Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 5

Fool For You Part 5

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – Cho Kyuhyun – Lee Donghae – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

Sudah lima hari sejak Lian kembali dari Swiss. Pekerjaannya semakin banyak. Baik Marcus maupun Aiden, dua pria itu juga sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Perusahaan memang sedang melaksanakan projek besar yang mengharuskan Lian ke luar kota untuk memantau pembangunan hotel tersebut. Karena hotel ini akan menjadi hotel bertaraf bintang lima internasional, Lian harus turun tangan untuk ikut serta memantau proses pembangunan tersebut. Dia tipe wanita yang menginginkan segala hal yang dia kerjakan sempurna. Jadi untuk projek pertamanya menjabat sebagai presdir, dia ingin kinerja yang membuat semua orang puas.

Tapi karena kesibukannya tersebut, membuat Lian sering pulang terlambat dan waktu istirahatnyapun tidak efektif. Dia harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan kemudian pulang hampir malam. Awalnya Lian masih bisa menghabiskan waktu dengan Fellix dan masih bisa menunggu Taehyung. Tapi sudah dua hari ini dia tidak punya waktu untuk Fellix dan jarang ke rumah sakit. Dia hanya bertemu Fellix hanya saat pagi dan malam, saat bocah itu akan tidur.

Selama tiga hari bersamanya, Fellix tidak pernah merepotkan. Bahkan bocah es itu bisa akrab dengan Yoongi dan Anna. Dia diantar jemput oleh Yoongi. Kemanapun dengan Yoongi. Fellix akan ke rumah sakit saat pukul tiga dan pulang saat pukul enam. Rutin seperti itu terus karena memang Taehyung yang menyuruhnya.

Seperti hari ini, Fellix baru saja pulang dari rumah sakit bersama Marcus. Bocah lima tahun itu tampak tertidur pulas di samping Marcus yang sedang menyetir. Kata Yoongi tadi, di sekolah Fellix ada acara perlombaan peringatan ulangtahun sekolah. Dan kebetulan Fellix mengikuti lomba lari. Pantas kalau saat ini dia kelelahan.

“Dia terlihat lelah. Tidurnya pulas sekali.” Ucap Marcus pada Lian di ujung telepon.

Tugasnya kali ini bertambah. Di samping menjaga Lian dan membantu Lian mengurus perusahaan, dia juga harus menjaga Fellix karena memang dia yang bertanggungjawab. Dia kadang yang menjemput Fellix dari rumah sakit. Seperti sekarang ini. Karena pekerjaannya sudah selesai, maka dialah yang menjemput Fellix di rumah sakit.

Sebenarnya tadi dia menawarkan diri untuk membantu pekerjaan Lian yang belum selesai. Tapi gadis perfectionist itu menolak dengan alasan idenya sedang mengalir deras. Jadinya, sepupu cantiknya itu masih mendekam di dalam ruang kerjanya sampai sekarang.

“Jangan kawatir. Kawatirkan saja dirimu. Kau sudah terlalu sering pulang malam. Lanjutkan saja pekerjaanmu besok.” Ucap Marcus

Akhir-akhir ini Marcus sering dibuat khawatir karena jadwal pekerjaan Lian yang menumpuk. Tidak adanya pemimpin di perusahaan kemarin, ternyata membuat semua karyawan kelimpungan. Hingga akhirnya Lian datang dan pekerjaan semua diambil alih oleh Lian.

“Dia sendirian. Temannya sedang ada acara keluarga jadi tidak bisa menemaninya.” Ucap Marcus lagi.

Bukan hanya pekerjannya yang bertambah. Tugas Lianpun juga bertambah untuk menjaga ayah Fellix karena Younbi sudah memberinya amanah. Hal itu mengharuskan Lian bolak-balik rumah-kantor-rumah sakit-rumah.

Marcus meletakkan ponselnya di dashboard mobil saat sambungan teleponnya dengan Lian sudah terputus. Dia menatap Fellix yang masih tidur pulas. Besok hari minggu dan di sekolah Fellix ada acara perayaan ulangtahun. Bocah kecil itu juga mempunyai banyak sekali tugas sekolah.

**

Lian memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menunggu lift di depannya terbuka. Hari ini dia sendirian ke rumah sakit setelah sebelumnya pulang untuk mandi. Dia juga membawakan makan malam untuk Taehyung. Bukan apa-apa. Hanya saja Lian akan menemani Taehyung sehingga dia juga harus makan malam disini. Lian tidak bisa makan sendirian.

Berkali-kali dia menghembuskan nafas kesal karena lift tidak kunjung terbuka. Dia risih dengan tatapan para perawat dan dokter wanita. Mereka menatapnya dengan tatapan siap menerkam. Pasti mereka mengira kalau dia dan Jungkook menjalin suatu hubungan spesial mengingat kemarin Jungkook yang berjalan dengan menggandengnya dan mencium keningnya di depan umum. Karena kejadian kemarin dia sekarang mempunyai banyak musuh. Mereka salah paham.

Bisa saja Lian menggunakan lift khusus jajaran tinggi rumah sakit karena sebelumnya Jungkook pernah menyuruhnya. Tapi Lian tidak ingin membuat para penggemar Jungkook semakin membencinya. Andai saja Jungkook tahu apa yang mereka lakukan, Lian yakin Jungkook akan langsung marah.

Hah! Lian mendesah kasar. Seharian ini dia benar-benar kehilangan kabar Jungkook. Kakaknya itu sangat sibuk. Bahkan malam ini ada dua operasi yang dilakukan. Lian baru saja melihat jadwal Jungkook dalam data pribadi pria itu di rumah sakit. Lian meretas data rumah sakit demi untuk mengetahui data tentang Taehyung. Mungkin setelah ini Lian harus berterimakasih kepada teman kuliahnya dulu karena berkatnya, Lian bisa memanfaatkan teknologi dengan mudah.

Ting!

Nah, akhirnya lift yang ditunggu Lian terbuka. Keluarlah beberapa pengunjung rumah sakit lain. Lianpun segera masuk ke dalam lift setelah seluruhnya keluar dan menekan angka 26 dimana tempat Taehyung dirawat. Lian menyandarkan tubuhnya pada dinding lift. Sebenarnya dia lelah dan sangat ingin istirahat. Tapi dia masih punya tanggung jawab untuk menemani Taehyung. Dia tidak ingin membuat Younbi kehilangan kepercayaan padanya.

Rasanya sulit jika seseorang sudah menaruh kepercayaan. Lian tipe gadis yang profesional dalam segala hal. Dia pantang membuat orang lain kecewa

Tidak kurang dari satu menit, lift berhenti di lantai 26. Lian berjalan menyusuri koridor sepi khusus paseien VVIP dirawat. Setelah sampai di depan ruang 27, Lian langsung membukanya tanpa mengetuk pintu. Lagipula hanya ada Taehyung. Pemandangan pertama yang Lian lihat adalah ranjang kosong. Pasti Taehyung sedang berada di kamar mandi. Lianpun berjalan menuju sofa dan meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja.

“Haruskah aku menginap disini?” Ucap Lian dalam hati sambil menatap langit-langit kamar rawat Taehyung. Lian tidak akan tega membiarkan Taehyung sendirian di rumah sakit. Bagaimanapun juga statusnya masih pasien.

“Lian-ssi, kau datang?” Tanya Taehyung retoris begitu keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menuju ranjangnya sambil menggeret tiang infusnya.

Lian langsung menegakkan tubuhnya saat melihat Taehyung sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat lebih mempesona setiap hari. Kini Lian tidak dapat menampik perasaannya. Lian jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Kupikir kau tidak akan datang. Fellix baru saja pulang bersama Kyuhyun tadi.” Ucap Taehyung sambil berbaring di atas ranjang. Mempunyai jahitan di perutnya membuat gerakannya sangat terbatas. Meskipun sudah lima hari tapi tetap saja jahitan itu akan beresiko jika dia bergerak banyak.

“Apa akan terdengar lancang kalau aku mengatakan aku kesini untuk menemanimu?” Tanya Lian diiringi tawa garingnya. Dia benar-benar berusaha untuk bersikap layaknya orang yang baru mengenal. Memang kenyataannya mereka baru mengenal. Tapi Lian dituntut untuk bisa akrab dengannya.

Terdengar tawa ringan dari Taehyung. Dan sialnya, tawa itu semakin membuat pria satu anak itu terlihat lebih tampan. Tawa kotaknya benar-benar tidak ada duanya. Pria itu selalu berhasil menyedot seluruh atensi Lian. Dengan itu, Lian harus bisa mengontrol mimiknya agar tidak terlihat bodoh. Seperti kata Marcus. Dia menggurui Lian tentang cara bersikap di depan orang yang disukai. Salah satunya bersikaplah biasa.

“Kupikir kau kesini untuk menjemput Fellix.” Ucap Taehyung kemudian.

“Aku kesini untuk melihatmu, bodoh!” Ucap Lian dalam hati.

“Aku membawakanmu makan malam. Sebenarnya untuk kita karena aku juga belum makan. Itupun kalau kau bersedia memakan masakanku.” Lian mengeluarkan nasi dan lauk pauknya yang dia bawa dan menata di atas meja.

Taehyung menatap makanan yang ditata di atas meja dengan mata berbinar. Dia sangat bosan dengan makanan rumah sakit. Dan melihat makanan yang dibawa Lian membuatnya langsung merasa lapar. Tanpa menjawab ucapan Lian, dia langsung turun dari ranjang rumah sakit dan berjalan menuju sofa dengan menggeret tiang infusnya. Taehyung berharap dia bisa melepaskan benda satu ini, karena kehadirannya membuat Taehyung kesulitan.

“Kau tahu saja aku sedang bosan makanan rumah sakit.” Ucap Taehyung sambil mengambil sumpit di depannya.

“Astaga!” Pekik Lian kaget saat dia melihat Taehyung sudah duduk manis di depannya. Dia bahkan sampai memegang dadanya karena saking kagetnya.

Taehyung tampaknya tidak terlalu mempedulikan ekspresi terkejut Lian. Dia sudah asik memakan makanan yang dibawa oleh Lian. Dia terlihat antusias. Persis seperti orang kelaparan. Sementara itu Lian tampak mendengus sebal karena hampir saja jantungan. Dia menatap pria di depannya sebal karena diabaikan. Pria itu lebih asik dengan makanannya.

Jantung Lian mulai berpacu cepat saat melihat Taehyung dari jarak yang lebih dekat. Dia bahkan bisa mencium aroma maskulin dari Taehyung. Lian bisa melihat dengan jelas hidung Taehyung yang mancung dan rahangnya yang tegas. Bibirnya juga tebal. Benar-benar sangat menggoda. Apalagi dalam posisi sedang mengunyah. Tangan Lian sudah gatal ingin menyentuh wajah Taehyung. Dia bahkan menggenggam sumpitnya dengan erat karena sedang berusaha menahan keinginannya.

“Kau tidak makan?” Tanya Taehyung sambil menatap Lian heran.

Lian dibuat gelagapan saat kedapatan sedang memperhatikan Taehyung. Dan sekarang dia benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Saat sedang menjawab, tahu-tahu Taehyung sudah menyodorkan sepotong bola daging kepada Lian dengan sumpitnya. Lian menatap sumpit di depannya dan Taehyung bergantian. Taehyung memberi isyarat dengan matanya agar dia memakannya. Akhirnya dengan ragu Lianpun menerima suapan itu.

Kaki Lian tampak melemas mendapat perlakuan yang tidak bisa dibilang spesial dari Taehyung. Tapi ketahuilah. Sekalipun itu perlakuan kecil asalkan itu dari orang yang spesial, akan terasa sangat spesial untuknya. Dan sekarang Lian melupakan pesan Marcus untuk bersikap biasa di depan Taehyung. Dia malah menatap Taehyung terang-terangan dengan hati yang berbunga-bunga.

“Masakanmu sangat lezat. Lebih lezat dari masakan restoran.” Puji Taehyung sambil menatap Lian dengan senyum lebarnya. Dia mengunyah dan tersenyum bersamaan. Dan itu sangat menggemaskan.

Lian mengedipkan matanya berkali-kali. Apa baru saja Taehyung memuji masakannya? Hati Lian benar-benar sudah memasuki musim semi. Bahkan pujian itu wajar ditujukan untuk wanita yang memang pandai memasak. Lian juga berani bertaruh kalau Taehyung pernah mengatakan hal itu pada mendiang istrinya. Tapi sekali lagi, bagi Lian apapun hal kecil yang diberikan Taehyung terasa sangat berarti untuknya.

“Aku harap itu bukan bualan.” Sahut Lian sambil memfokuskan perhatiannya pada makanan di depannya. Dia tidak ingin menjadi terlihat lebih bodoh karena terus memandangi Taehyung.

“Aku bukan pria pembual.” Ucap Taehyung

“Kau dan Fellix benar-benar mirip.”

“Apa kau memasukkan wortel disini?” Tanya Taehyung dengan nada yang agak tinggi. Wajahnya juga terlihat panik.

“Iya.” Jawab Lian santai. Seolah tidak terganggu dengan wajah panik Taehyung.

Taehyung buru-buru ingin berdiri untuk memuntahkan makanan yang baru saja dia makan. Dia tidak suka wortel. Tapi saat baru saja berdiri, tangannya sudah ditarik lagi sehingga dia kembali duduk. Dia menatap Lian geram. Rasanya sangat mual.

“Kau tidak bisa memuntahkannya. Aku akan terluka.” Ucap Lian dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih. Dia berusaha menahan tawanya karena melihat wajah memerah Taehyung. Sekarang dia tahu kalau Fellix tidak suka sayur karena Taehyung juga tidak menyukainya.

Lian menutup mulut Taehyung dengan tangannya. Dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Hanya gerakan spontan. “Kau harus memakannya.” Ucap Lian

Taehyungpun pasrah. Susah payah  dia menelan sayuran orange itu yang menurutnya sangat tidak enak. Senyum di wajah Lian mengembang. Selain karena berhasil menjaili Taehyung, dia juga bisa menyentuh wajah Taehyung. Setelah puas melihat wajah tersiksa Taehyung, Lian melepaskan bungkaman tangannya pada mulut Taehyung dan mengambilkan minum untuknya. Lian menahan senyum gelinya saat melihat ekspresi kesal Taehyung.

Taehyung langsung meneguk habis air putih yang disodorkan Lian. Wajahnya benar-benar merah karena menahan mual. Dia sangat tidak menyukai sayuran lonjong berwarna orange bernama wortel dan sayuran hijau tua menyerupai rumah jamur bernama brokoli.

Menggelikan.

Itulah komentar yang dia berikan setiap melihat dua sayuran itu. Ditambah dengan ekspresi gelinya yang membuat duda anak satu ini terlihat menggemaskan.

Lian kembali sibuk dengan makanannya dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Lian hanya sedang menghilangkan debaran jantungnya menggila. Dia sampai takut kalau Taehyung akan mendengarnya karena saking kerasnya. Tangannya benar-benar bekerja diluar kendali. Lianpun menyesali tindakan gilanya barusan. Bagaimana bisa Lian menyentuhnyapun masih terus menjadi pertanyaan di kepalanya.

Lian tidak menyukai segala jenis sentuhan dengan orang asing. Laki-laki terutama. Tapi dengan gampangnya dia menjabat tangan Taehyung bahkan sampai menutup mulutnya.

“Apa baru saja aku memakan wortel?” Gumam Taehyung dengan wajah gelinya. Dia masih belum melupakan rupa wortel tadi.

Lian yang mendengarnya mau tidak mau menoleh. Dia terkekeh kecil melihat ekspresi Taehyung. “Apa yang salah dengan wortel? Kalian harus belajar mencintai wortel. Baik untuk mata. Kupikir kau pernah mendapat materi seperti itu dulu saat sekolah.” Timpal Lian sambil kembali fokus pada makan malamnya. Dia tidak ingin jantungnya kembali berulah karena melihat Taehyung terlalu lama. Meskipun hal itu mustahil, karena tubuhnya selalu bereaksi saat berada di dekat Taehyung.

Taehyung mencebik kesal. “Kau berani mengguruiku sekarang?” Ucapnya sewot.

“Kalian berdua memang sama-sama keras kepalanya.” Sahut Lian cuek.

**

“Apa?!” Pekik Marcus saat Kate memberitahunya kalau Lian ke rumah sakit seorang diri.

“Nona tidak mau diikuti pengawalnya. Dia bahkan mengancam kami akan mogok makan selama seminggu.” Jelas Kate lagi.

Marcus mengusap-usap wajahnya kasar. Ini memang bukan pertama kalinya Lian mengancam para pengawalnya agar dia dibebaskan keluar seorang diri. Tapi meskipun begitu tetap ada satu atau dua orang yang mengikutinya dari jarak jauh. Bukan seperti sekarang. Tidak ada satupun yang mengikuti Lian. Wajar memang kalau mereka hanya bisa pasrah setelah mendengar ancaman Lian. Terakhir Lian mengancam akan mengurung diri di kamar juga dia lakukan. Mereka cukup tahu dengan riwayat maag yang diderita Lian.

Marcus langsung mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Aiden. Dia tidak bisa menyusul ke rumah sakit karena harus menjaga Fellix.

Hyung! Lian-”

“Arrayo. Aku yang menyuruh mereka untuk tidak mengikutinya.”

“Kau gila?! Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Lian?”

“Wow! Calm down, dude. Kau tidak perlu kawatir. Aku berada di rumah sakit juga. Menemani eomma check up. Aku akan menjaganya. Lagipula Yoongi juga ada disini.” Terdengar kekehan dari ujung sana, membuat Marcus kesal.

“Kenapa tidak memberitahuku? Aku hampir jantungan.” Sungut Marcus lalu memutus sambungan sepihak.

“Apa makan malam sudah siap?” Tanya Marcus sambil berjalan menuju ruang tengah.

“Sudah, tuan. Nona Jeon yang memasak.” Jawab Kate

“Baiklah. Aku akan membangunkan Fellix dulu.” Sahut Marcus sambil beranjak menuju kamar sementara Fellix.

**

Kedatangan Lian di rumah sakit nampaknya sama sekali tidak mengurangi rasa bosan Taehyung. Setelah acara makan malam bersama mereka, Lian langsung sibuk dengan laptop di depannya. Mengabaikan Taehyung yang hanya diam saja di ranjangnya sambil mengamati Lian. Sudah hampir satu jam ruangan ini sunyi. Siapa yang tidak bosan? Gadis cantik itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Taehyung sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Lian. Wajah gadis itu terlihat serius dan kadang keningnya berkerut membuatnya terlihat semakin cantik. Bahkan Taehyung tidak dapat menutupi senyumnya saat melihat kening Lian berkerut. Sangat cantik. Menurut Taehyung, wajah Lian tidak pernah membosankan. Dengan berbagai ekspresi, Lian masih terlihat cantik.

Sudah malam. Dan Taehyung begitu merindukan suasana rumah. Dia sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Tapi dokter belum mengijinkan pulang. Seketika itu juga Taehyung ingat perkataan Fellix tadi.

“Aku besok akan bermain piano. Tapi appa tidak bisa melihatku.”

Hati Taehyung mencelos. Besok penampilan perdana Fellix di depan teman-temanya. Taehyung bahkan masih sangat ingat dimana seminggu yang lalu Fellix masih berusaha keras berlatih dengannya. Dia bahkan sudah berjanji akan datang. Tapi kondisinya tidak memungkinkan. Taehyung tidak bisa membayangkan wajah kecewa Fellix meskipun putranya itu sudah berkata tidak apa-apa.

Lain halnya dengan Taehyung yang tengah sedih karena tidak bisa melihat putranya tampil. Lian tampak tersenyum penuh kemenangan saat berhasil meretas CCTV di bagian ruangan Jungkook. Dia ingin tahu apa saja yang dilakukan kakaknya itu jika sedang bekerja. Mempunyai kemampuan di bidang IT nampaknya sangat berguna bagi Lian. Dia bisa menyimpan data rahasia perusahaan sekaligus dapat melakukan hal-hal yang dia inginkan.

Nah! Yang ditunggu muncul. Jungkook masuk ke dalam ruangannya dengan wajah lelah. Senyum Lian makin mengembang. Memangnya hanya mereka yang bisa memata-matainya? Namun tidak lama kemudian, senyum di wajah Lian menghilang berganti dengan raut kaget. Seorang wanita yang… Astaga! Apa pantas dia ke rumah sakit dengan pakaian seperti itu? Apa yang dia lakukan di ruangan Jungkook? Mungkinkah pasiennya? Dan, lihat! Ekspresi Jungkook bahkan terlihat biasa. Apa dia sering mendapat pasien seperti itu?

Lian masih menunggu apa yang akan terjadi. Sejauh ini mereka masih berbincang biasa. Sial! Lian ingin mencakar wajah wanita itu. Tidak bisakah dia bersikap layaknya pasien? Dia cukup sehat untuk dibilang pasien. Dan dia juga cukup sehat untuk…

WHAT THE HELL?!” Pekik Lian sambil menutup mulutnya. 

Taehyung sampai terperanjat kaget karena lengkingannya. Dia mengelus-elus dadanya. Berharap jantungnya tidak lepas. Lalu pandangannya beralih pada Lian yang tampak sangat terkejut. Apa yang terjadi?

Mata Lian membulat lebar dan hampir keluar melihat layar di depannya. Apa seorang pasien bisa dengan seenaknya duduk di pangkuan dokternya? Tanpa pikir panjang, Lian langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruangan Jungkook. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak!

Sialan kau, Jeon Jungkook!

Sementara itu Taehyung hanya menatap kepergian Lian dengan tanda tanya besar. Apa yang terjadi? Kenapa dia langsung pergi tanpa membawa barang-barangnya?

**

Brak!

Suara pintu yang dibuka dengan paksa membuat dua manusia yang sedang melakukan hal tidak wajar itu langsung menghentikan aksi mereka dan menoleh ke sumber suara. Di ambang pintu, terlihat seorang gadis dengan nafas ngos-ngosan dan wajah merah padam. Jungkook mematung di tempatnya. Berbeda dengan gadis yang duduk di pangkuannya yang malah menatap Lian sinis. Merasa terganggu.

Lian berjalan cepat mendekati dua manusia itu dan dengan tanpa perasaan, dia menarik tangan wanita yang duduk di pangkuan Jungkook. Tidak peduli dengan kaki wanita itu yang membentur meja. Sementara itu Jungkook hanya bisa terdiam kaku. Dia bahkan tidak bisa bergerak. Persis seperti maling yang tertangkap basah. Dia menatap wajah marah Lian. Dan pertanyaannya adalah, bagaimana Lian bisa ada disini?

Lian menatap wanita seksi di depannya nyalang. Tangannya sudah sangat gatal ingin menjambak rambut wanita itu. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya erat. Melihat tatapan meremehkan wanita di depannya membuatnya semakin marah.

“Kau siapa berani masuk ruangan ini sembarangan?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut wanita di depan Lian.

Jungkook memejamkan matanya sambil terus berdoa untuk keselamatan ruangannya. Dia tidak menyangka Lian akan datang. Dan menyaksikan adegan tidak wajar. Setelah ini dia akan menghadapi kemarahan Lian.

“Kau siapa berani menginjakkan kaki di rumah sakit ini?” Tanya Lian balik dengan nada sinis.

Jungkook dapat merasakan aura gelap di sekitar Lian. Adiknya itu sangat marah. Dia akan sulit meredakan kemarahan Lian.

“Kau ini siapa? Mengganggu saja!” Tanya wanita itu sewot. Bahkan dia tidak malu sama sekali setelah tertangkap sedang berbuat mesum.

“Mengganggu katamu? Cih! Menjijikan.” Desis Lian sambil tertawa sinis.

“Ya!”

“Yuju-ya, pulanglah. Ini sudah malam.” Jungkook mencoba peruntungan untuk memisahkan Lian dan Yuju, wanita yang sangat terobsesi padanya.

Lian menatap Jungkook sinis. Dia tidak menyangka kakaknya akan berbuat sejauh ini. Dia kecewa. Dan Jungkook hanya bisa menelan ludah pahit saat melihat tatapan mematikan Lian. Jungkook tidak lupa bagaimana menakutkannya Lian saat marah.

“Kau membela gadis pengganggu ini?!” Ucap Yuju sambil menunjuk Lian.

Lian tidak bisa menahan emosinya lebih lama. Dia memegang tangan Yuju dan memelintirnya ke belakang. Belum cukup dengan itu, dia menjambak rambut Yuju. Mengabaikan teriakan kesakitan dari wanita jalang ini. Jungkook menelan ludah kasar. Dia tidak bisa mencegah Lian karena dia tahu akibatnya. Adiknya itu tidak pernah main-main saat marah. Ini buktinya.

“Tidakkah kau bercermin dulu sebelum kesini? Apa kau yakin tujuanmu adalah ke rumah sakit ini? Apa kau berniat menjual tubuhmu untuk dokter-dokter disini?” Tanya Lian bengis. Dia mencengkram rambut Yuju dengan kuat.

