Posted in Chapter

TAKE ME #1 (Failed Wedding)


Tittle : TAKE ME (Failed Wedding)
Author : xxxpunch

Main Cast : Jeon Lian/Audrey Koch – Byun Baekhyun

Other Cast : EXO – Kim Taehyung – Jeon Jungkook – Harry McKenzie – etc

Category : Chapter, Romance

***

Menjelang pemberkatan dimulai, semua orang disibukkan dengan tugas masing-masing. Para tamu undangan sudah memenuhi kursi di dalam gereja. Dilihat dari cara berpakaiannya saja, jelas mereka berasal dari keluarga bangsawan dan terpandang.

Pernikahan ini akan menjadi pernikahan paling ditunggu di kalangan bangsawan. Pasalnya cucu terakhir dari Charles Korch akan mengakhiri status lajangnya hari ini.

Pemandangan lain terlihat di dalam ruang ganti pengantin perempuan. Gadis berpakaian pengantin itu sedari tadi sibuk mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya. Kalau kalian mengira gadis itu gugup karena pemberkatan akan segera dimulai, maka jawabannya salah besar.

Pernikahan? Cih! Menyebutnya saja membuat gadis itu mual.

Kalau seminggu yang lalu dia sangat antusias dengan pernikahannya, maka sejak tiga hari yang lalu tidak lagi. Setelah mengetahui aib paling busuk dari seseorang tentang calon suaminya, dia malah sangat muak.
Muak dengan kebodohannya.


Aku janji tidak akan membuatmu kecewa.


Tidak akan ada yang ditutupi.


Kau wanita satu-satunya yang bisa membuatku segila ini.

Busuk! Omong kosong!

Sepuluh menit lagi pemberkatan dimulai. Lian atau Audrey, Si pengantin perempuan, masih belum mendapatkan cara untuk kabur dari pernikahan busuk ini. Anggap dia gila! Memang itu kenyataannya. Setidaknya setelah tahu kalau Harry, calon suaminya, sedang mengkhianatinya.

Persetan dengan kehormatan! Lian muak! Sakit di hatinya sudah memakan habis hatinya. Masa bodoh dengan tahtanya. Tahta, kekuasaan, kehormatan! Lian tidak peduli lagi dengan tiga hal itu.


Kling
.

Pesan masuk di ponselnya. Lian segera mengambil ponselnya yang tergeletak di meja riasnya. Nafas lega langsung keluar dari mulutnya saat melihat nama si pengirim.


Tae ❤


Kuharap aku tidak menjadi buruan orang-orang kakekmu. Semuanya sudah siap. Pikirkan baik-baik lagi keputusan gilamu, Koch! Nama baik keluargamu dipertaruhkan.

Senyum lebar terpatri di wajah gadis Amerika itu. Mengabaikan dua kalimat dari sahabatnya itu, Lian langsung melempar ponselnya ke sofa. Dia menatap penampilannya sejenak melalui cermin di depannya.


Grandpa, maafkan cucumu yang kurang ajar ini.

Lian menghela nafas panjang. Dia menatap sepatu kaca yang khusus dipesan Harry untuknya itu. Bahkan dia belum sempat memakai sepatu itu. Bohong kalau Lian tidak ingin menangis. Dia sudah berjanji tidak akan menangisi pria brengsek itu.


Sudah saatnya.

Lian memasukkan sepatu kaca itu ke dalam kotaknya lagi. Matanya berkaca-kaca saat mengingat percakapan singkatnya dengan Harry enam bulan yang lalu.


“Kau suka Cinderella?”


“Kenapa? Kau bukan anak kecil lagi, Audrey.”


“Aku ingin memakai sepatu kaca saat menikah nanti.”


“Kalau begitu akan kukabulkan permintaan tuan putriku ini.”

Harry menepati janjinya. Tapi Lian tidak bisa memakai sepatu kaca itu. Mengingat semua kenangannya membuat hatinya makin sesak. Semuanya tinggal kenangan.

Tanpa mempedulikan penampilannya yang masih menggunakan gaun pengantinnya, Lian membawa kotak berisi sepatu kaca dan ponselnya itu dan keluar dari ruang gantinya. Matanya membulat saat melihat jejeran pria berjas di sepanjang koridor. Pengawal-pengawal itu menatap Lian heran.

