Posted in Chapter, Hurt, I Hate You, I Love You, Married Life

I Hate You, I Love You #3

‚Äč

I Hate You, I Love You #3

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Jung Eunji, Kim Taehyung

Category : Married Life, Hurt

Rate : PG-17

**

“Eomma…”

Lian langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membanjiri keningnya dan nafas yang memburu. Mimpi itu terasa sangat nyata. Lian dapat merasakan sentuhan Anna di pipinya. Bahkan sentuhan itu masih terasa hingga sekarang. Senyuman hangat dan suara lembut Anna masih bisa Lian rasakan. Semuanya terlalu nyata untuk dikatakan mimpi.

Chanyeol yang sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjang dengan laptop di depannya langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh pada sang istri yang tiba-tiba terbangung. Diapun segera mendekati Lian. Meninggalkan pekerjaannya sejenak. Dia duduk di samping istrinya. Menatapnya cemas.

“Sayang? Kenapa? Kau mimpi buruk?” Tanyanya lembut sambil mengelus-elus pipi Lian. Dia mengerutkan keningnya saat tidak mendapat respon dari Lian.

Chanyeolpun memaksa Lian untuk duduk. Istrinya seperti kehilangan arah. Tatapan matanya kosong. Dia mendekap tubuh ringkih Lian dengan erat sambil mengelus-elus rambutnya. Mulutnya juga tidak berhenti menggumamkan kata baik-baik saja. Bukan sekali atau dua kali Chanyeol selalu melihat Lian terbangun tiba-tiba dengan keringat yang membanjiri keningnya. Dan dia tidak pernah tahu apa yang ada dalam mimpi istrinya itu.

Berada di pelukan Chanyeol setidaknya membuat gadis bermarga Kim itu sedikit tenang. Dia masih mencoba mengumpulkan kewarasannya. Pikirannya kosong. Dia kehilangan arah. Mimpi itu membuatnya bingung. Dan merasa dipermainkan. Tidak mungkin dia bisa merasakan sentuhan Anna.

Chanyeol masih berusaha menenangkan Lian. Dia menunggu istrinya itu tersadar. Tarikan nafas berat terdengar di mulutnya. Dia merasa tidak berguna sebagai seorang suami. Hingga dia merasakan kaos yang dia kenakan basah. Itu air mata Lian.

Ini buruk! Chanyeol tidak bisa melihat istrinya menangis. Dengan gerak cepat dia melepas pelukannya dan menangkup wajah Lian. Dapat dia lihat kalau istrinya itu masih kebingungan. Lian tidak pernah mau menatapnya. Dia menundukkan kepalanya dalam.

“Sayang? Hey, lihat aku! Kau baik-baik saja? Katakan apa yang terjadi. Jangan seperti ini, kau membuatku kawatir.” Chanyeol mengeluarkan kekawatirannya. Ibu jarinya menghapus air mata Lian yang mengalir di kedua pipi wanita itu.

Rasa sesak itu kembali menghampirinya. Dadanya seperti terhimpit beban yang sangat berat. Membuatnya sulit bernafas. Semua ucapan Anna masih terekam jelas di kepalanya. Membuat Lian semakin merasa tidak berdaya. Dia memukuli dadanya yang semakin terasa sakit. Mengabaikan Chanyeol yang sangat mencemaskannya.

Pergilah, luka! Biarkan aku bernafas sejenak.

“Park Lian, kumohon hentikan. Jangan melukai dirimu. Astaga!” Pinta Chanyeol sambil menahan tangan Lian yang memukuli dadanya sendiri.

Usahanya membuahkan hasil. Tangan Lian terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya. Selama mereka menikah, Chanyeol tidak pernah melihat Lian menangis. Ini pertama kalinya dan rasanya sangat menyayat hati. Lebih baik dia mendengar segala ucapan pedas Lian, daripada harus melihatnya menangis.

Chanyeol kembali memeluk Lian. Dia membenamkan wajahnya pada rambut Lian. Chanyeol tahu kalau istrinya ini sangat rapuh. Hanya saja Chanyeol dapat melihat dinding kokoh yang membuat Lian selalu terlihat kejam. Chanyeol lebih menyukai wajah dingin Lian, daripada harus melihat wajah cantik yang selalu dia banggakan dipenuhi air mata kesakitan.

Dengan segala kemunafikan dalam dirinya, Lian melingkarkan kedua lengannya pada perut Chanyeol. Dia benci perasaan seperti ini. Disaat dia merasakan nyaman dan tenang dalam pelukan Chanyeol, rasa benci itu selalu menjadi lebih besar. Dapat dia rasakan tubuh menegang dari suaminya tersebut. Namun tidak berlangsung lama, dia merasakan pelukan ini makin erat.

Sangat nyaman. Sampai rasanya Lian kehilangan nafasnya karena menahan segala rasa benci yang menyerangnya.

Bersyukurlah Chanyeol karena akhirnya dia dapat merasakan lagi rengkuhan lemah dari wanitanya. Kalau dengan terpuruknya Lian bisa membuat wanitanya itu datang padanya, tegakah dia membuat Lian terpuruk terus? Oh, bahkan pemikiran brengsek itu tetap tidak hilang dari kepalanya. Sekali brengsek tetap saja brengsek.

Masih dengan tanda tanya besar di kepalanya, Chanyeol memilih diam. Membiarkan istrinya tenang hingga akhirnya kembali tertidur karena lelah menangis. Dia bersenandung kecil agar membuat tidur Lian makin nyenyak. Dengan gerak pelan, dia membaringkan Lian. Sangat pelan-pelan. Tidak ingin mengusik tidur Lian. Setelahnya dia menyelimuti Lian. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Lian. Bekas air mata itu masih ada.

Chanyeol ikut membaringkan tubuhnya di samping Lian dengan posisi menyamping. Dia tersenyum miris melihat penampilan Lian yang kacau. Banyak sekali kesakitan yang Lian rasakan seorang diri. Seharusnya dia bisa menjadi obatnya. Bukan menjadi virus yang bisa memperparah rasa sakit itu.

“Maafkan aku karena terus melukaimu. Aku benar-benar tidak berguna sebagai suami.” Bisiknya sambil mengelus-elus pipi Lian.

Chanyeol memang sangat mencintai Lian. Dengan segenap jiwa dan raganya. Tapi ketahuilah kalau dia adalah seorang maniak. Dia tidak bisa hidup tanpa membobol lubang dari para wanita jalang di luar sana. Kebiasaan itu tidak dapat dia hilangkan. Dia tidak melakukannya pada Lian. Lian terlalu berharga untuk menjadi pemuas nafsu bejatnya. Dia menikahi wanita itu karena cinta, bukan untuk melayaninya.

Sebuah kecupan hangat dia berikan pada Lian di keningnya. Kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sambil terus mengawasi Lian yang sedang tidur nyenyak. Hanya tuhan yang tahu kalau Lian mendengar apa yang dikatakan Chanyeol dan merasakan kecupan manis di keningnya.

Dan ketahuilah… Ini adalah awal. Awal menuju kebahagiaan Lian yang sebenarnya. Belajar memaafkan.

**

“Oppa, apa kau mencintaiku?” Pertanyaan itu keluar dari bibir seorang gadis yang tengah duduk di kursi taman dengan es krim di tangannya.

Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat seorang pria jangkung di sampingnya menatapnya. Saat itu juga pria jangkung itu tidak dapat menutupi senyumnya saat melihat bibir gadisnya belepotan es krim.

“Kau tahu jawabannya tanpa harus bertanya, sayang. Dan… Bisakah kau memakannya pelan-pelan? Aku sangat ingin membersihkan bibirmu itu dengan bibirku.” Jawab pria itu sambil mengerling nakal.

Buk.

Pukulan keras tidak segan-segan diberikan dari gadis yang digoda. Pipinya sudah memerah karena malu. Kekasihnya ini memang sangat blak-blakan. Melihat ekspresi malu-malu dari gadis itu, membuat pria jangkung tidak dapat menahan tawanya. Hobinya memang suka menggoda kekasihnya ini.

“Manisnya, cantikku.” Ucapnya gemas sambil mengacak-acak rambut gadis di depannya.

Suasana menjadi hening. Lian, gadis penggila es krim itu, asik dengan es krim di tangannya. Mengabaikan pria jangkung di sampingnya yang terus menatapnya dengan senyum lebar. Chanyeol terlalu menikmati pemandangan indah di depannya. Kapan lagi dia akan melihat gadisnya sebahagia ini?

Es krim di tangan Lian sudah habis. Dia membuang bungkus es krim di tempat sampah. Dan Chanyeol, dia langsung sigap membersihkan tangan Lian yang lengket. Betapa dia sangat mencintai gadis ini. Senyum tidak pernah hilang dari bibirnya saat berdekatan dengan Lian.

“Apa tidak ada wanita lain yang oppa cintai?” Lian kembali bertanya dengan polos. Tidak mempedulikan dengan ekspresi tegang Chanyeol.

Chanyeol berdehem sejenak untuk mengurangi rasa gugupnya. Dia membuang tisu yang dia gunakan untuk membersihkan tangan Lian.

“Kau satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Ketahuilah kalau jantungku berdetak sangat cepat karenamu.” Jawab Chanyeol sambil mengapit dagu Lian dengan jempol dan telunjuknya. Dia menatap manik biru di depannya dengan intens.

Lian terpaku dengan tatapan mata Chanyeol sekaligus ungkapan manis pria itu. “Jangan menyia-nyiakan kepercayaanku, oppa. Aku akan sangat terluka dan membencimu.” Bisiknya sambil menggenggam tangan Chanyeol. Menunjukkan keresahannya.

Chanyeol hanya bisa menyembunyikan senyum mirisnya. Diapun menarik Lian ke dalam pelukannya. Berharap semuanya akan baik-baik saja.

Hubungan mereka bertahan lama. Setelah tiga tahun lamanya, hubungan itu berlanjut pada jenjang yang lebih serius. Kalau kalian menganggap Chanyeol melamar Lian, jawabannya salah. Singkatnya, keluarga dari kedua belah pihak mengadakan makan malam dan malam itu juga terjadilah perjodohan antara dia dan Chanyeol. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Lian tidak dapat menahan senyum bahagianya. Dia sangat antusias menyiapkan pernikahannya. Dari mulai memilih gaun pengantin hingga cincin nikah.

Pernikahan itu akan dilaksanakan seminggu lagi. Semua persiapan sudah matang. Hanya tinggal menyiapkan mental bagi kedua pengantin. Dan hari itu, Lian memutuskan untuk mengajak Taehyung, sahabat dekatnya, ke pantai. Dia ingin membagi kebahagiaannya dengan Taehyung. Jadilah mereka yang saat ini berjalan menyusuri pantai di sore hari. Menantikan matahari terbenam.

“Aku sangat bahagia.” Lian membuka percakapan setelah lama terdiam. Dia menghentikan langkahnya dan menatap Taehyung. Senyumnya benar-benar tidak bisa hilang.

Taehyung hanya bisa tersenyum paksa melihat wajah bahagia Lian. “Aku juga senang melihatmu bahagia.” Sahutnya.

“Boleh aku bertanya?” Taehyung menatap gadis di depannya intens.

Lian mendongakkan kepalanya menatap Taehyung. “Apa?”

“Bagaimana kalau dia menyakitimu?”

Mendengar pertanyaan Taehyung membuat Lian langsung bungkam. Dia menatap Taehyung dengan tatapan tidak percaya. Chanyeol tidak mungkin melukainya. Itulah janji Chanyeol.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Dia tidak akan menyakitiku, Tae.” Jawab Lian dingin. Dia merasa tersinggung dengan pertanyaan Taehyung.

“Kuharap begitu. Karena aku benar-benar akan membunuhnya kalau dia menyakitimu.” Sahut Taehyung

Lian menatap sahabatnya dengan tatapan sulit diartikan. Dia tahu perasaan Taehyung. Dan dia merasa seperti wanita bodoh karena tidak bisa membalas perasaan pria itu. Hati Lian sudah diisi oleh sosok Chanyeol.

“Maafkan aku.”

“Hentikan. Kau tidak bersalah kenapa meminta maaf? Berjanjilah untuk bahagia dengannya.” Ucap Taehyung cuek.

Lian tersenyum miris. “Kuharap kau menemukan wanita lain yang lebih baik dariku.” Lirihnya dengan kepala tertunduk.

Sore itu berakhir dengan keduanya yang menikmati matahari terbenam. Tidak ada percakapan setelah itu. Lian masih merasa bersalah dengan Taehyung. Dia melukai perasaan Taehyung. Sementara Taehyung hanya mencoba menerima kenyataan pahit yang menimpanya. 

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Mereka berjalan beriringan tanpa kata. Hanya suara debur ombak dan angin yang menemani perjalanan mereka menuju parkir mobil.

“Aku tidak bisa, Eunji-ya.”

Suara itu berhasil menghentikan langkah Lian. Dia kenal dengan suara ini. Dan kepala Lian secara spontan menoleh mencari sumber suara. Tidak mungkin dia berhalusinasi. Dia sangat yakin kalau suara yang dia dengar adalah suara Chanyeol.

“Wae?” Tanya Taehyung heran saat melihat Lian menghentikan langkahnya.

Lian tidak menjawab. Dia masih mencari dimana sumber suara itu berasal. Kakinya bergerak sendiri menuju sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Taehyung mengikutinya dengan perasaan heran.

“Pernikahannya sebentar lagi. Aku tidak bisa membatalkannya.”

Suara itu makin jelas. Lian dapat melihat punggung Chanyeol dan di depannya terdapat seorang wanita yang tidak dia kenal. Sementara itu Taehyung terlihat sangat terkejut melihat Chanyeol bersama wanita lain. Berbeda dengan Lian. Dia sedang berperang dengan ketakutannya. Mencoba yakin kalau wanita itu hanya teman Chanyeol.

