Posted in Chapter, Hurt, I Hate You, I Love You, Married Life

I Hate You, I Love You #3

I Hate You, I Love You #3

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Jung Eunji, Kim Taehyung

Category : Married Life, Hurt

Rate : PG-17

**

“Eomma…”

Lian langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membanjiri keningnya dan nafas yang memburu. Mimpi itu terasa sangat nyata. Lian dapat merasakan sentuhan Anna di pipinya. Bahkan sentuhan itu masih terasa hingga sekarang. Senyuman hangat dan suara lembut Anna masih bisa Lian rasakan. Semuanya terlalu nyata untuk dikatakan mimpi.

Chanyeol yang sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjang dengan laptop di depannya langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh pada sang istri yang tiba-tiba terbangung. Diapun segera mendekati Lian. Meninggalkan pekerjaannya sejenak. Dia duduk di samping istrinya. Menatapnya cemas.

“Sayang? Kenapa? Kau mimpi buruk?” Tanyanya lembut sambil mengelus-elus pipi Lian. Dia mengerutkan keningnya saat tidak mendapat respon dari Lian.

Chanyeolpun memaksa Lian untuk duduk. Istrinya seperti kehilangan arah. Tatapan matanya kosong. Dia mendekap tubuh ringkih Lian dengan erat sambil mengelus-elus rambutnya. Mulutnya juga tidak berhenti menggumamkan kata baik-baik saja. Bukan sekali atau dua kali Chanyeol selalu melihat Lian terbangun tiba-tiba dengan keringat yang membanjiri keningnya. Dan dia tidak pernah tahu apa yang ada dalam mimpi istrinya itu.

Berada di pelukan Chanyeol setidaknya membuat gadis bermarga Kim itu sedikit tenang. Dia masih mencoba mengumpulkan kewarasannya. Pikirannya kosong. Dia kehilangan arah. Mimpi itu membuatnya bingung. Dan merasa dipermainkan. Tidak mungkin dia bisa merasakan sentuhan Anna.

Chanyeol masih berusaha menenangkan Lian. Dia menunggu istrinya itu tersadar. Tarikan nafas berat terdengar di mulutnya. Dia merasa tidak berguna sebagai seorang suami. Hingga dia merasakan kaos yang dia kenakan basah. Itu air mata Lian.

Ini buruk! Chanyeol tidak bisa melihat istrinya menangis. Dengan gerak cepat dia melepas pelukannya dan menangkup wajah Lian. Dapat dia lihat kalau istrinya itu masih kebingungan. Lian tidak pernah mau menatapnya. Dia menundukkan kepalanya dalam.

“Sayang? Hey, lihat aku! Kau baik-baik saja? Katakan apa yang terjadi. Jangan seperti ini, kau membuatku kawatir.” Chanyeol mengeluarkan kekawatirannya. Ibu jarinya menghapus air mata Lian yang mengalir di kedua pipi wanita itu.

Rasa sesak itu kembali menghampirinya. Dadanya seperti terhimpit beban yang sangat berat. Membuatnya sulit bernafas. Semua ucapan Anna masih terekam jelas di kepalanya. Membuat Lian semakin merasa tidak berdaya. Dia memukuli dadanya yang semakin terasa sakit. Mengabaikan Chanyeol yang sangat mencemaskannya.

Pergilah, luka! Biarkan aku bernafas sejenak.

“Park Lian, kumohon hentikan. Jangan melukai dirimu. Astaga!” Pinta Chanyeol sambil menahan tangan Lian yang memukuli dadanya sendiri.

Usahanya membuahkan hasil. Tangan Lian terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya. Selama mereka menikah, Chanyeol tidak pernah melihat Lian menangis. Ini pertama kalinya dan rasanya sangat menyayat hati. Lebih baik dia mendengar segala ucapan pedas Lian, daripada harus melihatnya menangis.

Chanyeol kembali memeluk Lian. Dia membenamkan wajahnya pada rambut Lian. Chanyeol tahu kalau istrinya ini sangat rapuh. Hanya saja Chanyeol dapat melihat dinding kokoh yang membuat Lian selalu terlihat kejam. Chanyeol lebih menyukai wajah dingin Lian, daripada harus melihat wajah cantik yang selalu dia banggakan dipenuhi air mata kesakitan.

Dengan segala kemunafikan dalam dirinya, Lian melingkarkan kedua lengannya pada perut Chanyeol. Dia benci perasaan seperti ini. Disaat dia merasakan nyaman dan tenang dalam pelukan Chanyeol, rasa benci itu selalu menjadi lebih besar. Dapat dia rasakan tubuh menegang dari suaminya tersebut. Namun tidak berlangsung lama, dia merasakan pelukan ini makin erat.

Sangat nyaman. Sampai rasanya Lian kehilangan nafasnya karena menahan segala rasa benci yang menyerangnya.

Bersyukurlah Chanyeol karena akhirnya dia dapat merasakan lagi rengkuhan lemah dari wanitanya. Kalau dengan terpuruknya Lian bisa membuat wanitanya itu datang padanya, tegakah dia membuat Lian terpuruk terus? Oh, bahkan pemikiran brengsek itu tetap tidak hilang dari kepalanya. Sekali brengsek tetap saja brengsek.

Masih dengan tanda tanya besar di kepalanya, Chanyeol memilih diam. Membiarkan istrinya tenang hingga akhirnya kembali tertidur karena lelah menangis. Dia bersenandung kecil agar membuat tidur Lian makin nyenyak. Dengan gerak pelan, dia membaringkan Lian. Sangat pelan-pelan. Tidak ingin mengusik tidur Lian. Setelahnya dia menyelimuti Lian. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Lian. Bekas air mata itu masih ada.