Bagaimana bisa Lian melupakan hal sepenting ini?

Sebuah ide melintas di kepalanya. Dia berusaha memasang wajah ketakutan. Kemudian dia berlari.

“Tolong! Ada orang yang ingin memperkosaku di dalam!” Teriak Lian yang langsung menarik perhatian para pria berjas hitam itu.

Salah satu menghampiri Lian dan sisanya memasuki ruang ganti Lian. Lian tersenyum licik. Mereka masuk jebakannya. Tinggal mengurus pria di sampingnya yang tengah menenangkannya.
Lian mengambil ancang-ancang untuk memukul pria itu. Gaun pengantin ini membatasi gerakannya.


Buk!


Jedug!

Dalam sekali pukulan, Lian berhasil membuat pria itu pingsan. Senyum di wajahnya bertambah lebar. Dia kembali berlari menuju ruang gantinya. Dia menatap pria-pria pesuruh kakeknya itu dengan senyum sinis.

“Maafkan aku, pria-pria tampan.” Desis Lian

Lalu…


Brak
!

Lian mengunci pintu itu dari luar. Sedetik kemudian terdengar suara gaduh di dalam. Tanpa pikir panjang lagi, Lian berlari menuju pintu keluar.


Sialan
! Lian langsung mengumpat dalam hati saat melihat lebih banyak pria berjas hitam. Dia kembali memutar otaknya. Waktu semakin sempit. Lian yakin sebentar lagi berita tentang dia kabur akan tersebar. Dia berharap ada mobil yang bisa dia gunakan.

Pucuk dicinta, mobilpun datang.

Dia melihat orang yang baru saja keluar dari mobil. Lalu dia berlari menuju orang itu. Dan dia harus melukai satu orang lagi. Tidak sia-sia dia mendapat pelatihan bela diri setiap hari Rabu dan Sabtu. Orang itu pingsan dalam sekejap.

“Maafkan aku, tuan.” Bisik Lian sambil mengambil kunci mobil milik orang itu.

Miss Koch!” Teriak salah satu pria berjas hitam yang berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.

Shit!” Pekik Lian lalu masuk ke dalam mobil itu.

Dalam lima detik, para pengawal langsung berlarian ke arahnya. Lian memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli nyawanya terancam. Lebih baik dia mati kalau harus menikah dengan pria brengsek itu.

***


Incheon International Airport, Seoul, South Korea

7.34 p.m KST

Pesawat pribadi Lian baru saja mendarat di Seoul. Dia berhasil bebas dari orang-orang suruhan Charles, kakeknya. Tentu saja dia harus naik taksi terlebih dulu untuk sampai bandara. Dia bahkan harus mengabaikan tatapan heran dan sinis dari orang-orang.

Jangan lupa kalau Lian adalah gadis yang akan melangsungkan pernikahan. Dia kesana-kemari masih menggunakan gaun pengantin. Siapa yang tidak heran?

Tanpa menunggu pramugari yang biasanya akan melepas seatbeltnya, Lian langsung turun dari pesawat. Dia yakin kakeknya itu sudah menyuruh orang-orangnya di Korea untuk mencarinya. Charles itu cerdas. Maka dari itu, Lian harus lebih cerdas.


Bingo
!

Dia kembali menjadi pusat perhatian saat sudah memasuki ruang tunggu VVIP. Beruntung yang berada disini tidak banyak. Lian memutar kepalanya. Mencari sosok Kim Seokjin yang sudah berjanji akan menunggunya di ruang tunggu.

Tidak ada!

Lian mendesah frustasi. Waktu mengejarnya. Dia harus segera keluar dari bandara ini kalau ingin selamat dari Charles. Kalau saja dia tahu Seoul, Lian tidak akan menunggu Seokjin.

Mampus!

Pesawat dengan simbol Koch baru saja mendarat. Hanya berselang tujuh menit. Bukankah Charles sangat cerdas? Lian tahu itu adalah pesawat dengan kecepatan super yang dipesan sepupu gilanya tiga bulan yang lalu. Tapi dia tidak menyangka kalau Charles akan meminjam pesawat itu untuk mengejarnya.

