Posted in Chapter, Family, Married Life

Fool For You Part 7

Fool For You Part 7

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Jinyoung – Park Chanyeol – Anna Boulstern – Cho Kyuhyun – Lee Donghae – Frank Jeon – BTS Member

Category : Romance, Honor, Family

Rate : PG-15

**

Tibalah Lian disini. Di bilik pasien tempat Anna dirawat untuk sementara waktu. Begitu dia mendengar kabar itu, dia langsung meluncur ke rumah sakit tanpa peduli sarapannya yang belum habis dan Fellix yang merengek ingin ikut. Anna itu sahabat pinangnya. Dia berada di negara orangpun menjadi tanggung jawabnya. Apalagi gadis itu berada disini karena untuk menjadi personal assistant Lian.

Lian menatap Anna yang sedang berbaring di ranjang pasien itu dengan tatapan mengintimidasi. Bermaksud meminta penjelasan, bagaimana bisa terjadi kecelakaan sepagi ini. Mungkin point utama yang akan Lian tanyakan adalah siapa pria yang saat ini berada di satu ruangan dengan mereka? Jelas itu menjadi tanda tanya besar bagi Lian. Memangnya Anna selama itu berada di Korea hingga bisa akrab dengan pria Korea secepat itu?

Lian tidak bodoh. Tanpa bertanyapun tentu dia tahu dari mana Anna mendapat pria berambut pirang itu.

Sementara sang tersangka hanya diam menunduk seperti anak kecil yang ketahuan mencuri. Dari gerak geriknya saja Lian sudah tahu jawaban apa yang akan dia dapat. Sesekali dia menatap pria berambut pirang itu dengan sinis. Sahabatnya satu itu memang sesuatu.

Lian menghela nafas kasar. Setelah ini dia harus mengurus akibat kelalaian Anna dan tentu saja menutupi hal paling penting dalam kecelakaan tunggal ini. Karena mobil Anna bau alkohol, jadi masalah ini akan menjadi berat.

“Jadi begini liburanmu?” Tanya Lian sarkastik. Tatapannya memicing pada Anna yang tampak hanya diam saja sejak Lian datang.

Hey, Anna tahu bagaimana watak Lian. Berteman dengan gadis dingin nan kejam macam Lian membuatnya hafal dengan kebencian Lian pada sosok manusia asing berjenis kelamin pria. Dan Anna sekarang tahu kalau sahabatnya itu tengah menuntut penjelasannya. Diapun sadar kalau sudah melakukan kesalahan. Sehingga sedari tadi dia hanya diam saja.

Lian mendesah sebal. Dia melempar tas tangannya dengan asal. Banyak pikiran negatif yang memenuhi kepalanya untuk saat ini. Sahabatnya pulang sepagi ini bersama pria asing. Astaga! Lian bahkan bergidik ngeri membayangkan apa saja yang mereka lakukan semalaman tadi. Dan dia sangat menyalahkan sahabat karibnya yang bisa dibilang liar itu.

Suara tirai yang digeser membuat semua pandangan teralihkan. Muncullah Aiden dengan wajah kawatir. Dia langsung mendekati Anna tanpa mempedulikan orang lain yang berada disitu. Dalam hatinya, Anna berterimakasih karena Aiden menyelamatkannya dari Lian.

“Astaga, Anna! Bagaimana bisa kau kecelakaan? Kau membuatku kawatir.” Tanya Aiden sambil melihat tubuh Anna yang untungnya masih utuh dan tidak lecet.

Lian berdecak sebal. Sepagi ini dia sudah disuguhkan drama lovey-dovey. Andai saja Aiden tahu siapa yang Anna bawa. Pria kaku itu pasti akan kebakaran jenggot.

“Aku tidak fokus menyetir.” Jawab Anna pelan.

Hey, kemana Anna Boulstern yang cerewet dan bar-bar?

Aiden mendesah kasar. Tadi saat sarapan dia mendapat kabar dari Marcus kalau Anna kecelakaan dan berada di rumah sakit. Tanpa pikir panjang, pria marga Lee itu langsung bergegas menuju rumah sakit. Dia sangat kawatir kalau kondisi Anna parah. Tapi sekarang dia sudah bisa bernafas lega karena Anna baik-baik saja.

Kemudian suasana menjadi tegang saat mata Aiden menangkap sosok pria berambut pirang berdiri di pojok ruangan. Matanya menelisik penampilan pria itu. Kalau dilihat penampilannya sedikit berantakan. Seperti orang yang baru mabuk. Lalu pandangannya beralih pada Anna yang sedari tadi hanya menunduk. Dia mencium hal-hal yang mencurigakan.

