Posted in Chapter, Hurt, Married Life

I Hate You, I Love You #2


I Hate You, I Love You #2

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Taehyung, Jung Eunji

Category : Hurt, Married Life, Chapter

Rate : PG-17

.

.

.

.

.

Lian terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin di keningnya. Nafasnya terengah-engah dan tangannya gemetar. Kenangan buruk itu kembali muncul di tidurnya. Bukan hanya dua kali. Tapi hampir setiap malam kenangan buruk itu muncul dalam tidurnya. Membuatnya takut untuk tidur dan memilih untuk terjaga. Sudah hampir sebulan ini mimpi itu selalu mengganggunya. Dan hal itu membuat Lian harus kembali mengingat kenangan pahit yang membuatnya kehilangan ibunya.

Lian berusaha mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. Dia meminum air putih yang selalu disediakan di atas nakas untuk menenangkan dirinya.

Kejadian itu. Tangis Anna. Teriakan kemarahan Anna. Bentakan ayahnya. Tamparan ayahnya pada Anna. Lian ingat semuanya setelah sekian lama berusaha dia lupakan. Semua yang dilakukan Jeha pada ibunya hari itu tidak bisa Lian lupakan. Rasa nyeri selalu menggerogoti hatinya setiap kali mengingat tangisan Anna yang menyakitkan.

Wanita selingkuhan Jeha dan anaknya. Mereka penyebab keributan itu. Kedatangan mereka membuat Anna menangis dan mendapat tamparan dari Jeha. Lian mencengkram rambutnya erat saat kembali ingat dimana ayahnya lebih memilih wanita itu daripada Anna, sehingga Anna meninggalkannya. Selamanya.

Lian tidak tahu terbuat dari apa hati Anna. Saat Jeha sudah menyakitinya, bahkan dia masih sempat berpesan pada Lian agar tidak membenci pria yang membuatnya menangis. Tidak. Lian tidak bisa menjalankan pesan itu. Lian tidak bisa memaafkan mereka yang menyakiti Anna hingga akhirnya Anna meninggalkannya sendirian. Lian membenci mereka melebihi apapun. Kesalahan mereka tidak akan pernah termaafkan.

Eomma harus pergi jauh.

Seketika itu juga air mata Lian tumpah. Ibunya memang pergi jauh. Sangat jauh hingga sulit untuk dia gapai lagi. Betapa bodohnya Lian yang saat itu membiarkan Anna pergi. Tapi apalah daya seorang Kim Lian yang baru berumur tujuh tahun? Dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Dia tidak pernah mengira kalau Anna akan pergi dari dunia ini.

Sejak saat itu hidup Lian benar-benar berubah. Tidak ada lagi Kim Lian yang manja, suka merajuk, pemarah, dan jail. Kim Lian menjadi sosok yang pendiam, kejam, misterius, pembangkang, dan dingin. Lian merasa hidupnya tidak berguna lagi karena mataharinya sudah pergi. Tidak ada lagi yang bisa meneranginya. Lian kehilangan segalanya. Ibunya, ayahnya, dan kebahagiannya.

Detik saat ibunya dinyatakan meninggal, saat itu juga Lian tidak pernah menganggap ayah dan keluarga barunya. Lian sangat membenci mereka. Seumur hidup akan selalu membenci mereka. Mereka merenggut kebahagiaannya.

Setelah dirasa dirinya lebih tenang, Lian turun dari ranjangnya. Sedikit melirik ke arah jam dan mendapati baru pukul setengah enam. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan dan keperluan untuk sang suami. Lian menggelung rambutnya asal dan bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

**

“Nyonya? Kenapa Nyonya berada disini? Biarkan saya saja yang memasak untuk sarapan.” Rose terlihat kaget saat melihat majikannya yang sudah sibuk memasak di dapur.

Rosepun langsung menghampiri Lian dan membantu majikannya memasak. Lian sedang sakit dan Rose tidak mau mengambil resiko dipecat Chanyeol karena membiarkan Lian memasak. Rose adalah satu-satunya pelayan yang berada di satu rumah dengan Lian dan Chanyeol. Sedangkan pelayan lain tinggal di rumah yang terletak di belakang rumah ini.