“Lepaskan aku!” Teriak Yuju kesakitan.

“Kau hanya wanita rendahan. Bahkan sampahpun masih berguna daripada dirimu.” Desis Lian sambil mendorong Yuju dengan keras.

Yuju mengelus-elus lengannya yang sakit dan merapikan rambutnya. Dia menatap Lian dengan tajam. Tidak terima dengan semua hinaan Lian.

“Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku! Pergi!” Teriak Lian

Yuju baru akan membalas perbuatan Lian saat Jungkook sudah menahannya dan memberi isyarat agar segera pergi. Dengan wajah kesal, Yujupun keluar dari ruangan Jungkook. Meninggalkan Jungkook yang diselimuti rasa takut. Dapat Jungkook rasakan aura mencekam di sekitarnya. Dia bahkan tidak berani menatap Lian.

Lian berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Dia baru merasakan nyeri di kakinya karena kesleo saat berlari tadi. Dia bahkan mengabaikan tatapan bingung para pengunjung rumah sakit dan perawat di luar sana. Benar, kan, dugaannya? Terjadi sesuatu yang tidak wajar. Kepala Lian pening karena terlalu jauh berlari. Selain itu dia kembali teringat saat dia hampir dilecehkan temannya di Swiss dulu.

Tanpa berkata-kata, Lian langsung keluar dari ruangan Jungkook. Dia sangat marah dan kecewa. Tidak menyangka kalau Jungkook akan berbuat sejauh itu. Meskipun dia tahu wajar bagi seorang yang sudah dewasa berbuat seperti itu mengingat dia tinggal di negara bebas. Tapi tidak bisakah mereka melakukan di tempat yang wajar? Mata Lian sudah berkaca-kaca karena saking kecewanya dengan Jungkook. Dia mengabaikan rasa sakit di kakinya.

Baby!” Jungkook mengejar Lian yang sudah lebih dulu pergi.

Mereka saat ini menjadi pusat perhatian semua orang yang berada disitu. Seorang presdir rumah sakit ini mengejar seorang gadis yang diduga kekasihnya. Jungkook berhasil menggapai tangan Lian. Dengan segala keberaniannya dia membalikkan tubuh Lian. Dia sadar sudah membuat adiknya ini kecewa. Diapun menyesali perbuatannya. Terlepas dari bagaimana Lian bisa tiba-tiba datang dengan wajah marah, Jungkook lebih takut jika tidak mendapat maaf dari Lian.

Lian menepis tangan Jungkook dengan kasar. Tidak peduli dimana dia sekarang. Dia menatap Jungkook tajam. “Kau… Memalukan.” Desis Lian dengan bibir yang bergetar.

Hati Jungkook bagai teriris mendengar ucapan Lian. Dia memang salah. Lian berhak marah. Tapi Jungkook tidak bisa melihat adiknya menangis. Apa lagi dia penyebabnya.

“Maafkan aku. Aku hanya-”

“Jangan diteruskan! Aku muak!” Potong Lian cepat. Dia bahkan menutup kedua telinganya dengan tangan.

Para pengunjung, perawat, dan dokter yang melihat mereka hanya saling berpandangan penasaran. Tapi tidak sedikit dari mereka yang kesal dengan Lian karena sudah berbuat kasar dengan Jungkook. Beberapa dari mereka beranggapan kalau mereka baru saja putus dan Lian tidak terima. Beberapa juga beranggapan kalau Lian hanya mencari perhatian. Intinya, mereka semua memojokkan Lian.

Jungkook menghela nafas panjang. Dia tidak peduli menjadi tontonan orang-orang. Mendapat maaf Lian lebih penting. Dia berusaha mendekati Lian namun Lian langsung mundur. Lagi-lagi Jungkook harus menelan pil pahit saat melihat penolakan dari Lian.

“Jangan mengejarku.” Ucap Lian sambil berjalan mundur.

Ucapan Lian bagaikan ultimatum untuknya. Jungkook hanya diam di tempatnya. Melihat Lian yang semakin menjauh. Namun baru beberapa langkah, Lian berhenti dan menatap kepada segerombolan perawat dan dokter wanita yang menatapnya sinis.

“Jangan kawatir. Dia kakak kandungku. Kalian tidak perlu menatapku seperti itu karena mengira sudah mengambil pria pujaan hati kalian. Memuakkan.” Ucap Lian dengan lantang. Setelah itu dia melanjutkan jalannya.

Semua orang yang mendengar tampak terkejut. Tidak menyangka kalau gadis yang mereka kira kekasih Jungkook adalah adik kandungnya. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hati mereka. Bahkan mereka hanya menunduk karena takut Jungkook akan marah. Aiden yang hanya melihat dari jauh akhirnya mendekati Jungkook yang masih menatap kepergian Lian dengan nanar. Aiden tidak tahu apa yang terjadi sampai Lian bisa semarah itu. Tugasnyapun akan bertambah untuk membuat hubungan kakak-adik ini membaik.

Aiden menepuk pundak Jungkook. Membuat Jungkook sedikit terkejut. Dia menatap Aiden sendu.

“Penggemarmu sangat menakutkan.” Ucap Aiden mencoba mencairkan suasana.

Jungkook menghela nafas berat sambil menundukkan kepalanya. “Dia sangat marah.” Bisiknya

“Tidak akan lama.” Sahut Aiden tenang.

**

Taehyung terkejut saat Lian tiba-tiba masuk. Dia bahkan masih duduk di depan laptop Lian. Karena penasaran dengan apa yang dikerjakan Lian, akhirnya dia memilih untuk melihatnya sendiri. Namun dia malah dibuat bingung saat melihat tampilan layar yang menunjukkan tayangan CCTV di suatu ruangan. Yang membuatnya kaget adalah saat melihat adegan tidak wajar di dalamnya. Hingga akhirnya Lian datang dengan wajah marah dan menyerang wanita itu.

Taehyung melihat semuanya. Bagaimana marahnya Lian pada wanita itu. Bahkan dia sempat takut melihat wajah mengerikan Lian saat marah. Fokus Taehyung kembali pada Lian yang sedang bersandar pada pintu sambil mengatur nafasnya. Taehyung tidak tahu apa yang membuat Lian semurka itu saat melihat Jungkook bercumbu dengan wanita tadi. Tapi melihat bagaimana Lian sekarang membuat dia berkesimpulan kalau pasti ada alasan besar kenapa Lian marah.

Lian menghapus air matanya yang keluar melalu sudut matanya. Apa yang dia lihat tadi sangat melukai hatinya. Seharusnya Jungkook tidak seperti itu. Jungkook yang dia kenal adalah pria baik-baik. Tapi apa yang dia lihat tadi? Mengecewakan. Kalau dia tidak datang, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Lian tidak sanggup membayangkan. Dia menatap Taehyung yang juga sedang menatapnya. Pasti pria itu sudah tahu apa yang dia lakukan.

Lian berjalan gontai menuju sofa dengan langkah pincang. Baru terasa nyeri di kakinya karena kesleo tadi. Dia berusaha mengabaikan tatapan Taehyung. Gadis Kim itu merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya memanas. Air matanya mendesak ingin keluar.

Benarkah tadi itu Jungkook? Kakaknya yang selalu dia banggakan?

Lian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak peduli kalau Taehyung menatapnya bingung. Air matanya tidak bisa dia tahan lagi. Di sampingnya, Taehyung menatap Lian prihatin. Dia bingung harus berbuat apa. Hal ini sudah bukan lagi urusannya. Tapi melihat gadis di sampingnya menangis membuatnya ikut merasakan sedih.

“Lian-ssi? Kau baik-baik saja?” Tanyanya hati-hati. Tangannya sudah terangkat hendak menyentuh pundak Lian, namun dia urungkan. Apa haknya menyentuh Lian?

Tidak ada jawaban. Oke. Taehyung paham bagaimana perasaan Lian sekarang. Diapun memilih diam dan menunggu sampai gadis ini tenang. Aneh. Taehyung tidak pernah sepeduli ini dengan gadis yang baru saja dia kenal. Tapi Lian merubahnya menjadi sosok yang banyak bicara. Dia juga merasakan perasaan aneh saat sehari saja tidak melihat Lian. Puncaknya adalah detik ini. Dia merasa sedih melihat Lian menangis.

Hal ini tidak boleh terjadi. Taehyung berusaha menyangkal perasaan yang selalu mengganggunya. Dia tidak boleh jatuh cinta pada Lian.

.

.

.

Tbc~

Posted in Chapter, Family, Fool For You

Fool For You Part 4



Fool For You Part 4

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – Cho Kyuhyun – Lee Donghae – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Angst, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

Lian dan Marcus masih menemani Fellix untuk menjaga ayahnya. Fellix sudah menghabiskan makanannya dan saat ini bocah lima tahun itu terlihat mengantuk karena hanya diam saja sambil duduk di samping ayahnya. Sementara itu Lian dan Marcus sedang mengobrol sambil duduk di sofa tanpa tahu kalau Fellix sedang mengantuk dan bisa kapan saja tertidur. Dua orang dewasa itu nampaknya sedang membicarakan masalah pekerjaan. Tiba-tiba saja Lian mendapat email masuk dari Jinyoung tentang file berisikan kerja sama dengan TJ Group. Lian yang memang pada dasarnya masih malas untuk mengurusi pekerjaan akhirnya meminta bantuan Marcus agar membantunya.Sudah hampir satu jam tapi kakek dan nenek Fellix belum juga kembali. Sebenarnya tidak masalah bagi Lian karena dia masih ingin bersama Fellix dan sekaligus alasan agar dia bisa melihat wajah damai Taehyung yang masih tidak sadarkan diri. Lian tidak bisa menyangkal lagi perihal ketertarikannya pada ayah Fellix. Entah hanya ketertarikan sesaat atau bukan. Yang jelas Lian masih ingin menuntaskan rasa ingin tahunya.

Sepanjang menyuapi Fellix sampai sekarang, Lian masih menalar kira-kira apa yang terjadi padanya? Lian tidak pernah merasa sekacau ini hanya karena seorang yang baru saja dia lihat. Matanya seolah memaksanya untuk selalu menatap sosok Taehyung yang masih terbaring. Seperti dia akan melewatkan hal penting kalau tidak menatapnya. Makanya sejak tadi Lian mencuri pandang pada Taehyung.

Anggap saja dia seperti remaja labil. Nampaknya gelagat anehnya itu mampu ditangkap Marcus yang notabene adalah seorang player. Dalam hatinya, Marcus hanya tersenyum penuh arti. Tidak menyangka kalau gadis otoriter seperti Lian bisa tertarik pada pria.

“Jangan menatapnya terus. Dia tidak akan lari.” Ucap Marcus menyadarkan Lian yang tengah terang-terangan memperhatikan Taehyung. Dia gelagapan sambil pura-pura merapikan rambutnya.

“Sampai mana tadi?” Tanyanya sambil kembali mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya. Dia sangat malu karena tertangkap basah oleh Marcus sedang memperhatikan Taehyung.

“Pikiranmu tidak disini. Lihat! Fellix bisa jatuh kalau tidur seperti itu.” Sahut Marcus sambil menunjuk Fellix yang sudah menyandarkan kepalanya pada tepi ranjang rumah sakit ayahnya.

Lian melototkan matanya dan langsung mendekati Fellix. Lian mengguncang bahu Fellix pelan agar bocah itu tidak terkejut. Fellix mengangkat kepalanya dan menatap Lian dengan pandangan sayu.

“Kau mengantuk, sayang?” Tanya Lian sambil mengelus-elus rambut Fellix.

Hati Fellix menghangat mendengar panggilan sayang dari Lian. Sudah lama Fellix tidak mendengar panggilan sayang dari ibu maupun neneknya. Mendengar Lian memanggilnya sayang, entah mengapa membuatnya ingin tidur dalam pelukan Lian. Pasti akan hangat.

“Kemarilah, brother! Kau bisa tidur di pahaku.” Ucap Marcus sambil menepuk pahanya.

Fellix hanya menggelengkan kepalanya. Dia kembali menatap wajah pucat ayahnya dengan tatapan sedih. “Aku takut kalau aku tidur, aku tidak bisa menjadi orang pertama yang melihat Appa bangun.” Lirihnya yang masih bisa didengar Lian.

Lian tersenyum nanar dan mengelus-elus rambut Fellix dengan sayang. “Kalau begitu duduk saja di sofa agar kau lebih nyaman. Kau bisa bermain game dengan Marcus kalau bosan.” Ucap Lian

Tanpa membalas ucapan Lian, Fellix langsung berdiri dan mendekati Marcus. Seperti yang dikatakan Lian, dia meminta Marcus agar menemaninya bermain game melalui tabletnya. Setelahnya, dua pria itu asik dengan dunia mereka. Sesekali terdengar ejekan dari keduanya saat salah satu dari mereka kalah atau salah umpan.

Lian tersenyum tipis melihat keakraban antara Fellix dan Marcus. Dia senang karena Marcus yang tadinya tidak menyukai anak kecil menjadi sangat akrab dengan Fellix. Dalam hati Lian, dia berdoa agar Marcus cepat punya istri dan mereka bisa mempunyai anak sehingga ketidaksukaan Marcus pada anak kecil dapat menghilang. Marcus sudah cukup umur untuk menikah dan Lian tidak ingin sepupunya yang itu semakin banyak menjadikan para wanita sebagai korbannya.

Tatapan Lian beralih pada ayah Fellix. Sebenarnya apa yang menarik dari seorang pria yang sedang koma? Tidak ada. Tapi Lian merasa ingin terus melihat wajah damai Taehyung. Hidung dan bibirnya menjadi salah satu favorite Lian. Dia ingin sekali menyentuh dua benda itu. Tapi Lian tidak gila sehingga dia nekat menuruti keinginannya. Kenal namanya saja tidak, kenapa sudah berani menyentuh?

Entah kenapa Lian malah kesal saat dia belum mengetahui siapa nama ayah Fellix. Lagipula apa haknya untuk tahu namanya? Yang ada Marcus akan menggodanya habis-habisan dan bisa dipastikan pria bawel itu mengadu pada Jungkook. Kalau Jungkook tahu dia menyukai seorang pria, jelas dia akan mendapat pidato panjang dari Jungkook yang Lian sudah hapal isinya.

Lian menatap nanar wajah Taehyung. Sebenarnya dia penasaran kenapa Taehyung bisa koma? Tapi sekali lagi. Dia baru saja mengenal Fellix. Dia sadar untuk tidak terlalu mencampuri urusan keluarga Fellix. Lagipula, setelah ayah Fellix sembuh, Lian yakin kalau dia tidak akan bertemu Fellix lagi. Tidak ada alasan bagi mereka untuk bertemu.

Hembusan nafas berat keluar dari mulut Lian. Dia menundukkan kepalanya. Menatap tangan Taehyung yang terpasang infus. Benar juga. Setelah ayah Fellix sembuh mereka tidak akan bertemu lagi. Lian akan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Kenapa Lian merasa tidak rela jika harus berpisah dengan Fellix? Selain itu tidak ada lagi alasan untuknya agar bisa melihat pria yang mampu membuat hatinya berdebar untuk pertama kalinya.

Lian tersentak kaget saat mendengar suara nyaring dari monitor pendeteksi jantung. Astaga! Apa yang terjadi? Lian bangkit dari duduknya untuk melihat apa yang terjadi.

Appa!” Tahu-tahu Fellix sudah memekik kaget dengan mata berkaca-kaca.

Lian tidak bisa berkata-kata dan hanya diam mematung sambil menatap kosong pria di depannya yang mulai megap-megap. Pikiran Lian melayang dan kosong. Setelahnya Lian tidak tahu apa yang terjadi karena dia sudah digeret Marcus untuk minggir dan membiarkan para dokter memeriksa keadaan Taehyung. Tunggu! Sejak kapan dokter masuk? Tanpa terasa tangan Lian bergetar dan jantungnya mulai berdetak kencang. Dia tidak ingin menyaksikan kematian seseorang lagi. Tidak.

“Kumohon bertahanlah! Demi Fellix. Kumohon!” Jerit Lian dalam hati. Lian tidak tahu kenapa dia sangat peduli dengan pria yang tidak dia kenal itu. Salah satu alasannya adalah karena Fellix. Dia tidak ingin Fellix kehilangan ayahnya. Dan… Dia masih ingin mengenal pria itu.

Pintu ruang inap ini kembali dibuka dengan kasar oleh Taejun yang tiba-tiba datang bersama Younbi dengan tergesa-gesa. Wajah Younbi sudah penuh air mata. Tangisnya pecah saat melihat beberapa dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruangan putranya dengan terburu-buru.

“Apa yang terjadi?” Tanya Younbi

“Kami tidak tahu, nyonya. Tiba-tiba saja seperti itu.” Jawab Marcus

“Astaga! Taehyung-a.” Younbi lemas dan beruntung langsung ditangkap Taejun. Kemudian Taejun menggiring Younbi untuk duduk di sofa.

Lian menundukkan kepalanya sambil menyatukan kedua tangannya. Dia tidak berhenti berdoa agar ayah Fellix dapat bertahan. Lian tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Fellix kalau ayahnya pergi disaat sebentar lagi bocah itu akan berulangtahun. Lian tidak ingin Fellix mengalami hal yang sama sepertinya. Lian tidak sadar kalau pipinya sudah basah oleh air mata. Bahkan dadanya mulai sesak karena suara dari monitor itu makin nyaring.

“Ya tuhan, kumohon jangan ambil ayah Fellix. Kumohon. Kasihan bocah malang itu.” Lian terus berucap dalam hati.

Marcus merangkul pundak Lian dan mengusap-usapnya. Dia tahu apa yang Lian rasakan. Makanya tadi dia langsung menyeret Lian menjauh dari Taehyung. Marcus sedikit takut kalau sepupunya ini tiba-tiba pingsan karena suara monitor yang masih berbunyi nyaring. Lian sangat takut dengan segala jenis suara seperti itu dan sirine. Karena kejadian sebelas tahun yang lalu, Lian mempunyai banyak ketakutan. Bayangkan saja seorang anak melihat kejadian menyeramkan di depan matanya.

“Kau harus terlihat kuat di depan Fellix. Dia membutuhkanmu, Li.” Bisik Marcus

Seketika Lian tersadar. Benar! Fellix. Astaga, dia melupakan Fellix karena terlalu kalut. Matanya mencari sosok Fellix yang ternyata berdiri kaku di samping Marcus. Hati Lian mencelos. Bahkan Fellix tidak menangis disaat kondisi ayahnya sedang kritis. Wajahnya tanpa ekspresi.

“Sstt. Jangan menangis. Kau hanya akan membuat Fellix takut.” Bisik Marcus lagi sambil menghapus air mata Lian.

Setelah dirinya cukup tenang, Lian mendekati Fellix yang tampak menatap kosong para dokter yang sedang memeriksa Taehyung. Lian jongkok di samping Fellix dan mengusap-usap kepala Fellix. Lian berusaha menahan air matanya yang mendesak ingin keluar demi untuk menguatkan Fellix. Malang sekali nasib bocah kecil ini. Dia harus melihat ayahnya berjuang.

Lian mendongakkan kepalanya saat merasakan usapan lembut di bahunya. Ternyata Marcus sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum hangat. Melihat senyum Marcus membuat Lian sedikit tenang. Pandangannya kembali pada Fellix yang masih diam mematung dengan tatapan kosong pada sosok ayahnya yang masih dikelilingi dokter.

Lian menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya berani untuk menenangkan Fellix. Tapi belum sempat Lian mengatakan sesuatu, Fellix lebih dulu berucap yang membuatnya makin sedih.

“Apa kali ini Appa akan pergi meninggalkan Fellix?” Lirih bocah kecil itu sambil menundukkan kepalanya.

Lian menelan ludahnya susah payah. Tidak. Dia tidak akan menangis lagi. “Fellix, ayahmu tidak akan kemana-mana. Percaya padaku kalau ayahmu akan bangun.” Lian berucap pelan sambil memaksakan senyum. Dia mengelus-elus rambut kecoklatan milil Fellix. “Kau jagoan, bukan? Jangan putus asa. Ayahmu akan bangun.” Ucap Lian lagi yakin.

Bahu Fellix bergetar menandakan kalau bocah itu menangis. Menangis tanpa suara. Dia sudah berusaha untuk menahannya tapi tetap tidak bisa. Fellix takut. Sangat takut kalau dia akan kehilangan ayahnya. Secara mengejutkan, Fellix langsung memeluk Lian. Menyembunyikan wajahnya pada bahu Lian. Fellix tidak pernah merasa senyaman ini saat bersama orang lain. Tapi dengan Lian entah kenapa dia merasa aman dan tenang.

Lian agak kaget saat Fellix tiba-tiba memeluknya. Dia bisa mendengar isak tangan Fellix dengan jelas. Lian tidak bisa untuk tidak menangis. Andai saja bisa Lian akan membuat ayah Fellix bangun agar bocah kecil ini tidak menangis. Lian tidak pernah merasakan sesakit ini hanya karena mendengar suara tangisan anak kecil. Fellix benar-benar sangat membawa dampak untuknya.

Everything will be fine, Fellix. Sstt! Jangan menangis, sayang. Kau membuatku sedih.” Bisik Lian sambil mengelus-elus kepala Fellix penuh sayang.

Taejun dan Younbi yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam. Mereka sama-sama berdoa dalam hati untuk keselamatan putranya.

“Taehyung-a, kumohon! Bertahanlah demi anakmu.” Ucap Taejun dalam hati sambil menatap putranya nanar.

Cukup lama para dokter itu memeriksa keadaan Taehyung, membuat mereka yang menunggu semakin cemas dan takut. Fellix sudah lebih tenang saat ini. Dia duduk di pangkuan Lian sambil memeluk leher Lian. Bocah itu kelelahan dan mengantuk tapi memaksakan diri untuk melihat ayahnya. Lian tidak henti-hentinya menghibur Fellix. Entah kenapa dia punya keyakinan besar kalau ayah Fellix akan sadar.

“Bagaimana bisa?” Ucap salah satu dokter tiba-tiba.

Mendengar ucapan dokter, Taejun dan Lian dengan Fellix di gendongannya langsung mendekati sang dokter. Suara monitor itu kembali normal.

Appa?” Lirih Fellix saat melihat ayahnya sudah membuka matanya. Dia langsung meminta untuk turun dari gendongan Lian dan mendekati ranjang Taehyung.

“Tuan, putra anda berhasil melewati masa kritisnya. Kami bahkan terkejut saat melihat putra anda sadar. Sepertinya dia ingin bertemu putranya.” Ucap dokter dengan senyum bahagia saat melihat pasiennya sadar.

Ucapan lega lolos dari.bibir Taejun dan Younbi. Younbi mendekati ranjang putranya. Dan benar. Taehyung sudah membuka matanya. Younbi tidak bisa menahan tangis bahagianya melihat Taehyung sadar. Dia menggenggam tangan Taehyung sambil terus mengucapkan terimakasih.

“Tapi kenapa dia hanya diam saja, dok?” Tanya Younbi saat menyadari kalau Taehyung tidak merespon.

Fellix langsung menatap dokter yang memeriksa ayahnya. Sejak tadi itu yang ingin dia tanyakan. Tapi mulutnya seolah terkunci. Dia terlalu bahagia karena ayahnya bangun. Fellix menggenggam tangan dingin Taehyung yang membuat Taehyung sedikit merespon karena sekarang dia menatap Fellix. Fellix tersenyum haru begitu ayahnya merespon.

Appa?” Panggilnya pelan.

“Hanya karena obat bius. Tidak akan lama. Dokter sebenarnya pasien ini akan kembali memeriksanya. Dia saat ini sedang memeriksa pasien lain. Kalau begitu, kami permisi.” Ucap dokter itu sambil menepuk pundak Taejun. Taejun dan Marcus membungkuk sambil mengucapkan terimakasih pada dokter dan para perawat yang sudah keluar dari ruangan ini.

Lian mematung di tempatnya. Matanya tidak lepas dari sosok yang menarik hatinya yang kini sudah membuka matanya. Jantung Lian berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat mata itu.

Indah.

**

“Sudah berapa lama dia sadar?” Tanya Jungkook pada perawat yang mengikutinya. Dia sedang menuju ruang VVIP tempat dimana pasiennya dirawat.

“Sekitar satu jam, dokter.” Jawab perawat itu.

Dia baru saja selesai melakukan operasi sehingga tadi saat ada panggilan emergency dia menyuruh rekan dokternya. Begitu dia selesai melakukan operasi yang memang tidak terlalu besar, Jungkook langsung bergegas menuju ruangan pasien VVIPnya. Dia lega karena pasiennya itu akhirnya bangun. Entah kenapa saat pertama kali melihat wajah pasiennya itu, Jungkook langsung merasa iba sehingga dia menjadi dokter pasien itu.