“Perjanjiannya tidak seperti ini, Chanyeol. Seharusnya kau sudah berpisah dengannya dua bulan yang lalu. Apa jangan-jangan kau mulai mencintai Lian?”

“Astaga, Eunji. Aku hanya mencintaimu. Sungguh. Aku belum menemukan waktu yang tepat untuk memutuskannya sampai perjodohan ini terjadi.”

Tubuh Lian melemas mendengar ucapan Chanyeol. Pandangannya mengabur oleh air mata. Tidak mungkin! Dia pasti bukan Chanyeol. Chanyeol berkata hanya mencintainya. Tidak ada wanita lain. Pasti dia bukan Chanyeol.

“Lalu sekarang bagaimana? Perjanjian dalam taruhan bukan seperti ini. Kau tidak bisa menikah dengannya.”

Bagai tersambar petir, Lian merasa nyawanya direnggut secara paksa. Taruhan? Jadi selama ini dia menjadi bahan taruhan? Jadi tidak pernah ada cinta dari Chanyeol? Lalu apa maksud perkataannya di taman dulu? Hanya dia wanita satu-satunya. Lian mencengkram dadanya yang terasa sangat sakit.

Sementara itu Taehyung tampak mengepalkan tangannya kuat. Emosinya mendidih kala mendengar semua yang diucapkan Chanyeol. Baru beberapa menit yang lalu Lian sangat yakin kalau Chanyeol tidak akan menyakitinya. Lalu, sekarang ini apa? Taehyung tidak bisa diam saja melihat gadis yang amat dia sayangi terluka karena Chanyeol. Dia baru akan maju untuk melayangkan tinju untuk Chanyeol, sebelum kemudian merasakan sebuah tangan menahannya. Taehyung melempar tatapan protes pada pemilik tangan yang tak lain adalah Lian, namun Lian hanya menggelengkan kepalanya lemah.

“Aku akan menceraikannya setelah tiga bulan menikah.”

Bug!

Taehyung tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Tanpa mempedulikan Lian yang memohon untuk tetap tenang, dia berjalan cepat menghampiri Chanyeol dan melayangkan tinjunya pada pria itu. Dia sangat marah karena lelaki ini berhasil membuat Liannya sangat terluka. Seperti orang kesetanan, Taehyung memukuli wajah Chanyeol.

Sementara itu Chanyeol masih belum sadar dari keterkejutannya. Dia bahkan tidak bisa melawan saat Taehyung memukulnya. Hingga matanya menangkap sosok gadis yang tengah menangis. Chanyeol membulatkan matanya. Bagaimana bisa?

“Brengsek! Kau pikir kau siapa berani menjadikan Lian sebagai mainanmu?! Otakmu dimana, huh?!” Taehyung mencengkram kerah Chanyeol sambil menatapnya bengis. Nafasnya memburu karena marah.

Bug!

Taehyung memberikan pukulan lagi di wajah Chanyeol. Setan seolah merasukinya. Dia tidak bisa membiarkan pria yang menyakiti Lian begitu saja. Kesedihan Lian kesedihannya juga.

“Apa kau pikir pernikahan hanya sebuah permainan?! Kau pengecut! Menjadikan wanita lemah sebagai mainanmu. Dimana otakmu, sialan?!” Teriak Taehyung tepat di depan wajah Chanyeol.

Chanyeol tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat gadis yang baru saja dia sakiti. Hatinya tersayat melihat Lian menangis. Dia tidak bisa melihat gadisnya menangis. Terlebih karenanya. Dan saat itu jugalah rasa penyesalan itu datang. Dia sadar kalau selama ini dia terjebak dalam permainan yang dia buat sendiri. Dia jatuh dalam pesona seorang gadis cantik dan pendiam bernama Kim Lian.

“Tae, hentikan.” Lirih Lian sambil memegang lengan Taehyung.

Taehyung menghempaskan tubuh Chanyeol sampai pria jangkung itu mundur beberapa langkah. Dia beralih menatap Lian yang saat ini masih menangis tanpa suara.

“Li…” Chanyeol hendak mendekati Lian namun langsung ditahan oleh Eunji.

“Selesaikan semuanya sekarang, oppa. Pilihlah salah satu diantara kami.” Ucap Eunji tiba-tiba. Membuat Chanyeol dilema setengah mati. Tatapannya tertuju pada gadis di depannya yang tampak rapuh.

“Ayo pulang.” Lian menarik tangan Taehyung. Dia tidak sanggup lagi melihat kesakitan di depannya. Dia belum siap mendengar Chanyeol memilih wanita itu. Tidak akan siap.

“Li, dengarkan aku dulu. Aku bisa jel-“

“Jangan mendekatinya, sialan! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau saja Lian tidak menahanku. Kau masih bisa membatalkan pernikahan ini dan aku yang akan menjadi suami Lian.”

“Brengsek, jangan mengambil Lian dariku!” Teriak Chanyeol

“Tae…”

“Kim Lian!” Seru Chanyeol sambil berusaha mendekati Lian.

“Aku tidak mengenalmu.” 

Ucapan dingin Lian membuat jantung Chanyeol berhenti berdetak. Dia mematung di tempatnya sambil melihat Lian yang semakin menjauh darinya bersama Taehyung. Kini dia merasakan sakit luar biasa melihat tatapan dingin Lian. Sungguh dia menyesal! Dia tidak bisa melepas Lian. Dan kini keputusannya sudah bulat.

“Eunji, kita berakhir. Aku mencintai Lian dan aku tidak bisa kehilangannya. Maafkan aku.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Chanyeol langsung berlari mengejar Lian. Mengabaikan Eunji yang masih tercengang dengan ucapannya.

“Lian, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan melepasmu.”

**

Tiba-tiba saja ingatan saat semua kebohongannya terbongkar, tiga tahun yang lalu melintas dalam kepala Chanyeol. Sontak dia langsung menghentikan aktivitasnya yang tengah mengetik pekerjaannya. Setiap kali ingatan itu datang, Chanyeol tidak dapat menahan rasa marah kepada dirinya sendiri. Hari itu pertama kalinya dia melihat Lian menangis. Parahnya lagi dia penyebab Lian menangis. Dia begitu menyesali perbuatannya.

Pernikahan itu tetap terjadi. Chanyeol kekeuh pada keputusannya untuk menikahi Lian. Dia juga berulangkali meminta maaf pada gadis itu. Tapi permintaan maafnya hanya dianggap angin lalu oleh Lian. Gadis itu bahkan tidak suka melihatnya hingga pernikahan terjadi. Semua angan dalam benak Chanyeol harus kabur saat tidak mendapati raut bahagia di wajah Lian. Padahal dia sangat ingat betapa gadisnya ini terlihat antusias saat memilih cincin dan gaun pengantin. Berbeda dengan saat berhadapan dengannya di altar.

Chanyeol memijit pelipisnya yang terasa pening. Akhir-akhir dia terganggu dengan ingatan semua kesalahan yang pernah dia lakuka pada Lian. Ditambah dengan pekerjaan yang menumpuk membuatnya harus rela pulang malam dan waktunya dengan Lian berkurang. Dia akan pulang saat Lian sudah tidur. Ngomong-ngomong tentang istrinya tersebut, Chanyeol sangat merindukannya. Hubungan mereka juga sudah lebih baik dari biasanya. Istrinya sudah bisa dia ajak berkomunikasi.

Karena tidak bisa menahan kerinduannya, Chanyeolpun memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Biar saja sekretarisnya yang mengurus. Dia tidak ingin pekerjaannya kacau karena dia yang tidak fokus. Bagaimana bisa fokus kalau yang ada di kepalanya hanya bayangan wajah cantik Lian?

Setelah berpesan kepada sekretarisnya untuk mengosongkan jadwal hingga besok, diapun segera bergegas untuk pulang menemui sang istri. Hitung-hitung memberi kejutan untuk Lian.

**

Hari ini tidak ada kegiatan yang bisa Lian kerjakan. Semua sudah dikerjakan para pekerjanya dan dia dilarang untuk membantu. Tadinya dia berniat untuk membuat kue saja. Tapi bahan-bahannya habis. Jadilah dia sekarang yang hanya diam termangu di depan televisi menunggu pekerjanya datang. Dia juga dilarang untuk membeli bahan membuat kue seorang diri.

Layar televisi di depannya tampak hanya diacuhkan oleh Lian. Pikirannya tidak tertuju pada tayangan itu. Dia bosan. Berada di rumah sebesar ini seorang diri membuatnya sangat kesepian. Tidak ada yang bisa dia ajak berbincang-bincang. Andai saja ada sosok malaikat kecil duplikatnya dengan Chanyeol, pasti dia tidak akan merasa sangat kesepian.

Wajah Lian mendadak murung saat kepalanya teringat akan sosok bayi. Sudah dua tahun pernikahannya, tapi mereka belum mempunyai momongan. Kenapa? Tentu saja karena Lian yang sangat kecewa dengan Chanyeol. Tapi setelah merasa hubungannya dengan Chanyeol berangsur membaik, keinginan untuk mempunyai anak itu muncul. Apalagi diumurnya yang sudah dua lima. Lian yakin suaminya itu juga menginginkan sosok malaikat kecil diantara mereka.

Tapi… Haruskah dia mengatakan keinginannya pada Chanyeol, sedangkan Chanyeol tidak pernah menyentuhnya lebih dalam selain berciuman. Gengsi dalam diri Lian terlalu besar. Helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya.

Membosankan.

Dia mengutuk dalam hati pada pekerjanya yang tidak kunjung tiba. Dia sudah sangat bosan hanya berdiam diri depan layar televisi yang bahkan tayangannya saja tidak menarik. Disaat seperti inilah dia merasakan merindukan suaminya. Dia tahu kalau pekerjaan Chanyeol akhir-akhir ini sangat banyak hingga waktu pertemuannyapun menjadi sedikit.

“Kim Lian.”

Mendengar suara itu sontak membuat tubuh Lian menegang. Di depannya berjarak lima belas meter dari tempat duduknya, berdiri kakak tirinya. Byun Baekhyun. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun yang paling bisa Lian tangkap adalah ekspresi terluka dan penyesalan Baekhyun. Ekspresi yang selalu pria itu berikan untuknya.

Sial. Lian kini merasa bersalah karena mengingat kata-kata kasar yang pernah dia ucapkan pada kakak tirinya itu. Seperti pesan Anna dalam mimpinya waktu itu. Belajar memaafkan. Lianpun mencobanya. Dia memulai komunikasi yang baik dengan Chanyeol. Tapi belum sampai tahap pada keluarganya. Selain tidak pernah bertemu, Lian merasa sangat berat untuk memaafkan mereka. Tapi ketahuilah, kalau hati Lian mulai mencair dan dia sedikit menyesali semua perbuatannya pada Baekhyun.

Lian masih diam mematung. Tidak tahu harus berkata apa saat melihat kakak tirinya berjalan mendekatinya hingga berdiri tepat di depannya. Lian menahan nafasnya sejenak. Dia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang akan dilakukan Baekhyun?

“Ada yang ingin kukatakan. Untuk terakhir kalinya sebelum aku berangkat ke Jerman.” Suara pelan itu kembali memasuki indera pendengaran Lian. Dan Baekhyun tidak tahu kalau ucapannya sedikit membuat Lian terluka karena kata terakhir di dalamnya.

Lian masih diam. Namun matanya mengatakan kalau dia mempersilahkan Baekhyun untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan. Diluar dugaan Lian! Baekhyun tiba-tiba berlutut di depannya dengan kepala tertunduk. Lian membulatkan matanya kaget. Dia ingin berteriak agar Baekhyun berdiri, tapi mulutnya seolah terkunci.

“Aku tahu seribu kata maaf tidak akan bisa menyembuhkan luka di hatimu karena kehilangan ibumu. Akupun tahu segala cara yang kulakukan tidak akan bisa membuatmu memaafkanku. Terlepas dari itu semua, aku tetap ingin minta maaf. Aku minta maaf karena sudah menjadi kesakitan dalam hidupmu. Aku minta maaf karena membuatmu kehilangan ibumu. Aku-”

Baekhyun tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia sudah mengumpulkan keberanian untuk menemui Lian dan mengatakan semua yang ingin dia katakan. Tapi tetap saja dadanya merasa sesak setiap kali melihat adik tirinya yang terlihat menderita. Dia merasa salah. Salah karena hadir dalam kehidupan Lian.

Sementara itu, Lian hanya menatap Baekhyun dengan mata berkaca-kaca. Kalau sebelumnya dia akan mengusir dan menjelek-jelekkan Baekhyun, kali ini Lian ingin memeluk Baekhyun. Lian tidak pernah merasa sesakit ini karena mendengar permintaan maaf Baekhyun.

“Aku seharusnya tidak datang ke dalam kehidupan kalian. Aku menyesal tidak bisa mencegah eomma untuk tetap tinggal. Setiap kali melihat tatapan bencimu, aku merasa nyawaku direnggut begitu saja. Aku sungguh minta maaf.” Suara Baekhyun makin lirih. Seiring dengan bahunya yang bergetar.

Air mata mulai membanjiri pipi Lian. Kini dia tahu apa arti perasaan gelisahnya selama ini. Karena dia menyimpan benci terlalu dalam pada semua orang. Sekarang, saat Lian sudah mulai memaafkan mereka, tubuhnya terasa lebih ringan. Namun rasa bersalah karena sudah melukai perasaan Baekhyun dengan kata-kata kasarnya tetap ada. Baekhyun tidak bersalah. Dia juga korban.

Dengan tangan yang bergetar, Lian menyentuh kedua pundak Baekhyun. Membuat Baekhyun mengangkat kepalanya. Hatinya mencelos saat lagi-lagi melihat Lian menangis. Namun selanjutnya dia dibuat terkejut setengah mati saat Lian tiba-tiba Lian memeluknya. Tubuhnya membeku. Wajahnya juga tampak terkejut. Dia masih belum mencerna apa yang terjadi.