Merasa atmosfer menjadi tegang, Lianpun berinisiatif untuk mencairkannya. Dia tidak tega melihat ekspresi ketakutan sahabatnya. Bagaimanapun juga dia tahu kalau sifat liar Anna tidak bisa dihilangkan. Di tubuhnya mengalir darah Irlandia. Wajar bukan kalau sikapnya liar? Seharusnya Aiden juga tahu itu.

“Sudahlah. Yang terpenting kau baik-baik saja. Jangan kawatir. Aku akan mengurus semuanya.” Ujar Lian sambil mengalungkan tasnya pada bahu.

“Siapa dia?” Tanya Aiden dengan suara rendah. Tatapannya mengintimidasi pada Anna.

Aiden berusaha untuk menghilangkan pikiran negatif dalam kepalanya. Melihat bagaimana penampilan pria itu dan diamnya Anna membuatnya tidak bisa untuk tidak berpikiran negatif. Dia pria dewasa. Dia juga tidak lupa sikap bar-bar Anna.

Sialnya, dia menyukai gadis bar-bar macam Anna Boulstern.

Anna memberanikan diri untuk menatap Aiden yang sudah terlihat marah. Oh, ini gawat! Kelemahan Anna itu melihat Aiden marah. Apalagi dia memang melakukan kesalahan. Jadi, percuma saja melakukan pembelaan. Bukti sudah terpampang jelas di depannya. Bodohnya dia yang menawarkan diri untuk mengantar pria itu pulang.

“Anna…” Hardik Aiden dengan sedikit penekanan.

“Oh, come on, Aiden! Jangan berlagak bodoh. Kau tahu jawabannya.” Sahut Lian asal.

Aiden mendelik pada Lian. Bermaksud menyuruh gadis itu diam. Kemudian tatapan intimidasinya beralih pada Anna yang masih belum membuka mulutnya. Aiden hanya ingin mendengar langsung dari mulut Anna tentang siapa pria itu dan apa saja yang mereka lakukan semalaman tadi.

“Dia…” Ucapan Anna menggantung. Matanya sesekali melirik pada pria yang semalam menemaninya. Dia berharap pria itu mau membantunya untuk menjelaskan apa saja yang mereka lakukan semalam.

“Begini, tuan. Tadi malam nona ini sangat mabuk. Aku menunggunya sampai bangun pagi tadi di salah satu kamar yang ada di klubku. Aku ingin mengantarnya pulang tapi tidak tahu alamatnya dan ponselnya mati. Tidak terjadi apa-apa. Seharusnya kau melihat bagaimana merepotkannya dia saat mabuk.” Pria itu akhirnya menjelaskan yang sebenarnya tentang kejadian semalam.

Aiden masih menatap Anna penuh selidik. Dia masih belum percaya kalau Anna tidak menjelaskan padanya. Aiden hanya tidak habis pikir dengan Anna. Anna di Korea tidak punya kenalan selain Lian. Seharusnya gadis itu bisa lebih berhati-hati dan berpikir dua kali jika ingin ke klub malam. Setidaknya, Anna bisa mengajaknya, asalkan gadis itu tidak sendiri.

Suasana hening itu pecah kala terdengar dering ponsel Lian. Lian mendengus sebal. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya disaat kondisi seperti ini. Wajah kesalnya langsung berubah saat melihat nama Fellix di layar handphone.

“Aku harus pergi sekarang karena ada yang menungguku.” Ucap Lian dan langsung berlalu begitu saja tanpa menunggu sahutan dari Aiden maupun Anna.

Anna hanya berdecak sebal saat sahabatnya itu pergi. Diapun tahu kalau Lian sedang jatuh cinta pada pria yang sudah berstatus duda. Anna sangat menyayangkan itu, karena menurutnya kalau dengan kecantikannya saja bisa membuat pria lajang jatuh cinta, kenapa harus duda? Belum lagi duda itu sudah mempunyai anak satu.

“Anna Boulstern?”

Anna tersentak kaget saat suara Aiden tiba-tiba masuk ke indera pendengarannya. Gara-gara Lian dan duda itu, dia hampir lupa kalau masih punya urusan dengan Aiden. Diapun mau tak mau menatap Aiden yang sangat mendesaknya untuk berbicara. Dia menggigit bibir bawahnya sambil berusaha merangkai kata yang tepat agar Aiden tidak marah.

Anna merutuki dirinya sendiri yang dengan cerobohnya bisa mabuk berat hingga membuatnya harus berurusan dengan pemilik klub itu. Dia masih ingat saat dia meracau dan mencium pria itu sebelum akhirnya dia tidak sadar.

Itulah masalahnya. Haruskah dia jujur pada Aiden kalau dia mencium pria itu? Hal itu hanya akan membuat Aiden terluka.

