Posted in Chapter, Family

Fool For You Part 6

Fool For  You Part 6

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – Cho Kyuhyun – Lee Donghae – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Honor, Married Life

Rate : PG-15

**

Suasana kamar Taehyung kembali sepi. Lian sudah tenang dan kini sedang sibuk dengan laptop di depannya. Sedangkan Taehyung juga tengah sibuk dengan ponselnya. Jangan lupakan sosok dua pria yang berdiri di samping Lian. Siapa lagi kalau bukan Jungkook dan Aiden. Taehyung merasakan aura mencekam dalam ruangannya sehingga dia memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya. Toh, dia juga tidak ada urusannya sama sekali dengan mereka.

Tidak ada penjelasan. Setelah Lian selesai menangis, dia memilih untuk bungkam sampai saat ini. Dan Taehyung yang sangat penasaran akan sesuatu, mengurungkan niatnya untuk bertanya. Duda anak satu itu memutuskan untuk istirahat yang berakhir dengan menyaksikan aksi tatap-menatap antara Aiden-Jungkook-Lian.

Suara dering ponsel dari handphone Lian memecah keheningan dalam ruangan menegangkan itu. Dalam diamnya, Taehyung sesekali melirik ke arah Lian. Gadis itu terlihat menyeramkan saat marah. Taehyung berani bersumpah kalau Lian adalah satu-satunya gadis yang dia temui dengan kemarahannya yang menakutkan. Auranya seakan mengatakan untuk tidak mengusiknya saat marah. Seolah-olah hidupmu akan segera berakhir kalau berani mengganggunya.

Melalui ekor matanya, Taehyung dapat melihat Lian yang berdiri dan berjalan melalui Aiden untuk berdiri menghadap pemandangan kota Seoul. Sementara itu Aiden dan Jungkook masih terus mengikuti semua pergerakan yang dilakukan Lian.

Sial!

Taehyung mengumpat dalam hati saat melihat betapa anggunnya seorang Lian Jeon. Dalam keadaan marahpun pesonanya tidak bisa hilang. Dari belakang, Taehyung masih bisa merasakan aura memikat Lian.

“Apa?”

Suara dingin Lian yang lebih terdengar seperti titah itu menjadi satu-satunya kata pertama sejak dua puluh lima menit ini. Taehyung yang orangnya cenderung dingin dan judespun tidak seperti Lian.

Sebenarnya sosok seperti apa Lian Jeon?

Taehyung meletakkan ponselnya di meja kecil samping ranjang rumah sakitnya. Dia lebih tertarik memperhatikan wajah Lian dari samping. Lian benar-benar keindahan seorang dewi. Siluet tubuhnya sangat luar biasa.

“Kau gila.” Desis Lian diiringi senyum kecutnya.

Oh, ayolah! Jungkook tidak tahan dengan siatuasi seperti ini. Dia bahkan tidak penasaran sama sekali dengan perbincangan Lian dengan entah siapa. Yang ada, dia ingin mencaci penelepon itu yang besar kemungkinan adalah Marcus atau Anna, karena sudah mencuri perhatian Lian.

“Mati saja kau.”

Tiga kata yang keluar dari mulut Lian itu menjadi akhir perbincangannya dengan si penelepon. Lian tidak langsung kembali menuju tempat duduknya semula. Melainkan diam sambil memandang gemerlap lampu di depannya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Lian memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang. Paru-parunya memerlukan ruang lebih untuknya bernafas. Dia masih merasakan sesak di dadanya.

Hati Taehyung berdesir melihat mata Lian terpejam. Wajah gadis itu terlihat tenang dan terluka. Bagaimana dia harus mendeskripsikannya? Yang jelas, Taehyung merasa terganggu dengan raut terluka Lian. Dan kenapa dia malah ingin berlari dan mendekap gadis Jeon itu?

Hilangkan wajah terluka itu!

Taehyung berusaha keras menahan keinginanya itu. Memangnya dia siapa? Dan perasaan ini… Tidak seharusnya ada.

Aiden tidak tahan lagi. Kesabarannya habis tepat di menit ketiga puluh. Dia kesini bukan untuk melihat aksi diam satu sama lain. Aiden bisa saja bersikap tenang dan cuek. Tapi dia tidak bisa diam saja melihat Lian marah terhadap Jungkook. Lian bisa bertahan dengan kemarahannya selama berminggu-minggu. Dan hal itu adalah hal yang paling ditakuti dan dihindari bagi mereka yang siapapun mengenal Lian dengan baik plus masa lalu yang menimpa gadis dua puluh dua itu.