Tanpa mau membuang waktu, Lian berlari entah kemana. Yang jelas dia harus bersembunyi dari orang-orang suruhan kakeknya.


Bruk
!

“Ah! What the hell!” Pekik Lian saat tubuhnya bertabrakan dengan seseorang hingga tersungkur.

Lian menatap pria yang berdiri di depannya tajam, “Hey, Sir! Tidakkah kau melihat kalau aku sedang berlari? Kenapa berdiri disitu?” Omel Lian sambil berusaha untuk berdiri.


See
! Bahkan pria itu tidak berusaha untuk membantunya. Gaun sialan! Lian merapikan sebentar gaunnya yang berantakan. Gaun ini mahal.

Sementara itu, pria yang baru saja dia marahi hanya menatapnya heran. Bukan hanya pria itu. Ada pria-pria yang lain yang menatap Lian heran. Beberapa juga bisik-bisik.

“Nona, kau harusnya yang berjalan menggunakan mata. Kenapa menyalahkanku?” Balas pria yang baru saja Lian tabrak tak mau kalah.

Lian mendelik kesal. Bukannya minta maaf, tapi malah menyalahkannya. Dia baru akan membalas ucapan pria itu saat akhirnya sadar kalau dia sedang berada diantara para pria dan wanita. Mulutnya menganga. 

Kenapa tiba-tiba banyak sekali manusia yang mengelilinginya? Mereka menatapnya dengan tatapan yang beragam.

“Kau tidak tahu siapa kami?” Celetuk salah satu dari pria itu. Pria paling tinggi bersuara besar.

“Memangnya siapa kalian itu penting?” Sungut Lian sambil melihat ke belakang.

Demi dewa-dewi Yunani! Pria-pria berjas itu sedang berpencar mencarinya. Seharusnya Lian tidak meladeni pria itu dan langsung pergi. Sekarang dia tidak bisa kabur. Pria berjas hitam itu akan mudah menemukannya.

“Tuan, bisakah kau membantuku? Bawa aku pergi dari sini. Kumohon, tuan.” Pinta Lian pada pria yang tadi dia tabrak. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan wajah dan memasang wajah semelas mungkin. Berharap pria di depannya ini iba.

Dia melupakan sejenak kekesalannya karena pria tadi yang membuatnya terjatuh. Sesekali dia menoleh ke belakang.

“Kau tadi memarahiku, sekarang minta bantuanku. Hey, Nona! Kau harusnya tidak disini. Calon suamimu pasti sekarang mencarimu.” Sahut pria itu sambil melipat tangannya di depan dada.

“Tuan, kumohon. Aku harus segera pergi dari sini.”

Miss Koch!” Teriak seseorang.

Tubuh Lian mematung mendengar teriakan itu. Dia tertangkap. Dia dapat mendengar suara derap langkah yang berlari ke arahnya. Lian masih mematung di tempat. Dia tidak bisa berpikir. Tidak ada jalan keluar untuk kabur lagi. Orang-orang suruhan kakeknya sudah mengepungnya.

Lian persis seperti anak kecil yang ketahuan mencuri. Sial! Kalau begini sudah pasti dia tidak akan berhasil kabur. Orang-orang itu ada dua puluhan. Lian pasti kalah melawan dua puluh orang.

“Audrey.”

Suara itu! Suara serak itu milik pria brengsek yang membuatnya kabur. Bagaimana bisa Harry ada disini? Lian benar-benar tidak dapat berkutik. Dia mengangkat kepalanya dan saat itu juga matanya bertubrukan dengan milik pria berwajah cantik di depannya. Harapan terakhirnya terletak pada pria itu. Dia masih sempat berbisik agar pria itu mau membantunya. Tapi pria itu hanya menatapnya datar.

“Audrey-”

“Jangan mendekat!” Ucap Lian sambil menghindar dari Harry yang hendak menyentuhnya.

Harry menatap calon istrinya bingung. Tujuh jam yang lalu dia mendapat kabar kalau Lian tiba-tiba kabur saat pemberkatan akan dimulai empat menit lagi. Saat itu juga Charles murka dan langsung memerintahkan orang-orangnya untuk menangkap Lian. Harrypun tidak bisa berdiam diri. Dia bertekad akan membawa Lian pulang.