**

Suasana di kamar VVIP 27 saat ini berbeda dengan dua hari kemarin. Perasaan bahagia menyelimuti orang-orang yang berada di dalamnya. Bagaimana tidak? Orang yang mereka tunggu-tunggu agar cepat sadar kini sudah bisa berkomunikasi. Ditambah lagi dengan kelakuan polos seorang bocah kecil yang bisa dibilang menjadi orang yang paling bahagia.

Appa masih ingat Fellix, kan?” Pertanyaan polos itu tiba-tiba keluar dari bibir kecil Fellix. Bocah kecil itu masih belum percaya kalau ayahnya sudah sadar.

“Tentu saja. Kau putra Appa yang sangat nakal.” Jawab Taehyung sambil mengacak-acak rambut Fellix.

“Aku janji tidak akan nakal lagi, asalkan Appa tidak tidur lama sekali.” Ucap Fellix sambil menundukkan kepalanya.

Arraseo. Appa tidak akan tidur lama lagi.” Sahut Taehyung

Taehyung sangat senang karena dapat membuka matanya lagi. Dia akhirnya bisa kembali melihat orangtuanya dan putra kesayangannya. Taehyung bahagia. Apalagi melihat perubahan Fellix. Fellix banyak bicara dan tersenyum. Diapun sebenarnya penasaran kemana wajah dingin dan suara datar putranya?

Taejun dan Younbi hanya tersenyum tipis melihat keakraban Fellix dan Taehyung yang sudah lama tidak mereka lihat. Berbeda dengan Marcus dan Lian. Mereka hanya diam saja sambil melihat keluarga bahagia itu. Tentu saja mereka juga merasa bahagia. Terutama Lian. Dia sendiripun tidak tahu kenapa dia sangat senang melihat ayah Fellix sadar.

Noona, ahjussi! Kenapa diam saja? Kemarilah.” Ucap Fellix sedikit membuat Lian kaget.

Lian langsung salah tingkah saat tak sengaja dia bersitatap dengan Taehyung. Tatapannya sangat mengintimidasi. Ah! Jadi, Fellix mempunyai tatapan intimidasi itu dari Taehyung. Kalau dilihat dengan seksama, pasangan ayah dan anak itu benar-benar sama kalau saja bibir Fellix sesensual milik Taehyung. Bibir pria itu sangat menggoda kaum hawa untuk menciumnya.

Lian menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikiran liar itu mulai muncul. Pria itu membuatku kacau. Batin Lian sambil mendengus. Lian tidak pernah mengira kalau hanya karena tatapan intimidasi bisa membuatnya kalang kabut. Dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini agar pikirannya tidak kemana-mana. Di sampingnya, tampak Marcus yang sedang menahan senyum karena tingkah sepupu cantiknya itu. Melihat wajah gugup Lian saat pandangannya bertemu dengan Taehyung benar-benar menjadi hiburan untuk Marcus.

Hah! Marcus ingin segera pulang dan menceritakan hal ini pada dua sepupunya. Membayangkan bagaimana reaksi Jungkook saja sudah membuatnya geli. Sepupunya itu memang sangat protektif dalam menjaga Lian.

Noona! Jangan diam saja. Ayo sini! Kau harus berkenalan dengan Appa.” Tiba-tiba saja Fellix sudah di depan Lian dan menarik tangan Lian agar berdiri di dekat Taehyung.

Lian sama sekali belum siap. Kalau saja Fellix bukan anak kecil dan disini tidak ada orangtua Taehyung, sudah bisa dipastikan Lian akan mengeluarkan seluruh kamus umpatannya. Dia menatap Marcus dengan tatapan meminta tolong tapi Marcus kelihatan acuh dan mengangkat kedua bahunya. Lian hanya mendesah pasrah.

Kau bahkan tidak berani mengangkat kepalamu, Li! Memalukan! Jerit Lian dalam hati.

Appa, ini Lian noona. Temanku. Noona ini appa. Taehyung Appa.” Fellix memperkenalkan Lian pada ayahnya, begitu juga sebaliknya.

Taehyung mengamati dengan seksama gadis di depannya. Cantik. Manis. Itulah yang pertama kali terbesit di kepala Taehyung saat melihat Lian berada di dekatnya. Tunggu! Taehyung merasa ada yang aneh. Fellix. Ya! Taehyung tidak pernah melihat putranya tersenyum lebar seperti saat ini. Fellix juga bukan anak yang suka beradaptasi dengan orang asing. Taehyung yakin seratus persen kalau Fellix dan Lian baru saja bertemu karena dia juga baru pertama melihat Lian.

Appa! Aku tahu noona sangat cantik, tapi jangan melihatnya berlebihan.” Fellix membuyarkan lamunan Taehyung.

Mendengar ucapan polos membuat Taehyung dan Lian salah tingkah. Taejun dan Younbi saling berpandangan penuh arti melihat adegan di depan mereka. Pasangan suami istri itu sepertinya mempunyai pemikiran yang sama.

Mereka sangat cocok.

Taehyung mengulurkan tangannya pada Lian. “Kim Taehyung, ayah Fellix.” Ucap pria berhidung mancung itu.

Lian mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali saat melihat uluran tangan itu. Suaranya. Astaga! Lian benar-benar gila karena menganggap suara bariton Taehyung sangat seksi. Dengan ragu, Lian menerima uluran tangan itu. Seperti dialiri listrik. Lian dapat merasakan perutnya bergejolak. Jantungnya berdetak lebih kencang. Bahkan lidahnya terasa kelu.

Marcus menepuk jidatnya saat melihat Lian diam saja dengan wajah konyol. Mungkin setelah ini dia akan mengajari Lian agar terbiasa dengan orang yang disukai.

“Lian Jeon.” Sahut Lian pelan. Dia sangat gugup.

Taehyung sangat menikmati wajah merona alami Lian. Apa dia yang membuat Fellix berubah? Dia tidak sadar kalau tangannya masih menggenggam tangan Lian. Tangan Lian terasa pas digenggamannya.

Appa! Lepaskan tangan noona!” Seru Fellix sambil melepaskan tangan Taehyung yang masih menggenggam tangan Lian. Dia menatap ayahnya sebal.

Ditengah situasi canggung antara Lian dan Taehyung, ponsel Taejun tiba-tiba berbunyi. Taejun menyingkir sebentar untuk mengangkat telepon.

Aigooo Tuan Muda Kim sudah bisa merajuk sekarang.” Ucap Taehyung gemas sambil mengacak-acak rambut Fellix.

“Jangan menggodanya, Tae.” Younbi yang sejak tadi hanya diam kini angkat suara.

Taejun kembali setelah selesai menerima telepon. Tapi wajahnya terlihat cemas.

“Ada apa, yeobo?” Tanya Younbi agak gusar saat melihat wajah cemas sang suami.

Aboeji sakit. Kita harus kesana sekarang.” Jawab pria berumur setengah abad itu.

“Tapi bagaimana dengan Taehyung?”

Eomma, aku baik-baik saja. Haraboeji lebih membutuhkan kalian. Pergilah. Aku akan menyuruh Hobie Hyung untuk menemaniku.” Taehyung menyela percakapan antara kedua orangtuanya.

“Fellix ikut kami, ya?” Taejun beralih pada cucunya. Tidak sesuai harapan, Fellix menggeleng dengan tegas.

“Aku ingin bersama Appa.” Ucap bocah kecil itu.

“Tak apa, Appa. Biarkan Fellix disini. Biar dia bersama noona nanti.” Ucap Taehyung

“Tidak bisa. Sohyun sudah dalam perjalanan kesana bersama suaminya.” Taejun menjawab cepat.

“Aku tidak mau ikut!” Seru Fellix dengan wajah kesalnya.

“Hey, boy! Jangan seperti itu.” Lian menegur Fellix yang baru saja membentak kakeknya.

“Maaf, tuan. Begini saja. Fellix bisa bersama kami kalau kalian mengijinkan. Saya akan jamin kalau dia akan aman.” Marcus tiba-tiba menginterupsi.

“Cho!” Lian memekik kaget. Dia menatap Marcus protes. Tapi Marcus malah mengabaikannya.

Sebenarnya Lian tidak masalah kalau Fellix ikut bersamanya. Tapi bagaimana dengan Jungkook dan Taehyung? Lagipula kenapa tiba-tiba Marcus bersedia menjaga Fellix? Memangnya mereka tidak mempunyai keluarga lain di Seoul? Sementara itu, Taejun dan Younbi tampak berpikir. Sepertinya memang ide yang bagus. Menguntungkan bagi Fellix tentunya.

“Baiklah, nak. Kami percaya dengan kalian. Kami tidak punya saudara di Seoul. Semua keluarga berada Daegu dan Busan.” Putus Taejun akhirnya.

Mendengar jawaban sang kakek langsung membuat Fellix tersenyum lebar. Dia berlari mendekati kakek dan neneknya lalu memeluk mereka. Lain halnya dengan Taehyung. Dia masih bingung akan sesuatu. Kenapa Fellix seakan menurut kata-kata dua orang asing itu? Sebenarnya apa saja yang terjadi selama dia koma? Fellix terlihat sangat akrab dengan mereka.

Akhirnya mau tidak mau Lian menyetujui usul Marcus. Toh tidak ada salahnya kalau Fellix ikut bersamanya. Masalah Jungkook akan dia urus. Lagipula dia bisa punya kesempatan untuk bertemu Taehyung.

“Jaga dirimu baik-baik, Taehyung-a. Kami tidak akan lama.” Ucap Taejun pada putranya.

Sementara itu Younbi tampak mendekati Lian. “Nak, jaga putra dan cucuku. Aku tidak tahu kenapa sangat mempercayaimu tapi kumohon aku titip mereka.” Ucap wanita paruh baya itu sambil menggenggam tangan Lian.

“Aku akan menjaga mereka, nyonya.” Sahut Lian dengan senyum hangatnya.

Taehyung dibuat tertegun oleh pemandangan di depannya. Benar-benar sesuatu telah terjadi saat dia koma. Dan sekarang Fellix bahkan kedua orangtuanya sangat akrab dengan gadis bermata biru itu. Setelah kedua orangtuanya berpamitan dan keluar dari kamar rawatnya, suasana menjadi sepi. Tidak ada yang bicara.

Taehyung menatap ketiga orang di depannya bergantian. Banyak sekali yang ingin dia ketahui. Kemudian tatapannya beralih pada Fellix. Taehyung masih tidak menyangka kalau Fellix berubah sangat pesat. Bocah itu menjadi lebih banyak bicara dan tersenyum. Tidak ada lagi wajah dinginnya. Sebenarnya Taehyung senang karena putranya kembali menjadi anak kecil pada umumnya. Tapi di kepalanya masih banyak pertanyaan.

Tatapan Taehyung beralih pada gadis yang membuatnya terkejut karena sifat keibuannya. Dia masih ingat cara Lian menegur Fellix tadi. Apa benar gadis itu yang membuat Fellix berubah? Kalau iya, Taehyung akan sangat berterimakasih. Keningnya berkerut saat melihat Lian dan pria di sampingnya sedang melempar isyarat dengan tatapan mata. Dia berusaha menahan senyumnya saat melihat wajah menggemaskan Lian yang tengah mempelototi pria itu.

Perhatian keempat manusia itu tertuju pada pintu saat mendengar pintu terbuka. Muncullah sosok pria berjas putih bersama seorang perawat wanita. Lian dan Marcus membulatkan mata mereka saat mengetahui siapa sosok berjas putih itu. Jeon Jungkook. Dia berjalan tergesa-gesa mendekati Taehyung tanpa sadar kalau adik dan sepupunya juga disitu.

Marcus dan Lian saling bertatapan. Benarkah itu Jungkook? Mereka kembali menatap Jungkook yang saat ini sibuk menginterogasi pasiennya. Selang beberapa menit, pintu kembali terbuka dan muncullah sosok pria yang seumuran dengan Taehyung. Pria itu tampak melempar senyum pada Lian dan Marcus dan mendekati Taehyung dan Fellix.

“Hipotesisku memang selalu benar. Aku tahu kau akan sadar hari ini.” Ucap Jungkook setelah selesai memeriksa Taehyung. Dia bahkan sudah tidak lagi memakai bahasa formal. Hanya berbicara layaknya teman.

“Terimakasih, dok. Aku tahu putraku sedang menunggu.” Sahut Taehyung sambil mengelus-elus kepala Fellix.

“Bagaimana keadaannya, dok? Apa otaknya masih berfungsi?” Tanya seseorang yang tiba-tiba datang.

Hyung!

“Paman!”

Ayah dan anak itu memekik girang dengan panggilan berbeda. Hoseok atau yang akrab dipanggil Hobie itu hanya menunjukkan cengirannya.

“Hai, Fellix.” Sapanya pada Fellix.

“Hai, paman.” Sahut Fellix dengan senyum lebarnya. Hoseok sampai terkejut saat melihat senyum Fellix. Mungkin karena ayahnya sadar makanya dia senang.

“Jadi bagaimana, dok?” Hoseok kembali bertanya pada Jungkook.

Hyung! Yang tertembak itu perutku!” Sungut Taehyung

“Maka dari itu! Kau orang gila yang mendapat dua peluru di perutnya.” Balas Hoseok sambil melepas kacamatanya dan disangkutkan pada saku kemejanya.

“Tolong jangan banyak bergerak, tuan. Perawat akan datang setiap sore untuk mengganti perban. Kalau begitu saya permisi.” Pamit Jungkook

“Terimakasih, dok.” Ucap Fellix dengan senyum manisnya.

Jungkook hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Fellix. Diapun berbalik untuk keluar dari kamar rawat Taehyung. Namun begitu dia berbalik, matanya langsung membulat lebar saat melihat dua orang yang sangat dia kenal berdiri di depannya.

Baby?!” Pekik Jungkook sambil berjalan mendekati Lian dengan langkah cepat.

Taehyung, Hoseok, dan Fellix sangat terkejut saat mendengar Jungkook memekik keras. Bukan hanya mereka. Tapi juga perawat yang bersama Jungkook tadi. Tapi bukan itu saja yang membuat mereka terkejut. Melainkan panggilan Jungkook yang ditujukan pada Lian. Tunggu! Baby? Apa mereka sepasang kekasih? Itulah yang pertama kali mereka pikirkan.

“Ternyata sudah memiliki kekasih. Benar-benar pasangan serasi.” Ucap Taehyung dalam hati. Namun di kalimat keduanya dia menggunakan nada sewot.

Fellix langsung menunduk sedih saat mendengar panggilan yang ditujukan Jungkook pada Lian. Dia sering melihat di drama kalau seseorang yang memanggil baby itu sepasang kekasih atau suami-istri. Dia tidak akan rela jika Lian sudah dimiliki orang lain. Sama halnya dengan Fellix. Perawat itu sedih dan senang secara bersamaan. Sedih karena idola para perawat sudah memiliki kekasih dan senang karena dia menjadi satu-satunya yang tahu kalau atasannya tersebut sudah memiliki kekasih. Dia bisa pamer dengan para penggemar Jungkook.

Kembali lagi pada Jungkook. Dia sangat kaget melihat Lian dan Marcus berada di tempat yang sama dengannya. Dia tidak tahu kalau Lian maupun Marcus berteman dengan pasiennya. Lian juga tidak memberitahunya kalau dia akan datang.

“Kau… Apa yang kau lakukan disini? Dan kau! Kenapa mau menurutinya untuk keluar? Seharusnya kau menolak.” Jungkook langsung menyalahkan Marcus.

“Seandainya kau tahu bagaimana caranya membawaku keluar.” Sahut  Marcus cuek.

Jungkook kembali menatap Lian.  Dia menuntut penjelasan dari adiknya. “Kenapa kau kesini? Bagaimana pekerjaanmu? Kenapa kau meninggalkan pekerjaanmu?” Tanya Jungkook beruntun. Dia sepertinya lupa tempat.

Fellix mendengus sebal saat mendengar pertanyaan beruntun dari Jungkook. Dia tidak suka Jungkook. Jungkook sudah mengambil miliknya.

“Apa aku harus punya alasan untuk menemui orang yang aku rindukan.” Jawab Lian sambil tersenyum miring. Dia melipat tangannya di depan dada.

So sweat.” Gumam Hoseok sambil menggigit jarinya. Taehyung yang mendengarnya hanya mendesis sebal.

“Apa mereka sedang pamer kemesraan disini? Menyebalkan.” Gerutu Taehyung dalam hati sambil menatap sebal Jungkook dan Lian.

“Aku serius, baby!

“Aku juga, Jeon Jungkook.” Balas Lian cuek.

“Ah! Bukan sepasang kekasih tetapi suami-istri.” Ucap Taehyung dalam hati saat tahu kalau mereka mempunyai marga yang sama.

Bukan hanya Taehyung yang beranggapan seperti itu. Tapi perawat itu juga. Dia memekik girang. Akan menjadi hot news di rumah sakit ini saat semua orang tahu presiden direktur mereka sudah beristri.

“Selesaikan urusan kalian di tempat lain. Bukankah pasien membutuhkan ketenangan, Presdir Jeon?”  Marcus menampilkan seringainya yang dihadiahi kedipan dari Lian.

Jungkook mendengus sebal dan langsung menarik Lian untuk diajak ke ruangannya tanpa mempedulikan semua orang yang menatap mereka bingung. Marcus menghela nafas. Pasti setelah ini Lian akan diinterogasi Jungkook. Marcus baru sadar kalau dia saat ini tengah menjadi pusat perhatian. Pasti mereka salah paham dengan hubungan Lian dan Jungkook.

“Mereka sepupuku. Maafkan kelakuan mereka.” Ucap Marcus ditengah kecanggungan yang terjadi.

“Jadi mereka saudara?” Tanya Hoseok retoris.

Marcus mengangguk. “Kakak beradik yang terlihat seperti suami-istri memang.” Jawabnya asal.

Mendengar ucapan Marcus kalau Lian dan Jungkook yang hanya kakak-adik, rupanya membuat sedikit perasaan Taehyung lega. Berbeda dengan Fellix. Bocah itu masih kesal karena panggilan yang ditujukan Jungkook untuk Lian. Kalau kakak-adik kenapa memanggil baby? Pikirnya.

Marcus nampaknya menyadari wajah kesal Fellix. Bocah kecil itu benar-benar sangat menyukai Lian. Terbukti saat dia mencium kening Lian tadi dan saat Jungkook memanggil Lian dengan panggilan baby. Sebenarnya apa yang membuat Fellix sangat menyukai Lian? Marcuspun heran. Sepupunya yang bar-bar, bermulut tajam, dan manja itu bisa membuat hati para anak kecil luluh. Tapi memang Lian bisa membuat siapa saja merasa nyaman. Marcus akui itu. Diapun juga. Maka dari itu keinginan untuk menjaga dan melindungi Lian sangatlah besar.

**

“Jelaskan!” Hardik Jungkook saat dia sudah membawa Lian ke ruangannya. Ruangan presiden direktur.

Lian tidak langsung menjawab. Dia melenggang menuju sofa empuk berwarna abu-abu itu dan merebahkan tubuhnya. Sebenarnya dia hanya bingung ingin menjelaskan dari mana.

“Lian Jeon?” Ucap Jungkook tidak sabar.

Lian menatap kakaknya sebal. Kalau Jungkook sudah memanggil nama panjangnya itu artinya Jungkook sangat kesal. Tapi apa yang membuatnya kesal? Seharusnya Lian yang kesal karena Jungkook pergi tanpa pamit. “Kau bisa sabar tidak, sih?” Sewot Lian

Jungkook menghela nafas panjang lalu duduk di samping Lian. Langsung saja dia merangkul pundak Lian posesif. Astaga, Jeon Jungkook! Dia benar-benar seperti seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya.

“Kau terlihat sangat kesal denganku. Kenapa? Apa karena aku menyeretmu kesini dan kau tidak bisa melihat pasienku? Sebenarnya kalian ada hubungan apa? Kenapa kau bisa ada disi-”

Oh god! Jung, please! Aku akan menjelaskan semuanya. Dan ya! Aku kesal padamu karena kau pergi tanpa berpamitan denganku.” Lian memotong ucapan Jungkook dengan kesal.

Jungkook mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Dia menunggu sampai akhirnya adiknya itu mau bercerita. Tapi Lian hanya diam saja sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Melihatnya malah membuat Jungkook semakin penasaran. Dan, ya. Memang tadi pagi dia tidak berpamitan dengan Lian. Siapa yang tega mengusik tidur nyenyak Lian yang jarang sekali Jungkool lihat? Dia bahkan hanya membuka pintu kamar Lian setelah itu langsung menuju rumah sakit karena ada operasi darurat.

Oppa?” Lian memanggil kakaknya pelan.

Mendengar Lian memanggilnya dengan nada lembut sontak membuat Jungkook menoleh dan mengangkat sebelas alisnya. Bertanya melalui tatapan matanya yang berkata kenapa? Setahu Jungkook, Lian bukan gadis yang suka basa-basi.

“Apa kau akan marah kalau bocah yang tadi berada di ruangan pasienmu menginap di rumah kita?” Tanya Lian hati-hati. Takut kalau Jungkook tidak mengijinkan. Kalaupun tidak mengijinkan, Lian tetap akan membawa Fellix ke rumahnya. Jangan lupa kalau Lian gadis nekat yang tidak suka dibantah.

“Jangan basa-basi! Katakan yang sesungguhnya!” Ucap Jungkook tegas. Dia tidak suka Lian yang terlalu mengulur waktu.

Lian menghembuskan nafasnya panjang. Lalu dia menceritakan semuanya pada Jungkook. Dari saat pertama kalinya dia melihat Fellix kemarin, kemudian pertemuannya dengan Fellix hari ini hingga akhirnya dia bisa berada di ruangan itu dan terakhir Fellix yang ditinggal kakek dan neneknya ke Daegu. Semuanya dia ceritakan tanpa terkecuali. Ah! Tidak untuk ketertarikannya dengan Taehyung. Akan panjang urusannya jika dia menceritakan tentang pria itu.

Jungkook mendengarkan penjelasan adiknya dengan serius. Dia bisa melihat raut kesedihan saat Lian bercerita tentang Fellix yang sudah kehilangan ibunya. Sama seperti mereka. Dan Jungkook bisa menyimpulkan kalau Lian sudah jatuh cinta dengam bocah kecil itu. Dia tahu kalau adiknya mempunyai rasa sayang yang besar pada anak kecil. Apalagi Fellix yang bernasib sama dengannya.

“Tidak masalah. Aku juga menyukai Fellix.” Ucap Jungkook akhirnya.

Senyum di wajah Lian merekah. Dia baru akan berterimakasih saat kemudian Jungkook berkata, “Lalu siapa yang akan mengurus mereka? Kau harus bekerja. Begitu juga dengan Marcus dan Aiden. Anna? Aku tidak yakin gadis manja itu mau.”

Lian terdiam. Benar juga. Kenapa Marcus tidak berpikir sejauh itu? Dia lupa kalau sekarang sudah menjadi wanita sibuk. Pekerjaan menantinya dan dia tidak bisa menunda mereka.

“Tidak bisakah aku menyerahkan pekerjaanku pada Aiden untuk sementara waktu?” Gumam Lian putus asa.

Jungkook mengelus-elus rambut Lian. “Aku akan menyuruh Yoongi Hyung menjaga Fellix selama pulang sekolah.”

“Tapi, oppa, Fellix tidak suka bersosialisasi dengan orang asing.” Sahut Lian cepat. Masih jelas di ingatannya pertemuan pertama Marcus dan Fellix tadi siang.

Okay. Aku tetap akan bekerja. Tapi saat jam tiga, aku akan kesini untuk mengecek keadaannya. Kalau perlu aku akan membawa pelerjaanku kesini. Fellix akan kubujuk untuk bisa bersama Yoongi Oppa.” Putus Lian

“Oh, baby. Kau benar-benar mengagumkan. Saat-saat seperti ini aku malah ingin menjadikanmu istriku.” Sahut Jungkook sambil mencubit pipi Lian gemas.

“Urusi saja para penggemarmu! Apa kau selalu berpenampilan seperti ini? Penampilanmu ini bisa membuat para wanita meneteskan air liur. Kau ini sengaja atau tidak, sih?” Ucap Lian sebal sambil mengancingkan satu kancing kemeja Jungkook yang terbuka.

“Aku sudah terbiasa seperti ini, baby!” Jungkook hendak membuka kembali kancing bajunya. Namun Lian langsung memukul tangannya dan menunjukkan wajah tidak setujunya.

“Akan kubunuh wanita-wanita yang berani menggodamu.” Desis Lian dengan tatapan tajamnya.

**

Karena hari sudah larut, Jungkook dan Lian memutuskan untuk pulang setelah banyak berbincang-bincang di ruangan Jungkook. Mereka tidak hanya berdua. Tapi juga dengan Jimin meskipun tidak lama karena Jimin harus memeriksa pasiennya. Jungkook sudah memarahi Jimin karena mengatakan hal yang tidak-tidak di depan para perawat dan dokter. Beruntung Lian membela Jimin yang memang tidak tahu kalau Marcus adalah sepupunya.