Dengan langkah santainya, Aiden berjalan mendekati Lian. Dia sudah mendengar dari Jungkook sendiri penyebab Lian marah. Sepupu cantiknya ini pasti ingat dengan kejadian memalukan yang hampir mencelakakannya tiga tahun lalu. Tentu Aiden tahu meskipun tidak berada di universitan yang sama. Jungkookpun tahu. Dan dia sangat mengutuk Jungkook yang tidak tahu tempat saat melakukannya. 

Dia memegang pundak Lian dan sedikit meremasnya. Lian masih bergeming namun dapat dia dengan hembusan nafas berat dari Lian. Aiden justru ikut merasa bersalah. Seharusnya Marcus yang berada disini. Marcus paling pintar untuk membuat hati si gadis dingin ini luluh.

“Pulanglah, Aiden. Aku akan menginap disini.” Ucap lirih Lian.

Apa? Taehyung membulatkan matanya lebar-lebar? Menginap? Dia akan berada satu ruangan bersama Lian dalam waktu semalaman? Hal itu akan memperparah kerja otaknya. Jelas Taehyung tidak akan setuju akan hal itu. Dia bisa sendiri. Lagipula hanya semalam. Daripada ditemani Lian.

Jungkook yang mendengarnya juga ikut berjingkat kaget. Dia berjalan cepat menghampiri Lian dan berdiri di depan adik kandungnya itu. Tatapannya tidak dapat diartikan. Sedih, kecewa, menyesal, dan kesal. Namun melihat ekspresi dingin Lian membuat wajah Jungkook ikut melembut. Dia menatap Lian dengan tatapan memohon.

Baby?”

“Kau juga, pergilah. Jangan bicara padaku.” Ucap Lian dingin sambil memalingkan wajahnya.

“Lian Jeon!” Seru Aiden kesal karena melihat sikap tidak sopan Lian pada Jungkook.

“Aku memaafkanmu. Jadi, pergilah. Biarkan aku istirahat.” Suara Lian melemah. Dia juga menundukkan kepalanya. Berusaha menahan air matanya yang entah sejak kapan sudah berkumpul di sudut matanya.

Jungkookpun menyerah. Mungkin emosi Lian masih belum stabil. Dia memberi kode pada Aiden agar segera pergi. Tanpa banyak kata, Aiden pergi mendahului Jungkook dan menutup pintu cukup keras. Memang dasarnya dia tidak suka dibantah. Lagipula percuma berbicara baik-baik pada Lian. Lian tetap akan mengacuhkan mereka.

Pertanyaannya adalah, dengan siapa Lian marah? Kenapa semua orang menjadi korban? Begitulah Lian Jeon.

Jungkook meninggalkan Lian dengan langkah lesu. Namun sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu, dia menyempatkan untuk melihat kondisi pasiennya. Berusaha bersikap profesional.

“Bagaimana keadaanmu, Taehyung-ssi? Apa lukamu masih sering terasa perih?” Tanya Jungkook pada Taehyung yang masih menatap Lian secara terang-terangan.

“Aku sudah lebih baik dari hari kemarin.” Jawab Taehyung tanpa mengalihkan pandangannya pada Lian.

Jungkook yang mengerti arah pandang Taehyung hanya bisa menghela nafas lesu. Dia menundukkan kepalanya. Lian memang memaafkannya. Tapi Lian tidak akan pernah mau dia ajak bicara. Begitulah Lian.

“Aku minta maaf karena belum bisa memulangkanmu padahal kau sangat ingin melihat pertunjukkan putramu.” Ucap Jungkook dengan nada menyesal.

Kali ini Taehyung maupun Lian mengalihkan atensi mereka pada Jungkook. Taehyung hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Jungkook yang pertanda kalau dia tidak masalah. Sementara itu Lian hanya menatap dua pria itu bingung. Fellix akan melakukan apapun dia tidak tahu. Setahunya Fellix hanya akan menghadiri acara ulangtahun sekolah besok. Dia tidak tahu kalau Fellix akan menampilkan sesuatu.

“Tak apa, dokter.”

“Apa yang akan ditampilkan Fellix?” Tanya Lian menginterupsi pembicaraan dua pria itu.

