jongkok di depan Fellix dan mengacak-acak rambut Fellix gemas. “Aku menciumnya karena menyayanginya.” Jawab Marcus

“Tapi kenapa harus mencium?” Tanya Fellix sewot.

“Ada tiga jenis ciuman. Kening, pipi, dan bibir. Ciuman di kening menandakan kalau kau menyayanginya. Tapi kalau ciuman di bibir dan pipi menandakan kalau kau mencintainya.” Jawab Marcus enteng. Seolah sedang menjelaskan pada teman sebayanya. Padahal yang saat ini bersamanya adalah Fellix. Seorang bocah lima tahun. Dan Marcus membicarakan ciuman dan cinta.

Fellix mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak paham sama sekali. “Memangnya cinta dan sayang berbeda?” Tanya Fellix lagi. Dia melupakan es krimnya yang susag mencair dan mengotori tangannya.

“Sayang itu perasaan yang dimiliki semua orang. Misalnya kau menyayangi Lian. Tapi cinta-”

“Apa kalian akan membuatku menunggu lama?”

Seruan Lian memotong pemjelasan Marcus. Dan hal itu membuat Fellix sedikit kecewa. Dia masih penasaran akan satu hal itu.

“Nah, tuan putriku sudah menunggu. Kau harus cari tahu sendiri apa itu cinta. Kau akan menemukan jawabannya dengan mudah. Tapi, jangan tanyakan pada Lian. Aku bisa masuk rumah sakit kalau kau bertanya padanya. Arraseo?” Marcus mengacak-acak rambut Fellix gemas. “Kajja!” Seru Marcus sambil menggandeng tangan Fellix.

**

Tidak membutuhkan waktu lama, merekapun sampai di rumah sakit. Mereka langsung berjalan beriringan menuju lantai dua puluh enam tempat para pasien VVIP dirawat. Sepanjang lobi, mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit dan beberapa perawat. Tak sedikit yang berdecak iri dengan keharmonisan mereka. Mereka berpikir kalau mereka adalah keluarga.

Lian mencoba untuk mengabaikan tatapan para pengunjung rumah sakit. Dia hampir gila karena mendengar bisikan mereka yang malah terdengar seperti jeritan bagi Lian. Kalau saja bukan di tempat umum, Lian sudah dapat memastikan kalau wajah Marcus yang selalu diagung-agungkan para kaum hawa itu hancur.

Ingin rasanya Lian cepat sampai di ruangan tempat ayah Fellix dirawat. Setelah itu dia ingin menemui Jungkook dan mengadu perbuatan Marcus padanya. Selain itu dia ingin protes karena Jungkook pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.

Terlalu banyak berpikir membuat Lian tidak sadar kalau dia sudah berada di depan pintu kamar VVIP 27. Kemudian Marcus membuka pintu itu. Seperti dugaan Lian. Di dalam ada kakek dan nenek Fellix dan seorang pria seumuran Jimin terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya. Seperti judulnya. Kamar VVIP ini memang sangat luas dan dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap. Hanya manusia berdompet tebal yang dapat berada di kamar mewah ini.

Marcus dan Lian membungkuk hormat sambil mengucapkan salam kepada kakek dan nenek Fellix. Merekapun masuk ke dalam kamar itu. Suara nyaring pendeteksi jantung itu langsung terdengar.

“Fellix sayang! Kau dari mana saja? Astaga!” Nenek Fellix langsung mendekati Fellix dan memeluknya. “Kau tidak terluka, kan? Tidak ada yang menyakitimu? Cucuku! Halmoei sangat takut kau kenapa-napa.” Younbi memeluk Fellix dengan erat.

Mianhae, halmoeni. Aku janji tidak akan mengulangi lagi.” Ucap Fellix pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Sudah kubilang cucuku akan baik-baik saja.” Taejun mengusap-usap kepala Fellix gemas.

Younbi berdiri dan beralih mendekati Lian. Lalu wanita paruh baya itu memeluk Lian tiba-tiba. Membuat Lian sedikit kaget.

“Terimakasih, nak. Terimakasih sudah membawa cucuku dengan selamat.” Ucap Younbi

Dengan canggung, Lian mengelus-elus punggung Younbi sambil berbisik sama-sama. Berada dalam pelukan nenek Fellix tiba-tiba saja membuat Lian ingat dengan Lena. Lagi. Matanya sudah memanas dan kalau berkedip sekali saja, Lian yakin air matanya akan keluar. Marcus langsung menggelengkan kepalanya saat tahu kalau sepupunya itu akan menangis.

Halmoeni, jangan memeluk noona terlalu lama. Noona bisa sesak nafas.” Celetuk Fellix yang kemudian membuat Younbi melepas pelukannya pada Lian dan menatap Fellix dengan mata berkaca-kaca.

Benarkah yang baru saja berbicara padanya Fellix? Cucunya? Nyatakah yang saat ini dia lihat? Younbi kembali melihat wajah berbinar Fellix setelah tiga tahun kematian Yomi, ibu Fellix. Selama ini Fellix tidak pernah bicara lebih dari tiga kata kepada siapapun. Bahkan bocah lima tahun itu tidak pernah mau menatap lawan bicaranya saat bicara. Tapi kali ini Younbi melihat sesuatu yang berbeda dari cucunya.

Younbi tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengelus-elus kepala Fellix. Dalam hatinya dia sangat berterimakasih karena cucunya kembali seperti dulu.

“Apa itu ayahmu? Kau tidak menyapanya?” Marcus berusaha mencairkan suasana dengan bertanya pada Fellix.

Mendengar pertanyaan Marcus, sontak seluruh perhatian langsung tertuju pada sosok pria yang terbaring tanpa terusik sedikitpun. Fellix berjalan mendekati ayahnya dan langsung menggenggam tangan Taehyung. Keempat manusia dewasa itu juga ikut mengelilingi ranjang Taehyung.

Appa, mianhae karena aku pulang terlambat. Tapi aku baik-baik saja. Aku juga mengajak teman baruku. Appa harus bangun agar aku bisa mengenalkan Appa pada Lian noona.” Ucap Fellix sambil menatap ayahnya dengan sedih. Lian yang mendengar ucapan Fellix hanya tersenyum pilu.

Appa, Lian noona sangat baik dan cantik. Bahkan dia juga mengantar Fellix sampai sini. Appa akan menyesal kalau tidak melihat Lian noona.” Kali ini Fellix berbicara dengan wajah binar. Bocah lima tahun itu terlihat antusias saat menceritakan sosok Lian.

Siapapun yang mendengar ucapan Fellix pasti akan langsung merasa iba. Bahkan Younbi tidak bisa lagi menahan air matanya saat melihat cucunya berceloteh panjang lebar pada Taehyung. Di sampingnya, Taejun mengelus-elus pundak Younbi. Menenangkan istrinya. Marcus dan Lian nampaknya juga merasakan hal yang sama dengan Younbi. Lian bahkan hanya menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat pemandangan di depannya.

“Putraku, cepatlah sadar. Kau harus melihat putramu tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia. Kau harus segera sadar, nak. Demi putramu.” Ucap Younbi dalam hati.

“Taehyung-a, tidakkah kau ingin melihat senyum manis putramu? Putramu bisa tersenyum lagi. Dia menemukan kebahagiaannya, Taehyung-a. Cepatlah sadar. Kau harus melihat gadis pembawa kebahagiaan Fellix.” Ucap Taejun dalam hati.

“Nak, apa aku bisa merepotkan kalian lagi?” Taejun memecah keheningan. Dia menatap Lian dan Marcus bergantian.

“Jangan sungkan, tuan. Kami memang  sedang membolos kerja.” Jawab Marcus sambil sedikit bergurau. Dia melirik Lian yang tampak tidak fokus.

“Kami akan makan siang sebentar. Bisakah kalian menjaga putraku dan Fellix sebentar?” Tanya Taejun

“Tentu, tuan. Kami akan menjaga mereka.” Jawab Marcus

“Terimakasih, nak. Kalau begitu kami pergi dulu.” Ucap Taejun

Marcus membungkukkan badannya sebelum pasangan suami istri itu pergi. Kemudian pandangannya beralih pada sepupunya yang tampak tidak fokus. Dia menghela nafas panjang saat tahu kalau Lian fokus menatap pada sosok di depannya yang terbaring di ranjang. Diapun memutuskan untuk duduk di sofa sampai Lian tersadar dari lamunannya.

Marcus bukan orang awam mengenai cintai dan teman-temannya. Dia tahu arti tatapan Lian. Tatapan yang tidak lepas dari sosok itu dan berhasil menyedot perhatiannya.

Lian tidak tahu apa yang terjadi padanya. Semua inderanya tidak berfungsi dengan baik saat matanya melihat wajah pucat dari pria di depannya yang masih terpejam.  Pusat perhatiannya tertarik pada Taehyung yang bahkan masih dalam posisi koma. Lian dapat melihat kalau Fellix mempunyai bentuk hidung dan mata yang sama dengan ayahnya. Semua yang ada pada wajah Taehyung tergambar sempurna. Bibir tebalnya, hidung mancung, rahang tegas, dan bola mata yang tertutu itu. Pasti di dalamnya mempunyai warna yang indah.

Lian menggeleng-gelengkan kepalanya saat mulai berkhayal yang tidak-tidak. Mana mungkin dia tertarik pada pria yang bahkan sedang koma? Lian tidak pernah merasa penasaran pada pria. Dia tidak pernah terang-terangan menatap pria. Tapi kali ini seorang pria yang bahkan sedang koma mampu menyedot perhatiannya.

Noona?” Panggil Fellix sambil menarik kemeja Lian.

Entah karena suara Fellix yang terlalu kencang atau memang reaksi Lian yang berlebihan. Tapi yang jelas Fellix memanggilnya tidak terlalu kencang. Lian terlalu fokus memperhatikan Taehyung hingga dia sangat kaget saat Fellix memanggilnya. Dia bahkan memegang dadanya karena saking kagetnya.

“Ya?” Sahut Lian gugup sambil mengusap-usap kepala Fellix.

Di tempatnya, Marcus menahan tawanya melihat ekspresi Lian yang gugup karena kedapatan Fellix sedang melihat ayahnya. Marcus yakin setelah ini akan ada sesuatu yang terjadi pada Lian.

Noona melamun? Apa yang noona pikirkan?” Tanya Fellix polos.

“Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa. Ah! Bukankah kau belum makan siang? Ayo makan dulu.” Lian mengalihkan pembicaraan dan segera menggandeng tangan Fellix untuk bergabung bersama Marcus.

“Apa noona mau menyuapi Fellix?” Tanya Fellix sambil menatap Lian penuh harap.

“Tentu saja.” Jawab Lian sambil membuka makanan yang dibeli Marcus dan Fellix tadi.

**

“Jeon Jungkook!” Seru Jimin dambil membuka ruangan dokter Jungkook dengan kasar.

Jimin mengumpat kala tidak mendapati Jungkook di ruangannya. Dia menelusuri ruangan Jungkook yang lebih luas dari ruangannya. Lagi-lagi Jimin mengumpat saat sadar kalau ruangan Jungkook memiliki fasilitas lengkap. Bahkan ruangannya tidak memiliki kulkas dan sofa empuk seperti yang dimiliki Jungkook. Mungkin setelah ini dia akan minta kulkas untuk ruangannya.

Kembali lagi pada Jimin. Pria berwajah baby face itu membuka kamar mandi di ruangan ini dengan kasar tanpa peduli apa di dalam ada orang atau tidak. Di kamar mandipun tidak ada sosok yang dia cari. Dengan langkah terburu-buru, Jimin keluar dari ruangan Jungkook dan mencari di tempat lain.

Sial. Saat ada berita penting saja Jungkook sangat sulit ditemukan. Pria yang lebih muda darinya dua tahun itu memang mempunyai kesibukan yang tiada duanya.

Jimin mendekati sekumpulan perawat dan dokter yang sedang bergosip di meja resepsionist.

“Oh, Dokter Park! Ada apa? Kau terlihat terburu-buru?” Tanya salah satu dokter.

“Kalian lihat Jungkook?” Tanya Jimin tanpa basa-basa dan tanpa dosa.

Bukannya langsung menjawab, para perawat dan dokter itu malah saling bertatapan. Benarkah Jimin mengatakan Jungkook? Presdir mereka? Orang yang paling dihormati di rumah sakit ini?

“Apa maksudmu Presdir Jeon?” Tanya salah satu perawat.

Jimin menatap perawat itu geram. “Terserah kalian memanggilnya siapa! Kalian lihat Jungkook tidak?” Tanyanya lagi jengkel.

Sekali lagi mereka saling berpandangan. Kenapa dia? Pikir mereka dalam hati. Dari sekian banyak dokter baru kali ini mereka menemukan dokter seperti Jimin yang cenderung tidak mau tahu dan terkesan kurang ajar. Bahkan baru saja dia memanggil presdirnya hanya dengan nama.

Bohong kalau mereka tidak takut dengan Jimin. Pasalnya ayah Jimin adalah salah satu dokter senior terbaik sekaligus ketua manager di rumah sakit. Siapa yang berani main-main dengan anak orang penting rumah sakit ini? Tapi sekalipun Jimin adalah anak dari ketua manager rumah sakit ini, tetap saja Jimin harus hormat dengan presdirnya. Ayahnya saja sangat menghormati Jungkook. Kenapa Jimin tidak?

Jimin mulai hilang kesabaran saat yang dia mintai jawaban hanya diam saja. “Ya! Kalian mendengarku tidak?” Serunya

“Itu…” Jawab perawat yang lain sambil menunjuk ke belakang.

Jimin berbalik dan melotot sebal saat melihat Jungkook baru saja keluar dari ruang operasi. “Ya! Jeon Jungkook!” Serunya sambil berjalan cepat menghampiri Jungkook yang sedang melepas masker, kaus tangan, dan jas operasinya.

Para perawat dan dokter yang mendengar bagaimana Jimin memanggil Jungkook hanya memekik kaget. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati agar dokter muda satu itu bisa tetap bekerja di rumah sakit ini.

Jungkook berjingkat kaget saat mendengar namanya dipanggil dengan nyaring. Dia mengelus-elus dadanya dan menatap jengkel pada Jimin yang sudah berada di depannya dengan nafas ngos-ngosan.

“Ada apa, Dokter Park?” Tanya Jungkook berusaha terlihat wibawa.Bukan berusaha. Memang perawakannya sudah wibawa.

“Aku tahu kalau Lian hanya gadis polos dan baik. Dan aku juga tahu kalau kau sangat menjaga Lian. Tapi-”

Hyung! Bisakah langsung pada intinya?” Potong Jungkook sebal.

Dia takut terjadi sesuatu pada Lian karena wajah Jimin yang terlihat sangat serius.

Para perawat dan dokter tampak dibuat terkejut lagi saat mendengar Jungkook memanggil Jimin dengan sebutan hyung. Apa mereka sedekat itu hingga hanya berbicara informal? Banyak sekali yang ada di kepala mereka.

Kenapa mereka sangat akrab?

Siapa Lian?

Apakah presdir punya kekasih?

“Aku melihat Lian.”

“Dimana?” Potong Jungkook lagi. Wajahnya memperlihatkan ketidaksabarannya.

Apa yang dilakukan Lian di rumah sakit? Kenapa tidak ada satupun orang yang memberitahunya?

Jungkook mendengus sebal saat Jimin tidak kunjung menjawabnya. Diapun menendang kaki Jimin.

“YA! KAU! ARGH SIALAN!” Pekik Jimin sambil mengangkat kakinya yang baru saja ditendang Jungkook.

Entah sudah berapa kali para perawat dan dokter dibuat dengan kelakuan Jimin? Apa Jimin baru saja mengatai atasannya?

“Aku melihat Lian kesini bersama seorang pria dan bocah kecil! Apa Lian sudah menikah dan mempunyai anak? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Lian sudah meni-”

“Apa?! Ya! Kau ini bicara apa? Lian belum menikah dan punya anak!” Potong Jungkook sebal. Sahabatnya ini sepertinya butuh psikiater. Bahkan Jungkook tidak pernah mendengar kalau Lian menyukai seorang pria.

Mereka nampaknya tidak sadar kalau sedang menjadi pusat perhatian. Beberapa tampak berdecak kagum karena bisa melihat ekspresi kesal Jungkook yang semakin membuat pria bergigi kelinci itu tampan. Tapi mereka juga masih dibuat penasaran dengan sosok yang saat ini dua pria itu bicarakan.

“Kalau tidak percaya, tanya saja pada Lian! Aku merasa dikhianati, tahu?!” Sungut Jimin lalu berlalu begitu saja dari hadapan Jungkook.

“Ya, Park Jimin! Kau masih hutang penjelasan padaku!” Teriak Jungkook kesal.

Jimin tidak menjawab dan hanya melambaikan tangannya.

