Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 5

Fool For You Part 5

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – Cho Kyuhyun – Lee Donghae – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

Sudah lima hari sejak Lian kembali dari Swiss. Pekerjaannya semakin banyak. Baik Marcus maupun Aiden, dua pria itu juga sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Perusahaan memang sedang melaksanakan projek besar yang mengharuskan Lian ke luar kota untuk memantau pembangunan hotel tersebut. Karena hotel ini akan menjadi hotel bertaraf bintang lima internasional, Lian harus turun tangan untuk ikut serta memantau proses pembangunan tersebut. Dia tipe wanita yang menginginkan segala hal yang dia kerjakan sempurna. Jadi untuk projek pertamanya menjabat sebagai presdir, dia ingin kinerja yang membuat semua orang puas.

Tapi karena kesibukannya tersebut, membuat Lian sering pulang terlambat dan waktu istirahatnyapun tidak efektif. Dia harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan kemudian pulang hampir malam. Awalnya Lian masih bisa menghabiskan waktu dengan Fellix dan masih bisa menunggu Taehyung. Tapi sudah dua hari ini dia tidak punya waktu untuk Fellix dan jarang ke rumah sakit. Dia hanya bertemu Fellix hanya saat pagi dan malam, saat bocah itu akan tidur.

Selama tiga hari bersamanya, Fellix tidak pernah merepotkan. Bahkan bocah es itu bisa akrab dengan Yoongi dan Anna. Dia diantar jemput oleh Yoongi. Kemanapun dengan Yoongi. Fellix akan ke rumah sakit saat pukul tiga dan pulang saat pukul enam. Rutin seperti itu terus karena memang Taehyung yang menyuruhnya.

Seperti hari ini, Fellix baru saja pulang dari rumah sakit bersama Marcus. Bocah lima tahun itu tampak tertidur pulas di samping Marcus yang sedang menyetir. Kata Yoongi tadi, di sekolah Fellix ada acara perlombaan peringatan ulangtahun sekolah. Dan kebetulan Fellix mengikuti lomba lari. Pantas kalau saat ini dia kelelahan.

“Dia terlihat lelah. Tidurnya pulas sekali.” Ucap Marcus pada Lian di ujung telepon.

Tugasnya kali ini bertambah. Di samping menjaga Lian dan membantu Lian mengurus perusahaan, dia juga harus menjaga Fellix karena memang dia yang bertanggungjawab. Dia kadang yang menjemput Fellix dari rumah sakit. Seperti sekarang ini. Karena pekerjaannya sudah selesai, maka dialah yang menjemput Fellix di rumah sakit.

Sebenarnya tadi dia menawarkan diri untuk membantu pekerjaan Lian yang belum selesai. Tapi gadis perfectionist itu menolak dengan alasan idenya sedang mengalir deras. Jadinya, sepupu cantiknya itu masih mendekam di dalam ruang kerjanya sampai sekarang.

“Jangan kawatir. Kawatirkan saja dirimu. Kau sudah terlalu sering pulang malam. Lanjutkan saja pekerjaanmu besok.” Ucap Marcus

Akhir-akhir ini Marcus sering dibuat khawatir karena jadwal pekerjaan Lian yang menumpuk. Tidak adanya pemimpin di perusahaan kemarin, ternyata membuat semua karyawan kelimpungan. Hingga akhirnya Lian datang dan pekerjaan semua diambil alih oleh Lian.

“Dia sendirian. Temannya sedang ada acara keluarga jadi tidak bisa menemaninya.” Ucap Marcus lagi.

Bukan hanya pekerjannya yang bertambah. Tugas Lianpun juga bertambah untuk menjaga ayah Fellix karena Younbi sudah memberinya amanah. Hal itu mengharuskan Lian bolak-balik rumah-kantor-rumah sakit-rumah.

Marcus meletakkan ponselnya di dashboard mobil saat sambungan teleponnya dengan Lian sudah terputus. Dia menatap Fellix yang masih tidur pulas. Besok hari minggu dan di sekolah Fellix ada acara perayaan ulangtahun. Bocah kecil itu juga mempunyai banyak sekali tugas sekolah.