“Dia akan bermain piano di depan teman-temannya besok untuk yang pertama kalinya.” Jawab Taehyung sambil menatap Lian.

Lian sedikit terkejut mendengar jawaban Taehyung. Dia tidak tahu sama sekali kalau Fellix akan menampilkan sesuatu. Marcus maupun Yoongi tidak memberitahunya. Dan entah kenapa dia merasa kesal karena tidak tahu hal ini. Dia harus tahu apapun yang dilakukan dan akan dilakukan Fellix selama bocah itu bersamanya.

“Kalau begitu bersiaplah. Aku akan mengurus administrasimu. Kita bisa pulang sekarang.” Ucap Lian yang membuat Taehyung dan Jungkook mendelik kaget.

Lian mengucapkan dengan santai seolah dia dokternya. Dia bahkan langsung bersiap mengambil tasnya. Mengabaikan tatapan kaget dari dua pria di depannya.

Baby, jadwal pulangnya masih lusa. Kau tidak bisa-”

“Aku bahkan bisa menutup rumah sakit ini jika mau.” Potong Lian cepat.

Taehyung menganga tidak percaya dengan ucapan gadis Jeon itu. Lian mengatakannya dengan sangat santai. Apa katanya tadi? Menutup rumah sakit ini jika mau? Nah! Memangnya siapa Lian? Itulah yang menjadi tanda tanya besar dalam kepalanya saat ini.

Taehyung tersadar dari lamunannya saat mendengar pintu tertutup. Ruangan itupun menyiksakan dia dan Jungkook yang masih menatap nanar pintu yang baru saja tertutup. Apa yang baru saja mereka katakan saja Taehyung tidak tahu karena duda seksi itu terlalu memikirkan Lian yang sangat mengejutkan. Hari ini dia dibuat terkejut oleh gadis yang baru saja dikenalnya empat hari yang lalu. Pertama, saat Lian tiba-tiba menyerang gadis yang berciuman dengan Jungkook di ruangannya. Dan yang kedua, saat ini. Gadis itu bisa membuatnya keluar dari tempat membosankan ini dengan mudah.

Sebenarnya siapa dokternya? Jungkook yang berstatus sebagai dokter sekaligus pimpinan tertinggi rumah sakit saja belum menginjinkannya pulang. Catat! Presiden direktur. Tapi, seorang Lian Jeon? Astaga! Taehyung merasa kepalanya akan pecah karena terlalu penasaran dengan gadis misterius nan anggun itu.

**

Disinilah Taehyung sekarang. Setelah Lian selesai mengurus segala tetek bengek yang berhubungan dengan administrasi dan seseorang yang dia ketahui bernama Yoongi membantunya beberes barang-barangnya, tibalah dia di sebuah rumah mewah. Taehyung tidak dapat menyembunyikan wajah kagumnya melihat rumah bak istana di depannya. Apa ini bisa disebut rumah? Bahkan rumah presidenpun akan kalah dengan rumah megah ini.

Belum cukup dengan kemegahannya. Dari gerbang utama, sudah terdapat beberada penjaga berjas hitam. Kemudian di depan pintu juga terdapat dua penjaga. Belum lagi yang tersebar di tempat lain.

Dengan dibantu Yoongi membawa tasnya, Taehyung berjalan mengikuti Lian memasuki rumah itu. Jangan tanyakan bagaimana bisa dia berada di rumah ini. Tentu saja karena paksaan gadis di depannya itu. Lian merasa bertanggungjawab sehingga harus memastikan kalau dia akan baik-baik saja. Taehyungpun tidak sanggup membantah. Dia sudah berhutang banyak pada gadis itu.

Dan kali ini rasa penasarannya pada sosok Lian semakin membuncah. Mereka berasal dari keluarga besar. Taehyung dapat melihat aura yang selalu terpancar dari wajah Lian maupun Jungkook. Aura kakak beradik itu menunjukkan aura bangsawan. Belum lagi dengan keanggunan Lian dan kewibawaan Jungkook. Benar-benar sempurna untuk seukuran manusia.

Terlalu banyak berpikir, membuat Taehyung tidak sadar kalau dia sudah berada di depan sebuah kamar yang dia yakini akan menjadi kamarnya untuk sementara waktu. Taehyung menatap ke sekelilingnya. Dia dikelilingi para wanita berseragam. Jadi bukan hanya penjaga berbadan raksasa itu saja. Pelayanpun juga berjumlah lusinan.