Chanyeol ikut membaringkan tubuhnya di samping Lian dengan posisi menyamping. Dia tersenyum miris melihat penampilan Lian yang kacau. Banyak sekali kesakitan yang Lian rasakan seorang diri. Seharusnya dia bisa menjadi obatnya. Bukan menjadi virus yang bisa memperparah rasa sakit itu.

“Maafkan aku karena terus melukaimu. Aku benar-benar tidak berguna sebagai suami.” Bisiknya sambil mengelus-elus pipi Lian.

Chanyeol memang sangat mencintai Lian. Dengan segenap jiwa dan raganya. Tapi ketahuilah kalau dia adalah seorang maniak. Dia tidak bisa hidup tanpa membobol lubang dari para wanita jalang di luar sana. Kebiasaan itu tidak dapat dia hilangkan. Dia tidak melakukannya pada Lian. Lian terlalu berharga untuk menjadi pemuas nafsu bejatnya. Dia menikahi wanita itu karena cinta, bukan untuk melayaninya.

Sebuah kecupan hangat dia berikan pada Lian di keningnya. Kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sambil terus mengawasi Lian yang sedang tidur nyenyak. Hanya tuhan yang tahu kalau Lian mendengar apa yang dikatakan Chanyeol dan merasakan kecupan manis di keningnya.

Dan ketahuilah… Ini adalah awal. Awal menuju kebahagiaan Lian yang sebenarnya. Belajar memaafkan.

**

“Oppa, apa kau mencintaiku?” Pertanyaan itu keluar dari bibir seorang gadis yang tengah duduk di kursi taman dengan es krim di tangannya.

Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat seorang pria jangkung di sampingnya menatapnya. Saat itu juga pria jangkung itu tidak dapat menutupi senyumnya saat melihat bibir gadisnya belepotan es krim.

“Kau tahu jawabannya tanpa harus bertanya, sayang. Dan… Bisakah kau memakannya pelan-pelan? Aku sangat ingin membersihkan bibirmu itu dengan bibirku.” Jawab pria itu sambil mengerling nakal.

Buk.

Pukulan keras tidak segan-segan diberikan dari gadis yang digoda. Pipinya sudah memerah karena malu. Kekasihnya ini memang sangat blak-blakan. Melihat ekspresi malu-malu dari gadis itu, membuat pria jangkung tidak dapat menahan tawanya. Hobinya memang suka menggoda kekasihnya ini.

“Manisnya, cantikku.” Ucapnya gemas sambil mengacak-acak rambut gadis di depannya.

Suasana menjadi hening. Lian, gadis penggila es krim itu, asik dengan es krim di tangannya. Mengabaikan pria jangkung di sampingnya yang terus menatapnya dengan senyum lebar. Chanyeol terlalu menikmati pemandangan indah di depannya. Kapan lagi dia akan melihat gadisnya sebahagia ini?

Es krim di tangan Lian sudah habis. Dia membuang bungkus es krim di tempat sampah. Dan Chanyeol, dia langsung sigap membersihkan tangan Lian yang lengket. Betapa dia sangat mencintai gadis ini. Senyum tidak pernah hilang dari bibirnya saat berdekatan dengan Lian.

“Apa tidak ada wanita lain yang oppa cintai?” Lian kembali bertanya dengan polos. Tidak mempedulikan dengan ekspresi tegang Chanyeol.

Chanyeol berdehem sejenak untuk mengurangi rasa gugupnya. Dia membuang tisu yang dia gunakan untuk membersihkan tangan Lian.

“Kau satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Ketahuilah kalau jantungku berdetak sangat cepat karenamu.” Jawab Chanyeol sambil mengapit dagu Lian dengan jempol dan telunjuknya. Dia menatap manik biru di depannya dengan intens.

Lian terpaku dengan tatapan mata Chanyeol sekaligus ungkapan manis pria itu. “Jangan menyia-nyiakan kepercayaanku, oppa. Aku akan sangat terluka dan membencimu.” Bisiknya sambil menggenggam tangan Chanyeol. Menunjukkan keresahannya.

Chanyeol hanya bisa menyembunyikan senyum mirisnya. Diapun menarik Lian ke dalam pelukannya. Berharap semuanya akan baik-baik saja.

Hubungan mereka bertahan lama. Setelah tiga tahun lamanya, hubungan itu berlanjut pada jenjang yang lebih serius. Kalau kalian menganggap Chanyeol melamar Lian, jawabannya salah. Singkatnya, keluarga dari kedua belah pihak mengadakan makan malam dan malam itu juga terjadilah perjodohan antara dia dan Chanyeol. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Lian tidak dapat menahan senyum bahagianya. Dia sangat antusias menyiapkan pernikahannya. Dari mulai memilih gaun pengantin hingga cincin nikah.

Pernikahan itu akan dilaksanakan seminggu lagi. Semua persiapan sudah matang. Hanya tinggal menyiapkan mental bagi kedua pengantin. Dan hari itu, Lian memutuskan untuk mengajak Taehyung, sahabat dekatnya, ke pantai. Dia ingin membagi kebahagiaannya dengan Taehyung. Jadilah mereka yang saat ini berjalan menyusuri pantai di sore hari. Menantikan matahari terbenam.

“Aku sangat bahagia.” Lian membuka percakapan setelah lama terdiam. Dia menghentikan langkahnya dan menatap Taehyung. Senyumnya benar-benar tidak bisa hilang.