**

Lian memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menunggu lift di depannya terbuka. Hari ini dia sendirian ke rumah sakit setelah sebelumnya pulang untuk mandi. Dia juga membawakan makan malam untuk Taehyung. Bukan apa-apa. Hanya saja Lian akan menemani Taehyung sehingga dia juga harus makan malam disini. Lian tidak bisa makan sendirian.

Berkali-kali dia menghembuskan nafas kesal karena lift tidak kunjung terbuka. Dia risih dengan tatapan para perawat dan dokter wanita. Mereka menatapnya dengan tatapan siap menerkam. Pasti mereka mengira kalau dia dan Jungkook menjalin suatu hubungan spesial mengingat kemarin Jungkook yang berjalan dengan menggandengnya dan mencium keningnya di depan umum. Karena kejadian kemarin dia sekarang mempunyai banyak musuh. Mereka salah paham.

Bisa saja Lian menggunakan lift khusus jajaran tinggi rumah sakit karena sebelumnya Jungkook pernah menyuruhnya. Tapi Lian tidak ingin membuat para penggemar Jungkook semakin membencinya. Andai saja Jungkook tahu apa yang mereka lakukan, Lian yakin Jungkook akan langsung marah.

Hah! Lian mendesah kasar. Seharian ini dia benar-benar kehilangan kabar Jungkook. Kakaknya itu sangat sibuk. Bahkan malam ini ada dua operasi yang dilakukan. Lian baru saja melihat jadwal Jungkook dalam data pribadi pria itu di rumah sakit. Lian meretas data rumah sakit demi untuk mengetahui data tentang Taehyung. Mungkin setelah ini Lian harus berterimakasih kepada teman kuliahnya dulu karena berkatnya, Lian bisa memanfaatkan teknologi dengan mudah.

Ting!

Nah, akhirnya lift yang ditunggu Lian terbuka. Keluarlah beberapa pengunjung rumah sakit lain. Lianpun segera masuk ke dalam lift setelah seluruhnya keluar dan menekan angka 26 dimana tempat Taehyung dirawat. Lian menyandarkan tubuhnya pada dinding lift. Sebenarnya dia lelah dan sangat ingin istirahat. Tapi dia masih punya tanggung jawab untuk menemani Taehyung. Dia tidak ingin membuat Younbi kehilangan kepercayaan padanya.

Rasanya sulit jika seseorang sudah menaruh kepercayaan. Lian tipe gadis yang profesional dalam segala hal. Dia pantang membuat orang lain kecewa

Tidak kurang dari satu menit, lift berhenti di lantai 26. Lian berjalan menyusuri koridor sepi khusus paseien VVIP dirawat. Setelah sampai di depan ruang 27, Lian langsung membukanya tanpa mengetuk pintu. Lagipula hanya ada Taehyung. Pemandangan pertama yang Lian lihat adalah ranjang kosong. Pasti Taehyung sedang berada di kamar mandi. Lianpun berjalan menuju sofa dan meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja.

“Haruskah aku menginap disini?” Ucap Lian dalam hati sambil menatap langit-langit kamar rawat Taehyung. Lian tidak akan tega membiarkan Taehyung sendirian di rumah sakit. Bagaimanapun juga statusnya masih pasien.

“Lian-ssi, kau datang?” Tanya Taehyung retoris begitu keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menuju ranjangnya sambil menggeret tiang infusnya.

Lian langsung menegakkan tubuhnya saat melihat Taehyung sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat lebih mempesona setiap hari. Kini Lian tidak dapat menampik perasaannya. Lian jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Kupikir kau tidak akan datang. Fellix baru saja pulang bersama Kyuhyun tadi.” Ucap Taehyung sambil berbaring di atas ranjang. Mempunyai jahitan di perutnya membuat gerakannya sangat terbatas. Meskipun sudah lima hari tapi tetap saja jahitan itu akan beresiko jika dia bergerak banyak.

“Apa akan terdengar lancang kalau aku mengatakan aku kesini untuk menemanimu?” Tanya Lian diiringi tawa garingnya. Dia benar-benar berusaha untuk bersikap layaknya orang yang baru mengenal. Memang kenyataannya mereka baru mengenal. Tapi Lian dituntut untuk bisa akrab dengannya.