Sebenarnya mereka ini manusia apa?

“Kau bisa tidur di kamar ini sementara waktu.” Suara merdu Lian menyadarkan Taehyung.

Lian mengangkat sebelah alisnya mendapati ekspresi linglung Taehyung. Pasti pria itu sedang menerka-nerka siapa dirinya. Dia memberikan kode pada para pelayan agar pergi yang kemudian dipatuhi mereka. Setelah itu, dia membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya. Taehyung mengikuti dari belakang.

“Lian-ssi? Apa tidak apa-apa aku menginap disini? Kupikir ini terlalu berlebihan.” Tanya Taehyung hati-hati sambil memperhatikan kamar bernuansa hitam putih itu.

Lian hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Taehyung, “Tidak usah sungkan. Kalian tanggung jawabku selama Tuan dan Nyonya Kim berada di Daegu.” Jawab Lian santai.

Meskipun begitu, tetap saja Taehyung merasa kalau ini semua berlebihan. Dengan pelayanan istimewa dari para pekerja Lian, dia merasa seperti pangeran. Yang benar saja. Taehyung sangat berhutang banyak pada gadis itu.

“Beruntung sekali pria yang kelak akan menjadi suamimu.” Gumam Taehyung namun masih cukup bisa didengar oleh Lian.

Lagi-lagi Lian dibuat mati gaya setelah mendengar ucapan Taehyung. Pipinya memanas dan dia lupa bernafas. Tidak lagi. Dia sudah berusaha menahan debaran jantungnya saat duduk bersebelahan di mobil tadi. Dia bahkan hanya diam saja. Tubuhnya seolah terkunci. Kali ini dia harus merasakan debaran yang menggila karena ucapan Taehyung.

Ingin rasanya Lian berteriak kalau dia ingin pria beruntung itu adalah pria yang saat ini di depannya. Menatapnya lembut.

Lian buru-buru mengalihkan pandangannya. Kerja jantungnya akan semakin buruk jika terlalu lama menatap mata Taehyung. Setelah rasa gugupnya berangsur hilang, Lian kembali memberanikan diri untuk menatap Taehyung. Dia ingat kata-kata Marcus tempo hari.

Jangan bertingkah bodoh.

Jangan takut menatap matanya.

Berbicaralah layaknya teman.

Jangan menghindari sentuhan kulit.

Pasang ekspresi angkuh seorang Lian Jeon.

Dan masih banyak lagi pesan-pesan yang diberikan Marcus. Lian bahkan bisa mengingatnya di luar kepala. Dan dia sedang berusaha melakukannya. Jangan takut menatap matanya.

“Apa kau ingin mandi? Ah! Tapi lukamu belum kering. Pasti belum boleh mandi.”

“Tak apa. Aku akan mencuci rambutku saja.” Sela Taehyung sambil memasang senyum tipisnya.

“Jangan tersenyum, bodoh!” Jerit Lian dalam hati.

“Kalau begitu istirahatlah. Panggil aku atau pelayan kalau membutuhkan sesuatu. Kamarku tepat di sampingmu. Kamar Fellix ada di ujung.” Ucap Lian sambil menunjuk tembok di kanannya, yang membatasi kamarnya dan kamar Taehyung.

“Baiklah. Maaf merepotkan kalian.” Sahut Taehyung

“Bukan masalah. Aku pergi, kalau begitu.” Balas Lian lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Taehyung.

Selepas kepergian Lian, Taehyung langsung memegang dada kanannya. Dia menghirup udara dengan rakus agar paru-parunya kembali berfungsi dengan baik. Otaknya blank. Hanya dipenuhi sosok gadis yang sejak tadi mengusik pikirannya.

Lian Jeon.

Gadis itu memang mempunyai sejuta pesona yang sialnya Taehyung berhasil jatuh dalam pesonanya. Cara gadis itu bersikap dan tersenyum benar-benar berhasil membuat kerja otak Taehyung terganggu. Dia berusaha menghilangkan bayangan-bayangan Lian saat tersenyum. Tapi wajah itu tidak mau pergi dari pikirannya.

Ini harus dihentikan. Perasaan aneh ini tidak seharusnya ada. Merasa pikirannya kacau, akhirnya duda panas itu memutuskan untuk mencuci rambutnya dan menemui putra kesayangannya.