“Kau kupecat!”

“Aku sangat berterimakasih!” Balas Jimin

.

.

.

.

.

To be continue~

Posted in Chapter, Hurt, I Hate You, I Love You, Married Life

I Hate You, I Love You #1

I Hate You, I Love You #1

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian – Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Kim Taehyung – Jung Eunji

Category : Hurt, Married Life

Rate : PG-15

“Kebencianmu hanya akan menjebakmu dalam sebuah perasaan dalam yang perlahan mematikan seluruh kinerja syaraf.”

**

Kim Lian sudah lama sekali kehilangan kehidupan indahnya. Semuanya pergi satu per satu dengan membawa senyum dan semua kenangan indah. Hingga kini, tidak ada kenangan yang bisa Lian kenang selain saat orang-orang berharga menghilang satu per satu. Setiap detik yang Lian jalani tidak pernah bermakna dan Lian tidak pernah membuatnya bermakna. Hidupnya sudah kelabu. Warna itu direnggut satu-satunya orang yang dia harapkan dapat membahagiakannya. Menggantikan beribu kesedihan yang selama ini dia rasakan.

Kim Lian tidak percaya semua orang. Karena saat kau menaruh kepercayaan kepada seseorang, kau akan merasa tersakiti. Lian hanya menganggap hidupnya hanya tinggal menunggu hitungan detik. Hidup Lian sudah hancur. Dan Lian tidak pernah mempunyai niatan untuk memperbaikinya.

Kim Lian sangat berarti untuk semua orang. Gadis dua puluh lima tahun itu memiliki banyak sekali orang yang menyayanginya. Hanya saja hatinya sudah lama mati. Benda itu sudah tidak lagi berfungsi. Lian mati rasa. Hidupnya hanya dipenuhi dengan kebencian. Kebencian pada dirinya sendiri dan semua orang.

Tapi percayalah, dalam hati Lian yang sembilan puluh sembilan persen beku dan usang itu, masih tersisa sedikit rasa cinta. Cinta untuk pria brengsek yang dia temui tujuh tahun yang lalu. Jika saja Lian punya mesin waktu, hal pertama yang akan Lian lakukan adalah kembali pada tujuh tahun yang lalu kemudian dia akan merubah jalannya agar tidak bertemu pria brengsek yang selalu menyiksa batinnya.

Kim Lian membenci kenyataan kalau pria brengsek yang dia cintai itu sudah terikat dengannya. Detik saat dia terikat saat itu adalah detik saat dunia Lian runtuh seketika. Hidupnya lebih tidak berharga. Terlambat. Andai saja Lian tahu lebih awal kalau pria brengsek yang menyandang status sebagai suaminya itu hanya mempermainkamnya.

Hanya kata ‘andai’ yang selalu menjadi penyesalan Lian.

Entah sudah berapa lamanya Lian tidak merasakan sakit baik fisik maupun batin. Seperti saat ini. Tidak terhitung berapa lama gadis dua puluh lima tahun ini berenang di kolam renang rumahnya. Bukan. Rumah mereka. Lian dan suami brengseknya. Berenang adalah salah satu ekspresi pelampiasan perasaan yang melandanya. Baik senang maupun sedih. Tapi, bukankah Lian sudah lama mati rasa?

Benar. Maka dari itu tidak ada yang tahu bagaimana jalan pikiran gadis kepala dua ini. Di cuaca yang sangat dingin ini, tidakkah mereka memilih duduk di depan perapian bersama orang terkasih? Bukan berenang di malam hari seperti yang dilakukan Lian. Di sekeliling kolam renang, para pelayan dan penjaga rumah sudah berkeliling dengan tatapan cemas. Mereka cukup tahu untuk tetap diam dan membiarkan majikan mereka melakukan hal ekstrem itu. Bagi mereka, diam adalah satu hal penting yang harus dilakukan selama bersama Kim Lian.

Satu-satunya yang mereka harapkan saat ini adalah agar Tuan mereka segera pulang. Hanya sang suamilah yang bisa menghentikan aksi nekat Lian. Rose, satu-satunya pelayan yang lumayan dekat dengan Lian, akhirnya mendekat ke arah kolam renang. Dia sudah cukup dibuat serangan jantung saat tiba-tiba Nyonyanya itu menceburkan diri ke dalam kolam renang. Sekarang dia tidak bisa diam saja. Bagaimana kalau gadis rapuh itu sakit?

“Nyonya, sebaiknya Nyonya berhenti berenang. Nyonya bisa sakit kalau tidak keluar dari kolam renang.” Suara Rose terdengar bergetar. Antara kedinginan dan takut.

Seharusnya Rose tahu kalau ucapannya hanya akan dianggap angin lewat oleh Lian. Buktinya gadis -ah sekarang tidak lagi, Lian tetap menyusuri kolam renang seluas 70×55 meter itu.

Lian sudah berusaha untuk menulikan telinganya. Dia bukan tidak tahu kalau para pelayan dan penjaganya sudah sangat mengkhawatirkannya. Tapi, tidak ada cara lain untuk menyembunyikan air mata kesakitannya. Setidaknya air kolam ini bisa menyembunyikan air matanya. Air dingin ini sebenarnya menyakiti Lian. Rasa sakit itu menembus hingga ke tulang.

Tidak ada lagi rasa sakit yang lebih menyakitkan dari rasa sakit yang kau berikan.

Lian terus berenang dari ujung kembali lagi ke ujung. Pinggir, tengah, ujung, kembali lagi pinggir. Seperti itu terus yang dilakukan Lian selama hampir tiga jam ini.

Suara hentakkan sepatu terdengar sangat tergesa-gesa dan membuat semua pelayan dan penjaga menoleh. Setelah melihat siapa yang datang, mereka langsung menyingkir. Aura gelap langsung mereka rasakan saat pria dengan setelan jas armani itu berjalan menuju halaman samping. Matanya memerah dengan rahang mengeras dan tangan terkepal erat.

Chanyeol tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat istrinya itu menurut. Jangankan menurut, mendengarkan orang lain saja enggan. Dia cukup paham bagaimana keras kepala dan dinginnya wanita itu. Bahkan secara tidak langsung, sikap keras kepala dan tidak mau tahunya Lian sering membuat orang-orang serangan jantung. Bukan satu dua kali.

Chanyeol tidak bisa menyalahkan orang masa lalu Lian karena membuat Lian berubah drastis. Dia juga sadar kalau dia sendiri salah satu diantara orang-orang itu yang membuat hidup wanitanya hancur. Tapi tidakkah tindakan Lian terlalu berbahaya?

Nafas Chanyeol tercekat saat melihat istrinya yang berenang kesana kemari tanpa peduli berapa suhu malam ini. Dengan langkah tergesa dia berlari menuju pinggir kolam renang. Tatapan menghunusnya membuat semua pelayan takut.

“Kalian bisa masuk.” Suara rendah seseorang membuat para pelayan masuk ke dalam rumah dan kembali melakukan pekerjaan mereka. Hanya beberapa yang tinggal karena membawakan handuk dan mantel tebal untuk Lian.

Baekhyun menatap adik tirinya nanar. Hatinya nyeri melihat aksi nekat Lian yang berakhir melukai diri Lian. Dia berdiri di belakang Chanyeol. Membiarkan sahabatnya itu mengurus adik tirinya.

Chanyeol masih menunggu sampai Lian lewat di depannya. Hanya berada di luar saja sudah membuatnya menggigil. Apalagi saat menyentuh air kolam.

“Berhenti, Park Lian.” Chanyeol berucap rendah saat Lian sudah melewatinya.

Chanyeol harus menahan emosinya saat Lian melewatinya begitu saja. Giginya sudah mulai bergemeletuk. Sungguh Chanyeol merasa kesabarannya mulai habis. Dia sangat ketakutan kalau Lian akan hipotermia.

“KUBILANG BERHENTI, PARK LIAN!” Chanyeol tidak bisa lagi menahan emosinya. Suaranya menggelegar memenuhi seluruh penjuru rumah. Bahkan semua pelayan dibuat berjingkat kaget.

Dengan segala kekuatannya, Chanyeol menarik tangan Lian sehingga kepala Lian terangkat dari air. Nafas Chanyeol sudah sangat memburu. See! Bahkan tangan yang saat ini dia pegang sudah sedingin es. Wajah istrinya yang selalu dia agung-agungkan, sudah sangat pucat dengan bibir yang bergetar.

Baekhyun menatap Lian nanar. Apa yang bisa dia lakukan? Bahkan dia tidak punya nyali untuk menunjukkan wajahnya di depan adik tirinya. Dia adalah salah satu sumber kesakitan Lian.

Lian merasa air matanya sudah habis. Tapi dia belum siap untuk melihat wajah suami brengseknya. Bukan. Lian muak melihatnya.

Shit! Lian mengumpat dalam hati saat tulang belulangnya makin ngilu karena kedinginan. Tapi Lian ya Lian. Tidak ada ekspresi lain yang dia keluarkan kecuali ekspresi datarnya. Topeng yang selama ini menutupi ketidakberdayaannya.

Kesadaran Lian mulai berkurang. Oh! Dia tidak pernah mengira kalau efeknya akan seperti ini. Sejak kapan dan bagaimana dia sudah keluar dari kolam renang diapun tidak tahu. Tubuhnya sudah terbalut handuk dan mantel tebal. Di depannya, pria yang selama ini memenuhi otaknya menatapnya nyalang. Siap untuk menelannya hidup-hidup.

Satu per satu pelayan yang masih tertinggal meninggalkan halaman samping. Disusul Baekhyun. Melihat Lian keluar dari kolam renang itupun sudah membuatnya lega.

“Kau pikir apa yang kau lakukan di cuaca dingin seperti ini?” Suara rendah dan mengintimidasi Chanyeol kembali terdengar.

Lian hanya mencibir sinis sambil memalingkan wajahnya. Namun kemudian dia kembali menatap pria brengsek di depannya. “Kau pikir apa yang kau lakukan di cuaca dingin seperti ini?” Lian mengatakan hal yang sama kepada Chanyeol. Hanya saja nada bicaranya terkesan datar. Khas seorang Kim Lian.

“Jangan memancing emosiku, Li!” Sentak Chanyeol

“Bukankah kau sudah emosi?” Balas Lian bengis. Tatapannya masih sama. Datar.

Chanyeol sudah cukup waras untuk tidak terpancing amarahnya. Sumpah demi apapun! Chanyeol sangat mengkhawatirkan kondisi Lian. Bibir wanita itu mulai membiru.

“Masuk!” Titahnya dengan suara rendah.

“Kali ini siapa lagi?” Tanya Lian yang membuat Chanyeol mengurungkan niatnya untuk melangkah. “Wanita mana lagi yang kau tiduri?” Sambung wanita bermarga Kim itu.

“Jangan mulai, Lian.”

“Cih! Bahkan wanita jalang itu meninggalkan bekas lipstiknya.” Desis Lian sambil memalingkan wajahnya.

Tangan Chanyeol terkepal erat. Bahkan buku-buku jarinya terlihat memutih. Dia marah dan menyesal secara bersamaan. Seharusnya dia tidak lupa kalau istrinya ini mempunyai banyak mata.

Kau menyakitinya lagi, bajingan!

“Kau tidak mendengarku? Kubilang masuk!” Kembali Chanyeol berucap tak terbantahkan. Tangannya menggenggam tangan Lian dan sedikit menyeretnya masuk.

“Jangan menyentuhku, brengsek.” Suara rendah Lian membuat Chanyeol menghentikan langkahnya. Otomatis langkah Lian ikut terhenti.

Chanyeol menatap Lian tajam. Tangannya masih menggenggam tangan Lian. Bahkan kali ini lebih erat. Rahangnya mengetat.

Kau lihat? Istrimu bahkan tidak sudi kau sentuh.

“Kali ini tidak lagi, Li. Kau. Harus menuruti kataku. Sekali saja.” Chanyeol berusaha menekan egonya demi kondisi Lian yang makin mengkhawatirkan.

“Jangan ikut campur urusanku. Urusi saja wanita-wanita jalangmu itu.”

“Bisakah kau tidak merendahkanku sekali saja?!” Sentak Chanyeol dengan nafas memburu.

“Aku. Bicara. Kenyataan. Singkirkan tanganm-”

Ucapan Lian langsung terhenti saat bibirnya dibungkam dengan bibir Chanyeol. Sejak tadi pria itu sudah cukup bersabar menghadapi istrinya yang keras kepalanya tidak ada yang menandingi. Bahkan dia meninggalkan klien kerjanya yang datang jauh-jauh dari Jerman karena sebuah pesan yang detik itu juga berhasil membuatnya memecahkan sebuah vas.

Tangan Lian terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. Dia masih cukup sadar saat bibir Chanyeol menempel di bibirnya. Rasa sakit itu kembali menggerogotinya. Mati-matian Lian menahan air matanya yang siap tumpah. Semua sumpah serapah dia ucapkan dalam hati kepada pria yang saat ini masih menciumnya. Lian bisa saja mendorong Chanyeol agar menjauh. Tapi hatinya berkata lain.

Biarkan sekali saja aku melukai harga diriku. Aku merindukannya.

Lian memejamkan matanya. Membiarkan rasa sakit itu memakan habis hatinya. Toh, benda satu itu tidak lagi berguna untuknya. Lian membiarkan Chanyeol melumat bibirnya. Menyecapi rasa manis bibirnya yang kini bergetar hebat karena kedinginan dan menahan perih.

Chanyeol tidak peduli kalaupun Lian akan marah. Tindakan gilanya ini pasti menimbulkan luka lagi dalam hati Lian. Biarkan saja. Chanyeol ingin menghilangkan warna kebiruan di bibir sang istri akibat kedinginan. Selain itu, dia merindukan rasa manis bibir cherry istrinya. Dia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan guna mencari posisi nyaman sekaligus agar Lian tidak kehilangan pasokan udara. Lian hanya diam mematung dalam setiap lumatan yang diberikan Chanyeol.

Hingga akhirnya Chanyeol merasakan tubuh istrinya melemah. Dengan sigap dia menahan pinggang Lian dengan kedua tangannya. Dia menjauhkan wajahnya dan mendapati wajah pucat pasi Lian dengan bibir yang bergetar. Mata Chanyeol membola lebar.

“Jangan menyentuhku, brengsek. Aku tidak sudi disentuh tangan kotormu.” Ucap Lian lirih dengan mata nyaris terpejam. Tatapan matanya mengisyaratkan kebencian.

“Jangan bicara. Kau menggigil, Li.” Ucap Chanyeol panik.

“Jangan pedulikan aku.”

“KAU BISA MATI, PARK LIAN!” Teriak Chanyeol saking cemasnya.

Tanpa mempedulikan Lian yang terus memberontak, dia mengangkat tubuh Lian yang makin kurus ke kamar mereka.

“BAEKHYUN, PANGGIL DOKTER!” Teriak Chanyeol saat kakinya berlari menyusuri tangga.

Para pelayan terkejut saat melihat majikan mereka berlarian dengan sang istri yang sudah tak sadarkan diri. Di tempatnya, Baekhyun diam mematung melihat Lian yang pingsan. Bukan yang pertama kalinya Lian melukai dirinya sendiri. Dan Baekhyun merasa sangat tidak berguna karena selama ini dia gagal menjaga adik tirinya.

**

Setelah mengganti semua pakaian Lian yang basah dengan pakaian yang lebih hangat, Chanyeol menyelimuti tubuh menggigil Lian. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri yang kembali membuat istrinya harus berurusan dengan dokter. Sungguh Chanyeol sangat mencintai wanita yang saat ini berada di pelukannya. Tapi memang predikat brengsek dan bajingan tidak bisa lepas dari seorang Park Chanyeol.

Park Chanyeol adalah seorang pria yang ambisius, ditaktor, dan harus dapat apa yang dia inginkan. Termasuk dalam hubungan seks. Bukan hal yang sulit bagi Chanyeol untuk mendapatkan wanita yang dengan rela menyerahkan lubang mereka untuk Chanyeol. Sekali tatap, wanita-wanita seksi akan langsung bisa dia ajak naik ke atas ranjang.

Bagi Chanyeol, nafsu nomor satu kemudian hati. Dia selalu mengesampingkan fakta kalau dia sudah beristri saat sudah bersama para jalang. Kenapa tidak meminta Lian saja? Sudah. Hanya saja Lian sudah tidak sudi menyerahkan tubuhnya untuk seorang bajingan seperti Chanyeol. Cukup tiga kali saja bagi Lian sebelum akhirnya wanita malang itu tahu bagaimana bejatnya sang suami.