“Nona, kau hanya perlu mengatakan pada kekasihmu kalau semalam kau mabuk dan menciumku.”

“APA?!”

**

Fellix sudah naik ke atas panggung bersama gurunya. Dia sudah akan memulai penampilannya bermain piano yang berkolaborasi dengan gurunya. Anak itu terlihat sangat percaya diri. Bahkan senyum di bibirnya tidak pernah menghilang. Apalagi saat melihat Lian dan ayahnya yang berdiri di samping panggung. Bocah itu menatap ayahnya dan Lian sejenak yang kemudian dibalas senyuman oleh keduanya. Selanjutnya, dia memberi hormat kepada seluruh tamu undangan.

Denting piano mulai terdengar mengalun dengan ritme yang pelan. Para penonton tampak terhanyut dengan alunan piano dari Fellix. Kemudian guru perempuan Fellix menyahut. Menghasilkan nada yang lebih indah dan harmonis. Tempo yang tadinya lambat perlahan menjadi cepat. Kemudian melambat lagi seiring dengan penampilan solo Fellix yang membawakan Silent Night milik Mozart.

Di tempatnya, Lian merasa semakin jatuh cinta pada bocah kecil yang sedang bermain piano itu. Alunan lembut dari Fellix berhasilkan menggetarkan hatinya. Mungkin bukan hanya dia. Tapi seluruh tamu undangan yang menyaksikan penampilan Fellix akan langsung jatuh cinta pada bocah itu. Fellix terlihat berbeda saat memainkan piano. Bocah itu lebih banyak tersenyum. Fellix menggunakan hatinya.

Penampilan itu berakhir dengan melodi yang harmonis dari Fellix dan gurunya. Para tamu undanganpun langsung memberikan tepuk tangan untuk penampilan mereka. Tak sedikit yang berdecak kagum dengan keahlian bocah lima tahun itu. Bahkan beberapa juga ada yang mengabadikan lewat video. Fellix membungkuk sebagai tanda hormat kepada para tamu undangan. Dia tampak bahagia. Gurunya juga memberinya pelukan.

Fellix melepas pelukannya pada gurunya saat melihat ayahnya dan Lian tampak tersenyum lebar dan memberinya dua jempol. Fellix berlari menghampiri keduanya dan langsung menubruk tubuh Taehyung. Dia tertawa lepas saat melihat ayahnya puas dengan penampilannya.

“Apa itu tadi kau? Wahhh! Putra appa sangat hebat.” Puji Taehyung sambil mengacak rambut Fellix gemas. Dia juga memberikan ciuman pada pipi Fellix berkali-kali.

Appa yang mengajariku. Jadi, appa lebih hebat.” Sahut Fellix sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Taehyung.

Mengabaikan fakta kalau dia baru saja melakukan operasi di perutnya, Taehyung mengangkat tubuh Fellix. Lagipula, lukanya sudah lebih baik. Hari ini dia sangat senang bisa melihat putranya tampil dan tersenyum sangat lebar. Dia harus berterimakasih pada Lian karena bisa membuatnya keluar dari rumah sakit lebih cepat.

“Jadi, apa Fellix senang?” Tanya Taehyung

“Tentu saja, appa. Apalagi ada Lian noona. Aku merasa sedang bersama eomma.” Jawab Fellix

Lian tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Fellix. Tangannya yang sudah mengudara hendak menyentuh kepala Fellix langsung terjatuh. Wajahnya berubah pias dan matanya mulai memanas. Tangannya gemetar tanpa diminta.

Eomma.

Satu kata itu berhasil membuat pikiran dan hati Lian berantakan. Air matanya menetes tanpa permisi. Suara di sekitarnya tidak dapat lagi masuk ke dalam indera pendengarannya. Dadanya sesak. Ingatan tentang kejadian sebelas tahun silam kembali melintas di kepalanya.

Taehyung dan Fellix saling berpandangan heran melihat Lian yang tiba-tiba mengeluarkan air mata. Apalagi Lian tidak menyahut panggilan mereka. Tangan Fellix terulur untuk menghapus air mata Lian. Merasakan usapan di pipinya membuat Lian tersadar. Dia sedikit kaget saat melihat dua pria di depannya memandangnya heran.

Noona pasti menangis gara-gara Fellix. Maafkan Fellix karena membuat noona menangis.” Ucap Fellix dengan wajah menyesal karena membuat Lian menangis.

Lian tersenyum tipis sambil menggenggam tangan mungil Fellix yang berada di pipinya, “bukan salah Fellix. Hey! Jangan pasang wajah seperti itu.” Ucap Lian sambil mengelus-elus pipi Fellix.