Lian, adik tirinya, memeluknya? Ini seperti mimpi. Tangannya yang bergetar terangkat untuk membalas pelukan adik tirinya. Dalam hatinya dia bersyukur karena Lian mau mendengarkan semua ucapannya, bahkan sampai memeluknya. Mereka menangis bersama dalam pelukan itu dengan Baekhyun yang terus mengucapkan kata maaf. Namun perasaan lega juga mereka rasakan karena beban yang sudah lama mereka rasakan terangkat.

“Aku sudah memaafkan kalian.” Ucap Lian ditengah isakannya. Dia mengatakannya dengan tulus.

Baekhyun semakin menangis kencang saat mendengar kalau Lian sudah memaafkannya. Sekarang, dia merasa lebih tenang. Dia merasa sangat senang hingga tidak tahu harus berkata apa. Namun dalam hatinya dia terus berucap syukur pada Tuhan karena Lian sudah mulai membuka hati untuk memaafkannya.

Mengatakan maaf bukanlah hal memalukan. Karena maaf bisa membawa kebahagiaan yang tidak pernah diduga.

**

Pria jangkung itu memasuki rumah mewahnya dengan langkah lebar dan senyum mengembang. Dia tidak sabar ingin bertemu wanita kesayangannya. Sebelumnya dia sudah menyuruh para pegawainya untuk merahasiakan kepulangannya pada Lian karena memang Chanyeol ingin memberi kejutan untuk istri tercintanya tersebut. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu, jadi Chanyeol pikir memberi kejutan Lian dengan kehadirannya merupakan hal yang bagus.

Para pegawai Chanyeol tidak dapat menahan senyum bahagia mereka setelah melihat hubungan majikan mereka yang berangsur membaik. Selama sebulan ini mereka jarang mendapati tuan dan nyonya mereka bertengkar. Selain itu, sikap ramah Lian kepada mereka juga membuat mereka senang. Dan mereka berharap pemandangan seperti ini akan tetap ada seterusnya. Mereka sangat menyayangkan setiap kali mendengar teriakan kemarahan dari Lian karena ulah Chanyeol.

Tanpa bertanya pada pegawainya, kaki Chanyeol langsung berjalan menuju dapur. Dari ruang tengah dia dapat mencium aroma harum kue kesukaannya. Senyumnya makin mengembang tatkala melihat wanita yang sangat dia rindukan tengah sibuk memasukkan adonan kue ke dalam cetakan. Penampilan istrinya terlihat berantakan dengan apron biru yang menempel di tubuhnya. Tapi ketahuilah, bagaimanapun penampilan Lian, akan tetap terlihat cantik di mata Chanyeol.  Apalagi dengan peluh yang membasahi keringat Lian. Membuatnya terlihat lebih seksi.

Dengan langkah mengendap, Chanyeol berjalan mendekati Lian. Dan saat sudah berada di belakang istrinya yang nampaknya belum menyadari kedatangannya, dia langsung melingkarkan kedua tangannya pada perut Lian. Membuat wanita itu berjengit kaget. Beruntung adonan yang dia pegang tidak jatuh.

“Selamat sore, sayang.” Bisik Chanyeol sambil mencium pipi Lian dari belakang.

Lian tidak pernah siap dengan perbuatan Chanyeol yang tiba-tiba. Termasuk memeluknya dari belakang. Dia heran karena Chanyeol sangat suka memeluknya dari belakang sambil meletakkan dagunya pada bahu Lian. Seperti yang dilakukan sekarang ini. Membuat Lian sedikit kesusahan untuk bergerak bebas.

“Kau menggangguku.” Ucap Lian sambil berusaha melepaskan tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya.

Jujur Lian sangat senang melihat Chanyeol pulang lebih awal. Tidak ingin munafik, Lian memang merindukan Chanyeol. Dan saat ini hatinya tengah berbunga-bunga karena Chanyeol memeluknya dari belakang. Sesuatu yang sudah jarang dia dapatkan belakangan ini karena kesibukan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Tidak dapat dipungkiri kalau jantungnya berdetak kencang.

Ey! Lian malah terlihat seperti seorang remaja yang mabuk cinta. Bukan tipe Lian sekali.

Dengan wajah masam, Chanyeolpun melepas pelukannya. Setengah hati. Dia berpindah untuk berdiri di samping Lian sambil bersandar pada meja. Tatapannya tidak lepas dari wajah serius dominan bahagia dari Lian. Kalau sebulan yang lalu dia hanya bisa melihat wajah dingin Lian, sekarang dia bisa melihat senyum indah itu lagi. Kalau sebulan yang lalu dia hanya bisa mendengar kata-kata pedas Lian, sekarang dia bisa mendapat kalimat indah dari istrinya.

Tampaknya Chanyeol tidak sadar kalau aksinya menatap Lian justru malah membuat wanita itu gugup. Terbukti dengan Lian yang sekarang justru bingung harus berbuat apa. Dia berusaha terus bekerja agar tidak ketahuan suaminya kalau sedang gugup. Memalukan.

Chanyeol menunggu Lian selesai dengan kegiatan memanggang kuenya hingga selesai. Dia tidak ingin mengganggu istrinya. Lagipula kapan lagi dia bisa melihat wajah serius Lian dengan peluh yang membanjiri keringatnya. Melihatnya hanya membuat Chanyeol ingin menelanjanginya sekarang juga.

“Kenapa sudah pulang?” Tanya Lian setelah dia selesai memasukkan adonan terakhir ke dalam oven. Dia mencuci tangannya dulu sebelum akhirnya mendekati Chanyeol yang masih setia menunggunya.

Chanyeol mendengus sebal. “Apakah begitu caramu menyambut suamimu pulang?”

Lian tertawa sumbang. Bahkan sebelum mereka baikan, tidak ada acara menyapa seperti yang dia lakukan saat ini. Takdir memang lucu. Lian tidak sadar kalau Chanyeol sudah berdiri di depannya dengan tatapan penuh rindu. Saat dia menyadarinya, tiba-tiba Chanyeol sudah menciumnya dengan menggebu-gebu. Lian yang belum siap sama sekali hanya bisa membulatkan matanya. Dia menatap Chanyeol yang bahkan sudah memejamkan matanya.

Baru saja Lian hendak membalas ciuman Chanyeol, ciuman itu sudah terlepas. Menyisakan rasa kehilangan pada Lian yang kentara jelas untuk Chanyeol. Kening mereka masih menyatu. Bahkan keduanya bisa merasakan deru nafas lawan jenisnya. Tangan Chanyeol yang tadinya berada di tengkuk Lian, kini berpindah menjadi memeluk pinggang Lian posesif.

“Aku sangat merindukanmu.” Bisik Chanyeol dengan senyum mautnya. Matanya menyorotkan kerinduan yang mendalam.

“Aku juga.” Balas Lian pelan. Terkesan malu-malu. Dia bahkan menundukkan kepalanya karena tidak ingin ketahuan jika pipinya sudah memerah malu.

“Apa Baekhyun ada disini?” Tanyanya kemudian. Masih dalam posisi yang sama. Dia sangat menikmati posisi intim ini.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Lian balik sambil mendongakkan wajahnya. Dan saat itu juga dia menyesal karena jaraknya dengan Chanyeol benar-benar sangat dekat.

“Aku melihat mobilnya di depan.” Jawab Chanyeol dengan senyum tertahan saat melihat semburat merah di pipi Lian. “Kau tidak ingin melanjutkan yang tadi?” Tanya Chanyeol lagi dengan nada menggoda.

“Apa?” Sahut Lian pura-pura tidak tahu. Tapi… Suaranya terdengar bergetar.

Chanyeol menyeringai, “Kau bahkan kecewa saat aku berhenti menciummu.” Ucapnya sambil mengelus-elus pipi Lian.

“A-apa? Aku tidak!” Sergah Lian gugup.

“Jangan berbohong, sayang. Aku tahu kau ingin kita melanjutk-mpphh”

Kalimat Chanyeol langsung berhenti di tengah jalan saat tiba-tiba Lian lebih dulu menciumnya. Pelan dan intens. Khas seorang Kim Lian. Dengan senang hati Chanyeol menerimanya. Dia merengkuh pinggang Lian semakin erat sementara tangan kanannya berada pada tengkuk Lian guna memperdalam ciuman mereka. Chanyeol bisa mati perlahan kalau seperti ini terus. Ciuman Lian sangat memabukkan. Sangat intens dan dalam. Chanyeol akui hanya Lian satu-satunya yang mempunyai ciuman paling menakjubkan.

She’s a good kisser. More than good.

Dan sebenarnya Chanyeol berbohong tentang melihat mobil Baekhyun di halaman rumahnya. Dia mengetahui hal itu sebelum dia tiba di rumah. Tentu saja dia melihat dari kamera CCTV rumahnya. Chanyeol melihat semuanya. Saat Baekhyun berlutut di depan Lian hingga akhirnya mereka berbaikan. Chanyeol lega karena sahabatnya itu bisa mendapat maaf juga dari Lian. Pun dia merasa senang dan bersyukur karena Liannya benar-benar berubah menjadi sosok yang hangat.

Kegiatan panas itu masih berlanjut. Kali ini lebih menuntut. Tangan Lian mulai bergerak merengkuh pinggang Chanyeol. Kepala mereka bergerak ke kiri-kanan guna mencari posisi nyaman dan mencuri pasokan udara. Tangan Chanyeol sudah gatal ingin menyentuh seluruh lekuk tubuh Lian. Tapi…

“Astaga!” Pekik Baekhyun yang tiba-tiba datang dengan penampilan khas bangun tidur.

Suara tersebut mau tidak mau membuat kegiatan dua manusia dilanda mabuk asmara itu berhenti. Chanyeol menatap sebal pada sahabatnya karena merasa terganggu. Berbeda dengan Lian yang justru menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik dada lebar Chanyeol.

Pria berwajah cantik itu menutup matanya dengan kedua tangannya. Tapi dia masih bisa melihat pasangan suami-istri itu melalui celah di jarinya. Sungguh Baekhyun tidak menyangka akan melihat adegan panas di dapur. Dia baru saja bangun tidur dan ingin minum tapi malah melihat sahabat dan adik tirinya sedang berciuman panas. Otomatis, nyawanya yang baru terkumpul lima belas persen, langsung terkumpul sepenuhnya.

Pria berwajah cantik itu mendengus sebal saat melihat Chanyeol dengan tatapan laparnya sedang menggoda Lian yang masih terlihat malu. Diapun kembali melakukan pada niat awalnya ke dapur. Astaga! Dia benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka melakukannya di dapur sementara banyak para pekerja yang berkeliaran di rumah ini?

“Berterimakasihlah aku datang. Kalau tidak, kalian akan lupa tempat dan bercinta disini.” Sungut Baekhyun setelah menghabiskan segelas air dingin.

Lian mendelik kaget mendengar ucapan frontal Baekhyun. Namun sejurus kemudian, wajahnya kembali memanas saat mengingat ciuman panas tadi. Yang dikatakan Baekhyun ada benarnya. Dia bahkan hampir kehilangan akal sehatnya karena terlalu menikmati ciuman tadi. Dan tidak bisa dipungkiri kalau hasratnya meninggi. Dia saja sudah bergairah, apa lagi Chanyeol? Tangan pria itu bahkan masih merengkuh pinggangnya posesif. Diikuti dengan remasan seduktifnya.

Oh, tidak! Dia bisa gila kalau Chanyeol tidak menghentikan kegiatannya. Ada Baekhyun! Akal sehatnya terus berteriak.

Ting!

Hah. Lian bisa bernafas lega saat mendengar suara oven. Rupanya kue buatannya sudah matang. Tanpa mempedulikan Chanyeol yang masih menatapnya, dia melenggang menuju oven untuk mengangkat kue buatannya. Aroma harum kue buatannya langsung menyebar ke seluruh penjuru dapur. Siapapun yang menciumnya akan langsung tergiur.

“Kau terlihat bahagia.” Ucap Baekhyun pelan yang tiba-tiba sudah berada di samping Chanyeol. Dia bersandar pada meja, sama seperti yang dilakukan Chanyeol. Keduanya sedang melihat Lian yang mulai sibuk dengan kue-kuenya.

Chanyeol melirik Baekhyun sekilas sambil tersenyum tipis. “Kurasa kita merasakan perasaan yang sama.” Sahutnya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.

“Aku semakin mencintainya.” Tambah Chanyeol

Obrolan singkat itu berakhir saat Lian mendekati mereka dengan membawa piring yang berisikan kue buatannya. Senyumnya tampak mengembang hanya karena merasa puas dengan resep barunya. Chanyeol dan Baekhyun yang melihat senyum itupun ikut tertular. Betapa bahagianya mereka karena dapat melihat senyum itu lagi.

“Aku mencoba resep baru. Cobalah. Kuharap kalian menyukainya.” Lian menyodorkan kuenya kepada suami dan kakak tirinya.

Baekhyun langsung mengambil satu potong kue berwarna ungu itu kemudian memakannya. Lain halnya dengan Chanyeol yang justru malah menarik pinggang sang istri dan langsung mencium pipinya. Lian melotot kaget melihat kelakuan Chanyeol.

“Aku lebih tertarik untuk memakanmu.” Bisik pria jangkung itu seduktif.

Baekhyun yang mendengarnya hanya mendengus sebal. “Sepertinya kalian butuh ranjang.” Ucap Baekhyun sambil mengambil satu potong kue buatan Lian lagi. “Kuenya sangat enak. Lebih baik kau urusi nafsu suami itu.” Sambung Baekhyun pada Lian sambil menepuk pundak Lian. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan pasangan suami-istri yang sedang terbakar gairah.