Lian membiarkan Rose membantunya membuatkan menu sarapan untuk Chanyeol dan Baekhyun. Lian baru tahu kalau Baekhyun menginap disini karena dia tadi melihat kakak tirinya itu berada di ruang gym.

Setelah masakannya selesai, Lian kembali menuju kamarnya dan Chanyeol. Biarkan Rose yang menata makanan-makanan itu di meja makan. Tugas Lian saat ini adalah menyiapkan pakaian kerja Chanyeol. Setelah itu dia akan mandi. Rutinitasnya setiap pagi. Sebenci apapun Lian pada Chanyeol, Lian tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.

Sesampainya di kamar, dia masih melihat suaminya yang masih tidur. Berusaha mengabaikan keinginannya untuk memandangi wajah Chanyeol lebih lama, Lian berjalan menuju walk in closet. Mencarikan pakaian kerja yang akan digunakan suaminya. Setelah siap, Lian keluar dengan membawa pakaian yang akan dia pakai sendiri dan masuk ke kamar mandi.

Tidak sampai dua puluh menit, Lian keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh. Kemudian Lian berjalan menuju jendela kamarnya dan membuka tirainya. Membuat udara pagi hari masuk ke dalam kamarnya. Lian memejamkan matanya saat angin pagi menerpa wajahnya. Salah satu hal yang Lian suka. Udara di pagi hari. Dimana belum tercemar apapun.

“Kau sudah bangun?” Pertanyaan retoris itu keluar dari sosok yang baru saja bangun.

Lian tidak berniat untuk berbalik. Tepatnya berusaha untuk menahan keinginannya untuk berbalik. Lian tidak bisa melihat wajah Chanyeol. Dia akan ingat semua rasa sakit yang pernah dia rasakan sampai saat ini. Kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya dan berhenti tepat di belakangnya. Sekon selanjutnya Lian sedikit terkejut saat merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Dia menatap tangan yang melingkari perutnya itu dengan tatapan nanar.

Chanyeol memang tidak pernah tahu diri. Sudah tahu kalau Lian membencinya dan tidak suka disentuh, tapi Chanyeol tetap melakukannya. Larangan Lian malah seperti perintah untuk Chanyeol. Si keras kepala dan pemaksa. Wajar saja banyak pesaing bisnis yang selalu kalah dalam tender perusahaan. Tidak ada yang bisa mengalahkan mulut kejam dan otak brilian Chanyeol di Seoul. Semua orang tahu kalau Chanyeol adalah pebisnis muda yang tidak main-main dengan kecerdasaannya. Bukan hal yang sulit bagi Chanyeol untuk membuat sebuah perusahaan bangkrut.

Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Nampaknya Chanyeol sangat menikmati memeluk istri dari belakang sambil sesekali menciumi leher Lian yang wangi bunga mawar. Bau yang selalu membuat Chanyeol ketagihan. Dan membuatnya gila karena gairahnya yang selalu naik setiap kali mencium wangi istrinya. Chanyeol tidak tahu kalau Lian tengah menahan gejolak besar untuk mendorongnya menjauh dari tubuhnya. Mungkin Lian akan lebih puas kalau Chanyeol jatuh dari lantai dua rumah ini. Tapi sekali lagi. Tubuh Lian menginginkan sebaliknya. Lian harus mengutuk dirinya yang juga menikmati suasana intim pagi ini.

Cukup! Lian tidak bisa lagi berlama-lama lagi dengan posisi seperti ini. Lian masih waras. Harga dirinya bisa jatuh.

Lian melepas tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya dan berbalik. Sedikit mundur karena dia tahu jarak mereka sangat dekat. Dia menatap Chanyeol datar. “Sarapan sudah siap. Sebaiknya kau mandi dan turun.” 

Lian baru akan melangkah pergi kalau saja Chanyeol tidak menahan lengannya. Dia menepis tangan Chanyeol yang memegang lengannya dan menatap suaminya sinis. Tapi nampaknya tatapan sinis itu tidak berpengaruh pada Chanyeol. Pria jangkung itu malah memegang kening Lian dan sedetik kemudian sebuah senyum terbit dari bibir tebalnya.

Hampir saja pertahanan Lian runtuh saat melihat senyum itu. Senyum yang dulu selalu membuatnya rajin berangkat ke kampus. Senyum yang selalu menjungkirbalikkan dirinya. Dulu sebelum fakta menyakitkan itu dia ketahui.