Sementara itu Taehyung masih tampak bingung. Kenapa putranya terlihat merasa bersalah? Lalu kenapa Lian tiba-tiba menangis? Namun yang lebih membuatnya heran adalah, ekspresi Lian yang berubah sangat cepat. Taehyung merasa kalau Lian tengah berpura-pura dengan ekspresinya yang sekarang.

“Li, kau baik-baik saja?” Tanya Marcus yang tiba-tiba datang. Dia baru saja menerima panggilan dari Aiden dan tidak sengaja melihat Lian yang menangi. Entah karena apa, karena yang jelas tadi Marcus langsung memutus sambungan telepon.

Sudah dikatakan di awal, bukan, kalau tidak ada yang lebih buruk daripada melihat Lian menangis?

“Memangnya aku kenapa? Apa yang dikatakan Aiden?  Dia tidak minta cuti gara-gara Anna mencampakkannya, kan?” Tanya Lian mengalihkan pembicaraan. Dia juga memasang wajah jenakanya agar Marcus tidak banyak bertanya.

Marcus mendengus sebal, “kau mengalihkan pembicaraan.” Jawabnya sambil mencubit hidung Lian. Sang empunya hanya merengek sambil memukul lengan Marcus.

Uncle! Jangan sakiti noona!” Seru Fellix sambil menjauhkan tangan Marcus dari Lian.

“Ey! Yang kau panggil noona ini tuan putriku.” Ucap Marcus sambil merangkul pundak Lian. Dia menjulurkan lidahnya saat melihat wajah cemberut Fellix.

Kemana perginya Marcus Cho yang membenci anak kecil?

Lian dan Taehyung hanya terkekeh kecil melihat tingkah dua manusia itu. Lian tidak sadar kalau Taehyung sering mencuri pandang ke arahnya. Pria dua puluh enam itu masih penasaran kenapa Lian tiba-tiba menangis. Dia juga melihat kesedihan di mata gadis blasteran itu yang tertutup dengan senyum anggunnya.

Ada perasaan aneh yang mengganggunya saat melihat gadis Jeon itu mengeluarkan air mata.

Taehyung buru-buru mengalihkan pandangannya saat Lian tiba-tiba menatapnya. Selain karena takut ketahuan sedang memperhatikan gadis itu, Taehyung tidak bisa menatap mata biru safir Lian. Taehyung takut akan terperangkap ke dalam mata indah itu.

Matanya sangat mempesona.

**

“Kita akan ke Beijing besok.” Suara Marcus memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil. Dia sesekali melirik sepupunya yang langsung membulatkan matanya begitu mendengar ucapannya.

Lian yang tadinya sedang sibuk dengan ponselnya kini langsung memusatkan perhatiannya pada Marcus. Mulutnya menganga. Namun lima detik selanjutnya, tatapannya berubah horor. Dia bisa menarik kesimpulan kalau yang dibacarakan Aiden dan Marcus tadi di telepon adalah tentang ke Beijing ini.

“Kau bercanda.” Desis Lian sambil kembali berkutat dengan ponselnya.

“Aku tidak pernah bercanda masalah pekerjaan.” Balas Marcus.

“Suruh saja Jinyoung-”

“Tidak bisa. Kau harus ikut. Mereka ingin kau yang bernegoisasi.” Potong Marcus

Mulut Lian terbuka setengah. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Beijing? Beijing itu jauh. Lagipula dia paling malas bernegosiasi. Dia tidak suka penawaran.

“Zea Group sudah menjadi partner bisnis Uncle Frank selama tujuh tahun. CEO itu ingin mengenalmu karena kau tidak ikut dalam rapat tahunan para pemegang saham dan investor-”

“Kuharap kau tidak lupa kalau kalian yang mengurungku di ruanganku.” Potong Lian sebal.

Itu karena nyawamu terancam, batin Marcus sedikit kesal.

Lian menoleh ke belakang dan mendapati sepasang ayah dan anak yang sedang bermain game dengan PSP yang baru saja dibelikan Marcus. Lian sedih karena Fellix sudah akan kembali ke rumahnya. Taehyung yang meminta pada Lian tadi. Pria itu tidak mau merepotkan Lian lebih lama lagi sehingga memaksa agar bisa kembali pulang ke rumah mereka.

Andaikan Taehyung tahu kalau Lian tidak pernah merasa repot justru senang.

Setelah ini, mungkin dia tidak akan bertemu dengan Fellix lagi. Tidak bertemu Fellix membuatnya tidak punya alasan untuk bertemu Taehyung. Lian akan sangat merindukan senyum maut Taehyung. Andai saja dia bisa lebih tinggal bersama mereka.