Lian melongo mendengar ucapan Baekhyun. Bagaimana bisa mereka berdua sefrontal ini? Tatapannya beralih pada Chanyeol. Dan… Oh tidak! Tatapan Chanyeol benar-benar berkabut. Penuh dengan gairah. Lian juga dapat merasakan nafas suaminya itu yang sudah memburu. Lian dibuat gugup karenanya. Dia bahkan tidak sadar kalau piring yang dia bawa bergetar.

Apa ini saatnya?

Lian kembali ingat dengan keinginannya untuk memiliki anak. Mungkin memang ini saatnya. Bukankah lebih cepat lebih baik? Lagipula, hubungannya dengan Chanyeol sudah memiliki banyak kemajuan dan dia juga tidak pernah mendapat informasi dari mata-matanya tentang tindakan menyimpang Chanyeol.

“Bolehkah?” Tanya Chanyeol dengan suara serak.

Lian mendongakkan kepalanya secara perlahan. Dia menatap mata Chanyeol yang sudah berkabut gairahnya sendiri. Lian sedang berperang dengan batinnya. Setelah dirasa keputusannya sudah bulat, Lian menganggukkan kepalanya malu-malu. Setelah mendapat persetujuan dari Lian, tanpa pikir panjang Chanyeol langsung menggendong istrinya ala bridal menuju kamar mereka.

Saatnya menuntaskan hasrat masing-masing. Lian yang tampak belum siap hanya memekik kaget dan mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol. Dia dapat melihat bibir suaminya itu membentuk sebuah seringai.

Ready for wonderful night, baby?” Bisik Chanyeol seduktif saat mereka sudah berada di depan pintu. Dia menghembuskan nafasnya tepat di samping telinga Lian. Bermaksud menggoda sang istri.

Kemudian dua insan itu hilang dibalik pintu dan mulai menyelami kenikmatan surga dunia yang lama tidak terlampiaskan. Malam itu diiringi dengan erangan dan desahan nikmat dari dua anak adam yang tengah mengejar kenikmatan surgawi.

Tbc~

Advertisements
Posted in Chapter, Hurt, Married Life

I Hate You, I Love You #2


I Hate You, I Love You #2

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Taehyung, Jung Eunji

Category : Hurt, Married Life, Chapter

Rate : PG-17

.

.

.

.

.

Lian terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin di keningnya. Nafasnya terengah-engah dan tangannya gemetar. Kenangan buruk itu kembali muncul di tidurnya. Bukan hanya dua kali. Tapi hampir setiap malam kenangan buruk itu muncul dalam tidurnya. Membuatnya takut untuk tidur dan memilih untuk terjaga. Sudah hampir sebulan ini mimpi itu selalu mengganggunya. Dan hal itu membuat Lian harus kembali mengingat kenangan pahit yang membuatnya kehilangan ibunya.

Lian berusaha mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. Dia meminum air putih yang selalu disediakan di atas nakas untuk menenangkan dirinya.

Kejadian itu. Tangis Anna. Teriakan kemarahan Anna. Bentakan ayahnya. Tamparan ayahnya pada Anna. Lian ingat semuanya setelah sekian lama berusaha dia lupakan. Semua yang dilakukan Jeha pada ibunya hari itu tidak bisa Lian lupakan. Rasa nyeri selalu menggerogoti hatinya setiap kali mengingat tangisan Anna yang menyakitkan.

Wanita selingkuhan Jeha dan anaknya. Mereka penyebab keributan itu. Kedatangan mereka membuat Anna menangis dan mendapat tamparan dari Jeha. Lian mencengkram rambutnya erat saat kembali ingat dimana ayahnya lebih memilih wanita itu daripada Anna, sehingga Anna meninggalkannya. Selamanya.

Lian tidak tahu terbuat dari apa hati Anna. Saat Jeha sudah menyakitinya, bahkan dia masih sempat berpesan pada Lian agar tidak membenci pria yang membuatnya menangis. Tidak. Lian tidak bisa menjalankan pesan itu. Lian tidak bisa memaafkan mereka yang menyakiti Anna hingga akhirnya Anna meninggalkannya sendirian. Lian membenci mereka melebihi apapun. Kesalahan mereka tidak akan pernah termaafkan.

Eomma harus pergi jauh.

Seketika itu juga air mata Lian tumpah. Ibunya memang pergi jauh. Sangat jauh hingga sulit untuk dia gapai lagi. Betapa bodohnya Lian yang saat itu membiarkan Anna pergi. Tapi apalah daya seorang Kim Lian yang baru berumur tujuh tahun? Dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Dia tidak pernah mengira kalau Anna akan pergi dari dunia ini.

Sejak saat itu hidup Lian benar-benar berubah. Tidak ada lagi Kim Lian yang manja, suka merajuk, pemarah, dan jail. Kim Lian menjadi sosok yang pendiam, kejam, misterius, pembangkang, dan dingin. Lian merasa hidupnya tidak berguna lagi karena mataharinya sudah pergi. Tidak ada lagi yang bisa meneranginya. Lian kehilangan segalanya. Ibunya, ayahnya, dan kebahagiannya.

Detik saat ibunya dinyatakan meninggal, saat itu juga Lian tidak pernah menganggap ayah dan keluarga barunya. Lian sangat membenci mereka. Seumur hidup akan selalu membenci mereka. Mereka merenggut kebahagiaannya.

Setelah dirasa dirinya lebih tenang, Lian turun dari ranjangnya. Sedikit melirik ke arah jam dan mendapati baru pukul setengah enam. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan dan keperluan untuk sang suami. Lian menggelung rambutnya asal dan bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

**

“Nyonya? Kenapa Nyonya berada disini? Biarkan saya saja yang memasak untuk sarapan.” Rose terlihat kaget saat melihat majikannya yang sudah sibuk memasak di dapur.

Rosepun langsung menghampiri Lian dan membantu majikannya memasak. Lian sedang sakit dan Rose tidak mau mengambil resiko dipecat Chanyeol karena membiarkan Lian memasak. Rose adalah satu-satunya pelayan yang berada di satu rumah dengan Lian dan Chanyeol. Sedangkan pelayan lain tinggal di rumah yang terletak di belakang rumah ini.

Lian membiarkan Rose membantunya membuatkan menu sarapan untuk Chanyeol dan Baekhyun. Lian baru tahu kalau Baekhyun menginap disini karena dia tadi melihat kakak tirinya itu berada di ruang gym.

Setelah masakannya selesai, Lian kembali menuju kamarnya dan Chanyeol. Biarkan Rose yang menata makanan-makanan itu di meja makan. Tugas Lian saat ini adalah menyiapkan pakaian kerja Chanyeol. Setelah itu dia akan mandi. Rutinitasnya setiap pagi. Sebenci apapun Lian pada Chanyeol, Lian tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.

Sesampainya di kamar, dia masih melihat suaminya yang masih tidur. Berusaha mengabaikan keinginannya untuk memandangi wajah Chanyeol lebih lama, Lian berjalan menuju walk in closet. Mencarikan pakaian kerja yang akan digunakan suaminya. Setelah siap, Lian keluar dengan membawa pakaian yang akan dia pakai sendiri dan masuk ke kamar mandi.

Tidak sampai dua puluh menit, Lian keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh. Kemudian Lian berjalan menuju jendela kamarnya dan membuka tirainya. Membuat udara pagi hari masuk ke dalam kamarnya. Lian memejamkan matanya saat angin pagi menerpa wajahnya. Salah satu hal yang Lian suka. Udara di pagi hari. Dimana belum tercemar apapun.

“Kau sudah bangun?” Pertanyaan retoris itu keluar dari sosok yang baru saja bangun.

Lian tidak berniat untuk berbalik. Tepatnya berusaha untuk menahan keinginannya untuk berbalik. Lian tidak bisa melihat wajah Chanyeol. Dia akan ingat semua rasa sakit yang pernah dia rasakan sampai saat ini. Kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya dan berhenti tepat di belakangnya. Sekon selanjutnya Lian sedikit terkejut saat merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Dia menatap tangan yang melingkari perutnya itu dengan tatapan nanar.

Chanyeol memang tidak pernah tahu diri. Sudah tahu kalau Lian membencinya dan tidak suka disentuh, tapi Chanyeol tetap melakukannya. Larangan Lian malah seperti perintah untuk Chanyeol. Si keras kepala dan pemaksa. Wajar saja banyak pesaing bisnis yang selalu kalah dalam tender perusahaan. Tidak ada yang bisa mengalahkan mulut kejam dan otak brilian Chanyeol di Seoul. Semua orang tahu kalau Chanyeol adalah pebisnis muda yang tidak main-main dengan kecerdasaannya. Bukan hal yang sulit bagi Chanyeol untuk membuat sebuah perusahaan bangkrut.

Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Nampaknya Chanyeol sangat menikmati memeluk istri dari belakang sambil sesekali menciumi leher Lian yang wangi bunga mawar. Bau yang selalu membuat Chanyeol ketagihan. Dan membuatnya gila karena gairahnya yang selalu naik setiap kali mencium wangi istrinya. Chanyeol tidak tahu kalau Lian tengah menahan gejolak besar untuk mendorongnya menjauh dari tubuhnya. Mungkin Lian akan lebih puas kalau Chanyeol jatuh dari lantai dua rumah ini. Tapi sekali lagi. Tubuh Lian menginginkan sebaliknya. Lian harus mengutuk dirinya yang juga menikmati suasana intim pagi ini.

Cukup! Lian tidak bisa lagi berlama-lama lagi dengan posisi seperti ini. Lian masih waras. Harga dirinya bisa jatuh.

Lian melepas tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya dan berbalik. Sedikit mundur karena dia tahu jarak mereka sangat dekat. Dia menatap Chanyeol datar. “Sarapan sudah siap. Sebaiknya kau mandi dan turun.” 

Lian baru akan melangkah pergi kalau saja Chanyeol tidak menahan lengannya. Dia menepis tangan Chanyeol yang memegang lengannya dan menatap suaminya sinis. Tapi nampaknya tatapan sinis itu tidak berpengaruh pada Chanyeol. Pria jangkung itu malah memegang kening Lian dan sedetik kemudian sebuah senyum terbit dari bibir tebalnya.

Hampir saja pertahanan Lian runtuh saat melihat senyum itu. Senyum yang dulu selalu membuatnya rajin berangkat ke kampus. Senyum yang selalu menjungkirbalikkan dirinya. Dulu sebelum fakta menyakitkan itu dia ketahui.

“Kau sudah baikan.” Ucap pria jangkung itu. Tangan Chanyeol berpindah ke pundak Lian. Tatapannya tertuju pada mata Lian. Detik selanjutnya, tubuh Lian sudah berada dalam pelukan hangat Chanyeol.

Lian masih diam mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Lian tidak pernah suka sentuhan fisik sejak dia mengetahui kenyataan pahit itu. Hanya dengan Chanyeol. Lian tidak pernah mengijinkan pria itu menyentuhnya. Lian akan selalu menolak bahkan mengeluarkan kata pedas saat Chanyeol menyentuhnya. Tapi… Hari ini? Tubuh Lian seolah terkunci dalam pelukan suaminya. Organ geraknya seolah mati. Otak dan tubuhnya sangat berlawanan. Apa tubuhnya sedang melakukan pemberontakan?

Anggap saja Lian wanita munafik. Nyatanya saat ini tangannya sudah terangkat untuk membalas pelukan Chanyeol. Namun berhenti sebelum benar-benar menyentuh baju Chanyeol. Tangannya terkepal erat. Lian benar-benar sedang berperang dengan hatinya. Tidak. Lian tidak akan semudah itu luluh.

Biarkan aku tersiksa dengan rasa rinduku.

Nyatanya Lian benar-benar sangat membenci Chanyeol sehingga untuk menatap, mendengarkan, apalagi menyentuh suaminya saja dia tidak mau. Jangan lupakan lubang di dada Lian yang semakin menganga lebar karena pria itu.

“Jangan lakukan sesuatu yang berbahaya seperti kemarin lagi. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau kau kenapa-napa.” Bisik Chanyeol sambil mengelus-elus rambut Lian.

Lian menghitung dalam hati. Jika dalam hitungan kelima Chanyeol tidak melepas pelukannya, Lian benar-benar akan mendorong Chanyeol hingga jatuh. Atau justru membalas pelukannya? Kedua opsi itu bukan ide yang baik. Sedangkan hitungan Lian sudah sampai pada tiga.

Empat.

Lima.

Tepat pada hitungan kelima Chanyeol melepas pelukannya. Entah apa yang dirasakan Lian. Hampa dan lega secara bersamaan.

“Aku akan segera turun dan kita sarapan bersama.”

Itu perintah! Kemudian pria itu masuk ke dalam kamar mandi dengan meninggalkan Lian yang masih sibuk dengan pergolakan batinnya. Apa berenang selama empat jam di musim dingin sudah membuat otaknya geser? Lian yakin dia tidak pernah merasa sekacau ini saat ditinggal Chanyeol. Bahkan hanya untuk mandi. Lian masih merasakan hampa saat tiba-tiba Chanyeol melepas pelukannya.

Ini buruk. Apa sekarang hatinya mulai luluh? Atau… Luka itu sudah sembuh?

**

Suasana sarapan pagi ini masih sama seperti biasa. Sunyi. Kuburanpun tidak sesunyi itu. Setidaknya disana ada burung-burung dan beberapa peziarah atau para hantu yang berkomunikasi. Suasana tegang layak ditambahkan untuk mendeskripsikan bagaimana suasana di ruang makan itu. Setelah tiga tahun lamanya, Lian kembali berada satu meja makan dengan kakak tirinya. Terakhir mereka berada dalam satu meja makan, restoran pula, berakhir dengan aksi Lian membanting sebuah piring dan menyiramkan minuman ke wajah ibu tirinya. Belum sampai disitu. Lian menjatuhkan meja yang sudah berisi makanan makan malam mereka.

Lalu, apa yang akan terjadi pada ruang makan kali ini? Akankah Lian membakar meja?