Setidaknya kenyataan bahwa sang suami pernah menghamili salah satu simpanannya sudah menjadi kenyataan paling pahit bagi Lian. Lian sudah tersakiti terlalu dalam. Dan sejak itu dia muak melihat suami brengseknya. Belum cukup dengan menjadikannya mainan, hingga akhirnya Chanyeol membuat jalangnya hamil yang kemudian janin haram itu meninggal saat masih berusia tiga bulan.

Chanyeol bangun dari berbaringnya saat pintu terbuka dan menampilkan Baekhyun dengan penampilan kusutnya.

“Dokter sudah datang.” Ucap Baekhyun sesaat kemudian.

Chanyeol menyingkir dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Baekhyun memberikan jalan untuk dokter masuk. Saat itu juga, mata Chanyeol langsung melotot tajam. Tangannya terkepal erat dan rahangnya mengeras. Dia berjalan cepat guna bisa mencapai dokter itu. Chanyeol mencengkram kerah kemeja sang dokter.

“Apa yang ada di otakmu sampai kau berani masuk ke dalam rumahku, sialan?” Desis Chanyeol dengan mata menyalang ke arah dokter di depannya.

Taehyung, dokter pribadi keluarga Lian sekaligus seseorang di masa lalu Lian, menepis tangan Chanyeol dengan kasar. Wajahnya datar. Taehyung menatap Chanyeol tak kalah tajam.

“Dari semua dokter di Seoul, kenapa harus kau yang datang?!” Sentak Chanyeol

“Kau pikir kau siapa? Urusi saja jalang-jalangmu itu.” Sahut Taehyung tenang.

Chanyeol tidak bisa lagi menahan emosinya. Baru saja dia hendak melayangkan tinju untuk Taehyung, sebuah tangan sudah menahannya. Dilihatnya Baekhyun dengan wajah lelahnya.

“Tidak tahukah kalian kalau adikku sedang sekarat?” Lirihnya sambil menatap Chanyeol dan Taehyung bergantian.

Tanpa mempedulikan tatapan bengis Chanyeol, Taehyung berjalan menuju ranjang tempat dimana wanita yang dulu pernah dia cintai terbaring. Dia meringis saat melihat wajah pucat Lian. Kemudian dokter muda itu mulai mengeluarkan alat-alat periksanya.

“Kupikir dengan aku melepasmu kau akan bahagia.” Ucap Taehyung dalam hati. Kemudian dia mulai memeriksa kondisi Lian.

Taehyung meringis saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Lian. Sebenarnya apa yang terjadi? Itulah yang sejak tadi memenuhi kepalanya saat tiba-tiba Baekhyun menghubunginya bahwa Lian sakit. Lian yang sekarang sangat berbeda dengan Lian yang dia temui sembilan tahun yang lalu. Setidaknya, dulu dia masih bisa melihat senyum tipis Lian yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dia pikir dengan merelakan Lian kepada Chanyeol, hidup gadis itu akan berubah. Dia menaruh harapan besar pada Chanyeol karena Lian selalu antusias saat bercerita tentang pertemuan mereka. Bahkan Taehyung harus rela menelan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Namun apa yang terjadi? Lian kembali dilukai. Chanyeol menjadikan Lian taruhan sekaligus berselingkuh di belakang Lian.

Detik saat Taehyung mengetahui fakta itu, detik itu juga Chanyeol langsung terbaring di rumah sakit karena mendapat pukulan membabibuta darinya. Usia pernikahan mereka saat itu masih berusia dua bulan. Pernikahan mereka bukan murni atas kemauan mereka. Melainkan perjodohan.

Taehyung melepaskan stetoskopnya dan kemudian membereskan alat-alatnya. Dia menatap Lian sekali lagi sebelum dia benar-benar harus pergi.

“Berbahagialah, Li. Agar aku tenang saat jauh darimu.” Ucap Taehyung dalam hati sambil mengelus-elus kepala Lian.

Lagi-lagi Chanyeol harus dibuat marah saat melihat Taehyung menyentuh istrinya. Dia memilih untuk memalingkan wajahnya daripada harus menyaksikan pemandangan menyakitkan di depannya. Chanyeol sadar seratus persen kalau rasa sakit yang Lian rasakan lebih dari rasa sakitnya.

“Bagaimana? Apakah ada yang serius?” Tanya Baekhyun sambil berjalan mendekati Taehyung.

“Apa lagi yang dilakukan si brengsek itu sampai membuat Lian seperti ini?” Ucap Taehyung pelan. Dia hendak berdiri namun tangannya ditahan oleh Lian.

Taehyung menatap tangannya dan Lian bergantian. Dia bernafas lega saat melihat mata Lian terbuka. “Li? Kau sadar?” Bisik Taehyung

Baekhyun dan Chanyeol yang mendengar ucapan Taehyung langsung beringsut mendekat. Keduanya bernafas lega saat melihat mata Lian yang sepenuhnya sudah terbuka. Chanyeol hendak duduk di samping Lian, namun tertahan saat melihat tatapan terluka Lian. Siapa yang tahan dengan tatapan terluka itu?

“Apa yang kau lakukan sampai kau kedinginan seperti ini?” Tanya Taehyung dengan nada kawatirnya. Tangannya mengusap-usap pipi Lian.

Nan gwaenchanha.” Ucap Lian pelan.

“Aku sangat kawatir, Li. Kumohon jangan sakit lagi.” Lirih Taehyung dengan nada meminta.

“Pulanglah. Kau sangat kelelahan.”

“Aku akan menemanimu sampai kau tidur.”

“Aku ingin sendiri. Jangan khawatirkan aku.” Tolak Lian

Taehyung menghela nafas pasrah. Sekalipun Lian tidak pernah berkata kasar padanya, dia tetap tidak berani untuk membantah. “Baiklah. Segeralah sembuh.” Ucap Taehyung sambil mengelus-elus kepala Lian. Lian hanya membalas dengan anggukan pelan.

Kemudian Taehyung pergi dengan diantar Baekhyun. Selepas kepergian Taehyung dan Baekhyun, Chanyeol langsung duduk di samping Lian. Bohong kalau dia tidak khawatir. Dia sangat khawatir. Hanya saja Chanyeol tipe orang yang sulit mengekspresikan perasaannya. Bodohnya lagi, dia tidak bisa berhenti melukai istrinya.

Lian kembali membuka matanya saat merasakan usapan lembut di pipinya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah khawatir Chanyeol. Lian memalingkan wajahnya. Melihat wajah Chanyeol hanya akan membuatnya lemah.

“Maafkan aku.” Ucap Chanyeol pelan.

“Aku bosan mendengar permintaan maafmu.” Sahut Lian dengan suara paraunya.

Chanyeol menghela nafas panjang. Lalu dia berbaring di samping Lian dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk sang istri. Tidak ada penolakan seperti biasanya. “Tidurlah.” Bisiknya sambil membenarkan selimut Lian.

Lian membiarkan tangan Chanyeol memeluknya. Biarkan sekali saja dia melukai harga dirinya. Dia terlalu merindukan Chanyeol. Suami brengseknya. Maka, dia ingin merasakan hangatnya pelukan Chanyeol di sekitar perutnya. Merasakan hangatnya deru nafas Chanyeol yang menerpa wajahnya. Nyaman. Masih sama.

Lian bergerak gelisah dalam pelukan Chanyeol. Ternyata membiarkan Chanyeol memeluknya merupakan opsi buruk. Lian kembali ingat kalau tangan yang saat ini melingkari perutnya adalah tangan yang juga digunakan untuk menjamah tubuh para jalang di luar sana. Mengingat itu semua membuat Lian harus kembali menekan rasa nyeri di dadanya. Andai saja dia punya kekuatan lebih dan ego tidak sedang menguasainya, Lian akan menepis dengan kasar tangan Chanyeol.

Merasakan pergerakan gelisah dari istrinya, Chanyeol membuka matanya. Dia menatap Lian cemas. “Sayang? Ada apa?” Tanyanya cemas sambil membawa kepala Lian untuk bersandar pada dadanya.

Sekali lagi air mata itu kembali mengalir di pipi Lian. Sekuat dan sedingin apapun seorang Kim Lian, pertahanannya akan runtuh saat benar-benar merasa lelah.

“Aku membencimu, sialan.” Desis Lian dengan suara bergetar.

Chanyeol menghela nafas panjang. Tangannya tidak berhenti mengelus-elus rambut sang istri. “Aku mencintaimu.” Balas Chanyeol lalu mencium puncak kepala Lian.

**

“Setelah adanya mereka kau masih bisa mengelak?”

“Bukan begitu. Aku-“

“Bahkan kalian sudah berselingkuh sebelum kita menikah?!”

“Dengarkan aku dulu.”

“Apa yang harus kudengarkan?! Kau membohongiku! Kau mengkhianatiku!”

Lian bersembunyi di balik dinding saat melihat kedua orangtuanya bertengkar hebat. Disana dia juga melihat seorang wanita yang tengah menggandeng seorang anak laki-laki. Siapapun mereka, yang jelas Lian membencinya karena kedua orangtuanya mulai bertengkar saat dua orang itu datang.

Ingin rasanya Lian keluar dari persembunyiannya dan memeluk ibunya. Dia tidak suka melihat ibunya menangis. Ibunya adalah mataharinya. Bukankah matahari tidak pernah mengeluarkan air? Tapi apalah daya dia yang hanya seorang gadis kecil berumur tujuh tahun?

Jadi, Lian hanya bisa menunggu ibunya datang menghampirinya. Memeluknya. Mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Sekarang kau yang tentukan! Aku dan Lian pergi atau kau mengusir mereka!” Ibu Lian nampak murka dengan wajah penuh air mata sambil menunjuk wanita yang berada di samping Ayah Lian.

Lian tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak keluar. Dia takut. Dia tidak ingin pergi dari rumah. Dia ingin tinggal bersama ayah dan ibunya.

“Tidak bisa.” Suara lemah Ayah Lian terdengar.

“Baik. Aku dan Lian akan meninggalkan rumah ini.” Ibu Lian hendak melangkah pergi namun ditahan Ayah Lian.

“Tidak bisa! Kalian tidak boleh meninggalkan rumah ini!” Teriak Ayah Lian

“Kalau begitu suruh jalangmu itu pergi!”

Plak!

Lian melotot kaget saat Ayahnya menampar Ibunya. Selama ini Ayahnya tidak pernah berbuat kasar. Tapi kenapa sekarang dia malah menampar ibunya? Kaki Lian tidak bisa dicegah untuk berhenti. Dia berlari mendekati sang ibu yang tengah menangis sambil memegangi pipinya.

Lian memeluk kaki Ibunya. Dia ikut menangis. Takut dan kecewa bercampur jadi satu.

Kim Jeha, Ayah Lian, tampak kaget saat tiba-tiba putri kecilnya datang. Dia menatap tangannya yang bergetar dengan penuh penyesalan. Putri kecilnya pasti sangat ketakutan.

“Eomma…” Bisik Lian ditengah isakannya.

Anna, Ibu Lian, jongkok dan memeluk putri kesayangannya. “Tak apa, sayang.” Bisiknya sambil mencium puncak kepala Lian.

Lian beralih menatap ayahnya sengit. Dia kecewa karena pria yang selama ini dia banggakan melukai ibunya. Bahkan saat Jeha hendak menyentuhnya, dia langsung menghindar.

“Sayang?”

“Appa jahat! Appa memukul Eomma! Aku benci Appa!” Jerit Lian

“Sttt, sayang, jangan seperti itu. Eomma baik-baik saja.”

“Tapi Appa menyakiti Eomma. Mereka juga membuat Appa dan Eomma bertengkar. Aku benci mereka.” Lian menunjuk wanita yang berada di samping ayahnya dan juga bocah kecil itu.

“Lian!”

“Jangan membentak putriku!” Anna balas membentak Jeha karena tidak terima putrinya dibentak.

“Eomma…” Lian semakin menangis tersedu-sedu saat ayahnya baru saja membentaknya.

“Maafkan Appa, sayang.” Jeha kembali berusaha menyentuh putrinya. Namun lagi-lagi Lian menghindar. Lian sangat takut dengan ayahnya saat ini.

“Sayang, apa kau mau ikut Eomma ke rumah Eomma? Kita tinggal disana berdua.” Ucap Anna hati-hati.

“Lian tidak mau! Lian hanya mau tinggal disini bertiga! Appa, suruh mereka pergi! Mereka membuat Eomma menangis.”

“Tidak, sayang. Kita akan pergi.” Paksa Anna

“Anna, kumohon.” Pinta Jeha dengan wajah penyesalannya.

“Seharusnya kau berpikir dulu saat ingin menikahiku dulu. Aku menyesal. Ayo, sayang.” Anna menggandeng tangan Lian hendak pergi.

“Biarkan aku saja yang pergi.” Akhirnya wanita itu angkat suara.

“Tidak! Kalian semua harus tetap disini!” Seru Jeha frustasi.

“Eomma, aku takut.” Lirih Lian

“Kau menakuti putrimu! Terserah apa maumu! Aku akan pergi bersama Lian!” Ucap Anna sambil kembali menggandeng Lian untuk pergi.

“Eonni, jangan pergi.” Wanita itu menahan lengan Anna. 

Melihat tangannya dipegang oleh wanita selingkuhan suaminya, langsung saja Anna menepisnya dengan kasar hingga wanita itu tersungkur ke lantai.

“Jangan gunakan tangan kotormu itu untuk menyentuhku, jalang!” Desis Anna

“Jaga bicaramu, Anna!” Sentak Jeha lagi sambil membantu wanita itu berdiri.

“Kalau kau mau pergi, pergilah! Tapi jangan pernah membawa Lian!”

“Jadi kau memilih wanita itu? Sebegitu tidak berharganyakah aku di matamu? Kau bahkan memilih wanita itu daripada istrimu sendiri!” Air mata Anna semakin deras mengalir.

Lian hanya diam terisak melihat orangtuanya saling berteriak. Dia sangat takut.

“Baiklah. Aku akan pergi. Kita bercerai.” Putus Anna

Mendengar kata cerai dari mulut sang istri langsung membuat Jeha melotot kaget. Dari semua kata yang ada, dia menghindari kata maksiat itu agar tidak keluar dari mulut Anna. Cerai berarti kiamat. Dia tidak bisa. Dia terlalu mencintai Anna.

“Sayang, kau tidak bisa mengambil keputusan gegabah.”

“Kau juga tidak bisa menyakitiku! Lian sayang, tetaplah disini. Jangan ikuti Eomma.” Anna menghapus air mata putrinya.

“Eomma, aku takut.”

“Tak apa, sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis. Kau gadis yang kuat. Kau harus menjadi wanita kuat, sayang. Jangan lemah seperti Eomma.”

“Anna-“

“Eomma mencintaimu. Eomma akan selalu datang untuk melihatmu. Berjanjilah pada Eomma kalau kau tidak akan membenci mereka. Mereka akan menyayangimu seperti halnya Eomma.”

“Eomma, aku juga menyayangimu. Aku ingin bersama Eomma terus.” Lian memeluk ibunya dengan erat.

“Tidak bisa, sayang. Eomma harus pergi jauh. Lian disini bersama Appa, ahjumma, dan ahjussi. Mereka berdua juga akan menjadi keluargamu.” Susah payah Anna mengatakan itu semua. Dia berusaha melawan rasa sakitnya agar putrinya tidak takut.

“Eonni-“

“Eomma mencintai Lian.” Bisik Anna lalu mencium kening Lian cukup lama.

Jeha hanya diam mematung di tempatnya. Bahkan dia ikut menangis. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik.

“Ahjumma!” Anna memanggil pelayan rumah mereka.

“Ya, nyonya?”

“Tolong jaga putriku. Aku harus pergi sekarang.” Anna menyerahkan Lian pada pelayan rumah mereka.

Shin Ahjumma hanya menuruti perintah majikannya. Dia hanya pelayan dan tidak berhak ikut campur. Dia juga tidak tuli untuk mendengar semua pertengkaran itu. Air mata Shin Ahjumma juga ikut mengalir.

Kemudian Annapun mulai melangkah pergi meninggalkan Lian yang masih menangis sambil berteriak memanggilnya. Jeha seolah tersadar. Dia mengejar istrinya agar tetap tinggal. Sungguh dia menyesal telah mengucapkan kalimat itu.

“Eomma!” Jerit Lian sambil berlari mengejar Anna.

“Nona!” Shin Ahjumma mengikuti Lian yang sudah berlari mengejar ibunya.

“Eomma!” Lian terus berteriak memanggil ibunya.

Brak!

Semuanya terjadi begitu cepat. Tubuh Anna terpental jauh di jalanan hingga berakhir dengan membentur pembatas jalan. Jeha dan Shin Ahjumma berteriak histeris saat melihat Anna yang sudah tergeletak di jalan dengan tubuh dan wajah penuh darah. Jeha langsung berlari menghampiri istrinya. Memangku kepala sang istri.