Taehyung hanya bisa tersenyum paksa melihat wajah bahagia Lian. “Aku juga senang melihatmu bahagia.” Sahutnya.

“Boleh aku bertanya?” Taehyung menatap gadis di depannya intens.

Lian mendongakkan kepalanya menatap Taehyung. “Apa?”

“Bagaimana kalau dia menyakitimu?”

Mendengar pertanyaan Taehyung membuat Lian langsung bungkam. Dia menatap Taehyung dengan tatapan tidak percaya. Chanyeol tidak mungkin melukainya. Itulah janji Chanyeol.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Dia tidak akan menyakitiku, Tae.” Jawab Lian dingin. Dia merasa tersinggung dengan pertanyaan Taehyung.

“Kuharap begitu. Karena aku benar-benar akan membunuhnya kalau dia menyakitimu.” Sahut Taehyung

Lian menatap sahabatnya dengan tatapan sulit diartikan. Dia tahu perasaan Taehyung. Dan dia merasa seperti wanita bodoh karena tidak bisa membalas perasaan pria itu. Hati Lian sudah diisi oleh sosok Chanyeol.

“Maafkan aku.”

“Hentikan. Kau tidak bersalah kenapa meminta maaf? Berjanjilah untuk bahagia dengannya.” Ucap Taehyung cuek.

Lian tersenyum miris. “Kuharap kau menemukan wanita lain yang lebih baik dariku.” Lirihnya dengan kepala tertunduk.

Sore itu berakhir dengan keduanya yang menikmati matahari terbenam. Tidak ada percakapan setelah itu. Lian masih merasa bersalah dengan Taehyung. Dia melukai perasaan Taehyung. Sementara Taehyung hanya mencoba menerima kenyataan pahit yang menimpanya. 

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Mereka berjalan beriringan tanpa kata. Hanya suara debur ombak dan angin yang menemani perjalanan mereka menuju parkir mobil.

“Aku tidak bisa, Eunji-ya.”

Suara itu berhasil menghentikan langkah Lian. Dia kenal dengan suara ini. Dan kepala Lian secara spontan menoleh mencari sumber suara. Tidak mungkin dia berhalusinasi. Dia sangat yakin kalau suara yang dia dengar adalah suara Chanyeol.

“Wae?” Tanya Taehyung heran saat melihat Lian menghentikan langkahnya.

Lian tidak menjawab. Dia masih mencari dimana sumber suara itu berasal. Kakinya bergerak sendiri menuju sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Taehyung mengikutinya dengan perasaan heran.

“Pernikahannya sebentar lagi. Aku tidak bisa membatalkannya.”

Suara itu makin jelas. Lian dapat melihat punggung Chanyeol dan di depannya terdapat seorang wanita yang tidak dia kenal. Sementara itu Taehyung terlihat sangat terkejut melihat Chanyeol bersama wanita lain. Berbeda dengan Lian. Dia sedang berperang dengan ketakutannya. Mencoba yakin kalau wanita itu hanya teman Chanyeol.

“Perjanjiannya tidak seperti ini, Chanyeol. Seharusnya kau sudah berpisah dengannya dua bulan yang lalu. Apa jangan-jangan kau mulai mencintai Lian?”

“Astaga, Eunji. Aku hanya mencintaimu. Sungguh. Aku belum menemukan waktu yang tepat untuk memutuskannya sampai perjodohan ini terjadi.”

Tubuh Lian melemas mendengar ucapan Chanyeol. Pandangannya mengabur oleh air mata. Tidak mungkin! Dia pasti bukan Chanyeol. Chanyeol berkata hanya mencintainya. Tidak ada wanita lain. Pasti dia bukan Chanyeol.

“Lalu sekarang bagaimana? Perjanjian dalam taruhan bukan seperti ini. Kau tidak bisa menikah dengannya.”

Bagai tersambar petir, Lian merasa nyawanya direnggut secara paksa. Taruhan? Jadi selama ini dia menjadi bahan taruhan? Jadi tidak pernah ada cinta dari Chanyeol? Lalu apa maksud perkataannya di taman dulu? Hanya dia wanita satu-satunya. Lian mencengkram dadanya yang terasa sangat sakit.

Sementara itu Taehyung tampak mengepalkan tangannya kuat. Emosinya mendidih kala mendengar semua yang diucapkan Chanyeol. Baru beberapa menit yang lalu Lian sangat yakin kalau Chanyeol tidak akan menyakitinya. Lalu, sekarang ini apa? Taehyung tidak bisa diam saja melihat gadis yang amat dia sayangi terluka karena Chanyeol. Dia baru akan maju untuk melayangkan tinju untuk Chanyeol, sebelum kemudian merasakan sebuah tangan menahannya. Taehyung melempar tatapan protes pada pemilik tangan yang tak lain adalah Lian, namun Lian hanya menggelengkan kepalanya lemah.

“Aku akan menceraikannya setelah tiga bulan menikah.”

Bug!

Taehyung tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Tanpa mempedulikan Lian yang memohon untuk tetap tenang, dia berjalan cepat menghampiri Chanyeol dan melayangkan tinjunya pada pria itu. Dia sangat marah karena lelaki ini berhasil membuat Liannya sangat terluka. Seperti orang kesetanan, Taehyung memukuli wajah Chanyeol.

Sementara itu Chanyeol masih belum sadar dari keterkejutannya. Dia bahkan tidak bisa melawan saat Taehyung memukulnya. Hingga matanya menangkap sosok gadis yang tengah menangis. Chanyeol membulatkan matanya. Bagaimana bisa?