“Kau ini kenapa? Kenapa kabur saat pemberkatan kita akan dimulai?” Tanya Harry dengan suara lembut.

Lian menatap Harry sinis. Masih saja bersikap sok manis. Sayangnya, Lian tidak akan pernah termakan lagi dengan sikap manis Harry. Cukup sekali saja dia menjadi gadis bodohnya Harry.

“Aku tidak mau menikah denganmu.” Ucap Lian lantang. Matanya sudah berkaca-kaca sejak dia mendengar suara Harry. Namun dia sudah berjanji untuk tidak menangisi pria pembohong itu.

Mata Harry tampak melebar saat mendengar ucapan Lian. Jauh-jauh dia kesini bukan untuk mendengar hal ini dari tunangannya itu. Harry berjalan mendekati Lian. Tangannya sudah akan mencapai pundak Lian, namun Lian menghindar lagi. Ada yang tidak beres pada Lian. Tiga hari yang lalu Liannya masih sangat manja terhadapnya.

“Audrey, kau kenapa? Ayo, pulang! Kakek akan marah-”

“Aku tidak peduli! Dan aku tidak mau menikah denganmu!” Seru Lian sambil menunjuk Harry.

Harry menghela nafas panjang. Berusaha sabar. Entah apa yang terjadi pada Lian, dia hanya perlu menunggu sampai emosi gadisnya ini stabil.

“Bawa dia.” Ucap Harry pada pengawalnya.

Pengawal itu hanya mengangguk patuh dan langsung membawa Lian pergi.

“Lepaskan aku! Aku tidak akan pulang!” Jerit Lian sambil meronta.

Pria yang tadi bertabrakan dengan Lian akhirnya memutuskan untuk turun tangan. Dia tidak bisa melihat wanita diperlakukan kasar. Dia menghadang jalan mereka tanpa mempedulikan panggilan Chanyeol dan teman-temannya yang lain. Baekhyun, pria itu, menatap Lian datar lalu beralih pada dua orang yang memegang lengan Lian.

“Kau siapa? Jangan menghalangi kami!” Ucap Harry sinis.

Lian menyentak tangan suruhan Harry. Tidak hanya itu. Dia menyikut perut dua pria berbadan besar itu. Dia berterimakasih dalam hati karena pria itu mau menolongnya. Kemudian tangannya diseret Baekhyun hingga kini dia berada di belakang pria berwajah cantik itu. Lian dapat melihat wajah Harry yang mengeras. Biasanya dia akan takut kalau sudah melihat ekspresi marah Harry. Tapi kali ini, melihatnya saja membuat Lian ingin muntah.

Muka dua! Menjijikan!

“Apa-apaan ini, Audrey? Apa kau mengkhianatiku?” Tanya Harry dengan suara rendah.

“Mengkhianatimu?” Desis Lian sambil tersenyum sinis.

Harry menghela nafas panjang. Pasti Lian sedang banyak pikiran sehingga pikirannya ngawur. Tapi, haruskah kabur hingga ke negara orang? Itulah yang sejak tadi menjadi tanda tanya Harry.

Mungkinkah sesuatu terjadi sebelum pemberkatan dimulai?

Tidak mungkin.

Ruang ganti Lian aman selama sepuluh menit menjelang pemberkatan. Lagipula Lian tidak punya musuh. Kemungkinan besar ada seseorang yang mengganggunya kecil. Yang menjadi hipotesis sementaranya adalah adanya seseorang yang mengancam Lian memalui pesan ataupun telepon, karena Lian juga pernah bilang padanya kalau ada nomor tidak dikenal mengganggunya. Bisa jadi nomor itu kembali mengancam Lian.

Baby, please jangan mempersulit keadaan. Kita pulang sekarang. Keluarga kita menunggu.” Suara dan tatapan Harry melembut.

“Aku tidak mau pulang! Sialan!” Sahut Lian dengan nada tinggi.

Semua umpatan Lian keluarkan. Entah umpatan itu ditujukan pada siapa. Wajahnya sangat frustasi. Dia sudah sangat gatal ingin menendang Harry. Rasa sakit hati karena dikhianati membuatnya ingin membunuh Harry saat ini juga.