“Kau sudah baikan.” Ucap pria jangkung itu. Tangan Chanyeol berpindah ke pundak Lian. Tatapannya tertuju pada mata Lian. Detik selanjutnya, tubuh Lian sudah berada dalam pelukan hangat Chanyeol.

Lian masih diam mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Lian tidak pernah suka sentuhan fisik sejak dia mengetahui kenyataan pahit itu. Hanya dengan Chanyeol. Lian tidak pernah mengijinkan pria itu menyentuhnya. Lian akan selalu menolak bahkan mengeluarkan kata pedas saat Chanyeol menyentuhnya. Tapi… Hari ini? Tubuh Lian seolah terkunci dalam pelukan suaminya. Organ geraknya seolah mati. Otak dan tubuhnya sangat berlawanan. Apa tubuhnya sedang melakukan pemberontakan?

Anggap saja Lian wanita munafik. Nyatanya saat ini tangannya sudah terangkat untuk membalas pelukan Chanyeol. Namun berhenti sebelum benar-benar menyentuh baju Chanyeol. Tangannya terkepal erat. Lian benar-benar sedang berperang dengan hatinya. Tidak. Lian tidak akan semudah itu luluh.

Biarkan aku tersiksa dengan rasa rinduku.

Nyatanya Lian benar-benar sangat membenci Chanyeol sehingga untuk menatap, mendengarkan, apalagi menyentuh suaminya saja dia tidak mau. Jangan lupakan lubang di dada Lian yang semakin menganga lebar karena pria itu.

“Jangan lakukan sesuatu yang berbahaya seperti kemarin lagi. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau kau kenapa-napa.” Bisik Chanyeol sambil mengelus-elus rambut Lian.

Lian menghitung dalam hati. Jika dalam hitungan kelima Chanyeol tidak melepas pelukannya, Lian benar-benar akan mendorong Chanyeol hingga jatuh. Atau justru membalas pelukannya? Kedua opsi itu bukan ide yang baik. Sedangkan hitungan Lian sudah sampai pada tiga.

Empat.

Lima.

Tepat pada hitungan kelima Chanyeol melepas pelukannya. Entah apa yang dirasakan Lian. Hampa dan lega secara bersamaan.

“Aku akan segera turun dan kita sarapan bersama.”

Itu perintah! Kemudian pria itu masuk ke dalam kamar mandi dengan meninggalkan Lian yang masih sibuk dengan pergolakan batinnya. Apa berenang selama empat jam di musim dingin sudah membuat otaknya geser? Lian yakin dia tidak pernah merasa sekacau ini saat ditinggal Chanyeol. Bahkan hanya untuk mandi. Lian masih merasakan hampa saat tiba-tiba Chanyeol melepas pelukannya.

Ini buruk. Apa sekarang hatinya mulai luluh? Atau… Luka itu sudah sembuh?

**

Suasana sarapan pagi ini masih sama seperti biasa. Sunyi. Kuburanpun tidak sesunyi itu. Setidaknya disana ada burung-burung dan beberapa peziarah atau para hantu yang berkomunikasi. Suasana tegang layak ditambahkan untuk mendeskripsikan bagaimana suasana di ruang makan itu. Setelah tiga tahun lamanya, Lian kembali berada satu meja makan dengan kakak tirinya. Terakhir mereka berada dalam satu meja makan, restoran pula, berakhir dengan aksi Lian membanting sebuah piring dan menyiramkan minuman ke wajah ibu tirinya. Belum sampai disitu. Lian menjatuhkan meja yang sudah berisi makanan makan malam mereka.

Lalu, apa yang akan terjadi pada ruang makan kali ini? Akankah Lian membakar meja?

Para pelayan menjadi saksi bisu bagaimana mencekamnya suasana ruang makan. Mereka selalu was-was dengan segala pergerakan Lian. Takut kalau tiba meja makan itu hancur tiba-tiba. Mereka tahu kalau nyonya mereka itu tidak akan repot-repot menyuruh orang untuk menghancurkan sebuah ruangan. Sudah ada bukti konkretnya. Perpustakaan pribadinya misalnya. Dalam hitungan menit, perpustakaan itu hancur dengan rak-rak yang sudah berjatuhan dan buku tersebar dimana-mana karena sebuah berita yang dia dapat bahwa Chanyeol membawa seorang jalang ke apartemennya.