“Brengsek! Kau pikir kau siapa berani menjadikan Lian sebagai mainanmu?! Otakmu dimana, huh?!” Taehyung mencengkram kerah Chanyeol sambil menatapnya bengis. Nafasnya memburu karena marah.

Bug!

Taehyung memberikan pukulan lagi di wajah Chanyeol. Setan seolah merasukinya. Dia tidak bisa membiarkan pria yang menyakiti Lian begitu saja. Kesedihan Lian kesedihannya juga.

“Apa kau pikir pernikahan hanya sebuah permainan?! Kau pengecut! Menjadikan wanita lemah sebagai mainanmu. Dimana otakmu, sialan?!” Teriak Taehyung tepat di depan wajah Chanyeol.

Chanyeol tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat gadis yang baru saja dia sakiti. Hatinya tersayat melihat Lian menangis. Dia tidak bisa melihat gadisnya menangis. Terlebih karenanya. Dan saat itu jugalah rasa penyesalan itu datang. Dia sadar kalau selama ini dia terjebak dalam permainan yang dia buat sendiri. Dia jatuh dalam pesona seorang gadis cantik dan pendiam bernama Kim Lian.

“Tae, hentikan.” Lirih Lian sambil memegang lengan Taehyung.

Taehyung menghempaskan tubuh Chanyeol sampai pria jangkung itu mundur beberapa langkah. Dia beralih menatap Lian yang saat ini masih menangis tanpa suara.

“Li…” Chanyeol hendak mendekati Lian namun langsung ditahan oleh Eunji.

“Selesaikan semuanya sekarang, oppa. Pilihlah salah satu diantara kami.” Ucap Eunji tiba-tiba. Membuat Chanyeol dilema setengah mati. Tatapannya tertuju pada gadis di depannya yang tampak rapuh.

“Ayo pulang.” Lian menarik tangan Taehyung. Dia tidak sanggup lagi melihat kesakitan di depannya. Dia belum siap mendengar Chanyeol memilih wanita itu. Tidak akan siap.

“Li, dengarkan aku dulu. Aku bisa jel-“

“Jangan mendekatinya, sialan! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau saja Lian tidak menahanku. Kau masih bisa membatalkan pernikahan ini dan aku yang akan menjadi suami Lian.”

“Brengsek, jangan mengambil Lian dariku!” Teriak Chanyeol

“Tae…”

“Kim Lian!” Seru Chanyeol sambil berusaha mendekati Lian.

“Aku tidak mengenalmu.” 

Ucapan dingin Lian membuat jantung Chanyeol berhenti berdetak. Dia mematung di tempatnya sambil melihat Lian yang semakin menjauh darinya bersama Taehyung. Kini dia merasakan sakit luar biasa melihat tatapan dingin Lian. Sungguh dia menyesal! Dia tidak bisa melepas Lian. Dan kini keputusannya sudah bulat.

“Eunji, kita berakhir. Aku mencintai Lian dan aku tidak bisa kehilangannya. Maafkan aku.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Chanyeol langsung berlari mengejar Lian. Mengabaikan Eunji yang masih tercengang dengan ucapannya.

“Lian, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan melepasmu.”

**

Tiba-tiba saja ingatan saat semua kebohongannya terbongkar, tiga tahun yang lalu melintas dalam kepala Chanyeol. Sontak dia langsung menghentikan aktivitasnya yang tengah mengetik pekerjaannya. Setiap kali ingatan itu datang, Chanyeol tidak dapat menahan rasa marah kepada dirinya sendiri. Hari itu pertama kalinya dia melihat Lian menangis. Parahnya lagi dia penyebab Lian menangis. Dia begitu menyesali perbuatannya.

Pernikahan itu tetap terjadi. Chanyeol kekeuh pada keputusannya untuk menikahi Lian. Dia juga berulangkali meminta maaf pada gadis itu. Tapi permintaan maafnya hanya dianggap angin lalu oleh Lian. Gadis itu bahkan tidak suka melihatnya hingga pernikahan terjadi. Semua angan dalam benak Chanyeol harus kabur saat tidak mendapati raut bahagia di wajah Lian. Padahal dia sangat ingat betapa gadisnya ini terlihat antusias saat memilih cincin dan gaun pengantin. Berbeda dengan saat berhadapan dengannya di altar.

Chanyeol memijit pelipisnya yang terasa pening. Akhir-akhir dia terganggu dengan ingatan semua kesalahan yang pernah dia lakuka pada Lian. Ditambah dengan pekerjaan yang menumpuk membuatnya harus rela pulang malam dan waktunya dengan Lian berkurang. Dia akan pulang saat Lian sudah tidur. Ngomong-ngomong tentang istrinya tersebut, Chanyeol sangat merindukannya. Hubungan mereka juga sudah lebih baik dari biasanya. Istrinya sudah bisa dia ajak berkomunikasi.

Karena tidak bisa menahan kerinduannya, Chanyeolpun memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Biar saja sekretarisnya yang mengurus. Dia tidak ingin pekerjaannya kacau karena dia yang tidak fokus. Bagaimana bisa fokus kalau yang ada di kepalanya hanya bayangan wajah cantik Lian?

Setelah berpesan kepada sekretarisnya untuk mengosongkan jadwal hingga besok, diapun segera bergegas untuk pulang menemui sang istri. Hitung-hitung memberi kejutan untuk Lian.

**

Hari ini tidak ada kegiatan yang bisa Lian kerjakan. Semua sudah dikerjakan para pekerjanya dan dia dilarang untuk membantu. Tadinya dia berniat untuk membuat kue saja. Tapi bahan-bahannya habis. Jadilah dia sekarang yang hanya diam termangu di depan televisi menunggu pekerjanya datang. Dia juga dilarang untuk membeli bahan membuat kue seorang diri.