**

Lian memegang dadanya yang bergemuruh begitu keluar dari kamar Taehyung. Dia menyandarkan tubuhnya sambil berusaha menghilangan debaran jantungnya yang menggila. Berada di dekat Taehyung memang membuat kerja jantungnya meningkat. Pria itu benar-benar sesuatu. Lian mungkin berlebihan. Tapi ketahuilah, senyum dan mata Taehyung itulah yang membuat gadis dua puluh dua itu kalang kabut. Senyum kotak dan tatapan matanya yang intens selalu membuat hati Lian bergetar.

Huh. Lian menghembuskan nafas kasar. Merutuki kekonyolannya. Wajar saja. Lian baru pertama kali jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta, pria itu sudah berstatus duda.

Tapi, siapa yang akan menolak kalau duda itu Taehyung? Selain tampan, dia bisa dibilang menggoda.

Lian mengenyahkan pikiran liarnya. Diapun memutuskan untuk tidur. Namun baru saja tangannya menyentuh kenop pintu, suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian Lian. Lian mengernyitkan keningnya saat melihat Fellix keluar dari kamarnya dengan mata sayu. Khas orang bangun tidur. Lianpun menghampiri Fellix yang tampak linglung itu.

“Hey, my little boy, kenapa bangun? Apa Fellix haus?” Tanya Lian sambil mengelus-elus kepala Fellix.

“Aku mimpi buruk dan terbangun. Aku sangat takut tadi.” Jawab bocah kecil itu dengan wajah murung.

Lian tersenyum tipis sambil mengelus-elus pipi tembam Fellix. Saat seumuran Fellix, dia juga pernah mimpi buruk dan akan langsung menangis. Kemudian Lena akan memeluknya sepanjang tidur. Mengingat hal itu membuat Lian sedih. Lalu, Fellix? Bocah kecil ini sudah tidak mempunyai ibu. Pasti sangat berat saat tiba-tiba mendapat mimpi buruk.

“Bagaimana kalau noona temani Fellix tidur?” Tanya Lian

Jinjja? Aku mau! Ayo, noona!” Fellix memekik girang lalu menarik tangan Lian untuk masuk ke dalam kamar yang sudah dia tempati selama tiga hari ini.

Lian tidak dapat menahan senyum bahagianya saat melihat Fellix yang begitu antusias saat dia berkata akan menemaninya tidur. Pasti bocah itu merindukan sosok ibu. Lian berbaring di samping Fellix sambil tangannya mengelus-elus rambut Fellix.

“Apa Fellix sering mimpi buruk?” Tanya Lian ditengah keheningan.

Fellix yang memang belum tertidurpun mendongakkan kepalanya sehingga bisa menatap wajah Lian yang selalu membuatnya nyaman. Dia melingkarkan tangannya pada perut Lian yang sukses membuat Lian terkejut. Lian menatap tangan kecil Fellix yang berada di perutnya. Kemudian tatapannya beralih pada Fellix yang sedang menyandarkan kepalanya di dada Lian. Wajah bocah itu terlihat damai. Membuat hati Lian menghangat.

“Aku sering mimpi buruk. Saat appa ada, dia yang menemani Fellix.” Jawab Fellix dengan suara paraunya. Sepertinya bocah itu sudah mengantuk lagi.

Lian terenyuh mendengar ucapan Fellix. Diusianya yang masih dini bocah itu sudah merasa sangat kesepian. Ibunya meninggal dan ayahnya pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya. Lian justru bertanya-tanya, kenapa Taehyung tidak mencari sosok pengganti untuk ibu Fellix? Menjadi single parent bukanlah hal yang mudah.

Beberapa menit kemudian, Lian dapat merasakan hembusan nafas teratur dari Fellix. Bocah itu sudah kembali tidur dengan nyenyak. Wajahnya benar-benar sangat menggemaskan dan damai. Kecintaan Lian pada bocah dingin ini semakin bertambah.

Have a sweat dream, boy.” Bisik Lian lalu mengecup kening Fellix.

Baru saja Lian hendak melepas pelukan Fellix pada perutnya, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan munculnya sosok Taehyung di ambang pintu. Keduanya sama-sama terkejut di tempat masing-masing. Namun Taehyung langsung bisa mengendalikan ekspresinya. Dia awalnya terkejut saat melihat Lian berada di kamar Fellix dengan posisi saling memeluk. Namun kemudian dia ingat kalau putranya itu sudah menginap disini beberapa hari. Pasti keduanya semakin akrab.