Atau… Andai saja Lian bisa menjadi bagian dari mereka. Bukankah mereka akan terlihat seperti keluarga bahagia?

Noona!” Panggil Fellix sambil melambaikan tangannya di depan wajah Lian.

Lian mengerjapkan matanya dan baru sadar kalau tengah menjadi pusat perhatian. Lian tersenyum tipis sambil mengelus-elus rambut Fellix. “Kenapa?”

“Apa noona akan datang ke pesta ulangtahunku? Besok kamis aku berulangtahun.” Tanya Fellix

“Tidak bisa, Fellix. Lian noona sedang sibuk.”

“Tak apa, Taehyung-ssi. Aku bisa menyempatkan waktu untuk datang. Fellix ingin hadiah apa? Noona akan belikan untuk Fellix.” Ucap Lian

“Benarkah?” Tanya Fellix antusias.

Lian hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian untuk beberapa saat bocah yang akan berulangtahun itu tampak berfikir. Percayalah. Ekspresinya sangat menggemaskan. Berbeda sekali dengan Fellix yang Lian temui pertama kali. Setelah beberapa menit, Fellix tampak tersenyum lebar.

“Aku akan memberitahu noona dan appa hadiah yang aku minta nanti saat pesta ulang tahun. Tapi kalian harus berjanji untuk mengabulkan hadiah yang aku minta.” Jawab Fellix sambil menatap wajah ayah dan Lian bergantian.

“Tentu saja akan appa kabulkan.” Ucap Taehyung sambil mengacak-acak rambut putra semata wayangnya.

Noona juga akan mengabulkan apapun yang Fellix mau di hari ulangtahunmu nanti. Janji.” Lian menambahi sambil tersenyum.

Fellix memekik girang sambil bertepuk tangan. Secara tiba-tiba bocah lima tahun itu mencium pipi Lian. Membuat siapapun yang melihatnya melongo tidak percaya. Fellix tampak sangat bahagia. Entah apa yang membuat bocah itu sebahagia itu hingga berani mencium Lian. Entah karena ayahnya yang sudah pulang dan menyaksikan penampilan perdananya atau karena kedua orang yang dia sayangi berjanji akan mengabulkan keinginannya saat ulangtahun nanti.

Disaat Lian masih tercengang dengan ciuman tiba-tiba Fellix di pipinya, Taehyung hanya mencubit pipi Fellix dengan gemas. Diapun sebenarnya juga sangat terkejut karena Fellix berani mencium Lian. Putranya benar-benar sudah berubah.

“Apa aku baru saja mencium pipi Lian Noona? Uncle, apa tidak papa aku mencium pipi noona? Seharusnya aku mencium kening noona.” Cerocos Fellix dengan wajah yang menggemaskan.

Marcus gelagapan mendengar ucapan Fellix. Haruskah membahas hal ini saat ada Lian di sampingnya? Di sampingnya Lian menatapnya penuh selidik karena merasa aneh dengan ucapan Fellix. Memangnya kenapa kalau mencium pipi? Marcus hanya melirik Lian takut. Setelah ini, hitung saja satu sampai sepuluh, Lian pasti akan menanyai Marcus sesuatu.

Suasana mobil mendadak hening. Fellix kesal karena Marcus mengabaikannya. Taehyung menatap dua orang di kursi depan dengan tatapan bingung. Sementara itu Marcus menghitung dalam hati sambil berusaha mencari jawaban yang bisa menyelamatkannya dari omelan Lian.

“Apa yang kau ajarkan Fellix di belakangku, Cho?” Tanya Lian dengan tatapan mengintimidasi. Lian yakin Marcus sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan kepada anak kecil.

Astaga! Marcus mengotori pikiran anak kecil. Lian harus memberi hukuman untuk bujang tua itu sesampainya di rumah.

Marcus meneguk ludahnya susah payah. “Bukan apa-apa, Li.”

Di belakang Taehyung hanya terkekeh kecil melihat interaksi dua bersaudara yang selama dia mengenal mereka menurutnya sangat unik. Namun Taehyung dapat merasakan kalau persaudaraan mereka ini sangat erat.

“Kau mengotori pikiran anak kecil!”

“Aku hanya menjawab pertanyaan, Lian.” Balas Marcus tidak terima.

Lian hanya mendengus. Dia melirik melalui kaca di atasnya kegiatan ayah dan anak di kursi belakang. Diam-diam dia tersenyum saat mengingat Fellix menciumnya tadi.

Bagaimana rasanya kalau Taehyung yang menciumku?