Para pelayan menjadi saksi bisu bagaimana mencekamnya suasana ruang makan. Mereka selalu was-was dengan segala pergerakan Lian. Takut kalau tiba meja makan itu hancur tiba-tiba. Mereka tahu kalau nyonya mereka itu tidak akan repot-repot menyuruh orang untuk menghancurkan sebuah ruangan. Sudah ada bukti konkretnya. Perpustakaan pribadinya misalnya. Dalam hitungan menit, perpustakaan itu hancur dengan rak-rak yang sudah berjatuhan dan buku tersebar dimana-mana karena sebuah berita yang dia dapat bahwa Chanyeol membawa seorang jalang ke apartemennya.

Tangan Lian memang selalu bertindak lebih dulu daripada otak dan mulutnya.

“Aku akan ke Berlin.” Suara Baekhyun memecah kesunyian ruang makan itu.

Entah dengan siapa pria itu berbicara. Tapi Lian tidak tolol untuk tahu maksud kakak tirinya mengatakan itu. Tentu saja untuk memberitahunya. Lian pura-pura untuk tidak mendengarnya dan melanjutkan kegiatan makannya.

“Kenapa tiba-tiba?” Chanyeol bertanya.

Kenapa tidak dari dulu?

Dad sakit dan aku harus mengurus perusahaannya disana.” Jawab Baekhyun sambil melirik Lian. Berharap adik tirinya mengatakan sesuatu.

“Kenapa harus kau?” Chanyeol bertanya lagi.

Lian hampir saja memaki Chanyeol yang terlihat tidak rela kalau Baekhyun pergi. Kalau tidak rela ikut saja dan jangan kembali! 

“Karena hanya aku anak laki-lakinya.” Jawab Baekhyun

Ck. Lian berdecak cukup keras. Berhasil membuat Chanyeol dan Baekhyun menatapnya.

“Aku tidak yakin kalau kau hanya punya dua ayah. Apa ibumu memang mempunyai hobi menikahi pria beristri?” Ucap Lian dengan nada datar.

“Lian!”

Ucapan Lian sangat menohok hati Baekhyun. Dia memang sering mendapat kata-kata kasar dari Lian. Tapi tetap saja Baekhyun merasa sakit hati. Baekhyun tahu kalau Lian sangat membencinya dan ibunya. Bahkan dia sendiripun membenci kenyataan kalau kedatangannya dan ibunya malah membuat hidup Lian berantakan hingga Anna meninggal.

Tapi tidakkah sudah terlalu lama? Tidakkah pintu hati Lian terbuka untuk menerimanya dan ibunya? Baekhyun sangat berharap suatu hari dia bisa melihat adik tirinya itu tersenyum karenanya.

Lian menyudahi kegiatan makannya. Padahal makanannya belum sepenuhnya habis. Dia hanya terlalu muak berada satu meja dengan Baekhyun.

“Sarapanmu belum habis. Kau mau kemana?” Tanya Chanyeol sambil berdiri dan menahan tangan Lian.

Dengan kasar Lian menepis tangan Chanyeol. Dia menatap Chanyeol penuh kebencian. “Aku cukup kenyang untuk melihat wajahnya.” Jawab Lian

Lagi-lagi Baekhyun hanya bisa menahan nyeri di dadanya mendengar kata-kata pedas Lian. Dia menundukkan kepalanya menatap sisa sarapannya.

“Aku akan pergi sekarang.” Baekhyun kembali bersuara sambil berdiri. Dia tidak mungkin membiarkan adiknya yang masih sakit tidak menghabiskan sarapannya.

“Habiskan sarapanmu. Kau baru saja sembuh.”

“Sejak kapan kau peduli padaku? Bukankah kau hanya peduli dengan jalang-jalangmu di luar sana?” Balas Lian sinis.

Para pelayan yang paham akan situasi perlahan meninggalkan area ruang makan. Sadar kalau mereka tidak punya hak untuk tahu masalah rumah tangga majikan mereka.

Chanyeol mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Menghadapi Lian memang harus sabar. Kalau Chanyeol terpancing sedikit saja, percayalah akan ada perang dunia ketiga. Kemudian dia kembali menatap Lian dengan tatapan lembut. Chanyeol sudah bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Lian.

“Sekali ini saja turuti kataku. Kau harus habiskan sarapanmu. Aku dan Baekhyun akan berangkat sekarang.” Chanyeol menangkup wajah Lian. Suaranya bahkan sangat lembut.

Mendengar suara halus Chanyeol membuat Lian nyaris terlena. Dia mengangkat wajahnya menatap Chanyeol. Kenapa jantungnya berdenyut-denyut? Lian tidak mungkin luluh semudah itu.

“Aku akan pulang tepat waktu dan jangan lewatkan makan siangmu.”

Jangan lakukan ini, kumohon!

Lian memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak semakin jatuh pada tatapan Chanyeol. Lian yakin ada yang tidak beres dengan dirinya. Ditengah perang batinnya, Lian merasa kepalanya ditarik dan selanjutnya dia dapat merasakan bibir Chanyeol yang mendarat di bibirnya. Chanyeol sedikit melumat bibirnya sebelum akhirnya melepas ciuman singkat itu.

“Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu.” Bisik Chanyeol sambil mengusap pipi Lian dengan ibu jarinya.

Chanyeol dan Baekhyunpun pergi meninggalkan Lian sendiri di ruang makan. Di tempatnya, Lian masih diam mematung. Tangannya terangkat untuk memegang bibirnya yang baru saja dicium Chanyeol. Rasa manis itu masih meninggalkan sisa. Lian sedikit menyesal karena ciuman itu hanya sebentar.

Lian terduduk lemas di kursinya. Jika bertanya apa dia baik-baik saja, tentu saja jawabannya tidak. Kenapa Lian kembali merasakan saat dimana Chanyeol mencuri ciuman pertamanya? Jantungnya berdebar kencang. Kepalanyapun pening bukan main merasakan sisa-sisa sensasi yang diberikan Chanyeol beberapa menit yang lalu.

Rindu memang menyebalkan. Bisakah aku membuang harga diriku kali ini saja?

Lian menenggak habis air putihnya. Berusaha berpikir normal dan menghilangkan perasaan janggal.

“Nyonya?” Rose tiba-tiba saja sudah di samping Lian dan membuat wanita itu kaget.

Rose menggigit bibirnya takut. Takut mendapat amukan dari nyonyanya. Namun kemudian dia kembali memberanikan diri untuk bertanya, “Apa nyonya baik-baik saja? Ingin saya panggilkan dokter?” Tanyanya hati-hati.

“Tidak. Aku ingin pergi ke suatu tempat.” Jawab Lian sambil bangkit dari duduknya.

“Baik, nyonya. Aku akan menyuruh Landon bersiap-siap.” Sahut Rose dan langsung berlalu begitu saja untuk menemui Landon, supir sekaligus pengawal pribadi nyonyanya.

**

Lian berjalan sendiri menyusuri jalanan yang di kanan dan kirinya ditumbuhi pohon-pohon cemara yang sedang gugur. Di tangannya memegang sebuah bunga tulip putih. Udara dingin tidak menjadi penghalang bagi Lian untuk berjalan menyusuri jalanan kecil ini. Tidak akan ada halangan bagi Lian untuk mengunjungi makam ibunya. Mataharinya.

Kali ini Lian sendirian. Tidak ada Landon yang mengikuti di belakangnya. Lian memang menyuruh Landon untuk menunggu di parkiran karena dia benar-benar membutuhkan waktu pribadi dengan Anna.

Lian tidak pernah berkunjung ke makam ibunya kalau bukan saat hari ulangtahun Anna. Hari ini pertama kalinya Lian datang diwaktu yang bukan selalu Lian tetapkan. Banyak sekali yang ingin Lian katakan. Dengan siapa lagi dia bisa bercerita masalahnya kalau bukan dengan Anna? Lian sudah terlalu terbiasa bercerita seputar kehidupannya pada Anna. Hanya dengan Anna dia bisa jujur.

Kaki Lian berhenti di depan sebuah pohon yang di bawahnya terdapat nisan dengan nama ibunya. Lian meletakkan bunga yang tadi dia bawa di atas nisan itu. Tangannya mengelus-elus nisan Anna. Berkali-kali Lian menghela nafas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca saat membaca nama ibunya di atas nisan itu.

“Sayang, Eomma ingin kau menjadi bintang.”

“Kenapa, Eomma? Aku ingin seperti Eomma. Menjadi matahari.”

“Kau tahu? Bintang itu tata surya paling indah. Dia bisa memancarkan cahaya sendiri. Tidak seperti bulan yang membutuhkan bantuan matahari untuk bersinar. Dan manusia juga selalu meminta harapan pada bintang saat dia jatuh.”

“Tapi bukankah bintang tidak sering muncul?”

“Dia hanya tertutup awan. Percayalah, sayang. Bintang tidak akan pernah meninggalkan langitnya.”

“Kalau begitu aku mau menjadi bintang!”

Potongan percakapan Lian dengan Anna pada suatu malam itu tiba-tiba melintas dalam kepala Lian. Lian merasa sangat bodoh saat ini. Dia paham maksud ungkapan kiasan Anna malam itu sekarang.

“Seharusnya aku menjadi bulan saja. Mungkin dengan begitu Eomma tidak akan pergi.” Lirih Lian sambil mengusap nisan Anna.

Lian mendongakkan kepalanya, berusaha menghalau air matanya yang sudah mulai mendesak ingin keluar. Kala itu Lian masih kecil hingga tidak berpikir sejauh itu tentang kiasan yang diberikan Anna. Lian bukan lagi bintang. Lian sekarang bukan apa-apa. Bukan bintang yang bisa bersinar sendiri dan menjadi tempat manusia menaruh harapan. Bukan meteor yang kata orang indah. Bukan juga bulan yang bersinar dengan bantuan matahari karena  mataharinya sudah lama pergi.

“Eomma…” Bisik Lian. Bahkan suaranya sangat pelan. Lebih mirip dengan bisikan angin 

Lian menghela nafas panjang. Dia bingung harus memulai ceritanya dari mana. Hampir lama Lian terdiam hingga akhirnya dia kembali membuka suara. “Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat membencinya, tapi aku juga merindukannya. Eomma tahu rasanya? Sangat sakit, Eomma. Aku selalu ingat saat melihat dia pulang dengan bekas lipsctik di kemejanya dan bau parfum wanita lain. Aku merasa tidak berharga sebagai wanita dan istri.” Lian berhenti sejenak. Mencoba mengatur nafasnya yang semakin memburu.

Dia juga tidak mau repot-repot menghapus air matanya. Toh akan keluar juga pada akhirnya. Rasa sakit di dadanya memang selalu membuatnya tak berdaya. Semua ingatan kesakitan akibat suaminya kembali melintas di kepalanya. Lian memejamkan matanya dan berusaha mengatur deru nafasnya 

“Eomma, setiap kali melihat dia pulang dengan bau parfum wanita, aku ingat kejadian sore itu. Aku ingat saat wanita itu tiba-tiba datang dan membuat Eomma menangis. Aku ingat…” Lian menghentikan ucapannya karena suaranya tersendat isakannya. Lian membekap mulutnya. Berusaha menahan agar isakannya tidak terdengar.

Lian tidak bisa melanjutkan ceritanya. Kepalanya menunduk dengan tangan yang mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Lian rasa dia sudah mati rasa. Tapi nyatanya dia masih bisa merasakan sakit saat ingat tangisan Anna sore itu dan kelakuan suaminya. Dadanya sesak seperti terhempit beban berat. 

Lian pikir cinta akan membuat hidupnya kembali seperti dulu. Dia pikir bersama dengan orang yang dia cintai akan selalu membuatnya selalu tersenyum. Dia pikir imajinasinya tentang sosok pangeran berkuda putih yang membawa putrinya ke kehidupan indah akan menjadi kenyataan. Tapi kenapa justru perasaan cinta ini membuat hidupnya lebih kelam. Menyiksanya perlahan hingga rasanya mau mati.

Jadi, apa seperti ini yang Eomma rasakan dulu?

Dari kejauhan, tampak seorang pria paruh baya yang juga membawa tulip putih melihat tangis kesedihan Lian. Dia adalah Kim Jeha. Sosok yang dulunya menjadi pahlawan bagi Lian dan sekarang berubah menjadi sumber kesakitan Lian. Jeha turut menangis melihat betapa menderitanya hidup putri kecilnya akibat kelakuan bejatnya. Entah sudah berapa banyak kesedihan yang Lian rasakan karenanya. Jehapun bersedia untuk tidak dimaafkan karena kesalahannya begitu besar.

**

Suara denting piano itu semakin terdengar jelas di telinga Lian, membuat Lian terpaksa membuka matanya. Tidak ada siapapun di taman ini kecuali dia. Tapi kenapa ada suara piano yang dimainkan? Lianpun akhirnya bangkit dari duduknya dan mencari sumber suara tersebut. 

Semakin lama suara itu semakin jelas. Bunyi yang dimainkan sangat indah dan terasa emosional. Sebenarnya siapa yang memainkan music seindah indah ini? Instrumen ini terdengar menyayat hati. Pasti yang memainkan menggunakan hatinya.

Langkah Lian terhenti saat melihat sosok wanita yang sedang bermain grand piano berwarna putih. Wanita itu menggunakan gaun panjang berwarna putih. Kulitnya putih dan bersinar. Dia memainkan piano dengan penuh penghayatan. Dan wanita itu adalah Anna. Ibu Lian. Wanita yang sangat dia rindukan. Mataharinya.

Lian ingin mendekati ibunya yang tampak belum menyadari kehadirannya. Tapi kakinya sangat sulit digerakkan. Dia ingin memeluk Anna. Berkata kalau dia sangat merindukannya. Air mata Lian sudah keluar sejak dia melihat sosok itu. Akhirnya dia bisa melihat ibunya. 