“Kalau begitu kita ke pergi dari sini. Semua orang melihat kita.” Bujuk Harry lagi sambil mendekati Lian. Kali ini Lian tidak menghindar.

“Harry, I wanna say something.” Ucap Lian pelan. Dia memberanikan diri untuk menatap Harry.


Jangan menangis!
Lian menjerit dalam hati. Tangannya terkepal erat. Dia berusaha menahan air matanya yang sudah berkumpul di sudut matanya. Tidak peduli dengan sakit hati, tidak peduli dengan rasa cintanya yang teramat besar pada pria brengsek di depannya.

Hubungan ini harus berakhir

“Kita akhiri saja.” Ucap Lian final.

Terlihat mata Harry melebar. Bukan hanya Harry. Orang-orang suruhan Charles juga tampak kaget. Tangan Harry sudah terkepal erat. Mati-matian dia menahan untuk tidak menyeret Lian ke dalam pesawat.

Dia baru akan memegang tangan Lian, saat Lian tiba-tiba melepas cincin pertunangan mereka. Matanya melebar. Dia menatap Lian tidak percaya.

“Audrey, apa yang kau lakukan?!” Sentaknya sambil menahan tangan Lian yang hendak melempar cincin itu.

“Mengakhiri hubungan kita.”

“Kau terlalu banyak pikiran, Baby. Lebih baik kita pulang sekarang dan kau bisa istirahat di pesawat agar pikiranmu jernih.” Sahut Harry berusaha tenang.

“Aku muak denganmu, Harry! Jangan berpura-pura manis di depanku!” Teriak Lian. Air matanya meluncur bebas di kedua pipinya.

“Audrey…” Lirih Harry sambil memegang kedua pundak Lian. Kelemahannya adalah melihat Lian menangis.

Harry kehilangan kata-kata. Dia tidak tahu apa yang membuat Lian mengambil keputusan gila ini. Tapi, sebesar apakah ancaman atau masalah yang dihadapi Lian hingga harus mengambil keputusan dengan berpisah?

Berpisah bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah.
Lagipula, Harry tidak akan bisa berpisah dari Lian. Lian sudah seperti nafas untuknya. Jika nafas itu hilang, maka dia akan mati.

“Sekarang aku tanya padamu. Apa kau sedang mengkhianatiku?” Tanya Lian lirih. Dia menatap Harry dengan tatapan terluka.

Mendengar pertanyaan Lian, membuat tubuh Harry membeku seketika. Tangannya yang berada di pundak Lian langsung terlepas. Pandangan matanya kosong. Jantungnya bergemuruh. Suara isak tangis Lian tidak dapat lagi dia dengar.

Sesuatu yang buruk baru saja terbongkar.

Harry yakin ada kesalahpahaman. Dia menatap Lian penuh penyesalan. Tangannya berusaha untuk memegang tangan Lian, tapi gadis itu kembali menghindar. 

Tiba-tiba saja ketakutan terbesar itu datang menyerangnya.

Ketakutan akan kehilangan nafasnya. Audrey Koch.

“Kenapa kau tidak menjawab? Kalau kau mau menjawab jujur, aku akan menarik kata-kataku tadi.” Kata Lian lirih.

Dalam sudut hatinya yang paling dalam, dia berharap Harry menjawab tidak sehingga dia masih bisa mempertahankan hubungan mereka. Dia berharap apa yang dia dengar dan lihat tiga hari yang lalu adalah sebuah kebohongan. Tapi mustahil. Semua yang dia lihat terlalu nyata untuk dikatakan kebohongan.

Katakan sesuatu, Harry!

Lian masih menunggu Harry mengeluarkan suara. Apapun itu, entah kebenaran atau bukan, Lian hanya ingin Harry mengatakan sesuatu. Namun hingga menit ketiga, Harry masih bungkam. Pria berambut kriting masih diam mematung dengan tatapan yang menyiratkan penyesalan.

Lian menundukkan kepalanya. Tidak peduli dengan aksinya yang menjadi pusat perhatian. Tidak peduli make upnya akan luntur. Diamnya Harry merupakan pukulan telak untuknya agar tidak menyesali keputusannya. Tapi ketahuilah, dalam hati terdalam Lian, dia tidak ingin kehilangan Harry. Harry adalah pria pertama yang mengisi hatinya selama lebih dari tiga tahun.