Lian masih diam mematung setelah menyaksikan kejadian yang baru pertama kali dia lihat. Dia menatap mobil yang baru saja menabrak ibunya dan ibunya yang sudah tergeletak dengan darah dimana-mana bergantian.

“Eomma…” Lirih Lian hendak berjalan mendekati ibunya namun langsung ditahan oleh Shin Ahjumma. Bahkan matanya juga ditutupi.

Lian duduk dengan kedua lutut ditekuk di depan pintu ruang operasi. Tangisnya tidak mau berhenti. Sudah lebih dari dua jam ibunya berada di dalam ruang operasi. Lian takut. Sangat takut sampai siapapun yang mengajaknya bicara hanya dia diamkan.

Lian masih sangat ingat saat mobil itu menabrak tubuh ibunya. Wajah Anna yang penuh darah. Anna yang memejamkan matanya dan tidak mau dia ajak bicara. Ingatan terakhirnya berhenti saat ibunya menangis karena kedatangan tiba-tiba orang asing. Lalu ayahnya yang menampar ibunya. Ayahnya yang membentak ibunya. Lian sangat ingat. Hingga akhirnya Anna meninggalkannya.

Lian bangun dari duduknya saat mendengar suara pintu digeser. Dia menghapus air matanya dan segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. “Dokter, dimana Eomma? Apa Eomma sudah bangun?” Tanya Lian

Dokter itu tampak menghela nafas berat. Dia menatap Lian iba. “Maafkan dokter.” Ucap dokter itu pelan.

Jeha, Shin Ahjumma, dan dua orang yang membuat ibu Lian menangis langsung menangis histeris. Jeha seolah mendapat pukulan keras saat mendengar permintaan dokter. Bukan kata itu yang dia inginkan.

“Dokter, Eomma masih bisa bermain dengan Lian, kan? Kenapa dokter minta maaf? Lian tanya apa Eomma sudah bangun, bukan minta dokter minta maaf.” Tanya Lian lagi.

Lian memang cerdas. Dia bukan tidak paham dengan maksud sang dokter. Hanya saja Lian masih belum percaya. Bisa saja mereka mengerjainya karena sebentar lagi ulangtahunnya.

“Eomma sudah tidur dengan tenang. Lian tidak bisa bermain dengan Eomma sekarang.” Jawab dokter itu. Bahkan dokter itu juga ikut menangis karena merasa kasihan dan bersalah pada gadis kecil di depannya.

“Sayang…” Jeha hendak mendekati Lian namun Lian kembali menghindar.

Melihat penolakan putrinya membuat Jeha beribu-ribu kali lebih terpukul. Bahkan putrinya tidak sudi disentuh olehnya.

“Dokter, kata guruku di sekolah kau punya tangan ajaib yang bisa menyembuhkan manusia. Tapi kenapa dokter tidak bisa membuat Eomma bangun? Lian ingin ikut Eomma. Lian takut.”

“Maafkan dokter, ya, cantik. Dokter sudah berusaha semampu dokter, tapi Eomma tidak bisa bangun lagi. Tuhan terlalu menyayangi Eommamu.” Dokter itu menghapus air mata Lian.

“Eomma tidak boleh pergi meninggalkan Lian sendiri! Eomma!” Jerit Lian tersedu-sedu.

“Maafkan dokter, sayang.” Ucap dokter itu lagi.

“Sayang, sudah. Biarkan Eomma tidur dengan tenang. Lian tidak boleh menangis.” Jeha mendekati putrinya dan menghapus air mata Lian.

“Appa jahat! Appa yang membuat Eomma menangis. Seharusnya Appa tidak memukul dan membentak Eomma. Sekarang Eomma pergi! Lian sendiri. Eomma!” Lian semakin keras menangis dan hendak masuk ke dalam ruang operasi namun Jeha langsung menahannya.

“Maafkan Appa, sayang. Appa menyesal. Maafkan Appa.” Lirih Jeha sambil menggenggam tangan mungil Lian.

“Eomma sudah pergi! Appa jahat! Kalian juga! Seharusnya kalian tidak datang agar Eomma tidak menangis! Appa dan Eomma bertengkar karena kalian!” Lian beralih memarahi dua orang yang sejak tadi diam terisak.

“Sayang, mereka tidak bersalah. Appa yang salah. Jangan salahkan mereka.”

“Kalian yang membuat Eomma meninggal! Aku benci kalian!” Jerit Lian makin tak terkendali. Gadis kecil itu sudah menjadi tontonan para dokter dan perawat saat ini. Mereka menatap Lian iba.

“Nona…”

“Eomma!!!”

.

.

.

.

.

To be continue~

Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 2


Fool For You Part 2

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Angst, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

Entah kemana perginya pikiran Lian. Setelah Jin keluar dari kamarnya, tiba-tiba langkahnya tertarik pada meja sudut kamarnya. Tepatnya di dalamnya. Lian membuka laci itu perlahan hingga matanya menangkap sebuah kotak berwarna biru dongker dengan garis-garis putih yang lumayan besar. Lian mengambil kotak itu dengan tangan bergetar.

Nafas Lian tercekat saat tutup kotak itu sudah terbuka. Di dalamnya masih tetap sama. Dress pink magenta hadiah ulangtahun Lena masih tersimpan disitu. Juga bando dan topi pemberian Lena lima hari sebelum kejadian mengenaskan itu. Buku bersampul balon dan bunga sakura yang di dalamnya terdapat tulisannya dan Lena. Yang terakhir foto keluarganya yang diambil lima belas tahun yang lalu di sebuah taman bermain. Di dalam foto itu mereka benar-benar terlihat layaknya keluarga bahagia.

Sebenarnya Lian benci mengingat kejadian itu. Tapi setiap kali melihat sesuatu yang berhubungan dengan Lena, kejadian itu muncul dengan sendirinya. Lian tidak tahu sejak kapan wajahnya sudah penuh air mata. Dadanya sesak. Rasa marah, dendam, rindu, dan menyesal selalu menghantuinya. Bayangan Lena berjuang membuka mata dan bertahan agar bisa terus bernafas sambil menatapnya masih terus melintasi kepala Lian.

“I love you, darling. Jadilah wanita kuat dan tetap sayangi Dad dan Oppamu.”

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Lena sebelum akhirnya mata teduh itu tertutup untuk selamanya. Malam itu, Lian hanya bisa menjerit tertahan dengan deraian air mata. Dia kehilangan ibunya. Mataharinya. Darah yang memenuhi lantai kamar orangtuanya dan juga samurai penuh darah itu masih tetap bersarang dalam ingatan Lian.

Lian menekan dadanya yang terasa sangat sesak. Dia berusaha mengatur nafasnya. Kemudian dia berjalan menuju balkon kamarnya sambil kembali memasang headset di telinganya. Hanya dengan mendengarkan musik Lian dapat menenangkan pikirannya. Dia terus menghembuskan nafas panjang. Berharap agar air matanya mau berhenti mengalir. Namun bukannya berhenti, justru air matanya semakin deras mengalir.

Lena. Mom. Lian sangat merindukan Lena. Melebihi apapun. Bahkan sudah terhitung sejak kejadian itu, Lian tidak pernah mengunjungi makam Lena. Lian hanya terlalu takut.

Sebuah tangan lagi-lagi mendarat di pundak Lian. Dengan cepat Lianpun menghapus air matanya dengan kasar. Hal yang tidak ia sukai adalah saat orang lain melihatnya menangis. Lian anti menunjukkan air matanya di depan orang. Lian menoleh dan mendapati Jungkook tengah menatapnya pilu. Lian berusaha memaksakan senyum.

“Kau sudah pulang? Kenapa sampai malam?” Lian berusaha menyembunyikan raut sedihnya. Dia melepas sebelah headset yang masih terpasang di telinganya dan memeluk Jungkook. “Aku menunggumu.” Lirih Lian sambil membenamkan wajahnya pada dada bidang Jungkook.

Jungkook hanya tersenyum miris sambil mengelus-elus rambut Lian. Sesekali menciumnya. Adik kecilnya. Hati Jungkook sesak melihat senyum palsu Lian. Lebih baik dia melihat Lian menangis sampai meraung-raung daripada harus melihatnya pura-pura tegar. Menanggung semuanya sendiri. Jungkook merasa tidak berguna sebagai seorang kakak. Disaat orang-orang di luar sana selalu menceritakan beban masalahnya kepada orang lain, Lian justru memilih memendamnya sendiri.

Lagi. Setetes air mata keluar dari sudut mata Jungkook. Jungkook sudah berjanji bahwa apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan Lian. Hidupnya hanya untuk membuat Lian bahagia.

Jungkook menyeka air matanya. Lian saja bisa sekuat ini. Dia sebagai kakak, apalagi laki-laki, harus lebih kuat dari Lian. “Kenapa belum makan?” Tanya Jungkook sambil mengelus-elus kepala Lian.

“Aku tidak lapar. Lagipula aku menunggumu.” Jawab Lian sambil mengangkat kepalanya. Menatap wajah kelelahan Jungkook. “Kau pasti sangat kelelahan.” Lanjut Lian sambil mengelus-elus pipi Jungkook.

“Tidak lagi karena sudah melihatmu. Sebaiknya kau makan malam dulu. Maagmu bisa kambuh.” Ucap Jungkook sambil memegang tangan Lian yang berada di pipinya. Diapun langsung menarik Lian untuk menuju ruang makan.

“Tapi aku tidak mau makan sendiri.” Lian menghentikkan langkahnya membuat Jungkook berhenti.

“Aku akan menemanimu. Jangan banyak alasan! Aku tidak mau mengurus bayi besar yang sedang sakit karena malas makan.” Sahut Jungkook geram sambil kembali menarik Lian.

Lian memang suka mengabaikan jam makan. Padahal dia penderita maag akut. Apalagi Lian penggemar kopi. Jungkook maupun Frank sampai kewalahan untuk mengingatkan Lian agar tidak lupa makan. Dan salah satu hal yang dibenci Lian adalah saat dia harus makan sendiri. Maka dari itu Lian memilih untuk tidak makan daripada harus makan sendiri.

“Apa Jin Oppa masih disini?” Tanya Lian saat mereka menuruni tangga. Hanya anggukan yang diberikan Jungkook.

“Penggemarmu juga ada disini.” Ucap Jungkook sambil menunjuk seorang pria yang sibuk dengan laptop di depannya. Dia adalah Kim Yugyeom. Penggemar Lian sejak Lian masih menginjak bangku sekolah dasar.

“Gyeomi Oppa!” Pekik Lian senang sambil berlari ke arah Yugyeom.

Merasa namanya dipanggil, Yugyeom langsung menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke sumber suara. Wajahnya terlihat sumringah saat melihat Lian berlari ke arahnya. Di tempatnya, Jungkook hanya tersenyum tipis melihat Lian yang terlihat sangat senang bertemu orang-orang terdekatnya. Jungkook bersyukur karena banyak yang menyayangi Lian. Termasuk teman-temannya.

Jin dan Bambam juga menghentikan diskusi mereka saat mendengar suara nyaring Lian yang memanggil Yugyeom. Melihat wajah bahagia Lian membuat Jin tersenyum senang. Setidaknya Lian baik-baik saja sejauh ini. Berbeda dengan Jin dan Yugyeom yang tampak senang melihat Lian, Bambam justru terlihat memanyunkan bibirnya.

Lian dan Yugyeom langsung berpelukan untuk melepas rindu. Tetakhir mereka bertemu adalah saat perayaan sweet seventeen Lian. Tentu saja di Swiss. Atas permintaan Lian, Frank menjemput Jungkook dan teman-temannya menggunakan private jetnya.

Jungkook tidak dapat menyembunyikan raut bahagianya melihat Lian tersenyum lebar. Rasa lelahnya hilang begitu saja setelah melihat Lian. Rasanya masih seperti mimpi melihat Lian di depannya selepas pulang bekerja.

“Kau hanya akan memeluk Yugyeom?” Celetuk Bambam dengan wajah masamnya. Ah! Nampaknya dia iri dengan Yugyeom.

Lian hanya cekikikan dan beralih memeluk Bambam. “Kau masih cemburuan rupanya.” Ucap Lian disela tawa gelinya. 

Bambam yang mendengarnya hanya mengacak-acak rambut Lian gemas. Bagi Bambam, Lian sudah seperti adiknya sendiri. Makanya dia sangat menyayangi Lian.

“Kurasa cukup acara kangen-kangenannya. Baby, kau harus makan, ingat?” Jungkook menyela aksi peluk-pelukan Lian dan kedua temannya.

Bambam merengut dibuatnya. Dia tahu kalau Jungkook adalah kakak yang overprotective. Tapi setidaknya biarkan mereka saling melepas rindu setelah sekian lama tidak berjumpa. Dengan perasaan kesal, Bambampun melepas pelukannya pada tubuh mungil Lian. Bagaimanapun juga dia tidak lupa kalau Lian penderita maag akut.

“Seharusnya kau makan bersama kami saja agar sekarang aku puas melihatmu.” Ucap Yugyeom dengan wajah tak kalah kesal.

“Bermimpi saja kalian.” Ucap Jungkook sambil membawa Lian ke ruang makan.

Bambam dan Yugyeom hanya mendengus sebal. Jin yang melihatnya hanya terkekeh kecil. Sepupunya itu memang sangat protective pada Lian. Terutama dalam urusan pria-pria yang mendekati Lian. Harus melalui Jungkook. Frank yang ayahnya tidak seperti Jungkook.

Lian menatap Jungkook dengan tatapan protes. Dia juga masih ingin melepas rindu dengan dua sahabat kakaknya itu. “Kau berlebihan, Jung!” Sungut Lian

“Hey! Aku melindungimu dari mereka.” Sanggah Jungkook

Lian mendengus. Alasan yang sama. “Aku besok sudah mulai bekerja.” Ucap Lian sambil duduk di kursi ruang makan. Dengan Jungkook di sampingnya.

Melihat Lian sudah duduk, para pelayan dengan sigap mengambilkan minum dan nasi untuk Lian. Namun Lian langsung menahan mereka. Dia tidak suka orang lain melakukan hal yang dia sendiri bisa lakukan. Lian menatap Kate protes. Seharusnya Kate sudah tahu kebiasaannya itu.

“Kau bisa berkeliling Seoul dulu kalau kau mau.” Ucap Jungkook setelah memberikan kode kepada pelayan untuk pergi.

“Tidak ada yang berubah, bukan? Sungai Han dan Namsan Tower masih banyak pasangan yang pamer kemesraan.” Sahut Lian sewot. Dia menyodorkan sesendok nasi beserta lauk pauknya pada Jungkook yang kemudian dibalas gelengan oleh Jungkook.

Jungkook berdecak sinis. “Kau hanya iri pada mereka.”

Up to you.” Sahut Lian acuh.

Suasana hening. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling berdenting. Jungkook asik menatap Lian yang makan dengan lahap. Terlihat sekali kalau Lian lapar. Hanya saja Lian terlalu acuh dengan kesehatannya. Beruntung Jungkook seorang dokter.

“Siapa yang akan menjadi sekretarisku?” Tanya Lian saat sudah menghabiskan makanannya. Dia menatap Jungkook sambil bertopang dagu.

Jungkook menaikkan sebelah alisnya. Dia pikir, Lian sudah tahu. “Kau akan tahu besok. Tapi kau harus tahu siapa asisten pribadimu. Dad yang mengirim orang itu.” Jawab Jungkook

“Siapa?”

“Sahabat pinangmu. Anna.” Jawab Jungkook santai sambil menyeringai.

Lian melotot kaget mendengar jawaban Jungkook. Anna? Frank mengirim Anna untuk menjadi asistennya? Tidak cukupkah orang-orang berbadan hulk, Aiden, dan juga Marcus untuk menjaganya? Sekarang Anna, sahabatnya, juga harus menjadi asistennya? Haruskah Anna mengiyakan ucapan Frank? Mungkin Lian akan mengomeli Anna besok.

Lian meminum jusnya sembarang dan meletakkan gelasnya dengan kasar. “Kenapa tidak dia saja yang menjadi asistenku? Apa tidak cukup menyuruh Aiden untuk menjadi supir pribadiku dan Marcus menjadi mata-matanya. Ya, Oppa! Kau tahu betapa canggungnya aku saat satu mobil dengan dua pria itu? Tidak adakah orang lain selain mereka? Bagaimanapun juga mereka dulu adalah sunbaeku-”

“Dan saudaramu.” Jungkook memotong cerocosan Lian.

“Apa mereka tidak punya pekerjaan sampai mau menuruti kemauan Dad?” Gerutu Lian

Jungkook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lian yang tidak berhenti menggerutu. “Tidak ada pekerjaan yang lebih sulit dari mengawalmu, baby.” Ujar Jungkook

Lian mendengus sebal sambil berjalan menuju lemari pendingin. Baru saja dia hendak mengambil kopi kalengan, tapi Jungkook langsung menahannya. Bahkan pria bergigi kelinci itu langsung menutup lemari pendingin dan menjadikannya sebagai sandaran tubuhnya. Lian yang tidak terima menatap kakaknya sebal.