Terdengar tawa ringan dari Taehyung. Dan sialnya, tawa itu semakin membuat pria satu anak itu terlihat lebih tampan. Tawa kotaknya benar-benar tidak ada duanya. Pria itu selalu berhasil menyedot seluruh atensi Lian. Dengan itu, Lian harus bisa mengontrol mimiknya agar tidak terlihat bodoh. Seperti kata Marcus. Dia menggurui Lian tentang cara bersikap di depan orang yang disukai. Salah satunya bersikaplah biasa.

“Kupikir kau kesini untuk menjemput Fellix.” Ucap Taehyung kemudian.

“Aku kesini untuk melihatmu, bodoh!” Ucap Lian dalam hati.

“Aku membawakanmu makan malam. Sebenarnya untuk kita karena aku juga belum makan. Itupun kalau kau bersedia memakan masakanku.” Lian mengeluarkan nasi dan lauk pauknya yang dia bawa dan menata di atas meja.

Taehyung menatap makanan yang ditata di atas meja dengan mata berbinar. Dia sangat bosan dengan makanan rumah sakit. Dan melihat makanan yang dibawa Lian membuatnya langsung merasa lapar. Tanpa menjawab ucapan Lian, dia langsung turun dari ranjang rumah sakit dan berjalan menuju sofa dengan menggeret tiang infusnya. Taehyung berharap dia bisa melepaskan benda satu ini, karena kehadirannya membuat Taehyung kesulitan.

“Kau tahu saja aku sedang bosan makanan rumah sakit.” Ucap Taehyung sambil mengambil sumpit di depannya.

“Astaga!” Pekik Lian kaget saat dia melihat Taehyung sudah duduk manis di depannya. Dia bahkan sampai memegang dadanya karena saking kagetnya.

Taehyung tampaknya tidak terlalu mempedulikan ekspresi terkejut Lian. Dia sudah asik memakan makanan yang dibawa oleh Lian. Dia terlihat antusias. Persis seperti orang kelaparan. Sementara itu Lian tampak mendengus sebal karena hampir saja jantungan. Dia menatap pria di depannya sebal karena diabaikan. Pria itu lebih asik dengan makanannya.

Jantung Lian mulai berpacu cepat saat melihat Taehyung dari jarak yang lebih dekat. Dia bahkan bisa mencium aroma maskulin dari Taehyung. Lian bisa melihat dengan jelas hidung Taehyung yang mancung dan rahangnya yang tegas. Bibirnya juga tebal. Benar-benar sangat menggoda. Apalagi dalam posisi sedang mengunyah. Tangan Lian sudah gatal ingin menyentuh wajah Taehyung. Dia bahkan menggenggam sumpitnya dengan erat karena sedang berusaha menahan keinginannya.

“Kau tidak makan?” Tanya Taehyung sambil menatap Lian heran.

Lian dibuat gelagapan saat kedapatan sedang memperhatikan Taehyung. Dan sekarang dia benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Saat sedang menjawab, tahu-tahu Taehyung sudah menyodorkan sepotong bola daging kepada Lian dengan sumpitnya. Lian menatap sumpit di depannya dan Taehyung bergantian. Taehyung memberi isyarat dengan matanya agar dia memakannya. Akhirnya dengan ragu Lianpun menerima suapan itu.

Kaki Lian tampak melemas mendapat perlakuan yang tidak bisa dibilang spesial dari Taehyung. Tapi ketahuilah. Sekalipun itu perlakuan kecil asalkan itu dari orang yang spesial, akan terasa sangat spesial untuknya. Dan sekarang Lian melupakan pesan Marcus untuk bersikap biasa di depan Taehyung. Dia malah menatap Taehyung terang-terangan dengan hati yang berbunga-bunga.

“Masakanmu sangat lezat. Lebih lezat dari masakan restoran.” Puji Taehyung sambil menatap Lian dengan senyum lebarnya. Dia mengunyah dan tersenyum bersamaan. Dan itu sangat menggemaskan.

Lian mengedipkan matanya berkali-kali. Apa baru saja Taehyung memuji masakannya? Hati Lian benar-benar sudah memasuki musim semi. Bahkan pujian itu wajar ditujukan untuk wanita yang memang pandai memasak. Lian juga berani bertaruh kalau Taehyung pernah mengatakan hal itu pada mendiang istrinya. Tapi sekali lagi, bagi Lian apapun hal kecil yang diberikan Taehyung terasa sangat berarti untuknya.