“Eomma!” Seru Lian

Anna menyudahi permainannya dan menoleh ke sumber suara. Dia langsung tersenyum saat melihat bintangnya berdiri tidak jauh darinya. Kemudian dia berjalan mendekati Lian. Masih dengan senyum anggunnya.

“Eomma…” Lirih Lian dengan suara bergetar. Tanganya berusaha menyentuh wajah Anna namun tidak bisa.

“Putriku…” Bisik Anna sambil tersenyum hangat. Senyum yang selalu membuat Lian tenang. 

“Eomma, aku merindukanmu. Kenapa kau meninggalkanku sendirian? Aku sendirian, eomma.” Lian berkata disela isakannya. Dia masih berusaha untuk menyentuh wajah Anna, tapi tangannya menembus wajah cantik ibunya.

“Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu? Eomma, bawa aku pergi. Aku ingin ikut bersamamu. Aku benar-benar sendirian, eomma.”

“Tidak, sayang. Ada appa, ibu barumu, Baekhyun, dan suamimu yang selalu menemanimu, bukan? Kita tidak bisa bersama, sayang. Dunia kita berbeda.” Ucap Anna sambil mengelus pipi Lian.

Ini aneh. Lian tidak bisa menyentuh Anna, tapi Anna bisa menyentuhnya. Lian sangat ingin menyentuh ibunya. Dia ingin memeluk Anna dengan erat agar Anna tidak pergi meninggalkannya lagi.

“Mereka semua tidak menyayangiku, eomma. Chanyeol tidak pernah mencintaiku. Appa juga tidak menyayangiku. Aku membenci mereka. Mereka membuatku kehilanganmu.”

“Sayang, eomma selalu bersamamu. Disini. Tidakkah kau merasakannya? Kau tahu? Eomma tidak pernah meninggalkanmu karena eomma sangat menyayangimu.” Anna berkata sambil menyentuh dada Lian. Tepat di jantungnya.

“Tapi kenapa aku tidak bisa melihatmu? Aku sangat ingin bertemu eomma setiap hari. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Kau hanya bisa merasakan kehadiran eomma, sayang. Di hatimu.”

“Aku tidak bisa, eomma. Ini menyakitkan.” Lirih Lian sambil menundukkan kepalanya. Bahunya berguncang hebat. Dadanyapun sangat sesak.

Anna mendongakkan kepala Lian. Menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi putrinya sambil tetap tersenyum. “Belajarlah memaafkan mereka, sayang. Mereka sangat menyayangimu. Hanya saja hatimu sudah tertutup oleh kebencian. Buka hatimu dan maafkan mereka.”

“Tidak bisa, eomma. Terlalu banyak kesalahan untuk dimaafkan. Aku sangat membenci mereka sampai rasanya mau mati. Aku harus bagaimana, eomma?”

“Kau bisa, sayang. Eomma tahu kau mempunyai hati malaikat. Maafkanlah mereka dan hiduplah dengan baik. Eomma tidak ingin melihatmu menderita.”

“Tidak bisakah aku ikut denganmu? Kumohon, eomma.”

“Tidak, sayang. Tempatmu bersama Chanyeol. Belajarlah memaafkan mereka. Eomma tahu kau bisa. Eomma ingin kau bahagia, sayang.” Anna mengelus-elus pipi Lian.

“Kumohon, eomma.”

“Berbahagialah, sayang.” Perlahan Anna mulai menghilang.

“Eomma!” Seru Lian sambil berusaha mengejar Anna. Namun kakinya tidak bisa digerakkan. Anna semakin menjauh.

“Eomma…”

**

.

.

.

.

.

Tbc~

Posted in Chapter, Hurt, I Hate You, I Love You, Married Life

I Hate You, I Love You #1

I Hate You, I Love You #1

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian – Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Kim Taehyung – Jung Eunji

Category : Hurt, Married Life

Rate : PG-15

“Kebencianmu hanya akan menjebakmu dalam sebuah perasaan dalam yang perlahan mematikan seluruh kinerja syaraf.”

**

Kim Lian sudah lama sekali kehilangan kehidupan indahnya. Semuanya pergi satu per satu dengan membawa senyum dan semua kenangan indah. Hingga kini, tidak ada kenangan yang bisa Lian kenang selain saat orang-orang berharga menghilang satu per satu. Setiap detik yang Lian jalani tidak pernah bermakna dan Lian tidak pernah membuatnya bermakna. Hidupnya sudah kelabu. Warna itu direnggut satu-satunya orang yang dia harapkan dapat membahagiakannya. Menggantikan beribu kesedihan yang selama ini dia rasakan.

Kim Lian tidak percaya semua orang. Karena saat kau menaruh kepercayaan kepada seseorang, kau akan merasa tersakiti. Lian hanya menganggap hidupnya hanya tinggal menunggu hitungan detik. Hidup Lian sudah hancur. Dan Lian tidak pernah mempunyai niatan untuk memperbaikinya.

Kim Lian sangat berarti untuk semua orang. Gadis dua puluh lima tahun itu memiliki banyak sekali orang yang menyayanginya. Hanya saja hatinya sudah lama mati. Benda itu sudah tidak lagi berfungsi. Lian mati rasa. Hidupnya hanya dipenuhi dengan kebencian. Kebencian pada dirinya sendiri dan semua orang.

Tapi percayalah, dalam hati Lian yang sembilan puluh sembilan persen beku dan usang itu, masih tersisa sedikit rasa cinta. Cinta untuk pria brengsek yang dia temui tujuh tahun yang lalu. Jika saja Lian punya mesin waktu, hal pertama yang akan Lian lakukan adalah kembali pada tujuh tahun yang lalu kemudian dia akan merubah jalannya agar tidak bertemu pria brengsek yang selalu menyiksa batinnya.

Kim Lian membenci kenyataan kalau pria brengsek yang dia cintai itu sudah terikat dengannya. Detik saat dia terikat saat itu adalah detik saat dunia Lian runtuh seketika. Hidupnya lebih tidak berharga. Terlambat. Andai saja Lian tahu lebih awal kalau pria brengsek yang menyandang status sebagai suaminya itu hanya mempermainkamnya.

Hanya kata ‘andai’ yang selalu menjadi penyesalan Lian.

Entah sudah berapa lamanya Lian tidak merasakan sakit baik fisik maupun batin. Seperti saat ini. Tidak terhitung berapa lama gadis dua puluh lima tahun ini berenang di kolam renang rumahnya. Bukan. Rumah mereka. Lian dan suami brengseknya. Berenang adalah salah satu ekspresi pelampiasan perasaan yang melandanya. Baik senang maupun sedih. Tapi, bukankah Lian sudah lama mati rasa?

Benar. Maka dari itu tidak ada yang tahu bagaimana jalan pikiran gadis kepala dua ini. Di cuaca yang sangat dingin ini, tidakkah mereka memilih duduk di depan perapian bersama orang terkasih? Bukan berenang di malam hari seperti yang dilakukan Lian. Di sekeliling kolam renang, para pelayan dan penjaga rumah sudah berkeliling dengan tatapan cemas. Mereka cukup tahu untuk tetap diam dan membiarkan majikan mereka melakukan hal ekstrem itu. Bagi mereka, diam adalah satu hal penting yang harus dilakukan selama bersama Kim Lian.

Satu-satunya yang mereka harapkan saat ini adalah agar Tuan mereka segera pulang. Hanya sang suamilah yang bisa menghentikan aksi nekat Lian. Rose, satu-satunya pelayan yang lumayan dekat dengan Lian, akhirnya mendekat ke arah kolam renang. Dia sudah cukup dibuat serangan jantung saat tiba-tiba Nyonyanya itu menceburkan diri ke dalam kolam renang. Sekarang dia tidak bisa diam saja. Bagaimana kalau gadis rapuh itu sakit?

“Nyonya, sebaiknya Nyonya berhenti berenang. Nyonya bisa sakit kalau tidak keluar dari kolam renang.” Suara Rose terdengar bergetar. Antara kedinginan dan takut.

Seharusnya Rose tahu kalau ucapannya hanya akan dianggap angin lewat oleh Lian. Buktinya gadis -ah sekarang tidak lagi, Lian tetap menyusuri kolam renang seluas 70×55 meter itu.

Lian sudah berusaha untuk menulikan telinganya. Dia bukan tidak tahu kalau para pelayan dan penjaganya sudah sangat mengkhawatirkannya. Tapi, tidak ada cara lain untuk menyembunyikan air mata kesakitannya. Setidaknya air kolam ini bisa menyembunyikan air matanya. Air dingin ini sebenarnya menyakiti Lian. Rasa sakit itu menembus hingga ke tulang.

Tidak ada lagi rasa sakit yang lebih menyakitkan dari rasa sakit yang kau berikan.

Lian terus berenang dari ujung kembali lagi ke ujung. Pinggir, tengah, ujung, kembali lagi pinggir. Seperti itu terus yang dilakukan Lian selama hampir tiga jam ini.

Suara hentakkan sepatu terdengar sangat tergesa-gesa dan membuat semua pelayan dan penjaga menoleh. Setelah melihat siapa yang datang, mereka langsung menyingkir. Aura gelap langsung mereka rasakan saat pria dengan setelan jas armani itu berjalan menuju halaman samping. Matanya memerah dengan rahang mengeras dan tangan terkepal erat.

Chanyeol tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat istrinya itu menurut. Jangankan menurut, mendengarkan orang lain saja enggan. Dia cukup paham bagaimana keras kepala dan dinginnya wanita itu. Bahkan secara tidak langsung, sikap keras kepala dan tidak mau tahunya Lian sering membuat orang-orang serangan jantung. Bukan satu dua kali.

Chanyeol tidak bisa menyalahkan orang masa lalu Lian karena membuat Lian berubah drastis. Dia juga sadar kalau dia sendiri salah satu diantara orang-orang itu yang membuat hidup wanitanya hancur. Tapi tidakkah tindakan Lian terlalu berbahaya?

Nafas Chanyeol tercekat saat melihat istrinya yang berenang kesana kemari tanpa peduli berapa suhu malam ini. Dengan langkah tergesa dia berlari menuju pinggir kolam renang. Tatapan menghunusnya membuat semua pelayan takut.

“Kalian bisa masuk.” Suara rendah seseorang membuat para pelayan masuk ke dalam rumah dan kembali melakukan pekerjaan mereka. Hanya beberapa yang tinggal karena membawakan handuk dan mantel tebal untuk Lian.

Baekhyun menatap adik tirinya nanar. Hatinya nyeri melihat aksi nekat Lian yang berakhir melukai diri Lian. Dia berdiri di belakang Chanyeol. Membiarkan sahabatnya itu mengurus adik tirinya.

Chanyeol masih menunggu sampai Lian lewat di depannya. Hanya berada di luar saja sudah membuatnya menggigil. Apalagi saat menyentuh air kolam.

“Berhenti, Park Lian.” Chanyeol berucap rendah saat Lian sudah melewatinya.

Chanyeol harus menahan emosinya saat Lian melewatinya begitu saja. Giginya sudah mulai bergemeletuk. Sungguh Chanyeol merasa kesabarannya mulai habis. Dia sangat ketakutan kalau Lian akan hipotermia.

“KUBILANG BERHENTI, PARK LIAN!” Chanyeol tidak bisa lagi menahan emosinya. Suaranya menggelegar memenuhi seluruh penjuru rumah. Bahkan semua pelayan dibuat berjingkat kaget.

Dengan segala kekuatannya, Chanyeol menarik tangan Lian sehingga kepala Lian terangkat dari air. Nafas Chanyeol sudah sangat memburu. See! Bahkan tangan yang saat ini dia pegang sudah sedingin es. Wajah istrinya yang selalu dia agung-agungkan, sudah sangat pucat dengan bibir yang bergetar.

Baekhyun menatap Lian nanar. Apa yang bisa dia lakukan? Bahkan dia tidak punya nyali untuk menunjukkan wajahnya di depan adik tirinya. Dia adalah salah satu sumber kesakitan Lian.

Lian merasa air matanya sudah habis. Tapi dia belum siap untuk melihat wajah suami brengseknya. Bukan. Lian muak melihatnya.

Shit! Lian mengumpat dalam hati saat tulang belulangnya makin ngilu karena kedinginan. Tapi Lian ya Lian. Tidak ada ekspresi lain yang dia keluarkan kecuali ekspresi datarnya. Topeng yang selama ini menutupi ketidakberdayaannya.

Kesadaran Lian mulai berkurang. Oh! Dia tidak pernah mengira kalau efeknya akan seperti ini. Sejak kapan dan bagaimana dia sudah keluar dari kolam renang diapun tidak tahu. Tubuhnya sudah terbalut handuk dan mantel tebal. Di depannya, pria yang selama ini memenuhi otaknya menatapnya nyalang. Siap untuk menelannya hidup-hidup.

Satu per satu pelayan yang masih tertinggal meninggalkan halaman samping. Disusul Baekhyun. Melihat Lian keluar dari kolam renang itupun sudah membuatnya lega.

“Kau pikir apa yang kau lakukan di cuaca dingin seperti ini?” Suara rendah dan mengintimidasi Chanyeol kembali terdengar.

Lian hanya mencibir sinis sambil memalingkan wajahnya. Namun kemudian dia kembali menatap pria brengsek di depannya. “Kau pikir apa yang kau lakukan di cuaca dingin seperti ini?” Lian mengatakan hal yang sama kepada Chanyeol. Hanya saja nada bicaranya terkesan datar. Khas seorang Kim Lian.

“Jangan memancing emosiku, Li!” Sentak Chanyeol

“Bukankah kau sudah emosi?” Balas Lian bengis. Tatapannya masih sama. Datar.

Chanyeol sudah cukup waras untuk tidak terpancing amarahnya. Sumpah demi apapun! Chanyeol sangat mengkhawatirkan kondisi Lian. Bibir wanita itu mulai membiru.