Tangan Lian memang selalu bertindak lebih dulu daripada otak dan mulutnya.

“Aku akan ke Berlin.” Suara Baekhyun memecah kesunyian ruang makan itu.

Entah dengan siapa pria itu berbicara. Tapi Lian tidak tolol untuk tahu maksud kakak tirinya mengatakan itu. Tentu saja untuk memberitahunya. Lian pura-pura untuk tidak mendengarnya dan melanjutkan kegiatan makannya.

“Kenapa tiba-tiba?” Chanyeol bertanya.

Kenapa tidak dari dulu?

Dad sakit dan aku harus mengurus perusahaannya disana.” Jawab Baekhyun sambil melirik Lian. Berharap adik tirinya mengatakan sesuatu.

“Kenapa harus kau?” Chanyeol bertanya lagi.

Lian hampir saja memaki Chanyeol yang terlihat tidak rela kalau Baekhyun pergi. Kalau tidak rela ikut saja dan jangan kembali! 

“Karena hanya aku anak laki-lakinya.” Jawab Baekhyun

Ck. Lian berdecak cukup keras. Berhasil membuat Chanyeol dan Baekhyun menatapnya.

“Aku tidak yakin kalau kau hanya punya dua ayah. Apa ibumu memang mempunyai hobi menikahi pria beristri?” Ucap Lian dengan nada datar.

“Lian!”

Ucapan Lian sangat menohok hati Baekhyun. Dia memang sering mendapat kata-kata kasar dari Lian. Tapi tetap saja Baekhyun merasa sakit hati. Baekhyun tahu kalau Lian sangat membencinya dan ibunya. Bahkan dia sendiripun membenci kenyataan kalau kedatangannya dan ibunya malah membuat hidup Lian berantakan hingga Anna meninggal.

Tapi tidakkah sudah terlalu lama? Tidakkah pintu hati Lian terbuka untuk menerimanya dan ibunya? Baekhyun sangat berharap suatu hari dia bisa melihat adik tirinya itu tersenyum karenanya.

Lian menyudahi kegiatan makannya. Padahal makanannya belum sepenuhnya habis. Dia hanya terlalu muak berada satu meja dengan Baekhyun.

“Sarapanmu belum habis. Kau mau kemana?” Tanya Chanyeol sambil berdiri dan menahan tangan Lian.

Dengan kasar Lian menepis tangan Chanyeol. Dia menatap Chanyeol penuh kebencian. “Aku cukup kenyang untuk melihat wajahnya.” Jawab Lian

Lagi-lagi Baekhyun hanya bisa menahan nyeri di dadanya mendengar kata-kata pedas Lian. Dia menundukkan kepalanya menatap sisa sarapannya.

“Aku akan pergi sekarang.” Baekhyun kembali bersuara sambil berdiri. Dia tidak mungkin membiarkan adiknya yang masih sakit tidak menghabiskan sarapannya.

“Habiskan sarapanmu. Kau baru saja sembuh.”

“Sejak kapan kau peduli padaku? Bukankah kau hanya peduli dengan jalang-jalangmu di luar sana?” Balas Lian sinis.

Para pelayan yang paham akan situasi perlahan meninggalkan area ruang makan. Sadar kalau mereka tidak punya hak untuk tahu masalah rumah tangga majikan mereka.

Chanyeol mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Menghadapi Lian memang harus sabar. Kalau Chanyeol terpancing sedikit saja, percayalah akan ada perang dunia ketiga. Kemudian dia kembali menatap Lian dengan tatapan lembut. Chanyeol sudah bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Lian.

“Sekali ini saja turuti kataku. Kau harus habiskan sarapanmu. Aku dan Baekhyun akan berangkat sekarang.” Chanyeol menangkup wajah Lian. Suaranya bahkan sangat lembut.

Mendengar suara halus Chanyeol membuat Lian nyaris terlena. Dia mengangkat wajahnya menatap Chanyeol. Kenapa jantungnya berdenyut-denyut? Lian tidak mungkin luluh semudah itu.

“Aku akan pulang tepat waktu dan jangan lewatkan makan siangmu.”

Jangan lakukan ini, kumohon!