“Aku harap itu bukan bualan.” Sahut Lian sambil memfokuskan perhatiannya pada makanan di depannya. Dia tidak ingin menjadi terlihat lebih bodoh karena terus memandangi Taehyung.

“Aku bukan pria pembual.” Ucap Taehyung

“Kau dan Fellix benar-benar mirip.”

“Apa kau memasukkan wortel disini?” Tanya Taehyung dengan nada yang agak tinggi. Wajahnya juga terlihat panik.

“Iya.” Jawab Lian santai. Seolah tidak terganggu dengan wajah panik Taehyung.

Taehyung buru-buru ingin berdiri untuk memuntahkan makanan yang baru saja dia makan. Dia tidak suka wortel. Tapi saat baru saja berdiri, tangannya sudah ditarik lagi sehingga dia kembali duduk. Dia menatap Lian geram. Rasanya sangat mual.

“Kau tidak bisa memuntahkannya. Aku akan terluka.” Ucap Lian dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih. Dia berusaha menahan tawanya karena melihat wajah memerah Taehyung. Sekarang dia tahu kalau Fellix tidak suka sayur karena Taehyung juga tidak menyukainya.

Lian menutup mulut Taehyung dengan tangannya. Dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Hanya gerakan spontan. “Kau harus memakannya.” Ucap Lian

Taehyungpun pasrah. Susah payah  dia menelan sayuran orange itu yang menurutnya sangat tidak enak. Senyum di wajah Lian mengembang. Selain karena berhasil menjaili Taehyung, dia juga bisa menyentuh wajah Taehyung. Setelah puas melihat wajah tersiksa Taehyung, Lian melepaskan bungkaman tangannya pada mulut Taehyung dan mengambilkan minum untuknya. Lian menahan senyum gelinya saat melihat ekspresi kesal Taehyung.

Taehyung langsung meneguk habis air putih yang disodorkan Lian. Wajahnya benar-benar merah karena menahan mual. Dia sangat tidak menyukai sayuran lonjong berwarna orange bernama wortel dan sayuran hijau tua menyerupai rumah jamur bernama brokoli.

Menggelikan.

Itulah komentar yang dia berikan setiap melihat dua sayuran itu. Ditambah dengan ekspresi gelinya yang membuat duda anak satu ini terlihat menggemaskan.

Lian kembali sibuk dengan makanannya dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Lian hanya sedang menghilangkan debaran jantungnya menggila. Dia sampai takut kalau Taehyung akan mendengarnya karena saking kerasnya. Tangannya benar-benar bekerja diluar kendali. Lianpun menyesali tindakan gilanya barusan. Bagaimana bisa Lian menyentuhnyapun masih terus menjadi pertanyaan di kepalanya.

Lian tidak menyukai segala jenis sentuhan dengan orang asing. Laki-laki terutama. Tapi dengan gampangnya dia menjabat tangan Taehyung bahkan sampai menutup mulutnya.

“Apa baru saja aku memakan wortel?” Gumam Taehyung dengan wajah gelinya. Dia masih belum melupakan rupa wortel tadi.

Lian yang mendengarnya mau tidak mau menoleh. Dia terkekeh kecil melihat ekspresi Taehyung. “Apa yang salah dengan wortel? Kalian harus belajar mencintai wortel. Baik untuk mata. Kupikir kau pernah mendapat materi seperti itu dulu saat sekolah.” Timpal Lian sambil kembali fokus pada makan malamnya. Dia tidak ingin jantungnya kembali berulah karena melihat Taehyung terlalu lama. Meskipun hal itu mustahil, karena tubuhnya selalu bereaksi saat berada di dekat Taehyung.

Taehyung mencebik kesal. “Kau berani mengguruiku sekarang?” Ucapnya sewot.

“Kalian berdua memang sama-sama keras kepalanya.” Sahut Lian cuek.

**

“Apa?!” Pekik Marcus saat Kate memberitahunya kalau Lian ke rumah sakit seorang diri.

“Nona tidak mau diikuti pengawalnya. Dia bahkan mengancam kami akan mogok makan selama seminggu.” Jelas Kate lagi.