“Masuk!” Titahnya dengan suara rendah.

“Kali ini siapa lagi?” Tanya Lian yang membuat Chanyeol mengurungkan niatnya untuk melangkah. “Wanita mana lagi yang kau tiduri?” Sambung wanita bermarga Kim itu.

“Jangan mulai, Lian.”

“Cih! Bahkan wanita jalang itu meninggalkan bekas lipstiknya.” Desis Lian sambil memalingkan wajahnya.

Tangan Chanyeol terkepal erat. Bahkan buku-buku jarinya terlihat memutih. Dia marah dan menyesal secara bersamaan. Seharusnya dia tidak lupa kalau istrinya ini mempunyai banyak mata.

Kau menyakitinya lagi, bajingan!

“Kau tidak mendengarku? Kubilang masuk!” Kembali Chanyeol berucap tak terbantahkan. Tangannya menggenggam tangan Lian dan sedikit menyeretnya masuk.

“Jangan menyentuhku, brengsek.” Suara rendah Lian membuat Chanyeol menghentikan langkahnya. Otomatis langkah Lian ikut terhenti.

Chanyeol menatap Lian tajam. Tangannya masih menggenggam tangan Lian. Bahkan kali ini lebih erat. Rahangnya mengetat.

Kau lihat? Istrimu bahkan tidak sudi kau sentuh.

“Kali ini tidak lagi, Li. Kau. Harus menuruti kataku. Sekali saja.” Chanyeol berusaha menekan egonya demi kondisi Lian yang makin mengkhawatirkan.

“Jangan ikut campur urusanku. Urusi saja wanita-wanita jalangmu itu.”

“Bisakah kau tidak merendahkanku sekali saja?!” Sentak Chanyeol dengan nafas memburu.

“Aku. Bicara. Kenyataan. Singkirkan tanganm-”

Ucapan Lian langsung terhenti saat bibirnya dibungkam dengan bibir Chanyeol. Sejak tadi pria itu sudah cukup bersabar menghadapi istrinya yang keras kepalanya tidak ada yang menandingi. Bahkan dia meninggalkan klien kerjanya yang datang jauh-jauh dari Jerman karena sebuah pesan yang detik itu juga berhasil membuatnya memecahkan sebuah vas.

Tangan Lian terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. Dia masih cukup sadar saat bibir Chanyeol menempel di bibirnya. Rasa sakit itu kembali menggerogotinya. Mati-matian Lian menahan air matanya yang siap tumpah. Semua sumpah serapah dia ucapkan dalam hati kepada pria yang saat ini masih menciumnya. Lian bisa saja mendorong Chanyeol agar menjauh. Tapi hatinya berkata lain.

Biarkan sekali saja aku melukai harga diriku. Aku merindukannya.

Lian memejamkan matanya. Membiarkan rasa sakit itu memakan habis hatinya. Toh, benda satu itu tidak lagi berguna untuknya. Lian membiarkan Chanyeol melumat bibirnya. Menyecapi rasa manis bibirnya yang kini bergetar hebat karena kedinginan dan menahan perih.

Chanyeol tidak peduli kalaupun Lian akan marah. Tindakan gilanya ini pasti menimbulkan luka lagi dalam hati Lian. Biarkan saja. Chanyeol ingin menghilangkan warna kebiruan di bibir sang istri akibat kedinginan. Selain itu, dia merindukan rasa manis bibir cherry istrinya. Dia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan guna mencari posisi nyaman sekaligus agar Lian tidak kehilangan pasokan udara. Lian hanya diam mematung dalam setiap lumatan yang diberikan Chanyeol.

Hingga akhirnya Chanyeol merasakan tubuh istrinya melemah. Dengan sigap dia menahan pinggang Lian dengan kedua tangannya. Dia menjauhkan wajahnya dan mendapati wajah pucat pasi Lian dengan bibir yang bergetar. Mata Chanyeol membola lebar.

“Jangan menyentuhku, brengsek. Aku tidak sudi disentuh tangan kotormu.” Ucap Lian lirih dengan mata nyaris terpejam. Tatapan matanya mengisyaratkan kebencian.

“Jangan bicara. Kau menggigil, Li.” Ucap Chanyeol panik.

“Jangan pedulikan aku.”

“KAU BISA MATI, PARK LIAN!” Teriak Chanyeol saking cemasnya.

Tanpa mempedulikan Lian yang terus memberontak, dia mengangkat tubuh Lian yang makin kurus ke kamar mereka.

“BAEKHYUN, PANGGIL DOKTER!” Teriak Chanyeol saat kakinya berlari menyusuri tangga.

Para pelayan terkejut saat melihat majikan mereka berlarian dengan sang istri yang sudah tak sadarkan diri. Di tempatnya, Baekhyun diam mematung melihat Lian yang pingsan. Bukan yang pertama kalinya Lian melukai dirinya sendiri. Dan Baekhyun merasa sangat tidak berguna karena selama ini dia gagal menjaga adik tirinya.

**

Setelah mengganti semua pakaian Lian yang basah dengan pakaian yang lebih hangat, Chanyeol menyelimuti tubuh menggigil Lian. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri yang kembali membuat istrinya harus berurusan dengan dokter. Sungguh Chanyeol sangat mencintai wanita yang saat ini berada di pelukannya. Tapi memang predikat brengsek dan bajingan tidak bisa lepas dari seorang Park Chanyeol.

Park Chanyeol adalah seorang pria yang ambisius, ditaktor, dan harus dapat apa yang dia inginkan. Termasuk dalam hubungan seks. Bukan hal yang sulit bagi Chanyeol untuk mendapatkan wanita yang dengan rela menyerahkan lubang mereka untuk Chanyeol. Sekali tatap, wanita-wanita seksi akan langsung bisa dia ajak naik ke atas ranjang.

Bagi Chanyeol, nafsu nomor satu kemudian hati. Dia selalu mengesampingkan fakta kalau dia sudah beristri saat sudah bersama para jalang. Kenapa tidak meminta Lian saja? Sudah. Hanya saja Lian sudah tidak sudi menyerahkan tubuhnya untuk seorang bajingan seperti Chanyeol. Cukup tiga kali saja bagi Lian sebelum akhirnya wanita malang itu tahu bagaimana bejatnya sang suami.

Setidaknya kenyataan bahwa sang suami pernah menghamili salah satu simpanannya sudah menjadi kenyataan paling pahit bagi Lian. Lian sudah tersakiti terlalu dalam. Dan sejak itu dia muak melihat suami brengseknya. Belum cukup dengan menjadikannya mainan, hingga akhirnya Chanyeol membuat jalangnya hamil yang kemudian janin haram itu meninggal saat masih berusia tiga bulan.

Chanyeol bangun dari berbaringnya saat pintu terbuka dan menampilkan Baekhyun dengan penampilan kusutnya.

“Dokter sudah datang.” Ucap Baekhyun sesaat kemudian.

Chanyeol menyingkir dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Baekhyun memberikan jalan untuk dokter masuk. Saat itu juga, mata Chanyeol langsung melotot tajam. Tangannya terkepal erat dan rahangnya mengeras. Dia berjalan cepat guna bisa mencapai dokter itu. Chanyeol mencengkram kerah kemeja sang dokter.

“Apa yang ada di otakmu sampai kau berani masuk ke dalam rumahku, sialan?” Desis Chanyeol dengan mata menyalang ke arah dokter di depannya.

Taehyung, dokter pribadi keluarga Lian sekaligus seseorang di masa lalu Lian, menepis tangan Chanyeol dengan kasar. Wajahnya datar. Taehyung menatap Chanyeol tak kalah tajam.

“Dari semua dokter di Seoul, kenapa harus kau yang datang?!” Sentak Chanyeol

“Kau pikir kau siapa? Urusi saja jalang-jalangmu itu.” Sahut Taehyung tenang.

Chanyeol tidak bisa lagi menahan emosinya. Baru saja dia hendak melayangkan tinju untuk Taehyung, sebuah tangan sudah menahannya. Dilihatnya Baekhyun dengan wajah lelahnya.

“Tidak tahukah kalian kalau adikku sedang sekarat?” Lirihnya sambil menatap Chanyeol dan Taehyung bergantian.

Tanpa mempedulikan tatapan bengis Chanyeol, Taehyung berjalan menuju ranjang tempat dimana wanita yang dulu pernah dia cintai terbaring. Dia meringis saat melihat wajah pucat Lian. Kemudian dokter muda itu mulai mengeluarkan alat-alat periksanya.

“Kupikir dengan aku melepasmu kau akan bahagia.” Ucap Taehyung dalam hati. Kemudian dia mulai memeriksa kondisi Lian.

Taehyung meringis saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Lian. Sebenarnya apa yang terjadi? Itulah yang sejak tadi memenuhi kepalanya saat tiba-tiba Baekhyun menghubunginya bahwa Lian sakit. Lian yang sekarang sangat berbeda dengan Lian yang dia temui sembilan tahun yang lalu. Setidaknya, dulu dia masih bisa melihat senyum tipis Lian yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dia pikir dengan merelakan Lian kepada Chanyeol, hidup gadis itu akan berubah. Dia menaruh harapan besar pada Chanyeol karena Lian selalu antusias saat bercerita tentang pertemuan mereka. Bahkan Taehyung harus rela menelan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Namun apa yang terjadi? Lian kembali dilukai. Chanyeol menjadikan Lian taruhan sekaligus berselingkuh di belakang Lian.

Detik saat Taehyung mengetahui fakta itu, detik itu juga Chanyeol langsung terbaring di rumah sakit karena mendapat pukulan membabibuta darinya. Usia pernikahan mereka saat itu masih berusia dua bulan. Pernikahan mereka bukan murni atas kemauan mereka. Melainkan perjodohan.

Taehyung melepaskan stetoskopnya dan kemudian membereskan alat-alatnya. Dia menatap Lian sekali lagi sebelum dia benar-benar harus pergi.

“Berbahagialah, Li. Agar aku tenang saat jauh darimu.” Ucap Taehyung dalam hati sambil mengelus-elus kepala Lian.

Lagi-lagi Chanyeol harus dibuat marah saat melihat Taehyung menyentuh istrinya. Dia memilih untuk memalingkan wajahnya daripada harus menyaksikan pemandangan menyakitkan di depannya. Chanyeol sadar seratus persen kalau rasa sakit yang Lian rasakan lebih dari rasa sakitnya.

“Bagaimana? Apakah ada yang serius?” Tanya Baekhyun sambil berjalan mendekati Taehyung.

“Apa lagi yang dilakukan si brengsek itu sampai membuat Lian seperti ini?” Ucap Taehyung pelan. Dia hendak berdiri namun tangannya ditahan oleh Lian.

Taehyung menatap tangannya dan Lian bergantian. Dia bernafas lega saat melihat mata Lian terbuka. “Li? Kau sadar?” Bisik Taehyung

Baekhyun dan Chanyeol yang mendengar ucapan Taehyung langsung beringsut mendekat. Keduanya bernafas lega saat melihat mata Lian yang sepenuhnya sudah terbuka. Chanyeol hendak duduk di samping Lian, namun tertahan saat melihat tatapan terluka Lian. Siapa yang tahan dengan tatapan terluka itu?

“Apa yang kau lakukan sampai kau kedinginan seperti ini?” Tanya Taehyung dengan nada kawatirnya. Tangannya mengusap-usap pipi Lian.

Nan gwaenchanha.” Ucap Lian pelan.

“Aku sangat kawatir, Li. Kumohon jangan sakit lagi.” Lirih Taehyung dengan nada meminta.

“Pulanglah. Kau sangat kelelahan.”

“Aku akan menemanimu sampai kau tidur.”

“Aku ingin sendiri. Jangan khawatirkan aku.” Tolak Lian

Taehyung menghela nafas pasrah. Sekalipun Lian tidak pernah berkata kasar padanya, dia tetap tidak berani untuk membantah. “Baiklah. Segeralah sembuh.” Ucap Taehyung sambil mengelus-elus kepala Lian. Lian hanya membalas dengan anggukan pelan.

Kemudian Taehyung pergi dengan diantar Baekhyun. Selepas kepergian Taehyung dan Baekhyun, Chanyeol langsung duduk di samping Lian. Bohong kalau dia tidak khawatir. Dia sangat khawatir. Hanya saja Chanyeol tipe orang yang sulit mengekspresikan perasaannya. Bodohnya lagi, dia tidak bisa berhenti melukai istrinya.

Lian kembali membuka matanya saat merasakan usapan lembut di pipinya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah khawatir Chanyeol. Lian memalingkan wajahnya. Melihat wajah Chanyeol hanya akan membuatnya lemah.

“Maafkan aku.” Ucap Chanyeol pelan.

“Aku bosan mendengar permintaan maafmu.” Sahut Lian dengan suara paraunya.

Chanyeol menghela nafas panjang. Lalu dia berbaring di samping Lian dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk sang istri. Tidak ada penolakan seperti biasanya. “Tidurlah.” Bisiknya sambil membenarkan selimut Lian.

Lian membiarkan tangan Chanyeol memeluknya. Biarkan sekali saja dia melukai harga dirinya. Dia terlalu merindukan Chanyeol. Suami brengseknya. Maka, dia ingin merasakan hangatnya pelukan Chanyeol di sekitar perutnya. Merasakan hangatnya deru nafas Chanyeol yang menerpa wajahnya. Nyaman. Masih sama.

Lian bergerak gelisah dalam pelukan Chanyeol. Ternyata membiarkan Chanyeol memeluknya merupakan opsi buruk. Lian kembali ingat kalau tangan yang saat ini melingkari perutnya adalah tangan yang juga digunakan untuk menjamah tubuh para jalang di luar sana. Mengingat itu semua membuat Lian harus kembali menekan rasa nyeri di dadanya. Andai saja dia punya kekuatan lebih dan ego tidak sedang menguasainya, Lian akan menepis dengan kasar tangan Chanyeol.