Lian memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak semakin jatuh pada tatapan Chanyeol. Lian yakin ada yang tidak beres dengan dirinya. Ditengah perang batinnya, Lian merasa kepalanya ditarik dan selanjutnya dia dapat merasakan bibir Chanyeol yang mendarat di bibirnya. Chanyeol sedikit melumat bibirnya sebelum akhirnya melepas ciuman singkat itu.

“Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu.” Bisik Chanyeol sambil mengusap pipi Lian dengan ibu jarinya.

Chanyeol dan Baekhyunpun pergi meninggalkan Lian sendiri di ruang makan. Di tempatnya, Lian masih diam mematung. Tangannya terangkat untuk memegang bibirnya yang baru saja dicium Chanyeol. Rasa manis itu masih meninggalkan sisa. Lian sedikit menyesal karena ciuman itu hanya sebentar.

Lian terduduk lemas di kursinya. Jika bertanya apa dia baik-baik saja, tentu saja jawabannya tidak. Kenapa Lian kembali merasakan saat dimana Chanyeol mencuri ciuman pertamanya? Jantungnya berdebar kencang. Kepalanyapun pening bukan main merasakan sisa-sisa sensasi yang diberikan Chanyeol beberapa menit yang lalu.

Rindu memang menyebalkan. Bisakah aku membuang harga diriku kali ini saja?

Lian menenggak habis air putihnya. Berusaha berpikir normal dan menghilangkan perasaan janggal.

“Nyonya?” Rose tiba-tiba saja sudah di samping Lian dan membuat wanita itu kaget.

Rose menggigit bibirnya takut. Takut mendapat amukan dari nyonyanya. Namun kemudian dia kembali memberanikan diri untuk bertanya, “Apa nyonya baik-baik saja? Ingin saya panggilkan dokter?” Tanyanya hati-hati.

“Tidak. Aku ingin pergi ke suatu tempat.” Jawab Lian sambil bangkit dari duduknya.

“Baik, nyonya. Aku akan menyuruh Landon bersiap-siap.” Sahut Rose dan langsung berlalu begitu saja untuk menemui Landon, supir sekaligus pengawal pribadi nyonyanya.

**

Lian berjalan sendiri menyusuri jalanan yang di kanan dan kirinya ditumbuhi pohon-pohon cemara yang sedang gugur. Di tangannya memegang sebuah bunga tulip putih. Udara dingin tidak menjadi penghalang bagi Lian untuk berjalan menyusuri jalanan kecil ini. Tidak akan ada halangan bagi Lian untuk mengunjungi makam ibunya. Mataharinya.

Kali ini Lian sendirian. Tidak ada Landon yang mengikuti di belakangnya. Lian memang menyuruh Landon untuk menunggu di parkiran karena dia benar-benar membutuhkan waktu pribadi dengan Anna.

Lian tidak pernah berkunjung ke makam ibunya kalau bukan saat hari ulangtahun Anna. Hari ini pertama kalinya Lian datang diwaktu yang bukan selalu Lian tetapkan. Banyak sekali yang ingin Lian katakan. Dengan siapa lagi dia bisa bercerita masalahnya kalau bukan dengan Anna? Lian sudah terlalu terbiasa bercerita seputar kehidupannya pada Anna. Hanya dengan Anna dia bisa jujur.

Kaki Lian berhenti di depan sebuah pohon yang di bawahnya terdapat nisan dengan nama ibunya. Lian meletakkan bunga yang tadi dia bawa di atas nisan itu. Tangannya mengelus-elus nisan Anna. Berkali-kali Lian menghela nafas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca saat membaca nama ibunya di atas nisan itu.

“Sayang, Eomma ingin kau menjadi bintang.”

“Kenapa, Eomma? Aku ingin seperti Eomma. Menjadi matahari.”

“Kau tahu? Bintang itu tata surya paling indah. Dia bisa memancarkan cahaya sendiri. Tidak seperti bulan yang membutuhkan bantuan matahari untuk bersinar. Dan manusia juga selalu meminta harapan pada bintang saat dia jatuh.”

“Tapi bukankah bintang tidak sering muncul?”

“Dia hanya tertutup awan. Percayalah, sayang. Bintang tidak akan pernah meninggalkan langitnya.”

“Kalau begitu aku mau menjadi bintang!”