Marcus mengusap-usap wajahnya kasar. Ini memang bukan pertama kalinya Lian mengancam para pengawalnya agar dia dibebaskan keluar seorang diri. Tapi meskipun begitu tetap ada satu atau dua orang yang mengikutinya dari jarak jauh. Bukan seperti sekarang. Tidak ada satupun yang mengikuti Lian. Wajar memang kalau mereka hanya bisa pasrah setelah mendengar ancaman Lian. Terakhir Lian mengancam akan mengurung diri di kamar juga dia lakukan. Mereka cukup tahu dengan riwayat maag yang diderita Lian.

Marcus langsung mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Aiden. Dia tidak bisa menyusul ke rumah sakit karena harus menjaga Fellix.

Hyung! Lian-”

“Arrayo. Aku yang menyuruh mereka untuk tidak mengikutinya.”

“Kau gila?! Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Lian?”

“Wow! Calm down, dude. Kau tidak perlu kawatir. Aku berada di rumah sakit juga. Menemani eomma check up. Aku akan menjaganya. Lagipula Yoongi juga ada disini.” Terdengar kekehan dari ujung sana, membuat Marcus kesal.

“Kenapa tidak memberitahuku? Aku hampir jantungan.” Sungut Marcus lalu memutus sambungan sepihak.

“Apa makan malam sudah siap?” Tanya Marcus sambil berjalan menuju ruang tengah.

“Sudah, tuan. Nona Jeon yang memasak.” Jawab Kate

“Baiklah. Aku akan membangunkan Fellix dulu.” Sahut Marcus sambil beranjak menuju kamar sementara Fellix.

**

Kedatangan Lian di rumah sakit nampaknya sama sekali tidak mengurangi rasa bosan Taehyung. Setelah acara makan malam bersama mereka, Lian langsung sibuk dengan laptop di depannya. Mengabaikan Taehyung yang hanya diam saja di ranjangnya sambil mengamati Lian. Sudah hampir satu jam ruangan ini sunyi. Siapa yang tidak bosan? Gadis cantik itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Taehyung sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Lian. Wajah gadis itu terlihat serius dan kadang keningnya berkerut membuatnya terlihat semakin cantik. Bahkan Taehyung tidak dapat menutupi senyumnya saat melihat kening Lian berkerut. Sangat cantik. Menurut Taehyung, wajah Lian tidak pernah membosankan. Dengan berbagai ekspresi, Lian masih terlihat cantik.

Sudah malam. Dan Taehyung begitu merindukan suasana rumah. Dia sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Tapi dokter belum mengijinkan pulang. Seketika itu juga Taehyung ingat perkataan Fellix tadi.

“Aku besok akan bermain piano. Tapi appa tidak bisa melihatku.”

Hati Taehyung mencelos. Besok penampilan perdana Fellix di depan teman-temanya. Taehyung bahkan masih sangat ingat dimana seminggu yang lalu Fellix masih berusaha keras berlatih dengannya. Dia bahkan sudah berjanji akan datang. Tapi kondisinya tidak memungkinkan. Taehyung tidak bisa membayangkan wajah kecewa Fellix meskipun putranya itu sudah berkata tidak apa-apa.

Lain halnya dengan Taehyung yang tengah sedih karena tidak bisa melihat putranya tampil. Lian tampak tersenyum penuh kemenangan saat berhasil meretas CCTV di bagian ruangan Jungkook. Dia ingin tahu apa saja yang dilakukan kakaknya itu jika sedang bekerja. Mempunyai kemampuan di bidang IT nampaknya sangat berguna bagi Lian. Dia bisa menyimpan data rahasia perusahaan sekaligus dapat melakukan hal-hal yang dia inginkan.

Nah! Yang ditunggu muncul. Jungkook masuk ke dalam ruangannya dengan wajah lelah. Senyum Lian makin mengembang. Memangnya hanya mereka yang bisa memata-matainya? Namun tidak lama kemudian, senyum di wajah Lian menghilang berganti dengan raut kaget. Seorang wanita yang… Astaga! Apa pantas dia ke rumah sakit dengan pakaian seperti itu? Apa yang dia lakukan di ruangan Jungkook? Mungkinkah pasiennya? Dan, lihat! Ekspresi Jungkook bahkan terlihat biasa. Apa dia sering mendapat pasien seperti itu?

Lian masih menunggu apa yang akan terjadi. Sejauh ini mereka masih berbincang biasa. Sial! Lian ingin mencakar wajah wanita itu. Tidak bisakah dia bersikap layaknya pasien? Dia cukup sehat untuk dibilang pasien. Dan dia juga cukup sehat untuk…

WHAT THE HELL?!” Pekik Lian sambil menutup mulutnya. 