Sepanjang perjalan menuju parkiran, Jungkook dan Lian selalu berpas-pasan dengan dokter lain yang kebanyakan dokter senior. Jungkook memperkenalkan Lian kepada mereka sebagai adiknya. Dan melihat hal itu secara langsung jelas membuat Lian merasa bangga dan senang. Dia bangga mempunyai kakak yang hebat dan cerdas seperti Jungkook. Diusianya yang masih muda Jungkook bisa menjadi dokter sekaligus memimpin rumah sakit milik keluarganya tersebut.

“Astaga!” Pekik Lian sambil menepuk jidatnya saat dia ingat sesuatu.

“Kenapa?” Tanya Jungkook sambil menghentikan langkahnya dan menatap Lian heran.

“Tasku dan mantelku tertinggal di ruangan Taehyung. Aku akan mengambilnya sebentar.” Jawab Lian dan pergi begitu saja meninggalkan Jungkook.

Jungkook membiarkan adiknya mengambil tasnya sendiri. Lagipula dia lelah kalau harus ikut mengambilnya. Diapun menunggu di dalam mobil tanpa tahu kalau seseorang mengikuti Lian.

**

Lian berhenti di depan ruangan Taehyung. Bahkan dia masih berada di luar ruangan tapi jantungnya sudah berdetak kencang. Tangannyapun gemetar saat hendak menyentuh knop pintu. Dia persis seperti remaja labil yang baru jatuh cinta yang hendak menemui pujaan hatinya. Kau hanya perlu masuk, mengambil tasmu, lalu pergi. Batin Lian berkata seperti itu. Tapi tubuhnya seolah kaku untuk sekedar digerakkan.

Lian menghembuskan nafas panjang berkali-kali. Berusaha menormalkan detak jantungnya dan menghilangkan rasa gugupnya. Tangannya sudah memutar knop pintu. Sangat pelan. Diapun masuk ke dalam ruangan Taehyung dengan perasaan yang tidak karuan. Sepi. Dimana Marcus dan Fellix? Jangan katakan kalau dia hanya sendirian!

Mendengar suara pintu dibuka membuat Taehyung mengalihkan pandangannya dan handphone ke arah pintu. Dia sedikit terkejut saat melihat Lian yang masuk sendirian. Namun sedetik kemudian dia sudah memasang senyumnya. Berusaha menghilangkan segala perasaan aneh yang tiba-tiba melandanya.

Lian hampir memekik kaget saat mendapati Taehyung yang ternyata sedang menatapnya dengan senyuman. Astaga! Senyum itu justru membuat Lian semakin gugup. Hatinya meleleh dan dia rasa kakinya sudah akan berubah menjadi jeli. Kenapa senyum bisa membawa dampak yang begitu hebat?

Good evening.” Sapa Lian sambil sedikit membungkuk dan memamerkan senyum manisnya. Dan Lian baru merasa kalau sapaannya barusan terdengar sangat konyol. Dia merutuki dirinya sendiri yang mengucapkan selamat sore. Memangnya dia petugas toko?

Lian berjalan canggung masuk ke ruangan VVIP itu. Tatapan Taehyung tidak lepas dari Lian. Seolah siap menerkamnya kapan saja dia mau. Dan itu membuat Lian makin tidak karuan. Taehyung berusaha menahan senyumnya saat melihat wajah gugup gadis manis itu. Lian mempunyai wajah yang enak dipandang.

Sangat terasa suasana canggung di dalam ruangan itu. Baik keduanya masih belum ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Lian yang sedang sibuk menutupi kegugupannya sedangkan Taehyung masih menikmati wajah gugup Lian yang membuatnya semakin cantik. Saking gugupnya, Lian sampai lupa apa tujuannya kemari. Dia melupakan sugestinya yang segera mengambil tas lalu pergi. Yang ada sekarang dia sibuk mengatur detak jantungnya.

“Sepupumu sudah pergi bersama Fellix untuk mengambil keperlian Fellix selama di rumahmu.” Taehyung akhirnya membuka pembicaraan. Matanya masih tidak lepas dari Lian.

“Aku kesini untuk mengambil tasku.” Sahut Lian yang saat itu langsung sadar apa tujuannya kemari. Diapun segera mengambil tasnya yang berada di atas sofa.

Lian mengecek isi tasnya. Bukan dia curiga kalau barang-barangnya akan hilang. Kalaupun hilang, tentu Lian tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Marcus yang sangat suka mengambil ponselnya untuk membajak akun SNSnya. Sepupunya yang satu itu memang tidak diragukan lagi kejailannya. Sikapnya tidak mencerminkan usianya yang sudah dua puluh delapan.

Masih ada. Ponselnya juga masih ada. Namun dia tetap mengecek ponselnya. Dan ternyata ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Aiden dan Anna. Apa ada sesuatu yang penting? Tanpa mempedulikan Taehyung yang masih menikmati wajahnya, Lian menekan speed dial nomor 6 yang langsung terhubung dengan Aiden. Lian kembali mengobrak-abrik tasnya guna mencari tabletnya.

Taehyung mengerutkan keningnya saat melihat gadis di depannya yang mendadak sibuk sendiri. Dan, sial! Wajah seriusnya benar-benar seksi di mata Taehyung. Taehyung yakin ada yang aneh dalam dirinya. Tidak mungkin koma selama dua hari membuat otaknya sedikit geser.

“Ada apa? Aku tidak bisa kembali ke kantor karena ada situasi mendesak.”

Ucapan Lian membuyarkan lamunan Taehyung. Dan dia kembali melihat Lian yang sibuk dengan tabletnya. Dia penasaran seperti apa gadis di depannya ini? Apa yang membuatnya begitu sibuk? Dan… Apa yang istimewa dari Lian hingga putra dinginnya bisa luluh?

No! Aiden, I know you can handle that! Sekretaris Park bisa membantumu. Aku tidak suka bernegosiasi.” Ucap Lian yang masih sibuk dengan tablet di tangannya. Banyak sekali email masuk dari Jinyoung dan Aiden tentang beberapa proposal pengajuan kerja sama bersama perusahaannya. Melihatnya saja membuat Lian pusing.

“Aiden, tidakkah kau kasihan padaku? Aku baru saja kembali dari Swiss. Bisakah kalian membiarkanku bernafas paling tidak tiga hari?” Lian terdengar frustasi karena Aiden tetap memaksanya untuk mau bertemu dengan CEO dari salah satu perusahaan yang menginginkan kerja sama dengannya.

Taehyung tidak bisa lagu menutupi senyumnya. Menarik. Benar-benar menarik. Terlihat sekali kalau gadis di depannya ini seorang tipikal yang tegas. Tapi dia sedikit penasaran. Apa yang dia lakukan di Swiss? Dan mendengar ucapan Lian bersama seseorang di ujung telepon membuat Taehyung yakin kalau dia bukan gadis main-main.

“Terserah!” Lian mengakhiri panggilannya dengan kesal. Dia memasukkan ponselnya dengan asal dan juga tabletnya. Saat itu juga dia baru sadar kalau masih berada di ruang rawat Taehyung. Dia menatap Taehyung yang sedang menatapnya dengan heran.

“Maaf. Kau pasti terganggu.” Ucap Lian kikuk.

“Tak apa.” Sahut Taehyung singkat. Dia berusaha menghilangkan rasa gugupnya karena ketahuan tengah menatap Lian.

“Kalau begitu aku pergi sekarang. Tenang saja. Fellix akan aman bersamaku.” Ucap Lian sambil menyampirkan tasnya ke lengannya.

“Ah, ya. Terimakasih sebelumnya.” Sahut Taehyung kikuk. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Aku senang bisa membantu. Hope you better soon, Tuan Kim.” Balas Lian sambil sedikit membungkukkan badannya. Kemudian dia keluar dari kamar rawat Taehyung.

Taehyung masih menatap kepergian Lian sampai pintu kamar rawatnya tertutup. Rasa penasaran Taehyung akan sosok Lian makin besar. Dia ingin tahu apa yang dilakukan Lian hingga bisa meluluhkan hati Fellix yang sudah sedingin kutub selatan. Taehyung yang statusnya ayah saja tidak bisa mencairkan hati Fellix.

Apapun yang dilakukan Lian, Taehyung sangat berterimakasih. Dan mulai sekarang dia harus belajar berbicara lancar di depan Lian. Gadis itu sungguh membuat Taehyung kacau. Kata-katanya hilang semua.

Mimpi itu sangat nyata.

.

.

.

.

.

.

To  be continue~

Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 3


Fool For You Part 3

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

“Apa yang kau lakukan disini sendirian, boy?” Tanya Lian mencoba menutupi rasa gugupnya.

Fellix kembali menundukkan wajahnya. Seolah enggan menanggapi Lian. Lian hanya mengangkat sebelah alisnya karena diabaikan oleh Fellix. “Siapa yang menjemputmu?” Tanya Lian lagi.

“Eomma.” Lirihnya sambil menggenggam ponselnya erat. Lian semakin dibuat bingung dan sedih dalam waktu yang bersamaan.

“Apa Eommamu sudah datang? Kalau belum, aku akan menemanimu.”

“Eomma tidak akan datang.” Sahut Fellix cepat.

Lian mendelik kaget. Apa maksudnya? Sejenak Lian menatap Marcus yang menunggu di mobil. Dia memberi isyarat agar menunggunya sebentar.

“Eomma sudah meninggal.”

Story Begin~

Mendengar tiga kalimat itu langsung membuat Lian mematung seketika. Suara bising di sekitarnya tidak bisa tertangkap indera pendengarannya. Pandangan Lian kosong. Pikirannya kacau. Tiga kalimat yang terucap dari bibir seorang bocah lima tahun yang berhasil membuat Lian kacau. Hati dan pikirannya. Semua ingatan kelam sebelas tahun silam kembali memenuhi kepalanya. Sekali lagi, sebuah kenyataan pahit menghantamnya cukup keras.

Lena sudah meninggal mengenaskan di depan matanya dengan genangan darah dimana-mana. 

Eomma sudah meninggal.

Tiga kalimat itu terus berputar di kepala Lian. Nada datar dan wajah sedih seorang bocah lima tahun di depannya menjadi pusat perhatiannya saat ini. Air mata sudah menggenang di sudut matanya. Jeritan Lena bercampur suara petir, bunyi pedang yang saling beradu, gemuruh hujan, dan suasana gelap itu kembali memenuhi kepala Lian. Tatapan sayu Lena dan hembusan nafas terakhirnya. Lian hampir gila setiap kali mengingat kejadian itu. Dia berulang kali memaki tindakan heroik Lena malam itu.

Seharusnya mereka kabur atau bersembunyi. Bukan malah Lena yang menyembunyikannya di bawah ranjang dan bertarung dengan para penjahat itu. Lian selalu menyalahkan dirinya yang tidak bisa membantu Lena. Disaat Lena sedang bertaruh dengan nyawanya untuk melindunginya, justru dia hanya menyaksikan sambil menangis.

Entah sejak kapan air mata sialan ini jatuh. Lian bahkan tidak sadar kalau saat ini dia masih berada di tempat umum. Seluruh perhatiannya hanya terpusat pada bocah malang di depannya yang tengah menundukkan kepalanya sambil mengusap-usap layar ponselnya. Membayangkan bocah sekecil Fellix yang sudah tidak mempunyai ibu membuat Lian makin merasakan nyeri di dadanya. Hingga sebuah spekulasi itu muncul di kepalanya begitu saja.

Mungkinkah senyum bocah lima tahun ini hilang karena kepergian ibunya? Kepergian ibunya pasti juga membawa serta senyum Fellix sehingga Fellix hanya menampilkan wajah dinginnya. Pasti Fellix sangat kesepian. Diumurnya yang masih kecil seharusnya dia bisa merasakan bagaimana diantar dan dijemput oleh sosok ibu tapi Fellix bahkan tidak pernah merasakannya sekalipun.

Lian merasa kecil seketika. Dia lebih beruntung dari Fellix. Tapi dia tidak lebih kuat dari bocah kecil itu. Lian hanya sibuk menyalahkan diri sendiri dan menghindar dari ketakutan. Bukannya menerima kenyataan. Tangan Lian terulur untuk mengelus-elus rambut coklat Fellix. Rasa ingin berada di samping Fellix tiba-tiba saja muncul. Lian ingin mengembalikan senyum Fellix.

Merasakan sebuah usapan hangat di kepalanya, Fellix langsung mendongakkan wajahnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Lian menangis. Fellix langsung menangkup wajah Lian dengan tangan mungilnya. “Noona? Kenapa noona menangis?” Tanyanya cemas.

Lian tidak dapat menahan senyumnya melihat wajah cemas Fellix. Bagus. Dia bisa melihat ekspresi Fellix yang lain. Lian memegang tangan kecil Fellix yang menangkup wajahnya sambil menghapus air matanya. “Aku teringat dengan Mom.” Jawab Lian jujur sambil berusaha memaksakan senyum.

“Pasti Fellix membuat noona sedih.” Ujar Fellix pelan sambil mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Lian. “Dimana ibu noona?” Tanya bocah kecil itu kemudian.

Mendengar pertanyaan Fellix membuat Lian harus kembali menahan air matanya yang siap meledak. Dia harus kuat. “Mom sudah meninggal.”

Fellix sedikit membulatkan matanya begitu mendengar ucapan Lian. Kemudian terlihat jelas sekali wajah penyesalan dari Fellix. “Mianhae, noona. Aku tidak bermaksud membuat noona menangis.” Lirihnya sambil menundukkan kepalanya.

Lian tersenyum tipis melihat penyesalan dari Fellix. Dia mengusap-usap kepala Fellix membuat Fellix kembali mendongak menatapnya. “I’m fine, boy. Hey! Jangan merasa bersalah.”

“Tapi noona menangis. Aku tidak suka melihat noona menangis.” Sahut Fellix masih dengan wajah penyesalannya. Lian bahkan dibuat gemas melihatnya. Fellix terlihat lebih tampan jika ekspresif.

Sudah hampir setengah jam Marcus menunggu sepupunya itu di dalam mobil. Diapun masih bingung ada hubungan apa Lian dengan bocah kecil itu sampai Lian rela turun dari mobil. Seingatnya Lian tidak mempunyai teman di Korea karena memang ini hari pertama Lian di Korea setelah beranjak dewasa. Jadi mana mungkin Lian punya hubungan dengan bocah lima tahun itu. Dia mengenal Lian dengan baik dan hampir semua teman-teman Lian dia tahu.

Siapapun bocah itu, Marcus tidak terlalu mau ambil pusing. Matanya tetap awas memperhatikan suasana sekitar. Suasana ramai seperti ini biasanya akan mudah bagi musuh untuk memata-matai atau parahnya berbuat jahat. Jadi, Marcus tetap harus siaga dibantu beberapa kawannya yang berada tak jauh dari mobilnya.

Marcus kembali mengawasi Lian. Sebuah senyum tipis terbit dari bibir tebalnya. Lian benar-benar penyayang anak kecil. Lian bisa tersenyum lebar ketika bersama anak kecil. Seumur hidupnya, Marcus tidak pernah menemukan manusia berhati mulai dan mempunyai jiwa sosial tinggi seperti Lian Jeon. Jiwa sosial Lian tidak main-main. Apalagi dengan anak kecil dan manula. Lian sangat ringan tangan. Bahkan Jungkook sampai takut kalau Lian dimanfaatkan karena saking baiknya.

Marcus baru akan memejamkan matanya saat matanya menangkap sesuatu yang membuatnya melotot kaget. Ini buruk! Apa yang terjadi sampai membuat Lian menangis di depan umum? Bagi siapapun yang mengenal Lian dengan baik -seperti Jungkook, Frank, Anna, Aiden, dia, Kate, Jin, dan teman-teman dekat lainnya- tidak ada yang lebih buruk dari melihat Lian menangis. Mereka sangat tahu bagaimana terpuruknya gadis itu saat kematian Lena hingga membuat Lian harus terbaring di rumah sakit selama tiga hari dengan vonis tifus.

Marcus memakai kaca mata hitamnya dan turun dari mobil. Pekikan dari para gadis langsung terdengar begitu Marcus keluar dengan penampilan yang bisa membuat pada gadis meneteskan air liur. Marcus tidak mempunyai waktu untuk meladeni mereka. Dia melangkah lebar mendekati Lian.

“Siapa yang menjemputmu? Kenapa kau disini sendirian?” Tanya Lian begitu sadar kalau Fellix hanya seorang diri.

“Aku memang sendiri. Noona mau pergi kemana?” Jawab dan tanya balik Fellix.

“Li? Are you okay?” Pertanyaan Marcus menginterupsi pembicaraan Lian dan Fellix. Dia memegang pundak Lian dan menatap Lian cemas.

Lian balas menatap Marcus dengan tatapan protes seolah mengatakan, ‘bukankah aku bilang tunggu sebentar?’. Tapi sarkasmenya tersebut tidak membuat kecemasan Marcus berkurang. Bahkan dia tidak peduli dengan tatapan protes Lian. Sementara itu Fellix tampak menatap Marcus dengan tatapan tidak suka. Dia tidak suka Marcus yang tiba-tiba datang dan mengganggu pembicaraannya dengan Lian.

Tatapan Marcus beralih pada bocah kecil di samping Lian yang menatapnya dingin. Rasa sebal langsung saja menyerangnya. “Kau yang membuat Lian menangis?” Todongnya dengan wajah segarang mungkin.

“Ya, Marcus!” Lian memukul lengan Marcus.

Fellix memutar bola matanya malas. Dia balas menatap Marcus tanpa rasa takut sedikitpun. “Kau siapa?” Tanyanya datar.

Marcus tercengang mendengar pertanyaan singkat bocah lima tahun itu. Bagaimana bisa bocah sekecil itu tidak takut dengannya? Dan bagaimana bisa dia mati kutu hanya karena pertanyaan dingin dari seorang bocah lima tahun? Lian spontan menutup mulutnya agar tawanya tidak menyembur begitu melihat wajah tercengang Marcus. Baru kali ini seorang Marcus Cho atau Cho Kyuhyun dibuat tidak bisa berkata-kata.

Tentu saja Lian tidak lupa kalau Marcus mempunyai rasa tidak suka yang teramat besar pada makhluk polos tak berdosa yang bernama anak kecil.

Mereka merepotkan.

Sebuah alasan tidak masuk akal dari seorang Marcus. Diusianya yang dua puluh delapan, seharusnya Marcus sudah bisa menggendong bayi. Tapi nyatanya pada makhluk tak berdosa itu saja Marcus sangat tidak menyukainya.

“Ya! Kau…”

“Fellix, dia sepupuku. Namanya Cho Kyuhyun.” Lian memotong ucapan Marcus. Dia sedikit memberikan pelototan pada Marcus untuk menjaga sikapnya pada anak-anak.

Diam-diam Fellix bernafas lega mendengar kalau pria itu ternyata sepupu Lian. Bukan seseorang yang Fellix tidak harapkan. Kekasih mungkin. Karena entah mengapa sejak pertama kali melihat Lian, Fellix langsung ingin menjadikan Lian sebagai seseorang yang bisa selalu dekat dengannya. Yang jelas hanya menjadi miliknya seorang.

Beralih dari Fellix yang berhasil membuatnya tercengang beberapa saat, Marcus kembali menatap Lian cemas. Dia menangkup kedua pipi Lian. Membuat Lian mendelik kaget. “Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Siapa yang menyakitimu?” Tanya Marcus beruntun.

Lian mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Dia melihat ke sekelilingnya dan sadar kalau saat ini tengah menjadi pusat perhatian. “Aku baik-baik saja. Dan lepaskan tanganmu. Kita dilihat banyak orang.” Desis Lian geram.

Marcus melihat sekitarnya dan langsung meringis saat tahu kalau mereka menjadi pusat perhatian. Diapun melepaskan tangannya dari pipi Lian. Sementara itu Lian hanya bersungut-sungut karena dia menjadi pusat perhatian saat ini. Pasti mereka mengira kalau dia dan Marcus suami-istri sedangkan Fellix anak mereka.

Lian sudah kebal menjadi kekasih bayangan Marcus. Dia selalu dikira kekasih Marcus karena memang saat di kampus dulu mereka selalu bersama. Berangkat, pulang, makan, dan melakukan aktivitas lain bersama-sama. Apalagi sikap Marcus yang sangat protektif dan jail membuat anggapan kalau mereka sepasang kekasih semakin kuat. Dan Lian harus menjadi bulan-bulanan para penggemar Marcus. Dia mendapat teror dimana-mana.

Marcus memang playboy cap kadal. Dia suka tebar pesona. Berbeda dengan Aiden yang kalem dan berwibawa. Membuat pria itu juga menjadi idola di universitasnya. Marcus dan Aiden memang beda universitas.

“Tunggu saja di mobil.” Ucap Lian kesal.

“Oke! Dan kau anak kecil! Jangan membuat Lian menangis.” Marcus berucap sewot pada Fellix.

“Ya! Kau harus ber-”

Ucapan Lian terhenti seketika saat dia merasakan ciuman hangat di keningnya. Pekikan heboh dari para gadis yang melihat langsung terdengar. Dengan gerakan slow motion Lian mendongakkan kepalanya menatap Marcus yang tersenyum miring menatapnya. Mulut Lian masih setengah terbuka.

“Memberi mereka tontonan sedikit sepertinya menyenangkan.” Bisik Marcus sambil mengacak-acak rambut Lian. Lalu dia meninggalkan Lian yang masih membeku di tempatnya.

Marcus tersenyum penuh kemenangan melihat wajah shock Fellix dan Lian. Desas-desus dari para gadis tentang betapa romantisnya dia masih terdengar. Dan itu membuat Marcus semakin besar kepala. Sementara itu Fellix juga masih tampak kaget setelah melihat adegan beberapa detik yang lalu. Benarkah mereka bersaudara? Itulah yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

Lian seolah tersadar dari lamunannya. Dia memberikan death glare pada Marcus. Aish! Sekarang dia benar-benar menjadi pusat perhatian. Lihat! Bahkan beberapa gadis menatapnya sinis. Marcus benar-benar keterlaluan. Memang dasar playboy ulung. Tidak cukup dengan para gadis di luar sana, sekarang suadaranya juga dirayu.

Lian beralih menatap Fellix yang masih tampak kaget. What the…!!! Fellix yang masih kecilpun melihatnya. Sekarang apa yang harus Lian katakan padanya? Lian menghembuskan nafas panjang dan berusaha tersenyum.

“Benarkah kalian hanya bersaudara?” Tanya Fellix tiba-tiba.

“Ya?” Lian spontan memekik. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Marcus memang seperti itu. Lupakan saja.” Jawab Lian kikuk.

Fellix beralih menatap Marcus sebal. Dia tidak terima kalau Lian dicium orang lain.

“Fellix, dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang.” Lian mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku tidak ingin pulang.” Ucap Fellix pelan sambil menundukkan kepalanya. Detik itu juga layar handphone Fellix berkedip tanda ada panggilan masuk. Tapi Fellix tidak langsung menjawab panggilan itu. Hanya memandanginya sendu.

“Kenapa tidak dijawab?” Tanya Lian sambil memegang pundak Fellix. Sekilas dia membaca nama ‘Haraboeji‘ tertera di layar ponsel Fellix. Pasti kakek Fellix kawatir.

“Bagaimana kalau kau ikut kami saja? Kau tidak boleh pergi sendirian di tempat ramai. Kakekmu pasti sangat kawatir sekarang.”

Fellix mengangkat kepalanya dan menatap Lian dengan ekspresi tak terbaca. Namun kemudian bocah lima tahun itu berdiri dan menggandeng tangan Lian. Menandakan kalau dia menerima ajakan Lian. Lian tersenyum senang dan langsung menuju mobil bersama Fellix.

**

Di tempat lain, Taejun tampak sangat kawatir karena Fellix tidak bisa dihubungi. Cucunya itu tiba-tiba menghilang saat supir menjemputnya. Dan saat ini Fellix tidak menjawab telepon darinya. Semua guru, teman-teman Fellix, dan Sohyun, kakak Taehyung, juga sudah Taejun hubungi. Tapi mereka tidak tahu keberadaan Fellix.

Fellix masih kecil jika harus berkeliaran sendiri di tempat ramai. Bocah itu tidak pandai berkomunikasi. Taejun takut kalau Fellix akan dibawa orang jahat. Cucunya masih sangat polos untuk tahu dunia luar yang kejam. Taejun sudah memerintahkan beberapa orang-orang kepercayaannya untuk ikut mencari Fellix. Tapi sampai saat ini belum ada kabar baik.

Younbi tak kalah cemasnya. Bahkan wanita paruh baya itu sudah menangis sejak supir mereka memberitahu kalau cucunya tidak ada di tempat murid menunggu jemputan. Younbi sangat takut kalau cucunya diculik oleh pesaing bisnis Taehyung. Hal itu bisa saja terjadi mengingat kondisi Taehyung yang seperti ini juga karena mereka. Kalau Taehyung tahu putranya hilang pasti dia akan sangat marah.

Yeobo, apa belum ada kabar?” Tanya Younbi lagi.