Potongan percakapan Lian dengan Anna pada suatu malam itu tiba-tiba melintas dalam kepala Lian. Lian merasa sangat bodoh saat ini. Dia paham maksud ungkapan kiasan Anna malam itu sekarang.

“Seharusnya aku menjadi bulan saja. Mungkin dengan begitu Eomma tidak akan pergi.” Lirih Lian sambil mengusap nisan Anna.

Lian mendongakkan kepalanya, berusaha menghalau air matanya yang sudah mulai mendesak ingin keluar. Kala itu Lian masih kecil hingga tidak berpikir sejauh itu tentang kiasan yang diberikan Anna. Lian bukan lagi bintang. Lian sekarang bukan apa-apa. Bukan bintang yang bisa bersinar sendiri dan menjadi tempat manusia menaruh harapan. Bukan meteor yang kata orang indah. Bukan juga bulan yang bersinar dengan bantuan matahari karena  mataharinya sudah lama pergi.

“Eomma…” Bisik Lian. Bahkan suaranya sangat pelan. Lebih mirip dengan bisikan angin 

Lian menghela nafas panjang. Dia bingung harus memulai ceritanya dari mana. Hampir lama Lian terdiam hingga akhirnya dia kembali membuka suara. “Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat membencinya, tapi aku juga merindukannya. Eomma tahu rasanya? Sangat sakit, Eomma. Aku selalu ingat saat melihat dia pulang dengan bekas lipsctik di kemejanya dan bau parfum wanita lain. Aku merasa tidak berharga sebagai wanita dan istri.” Lian berhenti sejenak. Mencoba mengatur nafasnya yang semakin memburu.

Dia juga tidak mau repot-repot menghapus air matanya. Toh akan keluar juga pada akhirnya. Rasa sakit di dadanya memang selalu membuatnya tak berdaya. Semua ingatan kesakitan akibat suaminya kembali melintas di kepalanya. Lian memejamkan matanya dan berusaha mengatur deru nafasnya 

“Eomma, setiap kali melihat dia pulang dengan bau parfum wanita, aku ingat kejadian sore itu. Aku ingat saat wanita itu tiba-tiba datang dan membuat Eomma menangis. Aku ingat…” Lian menghentikan ucapannya karena suaranya tersendat isakannya. Lian membekap mulutnya. Berusaha menahan agar isakannya tidak terdengar.

Lian tidak bisa melanjutkan ceritanya. Kepalanya menunduk dengan tangan yang mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Lian rasa dia sudah mati rasa. Tapi nyatanya dia masih bisa merasakan sakit saat ingat tangisan Anna sore itu dan kelakuan suaminya. Dadanya sesak seperti terhempit beban berat. 

Lian pikir cinta akan membuat hidupnya kembali seperti dulu. Dia pikir bersama dengan orang yang dia cintai akan selalu membuatnya selalu tersenyum. Dia pikir imajinasinya tentang sosok pangeran berkuda putih yang membawa putrinya ke kehidupan indah akan menjadi kenyataan. Tapi kenapa justru perasaan cinta ini membuat hidupnya lebih kelam. Menyiksanya perlahan hingga rasanya mau mati.

Jadi, apa seperti ini yang Eomma rasakan dulu?

Dari kejauhan, tampak seorang pria paruh baya yang juga membawa tulip putih melihat tangis kesedihan Lian. Dia adalah Kim Jeha. Sosok yang dulunya menjadi pahlawan bagi Lian dan sekarang berubah menjadi sumber kesakitan Lian. Jeha turut menangis melihat betapa menderitanya hidup putri kecilnya akibat kelakuan bejatnya. Entah sudah berapa banyak kesedihan yang Lian rasakan karenanya. Jehapun bersedia untuk tidak dimaafkan karena kesalahannya begitu besar.

**

Suara denting piano itu semakin terdengar jelas di telinga Lian, membuat Lian terpaksa membuka matanya. Tidak ada siapapun di taman ini kecuali dia. Tapi kenapa ada suara piano yang dimainkan? Lianpun akhirnya bangkit dari duduknya dan mencari sumber suara tersebut. 

Semakin lama suara itu semakin jelas. Bunyi yang dimainkan sangat indah dan terasa emosional. Sebenarnya siapa yang memainkan music seindah indah ini? Instrumen ini terdengar menyayat hati. Pasti yang memainkan menggunakan hatinya.