Setiap langkah Taehyung semakin dekat, Lian dapat merasakan detak  jantungnya semakin meningkat. Dia bahkan bisa mendengar debarannya sendiri. Mata Lian terpaku pada sosok pria di depannya yang kini sudah duduk di samping Fellix. Rambut Taehyung masih basah. Lian bahkan bisa melihat tetesan itu yang mengalir di wajahnya.

So damn sexy!

Lian menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu kalau berada di dekat Taehyung juga akan membuat otaknya bermasalah. Tapi, serius! Taehyung terlihat lebih seksi dengan rambut basah itu.

Lian harus menahan nafasnya saat tiba-tiba Taehyung mencondongkan wajahnya hendak mencium kening putranya. Dia berharap debaran jantungnya tidak terdengar oleh Taehyung. Wajah Lian memanas.

“Kupikir kau sudah tidur.” 

Suara bariton Taehyung menyadarkan Lian dari pikiran liarnya. Lian tampak salah tingkah karena Taehyung menatapnya.

“Fellix mimpi buruk tadi. Jadi aku menemaninya tidur.” Jawab Lian sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Fellix.

Hal itu tidak lepas dari pandangan Taehyung. Dia dapat merasakan aura keibuan dalam diri Lian. Dan untuk pertama kalinya dia melihat sosok gadis yang mudah sekali akrab dengan anak kecil. Dalam hatinya, Taehyung berterimakasih karena putranya berubah sangat pesat.

“Aku sangat terkejut saat Fellix mengenalkanmu padaku. Dia tidak banyak bicara dan tidak mau berkomunikasi dengan orang asing. Dia berbeda dari anak kecil pada umumnya karena kehilangan ibunya.” Ucap Taehyung tiba-tiba. Kini matanya berpindah pada Fellix yang tampak pulas dalam tidurnya.

Lian juga ikut menatap Fellix. Tangannya bergerak mengusap-usap pipi Fellix, “Aku melihatnya menangis waktu itu. Dia berkata padaku kalau ayahnya koma. Saat itu juga aku langsung menyukai Fellix. Ah, bukan. Aku memang menyukai anak kecil tapi Fellix berbeda. Aku mencintai anakmu, kurasa.” Ucap Lian

Taehyung diam di tempatnya. Perasaannya menghangat mendengar kalau Lian mencintai putranya. Benar-benar gadis yang mulia.

“Kenapa kau mau membantuku mengurus Fellix? Padahal kau baru mengenal Fellix?” Tanya Taehyung

“Kenapa? Aku menyukai Fellix. Apa itu cukup untuk dijadikan alasan? Dia sangat cerdas dan menggemaskan.” Jawab Lian sambil memandang Taehyung.

Untuk beberapa saat, Taehyung dibuat terpukau dengan tatapan mata biru Lian. Mata biru itu membuatnya hampir terjatuh kalau saja dia ingat kalau dia tidak boleh terjatuh dalam pesona gadis di depannya.

“Sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan. Tapi, sekarang sudah malam. Aku akan kembali ke kamarku. Selamat malam.” Ucap Taehyung

Lian hanya membalas ucapan Taehyung dengan senyum tipis. Pria itu kemudian keluar dari kamar Fellix setelah mendaratkan kecupan singkat pada dahi putranya. Lian menatap kepergian Taehyung dengan perasaan kecewa.

Kenapa hanya Fellix yang dicium?

**

Suasana pagi di rumah Lian terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Selain karena adanya Fellix, kehadiran Taehyung juga menjadi alasan utama kenapa suasana sangat berbeda. Bagaimana tidak? Lian bangun pagi dengan wajah berbinar. Gadis itu juga bersemangat memasak sarapan.

Di ruang makan, semua sudah berkumpul. Fellix tampak kaget saat melihat ayahnya yang sudah pulang. Namun kemudian, terjadilah adegan mengharukan antara ayah dan anak itu. Fellix terlihat sangat bahagia. Bahkan bocah lima tahun itu langsung bersikap manja pada ayahnya. Sejak tadi dia tidak mau turun dari pangkuan Taehyung.