Haruskah berakhir dengan cara seperti ini?

Setelah air matanya berhenti mengalir, Lian kembali mengangkat kepalanya. Dia menepis tangan Harry dengan kasar dan beralih menatap orang-orang suruhan Charles.

“Aku tidak akan memerintahkan kalian untuk tinggal disini, tapi kalau kalian akan tetap disini aku tidak menolak.” Ucap Lian

“Tapi, Miss, Tuan Besar-”

Just shut up!” Sentak Lian

Lian menghembuskan nafas kasar. Dia menatap Harry yang masih seperti patung. Dia memegang tangan Harry lalu memberikan cincin tunangan mereka ke tangan Harry.

“Audrey, bisakah kita bicarakan baik-baik? Aku tidak bisa.” Bisik Harry sambil menggenggam kedua tangan Lian. Suaranya terdengar memohon.

Lian menggelengkan kepalanya, “kau tahu aku benci dengan pembohong? Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sekarang lepaskan tanganku.” Ujar Lian sambil berusaha melepas genggaman tangan Harry.

“Kita saling mencintai, Audrey. Kita bisa bicarakan baik-baik.” Mohon Harry

“Harry, lepas!” Seru Lian sambil memukul lengan Harry.

“Mister, kau tidak dengar kalau gadis ini memintamu melepaskannya? Singkirkan tanganmu darinya.” Baekhyun akhirnya angkat suara. Dia memegang tangan Harry dan memaksa agar Harry mau melepas genggaman tangannya pada Lian.

“Jangan ikut campur, dude!” Sentak Harry sambil mendorong Baekhyun. Amarahnya mendadak terkumpul saat melihat pria asing yang sejak tadi ikut campur masalahnya.

“Jangan membentaknya! Dengar, Harry! Aku muak melihatmu! Aku tidak akan menikah denganmu! Mulai sekarang jangan pernah menghubungiku ataupun menemuiku! Hubungan kita cukup sampai disini!” Ucap Lian panjang lebar. Dadanya kembang-kempis karena saking panjangnya kalimat yang dia ucapkan.

“Jangan bercanda, Audrey Koch!”

“Aku tidak pernah seserius ini,  Mister Harry! Kau ingin tahu siapa pria ini? Dia kekasihku sejak tiga hari yang lalu! Aku mencintainya yang tidak pernah berkhianat sepertimu!” Seru Lian sambil menunjuk Baekhyun yang berdiri di sampingnya.

Harry dan Baekhyun tampak melototkan mata mereka. Tidak hanya itu. Terdengar pekikan dari para pria dan wanita di belakang sana yang entah siapa.
Lian maju satu langkah, menyisakan jarak sejengkal antara dia dan Harry. Tatapan matanya menyiratkan luka dan kebencian yang mendalam. Berbeda dengan Harry yang masih terlihat kaget dengan pernyataannya barusan.

“Aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Cukup aku saja yang tahu dan merasakan akibatnya. Buang semua mimpi yang pernah kita rajut.”

“Audrey, please-”

“Tidak, Harry. Aku tidak bisa. Sekarang, pulanglah. Kita benar-benar tidak bisa bersama.” Lirih Lian. Matanya kembali berkaca-kaca saat melihat tatapan memohon Harry.

“Aku mencintaimu, Audrey.” Bisik Harry. Mata lelaki itu juga berkaca-kaca.

“Aku tahu, Harry. Tapi kau juga menyakitiku. Jadi, kumohon pulanglah sekarang. Jangan membuatku goyah.” Pinta Lian

Harry menatap Lian penuh penyesalan. Kemudian dia menghela nafas panjang.

“Aku pergi bukan karena menyerah. Aku akan datang lagi untuk membawamu pulang. Aku janji.” Ucap Harry penuh keyakinan.

Sebuah kecupan manis mendarat di kening Lian. Air matanya tumpah lagi. Inilah keputusan yang dia ambil. Menyakitkan memang, tapi Lian tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Harry. Mungkin memang mereka tidak ditakdirkan untuk bersama. Mereka hanya ditakdirkan untuk mengenal, bukan saling memiliki.

“Aku mencintaimu. Selalu.” Bisik Harry sebelum akhirnya melangkahkan kakinya untuk pergi.