Layar televisi di depannya tampak hanya diacuhkan oleh Lian. Pikirannya tidak tertuju pada tayangan itu. Dia bosan. Berada di rumah sebesar ini seorang diri membuatnya sangat kesepian. Tidak ada yang bisa dia ajak berbincang-bincang. Andai saja ada sosok malaikat kecil duplikatnya dengan Chanyeol, pasti dia tidak akan merasa sangat kesepian.

Wajah Lian mendadak murung saat kepalanya teringat akan sosok bayi. Sudah dua tahun pernikahannya, tapi mereka belum mempunyai momongan. Kenapa? Tentu saja karena Lian yang sangat kecewa dengan Chanyeol. Tapi setelah merasa hubungannya dengan Chanyeol berangsur membaik, keinginan untuk mempunyai anak itu muncul. Apalagi diumurnya yang sudah dua lima. Lian yakin suaminya itu juga menginginkan sosok malaikat kecil diantara mereka.

Tapi… Haruskah dia mengatakan keinginannya pada Chanyeol, sedangkan Chanyeol tidak pernah menyentuhnya lebih dalam selain berciuman. Gengsi dalam diri Lian terlalu besar. Helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya.

Membosankan.

Dia mengutuk dalam hati pada pekerjanya yang tidak kunjung tiba. Dia sudah sangat bosan hanya berdiam diri depan layar televisi yang bahkan tayangannya saja tidak menarik. Disaat seperti inilah dia merasakan merindukan suaminya. Dia tahu kalau pekerjaan Chanyeol akhir-akhir ini sangat banyak hingga waktu pertemuannyapun menjadi sedikit.

“Kim Lian.”

Mendengar suara itu sontak membuat tubuh Lian menegang. Di depannya berjarak lima belas meter dari tempat duduknya, berdiri kakak tirinya. Byun Baekhyun. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun yang paling bisa Lian tangkap adalah ekspresi terluka dan penyesalan Baekhyun. Ekspresi yang selalu pria itu berikan untuknya.

Sial. Lian kini merasa bersalah karena mengingat kata-kata kasar yang pernah dia ucapkan pada kakak tirinya itu. Seperti pesan Anna dalam mimpinya waktu itu. Belajar memaafkan. Lianpun mencobanya. Dia memulai komunikasi yang baik dengan Chanyeol. Tapi belum sampai tahap pada keluarganya. Selain tidak pernah bertemu, Lian merasa sangat berat untuk memaafkan mereka. Tapi ketahuilah, kalau hati Lian mulai mencair dan dia sedikit menyesali semua perbuatannya pada Baekhyun.

Lian masih diam mematung. Tidak tahu harus berkata apa saat melihat kakak tirinya berjalan mendekatinya hingga berdiri tepat di depannya. Lian menahan nafasnya sejenak. Dia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang akan dilakukan Baekhyun?

“Ada yang ingin kukatakan. Untuk terakhir kalinya sebelum aku berangkat ke Jerman.” Suara pelan itu kembali memasuki indera pendengaran Lian. Dan Baekhyun tidak tahu kalau ucapannya sedikit membuat Lian terluka karena kata terakhir di dalamnya.

Lian masih diam. Namun matanya mengatakan kalau dia mempersilahkan Baekhyun untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan. Diluar dugaan Lian! Baekhyun tiba-tiba berlutut di depannya dengan kepala tertunduk. Lian membulatkan matanya kaget. Dia ingin berteriak agar Baekhyun berdiri, tapi mulutnya seolah terkunci.

“Aku tahu seribu kata maaf tidak akan bisa menyembuhkan luka di hatimu karena kehilangan ibumu. Akupun tahu segala cara yang kulakukan tidak akan bisa membuatmu memaafkanku. Terlepas dari itu semua, aku tetap ingin minta maaf. Aku minta maaf karena sudah menjadi kesakitan dalam hidupmu. Aku minta maaf karena membuatmu kehilangan ibumu. Aku-”

Baekhyun tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia sudah mengumpulkan keberanian untuk menemui Lian dan mengatakan semua yang ingin dia katakan. Tapi tetap saja dadanya merasa sesak setiap kali melihat adik tirinya yang terlihat menderita. Dia merasa salah. Salah karena hadir dalam kehidupan Lian.

Sementara itu, Lian hanya menatap Baekhyun dengan mata berkaca-kaca. Kalau sebelumnya dia akan mengusir dan menjelek-jelekkan Baekhyun, kali ini Lian ingin memeluk Baekhyun. Lian tidak pernah merasa sesakit ini karena mendengar permintaan maaf Baekhyun.

“Aku seharusnya tidak datang ke dalam kehidupan kalian. Aku menyesal tidak bisa mencegah eomma untuk tetap tinggal. Setiap kali melihat tatapan bencimu, aku merasa nyawaku direnggut begitu saja. Aku sungguh minta maaf.” Suara Baekhyun makin lirih. Seiring dengan bahunya yang bergetar.

Air mata mulai membanjiri pipi Lian. Kini dia tahu apa arti perasaan gelisahnya selama ini. Karena dia menyimpan benci terlalu dalam pada semua orang. Sekarang, saat Lian sudah mulai memaafkan mereka, tubuhnya terasa lebih ringan. Namun rasa bersalah karena sudah melukai perasaan Baekhyun dengan kata-kata kasarnya tetap ada. Baekhyun tidak bersalah. Dia juga korban.