“Bersabarlah. Fellix akan baik-baik saja.” Jawaban yang sama yang diberikan Taejun saat Younbi bertanya.

Jawaban itu tidak membuat Younbi lebih baik. Justru dia semakin takut kalau tebakannya benar. “Cucuku…” Gumam Younbi sambil meremas-remas jarinya.

“Halo?” Younbi langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara suaminya menjawab telepon. Dia langsung mendekati Taejun.

“Astaga! Apa Fellix baik-baik saja, nak?” Tanya Taejun

Younbi menatap suaminya penasaran. Apa Fellix baik-baik saja?

“Lalu dimana dia sekarang?” Tanya Taejun lagi. Dia memberikan isyarat pada sang istri kalau Fellix baik-baik saja. Younbi sedikit bisa bernafas lega. Setidaknya Fellix baik-baik saja.

“Fellix sedang membeli makanan, sir. Kami akan ke rumah sakit setelah ini.”

“Syukurlah kalau Fellix bersamamu. Terimakasih, nak. Kami sangat takut kalau terjadi hal buruk pada Fellix. Tapi sekarang aku lega karena Fellix bersama gadis baik sepertimu.” Ucap Taejun

“No problem, sir. Aku senang bisa bertemu Fellix.”

“Kalau begitu kami tunggu kedatangan kalian. Sekali lagi terimakasih.”

Taejun bernafas panjang setelah sambungan telepon terputus. Dia menatap Younbi dengan senyum lebar. “Gadis itu benar-benar istimewa.”

**

Lian memasukkan ponsel Fellix ke dalam tasnya. Kakek Fellix pasti sangat kawatir tadi. Pandangan Lian beralih pada Fellix yang sedang membeli makanan bersama Marcus di sebuah restoran. Saat sedang menunggu mereka, tiba-tiba saja ponsel Fellix yang tertinggal bergetar. Tanpa pikir panjang Lian langsung mengangkat panggilan itu. Dia tidak mau membuat kakek Fellix semakin kawatir.

“Seminggu lagi aku ulangtahun tapi Appa belum bangun. Setiap kali aku pulang aku ingat Appa. Aku takut kalau Appa tidak bangun. Fellix memang tidak pernah menuruti kata Appa, tapi Fellix sangat mencintai Appa.”

Lian masih ingat ucapan Fellix tadi. Wajah sedih dan takut dari seorang bocah lima tahun. Lian semakin merasa ingin menjaga Fellix dan membuat bocah itu tersenyum. Bagaimanapun juga Lian pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan dan takut. Dan perasaan itu juga dirasakan Fellix yang masih kecil.

Ucapan Fellix tadi juga membuat seorang Marcus luluh dengan anak kecil. Wajah kasihan Marcus pada Fellix masih Lian ingat betul. Hingga akhirnya kedua pria berbeda umur itu berada di restoran menunggu makanan pesanan mereka. Marcus tiba-tiba saja mengajak Fellix untuk membeli es krim yang kemudian langsung disetujui Fellix. Lian sengaja menolak untuk ikut turun dengan alasan lelah. Padahal dia ingin mengakrabkan Marcus dengan Fellix.

Lamunan Lian terbuyar saat mendengar teriakan Marcus. Rupanya mereka sudah selesai membeli makanan.

“Hey, anak nakal! Jangan berlari! Kau bisa jatuh.” Tegur Marcus pada Fellix yang sedang berlari menuruni tangga.

Mendengar teguran Marcus, Fellix langsung berhenti. Dia menunggu Marcus tiba di sampingnya. Tangannya memegang sebuah es krim cone rasa coklat yang hampir meleleh. Sedari tadi Fellix ingin menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Namun ragu.

Ahjussi!” Panggil Fellix

“Apa?” Sahut Marcus ketus.

“Kenapa ahjussi mencium noona? Bukankah kalian bersaudara?” Tanya Fellix dengan wajah sedikit kesalnya.

Marcus yang mendengar pertanyaan Fellix spontan tertawa. Dia sudah menduga kalau Fellix akan bertanya seperti itu. Lalu dia jongkok di depan Fellix dan mengacak-acak rambut Fellix gemas. “Aku menciumnya karena menyayanginya.” Jawab Marcus

“Tapi kenapa harus mencium?” Tanya Fellix sewot.

“Ada tiga jenis ciuman. Kening, pipi, dan bibir. Ciuman di kening menandakan kalau kau menyayanginya. Tapi kalau ciuman di bibir dan pipi menandakan kalau kau mencintainya.” Jawab Marcus enteng. Seolah sedang menjelaskan pada teman sebayanya. Padahal yang saat ini bersamanya adalah Fellix. Seorang bocah lima tahun. Dan Marcus membicarakan ciuman dan cinta.

Fellix mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak paham sama sekali. “Memangnya cinta dan sayang berbeda?” Tanya Fellix lagi. Dia melupakan es krimnya yang susag mencair dan mengotori tangannya.

“Sayang itu perasaan yang dimiliki semua orang. Misalnya kau menyayangi Lian. Tapi cinta-”

“Apa kalian akan membuatku menunggu lama?”

Seruan Lian memotong pemjelasan Marcus. Dan hal itu membuat Fellix sedikit kecewa. Dia masih penasaran akan satu hal itu.

“Nah, tuan putriku sudah menunggu. Kau harus cari tahu sendiri apa itu cinta. Kau akan menemukan jawabannya dengan mudah. Tapi, jangan tanyakan pada Lian. Aku bisa masuk rumah sakit kalau kau bertanya padanya. Arraseo?” Marcus mengacak-acak rambut Fellix gemas. “Kajja!” Seru Marcus sambil menggandeng tangan Fellix.

**

Tidak membutuhkan waktu lama, merekapun sampai di rumah sakit. Mereka langsung berjalan beriringan menuju lantai dua puluh enam tempat para pasien VVIP dirawat. Sepanjang lobi, mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit dan beberapa perawat. Tak sedikit yang berdecak iri dengan keharmonisan mereka. Mereka berpikir kalau mereka adalah keluarga.

Lian mencoba untuk mengabaikan tatapan para pengunjung rumah sakit. Dia hampir gila karena mendengar bisikan mereka yang malah terdengar seperti jeritan bagi Lian. Kalau saja bukan di tempat umum, Lian sudah dapat memastikan kalau wajah Marcus yang selalu diagung-agungkan para kaum hawa itu hancur.

Ingin rasanya Lian cepat sampai di ruangan tempat ayah Fellix dirawat. Setelah itu dia ingin menemui Jungkook dan mengadu perbuatan Marcus padanya. Selain itu dia ingin protes karena Jungkook pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.

Terlalu banyak berpikir membuat Lian tidak sadar kalau dia sudah berada di depan pintu kamar VVIP 27. Kemudian Marcus membuka pintu itu. Seperti dugaan Lian. Di dalam ada kakek dan nenek Fellix dan seorang pria seumuran Jimin terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya. Seperti judulnya. Kamar VVIP ini memang sangat luas dan dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap. Hanya manusia berdompet tebal yang dapat berada di kamar mewah ini.

Marcus dan Lian membungkuk hormat sambil mengucapkan salam kepada kakek dan nenek Fellix. Merekapun masuk ke dalam kamar itu. Suara nyaring pendeteksi jantung itu langsung terdengar.

“Fellix sayang! Kau dari mana saja? Astaga!” Nenek Fellix langsung mendekati Fellix dan memeluknya. “Kau tidak terluka, kan? Tidak ada yang menyakitimu? Cucuku! Halmoei sangat takut kau kenapa-napa.” Younbi memeluk Fellix dengan erat.

Mianhae, halmoeni. Aku janji tidak akan mengulangi lagi.” Ucap Fellix pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Sudah kubilang cucuku akan baik-baik saja.” Taejun mengusap-usap kepala Fellix gemas.

Younbi berdiri dan beralih mendekati Lian. Lalu wanita paruh baya itu memeluk Lian tiba-tiba. Membuat Lian sedikit kaget.

“Terimakasih, nak. Terimakasih sudah membawa cucuku dengan selamat.” Ucap Younbi

Dengan canggung, Lian mengelus-elus punggung Younbi sambil berbisik sama-sama. Berada dalam pelukan nenek Fellix tiba-tiba saja membuat Lian ingat dengan Lena. Lagi. Matanya sudah memanas dan kalau berkedip sekali saja, Lian yakin air matanya akan keluar. Marcus langsung menggelengkan kepalanya saat tahu kalau sepupunya itu akan menangis.

Halmoeni, jangan memeluk noona terlalu lama. Noona bisa sesak nafas.” Celetuk Fellix yang kemudian membuat Younbi melepas pelukannya pada Lian dan menatap Fellix dengan mata berkaca-kaca.

Benarkah yang baru saja berbicara padanya Fellix? Cucunya? Nyatakah yang saat ini dia lihat? Younbi kembali melihat wajah berbinar Fellix setelah tiga tahun kematian Yomi, ibu Fellix. Selama ini Fellix tidak pernah bicara lebih dari tiga kata kepada siapapun. Bahkan bocah lima tahun itu tidak pernah mau menatap lawan bicaranya saat bicara. Tapi kali ini Younbi melihat sesuatu yang berbeda dari cucunya.

Younbi tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengelus-elus kepala Fellix. Dalam hatinya dia sangat berterimakasih karena cucunya kembali seperti dulu.

“Apa itu ayahmu? Kau tidak menyapanya?” Marcus berusaha mencairkan suasana dengan bertanya pada Fellix.

Mendengar pertanyaan Marcus, sontak seluruh perhatian langsung tertuju pada sosok pria yang terbaring tanpa terusik sedikitpun. Fellix berjalan mendekati ayahnya dan langsung menggenggam tangan Taehyung. Keempat manusia dewasa itu juga ikut mengelilingi ranjang Taehyung.

Appa, mianhae karena aku pulang terlambat. Tapi aku baik-baik saja. Aku juga mengajak teman baruku. Appa harus bangun agar aku bisa mengenalkan Appa pada Lian noona.” Ucap Fellix sambil menatap ayahnya dengan sedih. Lian yang mendengar ucapan Fellix hanya tersenyum pilu.

Appa, Lian noona sangat baik dan cantik. Bahkan dia juga mengantar Fellix sampai sini. Appa akan menyesal kalau tidak melihat Lian noona.” Kali ini Fellix berbicara dengan wajah binar. Bocah lima tahun itu terlihat antusias saat menceritakan sosok Lian.

Siapapun yang mendengar ucapan Fellix pasti akan langsung merasa iba. Bahkan Younbi tidak bisa lagi menahan air matanya saat melihat cucunya berceloteh panjang lebar pada Taehyung. Di sampingnya, Taejun mengelus-elus pundak Younbi. Menenangkan istrinya. Marcus dan Lian nampaknya juga merasakan hal yang sama dengan Younbi. Lian bahkan hanya menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat pemandangan di depannya.

“Putraku, cepatlah sadar. Kau harus melihat putramu tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia. Kau harus segera sadar, nak. Demi putramu.” Ucap Younbi dalam hati.

“Taehyung-a, tidakkah kau ingin melihat senyum manis putramu? Putramu bisa tersenyum lagi. Dia menemukan kebahagiaannya, Taehyung-a. Cepatlah sadar. Kau harus melihat gadis pembawa kebahagiaan Fellix.” Ucap Taejun dalam hati.

“Nak, apa aku bisa merepotkan kalian lagi?” Taejun memecah keheningan. Dia menatap Lian dan Marcus bergantian.

“Jangan sungkan, tuan. Kami memang  sedang membolos kerja.” Jawab Marcus sambil sedikit bergurau. Dia melirik Lian yang tampak tidak fokus.

“Kami akan makan siang sebentar. Bisakah kalian menjaga putraku dan Fellix sebentar?” Tanya Taejun

“Tentu, tuan. Kami akan menjaga mereka.” Jawab Marcus

“Terimakasih, nak. Kalau begitu kami pergi dulu.” Ucap Taejun

Marcus membungkukkan badannya sebelum pasangan suami istri itu pergi. Kemudian pandangannya beralih pada sepupunya yang tampak tidak fokus. Dia menghela nafas panjang saat tahu kalau Lian fokus menatap pada sosok di depannya yang terbaring di ranjang. Diapun memutuskan untuk duduk di sofa sampai Lian tersadar dari lamunannya.

Marcus bukan orang awam mengenai cintai dan teman-temannya. Dia tahu arti tatapan Lian. Tatapan yang tidak lepas dari sosok itu dan berhasil menyedot perhatiannya.

Lian tidak tahu apa yang terjadi padanya. Semua inderanya tidak berfungsi dengan baik saat matanya melihat wajah pucat dari pria di depannya yang masih terpejam.  Pusat perhatiannya tertarik pada Taehyung yang bahkan masih dalam posisi koma. Lian dapat melihat kalau Fellix mempunyai bentuk hidung dan mata yang sama dengan ayahnya. Semua yang ada pada wajah Taehyung tergambar sempurna. Bibir tebalnya, hidung mancung, rahang tegas, dan bola mata yang tertutu itu. Pasti di dalamnya mempunyai warna yang indah.

Lian menggeleng-gelengkan kepalanya saat mulai berkhayal yang tidak-tidak. Mana mungkin dia tertarik pada pria yang bahkan sedang koma? Lian tidak pernah merasa penasaran pada pria. Dia tidak pernah terang-terangan menatap pria. Tapi kali ini seorang pria yang bahkan sedang koma mampu menyedot perhatiannya.

Noona?” Panggil Fellix sambil menarik kemeja Lian.

Entah karena suara Fellix yang terlalu kencang atau memang reaksi Lian yang berlebihan. Tapi yang jelas Fellix memanggilnya tidak terlalu kencang. Lian terlalu fokus memperhatikan Taehyung hingga dia sangat kaget saat Fellix memanggilnya. Dia bahkan memegang dadanya karena saking kagetnya.

“Ya?” Sahut Lian gugup sambil mengusap-usap kepala Fellix.

Di tempatnya, Marcus menahan tawanya melihat ekspresi Lian yang gugup karena kedapatan Fellix sedang melihat ayahnya. Marcus yakin setelah ini akan ada sesuatu yang terjadi pada Lian.

Noona melamun? Apa yang noona pikirkan?” Tanya Fellix polos.

“Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa. Ah! Bukankah kau belum makan siang? Ayo makan dulu.” Lian mengalihkan pembicaraan dan segera menggandeng tangan Fellix untuk bergabung bersama Marcus.

“Apa noona mau menyuapi Fellix?” Tanya Fellix sambil menatap Lian penuh harap.

“Tentu saja.” Jawab Lian sambil membuka makanan yang dibeli Marcus dan Fellix tadi.

**

“Jeon Jungkook!” Seru Jimin dambil membuka ruangan dokter Jungkook dengan kasar.

Jimin mengumpat kala tidak mendapati Jungkook di ruangannya. Dia menelusuri ruangan Jungkook yang lebih luas dari ruangannya. Lagi-lagi Jimin mengumpat saat sadar kalau ruangan Jungkook memiliki fasilitas lengkap. Bahkan ruangannya tidak memiliki kulkas dan sofa empuk seperti yang dimiliki Jungkook. Mungkin setelah ini dia akan minta kulkas untuk ruangannya.

Kembali lagi pada Jimin. Pria berwajah baby face itu membuka kamar mandi di ruangan ini dengan kasar tanpa peduli apa di dalam ada orang atau tidak. Di kamar mandipun tidak ada sosok yang dia cari. Dengan langkah terburu-buru, Jimin keluar dari ruangan Jungkook dan mencari di tempat lain.

Sial. Saat ada berita penting saja Jungkook sangat sulit ditemukan. Pria yang lebih muda darinya dua tahun itu memang mempunyai kesibukan yang tiada duanya.

Jimin mendekati sekumpulan perawat dan dokter yang sedang bergosip di meja resepsionist.

“Oh, Dokter Park! Ada apa? Kau terlihat terburu-buru?” Tanya salah satu dokter.

“Kalian lihat Jungkook?” Tanya Jimin tanpa basa-basa dan tanpa dosa.

Bukannya langsung menjawab, para perawat dan dokter itu malah saling bertatapan. Benarkah Jimin mengatakan Jungkook? Presdir mereka? Orang yang paling dihormati di rumah sakit ini?

“Apa maksudmu Presdir Jeon?” Tanya salah satu perawat.

Jimin menatap perawat itu geram. “Terserah kalian memanggilnya siapa! Kalian lihat Jungkook tidak?” Tanyanya lagi jengkel.

Sekali lagi mereka saling berpandangan. Kenapa dia? Pikir mereka dalam hati. Dari sekian banyak dokter baru kali ini mereka menemukan dokter seperti Jimin yang cenderung tidak mau tahu dan terkesan kurang ajar. Bahkan baru saja dia memanggil presdirnya hanya dengan nama.

Bohong kalau mereka tidak takut dengan Jimin. Pasalnya ayah Jimin adalah salah satu dokter senior terbaik sekaligus ketua manager di rumah sakit. Siapa yang berani main-main dengan anak orang penting rumah sakit ini? Tapi sekalipun Jimin adalah anak dari ketua manager rumah sakit ini, tetap saja Jimin harus hormat dengan presdirnya. Ayahnya saja sangat menghormati Jungkook. Kenapa Jimin tidak?

Jimin mulai hilang kesabaran saat yang dia mintai jawaban hanya diam saja. “Ya! Kalian mendengarku tidak?” Serunya

“Itu…” Jawab perawat yang lain sambil menunjuk ke belakang.

Jimin berbalik dan melotot sebal saat melihat Jungkook baru saja keluar dari ruang operasi. “Ya! Jeon Jungkook!” Serunya sambil berjalan cepat menghampiri Jungkook yang sedang melepas masker, kaus tangan, dan jas operasinya.

Para perawat dan dokter yang mendengar bagaimana Jimin memanggil Jungkook hanya memekik kaget. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati agar dokter muda satu itu bisa tetap bekerja di rumah sakit ini.

Jungkook berjingkat kaget saat mendengar namanya dipanggil dengan nyaring. Dia mengelus-elus dadanya dan menatap jengkel pada Jimin yang sudah berada di depannya dengan nafas ngos-ngosan.

“Ada apa, Dokter Park?” Tanya Jungkook berusaha terlihat wibawa.Bukan berusaha. Memang perawakannya sudah wibawa.

“Aku tahu kalau Lian hanya gadis polos dan baik. Dan aku juga tahu kalau kau sangat menjaga Lian. Tapi-”

Hyung! Bisakah langsung pada intinya?” Potong Jungkook sebal.

Dia takut terjadi sesuatu pada Lian karena wajah Jimin yang terlihat sangat serius.

Para perawat dan dokter tampak dibuat terkejut lagi saat mendengar Jungkook memanggil Jimin dengan sebutan hyung. Apa mereka sedekat itu hingga hanya berbicara informal? Banyak sekali yang ada di kepala mereka.

Kenapa mereka sangat akrab?

Siapa Lian?

Apakah presdir punya kekasih?

“Aku melihat Lian.”

“Dimana?” Potong Jungkook lagi. Wajahnya memperlihatkan ketidaksabarannya.

Apa yang dilakukan Lian di rumah sakit? Kenapa tidak ada satupun orang yang memberitahunya?

Jungkook mendengus sebal saat Jimin tidak kunjung menjawabnya. Diapun menendang kaki Jimin.

“YA! KAU! ARGH SIALAN!” Pekik Jimin sambil mengangkat kakinya yang baru saja ditendang Jungkook.

Entah sudah berapa kali para perawat dan dokter dibuat dengan kelakuan Jimin? Apa Jimin baru saja mengatai atasannya?

“Aku melihat Lian kesini bersama seorang pria dan bocah kecil! Apa Lian sudah menikah dan mempunyai anak? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Lian sudah meni-”

“Apa?! Ya! Kau ini bicara apa? Lian belum menikah dan punya anak!” Potong Jungkook sebal. Sahabatnya ini sepertinya butuh psikiater. Bahkan Jungkook tidak pernah mendengar kalau Lian menyukai seorang pria.

Mereka nampaknya tidak sadar kalau sedang menjadi pusat perhatian. Beberapa tampak berdecak kagum karena bisa melihat ekspresi kesal Jungkook yang semakin membuat pria bergigi kelinci itu tampan. Tapi mereka juga masih dibuat penasaran dengan sosok yang saat ini dua pria itu bicarakan.

“Kalau tidak percaya, tanya saja pada Lian! Aku merasa dikhianati, tahu?!” Sungut Jimin lalu berlalu begitu saja dari hadapan Jungkook.

“Ya, Park Jimin! Kau masih hutang penjelasan padaku!” Teriak Jungkook kesal.

Jimin tidak menjawab dan hanya melambaikan tangannya.

“Kau kupecat!”

“Aku sangat berterimakasih!” Balas Jimin

.

.

.

.

.

To be continue~

Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 2


Fool For You Part 2

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Angst, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

Entah kemana perginya pikiran Lian. Setelah Jin keluar dari kamarnya, tiba-tiba langkahnya tertarik pada meja sudut kamarnya. Tepatnya di dalamnya. Lian membuka laci itu perlahan hingga matanya menangkap sebuah kotak berwarna biru dongker dengan garis-garis putih yang lumayan besar. Lian mengambil kotak itu dengan tangan bergetar.

Nafas Lian tercekat saat tutup kotak itu sudah terbuka. Di dalamnya masih tetap sama. Dress pink magenta hadiah ulangtahun Lena masih tersimpan disitu. Juga bando dan topi pemberian Lena lima hari sebelum kejadian mengenaskan itu. Buku bersampul balon dan bunga sakura yang di dalamnya terdapat tulisannya dan Lena. Yang terakhir foto keluarganya yang diambil lima belas tahun yang lalu di sebuah taman bermain. Di dalam foto itu mereka benar-benar terlihat layaknya keluarga bahagia.

Sebenarnya Lian benci mengingat kejadian itu. Tapi setiap kali melihat sesuatu yang berhubungan dengan Lena, kejadian itu muncul dengan sendirinya. Lian tidak tahu sejak kapan wajahnya sudah penuh air mata. Dadanya sesak. Rasa marah, dendam, rindu, dan menyesal selalu menghantuinya. Bayangan Lena berjuang membuka mata dan bertahan agar bisa terus bernafas sambil menatapnya masih terus melintasi kepala Lian.

“I love you, darling. Jadilah wanita kuat dan tetap sayangi Dad dan Oppamu.”

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Lena sebelum akhirnya mata teduh itu tertutup untuk selamanya. Malam itu, Lian hanya bisa menjerit tertahan dengan deraian air mata. Dia kehilangan ibunya. Mataharinya. Darah yang memenuhi lantai kamar orangtuanya dan juga samurai penuh darah itu masih tetap bersarang dalam ingatan Lian.

Lian menekan dadanya yang terasa sangat sesak. Dia berusaha mengatur nafasnya. Kemudian dia berjalan menuju balkon kamarnya sambil kembali memasang headset di telinganya. Hanya dengan mendengarkan musik Lian dapat menenangkan pikirannya. Dia terus menghembuskan nafas panjang. Berharap agar air matanya mau berhenti mengalir. Namun bukannya berhenti, justru air matanya semakin deras mengalir.

Lena. Mom. Lian sangat merindukan Lena. Melebihi apapun. Bahkan sudah terhitung sejak kejadian itu, Lian tidak pernah mengunjungi makam Lena. Lian hanya terlalu takut.

Sebuah tangan lagi-lagi mendarat di pundak Lian. Dengan cepat Lianpun menghapus air matanya dengan kasar. Hal yang tidak ia sukai adalah saat orang lain melihatnya menangis. Lian anti menunjukkan air matanya di depan orang. Lian menoleh dan mendapati Jungkook tengah menatapnya pilu. Lian berusaha memaksakan senyum.

“Kau sudah pulang? Kenapa sampai malam?” Lian berusaha menyembunyikan raut sedihnya. Dia melepas sebelah headset yang masih terpasang di telinganya dan memeluk Jungkook. “Aku menunggumu.” Lirih Lian sambil membenamkan wajahnya pada dada bidang Jungkook.

Jungkook hanya tersenyum miris sambil mengelus-elus rambut Lian. Sesekali menciumnya. Adik kecilnya. Hati Jungkook sesak melihat senyum palsu Lian. Lebih baik dia melihat Lian menangis sampai meraung-raung daripada harus melihatnya pura-pura tegar. Menanggung semuanya sendiri. Jungkook merasa tidak berguna sebagai seorang kakak. Disaat orang-orang di luar sana selalu menceritakan beban masalahnya kepada orang lain, Lian justru memilih memendamnya sendiri.

Lagi. Setetes air mata keluar dari sudut mata Jungkook. Jungkook sudah berjanji bahwa apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan Lian. Hidupnya hanya untuk membuat Lian bahagia.

Jungkook menyeka air matanya. Lian saja bisa sekuat ini. Dia sebagai kakak, apalagi laki-laki, harus lebih kuat dari Lian. “Kenapa belum makan?” Tanya Jungkook sambil mengelus-elus kepala Lian.