“Mereka mau menjadi pengawalmu karena mereka juga yang akan membantumu mengurus perusahaan. Mereka akan menjadi direktur dan wakil direktur.” Jungkook berujar dengan santai sambil melipat tangannya di depan dada.

Lian tampak acuh dengan ucapan Jungkook. Dia memilih untuk meninggalkan Jungkook yang masih bersandar di lemari pendingin.

“Kate, jangan menyetok coffee di lemari pendingin!” Seru Jungkook sambil mengikuti Lian.

“Kau kupecat kalau menurutinya, Kate!” Balas Lian

Pagi pertama Lian di tanah kelahiran. Musim dingin akhir januari tampak membuat Lian enggan untuk membuka mata. Dia merapatkan selimutnya guna menghalau cuaca dingin menyerang tubuhnya yang rentan. Bunyi jam weker yang sejak setengah jam lalu berbunyi nampaknya sama sekali tidak berpengaruh untuknya. Buktinya gadis bermata biru itu masih terlihat nyenyak dengan tidurnya.

Seorang gadis tampak berjalan mengendap-endap memasuki kamar Lian. Gadis bule itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lian yang masih tidur pulas. Kemudian gadis bule itu berjalan menuju jendela kamar Lian dan membuka tirainya sehingga cahaya matahari dapat masuk ke kamar Lian. Lian masih tidak terusik sama sekali. Dia hanya menggeliatkan badannya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Anna, gadis bule yang berstatus sebagai sahabat dan sekretaris Lian, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang enggan untuk bangun. Kalau saja hari ini bukan hari pertama Lian bekerja sebagai CEO Giant Corp, Anna tidak akan repot-repot untuk datang ke rumah ini. Mengingat pagi ini ada meeting dewan direksi beserta para investor serta dengan para CEO perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan yang ditanami saham dari Giant Corp, Lian harus berangkat lebih awal.

Anna atau lebih tepatnya Anna Boulstern adalah sahabat Lian sejak Lian pindah ke Swiss. Mereka tumbuh besar bersama dan hampir setiap hari melakukan apapun bersama. Banyak yang menganggap mereka kembar tapi tak sama. Anna dan Lian sama-sama tahu bahaimana kehidupan mereka. Layaknya sahabat. Mereka suka berbagi cerita. Anna dan Lian hanya terpaut lima bulan. Anna berada di fakultas dan universitas yang sama dengan Lian. Maka dari itu saat Frank memintanya untuk menjadi asisten Lian, dia menerimanya. Lagipula dia masih belum siap menggantikan posisi sang ayah untuk perusahaannya dan masih ingin bermain-main.

Anna sebenarnya hafal dengan kebiasaan Lian yang akan selalu bangun pagi ada atau tidaknya kegiatan di pagi hari. Tapi kali ini nampaknya Lian sedikit malas. Sahabatnya ini sudah terlambat bangun setengah jam. Dengan langkah pelan, Anna berjalan menuju ranjang Lian dan dengan sekali tarikan, dia berhasil meloloskan selimut yang membungkus tubuh Lian. Biar saja Lian marah. Toh sudah menjadi kewajibannya sebagai asisten.

Merasa tidurnya terganggu, Lian langsung membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah jendelanya yang sudah terbuka. Lian memicingkan matanya karena merasa silau dengan cahaya matahari yang masuk ke kamarnya.

Anna melipat tangannya di depan dada. Merasa heran dengan tingkah Lian. “Kau tidak lihat sekarang jam berapa?” Sarkasme Anna tersebut membuat Lian langsung mengalihkan pandangannya.

Mata Lian membola lebar saat melihat Anna berdiri di depannya. Lian yakin dia sudah sepenuhnya bangun dan dia juga tidak sedang berhalusinasi. Di depannya Anna. Sahabatnya menatapnya dengan tatapan jengkel. Anna memang percaya kalau Anna akan menjadi asistennya. Tapi Anna sangat terkejut melihat Anna sudah berdiri di depannya. Dia pikir Anna sedang dalam perjalanan kemari dan akan mulai bekerja besok.

“Pagi ini ada pertemuan penting. Bersiaplah! Aiden dan Marcus sudah menunggu di ruang makan. Kita akan sarapan bersama.” Ucap Anna sambil berjalan meninggalkan Lian yang masih terlihat linglung.

Wait!” Seru Lian.

Anna menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lian dengan senyum pongahnya. “Kau tahu aku tidak suka menunggu, Nyonya.” Ucap Anna dengan senyum miringnya.

“Hey! Jangan memanggilku seperti itu! Wait! Kau sungguh Anna? Tapi… Kau… Frank, kau membuatku gila dengan semua ini!” Teriak Lian frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

Anna yang melihatnya hanya terkekeh geli. Dia sangat senang menggoda dan menjaili Lian. Wajah Lian akan terlihat menggemaskan saat kesal. Terbukti saat ini. Dengan penampilan bangun tidur, Lian persis seperti gelandangan. “Yes! Akupun kaget saat Uncle Jeon menyuruhku untuk menyusulmu ke Seoul dan memintaku untuk menjadi asistenmu. Oh my god! Bisakah aku mengundurkan diri saja?” Cerocos Anna

Beruntung Anna mempunyai ayah dari Korea, sehingga dia fasih berbahasa Korea.

“Kau gila!” Desis Lian lalu bangkit dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.

Memikirkan kegilaan Frank membuat kepala Lian serasa mau pecah. Lian tidak menyangka kalau Frank akan sampai sejauh ini. Hey! Lian tidak sedang menjadi incaran mafia jahat lalu untuk apa semua ini?

“Dimana Jungkook?” Tanya Lian saat dia sudah bergabung di meja makan dengan setelan kerjanya. Versi Lian tentunya.

Lian adalah gadis yang sangat menjaga tubuhnya. Dia selalu menggunakan pakaian tertutup. Karena baginya, tubuhnya hanya milik suaminya kelak. Dia tidak akan memperlihatkan keindahan tubuhnya pada orang-orang di luar sana. Paling tidak dia harus menutupi lengannya dan juga area di atas lutut. Pakaian paling minimnya adalah kaos pendek. Lian tidak punya celana pendek.

Jungkook sebagai kakak patut bersyukur karena Lian tidak terbawa arus budaya barat. Lian sangat pandai menjaga dirinya.

Melihat Lian yang tiba-tiba datang membuat penghuni meja makan langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka serempak menatap Lian yang sedang meminum coklat hangatnya. Aiden dan Marcus sebenarnya asli Korea. Hanya saja mereka kuliah di Swiss jadi memutuskan untuk membuat nama barat. Nama asli mereka sebenarnya Donghae dan Kyuhyun.

“Oh! Ternyata kalian sudah menjadi batu.” Sinis Lian sambil memakan sarapannya sembarang. Kesal karena tidak ada yang menjawabnya.

“Tuan Muda sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nona.” Jawab Kate yang tiba-tiba datang sambil membawa buah apel. Makanan wajib Lian di pagi hari.

What? Dia meninggalkanku?!” Pekik Lian

“Kakakmu lebih sibuk daripada kau, Li.” Marcus angkat bicara. Syukurlah dia masih ingat bagaimana caranya berbicara.

“Kupikir kau lupa caranya bicara.” Ucap Lian sinis.

Lian memang berwajah anggun. Tapi jangan kaget jika bibir cherry Lian dapat mengeluarkan kata-kata tajam. Kalau sudah kesal, Lian bisa berbicara tanpa berpikir. Dia juga tidak akan repot-repot memilih kata yang baik. Itulah Lian.

“Jangan mulai, Li. Ini masih pagi.” Aiden mencoba mencairkan suasana.

“Kalian seharusnya menolak pria tua itu! Bagaimana mungkin kalian menjadi bawahanku? Geez! Aku bisa gila!” Gerutu Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Tidak peduli kalau penampilannya akan berantakan.

Listen, Li! Aku dan Marcus tidak peduli menjadi bawahanmu, asalkan kau aman dibawah pengawasan kami. Please, honey! Jangan membuat ini semua menjadi sulit. Kami bekerja, kau aman. Kau tidak harus menganggap kami bawahanmu. Okay?” Ucap Aiden panjang lebar.

Lian tertegun mendengar ucapan panjang Aiden. Sebegitu berharganyakah dia di mata mereka? Kenapa mendadak Lian ingin menangis melihat pengorbanan mereka?

“Hey! Aku disini bukan hanya menjadi asistenmu. Aku sedang berlibur.” Anna akhirnya bersuara.

“Jangan pedulikan status kami. Kau tetap saudaraku yang manja dan suka merajuk. Habiskan sarapanmu dan kita berangkat!” Ucap Marcus dengan nada memerintah.

Ini dia! Marcus si tukang perintah. Lian akan lebih baik kalau mereka memperlakukannya seperti biasa. Selama tiba di Seoul kemarin, mereka berlagak seperti orang asing.

Mobil yang ditumpangi Lian, Anna, Marcus, dan Aiden berhenti di parkiran khusus direksi. Astaga! Apa lagi ini? Kenapa ada orang-orang berjas yang berjejer di depan pintu masuk? Lian makin malas untuk masuk ke gedung berlantai 37 ini. Dia belum tahu ada apa di dalam sana. Hey! Dia ini anak kemarin sore yang hanya diberi amanah untuk mengurus perusahaan di tanah kelahirannya.

Lian tidak mendengarkan semua perkataan Anna. Dia sibuk menghitung jumlah orang-orang yang berjejer itu. Ada sekitar tujuh belas orang. Apa mereka karyawan disini? Lian menghembuskan nafas kasar. Dia melihat penampilannya terlebih dahulu.

Lian dikagetkan dengan suara pintu terbuka. Dia hampir memarahi orang itu sebelum akhirnya sadar kalau orang yang membukakan pintu untuknya adalah orang asing. Lian mengerutkan keningnya. Meneliti penampilan pria di sampingnya yang berdiri dengan wajah datar. Penampilannya sama dengan Marcus dan Aiden.

“Dia sekretarismu. Namanya Park Jinyoung.” Ucapan Anna membuyarkan lamunan Lian.

Apa?

Lian masih belum percaya kalau pria dengan penampilan angkuh ini adalah sekretarisnya. Kenapa harus laki-laki?

“Kalian masuk saja dulu. Aku dan Donghae Hyung akan menyusul.” Ucap Marcus sambil menoleh ke belakang.

Lian hanya mengangkat tangannya tanda dia malas menanggapi. Kemudian dia keluar dari mobil diikuti Anna yang membawakan tasnya. Lian tidak menyuruhnya. Anna sendiri yang memaksa agar dia terbiasa mendalami perannya sebagai asisten.

Lian menatap sekretarisnya sejenak sebelum melangkah masuk. Bahkan  pria angkuh ini tidak menyapanya. Baru kali ini Lian tidak dihargai seorang pria.

Setelah memastikan kalau Lian masuk, Marcus langsung mengambil earpiece dan beberapa alat komunikasi jarak jauh lainnya.

“Kau yakin, Hyung?” Tanya Marcus

“Aku sangat yakin. Sepertinya mengenalkan Lian di depan orang banyak bukan hal yang tepat. Aku melihat dengan jelas wajah pria-pria itu. Mereka dari Jepang.” Jawab Aiden penuh keyakinan.

“Lion! Bawa Lian masuk melalui lift khusus direksi.” Ucap Marcus melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

“Jangan! Mereka akan curiga.” Ucap Aiden santai.

“Hyung!”

“Eagle, cari tahu pemilik mobil yang terparkir dua mobil di belakangku. Aku ingin secepatnya.” Ucap Aiden

Aiden memang pintar. Tapi sayang dia sangat misterius. Butuh waktu lama untuk tahu apa yang akan Aiden lakukan. Seperti halnya sekarang. Marcus sungguh tidak tahu bagaimana jalan pikiran saudara sepupunya itu. Lian sudah dalam status waspada tapi Aiden terlihat sangat santai.

Tanpa mempedulikan tatapan penuh tanya Marcus, Aiden keluar dari mobil dengan gagahnya. Berusaha bersikap setenang mungkin. “Bersikaplah biasa.” Ucap Aiden saat Marcus sudah di sampingnya. Lalu dia dan Marcus masuk ke gedung berlantai 37 ini dengan sambutan para karyawan dan kepala manajer.

Jungkook mendengarkan dengan seksama penjelasan seseorang melalui sambungan teleponnya. Dia menyandarkan tubuhnya pada meja kerjanya sambil memijat pelipisnya. Tiap kata yang keluar dari mulut Yoongi, sahabatnya yang bertugas memantau Lian, seperti bilah pisau yang menyayat kulitnya. Merenggut nyawanya secara perlahan. Dan kali ini Jungkook merasakan kepalanya mau pecah. Dia baru saja selesai mengoperasi pasiennya dan langsung mendapat kabar buruk ini.

Jungkook memutus sambungan telepon secara sepihak. Dia sudah tidak mau lagi mendengar ucapan Yoongi yang hanya semakin membuatnya pusing dan takut. Jungkook tidak perlu takut Yoongi akan marah karena dia yakin hyungnya itu tahu keadaannya saat ini. Berkali-kali Jungkook menghembuskan nafas kasar. Sesekali tangannya bergerak untuk mengacak-acak rambutnya.

Seharusnya sejak awal Jungkook bisa menduganya. Seharusnya dia tahu kalau Lian tidak aman berada di rumah itu. Bagaimanapun juga rumah yang saat ini dia tempati adalah sasaran utama dari para pemburu nyawa Lian. Yoongi baru saja mengabarinya kalau sebuah mobil berisikan tiga orang sudah mengawasi rumahnya sejak tadi malam. Itu artinya mereka tahu Lian sudah kembali.

“Apa yang terjadi?” Tanya Jimin yang tiba-tiba datang.

Tanpa mengetuk pintu. Lagi.

Jungkook masih sibuk dengan berbagai ketakutannya. Dia menundukkan kepalanya sambil tangannya tidak berhenti memijati pelipisnya.

Seharusnya Lian tidak kembali.

Mereka sudah menemukan Lian.

Lian dalam bahaya.

Apa yang harus aku lakukan?

Pikiran Jungkook kalut. Dia terlalu takut membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada Lian. Melihat Jungkook yang tampak kacau, Jimin berjalan mendekati Jungkook. Lalu menepuk pundaknya berkali-kali. Berharap Jungkook dapat kembali berfikir jernih.

“Jangan lemah di depan peri kecilku, Kookie.” Ucap Jimin sambil meremas pundak Jungkook.

Lian sama sekali tidak merasakan sesuatu yang istimewa di hari pertamanya bekerja. Bahkan dia tidak ikut rapat dewan direksi pagi ini dengan alasan dia sibuk. Seperti itulah yang dikatakan Marcus. Sehingga hanya Aiden dan Jinyoung yang mewakilinya. Lian sudah layaknya boneka. Tidak membantah dan hanya menurut.

Biarkan saja mereka berbuat semau mereka. Pikir Lian dalam hati.

Ngomong-ngomong tentang sekretaris. Lian akui kalau Jinyoung sangat bisa diandalkan dan pekerjaannya tidak akan mengecewakan. Terbukti dengan sigap dan tanggapnya dengan pekerjaan yang Lian berikan. Jinyoung sudah seperti sangat tahu bagaimana dunia bisnis. Mungkin ini menjadi alasan kenapa Frank memilih pria angkuh ini.

Lian sudah cukup dibuat lelah dengan banyaknya berkas-berkas laporan dan email yang harus dia cek. Lian belum terbiasa. Lihat saja di mejanya! Tumpukan dokumen yang harus Lian lihat masih terlihat utuh. Lian sama sekali belum menyentuhnya.

Karena sudah sangat bosan dan lelah, lagipula perutnya lapar, Lian berjalan keluar ruangannya. Mencari ruangan Marcus. Suasana di lantai 37 sangat sepi. Wajar saja. Lantai ini daerah kekuasannya. Hanya orang-orangnya yang berada disini. Bahkan suara heels Lian terdengar sangat jelas.

Lian masih celingukan mencari ruang kerja Marcus. Sampai akhirnya dia bertemu sekretaris angkuhnya. Park Jinyoung menatapnya dengan tatapan tanpa hormat. Lihat saja ekspresi pria kaku ini! Datar.

“Anda mencari apa, Nona?” Tanyanya terkesan enggan.

Heol! Siapa disini yang menjadi atasan? Lian merasa tidak dihormati.

“Ruangan wakil direktur.” Jawabnya singkat karena sudah sangat kesal dengan sikap Jinyoung.