Dengan tangan yang bergetar, Lian menyentuh kedua pundak Baekhyun. Membuat Baekhyun mengangkat kepalanya. Hatinya mencelos saat lagi-lagi melihat Lian menangis. Namun selanjutnya dia dibuat terkejut setengah mati saat Lian tiba-tiba Lian memeluknya. Tubuhnya membeku. Wajahnya juga tampak terkejut. Dia masih belum mencerna apa yang terjadi.

Lian, adik tirinya, memeluknya? Ini seperti mimpi. Tangannya yang bergetar terangkat untuk membalas pelukan adik tirinya. Dalam hatinya dia bersyukur karena Lian mau mendengarkan semua ucapannya, bahkan sampai memeluknya. Mereka menangis bersama dalam pelukan itu dengan Baekhyun yang terus mengucapkan kata maaf. Namun perasaan lega juga mereka rasakan karena beban yang sudah lama mereka rasakan terangkat.

“Aku sudah memaafkan kalian.” Ucap Lian ditengah isakannya. Dia mengatakannya dengan tulus.

Baekhyun semakin menangis kencang saat mendengar kalau Lian sudah memaafkannya. Sekarang, dia merasa lebih tenang. Dia merasa sangat senang hingga tidak tahu harus berkata apa. Namun dalam hatinya dia terus berucap syukur pada Tuhan karena Lian sudah mulai membuka hati untuk memaafkannya.

Mengatakan maaf bukanlah hal memalukan. Karena maaf bisa membawa kebahagiaan yang tidak pernah diduga.

**

Pria jangkung itu memasuki rumah mewahnya dengan langkah lebar dan senyum mengembang. Dia tidak sabar ingin bertemu wanita kesayangannya. Sebelumnya dia sudah menyuruh para pegawainya untuk merahasiakan kepulangannya pada Lian karena memang Chanyeol ingin memberi kejutan untuk istri tercintanya tersebut. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu, jadi Chanyeol pikir memberi kejutan Lian dengan kehadirannya merupakan hal yang bagus.

Para pegawai Chanyeol tidak dapat menahan senyum bahagia mereka setelah melihat hubungan majikan mereka yang berangsur membaik. Selama sebulan ini mereka jarang mendapati tuan dan nyonya mereka bertengkar. Selain itu, sikap ramah Lian kepada mereka juga membuat mereka senang. Dan mereka berharap pemandangan seperti ini akan tetap ada seterusnya. Mereka sangat menyayangkan setiap kali mendengar teriakan kemarahan dari Lian karena ulah Chanyeol.

Tanpa bertanya pada pegawainya, kaki Chanyeol langsung berjalan menuju dapur. Dari ruang tengah dia dapat mencium aroma harum kue kesukaannya. Senyumnya makin mengembang tatkala melihat wanita yang sangat dia rindukan tengah sibuk memasukkan adonan kue ke dalam cetakan. Penampilan istrinya terlihat berantakan dengan apron biru yang menempel di tubuhnya. Tapi ketahuilah, bagaimanapun penampilan Lian, akan tetap terlihat cantik di mata Chanyeol.  Apalagi dengan peluh yang membasahi keringat Lian. Membuatnya terlihat lebih seksi.

Dengan langkah mengendap, Chanyeol berjalan mendekati Lian. Dan saat sudah berada di belakang istrinya yang nampaknya belum menyadari kedatangannya, dia langsung melingkarkan kedua tangannya pada perut Lian. Membuat wanita itu berjengit kaget. Beruntung adonan yang dia pegang tidak jatuh.

“Selamat sore, sayang.” Bisik Chanyeol sambil mencium pipi Lian dari belakang.

Lian tidak pernah siap dengan perbuatan Chanyeol yang tiba-tiba. Termasuk memeluknya dari belakang. Dia heran karena Chanyeol sangat suka memeluknya dari belakang sambil meletakkan dagunya pada bahu Lian. Seperti yang dilakukan sekarang ini. Membuat Lian sedikit kesusahan untuk bergerak bebas.

“Kau menggangguku.” Ucap Lian sambil berusaha melepaskan tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya.

Jujur Lian sangat senang melihat Chanyeol pulang lebih awal. Tidak ingin munafik, Lian memang merindukan Chanyeol. Dan saat ini hatinya tengah berbunga-bunga karena Chanyeol memeluknya dari belakang. Sesuatu yang sudah jarang dia dapatkan belakangan ini karena kesibukan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Tidak dapat dipungkiri kalau jantungnya berdetak kencang.

Ey! Lian malah terlihat seperti seorang remaja yang mabuk cinta. Bukan tipe Lian sekali.

Dengan wajah masam, Chanyeolpun melepas pelukannya. Setengah hati. Dia berpindah untuk berdiri di samping Lian sambil bersandar pada meja. Tatapannya tidak lepas dari wajah serius dominan bahagia dari Lian. Kalau sebulan yang lalu dia hanya bisa melihat wajah dingin Lian, sekarang dia bisa melihat senyum indah itu lagi. Kalau sebulan yang lalu dia hanya bisa mendengar kata-kata pedas Lian, sekarang dia bisa mendapat kalimat indah dari istrinya.

Tampaknya Chanyeol tidak sadar kalau aksinya menatap Lian justru malah membuat wanita itu gugup. Terbukti dengan Lian yang sekarang justru bingung harus berbuat apa. Dia berusaha terus bekerja agar tidak ketahuan suaminya kalau sedang gugup. Memalukan.