Salah satu pengawal Lian menghampiri Lian. Beberapa juga masih ada yang tinggal di dekat Lian.

Tubuh Lian merosot. Tangisnya pecah seketika. Dadanya sesak. Semuanya sudah berakhir. Perjalanan cintanya dengan Harry harus berakhir dengan cara yang mengenaskan. Lian memukul dadanya yang terasa semakin sakit.


Apakah keputusan ini benar?


Apakah aku bisa hidup tanpanya?


Apakah aku akan bahagia tanpanya?

Tubuh Lian bergetar hebat. Pundaknya naik turun. Beruntung saat ini ruang VVIP ini sudah aman dari orang-orang. Jadi, dia tidak akan malu karena menangis.


Aku juga mencintaimu
.

Itulah yang Lian ramalkan sejak tubuh Harry menghilang dari pandangannya. Sekarang, tidak ada lagi Harry dalam kehidupannya. Tidak ada lagi sosok Harry yang akan selalu dia kenalkan sebagai kekasihnya. Cerita diantara mereka sudah berakhir.

Akhir yang menyedihkan.

“Astaga, Jeon Lian Audrey Koch!” Pekik seorang pria seumuran Baekhyun yang tiba-tiba datang dan langsung menubruk Lian yang masih terduduk mengenaskan.

Dia Kim Seokjin. Orang yang Lian suruh untuk menjemputnya. Andai saja suasana hati Lian tidak sedang buruk seperti sekarang ini, dapat dipastikan wajah tampan Seokjin akan lebam. Saat ini kedatangan Seojin tidak membantunya. Toh Harry sudah menemuinya dan hubungan mereka sudah berakhir.

Seokjin menatap kondisi adik dari sahabatnya ini dengan tatapan miris. Astaga! Bagaimana mungkin gadis ini dinobatkan sebagai penerus Koch Industries? Dari semua keturunan Koch, satu-satunya yang kelakuannya melenceng hanya Lian. Berbeda dengan kakaknya yang terlihat berwibawa. Justru Lian malah terlihat bringas.

Pria bermarga Kim itu menyampirkan jaketnya pada pundak Lian yang terbuka. Seumur hidupnya baru kali ini dia melihat gadis segila Lian. Mana ada orang kabur saat pemberkatan akan dimulai? Kalau kaburnya masih berada di kota yang sama mungkin masih bisa ditolerir. Tapi ini? Masih dengan gaun pengantinnya Lian berhasil kabur hingga negara orang.

“Kau membuat seluruh negri kalang kabut, Lian.” Seokjin membantu Lian berdiri. 

Dia hendak membawa Lian pergi saat tiba-tiba seorang pria yang tak lain adalah Baekhyun menahan langkah mereka. Seokjin menatap Baekhyun dengan tatapan kaget. Bagaimana tidak kaget kalau di depannya ada seorang artis papan atas bertaraf Internasional?

“Urusan kita belum selesai, Nona. Kau harus mempertanggungjawabkan ucapanmu tadi.” Ucap Baekhyun

Seokjin menatap Lian dan Baekhyun bergantian. Sepertinya kedatangannya sangat terlambat. Ada hal yang dia lewatkan.

“Apa saja yang sudah kau lakukan selama aku belum disini?” Tanya Seojin

Masih dengan menangis Lian menjawab, “aku mengatakan pada Harry kalau dia kekasihku.”

Sontak mata Seokjin melebar. Rangkulannya pada pundak Lian terlepas begitu saja. Lihat saja mulutnya yang menganga selebar mulut buaya saat menguap. Benar-benar tidak ada keren-kerennya sama sekali.

Adakah yang lebih gila dari seorang Jeon Lian atau Audrey Koch? Seokjin pikir kekacauan yang Lian buat hanya akan cukup sampai disini. 

Tapi…

Bagaimana bisa Lian membuat pengakuan palsu kalau Baekhyun kekasihnya?

“Kau tahu siapa dia?” Tanya Seokjin yang dibalas gelengan oleh Lian, “Dia anggota boyband EXO, Lian! Dan kau baru saja memancing para wartawan kesini!” Tambah Seojin geram.

“Apa?”

Matilah kau, Lian!
.

.

.
Tbc~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s