**

Lian sudah berada di bandara bersama Marcus, Aiden, dan Jinyoung untuk menunggu pesawat take off. Anna tidak ikut karena masih dalam masa pemulihan. Karena kecerobohan gadis Irlandia itu, Aiden harus mendatangkan pegawai di apartemen Anna agar kejadian yang sama maupun yang tidak diinginkan terjadi. Aiden juga masih dalam mode mendiamkan Anna. Bagaimana tidak marah? Berciuman dengan pria asing? Membayangkannya saja membuat pria bermarga Lee itu kesal.

Lian dan Marcus yang mendengar cerita dari Aiden spontan langsung tertawa. Bagaimanapun juga mereka tidak melupakan predikat Anna yang memang sangat liar. Karena ditertawakan dengan sangat jahat, Aiden semakin kesal. Lihat saja wajahnya sekarang. Bibirnya bahkan seperti paruh bebek. Bahkan sejak mereka berada di bandara, pria dua sembilan tahun itu hanya diam saja. Marcus terus menggoda Aiden.

Sampai sekarang, Lian juga masih mendiamkan Jungkook. Saat Jungkook pulangpun dia hanya berdiam diri di kamar. Saat makan malam mereka juga saling diam. Entahlah. Lian masih sangat marah dengan kelakuan Jungkook. Meskipun begitu, dia masih membuatkan sarapan untuk Jungkook tadi pagi. Dia juga berpesan kepada Kate agar selalu mengingatkan kakaknya itu untuk makan tepat waktu.

Lian tidak bilang pada Jungkook kalau dia akan ke Beijing selama tiga hari. Tapi dia yakin kalau kakaknya tahu dia akan pergi. Loan pikir Jungkook akan mengantarnya ke bandara, nyatanya pria itu sudah berangkat saat dia sedang bersiap-siap. Dan itu membuat Lian sedih. Sebenarnya dia sangat merindukan Jungkook. Mereka tidak pernah bertengkar selama ini. Jadi rasanya aneh kalau bertemu tapi tidak saling bicara.

Salahkan Jungkook yang berbuat hal tidak senonoh di ruangannya. Mengingatnya kembali membuat Lian kesal.

“Ya! Kenapa lama sekali? Sebentar lagi kita akan take off.

Suara Marcus mengabaikan lamunan Lian. Lian menatap Marcus bingung. Dengan siapa dia bicara?

“Pasienku sangat rewel.”

Lian mematung mendengar suara pria yang dari tadi dia pikirkan. Jungkook. Dia melirik sekilas ke samping, dimana Jungkook berdiri. Tanpa sepengetahuan Lian, Aiden dan Marcus tersenyum geli melihat ekspresi kaku Lian. Mereka tahu hubungan kakak beradik itu masih renggang, sehingga berinisiatif untuk memperbaikinya.

Jungkook menatap Lian yang memilih berkutat dengan ponselnya. Sampai sekarang Lian masih mendiamkannya. Dia sangat merindukan Lian tapi Lian masih sangat marah.

“Kau tidak lupa membawa pakaian hangat, kan? Saat malam hari disana sangat dingin.” Tanya Jungkook

“Sudah.” Jawab Lian singkat.

Marcus menepuk dahinya sambil menggerutu. Lian memang sulit diluluhkan saat marah. Contohnya sekarang ini.

“Jangan telat makan dan aktifkan terus ponselmu.” Pesan Jungkook sambil merapikan sedikit anak rambut Lian yang berantakan.

Lian tidak menolak sekali saat Jungkook menyentuhnya. Dia berusah menahan keinginannya untuk tidak berhambur memeluk kakaknya itu. Kemudian terdengar pemberitahuan kalau pesaeat tujuan Beijing akan seger take off.  Dalam hatinya Lian mengumpati pemberi pengumuman itu. Dia masih ingin bersama Jungkook.

“Ayo berangkat!” Seru Marcus layaknya anak kecil.

Lian menatap Jungkook. “Aku berangkat.”

Jungkook tersenyum tipis lalu memeluk adiknya itu. “Jaga dirimu baik-baik disana.”

Kau juga, batin Lian.

Jungkook melepas pelukannya kemudian mencium kening Lian. Dia tersenyum sambil mengacak-acak rambut adiknya gemas. Baru saja Lian pulang kini dia harus melakukan perjalanan bisnis. Jungkook akan sangat merindukan Lian.

Hyung, jaga Lian baik-baik. Jangan sibuk mencari wanita.” Ucap Jungkook pada kedua sepupunya.

“Tanpa kau minta aku akan menjaganya, Kookie.” Sahut Aiden cuek lalu berjalan duluan. Sepertinya dia masih kesal.

“Kami berangkat, Jungkook-a!” Pamit Marcus sambil melambaikan tangannya.

Jungkook balas melambaikan tangannya. Lian dan Marcuspun mengikuti Aiden yang masih merajuk. Tersisa Jinyoung yang masih berdiri di samping Jungkook.