Chanyeol menunggu Lian selesai dengan kegiatan memanggang kuenya hingga selesai. Dia tidak ingin mengganggu istrinya. Lagipula kapan lagi dia bisa melihat wajah serius Lian dengan peluh yang membanjiri keringatnya. Melihatnya hanya membuat Chanyeol ingin menelanjanginya sekarang juga.

“Kenapa sudah pulang?” Tanya Lian setelah dia selesai memasukkan adonan terakhir ke dalam oven. Dia mencuci tangannya dulu sebelum akhirnya mendekati Chanyeol yang masih setia menunggunya.

Chanyeol mendengus sebal. “Apakah begitu caramu menyambut suamimu pulang?”

Lian tertawa sumbang. Bahkan sebelum mereka baikan, tidak ada acara menyapa seperti yang dia lakukan saat ini. Takdir memang lucu. Lian tidak sadar kalau Chanyeol sudah berdiri di depannya dengan tatapan penuh rindu. Saat dia menyadarinya, tiba-tiba Chanyeol sudah menciumnya dengan menggebu-gebu. Lian yang belum siap sama sekali hanya bisa membulatkan matanya. Dia menatap Chanyeol yang bahkan sudah memejamkan matanya.

Baru saja Lian hendak membalas ciuman Chanyeol, ciuman itu sudah terlepas. Menyisakan rasa kehilangan pada Lian yang kentara jelas untuk Chanyeol. Kening mereka masih menyatu. Bahkan keduanya bisa merasakan deru nafas lawan jenisnya. Tangan Chanyeol yang tadinya berada di tengkuk Lian, kini berpindah menjadi memeluk pinggang Lian posesif.

“Aku sangat merindukanmu.” Bisik Chanyeol dengan senyum mautnya. Matanya menyorotkan kerinduan yang mendalam.

“Aku juga.” Balas Lian pelan. Terkesan malu-malu. Dia bahkan menundukkan kepalanya karena tidak ingin ketahuan jika pipinya sudah memerah malu.

“Apa Baekhyun ada disini?” Tanyanya kemudian. Masih dalam posisi yang sama. Dia sangat menikmati posisi intim ini.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Lian balik sambil mendongakkan wajahnya. Dan saat itu juga dia menyesal karena jaraknya dengan Chanyeol benar-benar sangat dekat.

“Aku melihat mobilnya di depan.” Jawab Chanyeol dengan senyum tertahan saat melihat semburat merah di pipi Lian. “Kau tidak ingin melanjutkan yang tadi?” Tanya Chanyeol lagi dengan nada menggoda.

“Apa?” Sahut Lian pura-pura tidak tahu. Tapi… Suaranya terdengar bergetar.

Chanyeol menyeringai, “Kau bahkan kecewa saat aku berhenti menciummu.” Ucapnya sambil mengelus-elus pipi Lian.

“A-apa? Aku tidak!” Sergah Lian gugup.

“Jangan berbohong, sayang. Aku tahu kau ingin kita melanjutk-mpphh”

Kalimat Chanyeol langsung berhenti di tengah jalan saat tiba-tiba Lian lebih dulu menciumnya. Pelan dan intens. Khas seorang Kim Lian. Dengan senang hati Chanyeol menerimanya. Dia merengkuh pinggang Lian semakin erat sementara tangan kanannya berada pada tengkuk Lian guna memperdalam ciuman mereka. Chanyeol bisa mati perlahan kalau seperti ini terus. Ciuman Lian sangat memabukkan. Sangat intens dan dalam. Chanyeol akui hanya Lian satu-satunya yang mempunyai ciuman paling menakjubkan.

She’s a good kisser. More than good.

Dan sebenarnya Chanyeol berbohong tentang melihat mobil Baekhyun di halaman rumahnya. Dia mengetahui hal itu sebelum dia tiba di rumah. Tentu saja dia melihat dari kamera CCTV rumahnya. Chanyeol melihat semuanya. Saat Baekhyun berlutut di depan Lian hingga akhirnya mereka berbaikan. Chanyeol lega karena sahabatnya itu bisa mendapat maaf juga dari Lian. Pun dia merasa senang dan bersyukur karena Liannya benar-benar berubah menjadi sosok yang hangat.

Kegiatan panas itu masih berlanjut. Kali ini lebih menuntut. Tangan Lian mulai bergerak merengkuh pinggang Chanyeol. Kepala mereka bergerak ke kiri-kanan guna mencari posisi nyaman dan mencuri pasokan udara. Tangan Chanyeol sudah gatal ingin menyentuh seluruh lekuk tubuh Lian. Tapi…

“Astaga!” Pekik Baekhyun yang tiba-tiba datang dengan penampilan khas bangun tidur.

Suara tersebut mau tidak mau membuat kegiatan dua manusia dilanda mabuk asmara itu berhenti. Chanyeol menatap sebal pada sahabatnya karena merasa terganggu. Berbeda dengan Lian yang justru menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik dada lebar Chanyeol.

Pria berwajah cantik itu menutup matanya dengan kedua tangannya. Tapi dia masih bisa melihat pasangan suami-istri itu melalui celah di jarinya. Sungguh Baekhyun tidak menyangka akan melihat adegan panas di dapur. Dia baru saja bangun tidur dan ingin minum tapi malah melihat sahabat dan adik tirinya sedang berciuman panas. Otomatis, nyawanya yang baru terkumpul lima belas persen, langsung terkumpul sepenuhnya.

Pria berwajah cantik itu mendengus sebal saat melihat Chanyeol dengan tatapan laparnya sedang menggoda Lian yang masih terlihat malu. Diapun kembali melakukan pada niat awalnya ke dapur. Astaga! Dia benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka melakukannya di dapur sementara banyak para pekerja yang berkeliaran di rumah ini?