“Aku tidak lapar. Lagipula aku menunggumu.” Jawab Lian sambil mengangkat kepalanya. Menatap wajah kelelahan Jungkook. “Kau pasti sangat kelelahan.” Lanjut Lian sambil mengelus-elus pipi Jungkook.

“Tidak lagi karena sudah melihatmu. Sebaiknya kau makan malam dulu. Maagmu bisa kambuh.” Ucap Jungkook sambil memegang tangan Lian yang berada di pipinya. Diapun langsung menarik Lian untuk menuju ruang makan.

“Tapi aku tidak mau makan sendiri.” Lian menghentikkan langkahnya membuat Jungkook berhenti.

“Aku akan menemanimu. Jangan banyak alasan! Aku tidak mau mengurus bayi besar yang sedang sakit karena malas makan.” Sahut Jungkook geram sambil kembali menarik Lian.

Lian memang suka mengabaikan jam makan. Padahal dia penderita maag akut. Apalagi Lian penggemar kopi. Jungkook maupun Frank sampai kewalahan untuk mengingatkan Lian agar tidak lupa makan. Dan salah satu hal yang dibenci Lian adalah saat dia harus makan sendiri. Maka dari itu Lian memilih untuk tidak makan daripada harus makan sendiri.

“Apa Jin Oppa masih disini?” Tanya Lian saat mereka menuruni tangga. Hanya anggukan yang diberikan Jungkook.

“Penggemarmu juga ada disini.” Ucap Jungkook sambil menunjuk seorang pria yang sibuk dengan laptop di depannya. Dia adalah Kim Yugyeom. Penggemar Lian sejak Lian masih menginjak bangku sekolah dasar.

“Gyeomi Oppa!” Pekik Lian senang sambil berlari ke arah Yugyeom.

Merasa namanya dipanggil, Yugyeom langsung menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke sumber suara. Wajahnya terlihat sumringah saat melihat Lian berlari ke arahnya. Di tempatnya, Jungkook hanya tersenyum tipis melihat Lian yang terlihat sangat senang bertemu orang-orang terdekatnya. Jungkook bersyukur karena banyak yang menyayangi Lian. Termasuk teman-temannya.

Jin dan Bambam juga menghentikan diskusi mereka saat mendengar suara nyaring Lian yang memanggil Yugyeom. Melihat wajah bahagia Lian membuat Jin tersenyum senang. Setidaknya Lian baik-baik saja sejauh ini. Berbeda dengan Jin dan Yugyeom yang tampak senang melihat Lian, Bambam justru terlihat memanyunkan bibirnya.

Lian dan Yugyeom langsung berpelukan untuk melepas rindu. Tetakhir mereka bertemu adalah saat perayaan sweet seventeen Lian. Tentu saja di Swiss. Atas permintaan Lian, Frank menjemput Jungkook dan teman-temannya menggunakan private jetnya.

Jungkook tidak dapat menyembunyikan raut bahagianya melihat Lian tersenyum lebar. Rasa lelahnya hilang begitu saja setelah melihat Lian. Rasanya masih seperti mimpi melihat Lian di depannya selepas pulang bekerja.

“Kau hanya akan memeluk Yugyeom?” Celetuk Bambam dengan wajah masamnya. Ah! Nampaknya dia iri dengan Yugyeom.

Lian hanya cekikikan dan beralih memeluk Bambam. “Kau masih cemburuan rupanya.” Ucap Lian disela tawa gelinya. 

Bambam yang mendengarnya hanya mengacak-acak rambut Lian gemas. Bagi Bambam, Lian sudah seperti adiknya sendiri. Makanya dia sangat menyayangi Lian.

“Kurasa cukup acara kangen-kangenannya. Baby, kau harus makan, ingat?” Jungkook menyela aksi peluk-pelukan Lian dan kedua temannya.

Bambam merengut dibuatnya. Dia tahu kalau Jungkook adalah kakak yang overprotective. Tapi setidaknya biarkan mereka saling melepas rindu setelah sekian lama tidak berjumpa. Dengan perasaan kesal, Bambampun melepas pelukannya pada tubuh mungil Lian. Bagaimanapun juga dia tidak lupa kalau Lian penderita maag akut.

“Seharusnya kau makan bersama kami saja agar sekarang aku puas melihatmu.” Ucap Yugyeom dengan wajah tak kalah kesal.

“Bermimpi saja kalian.” Ucap Jungkook sambil membawa Lian ke ruang makan.

Bambam dan Yugyeom hanya mendengus sebal. Jin yang melihatnya hanya terkekeh kecil. Sepupunya itu memang sangat protective pada Lian. Terutama dalam urusan pria-pria yang mendekati Lian. Harus melalui Jungkook. Frank yang ayahnya tidak seperti Jungkook.

Lian menatap Jungkook dengan tatapan protes. Dia juga masih ingin melepas rindu dengan dua sahabat kakaknya itu. “Kau berlebihan, Jung!” Sungut Lian

“Hey! Aku melindungimu dari mereka.” Sanggah Jungkook

Lian mendengus. Alasan yang sama. “Aku besok sudah mulai bekerja.” Ucap Lian sambil duduk di kursi ruang makan. Dengan Jungkook di sampingnya.

Melihat Lian sudah duduk, para pelayan dengan sigap mengambilkan minum dan nasi untuk Lian. Namun Lian langsung menahan mereka. Dia tidak suka orang lain melakukan hal yang dia sendiri bisa lakukan. Lian menatap Kate protes. Seharusnya Kate sudah tahu kebiasaannya itu.

“Kau bisa berkeliling Seoul dulu kalau kau mau.” Ucap Jungkook setelah memberikan kode kepada pelayan untuk pergi.

“Tidak ada yang berubah, bukan? Sungai Han dan Namsan Tower masih banyak pasangan yang pamer kemesraan.” Sahut Lian sewot. Dia menyodorkan sesendok nasi beserta lauk pauknya pada Jungkook yang kemudian dibalas gelengan oleh Jungkook.

Jungkook berdecak sinis. “Kau hanya iri pada mereka.”

Up to you.” Sahut Lian acuh.

Suasana hening. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling berdenting. Jungkook asik menatap Lian yang makan dengan lahap. Terlihat sekali kalau Lian lapar. Hanya saja Lian terlalu acuh dengan kesehatannya. Beruntung Jungkook seorang dokter.

“Siapa yang akan menjadi sekretarisku?” Tanya Lian saat sudah menghabiskan makanannya. Dia menatap Jungkook sambil bertopang dagu.

Jungkook menaikkan sebelah alisnya. Dia pikir, Lian sudah tahu. “Kau akan tahu besok. Tapi kau harus tahu siapa asisten pribadimu. Dad yang mengirim orang itu.” Jawab Jungkook

“Siapa?”

“Sahabat pinangmu. Anna.” Jawab Jungkook santai sambil menyeringai.

Lian melotot kaget mendengar jawaban Jungkook. Anna? Frank mengirim Anna untuk menjadi asistennya? Tidak cukupkah orang-orang berbadan hulk, Aiden, dan juga Marcus untuk menjaganya? Sekarang Anna, sahabatnya, juga harus menjadi asistennya? Haruskah Anna mengiyakan ucapan Frank? Mungkin Lian akan mengomeli Anna besok.

Lian meminum jusnya sembarang dan meletakkan gelasnya dengan kasar. “Kenapa tidak dia saja yang menjadi asistenku? Apa tidak cukup menyuruh Aiden untuk menjadi supir pribadiku dan Marcus menjadi mata-matanya. Ya, Oppa! Kau tahu betapa canggungnya aku saat satu mobil dengan dua pria itu? Tidak adakah orang lain selain mereka? Bagaimanapun juga mereka dulu adalah sunbaeku-”

“Dan saudaramu.” Jungkook memotong cerocosan Lian.

“Apa mereka tidak punya pekerjaan sampai mau menuruti kemauan Dad?” Gerutu Lian

Jungkook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lian yang tidak berhenti menggerutu. “Tidak ada pekerjaan yang lebih sulit dari mengawalmu, baby.” Ujar Jungkook

Lian mendengus sebal sambil berjalan menuju lemari pendingin. Baru saja dia hendak mengambil kopi kalengan, tapi Jungkook langsung menahannya. Bahkan pria bergigi kelinci itu langsung menutup lemari pendingin dan menjadikannya sebagai sandaran tubuhnya. Lian yang tidak terima menatap kakaknya sebal.

“Mereka mau menjadi pengawalmu karena mereka juga yang akan membantumu mengurus perusahaan. Mereka akan menjadi direktur dan wakil direktur.” Jungkook berujar dengan santai sambil melipat tangannya di depan dada.

Lian tampak acuh dengan ucapan Jungkook. Dia memilih untuk meninggalkan Jungkook yang masih bersandar di lemari pendingin.

“Kate, jangan menyetok coffee di lemari pendingin!” Seru Jungkook sambil mengikuti Lian.

“Kau kupecat kalau menurutinya, Kate!” Balas Lian

Pagi pertama Lian di tanah kelahiran. Musim dingin akhir januari tampak membuat Lian enggan untuk membuka mata. Dia merapatkan selimutnya guna menghalau cuaca dingin menyerang tubuhnya yang rentan. Bunyi jam weker yang sejak setengah jam lalu berbunyi nampaknya sama sekali tidak berpengaruh untuknya. Buktinya gadis bermata biru itu masih terlihat nyenyak dengan tidurnya.

Seorang gadis tampak berjalan mengendap-endap memasuki kamar Lian. Gadis bule itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lian yang masih tidur pulas. Kemudian gadis bule itu berjalan menuju jendela kamar Lian dan membuka tirainya sehingga cahaya matahari dapat masuk ke kamar Lian. Lian masih tidak terusik sama sekali. Dia hanya menggeliatkan badannya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Anna, gadis bule yang berstatus sebagai sahabat dan sekretaris Lian, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang enggan untuk bangun. Kalau saja hari ini bukan hari pertama Lian bekerja sebagai CEO Giant Corp, Anna tidak akan repot-repot untuk datang ke rumah ini. Mengingat pagi ini ada meeting dewan direksi beserta para investor serta dengan para CEO perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan yang ditanami saham dari Giant Corp, Lian harus berangkat lebih awal.

Anna atau lebih tepatnya Anna Boulstern adalah sahabat Lian sejak Lian pindah ke Swiss. Mereka tumbuh besar bersama dan hampir setiap hari melakukan apapun bersama. Banyak yang menganggap mereka kembar tapi tak sama. Anna dan Lian sama-sama tahu bahaimana kehidupan mereka. Layaknya sahabat. Mereka suka berbagi cerita. Anna dan Lian hanya terpaut lima bulan. Anna berada di fakultas dan universitas yang sama dengan Lian. Maka dari itu saat Frank memintanya untuk menjadi asisten Lian, dia menerimanya. Lagipula dia masih belum siap menggantikan posisi sang ayah untuk perusahaannya dan masih ingin bermain-main.

Anna sebenarnya hafal dengan kebiasaan Lian yang akan selalu bangun pagi ada atau tidaknya kegiatan di pagi hari. Tapi kali ini nampaknya Lian sedikit malas. Sahabatnya ini sudah terlambat bangun setengah jam. Dengan langkah pelan, Anna berjalan menuju ranjang Lian dan dengan sekali tarikan, dia berhasil meloloskan selimut yang membungkus tubuh Lian. Biar saja Lian marah. Toh sudah menjadi kewajibannya sebagai asisten.

Merasa tidurnya terganggu, Lian langsung membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah jendelanya yang sudah terbuka. Lian memicingkan matanya karena merasa silau dengan cahaya matahari yang masuk ke kamarnya.

Anna melipat tangannya di depan dada. Merasa heran dengan tingkah Lian. “Kau tidak lihat sekarang jam berapa?” Sarkasme Anna tersebut membuat Lian langsung mengalihkan pandangannya.

Mata Lian membola lebar saat melihat Anna berdiri di depannya. Lian yakin dia sudah sepenuhnya bangun dan dia juga tidak sedang berhalusinasi. Di depannya Anna. Sahabatnya menatapnya dengan tatapan jengkel. Anna memang percaya kalau Anna akan menjadi asistennya. Tapi Anna sangat terkejut melihat Anna sudah berdiri di depannya. Dia pikir Anna sedang dalam perjalanan kemari dan akan mulai bekerja besok.

“Pagi ini ada pertemuan penting. Bersiaplah! Aiden dan Marcus sudah menunggu di ruang makan. Kita akan sarapan bersama.” Ucap Anna sambil berjalan meninggalkan Lian yang masih terlihat linglung.

Wait!” Seru Lian.

Anna menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lian dengan senyum pongahnya. “Kau tahu aku tidak suka menunggu, Nyonya.” Ucap Anna dengan senyum miringnya.

“Hey! Jangan memanggilku seperti itu! Wait! Kau sungguh Anna? Tapi… Kau… Frank, kau membuatku gila dengan semua ini!” Teriak Lian frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

Anna yang melihatnya hanya terkekeh geli. Dia sangat senang menggoda dan menjaili Lian. Wajah Lian akan terlihat menggemaskan saat kesal. Terbukti saat ini. Dengan penampilan bangun tidur, Lian persis seperti gelandangan. “Yes! Akupun kaget saat Uncle Jeon menyuruhku untuk menyusulmu ke Seoul dan memintaku untuk menjadi asistenmu. Oh my god! Bisakah aku mengundurkan diri saja?” Cerocos Anna

Beruntung Anna mempunyai ayah dari Korea, sehingga dia fasih berbahasa Korea.

“Kau gila!” Desis Lian lalu bangkit dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.

Memikirkan kegilaan Frank membuat kepala Lian serasa mau pecah. Lian tidak menyangka kalau Frank akan sampai sejauh ini. Hey! Lian tidak sedang menjadi incaran mafia jahat lalu untuk apa semua ini?

“Dimana Jungkook?” Tanya Lian saat dia sudah bergabung di meja makan dengan setelan kerjanya. Versi Lian tentunya.

Lian adalah gadis yang sangat menjaga tubuhnya. Dia selalu menggunakan pakaian tertutup. Karena baginya, tubuhnya hanya milik suaminya kelak. Dia tidak akan memperlihatkan keindahan tubuhnya pada orang-orang di luar sana. Paling tidak dia harus menutupi lengannya dan juga area di atas lutut. Pakaian paling minimnya adalah kaos pendek. Lian tidak punya celana pendek.

Jungkook sebagai kakak patut bersyukur karena Lian tidak terbawa arus budaya barat. Lian sangat pandai menjaga dirinya.

Melihat Lian yang tiba-tiba datang membuat penghuni meja makan langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka serempak menatap Lian yang sedang meminum coklat hangatnya. Aiden dan Marcus sebenarnya asli Korea. Hanya saja mereka kuliah di Swiss jadi memutuskan untuk membuat nama barat. Nama asli mereka sebenarnya Donghae dan Kyuhyun.

“Oh! Ternyata kalian sudah menjadi batu.” Sinis Lian sambil memakan sarapannya sembarang. Kesal karena tidak ada yang menjawabnya.

“Tuan Muda sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nona.” Jawab Kate yang tiba-tiba datang sambil membawa buah apel. Makanan wajib Lian di pagi hari.

What? Dia meninggalkanku?!” Pekik Lian

“Kakakmu lebih sibuk daripada kau, Li.” Marcus angkat bicara. Syukurlah dia masih ingat bagaimana caranya berbicara.

“Kupikir kau lupa caranya bicara.” Ucap Lian sinis.

Lian memang berwajah anggun. Tapi jangan kaget jika bibir cherry Lian dapat mengeluarkan kata-kata tajam. Kalau sudah kesal, Lian bisa berbicara tanpa berpikir. Dia juga tidak akan repot-repot memilih kata yang baik. Itulah Lian.

“Jangan mulai, Li. Ini masih pagi.” Aiden mencoba mencairkan suasana.

“Kalian seharusnya menolak pria tua itu! Bagaimana mungkin kalian menjadi bawahanku? Geez! Aku bisa gila!” Gerutu Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Tidak peduli kalau penampilannya akan berantakan.

Listen, Li! Aku dan Marcus tidak peduli menjadi bawahanmu, asalkan kau aman dibawah pengawasan kami. Please, honey! Jangan membuat ini semua menjadi sulit. Kami bekerja, kau aman. Kau tidak harus menganggap kami bawahanmu. Okay?” Ucap Aiden panjang lebar.

Lian tertegun mendengar ucapan panjang Aiden. Sebegitu berharganyakah dia di mata mereka? Kenapa mendadak Lian ingin menangis melihat pengorbanan mereka?

“Hey! Aku disini bukan hanya menjadi asistenmu. Aku sedang berlibur.” Anna akhirnya bersuara.

“Jangan pedulikan status kami. Kau tetap saudaraku yang manja dan suka merajuk. Habiskan sarapanmu dan kita berangkat!” Ucap Marcus dengan nada memerintah.

Ini dia! Marcus si tukang perintah. Lian akan lebih baik kalau mereka memperlakukannya seperti biasa. Selama tiba di Seoul kemarin, mereka berlagak seperti orang asing.

Mobil yang ditumpangi Lian, Anna, Marcus, dan Aiden berhenti di parkiran khusus direksi. Astaga! Apa lagi ini? Kenapa ada orang-orang berjas yang berjejer di depan pintu masuk? Lian makin malas untuk masuk ke gedung berlantai 37 ini. Dia belum tahu ada apa di dalam sana. Hey! Dia ini anak kemarin sore yang hanya diberi amanah untuk mengurus perusahaan di tanah kelahirannya.

Lian tidak mendengarkan semua perkataan Anna. Dia sibuk menghitung jumlah orang-orang yang berjejer itu. Ada sekitar tujuh belas orang. Apa mereka karyawan disini? Lian menghembuskan nafas kasar. Dia melihat penampilannya terlebih dahulu.

Lian dikagetkan dengan suara pintu terbuka. Dia hampir memarahi orang itu sebelum akhirnya sadar kalau orang yang membukakan pintu untuknya adalah orang asing. Lian mengerutkan keningnya. Meneliti penampilan pria di sampingnya yang berdiri dengan wajah datar. Penampilannya sama dengan Marcus dan Aiden.

“Dia sekretarismu. Namanya Park Jinyoung.” Ucapan Anna membuyarkan lamunan Lian.

Apa?

Lian masih belum percaya kalau pria dengan penampilan angkuh ini adalah sekretarisnya. Kenapa harus laki-laki?

“Kalian masuk saja dulu. Aku dan Donghae Hyung akan menyusul.” Ucap Marcus sambil menoleh ke belakang.

Lian hanya mengangkat tangannya tanda dia malas menanggapi. Kemudian dia keluar dari mobil diikuti Anna yang membawakan tasnya. Lian tidak menyuruhnya. Anna sendiri yang memaksa agar dia terbiasa mendalami perannya sebagai asisten.

Lian menatap sekretarisnya sejenak sebelum melangkah masuk. Bahkan  pria angkuh ini tidak menyapanya. Baru kali ini Lian tidak dihargai seorang pria.

Setelah memastikan kalau Lian masuk, Marcus langsung mengambil earpiece dan beberapa alat komunikasi jarak jauh lainnya.

“Kau yakin, Hyung?” Tanya Marcus

“Aku sangat yakin. Sepertinya mengenalkan Lian di depan orang banyak bukan hal yang tepat. Aku melihat dengan jelas wajah pria-pria itu. Mereka dari Jepang.” Jawab Aiden penuh keyakinan.

“Lion! Bawa Lian masuk melalui lift khusus direksi.” Ucap Marcus melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

“Jangan! Mereka akan curiga.” Ucap Aiden santai.

“Hyung!”

“Eagle, cari tahu pemilik mobil yang terparkir dua mobil di belakangku. Aku ingin secepatnya.” Ucap Aiden

Aiden memang pintar. Tapi sayang dia sangat misterius. Butuh waktu lama untuk tahu apa yang akan Aiden lakukan. Seperti halnya sekarang. Marcus sungguh tidak tahu bagaimana jalan pikiran saudara sepupunya itu. Lian sudah dalam status waspada tapi Aiden terlihat sangat santai.

Tanpa mempedulikan tatapan penuh tanya Marcus, Aiden keluar dari mobil dengan gagahnya. Berusaha bersikap setenang mungkin. “Bersikaplah biasa.” Ucap Aiden saat Marcus sudah di sampingnya. Lalu dia dan Marcus masuk ke gedung berlantai 37 ini dengan sambutan para karyawan dan kepala manajer.

Jungkook mendengarkan dengan seksama penjelasan seseorang melalui sambungan teleponnya. Dia menyandarkan tubuhnya pada meja kerjanya sambil memijat pelipisnya. Tiap kata yang keluar dari mulut Yoongi, sahabatnya yang bertugas memantau Lian, seperti bilah pisau yang menyayat kulitnya. Merenggut nyawanya secara perlahan. Dan kali ini Jungkook merasakan kepalanya mau pecah. Dia baru saja selesai mengoperasi pasiennya dan langsung mendapat kabar buruk ini.

Jungkook memutus sambungan telepon secara sepihak. Dia sudah tidak mau lagi mendengar ucapan Yoongi yang hanya semakin membuatnya pusing dan takut. Jungkook tidak perlu takut Yoongi akan marah karena dia yakin hyungnya itu tahu keadaannya saat ini. Berkali-kali Jungkook menghembuskan nafas kasar. Sesekali tangannya bergerak untuk mengacak-acak rambutnya.

Seharusnya sejak awal Jungkook bisa menduganya. Seharusnya dia tahu kalau Lian tidak aman berada di rumah itu. Bagaimanapun juga rumah yang saat ini dia tempati adalah sasaran utama dari para pemburu nyawa Lian. Yoongi baru saja mengabarinya kalau sebuah mobil berisikan tiga orang sudah mengawasi rumahnya sejak tadi malam. Itu artinya mereka tahu Lian sudah kembali.

“Apa yang terjadi?” Tanya Jimin yang tiba-tiba datang.

Tanpa mengetuk pintu. Lagi.

Jungkook masih sibuk dengan berbagai ketakutannya. Dia menundukkan kepalanya sambil tangannya tidak berhenti memijati pelipisnya.

Seharusnya Lian tidak kembali.

Mereka sudah menemukan Lian.

Lian dalam bahaya.

Apa yang harus aku lakukan?

Pikiran Jungkook kalut. Dia terlalu takut membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada Lian. Melihat Jungkook yang tampak kacau, Jimin berjalan mendekati Jungkook. Lalu menepuk pundaknya berkali-kali. Berharap Jungkook dapat kembali berfikir jernih.

“Jangan lemah di depan peri kecilku, Kookie.” Ucap Jimin sambil meremas pundak Jungkook.

Lian sama sekali tidak merasakan sesuatu yang istimewa di hari pertamanya bekerja. Bahkan dia tidak ikut rapat dewan direksi pagi ini dengan alasan dia sibuk. Seperti itulah yang dikatakan Marcus. Sehingga hanya Aiden dan Jinyoung yang mewakilinya. Lian sudah layaknya boneka. Tidak membantah dan hanya menurut.

Biarkan saja mereka berbuat semau mereka. Pikir Lian dalam hati.

Ngomong-ngomong tentang sekretaris. Lian akui kalau Jinyoung sangat bisa diandalkan dan pekerjaannya tidak akan mengecewakan. Terbukti dengan sigap dan tanggapnya dengan pekerjaan yang Lian berikan. Jinyoung sudah seperti sangat tahu bagaimana dunia bisnis. Mungkin ini menjadi alasan kenapa Frank memilih pria angkuh ini.

Lian sudah cukup dibuat lelah dengan banyaknya berkas-berkas laporan dan email yang harus dia cek. Lian belum terbiasa. Lihat saja di mejanya! Tumpukan dokumen yang harus Lian lihat masih terlihat utuh. Lian sama sekali belum menyentuhnya.

Karena sudah sangat bosan dan lelah, lagipula perutnya lapar, Lian berjalan keluar ruangannya. Mencari ruangan Marcus. Suasana di lantai 37 sangat sepi. Wajar saja. Lantai ini daerah kekuasannya. Hanya orang-orangnya yang berada disini. Bahkan suara heels Lian terdengar sangat jelas.

Lian masih celingukan mencari ruang kerja Marcus. Sampai akhirnya dia bertemu sekretaris angkuhnya. Park Jinyoung menatapnya dengan tatapan tanpa hormat. Lihat saja ekspresi pria kaku ini! Datar.

“Anda mencari apa, Nona?” Tanyanya terkesan enggan.

Heol! Siapa disini yang menjadi atasan? Lian merasa tidak dihormati.

“Ruangan wakil direktur.” Jawabnya singkat karena sudah sangat kesal dengan sikap Jinyoung.

“Di ujung sana, Nona. Perlu saya antar?” Jawab Jinyoung sambil menunjuk sebuah ruangan yang tertutup rapat.