“Di ujung sana, Nona. Perlu saya antar?” Jawab Jinyoung sambil menunjuk sebuah ruangan yang tertutup rapat.

“Tidak perlu. Lebih baik kau makan siang. Aku tidak ingin melihat pegawaiku kelaparan.” Balas Lian sinis. Lalu Lian meninggalkan Jinyoung yang masih menatapnya. Namun baru beberapa langkah, Lian menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Belajarlah tersenyum, Sekretaris Park. Itu akan berguna.” Ucap Lian lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Mendengar ucapan Lian, atasannya, membuat bibir Jinyoung sedikit melengkung ke atas. Jinyoung tidak tahu apa alasannya tersenyum. Yang jelas dia cukup kagum dengan sosok Lian Jeon.

“Kau tidak harus menculikku seperti ini, Li.” Kesal Marcus saat mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Sesampainya Lian di ruangan Marcus, Lian langsung menyeret Marcus untuk menemaninya makan siang lalu menuju rumah sakit. Lian ingin kabur sejenak dari pekerjaan menumpuknya. Dan Marcus orang yang tepat untuk diajak membolos. Meskipun Marcus suka memerintah tetap saja Lian lebih nyaman dengan pria bermarga Cho ini.

Aiden? Dia terlalu misterius. Lagipula Aiden sedang sibuk. Bersama Anna. Mereka mendapat limpahan pekerjaan dari Lian. Beruntung Aiden tidak menolak apalagi marah saat saudaranya Lian culik.

“Aku sangat lelah, Cho. Aku belum terbiasa dengan pekerjaan ini.” Ucap Lian sambil memasang wajah paling memelas.

Kalau sudah begini Marcus bisa apa? Diapun akhirnya memilih untuk menemani Lian kemanapun Lian akan pergi. Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan keheningan. Marcus fokus dengan kemudinya sambil sesekali melirik ke arah spion mobil. Memastikan apakah ada gerak-gerik mencurigakan yang mengikuti mereka. Namun kemungkinan besar tidak ada yang mengikuti mereka karena mereka menggunakan mobil yang berbeda dan sudah menyuruh Yoongi untuk mengunci keamanan CCTV di gedung Giant Corp agar sulit diretas.

Sementara Marcus sibuk dengan kemudinya, Lian hanya melihat pemandangan di sepanjang jalan yang sesekali menarik perhatian. Kebanyakan pemandangan yang dia dapat adalah para pejalan kaki dan orang yang menunggu bus di halte. Seoul sudah berubah. Sekarang banyak sekali gedung-gedung bertingkat di sepanjang jalan dan juga papan iklan besar yang terpasang di atas gedung.

Lian mendengus sebal saat melihat seorang siswa dan siswi SMA tengah berciuman di depan toko dengan disaksikan orang-orang. Lian heran. Bagaimana bisa mereka berciuman di tempat umum? Tidakkah mereka malu. Namun Lian sedikit dapat menebak kalau mereka baru saja resmi berpacaran karena di tangan gadis itu memegang sebuah bunga mawar merah.

Karena merasa muak, Lianpun memalingkan wajahnya. Melihat orang berciuman sebenarnya mengingatkan Lian pada kejadian tiga tahun lalu. Dimana sore itu dia diajak bertemu oleh temannya di taman belakang kampusnya. Lian pikir ada hal penting yang akan dikatakan. Ternyata temannya itu menyatakan perasaannya pada Lian. Jelas Lian tolak dengan halus karena Lian memang tidak menyukai pria itu. Mungkin karena kesal dan merasa dipermalukan, pria itu tiba-tiba menyudutkan Lian pada sebuah pohon. Otak Lian langsung berpikir keras untuk bisa bebas dari temannya.

Saat jarak wajahnya dan wajah pria itu tinggal beberapa senti, Marcus datang dan langsung menghajar teman Lian. Lian bersyukur karena Marcus datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, Lian tidak tahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya. Kejadian itu sedikit membuat Lian trauma dan benci ketika melihat orang berciuman.

“Jangan melihatnya.” Ucap Marcus seolah tahu apa yang mencuri perhatian Lian. Lian menatap Marcus sewot. Cara Marcus memperhatikannya memang sedikit aneh.

Lian mendengus sebal sambil melihat ke arah Lian. Marcus dan Anna yang sangat tahu bagaimana ketakutannya Lian waktu itu karena mereka melihatnya secara langsung. Wajar jika Lian sensitif dengan hal-hal yang berbau intim karena dia sendiri sangat membencinya.

Entah kebetulan atau bukan, Lian melihat sosok bocah kecil berwajah dingin yang kemarin dia temukan menangis sedang duduk di sebuah halte. Sendirian. Hey! Dia anak kecil dan bagaimana bisa dia sendirian di tempat ramai seperti ini sendirian?

“Cho, bisakah kau menghentikan mobilnya di depan halte itu?” Sebenarnya itu perintah dengan cara halus. Marcus mengikuti arah jari telunjuk Lian.

“Kenapa? Apa disana ada salah satu kekasihmu?” Tanya Marcus dengan senyum jailnya.

“Ya!” Seru Lian sambil memukul lengan Marcus.

Lampu sudah berganti menjadi hijau. Sesuai dengan perintah Lian, Marcus menghentikan mobilnya tepat di depan Fellix. Tanpa banyak bicara, Lian langsung turun dan mendekati bocah bermata tajam itu. Dalam hatinya, Lian berpikir kenapa bocah kecil ini disini sendirian dan siapa yang menjemputnya. 

Marcus menatap Lian penasaran. Apa lagi yang akan dilakukan Lian? Namun rasa penasarannya berganti rasa heran saat melihat Lian duduk di samping bocah berumur lima tahunan.

Lian duduk di samping Fellix. Tampaknya Fellix belum menyadari keberadaan Lian. Bocah itu hanya menunduk sambil memegang sebuah ponsel. Fellix seperti tidak mempedulikan keadaan sekitarnya yang cukup ramai, mengingat saat ini masih jam makan siang.

“Hey!” Sapa Lian sambil menepuk pundak Fellix. Fellix yang merasa terusik akhirnya mengangkat kepalanya dan menoleh. Tepat ke arah Lian.

Wajah anak ini sangat datar. Benar-benar tanpa senyum. Melihatnya membuat hati Lian sedikit nyeri. Bagaimana bisa anak sekecil ini kehilangan senyumnya? Sebenarnya apa yang menimpanya? Dan hati Lian tergugah ingin tahu lebih banyak tengang Fellix. Dan rasa ingin selalu berada di samping Fellix itu kian membuncah.

Baru kali ini Lian merasa salah tingkah karena ditatap oleh bocah lima tahun. Lian menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “Apa yang kau lakukan disini sendirian, boy?” Tanya Lian mencoba menutupi rasa gugupnya.

Fellix kembali menundukkan wajahnya. Seolah enggan menanggapi Lian. Lian hanya mengangkat sebelah alisnya karena diabaikan oleh Fellix. “Siapa yang menjemputmu?” Tanya Lian lagi.

“Eomma.” Lirihnya sambil menggenggam ponselnya erat. Lian semakin dibuat bingung dan sedih dalam waktu yang bersamaan.

“Apa Eommamu sudah datang? Kalau belum, aku akan menemanimu.”

“Eomma tidak akan datang.” Sahut Fellix cepat.

Lian mendelik kaget. Apa maksudnya? Sejenak Lian menatap Marcus yang menunggu di mobil. Dia memberi isyarat agar menunggunya sebentar.

“Eomma sudah meninggal.”

.

.

.

.

.

To be continued~

Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 1

Fool For You Part 1

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Park Jinyoung – Bae Irene – Park Chanyeol – Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Action, Angst, Honor, Romance, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.
Lian berjalan terburu-buru di sepanjang koridor rumah sakit yang sedikit lenggang mengingat saat ini sudah hampir malam. Tangannya sedari tadi merogoh isi tasnya guna mencari ponsel. Mulutnya tidak berhenti menggerutu karena begitu banyak isi di dalam tas tangannya. Ingin rasanya Lian menumpahkan semua isi tasnya kalau dia tidak ingat disini rumah sakit. Kemana perginya benda persegi itu?

Untuk sejenak Lian berhenti untuk mengistirahatkan kakinya sekaligus mengatur nafasnya. Demi dewa-dewi! Dia baru saja mendarat dari Swiss dan pria gila itu menyuruhnya untuk segera datang ke rumah sakit. Harusnya pria bergigi kelinci itu yang menjemputnya di bandara, bukan malah dia yang menghampiri pria kesayangannya itu. Lian tidak sempat mengecek penampilannya. Dia sangat lelah dan ingin segera tiba di ruangan Jungkook, pria gila yang menyuruhnya datang kesini.

Lian terlonjak kaget saat tiba-tiba suara deringan ponsel terdengar nyaring di koridor yang sepi ini. Ini suara handphonenya. Dan Lian langsung menepuk keningnya saat merasakan getar di saku coat merah jambunya. Dengan kasar Lian melempar tas tangannya di salah satu kursi ruang tunggu koridor tersebut karena saking kesalnya. Lalu setelah itu tangannya merogoh saku coatnya dan mengambil benda sialan yang sudah membuatnya seperti orang gila. Tanpa melihat ID caller pada layar teleponnya, Lian langsung mengangkat panggilan itu. Tidak perlu merasa bingung dengan siapa si penelepon karena hanya ada kurang dari sepuluh orang yang mempunyai nomor teleponnya.

“Lian Jeon speaking.” Sapaan utama dari Lian saat menerima telepon.

“Kau sudah sampai, baby?”

“Aku akan membunuhmu setelah sampai ruanganmu nanti.” Sungut Lian sambil memijati kakinya yang terasa pegal. Astaga! Dia baru saja berlari dari lobi hingga koridor ini dengan sandal berhak.

Terdengar suara tawa dari ujung telepon membuat darah Lian makin mendidih. “Aku tutup!” Ucapnya ketus lalu memutus sambungan secara sepihak.

Lian kembali mengantongi ponselnya dan meraih tas tangannya. Baiklah. Dia hanya butuh berjalan sedikit lagi untuk sampai di ruangan pria yang menelponnya tadi sekaligus pria yang sangat dia sayangi. Meskipun dia kesal, tetap saja dia menyayangi pria yang mempunyai hobi mengganggunya itu.

Lian baru akan berjalan saat dia mendengar suara tangis di sudut koridor lantai ini. Kepalanyapun langsung bergerak untuk mencari sumber suara. Hingga akhirnya matanya menangkap seorang bocah kecil yang menangis sambil berjongkok. Lian yang pada dasarnya sangat menyukai anak kecilpun langsung melangkahkan kakinya mendekati bocah kecil itu.

Masa bodoh dengan Jungkook yang pasti sudah menunggunya. Lian merasa hatinya tergerak saat melihat bocah kecil itu menangis. Dimana orangtuanya?

“Hey, jagoan!” Lian menyentuh pundak bergetar bocah kecil itu. Dia sudah berjongkok di depan bocah kecil itu.

Anak kecil itu mengangkat kepalanya. Wajahnya penuh air mata. Lian sedikit tertegun saat melihat paras bocah kecil itu. Bagaimana bisa anak sekecil ini memiliki tatapan setajam itu? Wajahnya juga terkesan dingin. Siapa orangtua bocah ini?

Mencoba mengabaikan tatapan tajam bocah kecil itu, Lian memasang senyum mautnya. “Siapa namamu?” Tanyanya berusaha seramah dan setenang mungkin.

Bagaimana bisa seorang bocah kecil bermata tajam bisa membuat seorang Lian Jeon hampir mati kutu?

Come on, Lian! Dia hanya anak kecil! Kau bisa menaklukkan anak kecil ini!

“Kau siapa?” Akhirnya bocah kecil itu membuka mulutnya.

Sumpah demi Dad! Bocah kecil ini sangat dingin. Sedingin es.

Lian menegak liurnya susah payah sebelum tersenyum kembali. “Aku? Mungkin kau bisa memanggilku teman?” Ucapnya berusaha terlihat santai.

“Aku tidak membutuhkan teman. Aku butuh Eomma.” Suaranya terdengar parau dan menyedihkan. Lian sendiri yang mendengarnya langsung merasa nyeri di bagian dadanya.

Aku juga membutuhkan Mom.

Lian mengusap-usap rambut kecoklatan bocah kecil itu. Kemudian dia menghapus air mata bocah kecil itu. “Jadi, siapa namamu?” Tanya Lian lagi.

“Fellix.” Jawabnya lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Oke, Fellix. Dimana orangtuamu? Kenapa kau disini sendirian?” Tanya Lian lagi sambil menuntun Fellix untuk berdiri.

Fellix nampaknya tidak menolak saat Lian menyuruhnya berdiri. Baiklah. Bocah es ini berhasil luluh.

“Appa sedang tidur. Sudah dua hari Appa tidak bangun.” Jawab Fellix

Lagi-lagi Lian dibuat tertegun dengan jawaban Fellix. Jadi orangtua dari bocah malang ini koma? Mendengarnya membuat Lian semakin merasa simpati. Dia kembali jongkok di depan Fellix sambil tangannya menghapus air mata Fellix yang masih mengalir.

“Kau jagoan, bukan? Seorang jagoan tidak boleh menangis. Kau harus kuat agar Appamu segera bangun.” Ucap Lian

Fellix tampak terdiam setelah mendengar kata-kata Lian. Dia bukan tipe anak kecil yang welcome dengan kedatangan orang baru. Dia juga tidak pernah berbicara lebih dari tiga kata pada orang asing. Tapi saat melihat Lian, entah kenapa Fellix ingin berada di samping Lian terus. Intinya, dia nyaman dengan Lian yang pada dasarnya adalah orang asing.

“Fellix?” Suara berat seseorang menginterupsi dua manusia beda umur itu. Fellix tersadar dari lamunannya dan Lian menoleh ke sumber suara.

Seorang pria paruh baya berjalan mendekati mereka. Lianpun langsung berdiri. Menebak kalau pria paruh baya ini kakek Fellix. Dia membungkukkan badannya sambil tersenyum.

“Anyeonghasseyo, Sir.” Ucap Lian berusaha seramah mungkin.

Lelaki paruh baya itu tampak tersenyum hangat melihat gadis di depannya yang sangat sopan dan anggun. Kemudian tatapan pria paruh baya itu beralih pada Fellix, sang cucu, yang sepertinya habis menangis.

“Aku melihat Fellix menangis disana jadi aku menghampirinya. Kudengar Appanya sedang koma. Aku turut prihatin, Sir.” Ucap Lian sambil menunjukkan wajah sedihnya.

Raut terkejut tidak bisa ditutupi oleh kakek Fellix. Apa Fellix baru saja mengenalkan dirinya pada orang asing? Dan apa Fellix juga yang mengatakan kalau Appanya koma? Bagaimana bisa? Yang kakek Fellix tahu, cucunya itu tidak suka berkomunikasi dengan orang asing. Alih-alih berbicara, menatap saja tidak mau. Tapi bagaimana bisa Fellix terlihat akrab dengan gadis yang baru saja ditemuinya ini?

Lian merasa heran sejak kedatangan pria paruh baya. Yang benar saja. Pria paruh baya itu sejak tadi hanya diam sambil menatapnya dan Fellix bergantian. Apa ada yang salah dengan penampilannya?

“Terimakasih, Nona.” Ucap pria paruh baya itu akhirnya.

“Bukan masalah, Sir. Cucu Anda sangat menggemaskan.” Sahut Lian kembali menatap Fellix yang masih terdiam.

Seulas senyum tulus terbit dari bibir pria paruh baya tersebut. Dia menyukai sikap ramah dan anggun gadis di depannya. Tatapannya beralih pada sang cucu yang masih tertunduk.

“Fellix, ucapkan apa pada Nona itu?” Tanya pria paruh baya itu sambil mengelus puncak kepala Fellix.

“Terimakasih.” Ucap Fellix pelan sambil tersenyum tipis.

“Sama-sama, jagoan. Ingat! Jangan cengeng, okay?” Sahut Lian sambil mengacak-acak rambut kecoklatan Fellix yang dibalas anggukan mantap oleh Fellix.

Kakek Fellix sungguh tidak percaya dengan adegan di depannya. Fellix, cucunya yang pendiam dan tertutup, tersenyum pada orang asing. Bahkan beliau sendiri jarang melihat cucunya ini tersenyum. Hingga akhirnya sebuah keinginan untuk mendekatkan gadis asing dan Fellix muncul.

Sudah waktunya.

“Baiklah, Nona. Terimakasih sudah menemukan cucuku. Kami harus kembali.” Ucap Kakek Fellix sambil menggandeng tangan mungil Fellix.