“Aku heran kenapa Dad menunjukmu sebagai sekretaris adikku. Kau harus ingat! Jangan berbuat macam-macam dengannya. Kau akan tahu akibatnya kalau berani menyentuhnya.” Ucap Jungkook tajam sambil menunjuk wajah Jinyoung.

Jinyoung hanya tersenyum sinis kemudian meninggalkan Jungkook sendirian. Jungkook mengepalkan tangannya erat melihat punggung Jinyoung yang semakin menjauh.

**

Pesta ulangtahun Fellix dilaksanakan di halaman belakang rumah keluarga Kim. Dekorasi dengan tema sihir sudah terpajang indah. Fellix sangat menyukai Harry Potter sehingga dia meminta kepada ayah dan kakeknya agar membuatkan pesta dengan tema sihir yang kebanyakan terdapat gambar Harry Potter dan Doumbledor.

Teman-teman Fellix diundang semua. Beberapa sanak saudara juga datang. Pesta sudah hampir dimulai. Hanya saja sampai saat ini Fellix belum muncul. Bocah kecil itu tampaknya sedang merajuk karena seseorang yang sangat dia nantikan kedatangannya belum juga menampakan batang hidungnya. Lian belum datang dan hal itu membuat Fellix tidak mau memulai pestanya. Taehyung dan Younbi sudah berulangkali membujuk Fellix dan mengatakan kalau Lian sedang dalam perjalanan. Tapi nampaknya bocah itu tahu kalau sedang dibohongi.

Taehyung sudah mengirim pesan untuk Lian, menanyakan apakah gadis itu akan datang atau tidak. Bahkan dia juga menelponnya. Tapi tidak satupun ada yang mendapat respon.

“Sayang, teman-temanmu sudah menunggu. Ayo dimulai pestanya.” Bujuk Younbi lagi.

“Aku tidak mau!” Seru Fellix

Younbi menatap putranya sambil bertanya tanpa suara tentang posisi Lian sekarang. Namun Taehyung menggelengkan kepalanya. Younbi mendesah kasar. Padahal kemarin-kemarin Fellix sangat bersemangat menyiapkan pestanya. Fellix tidak pernah sesenang itu saat berulangtahun. Tahun ini berbeda karena Lian yang akan datang.

“Fellix, coba lihat siapa yang datang.” Ucap Taejun yang tiba-tiba datang dengan Lian dan Marcus di belakangnya.

Fellix mengangkat kepalanya dan senyumnya langsung terbit saat melihat Lian. Fellix langsung berhambur memeluk Lian. Taehyung dan Younbi bernafas lega karena yang ditunggu sudah datang.

Noona, kenapa lama sekali? Aku pikir noona tidak akan datang.” Tanya Fellix sambil mengerucutkan bibirnya. Menggemaskan.

Noona kan sudah bilang akan datang. Jadi, Fellix mau keluar sekarang? Lihat. Teman-temanmu sudah menunggu.” Ucap Lian sambil menunjuk teman-teman Fellix di luar.

“Ayo!” Seru Fellix girang. Kemudian bocah kecil itu menggandeng tangan Lian dan Taehyung. Mereka berjalan bersama menuju halaman belakang.

Kedatangan tiga orang itu menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang kebanyakan anak-anak dan ibu. Lian mulai risih karena sekarang para orangtua teman-teman Fellix menatapnya. Mereka juga terlihat berbisik-bisik dan itu membuatnya tidak nyaman. Dia bahkan hanya menundukkan kepalanya.

“Apa dia calon ibu Fellix? Dia cantik dan anggun.”

“Fellix terlihat bahagia akhir-akhir ini. Apa karena gadis itu?”

“Mereka terlihat serasi. Aku sangat mendukung hubungan mereka.”

“Tapi bagaimana dengan kekasih ayah Fellix? Apa mereka sudah putus?”

“Kuharap begitu. Wanita itu sama sekali tidak ramah.”

Begitulah sekilas dari perbincangan dari para ibu-ibu tentang Lian. Lian yang mendengarnya sedikit tersipu. Diapun mengangkat kepalanya dan melempar senyum untuk ibu-ibu itu.

Fellix, Taehyung, dan Lian berdiri di belakang meja yang sudah terdapat kue ulangtahun berukuran besar dengan miniatur Harry Potter di atasnya. Taehyung langsung membawa Fellix ke dalam gendongannya karena lilinnya cukup tinggi. Kemudian acarapun dibuka oleh Kim Sohyun yang Lian tahu sebagai kakak Taehyung. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu selamat ulangtahun dan berlanjut pada tiup lilin. Fellix tidak ingin meniup lilinnya sendiri. Dia meminta agar Lian dan Taehyung juga ikut tiup lilin yang langsung dituruti oleh mereka.