“Tidak perlu. Lebih baik kau makan siang. Aku tidak ingin melihat pegawaiku kelaparan.” Balas Lian sinis. Lalu Lian meninggalkan Jinyoung yang masih menatapnya. Namun baru beberapa langkah, Lian menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Belajarlah tersenyum, Sekretaris Park. Itu akan berguna.” Ucap Lian lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Mendengar ucapan Lian, atasannya, membuat bibir Jinyoung sedikit melengkung ke atas. Jinyoung tidak tahu apa alasannya tersenyum. Yang jelas dia cukup kagum dengan sosok Lian Jeon.

“Kau tidak harus menculikku seperti ini, Li.” Kesal Marcus saat mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Sesampainya Lian di ruangan Marcus, Lian langsung menyeret Marcus untuk menemaninya makan siang lalu menuju rumah sakit. Lian ingin kabur sejenak dari pekerjaan menumpuknya. Dan Marcus orang yang tepat untuk diajak membolos. Meskipun Marcus suka memerintah tetap saja Lian lebih nyaman dengan pria bermarga Cho ini.

Aiden? Dia terlalu misterius. Lagipula Aiden sedang sibuk. Bersama Anna. Mereka mendapat limpahan pekerjaan dari Lian. Beruntung Aiden tidak menolak apalagi marah saat saudaranya Lian culik.

“Aku sangat lelah, Cho. Aku belum terbiasa dengan pekerjaan ini.” Ucap Lian sambil memasang wajah paling memelas.

Kalau sudah begini Marcus bisa apa? Diapun akhirnya memilih untuk menemani Lian kemanapun Lian akan pergi. Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan keheningan. Marcus fokus dengan kemudinya sambil sesekali melirik ke arah spion mobil. Memastikan apakah ada gerak-gerik mencurigakan yang mengikuti mereka. Namun kemungkinan besar tidak ada yang mengikuti mereka karena mereka menggunakan mobil yang berbeda dan sudah menyuruh Yoongi untuk mengunci keamanan CCTV di gedung Giant Corp agar sulit diretas.

Sementara Marcus sibuk dengan kemudinya, Lian hanya melihat pemandangan di sepanjang jalan yang sesekali menarik perhatian. Kebanyakan pemandangan yang dia dapat adalah para pejalan kaki dan orang yang menunggu bus di halte. Seoul sudah berubah. Sekarang banyak sekali gedung-gedung bertingkat di sepanjang jalan dan juga papan iklan besar yang terpasang di atas gedung.

Lian mendengus sebal saat melihat seorang siswa dan siswi SMA tengah berciuman di depan toko dengan disaksikan orang-orang. Lian heran. Bagaimana bisa mereka berciuman di tempat umum? Tidakkah mereka malu. Namun Lian sedikit dapat menebak kalau mereka baru saja resmi berpacaran karena di tangan gadis itu memegang sebuah bunga mawar merah.

Karena merasa muak, Lianpun memalingkan wajahnya. Melihat orang berciuman sebenarnya mengingatkan Lian pada kejadian tiga tahun lalu. Dimana sore itu dia diajak bertemu oleh temannya di taman belakang kampusnya. Lian pikir ada hal penting yang akan dikatakan. Ternyata temannya itu menyatakan perasaannya pada Lian. Jelas Lian tolak dengan halus karena Lian memang tidak menyukai pria itu. Mungkin karena kesal dan merasa dipermalukan, pria itu tiba-tiba menyudutkan Lian pada sebuah pohon. Otak Lian langsung berpikir keras untuk bisa bebas dari temannya.

Saat jarak wajahnya dan wajah pria itu tinggal beberapa senti, Marcus datang dan langsung menghajar teman Lian. Lian bersyukur karena Marcus datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, Lian tidak tahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya. Kejadian itu sedikit membuat Lian trauma dan benci ketika melihat orang berciuman.

“Jangan melihatnya.” Ucap Marcus seolah tahu apa yang mencuri perhatian Lian. Lian menatap Marcus sewot. Cara Marcus memperhatikannya memang sedikit aneh.

Lian mendengus sebal sambil melihat ke arah Lian. Marcus dan Anna yang sangat tahu bagaimana ketakutannya Lian waktu itu karena mereka melihatnya secara langsung. Wajar jika Lian sensitif dengan hal-hal yang berbau intim karena dia sendiri sangat membencinya.

Entah kebetulan atau bukan, Lian melihat sosok bocah kecil berwajah dingin yang kemarin dia temukan menangis sedang duduk di sebuah halte. Sendirian. Hey! Dia anak kecil dan bagaimana bisa dia sendirian di tempat ramai seperti ini sendirian?

“Cho, bisakah kau menghentikan mobilnya di depan halte itu?” Sebenarnya itu perintah dengan cara halus. Marcus mengikuti arah jari telunjuk Lian.

“Kenapa? Apa disana ada salah satu kekasihmu?” Tanya Marcus dengan senyum jailnya.

“Ya!” Seru Lian sambil memukul lengan Marcus.

Lampu sudah berganti menjadi hijau. Sesuai dengan perintah Lian, Marcus menghentikan mobilnya tepat di depan Fellix. Tanpa banyak bicara, Lian langsung turun dan mendekati bocah bermata tajam itu. Dalam hatinya, Lian berpikir kenapa bocah kecil ini disini sendirian dan siapa yang menjemputnya. 

Marcus menatap Lian penasaran. Apa lagi yang akan dilakukan Lian? Namun rasa penasarannya berganti rasa heran saat melihat Lian duduk di samping bocah berumur lima tahunan.

Lian duduk di samping Fellix. Tampaknya Fellix belum menyadari keberadaan Lian. Bocah itu hanya menunduk sambil memegang sebuah ponsel. Fellix seperti tidak mempedulikan keadaan sekitarnya yang cukup ramai, mengingat saat ini masih jam makan siang.

“Hey!” Sapa Lian sambil menepuk pundak Fellix. Fellix yang merasa terusik akhirnya mengangkat kepalanya dan menoleh. Tepat ke arah Lian.

Wajah anak ini sangat datar. Benar-benar tanpa senyum. Melihatnya membuat hati Lian sedikit nyeri. Bagaimana bisa anak sekecil ini kehilangan senyumnya? Sebenarnya apa yang menimpanya? Dan hati Lian tergugah ingin tahu lebih banyak tengang Fellix. Dan rasa ingin selalu berada di samping Fellix itu kian membuncah.

Baru kali ini Lian merasa salah tingkah karena ditatap oleh bocah lima tahun. Lian menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “Apa yang kau lakukan disini sendirian, boy?” Tanya Lian mencoba menutupi rasa gugupnya.

Fellix kembali menundukkan wajahnya. Seolah enggan menanggapi Lian. Lian hanya mengangkat sebelah alisnya karena diabaikan oleh Fellix. “Siapa yang menjemputmu?” Tanya Lian lagi.

“Eomma.” Lirihnya sambil menggenggam ponselnya erat. Lian semakin dibuat bingung dan sedih dalam waktu yang bersamaan.

“Apa Eommamu sudah datang? Kalau belum, aku akan menemanimu.”

“Eomma tidak akan datang.” Sahut Fellix cepat.

Lian mendelik kaget. Apa maksudnya? Sejenak Lian menatap Marcus yang menunggu di mobil. Dia memberi isyarat agar menunggunya sebentar.

“Eomma sudah meninggal.”

.

.

.

.

.

To be continued~

Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 1

Fool For You Part 1

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Park Jinyoung – Bae Irene – Park Chanyeol – Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Action, Angst, Honor, Romance, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.
Lian berjalan terburu-buru di sepanjang koridor rumah sakit yang sedikit lenggang mengingat saat ini sudah hampir malam. Tangannya sedari tadi merogoh isi tasnya guna mencari ponsel. Mulutnya tidak berhenti menggerutu karena begitu banyak isi di dalam tas tangannya. Ingin rasanya Lian menumpahkan semua isi tasnya kalau dia tidak ingat disini rumah sakit. Kemana perginya benda persegi itu?

Untuk sejenak Lian berhenti untuk mengistirahatkan kakinya sekaligus mengatur nafasnya. Demi dewa-dewi! Dia baru saja mendarat dari Swiss dan pria gila itu menyuruhnya untuk segera datang ke rumah sakit. Harusnya pria bergigi kelinci itu yang menjemputnya di bandara, bukan malah dia yang menghampiri pria kesayangannya itu. Lian tidak sempat mengecek penampilannya. Dia sangat lelah dan ingin segera tiba di ruangan Jungkook, pria gila yang menyuruhnya datang kesini.

Lian terlonjak kaget saat tiba-tiba suara deringan ponsel terdengar nyaring di koridor yang sepi ini. Ini suara handphonenya. Dan Lian langsung menepuk keningnya saat merasakan getar di saku coat merah jambunya. Dengan kasar Lian melempar tas tangannya di salah satu kursi ruang tunggu koridor tersebut karena saking kesalnya. Lalu setelah itu tangannya merogoh saku coatnya dan mengambil benda sialan yang sudah membuatnya seperti orang gila. Tanpa melihat ID caller pada layar teleponnya, Lian langsung mengangkat panggilan itu. Tidak perlu merasa bingung dengan siapa si penelepon karena hanya ada kurang dari sepuluh orang yang mempunyai nomor teleponnya.

“Lian Jeon speaking.” Sapaan utama dari Lian saat menerima telepon.

“Kau sudah sampai, baby?”

“Aku akan membunuhmu setelah sampai ruanganmu nanti.” Sungut Lian sambil memijati kakinya yang terasa pegal. Astaga! Dia baru saja berlari dari lobi hingga koridor ini dengan sandal berhak.

Terdengar suara tawa dari ujung telepon membuat darah Lian makin mendidih. “Aku tutup!” Ucapnya ketus lalu memutus sambungan secara sepihak.

Lian kembali mengantongi ponselnya dan meraih tas tangannya. Baiklah. Dia hanya butuh berjalan sedikit lagi untuk sampai di ruangan pria yang menelponnya tadi sekaligus pria yang sangat dia sayangi. Meskipun dia kesal, tetap saja dia menyayangi pria yang mempunyai hobi mengganggunya itu.

Lian baru akan berjalan saat dia mendengar suara tangis di sudut koridor lantai ini. Kepalanyapun langsung bergerak untuk mencari sumber suara. Hingga akhirnya matanya menangkap seorang bocah kecil yang menangis sambil berjongkok. Lian yang pada dasarnya sangat menyukai anak kecilpun langsung melangkahkan kakinya mendekati bocah kecil itu.

Masa bodoh dengan Jungkook yang pasti sudah menunggunya. Lian merasa hatinya tergerak saat melihat bocah kecil itu menangis. Dimana orangtuanya?

“Hey, jagoan!” Lian menyentuh pundak bergetar bocah kecil itu. Dia sudah berjongkok di depan bocah kecil itu.

Anak kecil itu mengangkat kepalanya. Wajahnya penuh air mata. Lian sedikit tertegun saat melihat paras bocah kecil itu. Bagaimana bisa anak sekecil ini memiliki tatapan setajam itu? Wajahnya juga terkesan dingin. Siapa orangtua bocah ini?

Mencoba mengabaikan tatapan tajam bocah kecil itu, Lian memasang senyum mautnya. “Siapa namamu?” Tanyanya berusaha seramah dan setenang mungkin.

Bagaimana bisa seorang bocah kecil bermata tajam bisa membuat seorang Lian Jeon hampir mati kutu?

Come on, Lian! Dia hanya anak kecil! Kau bisa menaklukkan anak kecil ini!

“Kau siapa?” Akhirnya bocah kecil itu membuka mulutnya.

Sumpah demi Dad! Bocah kecil ini sangat dingin. Sedingin es.

Lian menegak liurnya susah payah sebelum tersenyum kembali. “Aku? Mungkin kau bisa memanggilku teman?” Ucapnya berusaha terlihat santai.

“Aku tidak membutuhkan teman. Aku butuh Eomma.” Suaranya terdengar parau dan menyedihkan. Lian sendiri yang mendengarnya langsung merasa nyeri di bagian dadanya.

Aku juga membutuhkan Mom.

Lian mengusap-usap rambut kecoklatan bocah kecil itu. Kemudian dia menghapus air mata bocah kecil itu. “Jadi, siapa namamu?” Tanya Lian lagi.

“Fellix.” Jawabnya lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Oke, Fellix. Dimana orangtuamu? Kenapa kau disini sendirian?” Tanya Lian lagi sambil menuntun Fellix untuk berdiri.

Fellix nampaknya tidak menolak saat Lian menyuruhnya berdiri. Baiklah. Bocah es ini berhasil luluh.

“Appa sedang tidur. Sudah dua hari Appa tidak bangun.” Jawab Fellix

Lagi-lagi Lian dibuat tertegun dengan jawaban Fellix. Jadi orangtua dari bocah malang ini koma? Mendengarnya membuat Lian semakin merasa simpati. Dia kembali jongkok di depan Fellix sambil tangannya menghapus air mata Fellix yang masih mengalir.

“Kau jagoan, bukan? Seorang jagoan tidak boleh menangis. Kau harus kuat agar Appamu segera bangun.” Ucap Lian

Fellix tampak terdiam setelah mendengar kata-kata Lian. Dia bukan tipe anak kecil yang welcome dengan kedatangan orang baru. Dia juga tidak pernah berbicara lebih dari tiga kata pada orang asing. Tapi saat melihat Lian, entah kenapa Fellix ingin berada di samping Lian terus. Intinya, dia nyaman dengan Lian yang pada dasarnya adalah orang asing.

“Fellix?” Suara berat seseorang menginterupsi dua manusia beda umur itu. Fellix tersadar dari lamunannya dan Lian menoleh ke sumber suara.

Seorang pria paruh baya berjalan mendekati mereka. Lianpun langsung berdiri. Menebak kalau pria paruh baya ini kakek Fellix. Dia membungkukkan badannya sambil tersenyum.

“Anyeonghasseyo, Sir.” Ucap Lian berusaha seramah mungkin.

Lelaki paruh baya itu tampak tersenyum hangat melihat gadis di depannya yang sangat sopan dan anggun. Kemudian tatapan pria paruh baya itu beralih pada Fellix, sang cucu, yang sepertinya habis menangis.

“Aku melihat Fellix menangis disana jadi aku menghampirinya. Kudengar Appanya sedang koma. Aku turut prihatin, Sir.” Ucap Lian sambil menunjukkan wajah sedihnya.

Raut terkejut tidak bisa ditutupi oleh kakek Fellix. Apa Fellix baru saja mengenalkan dirinya pada orang asing? Dan apa Fellix juga yang mengatakan kalau Appanya koma? Bagaimana bisa? Yang kakek Fellix tahu, cucunya itu tidak suka berkomunikasi dengan orang asing. Alih-alih berbicara, menatap saja tidak mau. Tapi bagaimana bisa Fellix terlihat akrab dengan gadis yang baru saja ditemuinya ini?

Lian merasa heran sejak kedatangan pria paruh baya. Yang benar saja. Pria paruh baya itu sejak tadi hanya diam sambil menatapnya dan Fellix bergantian. Apa ada yang salah dengan penampilannya?

“Terimakasih, Nona.” Ucap pria paruh baya itu akhirnya.

“Bukan masalah, Sir. Cucu Anda sangat menggemaskan.” Sahut Lian kembali menatap Fellix yang masih terdiam.

Seulas senyum tulus terbit dari bibir pria paruh baya tersebut. Dia menyukai sikap ramah dan anggun gadis di depannya. Tatapannya beralih pada sang cucu yang masih tertunduk.

“Fellix, ucapkan apa pada Nona itu?” Tanya pria paruh baya itu sambil mengelus puncak kepala Fellix.

“Terimakasih.” Ucap Fellix pelan sambil tersenyum tipis.

“Sama-sama, jagoan. Ingat! Jangan cengeng, okay?” Sahut Lian sambil mengacak-acak rambut kecoklatan Fellix yang dibalas anggukan mantap oleh Fellix.

Kakek Fellix sungguh tidak percaya dengan adegan di depannya. Fellix, cucunya yang pendiam dan tertutup, tersenyum pada orang asing. Bahkan beliau sendiri jarang melihat cucunya ini tersenyum. Hingga akhirnya sebuah keinginan untuk mendekatkan gadis asing dan Fellix muncul.

Sudah waktunya.

“Baiklah, Nona. Terimakasih sudah menemukan cucuku. Kami harus kembali.” Ucap Kakek Fellix sambil menggandeng tangan mungil Fellix.

“No problem, Sir.” Sahut Lian

Lalu dua pria berbeda umur itu berjalan meninggalkan Lian. Lian masih tersenyum sambil menatap Fellix. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Fellix berbalik dan berjalan mendekati Lian. Sontak Lianpun langsung jongkok. Kakek Fellix kembali memperhatikan kelakuan cucunya yang mengejutkan. Setidaknya untuk hari ini.

“Nama Nona siapa?” Tanya Fellix pelan. Dia sudah tidak menangis.

Lian tersenyum menanggapi pertanyaan Fellix. “Lian.” Jawab Lian

“Apa kau mau menjadi temanku? Apa kita masih bisa bertemu lagi?” Tanya Fellix lirih sambil menundukkan kepalanya.

Entah sudah berapa kali Kakek Fellix dibuat terkejut dengan kelakuan Fellix. Kali ini finalnya. Apa Fellix  menemukan sosok Ibu dalam diri gadis muda ini? Kakek Fellix tampak berkaca-kaca melihat kemajuan dalam diri Fellix.

“Tentu saja. Aku besok akan datang kesini lagi. Jadi, mulai sekarang kita berteman?” Ucap Lian sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Fellix tersenyum lebar. Dia membalas acungan jari kelingking Lian dengan menautkan jari kelingkingnya. “Teman.” Ucapnya tampak bahagia.

“Kakekmu menunggu. Sampai jumpa besok, jagoan.” Ucap Lian sambil mengacak-acak rambut Fellix.

Fellix kembali berlari menghampiri sang kakek dan langsung menggandengnya. Dia melambaikan tangannya pada Lian masih dengan senyum lebar.

“Terimakasih, Nak.” Ucap Kakek Fellix dengan senyum tulus dan mata berkaca-kaca.

Lian tidak sempat membalas ucapan pria paruh baya itu karena mereka sudah berjalan meninggalkan dia. Namun Lian masih merasakan keanehan. Sejak tadi dia menangkap raut sedih dari mata pria paruh baya itu.

Tidak mau terlalu memikirkannya, Lian kembali pada niat awalnya. Menuju ruangan Jungkook. Dia menghela nafas kasar. Pria kasar itu pasti akan memarahinya.

Masa bodoh!

Lian Jeon. Seorang gadis berumur 22 tahun yang sudah lulus S1 di salah satu universitas di Swiss pada jurusan Managemen. Gadis blasteran Swiss ini kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya setelah empat belas tahun tinggal di Swiss bersama Frank Jeon, ayahnya. Kembalinya ke Seoul adalah untuk membantu sang ayah untuk mengurus perusahaan cabang yang berada disini tentunya.

Hidupnya terbilang datar untuk seorang gadis yang hidup di dalam keluarga terhormat di Swiss. Ayahnya adalah putra dari bangsawan Swiss. Sejak lahir Lian sudah diajarkan berdisiplin, menghormati, melindungi diri, dan menjaga nama baik keluarga. Lian hidup penuh kemewahan dan penjagaan yang ketat. Meski begitu, Lian mengajukan permohonan agar para pria bertubuh seperti hulk suruhan ayahnya berjaga dalam jarak radius dua puluh meter.

Bersyukurlah Frank Jeon, si pria paling protective, menyetujui syarat itu. Hanya Frank dan para pesuruhnya yang tahu kalau semua barang Lian sudah diberi chip yang dapat mendeteksi keberadaan Lian. Licik. Percayalah. Banyak sejata yang siap meledakkan kepala Lian dan Jungkook kalau Frank lengah sekali saja.

Pemandangan pertama kali yang Lian lihat begitu sampai di ruangan kebesaran Jungkook adalah wajah datar pria itu. Oh ayolah! Seharusnya dia yang kesal karena harus datang ke tempat ini. Dia sangat lelah. Dengan pandangan acuh, Lian berjalan menuju sofa ruang kerja Jungkook. Dia melempar tas tangannya asal dan langsung menyandarkan punggungnya. Abaikan tatapan intimidasi Jungkook.

Akhirnya. Lian bernafas lega. Dia bisa beristirahat sejenak di ruangan Jungkook yang super nyaman ini. Lian memejamkan matanya. Berusaha acuh pada Jungkook yang saat ini berjalan mendekatinya.

Jungkook tahu kalau Lian adalah gadis pembangkang yang sialnya sangat keras kepala. Tidak ada yang tahu bagaimana jalan pikiran gadis bermata biru itu. Hari ini contohnya. Mereka tidak bertemu dua tahun. Tidak adakah rasa rindu dari gadis pembangkang itu? Bahkan saat datang bukannya langsung memeluknya dia malah duduk dengan santai. Tanpa sapaan hangat dan penjelasan kenapa dia datang terlambat.

“Apa seperti ini caramu menyapaku setelah dua tahun tidak bertemu?” Tanya Jungkook sarkasme. Tangannya terlipat di depan dada dengan tatapan datar pada Lian.

Lian mendengus sebal. Dia membuka matanya dan menatap Jungkook sebal. “Apa harus dengan wajah seperti itu kau menyambutku? Hey! Aku baru saja mendarat dan seharusnya aku sudah tidur di kamarku. Bukan di ruanganmu!” Sahut Lian kesal.

Jungkook berdecak sinis. Lian memang gadis yang merepotkan dan menyebalkan. Tapi dia sangat menyayangi gadis menyebalkan ini.

Baby?” Suara Jungkook dan wajahnya mulai melembut.

Lian yang mendengarnyapun luluh. Jungkook memang paling bisa meluluhkan hatinya. Dia berdiri dan langsung memeluk pria bergigi kelinci ini dengan erat. Dibalas tak kalah eratnya oleh Jungkook. Mereka saling melampiaskan rindu. Senyum lebar langsung terpatri di wajah keduanya.

Jungkook menghujani Lian dengan kecupan-kecupan ringannya di kepala Lian. Damn! Dia sangat merindukan gadis dalam dekapannya. Sama halnya dengan Jungkook. Pria yang dia sebut gila dan menyebalkan ini, dia sangat merindukan pria ini.

“Gadis pembangkang, I miss you so bad!” Bisik pria bernama Jungkook itu.

“Aku juga, Jung! Sebenarnya aku masih kesal karena kau tidak menjemputku dan malah menyuruhku kesini.” Rajuk Lian sambil melepas pelukannya.

I’m sorry, dear. Ada pasien yang harus kutangani.” Ucap Jungkook dengan wajah menyesalnya.

“Aku cemburu dengan pasien itu.”

“Hey! Kau tahu kalau kau segalanya untukku! Aku selalu memprioritaskanmu, baby.” Ucap Jungkook sambil menjawil hidung Lian.

“Pembual.” Cibir Lian sambil mendudukkan dirinya diikuti Jungkook yang juga duduk di sampingnya.

“Bagaimana perjalananmu?” Tanya Jungkook sambil mengelus-elus rambut gadis yang amat dia sayangi itu.

“Melelahkan. Aku masih jet lag.” Jawab Lian sambil menyenderkan kepalanya pada bahu kokoh Jungkook.

Nyaman. Lian kembali memejamkan matanya. Jungkook hanya terkekeh kecil melihat kelakuan manja Lian. Dia mengelus-elus rambut Lian. Sesekali menciumnya.

“Bagaimana Dad? Apa dia masih bekerja?” Tanya Jungkook memecah keheningan setelah hening beberapa menit.

“Kau tahu dia workaholic. Katanya dia akan berhenti bekerja kalau aku menikah. Yang benar saja.” Jawab Lian dengan wajah kesalnya.

Jangan salah paham dengan hubungan Lian dan Jungkook. Mereka kakak beradik yang memang terlihat seperti sepasang kekasih. Umur mereka hanya terpaut dua tahun. Jungkook tinggal lebih lama di Seoul. Tentu saja setelah lepas dari kesedihannya semenjak kepergian sang ibu sebelas tahun yang lalu. Dia besar di Seoul bersama sang nenek dan diberi amanat untuk menjadi direktur di rumah sakit di bawah perusahaan milik ayahnya. Sayang sekali sang nenek sudah meninggal dua bulan yang lalu. Maka dari itu Lian memajukan tanggal keberangkatan ke Seoul.

“Bagaimana rasanya merangkap pekerjaan? Direktur dan dokter bedah.” Lian mendongakkan kepalanya guna melihat wajah sang kakak yang masih sangat dia rindukan.

“Tidak buruk. Banyak yang membantuku.” Jawab Jungkook

“Jimin Oppa?” Lian memekik kegirangan saat seorang pria berambut coklat berjas putih tiba-tiba masuk ke ruangan Jungkook.

Tanpa mengetuk pintu!

“Ice Princess! Kau sudah sampai? Apa sudah lama?” Sahut pria bernama Jimin itu sambil duduk di salah satu sofa single.