Taehyung sampai terperanjat kaget karena lengkingannya. Dia mengelus-elus dadanya. Berharap jantungnya tidak lepas. Lalu pandangannya beralih pada Lian yang tampak sangat terkejut. Apa yang terjadi?

Mata Lian membulat lebar dan hampir keluar melihat layar di depannya. Apa seorang pasien bisa dengan seenaknya duduk di pangkuan dokternya? Tanpa pikir panjang, Lian langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruangan Jungkook. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak!

Sialan kau, Jeon Jungkook!

Sementara itu Taehyung hanya menatap kepergian Lian dengan tanda tanya besar. Apa yang terjadi? Kenapa dia langsung pergi tanpa membawa barang-barangnya?

**

Brak!

Suara pintu yang dibuka dengan paksa membuat dua manusia yang sedang melakukan hal tidak wajar itu langsung menghentikan aksi mereka dan menoleh ke sumber suara. Di ambang pintu, terlihat seorang gadis dengan nafas ngos-ngosan dan wajah merah padam. Jungkook mematung di tempatnya. Berbeda dengan gadis yang duduk di pangkuannya yang malah menatap Lian sinis. Merasa terganggu.

Lian berjalan cepat mendekati dua manusia itu dan dengan tanpa perasaan, dia menarik tangan wanita yang duduk di pangkuan Jungkook. Tidak peduli dengan kaki wanita itu yang membentur meja. Sementara itu Jungkook hanya bisa terdiam kaku. Dia bahkan tidak bisa bergerak. Persis seperti maling yang tertangkap basah. Dia menatap wajah marah Lian. Dan pertanyaannya adalah, bagaimana Lian bisa ada disini?

Lian menatap wanita seksi di depannya nyalang. Tangannya sudah sangat gatal ingin menjambak rambut wanita itu. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya erat. Melihat tatapan meremehkan wanita di depannya membuatnya semakin marah.

“Kau siapa berani masuk ruangan ini sembarangan?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut wanita di depan Lian.

Jungkook memejamkan matanya sambil terus berdoa untuk keselamatan ruangannya. Dia tidak menyangka Lian akan datang. Dan menyaksikan adegan tidak wajar. Setelah ini dia akan menghadapi kemarahan Lian.

“Kau siapa berani menginjakkan kaki di rumah sakit ini?” Tanya Lian balik dengan nada sinis.

Jungkook dapat merasakan aura gelap di sekitar Lian. Adiknya itu sangat marah. Dia akan sulit meredakan kemarahan Lian.

“Kau ini siapa? Mengganggu saja!” Tanya wanita itu sewot. Bahkan dia tidak malu sama sekali setelah tertangkap sedang berbuat mesum.

“Mengganggu katamu? Cih! Menjijikan.” Desis Lian sambil tertawa sinis.

“Ya!”

“Yuju-ya, pulanglah. Ini sudah malam.” Jungkook mencoba peruntungan untuk memisahkan Lian dan Yuju, wanita yang sangat terobsesi padanya.

Lian menatap Jungkook sinis. Dia tidak menyangka kakaknya akan berbuat sejauh ini. Dia kecewa. Dan Jungkook hanya bisa menelan ludah pahit saat melihat tatapan mematikan Lian. Jungkook tidak lupa bagaimana menakutkannya Lian saat marah.

“Kau membela gadis pengganggu ini?!” Ucap Yuju sambil menunjuk Lian.

Lian tidak bisa menahan emosinya lebih lama. Dia memegang tangan Yuju dan memelintirnya ke belakang. Belum cukup dengan itu, dia menjambak rambut Yuju. Mengabaikan teriakan kesakitan dari wanita jalang ini. Jungkook menelan ludah kasar. Dia tidak bisa mencegah Lian karena dia tahu akibatnya. Adiknya itu tidak pernah main-main saat marah. Ini buktinya.

“Tidakkah kau bercermin dulu sebelum kesini? Apa kau yakin tujuanmu adalah ke rumah sakit ini? Apa kau berniat menjual tubuhmu untuk dokter-dokter disini?” Tanya Lian bengis. Dia mencengkram rambut Yuju dengan kuat.