Merasakan pergerakan gelisah dari istrinya, Chanyeol membuka matanya. Dia menatap Lian cemas. “Sayang? Ada apa?” Tanyanya cemas sambil membawa kepala Lian untuk bersandar pada dadanya.

Sekali lagi air mata itu kembali mengalir di pipi Lian. Sekuat dan sedingin apapun seorang Kim Lian, pertahanannya akan runtuh saat benar-benar merasa lelah.

“Aku membencimu, sialan.” Desis Lian dengan suara bergetar.

Chanyeol menghela nafas panjang. Tangannya tidak berhenti mengelus-elus rambut sang istri. “Aku mencintaimu.” Balas Chanyeol lalu mencium puncak kepala Lian.

**

“Setelah adanya mereka kau masih bisa mengelak?”

“Bukan begitu. Aku-“

“Bahkan kalian sudah berselingkuh sebelum kita menikah?!”

“Dengarkan aku dulu.”

“Apa yang harus kudengarkan?! Kau membohongiku! Kau mengkhianatiku!”

Lian bersembunyi di balik dinding saat melihat kedua orangtuanya bertengkar hebat. Disana dia juga melihat seorang wanita yang tengah menggandeng seorang anak laki-laki. Siapapun mereka, yang jelas Lian membencinya karena kedua orangtuanya mulai bertengkar saat dua orang itu datang.

Ingin rasanya Lian keluar dari persembunyiannya dan memeluk ibunya. Dia tidak suka melihat ibunya menangis. Ibunya adalah mataharinya. Bukankah matahari tidak pernah mengeluarkan air? Tapi apalah daya dia yang hanya seorang gadis kecil berumur tujuh tahun?

Jadi, Lian hanya bisa menunggu ibunya datang menghampirinya. Memeluknya. Mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Sekarang kau yang tentukan! Aku dan Lian pergi atau kau mengusir mereka!” Ibu Lian nampak murka dengan wajah penuh air mata sambil menunjuk wanita yang berada di samping Ayah Lian.

Lian tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak keluar. Dia takut. Dia tidak ingin pergi dari rumah. Dia ingin tinggal bersama ayah dan ibunya.

“Tidak bisa.” Suara lemah Ayah Lian terdengar.

“Baik. Aku dan Lian akan meninggalkan rumah ini.” Ibu Lian hendak melangkah pergi namun ditahan Ayah Lian.

“Tidak bisa! Kalian tidak boleh meninggalkan rumah ini!” Teriak Ayah Lian

“Kalau begitu suruh jalangmu itu pergi!”

Plak!

Lian melotot kaget saat Ayahnya menampar Ibunya. Selama ini Ayahnya tidak pernah berbuat kasar. Tapi kenapa sekarang dia malah menampar ibunya? Kaki Lian tidak bisa dicegah untuk berhenti. Dia berlari mendekati sang ibu yang tengah menangis sambil memegangi pipinya.

Lian memeluk kaki Ibunya. Dia ikut menangis. Takut dan kecewa bercampur jadi satu.

Kim Jeha, Ayah Lian, tampak kaget saat tiba-tiba putri kecilnya datang. Dia menatap tangannya yang bergetar dengan penuh penyesalan. Putri kecilnya pasti sangat ketakutan.

“Eomma…” Bisik Lian ditengah isakannya.

Anna, Ibu Lian, jongkok dan memeluk putri kesayangannya. “Tak apa, sayang.” Bisiknya sambil mencium puncak kepala Lian.

Lian beralih menatap ayahnya sengit. Dia kecewa karena pria yang selama ini dia banggakan melukai ibunya. Bahkan saat Jeha hendak menyentuhnya, dia langsung menghindar.

“Sayang?”

“Appa jahat! Appa memukul Eomma! Aku benci Appa!” Jerit Lian

“Sttt, sayang, jangan seperti itu. Eomma baik-baik saja.”

“Tapi Appa menyakiti Eomma. Mereka juga membuat Appa dan Eomma bertengkar. Aku benci mereka.” Lian menunjuk wanita yang berada di samping ayahnya dan juga bocah kecil itu.

“Lian!”

“Jangan membentak putriku!” Anna balas membentak Jeha karena tidak terima putrinya dibentak.

“Eomma…” Lian semakin menangis tersedu-sedu saat ayahnya baru saja membentaknya.

“Maafkan Appa, sayang.” Jeha kembali berusaha menyentuh putrinya. Namun lagi-lagi Lian menghindar. Lian sangat takut dengan ayahnya saat ini.

“Sayang, apa kau mau ikut Eomma ke rumah Eomma? Kita tinggal disana berdua.” Ucap Anna hati-hati.

“Lian tidak mau! Lian hanya mau tinggal disini bertiga! Appa, suruh mereka pergi! Mereka membuat Eomma menangis.”

“Tidak, sayang. Kita akan pergi.” Paksa Anna

“Anna, kumohon.” Pinta Jeha dengan wajah penyesalannya.

“Seharusnya kau berpikir dulu saat ingin menikahiku dulu. Aku menyesal. Ayo, sayang.” Anna menggandeng tangan Lian hendak pergi.

“Biarkan aku saja yang pergi.” Akhirnya wanita itu angkat suara.

“Tidak! Kalian semua harus tetap disini!” Seru Jeha frustasi.

“Eomma, aku takut.” Lirih Lian

“Kau menakuti putrimu! Terserah apa maumu! Aku akan pergi bersama Lian!” Ucap Anna sambil kembali menggandeng Lian untuk pergi.

“Eonni, jangan pergi.” Wanita itu menahan lengan Anna. 

Melihat tangannya dipegang oleh wanita selingkuhan suaminya, langsung saja Anna menepisnya dengan kasar hingga wanita itu tersungkur ke lantai.

“Jangan gunakan tangan kotormu itu untuk menyentuhku, jalang!” Desis Anna

“Jaga bicaramu, Anna!” Sentak Jeha lagi sambil membantu wanita itu berdiri.

“Kalau kau mau pergi, pergilah! Tapi jangan pernah membawa Lian!”

“Jadi kau memilih wanita itu? Sebegitu tidak berharganyakah aku di matamu? Kau bahkan memilih wanita itu daripada istrimu sendiri!” Air mata Anna semakin deras mengalir.

Lian hanya diam terisak melihat orangtuanya saling berteriak. Dia sangat takut.

“Baiklah. Aku akan pergi. Kita bercerai.” Putus Anna

Mendengar kata cerai dari mulut sang istri langsung membuat Jeha melotot kaget. Dari semua kata yang ada, dia menghindari kata maksiat itu agar tidak keluar dari mulut Anna. Cerai berarti kiamat. Dia tidak bisa. Dia terlalu mencintai Anna.

“Sayang, kau tidak bisa mengambil keputusan gegabah.”

“Kau juga tidak bisa menyakitiku! Lian sayang, tetaplah disini. Jangan ikuti Eomma.” Anna menghapus air mata putrinya.

“Eomma, aku takut.”

“Tak apa, sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis. Kau gadis yang kuat. Kau harus menjadi wanita kuat, sayang. Jangan lemah seperti Eomma.”

“Anna-“

“Eomma mencintaimu. Eomma akan selalu datang untuk melihatmu. Berjanjilah pada Eomma kalau kau tidak akan membenci mereka. Mereka akan menyayangimu seperti halnya Eomma.”

“Eomma, aku juga menyayangimu. Aku ingin bersama Eomma terus.” Lian memeluk ibunya dengan erat.

“Tidak bisa, sayang. Eomma harus pergi jauh. Lian disini bersama Appa, ahjumma, dan ahjussi. Mereka berdua juga akan menjadi keluargamu.” Susah payah Anna mengatakan itu semua. Dia berusaha melawan rasa sakitnya agar putrinya tidak takut.

“Eonni-“

“Eomma mencintai Lian.” Bisik Anna lalu mencium kening Lian cukup lama.

Jeha hanya diam mematung di tempatnya. Bahkan dia ikut menangis. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik.

“Ahjumma!” Anna memanggil pelayan rumah mereka.

“Ya, nyonya?”

“Tolong jaga putriku. Aku harus pergi sekarang.” Anna menyerahkan Lian pada pelayan rumah mereka.

Shin Ahjumma hanya menuruti perintah majikannya. Dia hanya pelayan dan tidak berhak ikut campur. Dia juga tidak tuli untuk mendengar semua pertengkaran itu. Air mata Shin Ahjumma juga ikut mengalir.

Kemudian Annapun mulai melangkah pergi meninggalkan Lian yang masih menangis sambil berteriak memanggilnya. Jeha seolah tersadar. Dia mengejar istrinya agar tetap tinggal. Sungguh dia menyesal telah mengucapkan kalimat itu.

“Eomma!” Jerit Lian sambil berlari mengejar Anna.

“Nona!” Shin Ahjumma mengikuti Lian yang sudah berlari mengejar ibunya.

“Eomma!” Lian terus berteriak memanggil ibunya.

Brak!

Semuanya terjadi begitu cepat. Tubuh Anna terpental jauh di jalanan hingga berakhir dengan membentur pembatas jalan. Jeha dan Shin Ahjumma berteriak histeris saat melihat Anna yang sudah tergeletak di jalan dengan tubuh dan wajah penuh darah. Jeha langsung berlari menghampiri istrinya. Memangku kepala sang istri.

Lian masih diam mematung setelah menyaksikan kejadian yang baru pertama kali dia lihat. Dia menatap mobil yang baru saja menabrak ibunya dan ibunya yang sudah tergeletak dengan darah dimana-mana bergantian.

“Eomma…” Lirih Lian hendak berjalan mendekati ibunya namun langsung ditahan oleh Shin Ahjumma. Bahkan matanya juga ditutupi.

Lian duduk dengan kedua lutut ditekuk di depan pintu ruang operasi. Tangisnya tidak mau berhenti. Sudah lebih dari dua jam ibunya berada di dalam ruang operasi. Lian takut. Sangat takut sampai siapapun yang mengajaknya bicara hanya dia diamkan.

Lian masih sangat ingat saat mobil itu menabrak tubuh ibunya. Wajah Anna yang penuh darah. Anna yang memejamkan matanya dan tidak mau dia ajak bicara. Ingatan terakhirnya berhenti saat ibunya menangis karena kedatangan tiba-tiba orang asing. Lalu ayahnya yang menampar ibunya. Ayahnya yang membentak ibunya. Lian sangat ingat. Hingga akhirnya Anna meninggalkannya.

Lian bangun dari duduknya saat mendengar suara pintu digeser. Dia menghapus air matanya dan segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. “Dokter, dimana Eomma? Apa Eomma sudah bangun?” Tanya Lian

Dokter itu tampak menghela nafas berat. Dia menatap Lian iba. “Maafkan dokter.” Ucap dokter itu pelan.

Jeha, Shin Ahjumma, dan dua orang yang membuat ibu Lian menangis langsung menangis histeris. Jeha seolah mendapat pukulan keras saat mendengar permintaan dokter. Bukan kata itu yang dia inginkan.

“Dokter, Eomma masih bisa bermain dengan Lian, kan? Kenapa dokter minta maaf? Lian tanya apa Eomma sudah bangun, bukan minta dokter minta maaf.” Tanya Lian lagi.

Lian memang cerdas. Dia bukan tidak paham dengan maksud sang dokter. Hanya saja Lian masih belum percaya. Bisa saja mereka mengerjainya karena sebentar lagi ulangtahunnya.

“Eomma sudah tidur dengan tenang. Lian tidak bisa bermain dengan Eomma sekarang.” Jawab dokter itu. Bahkan dokter itu juga ikut menangis karena merasa kasihan dan bersalah pada gadis kecil di depannya.

“Sayang…” Jeha hendak mendekati Lian namun Lian kembali menghindar.

Melihat penolakan putrinya membuat Jeha beribu-ribu kali lebih terpukul. Bahkan putrinya tidak sudi disentuh olehnya.

“Dokter, kata guruku di sekolah kau punya tangan ajaib yang bisa menyembuhkan manusia. Tapi kenapa dokter tidak bisa membuat Eomma bangun? Lian ingin ikut Eomma. Lian takut.”

“Maafkan dokter, ya, cantik. Dokter sudah berusaha semampu dokter, tapi Eomma tidak bisa bangun lagi. Tuhan terlalu menyayangi Eommamu.” Dokter itu menghapus air mata Lian.

“Eomma tidak boleh pergi meninggalkan Lian sendiri! Eomma!” Jerit Lian tersedu-sedu.

“Maafkan dokter, sayang.” Ucap dokter itu lagi.

“Sayang, sudah. Biarkan Eomma tidur dengan tenang. Lian tidak boleh menangis.” Jeha mendekati putrinya dan menghapus air mata Lian.

“Appa jahat! Appa yang membuat Eomma menangis. Seharusnya Appa tidak memukul dan membentak Eomma. Sekarang Eomma pergi! Lian sendiri. Eomma!” Lian semakin keras menangis dan hendak masuk ke dalam ruang operasi namun Jeha langsung menahannya.

“Maafkan Appa, sayang. Appa menyesal. Maafkan Appa.” Lirih Jeha sambil menggenggam tangan mungil Lian.

“Eomma sudah pergi! Appa jahat! Kalian juga! Seharusnya kalian tidak datang agar Eomma tidak menangis! Appa dan Eomma bertengkar karena kalian!” Lian beralih memarahi dua orang yang sejak tadi diam terisak.

“Sayang, mereka tidak bersalah. Appa yang salah. Jangan salahkan mereka.”

“Kalian yang membuat Eomma meninggal! Aku benci kalian!” Jerit Lian makin tak terkendali. Gadis kecil itu sudah menjadi tontonan para dokter dan perawat saat ini. Mereka menatap Lian iba.

“Nona…”

“Eomma!!!”

.

.

.

.

.

To be continue~