“Berterimakasihlah aku datang. Kalau tidak, kalian akan lupa tempat dan bercinta disini.” Sungut Baekhyun setelah menghabiskan segelas air dingin.

Lian mendelik kaget mendengar ucapan frontal Baekhyun. Namun sejurus kemudian, wajahnya kembali memanas saat mengingat ciuman panas tadi. Yang dikatakan Baekhyun ada benarnya. Dia bahkan hampir kehilangan akal sehatnya karena terlalu menikmati ciuman tadi. Dan tidak bisa dipungkiri kalau hasratnya meninggi. Dia saja sudah bergairah, apa lagi Chanyeol? Tangan pria itu bahkan masih merengkuh pinggangnya posesif. Diikuti dengan remasan seduktifnya.

Oh, tidak! Dia bisa gila kalau Chanyeol tidak menghentikan kegiatannya. Ada Baekhyun! Akal sehatnya terus berteriak.

Ting!

Hah. Lian bisa bernafas lega saat mendengar suara oven. Rupanya kue buatannya sudah matang. Tanpa mempedulikan Chanyeol yang masih menatapnya, dia melenggang menuju oven untuk mengangkat kue buatannya. Aroma harum kue buatannya langsung menyebar ke seluruh penjuru dapur. Siapapun yang menciumnya akan langsung tergiur.

“Kau terlihat bahagia.” Ucap Baekhyun pelan yang tiba-tiba sudah berada di samping Chanyeol. Dia bersandar pada meja, sama seperti yang dilakukan Chanyeol. Keduanya sedang melihat Lian yang mulai sibuk dengan kue-kuenya.

Chanyeol melirik Baekhyun sekilas sambil tersenyum tipis. “Kurasa kita merasakan perasaan yang sama.” Sahutnya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.

“Aku semakin mencintainya.” Tambah Chanyeol

Obrolan singkat itu berakhir saat Lian mendekati mereka dengan membawa piring yang berisikan kue buatannya. Senyumnya tampak mengembang hanya karena merasa puas dengan resep barunya. Chanyeol dan Baekhyun yang melihat senyum itupun ikut tertular. Betapa bahagianya mereka karena dapat melihat senyum itu lagi.

“Aku mencoba resep baru. Cobalah. Kuharap kalian menyukainya.” Lian menyodorkan kuenya kepada suami dan kakak tirinya.

Baekhyun langsung mengambil satu potong kue berwarna ungu itu kemudian memakannya. Lain halnya dengan Chanyeol yang justru malah menarik pinggang sang istri dan langsung mencium pipinya. Lian melotot kaget melihat kelakuan Chanyeol.

“Aku lebih tertarik untuk memakanmu.” Bisik pria jangkung itu seduktif.

Baekhyun yang mendengarnya hanya mendengus sebal. “Sepertinya kalian butuh ranjang.” Ucap Baekhyun sambil mengambil satu potong kue buatan Lian lagi. “Kuenya sangat enak. Lebih baik kau urusi nafsu suami itu.” Sambung Baekhyun pada Lian sambil menepuk pundak Lian. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan pasangan suami-istri yang sedang terbakar gairah.

Lian melongo mendengar ucapan Baekhyun. Bagaimana bisa mereka berdua sefrontal ini? Tatapannya beralih pada Chanyeol. Dan… Oh tidak! Tatapan Chanyeol benar-benar berkabut. Penuh dengan gairah. Lian juga dapat merasakan nafas suaminya itu yang sudah memburu. Lian dibuat gugup karenanya. Dia bahkan tidak sadar kalau piring yang dia bawa bergetar.

Apa ini saatnya?

Lian kembali ingat dengan keinginannya untuk memiliki anak. Mungkin memang ini saatnya. Bukankah lebih cepat lebih baik? Lagipula, hubungannya dengan Chanyeol sudah memiliki banyak kemajuan dan dia juga tidak pernah mendapat informasi dari mata-matanya tentang tindakan menyimpang Chanyeol.

“Bolehkah?” Tanya Chanyeol dengan suara serak.

Lian mendongakkan kepalanya secara perlahan. Dia menatap mata Chanyeol yang sudah berkabut gairahnya sendiri. Lian sedang berperang dengan batinnya. Setelah dirasa keputusannya sudah bulat, Lian menganggukkan kepalanya malu-malu. Setelah mendapat persetujuan dari Lian, tanpa pikir panjang Chanyeol langsung menggendong istrinya ala bridal menuju kamar mereka.

Saatnya menuntaskan hasrat masing-masing. Lian yang tampak belum siap hanya memekik kaget dan mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol. Dia dapat melihat bibir suaminya itu membentuk sebuah seringai.

Ready for wonderful night, baby?” Bisik Chanyeol seduktif saat mereka sudah berada di depan pintu. Dia menghembuskan nafasnya tepat di samping telinga Lian. Bermaksud menggoda sang istri.

Kemudian dua insan itu hilang dibalik pintu dan mulai menyelami kenikmatan surga dunia yang lama tidak terlampiaskan. Malam itu diiringi dengan erangan dan desahan nikmat dari dua anak adam yang tengah mengejar kenikmatan surgawi.

Tbc~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

2 thoughts on “I Hate You, I Love You #3

  1. Wahh akhirnya di post juga lanjutannya
    Cuman aku sedikit bingung sama latar waktunya yg pas di cerita bilang sebulan yg lalu sifatnya lian udh berubah gitu..
    Tapi over all bagus kok ceritanya makin seruu si lian udh berubah,😁ditunggu lanjutannya
    Keep writing 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s