Langkah Lian terhenti saat melihat sosok wanita yang sedang bermain grand piano berwarna putih. Wanita itu menggunakan gaun panjang berwarna putih. Kulitnya putih dan bersinar. Dia memainkan piano dengan penuh penghayatan. Dan wanita itu adalah Anna. Ibu Lian. Wanita yang sangat dia rindukan. Mataharinya.

Lian ingin mendekati ibunya yang tampak belum menyadari kehadirannya. Tapi kakinya sangat sulit digerakkan. Dia ingin memeluk Anna. Berkata kalau dia sangat merindukannya. Air mata Lian sudah keluar sejak dia melihat sosok itu. Akhirnya dia bisa melihat ibunya. 

“Eomma!” Seru Lian

Anna menyudahi permainannya dan menoleh ke sumber suara. Dia langsung tersenyum saat melihat bintangnya berdiri tidak jauh darinya. Kemudian dia berjalan mendekati Lian. Masih dengan senyum anggunnya.

“Eomma…” Lirih Lian dengan suara bergetar. Tanganya berusaha menyentuh wajah Anna namun tidak bisa.

“Putriku…” Bisik Anna sambil tersenyum hangat. Senyum yang selalu membuat Lian tenang. 

“Eomma, aku merindukanmu. Kenapa kau meninggalkanku sendirian? Aku sendirian, eomma.” Lian berkata disela isakannya. Dia masih berusaha untuk menyentuh wajah Anna, tapi tangannya menembus wajah cantik ibunya.

“Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu? Eomma, bawa aku pergi. Aku ingin ikut bersamamu. Aku benar-benar sendirian, eomma.”

“Tidak, sayang. Ada appa, ibu barumu, Baekhyun, dan suamimu yang selalu menemanimu, bukan? Kita tidak bisa bersama, sayang. Dunia kita berbeda.” Ucap Anna sambil mengelus pipi Lian.

Ini aneh. Lian tidak bisa menyentuh Anna, tapi Anna bisa menyentuhnya. Lian sangat ingin menyentuh ibunya. Dia ingin memeluk Anna dengan erat agar Anna tidak pergi meninggalkannya lagi.

“Mereka semua tidak menyayangiku, eomma. Chanyeol tidak pernah mencintaiku. Appa juga tidak menyayangiku. Aku membenci mereka. Mereka membuatku kehilanganmu.”

“Sayang, eomma selalu bersamamu. Disini. Tidakkah kau merasakannya? Kau tahu? Eomma tidak pernah meninggalkanmu karena eomma sangat menyayangimu.” Anna berkata sambil menyentuh dada Lian. Tepat di jantungnya.

“Tapi kenapa aku tidak bisa melihatmu? Aku sangat ingin bertemu eomma setiap hari. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Kau hanya bisa merasakan kehadiran eomma, sayang. Di hatimu.”

“Aku tidak bisa, eomma. Ini menyakitkan.” Lirih Lian sambil menundukkan kepalanya. Bahunya berguncang hebat. Dadanyapun sangat sesak.

Anna mendongakkan kepala Lian. Menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi putrinya sambil tetap tersenyum. “Belajarlah memaafkan mereka, sayang. Mereka sangat menyayangimu. Hanya saja hatimu sudah tertutup oleh kebencian. Buka hatimu dan maafkan mereka.”

“Tidak bisa, eomma. Terlalu banyak kesalahan untuk dimaafkan. Aku sangat membenci mereka sampai rasanya mau mati. Aku harus bagaimana, eomma?”

“Kau bisa, sayang. Eomma tahu kau mempunyai hati malaikat. Maafkanlah mereka dan hiduplah dengan baik. Eomma tidak ingin melihatmu menderita.”

“Tidak bisakah aku ikut denganmu? Kumohon, eomma.”

“Tidak, sayang. Tempatmu bersama Chanyeol. Belajarlah memaafkan mereka. Eomma tahu kau bisa. Eomma ingin kau bahagia, sayang.” Anna mengelus-elus pipi Lian.

“Kumohon, eomma.”

“Berbahagialah, sayang.” Perlahan Anna mulai menghilang.

“Eomma!” Seru Lian sambil berusaha mengejar Anna. Namun kakinya tidak bisa digerakkan. Anna semakin menjauh.

“Eomma…”

**

.

.

.

.

.

Tbc~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s