“Lepaskan aku!” Teriak Yuju kesakitan.

“Kau hanya wanita rendahan. Bahkan sampahpun masih berguna daripada dirimu.” Desis Lian sambil mendorong Yuju dengan keras.

Yuju mengelus-elus lengannya yang sakit dan merapikan rambutnya. Dia menatap Lian dengan tajam. Tidak terima dengan semua hinaan Lian.

“Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku! Pergi!” Teriak Lian

Yuju baru akan membalas perbuatan Lian saat Jungkook sudah menahannya dan memberi isyarat agar segera pergi. Dengan wajah kesal, Yujupun keluar dari ruangan Jungkook. Meninggalkan Jungkook yang diselimuti rasa takut. Dapat Jungkook rasakan aura mencekam di sekitarnya. Dia bahkan tidak berani menatap Lian.

Lian berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Dia baru merasakan nyeri di kakinya karena kesleo saat berlari tadi. Dia bahkan mengabaikan tatapan bingung para pengunjung rumah sakit dan perawat di luar sana. Benar, kan, dugaannya? Terjadi sesuatu yang tidak wajar. Kepala Lian pening karena terlalu jauh berlari. Selain itu dia kembali teringat saat dia hampir dilecehkan temannya di Swiss dulu.

Tanpa berkata-kata, Lian langsung keluar dari ruangan Jungkook. Dia sangat marah dan kecewa. Tidak menyangka kalau Jungkook akan berbuat sejauh itu. Meskipun dia tahu wajar bagi seorang yang sudah dewasa berbuat seperti itu mengingat dia tinggal di negara bebas. Tapi tidak bisakah mereka melakukan di tempat yang wajar? Mata Lian sudah berkaca-kaca karena saking kecewanya dengan Jungkook. Dia mengabaikan rasa sakit di kakinya.

Baby!” Jungkook mengejar Lian yang sudah lebih dulu pergi.

Mereka saat ini menjadi pusat perhatian semua orang yang berada disitu. Seorang presdir rumah sakit ini mengejar seorang gadis yang diduga kekasihnya. Jungkook berhasil menggapai tangan Lian. Dengan segala keberaniannya dia membalikkan tubuh Lian. Dia sadar sudah membuat adiknya ini kecewa. Diapun menyesali perbuatannya. Terlepas dari bagaimana Lian bisa tiba-tiba datang dengan wajah marah, Jungkook lebih takut jika tidak mendapat maaf dari Lian.

Lian menepis tangan Jungkook dengan kasar. Tidak peduli dimana dia sekarang. Dia menatap Jungkook tajam. “Kau… Memalukan.” Desis Lian dengan bibir yang bergetar.

Hati Jungkook bagai teriris mendengar ucapan Lian. Dia memang salah. Lian berhak marah. Tapi Jungkook tidak bisa melihat adiknya menangis. Apa lagi dia penyebabnya.

“Maafkan aku. Aku hanya-”

“Jangan diteruskan! Aku muak!” Potong Lian cepat. Dia bahkan menutup kedua telinganya dengan tangan.

Para pengunjung, perawat, dan dokter yang melihat mereka hanya saling berpandangan penasaran. Tapi tidak sedikit dari mereka yang kesal dengan Lian karena sudah berbuat kasar dengan Jungkook. Beberapa dari mereka beranggapan kalau mereka baru saja putus dan Lian tidak terima. Beberapa juga beranggapan kalau Lian hanya mencari perhatian. Intinya, mereka semua memojokkan Lian.

Jungkook menghela nafas panjang. Dia tidak peduli menjadi tontonan orang-orang. Mendapat maaf Lian lebih penting. Dia berusaha mendekati Lian namun Lian langsung mundur. Lagi-lagi Jungkook harus menelan pil pahit saat melihat penolakan dari Lian.

“Jangan mengejarku.” Ucap Lian sambil berjalan mundur.

Ucapan Lian bagaikan ultimatum untuknya. Jungkook hanya diam di tempatnya. Melihat Lian yang semakin menjauh. Namun baru beberapa langkah, Lian berhenti dan menatap kepada segerombolan perawat dan dokter wanita yang menatapnya sinis.

“Jangan kawatir. Dia kakak kandungku. Kalian tidak perlu menatapku seperti itu karena mengira sudah mengambil pria pujaan hati kalian. Memuakkan.” Ucap Lian dengan lantang. Setelah itu dia melanjutkan jalannya.