Wajah girang Lian berubah menjadi murung begitu mendengar panggilan Jimin terhadapnya. Sementara itu Jungkook tampak menatap Jimin sinis karena masuk ruangannya tanpa ijin.

“Sudah yang ketiga kalinya, Dokter Park.” Sindir Jungkook

“Kau tahu aku tidak peduli.” Sahut Jimin acuh.

Sementara itu Lian hanya mendengus sebal melihat dua pria di depannya. Waktunya dengan Jungkook sudah habis.

“Aku akan pulang sekarang.” Ucap Lian sambil meraih tas tangannya.

“Kenapa buru-buru sekali, baby? Aku masih sangat merindukanmu.” Tanya Jungkook dengan nada kecewa.

“Ice Princess, kau akan pulang? Kau bahkan belum memelukku.” Ucap Jimin

“Berhenti merayu adikku! Dan jangan memanggilnya Ice Princess. Dia tidak suka.” Sungut Jungkook

Sorry, Oppa. Kau tahu, Jeon Oppa tidak akan mengijinkanku memelukmu. Lagipula aku sangat lelah.” Sahut Lian dengan senyum andalannya.

“Baiklah. Istirahatlah, Li.” Ucap Jimin

Lian hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia beralih menatap Jungkook yang juga sedang menatapnya dengan tatapan menyesal. “Tak apa. Aku bisa pulang dengan Aiden. Jangan pulang larut karena aku akan menunggumu!” Ucap Lian seolah tahu arti tatapan Jungkook.

Tentu saja Jungkook merasa bersalah karena tidak bisa mengantarkan Lian pulang. Pekerjaannya masih banyak. Beruntung Lian sangat pengertian dan tidak manja. Kadang.

Setelah mendaratkan ciuman di pipi sang kakak, Lian keluar dari ruangan Jungkook. Sebenarnya dia juga masih ingin bersama Jungkook. Sayangnya, Jungkook bukan orang yang punya waktu luang banyak. Diapun harus rela menunggu Jungkook nanti malam.

Setelah Lian menghilang dari balik pintu, Jungkook kembali duduk di kursi kebesarannya. Dia tidak tahu kalau pekerjaan sebagai direktur rumah sakit akan sesibuk ini. Matanya kembali menatap Jimin yang sibuk bermain ponselnya. Temannya yang satu itu memang tidak pernah menghormatinya sebagai atasan.

“Ada yang bisa kubantu, Dokter Park?” Tanya Jungkook dengan nada menyindir. Pertanyaannya berhasil membuat Jimin melihatnya. Pria berwajah baby face itu kembali memasukkan ponselnya di saku jas.

“Kau terlalu kaku, Kookie.” Ucap Jimin santai. Tidak merasa bersalah dengan panggilannya untuk Jungkook.

Hey, Park Jimin! Yang kau panggil Kookie itu atasanmu! Pemilik rumah sakit ini!

“Lian sudah sebesar itu. Dia semakin cantik. Apa dia sudah punya pacar?” Tanya Jimin dengan wajah bingarnya.

“Hyung!” Jungkook mulai kesal karena Jimin masih saja bercanda sekaligus menggoda Lian.

Hey! Lian itu mutiara untuknya. Jungkook selalu selective pada pria-pria yang mendekati Lian, terutama Jimin. Dia tahu betul bagaimana Jimin. Mereka berteman sejak Senior High School. Resiko mempunyai adik perempuan yang sialan sangat cantik membuat Jungkook harus waspada. 

“Pasien VVIP belum sadar sampai sekarang.” Ucap Jimin mulai pada topik serius.

Jungkook berhenti memutar-mutarkan kursinya. Tatapannya tertuju pada sebuah rekam medis pasien yang masih terbuka di atas mejanya. “Dia akan bangun besok.” Ucap Jungkook penuh keyakinan.

“Aku heran manusia seperti apa dia sampai bisa mendapat dua peluru di perutnya.” Ucap Jimin

“Aku juga heran.” Balas Jungkook sambil menatap lembaran kertas di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Apa tidak papa Lian kembali ke Seoul? Kupikir dia masih trauma dan berbahaya untuk nyawanya.” Jimin beralih duduk di depan Jungkook. Wajahnya terlihat sangat serius.

“Aku bisa mengatasinya, Hyung.” Sahut Jungkook singkat. Berusaha menutupi wajah gugupnya saat Jimin membahas masalah ini. Padahal sejak tadi dia sudah berusaha agar terhindar dari topik ini.

“Aku percaya padamu. Lebih baik kau cepat selesaikan pekerjaanmu dan lihat keadaan pasien VVIP itu agar bisa pulang lebih awal. Aku tidak mau pe-ri-can-tik-ku menunggumu sampai malam.” Ucap Jimin sambil berdiri dari duduknya.

Jungkook sudah melotot tajam pada Jimin karena kembali menggodanya. Belum sempat Jungkook membalas ucapan Jimin, pria berambut coklat itu sudah keluar dari ruangannya.

Tanpa permisi! Khas seorang Park Jimin.

“Aku melihatnya tersenyum lebar hari ini.” Ucap seorang pria paruh baya sambil menatap seorang pria berumur dua puluh tahunan yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya.

Sementara itu seorang wanita paruh baya langsung berhenti mengelus-elus rambut bocah kecil di pangkuannya. Dia adalah Fellix, yang berada di pangkuan neneknya, Kang Younbi. Dan pria paruh baya itu Kim Taejun, kakek Fellix.

“Dia tersenyum pada seorang gadis asing.” Sambung Taejun dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Younbi menepuk-nepuk punggung Fellix saat bocah kecil itu menggeliat kecil. “Cucuku melakukan itu?” Gumamnya dengan mata berkaca-kaca.

Merasa senang, tidak percaya, sekaligus terharu. Selama dua tahun ini, sosok Fellix sangat berubah karena kepergian sang ibu. Tidak ada senyum dan tata krama. Fellix menjadi sosok pendiam, dingin, dan misterius. Tidak ada yang bisa mengembalikan sosok Fellix yang dulu. Termasuk sang ayah yang sampai sekarang masih terbaring lemah.

“Gadis itu…” Taejun memotong kalimatnya. Menghela nafas panjang. “Aku dapat merasakan kasih sayang yang gadis itu berikan pada Fellix. Dia bisa membuat cucuku tersenyum.” Sambung Taejun dengan suara pelan.

“Seharusnya Taehyung melihatnya.” Ucap Younbi pelan sambil mengelus-elus rambut sang cucu. “Kapan Taehyung akan bangun? Ini sudah dua hari.” Sambung Younbi dengan wajah sedih.

“Kita hanya perlu menunggu.” Sahut Taejun dengan wajah sendunya.

Taehyung atau Kim Taehyung, anak kedua mereka, mengalami kecelakaan mengenaskan dua hari yang lalu. Dia tertembak dua peluru yang mengakibatkan dia koma selama dua hari ini. Peluru itu dia dapat dari musuh salah satu saingan bisnisnya saat dia menghadiri pesta peresmian hotel baru di daerah Insandong. 

Taehyung sudah menikah. Lima tahun yang lalu dan menghasilkan bocah kecil tampan nan menggemaskan yang kemudian diberi nama Fellix Kim. Istrinya meninggal karena sebuah tusukan di bagian jantungnya oleh seseorang yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Sampai saat ini Taehyung memilih untuk membesarkan putranya sendiri, sedikit bantuan dari orangtuanya, kakaknya, dan juga mertuanya.

Sesampainya di rumah, Lian disambut oleh tiga pelayan perempuan dan laki-laki, kemudian dua satpam, dan beberapa penjaga di rumah ini. Mereka sangat ramah dan Lian tidak merasa risih sekalipun. Namun ada yang berbeda di rumah ini. Tidak ada empat anggota keluarga yang akan berkumpul saat malam minggu tiba. Tidak ada Frank yang akan memarahi putra-putrinya saat mereka terlambat bangun dan tidak ada lagi Lena yang mengajarinya membuat kue kesukaan Jungkook dan Frank.

Lian tidak sadar sejak kapan pipinya sudah basah oleh air mata. Dia hanya merasakan sesak di dadanya saat mengingat kenangan indah keluarga lengkapnya sebelas tahun yang lalu. Sebelum akhirnya sebuah kejadian mengerikan itu menghancurkan hidup Lian.

Lena, Momnya, terbunuh tepat di depan matanya dengan cara yang mengenaskan. Sungguh biadap para manusia itu yang dengan kejinya menyabet Lena dengan sabetan samurai. Saat hujan, petir, dan gelap. Bayangkan saja! Seorang anak kecil berumur sebelas tahun harus menyaksikan nyawa ibunya direnggut. Hancur sudah hidup Lian! Momnya meninggal tepat sehari sebelum dia berulangtahun.

Andai saja Lena tidak menyembunyikan dia di bawah tempat tidur, sudah jelas Lian tidak akan bisa menghirup udara musim dingin detik ini juga. Lena sudah mengorbankan hidupnya untuk Lian. Lian sempat menyalahkan tindakan nekat Lena yang menantang orang-orang berpakaian ninja dulu dan tidak memilih untuk lari. Seumur hidupnya, Lian tidak akan melupakan kejadian itu.

Lian tersentak kaget saat merasakan sebuah usapan lembut di pundaknya. Sudah berapa lama dia berdiam diri di ambang pintu sambil ditatap para pelayan dan penjaga rumah? Dan… Sejak kapan Jin ada disini? Di sampingnya. Merangkul pundaknya sambil tersenyum hangat. Lian menatap Jin dengan tatapan sendu. Seolah menyampaikan kepedihan hatinya. Jin mengangguk sambil meremas bahunya. Mengerti apa yang dirasakannya saat ini.

Detik selanjutnya, Jin menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tengah. Sebelumnya dia sudah menyuruh Kate, kepala pelayan rumah ini yang sudah mengabdi selama hampir 30 tahun, untuk membuatkan teh hangat. Tinggalah mereka berdua di ruang tengah. Lian masih larut dalam kesedihannya. Didampingi Jin, sepupunya. Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya sesekali terdengar suara helaan nafas berat Lian.

“Terimakasih, Oppa.” Lirih Lian masih dengan kepala tertunduk. Jin hanya diam. Namun Lian masih bisa melihat dari ekor matanya kalau Jin mengangguk.

Kate datang dengan membawa teh hangat pesanan Jin. Kemudian pergi lagi. Jin menyodorkan cangkir teh itu kepada Lian. Menyuruh Lian meminumnya agar lebih tenang. Dan Lianpun menurutinya. Jin kembali meletakkan cangkir itu setelah Lian meminumnya. Sedikit. Keduanya masih saling diam. Sebenarnya Jin sudah sangat ingin bertanya kabar Lian karena dia sangat merindukan gadis bermata biru ini. Tapi melihat kondisi Lian yang seperti itu membuat Jin harus sedikit bersabar.

Jin rela meninggalkan semua pekerjaannya di kantor saat tahu kalau adik sepupunya ini sudah sampai di Seoul. Terakhir dia bertemu Lian adalah saat natal enam tahun yang lalu. Wajar, bukan, kalau dia merindukan Lian? Tapi apa yang dia lihat saat hendak menaiki tangga menuju pintu utama rumah Lian? Ekspresi para pelayan, satpam, dan penjaga rumah yang kawatir dan sedih dengan pandangan pada Lian yang tertunduk lemah dan bahu yang bergetar.

Jin tentu tahu apa yang Lian rasakan. Biadap sekali orang-orang yang membunuh Lena tepat di depan Lian. Karena mereka Lian harus menjalani masa kecil yang suram dan mengalami trauma yang sampai saat ini masih sering kumat. Bahkan saat Lian memutuskan untuk kembali ke Seoul, Frank dan Jungkook sudah melarang Lian dengan keras. Tapi memang, Si Lian yang Pembangkang! Bukan Lian namanya kalau tidak mendapat yang dia inginkan. Setelah meyakinkan sang ayah dan kakak kalau dia akan baik-baik saja, akhirnya Frank mengijinkan Lian. Dengan berat hati.

Jin percaya pada Lian kalau dia akan baik-baik saja. Tapi setelah melihat keadaan Lian yang seperti ini, Jin menjadi ragu. Apakah Lian akan seperti ini terus? Melihatnya saja Jin sudah tidak tega.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jin setelah hening beberapa menit.

I’m okay, Oppa.” Jawab Lian dengan senyum yang dipaksakan. Senyum itu nampaknya menular pada Jin, karena saat ini Jin juga tersenyum. Nanar.

“Kau kelelahan. Lebih baik kau mandi dan istirahat selagi menunggu makan malam. Aku akan menemanimu.” Ucap Jin

Lian menggeleng. “Oppa, aku merindukanmu.” Bisik Lian sambil memeluk Jin erat.

“Aku lebih merindukanmu, gadis nakal.” Sahut Jin sambil membalas pelukan Lian dengan erat.

Jin tahu. Jin dapat merasakan ketakutan Lian melalui pelukan ini.

“Bagaimana perjalanannya?” Tanya Jin

“Melelahkan.” Jawab Lian singkat.

“Sudah kubilang, kau harus istirahat. Jungkook akan pulang sebentar lagi.” Jin kembali memaksa Lian.

Usahamu akan sia-sia, Jin! Jangan lupa kalau Lian adalah gadis keras kepala! Dan Jinpun hanya pasrah saat Lian tetap bersikeras ingin menunggu Jungkook pulang. Tentu saja setelah Lian membersihkan diri terlebih dahulu. Jin membiarkan Lian menuju kamarnya. Sendirian. Jin berusaha yakin kalau Lian pasti bisa menghadapi traumanya sendiri. Lian harus belajar.

Jin terus memperhatikan Lian yang tengah menaiki tangga menuju kamarnya. Dibalik langkah tegas Lian, Jin yakin kalau sebenarnya hati Lian tengah bergejolak. Antara melawan dan menyerah. Jin terlalu mengenal Lian. Akhirnya Lian hilang dari pandangannya. Jin terus mensugesti kalau dia tidak boleh menyusul Lian. Lian akan turun dengan wajah ceria. Jin hanya perlu menunggu adik sepupunya itu selesai mandi dan mereka akan menunggu Jungkook bersama.

Sembari menunggu Lian selesai mandi, Jin kembali mengurus pekerjaannya yang tadi sempat dia tinggal. Dia mengecek beberapa email masuk yang kebanyakan tentang perjanjian bisnis dan laporan-laporan seputar perusahaannya. Jin adalah seorang Presiden Direktur Empire Inc., perusahaan teknologi dan software terbesar di Korea Selatan. Perusahaan itu dibangun sendiri oleh Jin yang dibantu ayahnya, Jungkook, dan Yugyeom. Kebetulan dua sahabatnya itu pecinta game sehingga mendukung penuh keinginan Jin yang hendak mendirikan perusahaan teknologi dan software yang kebanyakan game.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Jin tahu kalau seorang perempuan akan lama saat mandi. Tapi apa harus selama ini? Apa saja yang Lian lakukan? Jin mulai gusar. Dia sudah berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat ke arah tangga. Setiap detik yang berjalan membuat Jin semakin merasa cemas.

Ini buruk. Akhirnya Jin memutuskan untuk menyusul Lian. Setidaknya dia harus memastikan kalau adik sepupunya itu baik-baik saja. Namun baru mencapai tangga ketiga, Lian sudah muncul dengan wajah yang lebih segar. Jin bernafas lega. Lian baik-baik saja.

Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi di kamar Lian. Dan hanya Tuhan yang tahu kalau Lian sedang berakting terlihat baik-baik saja.

You’re such a great actress, Lian!

“Apa aku lama?” Lian memecah keheningan saat sudah berada di depan Jin. Jin tersenyum sambil menggeleng.

“Kookie Oppa belum pulang?” Tanya Lian lagi. Dia berjalan menuju sofa ruang tengah diikuti Jin di sampingnya.

“Sebentar lagi akan pulang.” Jawab Jin

“Tuan, Nona, makan malam sudah siap.” Ucap Kate ramah dengan kepala tertunduk.

“Baiklah. Sebaiknya kita makan malam dulu. Aku yakin kau belum makan sejak siang tadi.” Ucap Jin

Lian menggeleng. “Aku akan menunggu Kookie Oppa.” Sahut Lian sambil berdiri dari duduknya. “Aku akan menunggu di kamar, Oppa. Apa tidak papa kutinggal?” Tanya Lian ragu.

“Tak apa. Kau butuh istirahat. Aku akan disini. Lagipula Yugyeom dan Bambam akan kesini.” Jawab Jin sambil tetap mempertahankan senyum hangatnya.

Setelah berpamitan Lianpun menuju kamarnya. Membiarkan Jin menemaninya di ruang tengah. Jujur saja, Lian sangat lelah. Dia ingin segera tidur tapi Jungkook belum pulang. Dia hanya akan tidur kalau Jungkook sudah pulang.

Sudah jam delapan. Jungkook mulai kesal dan resah. Pekerjaannya belum selesai. Masih ada pasien yang harus dia tangani. Tapi dia ingin segera pulang karena dia yakin Lian masih menunggunya. Setelah melihat keadaan pasien VVIP ini, Jungkook bisa pulang. Sialan sekali Jimin yang melemparkan tugasnya pada Jungkook.

Jungkook memasuki ruangan VVIP ditemani dua suster dan satu lagi rekan dokternya. Seperti biasa. Ruangan itu dihuni sepasang suami istri yang dikenal sebagai orangtua pasien itu dan juga seorang bocah kecil, anak dari pasien itu. Melihat Jungkook masuk, pria paruh baya yang diketahui bernama Taejun langsung berdiri. Pria paruh baya itu menunduk sopan pada Jungkook sebelum akhirnya memberi ruang untuk mereka agar leluasa dalam mengecek kondisi putranya.

Masih tetap sama. Tidak ada kemajuan. Setiap kali memeriksa pasiennya yang satu ini, Jungkook selalu kasihan dengan bocah kecil yang saat ini tidur di salah satu sofa ruangan VVIP ini. Jungkook menghela nafas panjang setelah membaca catatan medis pasiennya yang bernama Kim Taehyung ini. Peluru itu tidak menembus perutnya terlalu dalam, tapi kenapa sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemajuan?

Jungkook memberikan catatan medis itu kepada suster. Kemudian dia mendekati Taejun yang tampak menunggunya dengan wajah yang selalu cemas.

“Bagaimana, Dokter Jeon? Apa putraku ada kemajuan?” Tanya Taejun

Jungkook mencoba tersenyum agar keluarga tetap berpikir positive. “Dia akan segera sadar, Tuan Kim. Jangan berhenti berdoa.” Jawab Jungkook

Taejun menghela nafas panjang. Pandangannya beralih pada sang putra yang masih setia memejamkan matanya. “Terimakasih, Dokter.” Ucap Taejun berusaha memaksakan senyum.

“Sudah menjadi kewajiban kami, Tuan. Kalau begitu kami permisi, Tuan, Nyonya. Jika ada sesuatu bisa memencet tombol itu.” Ucap Jungkook sambil menunjuk sebuah tombol di atas brankar Taehyung.

“Ya, Dokter. Terimakasih.” Sahut Taejun

Setelah berpamitan, rombongan Jungkookpun keluar dari ruangan VVIP ini. Dia bernafas lega. Pekerjaannya selesai dan dia bisa pulang bertemu Lian. Jungkook berpamitan pada rekan dokter dan dua suster itu. Dia langsung menuju parkiran khusus jajaran direksi rumah sakit ini.

Sudah hampir pukul sembilan. Jungkook belum pulang. Jin, Yugyeom, dan Bambam masih di ruang tengah rumah Jungkook. Mereka juga sudah makan malam terlebih dahulu. Tanpa Lian. Lian masih menolak untuk makan kalau tidak ada Jungkook. Sampai sekarangpun, gadis blasteran Swiss itu masih mengurung diri di kamar. Terakhir Jin lihat, Lian sedang duduk di balkon sambil mendengarkan musik. Sekarang? Entahlah. Jin sibuk menyelesaikan project game baru perusahaannya yang akan dirilis dua bulan lagi.

Saat mereka sedang melakukan meeting kecil, terdengarlah suara mobil yang diyakini adalah milik Jungkook. Dalam hati Jin bernafas lega namun juga kesal. Sudah berkali-kali Jin menyuruh Jungkook untuk fokus pada posisi direktur. Tapi Jungkook kekeuh untuk memakai jas dokternya. Mengobati orang sakit adalah bidangnya.

Jungkook masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Dia melihat mobil Jin dan Bambam terparkir di depan rumah. Jungkookpun sedikit lega karena Lian tidak sendirian di rumah. Jungkook disambut Kate di depan rumah. Kebiasaan Kate sejak Jungkook mulai bekerja.

“Tuan, Nona tidak mau makan sampai sekarang. Dia sejak tadi berada di kamarnya. Tuan Muda Jin juga sudah memaksa agar Nona makan, tapi Nona tetap tidak mau makan.” Ucap Kate sepanjang perjalanan menuju ruang tengah.

Ucapan Kate tersebut berhasil membuat Jungkook marah. Adiknya itu punya penyakit asam lambung akut. Di ruang tengah, dia hanya mendapati Jin, Yugyeom, dan Bambam yang nampak sibuk dengan laptop di depan mereka. Dalam hatinya berterimakasih pada Jin yang rela melaksanakan meeting di rumahnya. Setidaknya Lian mendapat pengawasan dari Jin.

“Kau pulang?” Sapa Jin saat menyadari Jungkook sudah di ruang tengah.

“Ya. Ada pasien yang harus kutangani.” Jawab Jungkook sambil melepas jas dokternya dan memberikan pada Kate. “Kalian sudah makan malam?” Tanyanya kemudian.

“Sudah. Tapi adikmu sangat keras kepala. Dia mengurung dirinya di kamar. Padahal aku ingin melihatnya.” Jawab Bambam

“Aku sudah melarangnya berdekatan dengan pria sepertimu.” Ucap Jungkook dengan senyum miringnya. Bambam sontak memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Jungkook. “Lanjutkan saja pekerjaan kalian. Anggap rumah sendiri.” Sambungnya lalu menuju kamar Lian. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan Lian sampai tidak mau turun untuk menyapa kedua sahabatnya.

Jungkook tadi memang sempat kawatir kalau trauma Lian akan kembali. Tapi bagaimanapun juga, Jungkook harus percaya pada Lian. Dia juga tidak mau membatasi ruang gerak Lian. Biarkan saja Lian berbuat sesuai keinginannya selama itu tidak merugikan untuk Lian sendiri dan orang-orang sekitarnya.

Jungkook langsung membuka pintu Lian tanpa mengetuk pintu. Hanya dia dan Frank yang berani masuk kamar Lian tanpa mengetuk pintu. Bukan sudah dikatakan sejak awal kalau Lian selalu berhati-hati dan menjaga privasinya. Kamar termasuk di dalamnya. Jungkook tidak mendapati Lian di ranjang maupun sofa. Namun pandangannya jatuh pada sebuah kotak yang terbuka dan terletak di lantai, tepatnya di sisi meja yang ada di sudut kamar Lian.

Jungkook melangkah masuk ke kamar dan menutup pintu. Dia mendekat ke arah kotak itu. Penasaran dengan isi kotak yang lumayan besar itu. Keningnya berkerut saat melihat isi kotak itu. Ada sebuah dress kecil berwarna pink magenta, topi, bando, buku bersampul balon dan bunga sakura, dan yang terakhir yang membuat Jungkook kaget adalah foto keluarga mereka saat Lian masih berumur tujuh tahun dan Jungkook sembilan tahun. Foto itu diambil di taman bermain.

Kemudian Jungkook teringat pada Lian. Dimana Lian? Apa selama mengurung di kamar, Lian membongkar kardus ini? Akhirnya Jungkook dapat bernafas lega saat melihat Lian berdiri di balkon kamarnya dengan headset yang terpasang di telinganya.

Jungkook berjalan perlahan mendekati Lian. Adiknya yang malang. Tinggal tiga langkah Jungkook berhasil mencapai Lian, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara isakan. Lian menangis. Adiknya menangis. Jungkook mengurungkan niatnya untuk mendekati Lian. Memilih untuk melihat dan mendengar Lian yang tengah menangis dari belakang. Mendengar setiap isakan yang keluar dari bibir mungil Lian, hati Jungkook serasa ditusuk ribuan jarum. Sakit. Lian bukan seorang gadis cengeng. Terakhir menangis adalah saat neneknya menangis.

Jungkook bukan tidak tahu apa yang membuat Lian menangis. Diapun dapat merasakan bagaimana hancurnya Lian. Jungkook ikut menangis. Menangis dalam diam. Baginya melihat Lian bersedih adalah kesakitannya.

‘Mom, kau lihat betapa Lian sangat merindukanmu? Lian menjadi gadis kuat yang mengagumkan. Aku janji akan selalu menjaga Lian dan tidak akan membiarkan Lian menangis. Aku janji, Mom.’

.

.

.

.

.


To be continued~