Makanan sudah siap. Marcus, Fellix, dan Taehyung juga sudah berkumpul. Hingga akhirnya Lian sadar kalau ada yang kurang. Matanya tertuju pada kursi kosong yang selalu ditempati Jungkook. Dan seketika bayangan kejadian kemarin kembali melintas di kepalanya. Lian menunduk lesu tanpa menyadari kalau sedang menjadi pusat perhatian Taehyung dan Marcus.

“Bukankah kau masih marah dengan Jungkook? Kenapa kau sedih karena tidak bisa sarapan bersama dengannya?” Celetuk Marcus tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang dia pegang.

“Kau bosan hidup?” Desis Lian sambil bersiap melempari Marcus dengan apel.

Marcus hanya memeletkan lidahnya. Bukankah menyenangkan menggoda gadis itu saat moodnya berada diantara senang dan sedih.

Lian menatap kursi yang biasa diduduki Jungkook nanar, “apa dia sudah sarapan?” Gumamnya

“Telpon saja kalau kawatir.” Celetuk Marcus lagi.
Lian baru akan melempari Marcus pisang kalau saja Kate tidak menginterupsinya.

“Nona, ini apelnya. Dan juga saya sudah siapkan sarapan untuk tuan muda.” Ucap wanita usia pertengahan abad itu sambil meletakkan sepiring apel yang sudah dipotong-potong dan kotak makan.

“Terimakasih. Ah ya. Bisa tolong antarkan makanan ini ke rumah sakit? Harus kau. Dan pastikan kalau dia memakannya sampai habis. Katakan padanya untuk tidak pulang kalau menolak menghabiskan makanannya.” Cecar Lian yang kemudian dibalas anggukan patuh oleh Kate. Pandangannya beralih pada Marcus yang mencebik.

Ampuni dosa bujang tua itu!

Perhatian Lian teralihkan saat mendengar suara Fellix dan sang ayah yang sedang bercengkrama. Senyumnya makin lebar melihat keakraban ayah dan anak itu. Mereka terlihat saling menyayangi. Pantas saja kalau Fellix ketakutan saat ayahnya masih koma. Lian dapat melihat kalau Fellix sangat bergantung pada Taehyung.

Tak berlangsung lama, Lian sadar akan satu hal. Taehyung baru saja operasi. Lukanya pasti belum pulih benar. Tapi, Fellix sudah duduk di pangkuan pria itu dalam waktu yang lumayan lama. Bagaimana jika luka itu membuka lagi?

“Fellix, kenapa tidak duduk sendiri? Luka ayahmu belum sembuh. Sini, turun dan makan sarapanmu.” Tegur Lian pada Fellix yang masih tampak asik bermain ponsel ayahnya.

Seperti anak ayam, Fellixpun menuruti perkataan Lian dan langsung berpindah tempat duduk menjadi di samping Lian. Taehyung sampai melongo karena melihat putranya yang tiba-tiba menjadi penurut. Fellix tidak suka diperintah. Persis sepertinya.

Begitu Fellix duduk di samping Lian, gadis itu langsung dengan sigap mengambil nasi beserta lauk pauknya ke atas piring Fellix. Pemandangan itu tidak lepas dari mata Taehyung. Taehyung malah seperti melihat ibu yang sedang mengurus anaknya.

Suasana ruang makanpun kini berganti dengan suara denting sendok dan garpu yang saling bersahutan. Tidak ada yang bersuara. Kecuali kalau Fellix mengeluh karena menemukan sayuran di dalam makanannya dan berakhir dengan Lian yang memaksanya. Memang dasarnya sudah keras kepala. Fellix tetap menolak sayuran itu dan akhirnya Lian juga yang memakannya.

“Makannya pelan-pelan, sayang. Tidak ada yang mau mencurinya.” Nasihat Lian sambil membersihkan mulut Fellix.

“Fellix, jaga sopan santunmu.” Taehyung ikut menegur.

“Nona, baru saja saya mendapat kabar.” Ucap pelayan yang tiba-tiba datang dengan nafas terengah-engah.

Kedatangan pelayan itu sontak membuat kegiatan mereka terhenti. Tidak berlaku bagi Fellix. Bocah itu tampak masih asik dengan daging panggangnya. Lian menatap pelayannya heran dan memberi isyarat non-verbal untuk menjelaskan.

“Nona Boulstern kecelakaan. Sekarang berada di rumah sakit.”

To be continue~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s