“No problem, Sir.” Sahut Lian

Lalu dua pria berbeda umur itu berjalan meninggalkan Lian. Lian masih tersenyum sambil menatap Fellix. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Fellix berbalik dan berjalan mendekati Lian. Sontak Lianpun langsung jongkok. Kakek Fellix kembali memperhatikan kelakuan cucunya yang mengejutkan. Setidaknya untuk hari ini.

“Nama Nona siapa?” Tanya Fellix pelan. Dia sudah tidak menangis.

Lian tersenyum menanggapi pertanyaan Fellix. “Lian.” Jawab Lian

“Apa kau mau menjadi temanku? Apa kita masih bisa bertemu lagi?” Tanya Fellix lirih sambil menundukkan kepalanya.

Entah sudah berapa kali Kakek Fellix dibuat terkejut dengan kelakuan Fellix. Kali ini finalnya. Apa Fellix  menemukan sosok Ibu dalam diri gadis muda ini? Kakek Fellix tampak berkaca-kaca melihat kemajuan dalam diri Fellix.

“Tentu saja. Aku besok akan datang kesini lagi. Jadi, mulai sekarang kita berteman?” Ucap Lian sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Fellix tersenyum lebar. Dia membalas acungan jari kelingking Lian dengan menautkan jari kelingkingnya. “Teman.” Ucapnya tampak bahagia.

“Kakekmu menunggu. Sampai jumpa besok, jagoan.” Ucap Lian sambil mengacak-acak rambut Fellix.

Fellix kembali berlari menghampiri sang kakek dan langsung menggandengnya. Dia melambaikan tangannya pada Lian masih dengan senyum lebar.

“Terimakasih, Nak.” Ucap Kakek Fellix dengan senyum tulus dan mata berkaca-kaca.

Lian tidak sempat membalas ucapan pria paruh baya itu karena mereka sudah berjalan meninggalkan dia. Namun Lian masih merasakan keanehan. Sejak tadi dia menangkap raut sedih dari mata pria paruh baya itu.

Tidak mau terlalu memikirkannya, Lian kembali pada niat awalnya. Menuju ruangan Jungkook. Dia menghela nafas kasar. Pria kasar itu pasti akan memarahinya.

Masa bodoh!

Lian Jeon. Seorang gadis berumur 22 tahun yang sudah lulus S1 di salah satu universitas di Swiss pada jurusan Managemen. Gadis blasteran Swiss ini kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya setelah empat belas tahun tinggal di Swiss bersama Frank Jeon, ayahnya. Kembalinya ke Seoul adalah untuk membantu sang ayah untuk mengurus perusahaan cabang yang berada disini tentunya.

Hidupnya terbilang datar untuk seorang gadis yang hidup di dalam keluarga terhormat di Swiss. Ayahnya adalah putra dari bangsawan Swiss. Sejak lahir Lian sudah diajarkan berdisiplin, menghormati, melindungi diri, dan menjaga nama baik keluarga. Lian hidup penuh kemewahan dan penjagaan yang ketat. Meski begitu, Lian mengajukan permohonan agar para pria bertubuh seperti hulk suruhan ayahnya berjaga dalam jarak radius dua puluh meter.

Bersyukurlah Frank Jeon, si pria paling protective, menyetujui syarat itu. Hanya Frank dan para pesuruhnya yang tahu kalau semua barang Lian sudah diberi chip yang dapat mendeteksi keberadaan Lian. Licik. Percayalah. Banyak sejata yang siap meledakkan kepala Lian dan Jungkook kalau Frank lengah sekali saja.

Pemandangan pertama kali yang Lian lihat begitu sampai di ruangan kebesaran Jungkook adalah wajah datar pria itu. Oh ayolah! Seharusnya dia yang kesal karena harus datang ke tempat ini. Dia sangat lelah. Dengan pandangan acuh, Lian berjalan menuju sofa ruang kerja Jungkook. Dia melempar tas tangannya asal dan langsung menyandarkan punggungnya. Abaikan tatapan intimidasi Jungkook.

Akhirnya. Lian bernafas lega. Dia bisa beristirahat sejenak di ruangan Jungkook yang super nyaman ini. Lian memejamkan matanya. Berusaha acuh pada Jungkook yang saat ini berjalan mendekatinya.

Jungkook tahu kalau Lian adalah gadis pembangkang yang sialnya sangat keras kepala. Tidak ada yang tahu bagaimana jalan pikiran gadis bermata biru itu. Hari ini contohnya. Mereka tidak bertemu dua tahun. Tidak adakah rasa rindu dari gadis pembangkang itu? Bahkan saat datang bukannya langsung memeluknya dia malah duduk dengan santai. Tanpa sapaan hangat dan penjelasan kenapa dia datang terlambat.

“Apa seperti ini caramu menyapaku setelah dua tahun tidak bertemu?” Tanya Jungkook sarkasme. Tangannya terlipat di depan dada dengan tatapan datar pada Lian.

Lian mendengus sebal. Dia membuka matanya dan menatap Jungkook sebal. “Apa harus dengan wajah seperti itu kau menyambutku? Hey! Aku baru saja mendarat dan seharusnya aku sudah tidur di kamarku. Bukan di ruanganmu!” Sahut Lian kesal.

Jungkook berdecak sinis. Lian memang gadis yang merepotkan dan menyebalkan. Tapi dia sangat menyayangi gadis menyebalkan ini.

Baby?” Suara Jungkook dan wajahnya mulai melembut.

Lian yang mendengarnyapun luluh. Jungkook memang paling bisa meluluhkan hatinya. Dia berdiri dan langsung memeluk pria bergigi kelinci ini dengan erat. Dibalas tak kalah eratnya oleh Jungkook. Mereka saling melampiaskan rindu. Senyum lebar langsung terpatri di wajah keduanya.

Jungkook menghujani Lian dengan kecupan-kecupan ringannya di kepala Lian. Damn! Dia sangat merindukan gadis dalam dekapannya. Sama halnya dengan Jungkook. Pria yang dia sebut gila dan menyebalkan ini, dia sangat merindukan pria ini.

“Gadis pembangkang, I miss you so bad!” Bisik pria bernama Jungkook itu.

“Aku juga, Jung! Sebenarnya aku masih kesal karena kau tidak menjemputku dan malah menyuruhku kesini.” Rajuk Lian sambil melepas pelukannya.

I’m sorry, dear. Ada pasien yang harus kutangani.” Ucap Jungkook dengan wajah menyesalnya.

“Aku cemburu dengan pasien itu.”

“Hey! Kau tahu kalau kau segalanya untukku! Aku selalu memprioritaskanmu, baby.” Ucap Jungkook sambil menjawil hidung Lian.

“Pembual.” Cibir Lian sambil mendudukkan dirinya diikuti Jungkook yang juga duduk di sampingnya.

“Bagaimana perjalananmu?” Tanya Jungkook sambil mengelus-elus rambut gadis yang amat dia sayangi itu.

“Melelahkan. Aku masih jet lag.” Jawab Lian sambil menyenderkan kepalanya pada bahu kokoh Jungkook.

Nyaman. Lian kembali memejamkan matanya. Jungkook hanya terkekeh kecil melihat kelakuan manja Lian. Dia mengelus-elus rambut Lian. Sesekali menciumnya.

“Bagaimana Dad? Apa dia masih bekerja?” Tanya Jungkook memecah keheningan setelah hening beberapa menit.

“Kau tahu dia workaholic. Katanya dia akan berhenti bekerja kalau aku menikah. Yang benar saja.” Jawab Lian dengan wajah kesalnya.

Jangan salah paham dengan hubungan Lian dan Jungkook. Mereka kakak beradik yang memang terlihat seperti sepasang kekasih. Umur mereka hanya terpaut dua tahun. Jungkook tinggal lebih lama di Seoul. Tentu saja setelah lepas dari kesedihannya semenjak kepergian sang ibu sebelas tahun yang lalu. Dia besar di Seoul bersama sang nenek dan diberi amanat untuk menjadi direktur di rumah sakit di bawah perusahaan milik ayahnya. Sayang sekali sang nenek sudah meninggal dua bulan yang lalu. Maka dari itu Lian memajukan tanggal keberangkatan ke Seoul.

“Bagaimana rasanya merangkap pekerjaan? Direktur dan dokter bedah.” Lian mendongakkan kepalanya guna melihat wajah sang kakak yang masih sangat dia rindukan.

“Tidak buruk. Banyak yang membantuku.” Jawab Jungkook

“Jimin Oppa?” Lian memekik kegirangan saat seorang pria berambut coklat berjas putih tiba-tiba masuk ke ruangan Jungkook.

Tanpa mengetuk pintu!

“Ice Princess! Kau sudah sampai? Apa sudah lama?” Sahut pria bernama Jimin itu sambil duduk di salah satu sofa single.

Wajah girang Lian berubah menjadi murung begitu mendengar panggilan Jimin terhadapnya. Sementara itu Jungkook tampak menatap Jimin sinis karena masuk ruangannya tanpa ijin.

“Sudah yang ketiga kalinya, Dokter Park.” Sindir Jungkook

“Kau tahu aku tidak peduli.” Sahut Jimin acuh.

Sementara itu Lian hanya mendengus sebal melihat dua pria di depannya. Waktunya dengan Jungkook sudah habis.

“Aku akan pulang sekarang.” Ucap Lian sambil meraih tas tangannya.

“Kenapa buru-buru sekali, baby? Aku masih sangat merindukanmu.” Tanya Jungkook dengan nada kecewa.

“Ice Princess, kau akan pulang? Kau bahkan belum memelukku.” Ucap Jimin

“Berhenti merayu adikku! Dan jangan memanggilnya Ice Princess. Dia tidak suka.” Sungut Jungkook

Sorry, Oppa. Kau tahu, Jeon Oppa tidak akan mengijinkanku memelukmu. Lagipula aku sangat lelah.” Sahut Lian dengan senyum andalannya.

“Baiklah. Istirahatlah, Li.” Ucap Jimin

Lian hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia beralih menatap Jungkook yang juga sedang menatapnya dengan tatapan menyesal. “Tak apa. Aku bisa pulang dengan Aiden. Jangan pulang larut karena aku akan menunggumu!” Ucap Lian seolah tahu arti tatapan Jungkook.

Tentu saja Jungkook merasa bersalah karena tidak bisa mengantarkan Lian pulang. Pekerjaannya masih banyak. Beruntung Lian sangat pengertian dan tidak manja. Kadang.

Setelah mendaratkan ciuman di pipi sang kakak, Lian keluar dari ruangan Jungkook. Sebenarnya dia juga masih ingin bersama Jungkook. Sayangnya, Jungkook bukan orang yang punya waktu luang banyak. Diapun harus rela menunggu Jungkook nanti malam.

Setelah Lian menghilang dari balik pintu, Jungkook kembali duduk di kursi kebesarannya. Dia tidak tahu kalau pekerjaan sebagai direktur rumah sakit akan sesibuk ini. Matanya kembali menatap Jimin yang sibuk bermain ponselnya. Temannya yang satu itu memang tidak pernah menghormatinya sebagai atasan.

“Ada yang bisa kubantu, Dokter Park?” Tanya Jungkook dengan nada menyindir. Pertanyaannya berhasil membuat Jimin melihatnya. Pria berwajah baby face itu kembali memasukkan ponselnya di saku jas.

“Kau terlalu kaku, Kookie.” Ucap Jimin santai. Tidak merasa bersalah dengan panggilannya untuk Jungkook.

Hey, Park Jimin! Yang kau panggil Kookie itu atasanmu! Pemilik rumah sakit ini!

“Lian sudah sebesar itu. Dia semakin cantik. Apa dia sudah punya pacar?” Tanya Jimin dengan wajah bingarnya.

“Hyung!” Jungkook mulai kesal karena Jimin masih saja bercanda sekaligus menggoda Lian.

Hey! Lian itu mutiara untuknya. Jungkook selalu selective pada pria-pria yang mendekati Lian, terutama Jimin. Dia tahu betul bagaimana Jimin. Mereka berteman sejak Senior High School. Resiko mempunyai adik perempuan yang sialan sangat cantik membuat Jungkook harus waspada. 

“Pasien VVIP belum sadar sampai sekarang.” Ucap Jimin mulai pada topik serius.

Jungkook berhenti memutar-mutarkan kursinya. Tatapannya tertuju pada sebuah rekam medis pasien yang masih terbuka di atas mejanya. “Dia akan bangun besok.” Ucap Jungkook penuh keyakinan.

“Aku heran manusia seperti apa dia sampai bisa mendapat dua peluru di perutnya.” Ucap Jimin

“Aku juga heran.” Balas Jungkook sambil menatap lembaran kertas di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Apa tidak papa Lian kembali ke Seoul? Kupikir dia masih trauma dan berbahaya untuk nyawanya.” Jimin beralih duduk di depan Jungkook. Wajahnya terlihat sangat serius.

“Aku bisa mengatasinya, Hyung.” Sahut Jungkook singkat. Berusaha menutupi wajah gugupnya saat Jimin membahas masalah ini. Padahal sejak tadi dia sudah berusaha agar terhindar dari topik ini.

“Aku percaya padamu. Lebih baik kau cepat selesaikan pekerjaanmu dan lihat keadaan pasien VVIP itu agar bisa pulang lebih awal. Aku tidak mau pe-ri-can-tik-ku menunggumu sampai malam.” Ucap Jimin sambil berdiri dari duduknya.

Jungkook sudah melotot tajam pada Jimin karena kembali menggodanya. Belum sempat Jungkook membalas ucapan Jimin, pria berambut coklat itu sudah keluar dari ruangannya.

Tanpa permisi! Khas seorang Park Jimin.

“Aku melihatnya tersenyum lebar hari ini.” Ucap seorang pria paruh baya sambil menatap seorang pria berumur dua puluh tahunan yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya.

Sementara itu seorang wanita paruh baya langsung berhenti mengelus-elus rambut bocah kecil di pangkuannya. Dia adalah Fellix, yang berada di pangkuan neneknya, Kang Younbi. Dan pria paruh baya itu Kim Taejun, kakek Fellix.

“Dia tersenyum pada seorang gadis asing.” Sambung Taejun dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Younbi menepuk-nepuk punggung Fellix saat bocah kecil itu menggeliat kecil. “Cucuku melakukan itu?” Gumamnya dengan mata berkaca-kaca.

Merasa senang, tidak percaya, sekaligus terharu. Selama dua tahun ini, sosok Fellix sangat berubah karena kepergian sang ibu. Tidak ada senyum dan tata krama. Fellix menjadi sosok pendiam, dingin, dan misterius. Tidak ada yang bisa mengembalikan sosok Fellix yang dulu. Termasuk sang ayah yang sampai sekarang masih terbaring lemah.

“Gadis itu…” Taejun memotong kalimatnya. Menghela nafas panjang. “Aku dapat merasakan kasih sayang yang gadis itu berikan pada Fellix. Dia bisa membuat cucuku tersenyum.” Sambung Taejun dengan suara pelan.

“Seharusnya Taehyung melihatnya.” Ucap Younbi pelan sambil mengelus-elus rambut sang cucu. “Kapan Taehyung akan bangun? Ini sudah dua hari.” Sambung Younbi dengan wajah sedih.

“Kita hanya perlu menunggu.” Sahut Taejun dengan wajah sendunya.

Taehyung atau Kim Taehyung, anak kedua mereka, mengalami kecelakaan mengenaskan dua hari yang lalu. Dia tertembak dua peluru yang mengakibatkan dia koma selama dua hari ini. Peluru itu dia dapat dari musuh salah satu saingan bisnisnya saat dia menghadiri pesta peresmian hotel baru di daerah Insandong. 

Taehyung sudah menikah. Lima tahun yang lalu dan menghasilkan bocah kecil tampan nan menggemaskan yang kemudian diberi nama Fellix Kim. Istrinya meninggal karena sebuah tusukan di bagian jantungnya oleh seseorang yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Sampai saat ini Taehyung memilih untuk membesarkan putranya sendiri, sedikit bantuan dari orangtuanya, kakaknya, dan juga mertuanya.

Sesampainya di rumah, Lian disambut oleh tiga pelayan perempuan dan laki-laki, kemudian dua satpam, dan beberapa penjaga di rumah ini. Mereka sangat ramah dan Lian tidak merasa risih sekalipun. Namun ada yang berbeda di rumah ini. Tidak ada empat anggota keluarga yang akan berkumpul saat malam minggu tiba. Tidak ada Frank yang akan memarahi putra-putrinya saat mereka terlambat bangun dan tidak ada lagi Lena yang mengajarinya membuat kue kesukaan Jungkook dan Frank.

Lian tidak sadar sejak kapan pipinya sudah basah oleh air mata. Dia hanya merasakan sesak di dadanya saat mengingat kenangan indah keluarga lengkapnya sebelas tahun yang lalu. Sebelum akhirnya sebuah kejadian mengerikan itu menghancurkan hidup Lian.