Para tamu undangan bertepuk tangan setelah Fellix tiup lilin. Selepas acara tiup lilin ada hiburan dari sanak saudara dan juga dari Marcus yang berbaik hati mau menyumbangkan suaranya. Teman-teman Fellix berhambur mendatangi Fellix dan memberinya ucapan selamat ulangtahun. Fellix tampak bahagia. Berbeda dari tahun-tahun biasanya. Mereka juga memuji Lian yang kebetulan masih setia di samping Fellix bersama Taehyung. Fellix dengan sangat bangga memperkenalkan Lian kepada teman-temannya.

Sangat menggemaskan.

Taejun, Younbi, dan Sohyun yang melihatnya sangat bersyukur. Bahkan Younbi dan Sohyun sempat meneteskan air mata. Fellix tidak pernah sebahagia ini setelah ibunya meninggal. Bahkan untuk berbicara dengan teman-temannyapun enggan sebelum akhirnya ada Lian yang berhasil mengembalikan Fellix seperti dua tahun lalu.

“Fellix!” Seru Hoseok yang baru saja datang.

“Paman!” Balas Fellix

“Selamat ulangtahun, jagoan. Kau sudah besar sekarang.” Ucap Hoseok sambil mengacak-acak rambut Fellix.

“Aku memang sudah besar, Paman.” Balas Fellix

“Ini kado untukmu, Fellix. Bibi Ahn tidak bisa ikut karena sedang sakit.” Ucap Hoseok sambil memberikan sebuah kotak berukuran sedang kepada Fellix.

Wajah Fellix tampak berbinar mendapat kado dari Hoseok. “Terimakasih, Paman. Semoga Bibi Ahn cepat sembuh.”

“Sama-sama, Fellix.” Sahut Hoseok

**

Pesta ulang tahun sudah selesai sejak sejam yang lalu. Para tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing kecuali sanak saudara dan juga Lian. Mereka baru saja selesai makan malam dan saat ini berkumpul di ruang tengah. Mereka membicarakan banyak hal. Tentang bagaimana pertemuan Lian dan Fellix dan masih banyak lagi.

Disaat yang lain sedang asik berbincang-bincang, Fellix sibuk membuka kado dari teman-temannya bersama Marcus. Fellix tampak senang saat mendapat barang yang dia sukai. Marcus sendiri memberikan sebuah robot starwars sangat besar. Sementara tadi Aiden dan Jungkook juga menitipkan kado untuk Fellix. Lian sendiri memberikan tiket liburan ke Disneyland Hongkong karena sebentar lagi akan liburan semester.

Lian sudah ditanyai berbagai macam pertanyaan dari saudara Taehyung. Mulai dari umur, pekerjaan, hingga statusnya saat ini. Lian sebenarnya tidak suka ditanyai seperti itu, tapi karena dia menghormati mereka mau tidak mau dia menjawabnya. Hanya saja sedikit berbohong tentang pekerjaannya. Dia mengatakan kalau dia pegawai di suatu perusahaan.

Sebenarnya Lian baru saja kembali dari Beijing. Setibanya di bandara dia langsung menuju rumah keluarga Kim karena sudah berjanji kepada Fellix akan datang. Jadi jangan tanyakan kalau wajahnya terlihat lelah. Dia bahkan tidak mengganti pakaiannya.

“Kau pasti sangat lelah. Maafkan aku karena menghubungi terus.” Ucap Taehyung merasa bersalah.

“Tidak papa. Aku sudah berjanji untuk datang.” Sahut Lian dengan senyum gugupnya. Bagaimana tidak gugup? Dia duduk bersebelahan dengan Taehyung.

Appa!” Seru Fellix sambil berlari menghampiri Taehyung. Fellix langsung duduk di pangkuan Taehyung.

“Kenapa?” Tanya Taehyung

“Aku ingin meminta hadiahku.” Jawab Fellix

“Kau belum bilang ingin apa. Sekarang katakan Fellix ingin apa.” Sahut Taehyung

Lian dan Marcus saling bertatapan. Entah apa yang mereka diskusikan lewat tatapan mata. Sementara itu yang lain tampak menunggu jawaban Fellix. Tahun ini kali pertama Fellix meminta hadiah pada Taehyung. Tentu saja mereka penasaran.

Fellix menatap Lian dan ayahnya bergantian penuh arti. Hal itu membuat Lian berfirasat buruk. Hal yang sama dapat dirasakan oleh Marcus.

“Aku ingin Appa dan Noona menikah.”

Tbc

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s