Semua orang yang mendengar tampak terkejut. Tidak menyangka kalau gadis yang mereka kira kekasih Jungkook adalah adik kandungnya. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hati mereka. Bahkan mereka hanya menunduk karena takut Jungkook akan marah. Aiden yang hanya melihat dari jauh akhirnya mendekati Jungkook yang masih menatap kepergian Lian dengan nanar. Aiden tidak tahu apa yang terjadi sampai Lian bisa semarah itu. Tugasnyapun akan bertambah untuk membuat hubungan kakak-adik ini membaik.

Aiden menepuk pundak Jungkook. Membuat Jungkook sedikit terkejut. Dia menatap Aiden sendu.

“Penggemarmu sangat menakutkan.” Ucap Aiden mencoba mencairkan suasana.

Jungkook menghela nafas berat sambil menundukkan kepalanya. “Dia sangat marah.” Bisiknya

“Tidak akan lama.” Sahut Aiden tenang.

**

Taehyung terkejut saat Lian tiba-tiba masuk. Dia bahkan masih duduk di depan laptop Lian. Karena penasaran dengan apa yang dikerjakan Lian, akhirnya dia memilih untuk melihatnya sendiri. Namun dia malah dibuat bingung saat melihat tampilan layar yang menunjukkan tayangan CCTV di suatu ruangan. Yang membuatnya kaget adalah saat melihat adegan tidak wajar di dalamnya. Hingga akhirnya Lian datang dengan wajah marah dan menyerang wanita itu.

Taehyung melihat semuanya. Bagaimana marahnya Lian pada wanita itu. Bahkan dia sempat takut melihat wajah mengerikan Lian saat marah. Fokus Taehyung kembali pada Lian yang sedang bersandar pada pintu sambil mengatur nafasnya. Taehyung tidak tahu apa yang membuat Lian semurka itu saat melihat Jungkook bercumbu dengan wanita tadi. Tapi melihat bagaimana Lian sekarang membuat dia berkesimpulan kalau pasti ada alasan besar kenapa Lian marah.

Lian menghapus air matanya yang keluar melalu sudut matanya. Apa yang dia lihat tadi sangat melukai hatinya. Seharusnya Jungkook tidak seperti itu. Jungkook yang dia kenal adalah pria baik-baik. Tapi apa yang dia lihat tadi? Mengecewakan. Kalau dia tidak datang, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Lian tidak sanggup membayangkan. Dia menatap Taehyung yang juga sedang menatapnya. Pasti pria itu sudah tahu apa yang dia lakukan.

Lian berjalan gontai menuju sofa dengan langkah pincang. Baru terasa nyeri di kakinya karena kesleo tadi. Dia berusaha mengabaikan tatapan Taehyung. Gadis Kim itu merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya memanas. Air matanya mendesak ingin keluar.

Benarkah tadi itu Jungkook? Kakaknya yang selalu dia banggakan?

Lian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak peduli kalau Taehyung menatapnya bingung. Air matanya tidak bisa dia tahan lagi. Di sampingnya, Taehyung menatap Lian prihatin. Dia bingung harus berbuat apa. Hal ini sudah bukan lagi urusannya. Tapi melihat gadis di sampingnya menangis membuatnya ikut merasakan sedih.

“Lian-ssi? Kau baik-baik saja?” Tanyanya hati-hati. Tangannya sudah terangkat hendak menyentuh pundak Lian, namun dia urungkan. Apa haknya menyentuh Lian?

Tidak ada jawaban. Oke. Taehyung paham bagaimana perasaan Lian sekarang. Diapun memilih diam dan menunggu sampai gadis ini tenang. Aneh. Taehyung tidak pernah sepeduli ini dengan gadis yang baru saja dia kenal. Tapi Lian merubahnya menjadi sosok yang banyak bicara. Dia juga merasakan perasaan aneh saat sehari saja tidak melihat Lian. Puncaknya adalah detik ini. Dia merasa sedih melihat Lian menangis.

Hal ini tidak boleh terjadi. Taehyung berusaha menyangkal perasaan yang selalu mengganggunya. Dia tidak boleh jatuh cinta pada Lian.

.

.

.

Tbc~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s