Lena, Momnya, terbunuh tepat di depan matanya dengan cara yang mengenaskan. Sungguh biadap para manusia itu yang dengan kejinya menyabet Lena dengan sabetan samurai. Saat hujan, petir, dan gelap. Bayangkan saja! Seorang anak kecil berumur sebelas tahun harus menyaksikan nyawa ibunya direnggut. Hancur sudah hidup Lian! Momnya meninggal tepat sehari sebelum dia berulangtahun.

Andai saja Lena tidak menyembunyikan dia di bawah tempat tidur, sudah jelas Lian tidak akan bisa menghirup udara musim dingin detik ini juga. Lena sudah mengorbankan hidupnya untuk Lian. Lian sempat menyalahkan tindakan nekat Lena yang menantang orang-orang berpakaian ninja dulu dan tidak memilih untuk lari. Seumur hidupnya, Lian tidak akan melupakan kejadian itu.

Lian tersentak kaget saat merasakan sebuah usapan lembut di pundaknya. Sudah berapa lama dia berdiam diri di ambang pintu sambil ditatap para pelayan dan penjaga rumah? Dan… Sejak kapan Jin ada disini? Di sampingnya. Merangkul pundaknya sambil tersenyum hangat. Lian menatap Jin dengan tatapan sendu. Seolah menyampaikan kepedihan hatinya. Jin mengangguk sambil meremas bahunya. Mengerti apa yang dirasakannya saat ini.

Detik selanjutnya, Jin menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tengah. Sebelumnya dia sudah menyuruh Kate, kepala pelayan rumah ini yang sudah mengabdi selama hampir 30 tahun, untuk membuatkan teh hangat. Tinggalah mereka berdua di ruang tengah. Lian masih larut dalam kesedihannya. Didampingi Jin, sepupunya. Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya sesekali terdengar suara helaan nafas berat Lian.

“Terimakasih, Oppa.” Lirih Lian masih dengan kepala tertunduk. Jin hanya diam. Namun Lian masih bisa melihat dari ekor matanya kalau Jin mengangguk.

Kate datang dengan membawa teh hangat pesanan Jin. Kemudian pergi lagi. Jin menyodorkan cangkir teh itu kepada Lian. Menyuruh Lian meminumnya agar lebih tenang. Dan Lianpun menurutinya. Jin kembali meletakkan cangkir itu setelah Lian meminumnya. Sedikit. Keduanya masih saling diam. Sebenarnya Jin sudah sangat ingin bertanya kabar Lian karena dia sangat merindukan gadis bermata biru ini. Tapi melihat kondisi Lian yang seperti itu membuat Jin harus sedikit bersabar.

Jin rela meninggalkan semua pekerjaannya di kantor saat tahu kalau adik sepupunya ini sudah sampai di Seoul. Terakhir dia bertemu Lian adalah saat natal enam tahun yang lalu. Wajar, bukan, kalau dia merindukan Lian? Tapi apa yang dia lihat saat hendak menaiki tangga menuju pintu utama rumah Lian? Ekspresi para pelayan, satpam, dan penjaga rumah yang kawatir dan sedih dengan pandangan pada Lian yang tertunduk lemah dan bahu yang bergetar.

Jin tentu tahu apa yang Lian rasakan. Biadap sekali orang-orang yang membunuh Lena tepat di depan Lian. Karena mereka Lian harus menjalani masa kecil yang suram dan mengalami trauma yang sampai saat ini masih sering kumat. Bahkan saat Lian memutuskan untuk kembali ke Seoul, Frank dan Jungkook sudah melarang Lian dengan keras. Tapi memang, Si Lian yang Pembangkang! Bukan Lian namanya kalau tidak mendapat yang dia inginkan. Setelah meyakinkan sang ayah dan kakak kalau dia akan baik-baik saja, akhirnya Frank mengijinkan Lian. Dengan berat hati.

Jin percaya pada Lian kalau dia akan baik-baik saja. Tapi setelah melihat keadaan Lian yang seperti ini, Jin menjadi ragu. Apakah Lian akan seperti ini terus? Melihatnya saja Jin sudah tidak tega.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jin setelah hening beberapa menit.

I’m okay, Oppa.” Jawab Lian dengan senyum yang dipaksakan. Senyum itu nampaknya menular pada Jin, karena saat ini Jin juga tersenyum. Nanar.

“Kau kelelahan. Lebih baik kau mandi dan istirahat selagi menunggu makan malam. Aku akan menemanimu.” Ucap Jin

Lian menggeleng. “Oppa, aku merindukanmu.” Bisik Lian sambil memeluk Jin erat.

“Aku lebih merindukanmu, gadis nakal.” Sahut Jin sambil membalas pelukan Lian dengan erat.

Jin tahu. Jin dapat merasakan ketakutan Lian melalui pelukan ini.

“Bagaimana perjalanannya?” Tanya Jin

“Melelahkan.” Jawab Lian singkat.

“Sudah kubilang, kau harus istirahat. Jungkook akan pulang sebentar lagi.” Jin kembali memaksa Lian.

Usahamu akan sia-sia, Jin! Jangan lupa kalau Lian adalah gadis keras kepala! Dan Jinpun hanya pasrah saat Lian tetap bersikeras ingin menunggu Jungkook pulang. Tentu saja setelah Lian membersihkan diri terlebih dahulu. Jin membiarkan Lian menuju kamarnya. Sendirian. Jin berusaha yakin kalau Lian pasti bisa menghadapi traumanya sendiri. Lian harus belajar.

Jin terus memperhatikan Lian yang tengah menaiki tangga menuju kamarnya. Dibalik langkah tegas Lian, Jin yakin kalau sebenarnya hati Lian tengah bergejolak. Antara melawan dan menyerah. Jin terlalu mengenal Lian. Akhirnya Lian hilang dari pandangannya. Jin terus mensugesti kalau dia tidak boleh menyusul Lian. Lian akan turun dengan wajah ceria. Jin hanya perlu menunggu adik sepupunya itu selesai mandi dan mereka akan menunggu Jungkook bersama.

Sembari menunggu Lian selesai mandi, Jin kembali mengurus pekerjaannya yang tadi sempat dia tinggal. Dia mengecek beberapa email masuk yang kebanyakan tentang perjanjian bisnis dan laporan-laporan seputar perusahaannya. Jin adalah seorang Presiden Direktur Empire Inc., perusahaan teknologi dan software terbesar di Korea Selatan. Perusahaan itu dibangun sendiri oleh Jin yang dibantu ayahnya, Jungkook, dan Yugyeom. Kebetulan dua sahabatnya itu pecinta game sehingga mendukung penuh keinginan Jin yang hendak mendirikan perusahaan teknologi dan software yang kebanyakan game.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Jin tahu kalau seorang perempuan akan lama saat mandi. Tapi apa harus selama ini? Apa saja yang Lian lakukan? Jin mulai gusar. Dia sudah berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat ke arah tangga. Setiap detik yang berjalan membuat Jin semakin merasa cemas.

Ini buruk. Akhirnya Jin memutuskan untuk menyusul Lian. Setidaknya dia harus memastikan kalau adik sepupunya itu baik-baik saja. Namun baru mencapai tangga ketiga, Lian sudah muncul dengan wajah yang lebih segar. Jin bernafas lega. Lian baik-baik saja.

Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi di kamar Lian. Dan hanya Tuhan yang tahu kalau Lian sedang berakting terlihat baik-baik saja.

You’re such a great actress, Lian!

“Apa aku lama?” Lian memecah keheningan saat sudah berada di depan Jin. Jin tersenyum sambil menggeleng.

“Kookie Oppa belum pulang?” Tanya Lian lagi. Dia berjalan menuju sofa ruang tengah diikuti Jin di sampingnya.

“Sebentar lagi akan pulang.” Jawab Jin

“Tuan, Nona, makan malam sudah siap.” Ucap Kate ramah dengan kepala tertunduk.

“Baiklah. Sebaiknya kita makan malam dulu. Aku yakin kau belum makan sejak siang tadi.” Ucap Jin

Lian menggeleng. “Aku akan menunggu Kookie Oppa.” Sahut Lian sambil berdiri dari duduknya. “Aku akan menunggu di kamar, Oppa. Apa tidak papa kutinggal?” Tanya Lian ragu.

“Tak apa. Kau butuh istirahat. Aku akan disini. Lagipula Yugyeom dan Bambam akan kesini.” Jawab Jin sambil tetap mempertahankan senyum hangatnya.

Setelah berpamitan Lianpun menuju kamarnya. Membiarkan Jin menemaninya di ruang tengah. Jujur saja, Lian sangat lelah. Dia ingin segera tidur tapi Jungkook belum pulang. Dia hanya akan tidur kalau Jungkook sudah pulang.

Sudah jam delapan. Jungkook mulai kesal dan resah. Pekerjaannya belum selesai. Masih ada pasien yang harus dia tangani. Tapi dia ingin segera pulang karena dia yakin Lian masih menunggunya. Setelah melihat keadaan pasien VVIP ini, Jungkook bisa pulang. Sialan sekali Jimin yang melemparkan tugasnya pada Jungkook.

Jungkook memasuki ruangan VVIP ditemani dua suster dan satu lagi rekan dokternya. Seperti biasa. Ruangan itu dihuni sepasang suami istri yang dikenal sebagai orangtua pasien itu dan juga seorang bocah kecil, anak dari pasien itu. Melihat Jungkook masuk, pria paruh baya yang diketahui bernama Taejun langsung berdiri. Pria paruh baya itu menunduk sopan pada Jungkook sebelum akhirnya memberi ruang untuk mereka agar leluasa dalam mengecek kondisi putranya.

Masih tetap sama. Tidak ada kemajuan. Setiap kali memeriksa pasiennya yang satu ini, Jungkook selalu kasihan dengan bocah kecil yang saat ini tidur di salah satu sofa ruangan VVIP ini. Jungkook menghela nafas panjang setelah membaca catatan medis pasiennya yang bernama Kim Taehyung ini. Peluru itu tidak menembus perutnya terlalu dalam, tapi kenapa sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemajuan?

Jungkook memberikan catatan medis itu kepada suster. Kemudian dia mendekati Taejun yang tampak menunggunya dengan wajah yang selalu cemas.

“Bagaimana, Dokter Jeon? Apa putraku ada kemajuan?” Tanya Taejun

Jungkook mencoba tersenyum agar keluarga tetap berpikir positive. “Dia akan segera sadar, Tuan Kim. Jangan berhenti berdoa.” Jawab Jungkook

Taejun menghela nafas panjang. Pandangannya beralih pada sang putra yang masih setia memejamkan matanya. “Terimakasih, Dokter.” Ucap Taejun berusaha memaksakan senyum.

“Sudah menjadi kewajiban kami, Tuan. Kalau begitu kami permisi, Tuan, Nyonya. Jika ada sesuatu bisa memencet tombol itu.” Ucap Jungkook sambil menunjuk sebuah tombol di atas brankar Taehyung.

“Ya, Dokter. Terimakasih.” Sahut Taejun

Setelah berpamitan, rombongan Jungkookpun keluar dari ruangan VVIP ini. Dia bernafas lega. Pekerjaannya selesai dan dia bisa pulang bertemu Lian. Jungkook berpamitan pada rekan dokter dan dua suster itu. Dia langsung menuju parkiran khusus jajaran direksi rumah sakit ini.

Sudah hampir pukul sembilan. Jungkook belum pulang. Jin, Yugyeom, dan Bambam masih di ruang tengah rumah Jungkook. Mereka juga sudah makan malam terlebih dahulu. Tanpa Lian. Lian masih menolak untuk makan kalau tidak ada Jungkook. Sampai sekarangpun, gadis blasteran Swiss itu masih mengurung diri di kamar. Terakhir Jin lihat, Lian sedang duduk di balkon sambil mendengarkan musik. Sekarang? Entahlah. Jin sibuk menyelesaikan project game baru perusahaannya yang akan dirilis dua bulan lagi.

Saat mereka sedang melakukan meeting kecil, terdengarlah suara mobil yang diyakini adalah milik Jungkook. Dalam hati Jin bernafas lega namun juga kesal. Sudah berkali-kali Jin menyuruh Jungkook untuk fokus pada posisi direktur. Tapi Jungkook kekeuh untuk memakai jas dokternya. Mengobati orang sakit adalah bidangnya.

Jungkook masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Dia melihat mobil Jin dan Bambam terparkir di depan rumah. Jungkookpun sedikit lega karena Lian tidak sendirian di rumah. Jungkook disambut Kate di depan rumah. Kebiasaan Kate sejak Jungkook mulai bekerja.

“Tuan, Nona tidak mau makan sampai sekarang. Dia sejak tadi berada di kamarnya. Tuan Muda Jin juga sudah memaksa agar Nona makan, tapi Nona tetap tidak mau makan.” Ucap Kate sepanjang perjalanan menuju ruang tengah.

Ucapan Kate tersebut berhasil membuat Jungkook marah. Adiknya itu punya penyakit asam lambung akut. Di ruang tengah, dia hanya mendapati Jin, Yugyeom, dan Bambam yang nampak sibuk dengan laptop di depan mereka. Dalam hatinya berterimakasih pada Jin yang rela melaksanakan meeting di rumahnya. Setidaknya Lian mendapat pengawasan dari Jin.

“Kau pulang?” Sapa Jin saat menyadari Jungkook sudah di ruang tengah.

“Ya. Ada pasien yang harus kutangani.” Jawab Jungkook sambil melepas jas dokternya dan memberikan pada Kate. “Kalian sudah makan malam?” Tanyanya kemudian.

“Sudah. Tapi adikmu sangat keras kepala. Dia mengurung dirinya di kamar. Padahal aku ingin melihatnya.” Jawab Bambam

“Aku sudah melarangnya berdekatan dengan pria sepertimu.” Ucap Jungkook dengan senyum miringnya. Bambam sontak memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Jungkook. “Lanjutkan saja pekerjaan kalian. Anggap rumah sendiri.” Sambungnya lalu menuju kamar Lian. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan Lian sampai tidak mau turun untuk menyapa kedua sahabatnya.

Jungkook tadi memang sempat kawatir kalau trauma Lian akan kembali. Tapi bagaimanapun juga, Jungkook harus percaya pada Lian. Dia juga tidak mau membatasi ruang gerak Lian. Biarkan saja Lian berbuat sesuai keinginannya selama itu tidak merugikan untuk Lian sendiri dan orang-orang sekitarnya.

Jungkook langsung membuka pintu Lian tanpa mengetuk pintu. Hanya dia dan Frank yang berani masuk kamar Lian tanpa mengetuk pintu. Bukan sudah dikatakan sejak awal kalau Lian selalu berhati-hati dan menjaga privasinya. Kamar termasuk di dalamnya. Jungkook tidak mendapati Lian di ranjang maupun sofa. Namun pandangannya jatuh pada sebuah kotak yang terbuka dan terletak di lantai, tepatnya di sisi meja yang ada di sudut kamar Lian.

Jungkook melangkah masuk ke kamar dan menutup pintu. Dia mendekat ke arah kotak itu. Penasaran dengan isi kotak yang lumayan besar itu. Keningnya berkerut saat melihat isi kotak itu. Ada sebuah dress kecil berwarna pink magenta, topi, bando, buku bersampul balon dan bunga sakura, dan yang terakhir yang membuat Jungkook kaget adalah foto keluarga mereka saat Lian masih berumur tujuh tahun dan Jungkook sembilan tahun. Foto itu diambil di taman bermain.

Kemudian Jungkook teringat pada Lian. Dimana Lian? Apa selama mengurung di kamar, Lian membongkar kardus ini? Akhirnya Jungkook dapat bernafas lega saat melihat Lian berdiri di balkon kamarnya dengan headset yang terpasang di telinganya.

Jungkook berjalan perlahan mendekati Lian. Adiknya yang malang. Tinggal tiga langkah Jungkook berhasil mencapai Lian, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara isakan. Lian menangis. Adiknya menangis. Jungkook mengurungkan niatnya untuk mendekati Lian. Memilih untuk melihat dan mendengar Lian yang tengah menangis dari belakang. Mendengar setiap isakan yang keluar dari bibir mungil Lian, hati Jungkook serasa ditusuk ribuan jarum. Sakit. Lian bukan seorang gadis cengeng. Terakhir menangis adalah saat neneknya menangis.

Jungkook bukan tidak tahu apa yang membuat Lian menangis. Diapun dapat merasakan bagaimana hancurnya Lian. Jungkook ikut menangis. Menangis dalam diam. Baginya melihat Lian bersedih adalah kesakitannya.

‘Mom, kau lihat betapa Lian sangat merindukanmu? Lian menjadi gadis kuat yang mengagumkan. Aku janji akan selalu menjaga Lian dan tidak akan membiarkan Lian menangis. Aku janji, Mom.’

.

.

.

.

.


To be continued~