Posted in Chapter, Family, Fool For You

Fool For You Part 4



Fool For You Part 4

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – Cho Kyuhyun – Lee Donghae – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Angst, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

Lian dan Marcus masih menemani Fellix untuk menjaga ayahnya. Fellix sudah menghabiskan makanannya dan saat ini bocah lima tahun itu terlihat mengantuk karena hanya diam saja sambil duduk di samping ayahnya. Sementara itu Lian dan Marcus sedang mengobrol sambil duduk di sofa tanpa tahu kalau Fellix sedang mengantuk dan bisa kapan saja tertidur. Dua orang dewasa itu nampaknya sedang membicarakan masalah pekerjaan. Tiba-tiba saja Lian mendapat email masuk dari Jinyoung tentang file berisikan kerja sama dengan TJ Group. Lian yang memang pada dasarnya masih malas untuk mengurusi pekerjaan akhirnya meminta bantuan Marcus agar membantunya.Sudah hampir satu jam tapi kakek dan nenek Fellix belum juga kembali. Sebenarnya tidak masalah bagi Lian karena dia masih ingin bersama Fellix dan sekaligus alasan agar dia bisa melihat wajah damai Taehyung yang masih tidak sadarkan diri. Lian tidak bisa menyangkal lagi perihal ketertarikannya pada ayah Fellix. Entah hanya ketertarikan sesaat atau bukan. Yang jelas Lian masih ingin menuntaskan rasa ingin tahunya.

Sepanjang menyuapi Fellix sampai sekarang, Lian masih menalar kira-kira apa yang terjadi padanya? Lian tidak pernah merasa sekacau ini hanya karena seorang yang baru saja dia lihat. Matanya seolah memaksanya untuk selalu menatap sosok Taehyung yang masih terbaring. Seperti dia akan melewatkan hal penting kalau tidak menatapnya. Makanya sejak tadi Lian mencuri pandang pada Taehyung.

Anggap saja dia seperti remaja labil. Nampaknya gelagat anehnya itu mampu ditangkap Marcus yang notabene adalah seorang player. Dalam hatinya, Marcus hanya tersenyum penuh arti. Tidak menyangka kalau gadis otoriter seperti Lian bisa tertarik pada pria.

“Jangan menatapnya terus. Dia tidak akan lari.” Ucap Marcus menyadarkan Lian yang tengah terang-terangan memperhatikan Taehyung. Dia gelagapan sambil pura-pura merapikan rambutnya.

“Sampai mana tadi?” Tanyanya sambil kembali mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya. Dia sangat malu karena tertangkap basah oleh Marcus sedang memperhatikan Taehyung.

“Pikiranmu tidak disini. Lihat! Fellix bisa jatuh kalau tidur seperti itu.” Sahut Marcus sambil menunjuk Fellix yang sudah menyandarkan kepalanya pada tepi ranjang rumah sakit ayahnya.

Lian melototkan matanya dan langsung mendekati Fellix. Lian mengguncang bahu Fellix pelan agar bocah itu tidak terkejut. Fellix mengangkat kepalanya dan menatap Lian dengan pandangan sayu.

“Kau mengantuk, sayang?” Tanya Lian sambil mengelus-elus rambut Fellix.

Hati Fellix menghangat mendengar panggilan sayang dari Lian. Sudah lama Fellix tidak mendengar panggilan sayang dari ibu maupun neneknya. Mendengar Lian memanggilnya sayang, entah mengapa membuatnya ingin tidur dalam pelukan Lian. Pasti akan hangat.

“Kemarilah, brother! Kau bisa tidur di pahaku.” Ucap Marcus sambil menepuk pahanya.

Fellix hanya menggelengkan kepalanya. Dia kembali menatap wajah pucat ayahnya dengan tatapan sedih. “Aku takut kalau aku tidur, aku tidak bisa menjadi orang pertama yang melihat Appa bangun.” Lirihnya yang masih bisa didengar Lian.

Lian tersenyum nanar dan mengelus-elus rambut Fellix dengan sayang. “Kalau begitu duduk saja di sofa agar kau lebih nyaman. Kau bisa bermain game dengan Marcus kalau bosan.” Ucap Lian

Tanpa membalas ucapan Lian, Fellix langsung berdiri dan mendekati Marcus. Seperti yang dikatakan Lian, dia meminta Marcus agar menemaninya bermain game melalui tabletnya. Setelahnya, dua pria itu asik dengan dunia mereka. Sesekali terdengar ejekan dari keduanya saat salah satu dari mereka kalah atau salah umpan.

Lian tersenyum tipis melihat keakraban antara Fellix dan Marcus. Dia senang karena Marcus yang tadinya tidak menyukai anak kecil menjadi sangat akrab dengan Fellix. Dalam hati Lian, dia berdoa agar Marcus cepat punya istri dan mereka bisa mempunyai anak sehingga ketidaksukaan Marcus pada anak kecil dapat menghilang. Marcus sudah cukup umur untuk menikah dan Lian tidak ingin sepupunya yang itu semakin banyak menjadikan para wanita sebagai korbannya.

Tatapan Lian beralih pada ayah Fellix. Sebenarnya apa yang menarik dari seorang pria yang sedang koma? Tidak ada. Tapi Lian merasa ingin terus melihat wajah damai Taehyung. Hidung dan bibirnya menjadi salah satu favorite Lian. Dia ingin sekali menyentuh dua benda itu. Tapi Lian tidak gila sehingga dia nekat menuruti keinginannya. Kenal namanya saja tidak, kenapa sudah berani menyentuh?

Entah kenapa Lian malah kesal saat dia belum mengetahui siapa nama ayah Fellix. Lagipula apa haknya untuk tahu namanya? Yang ada Marcus akan menggodanya habis-habisan dan bisa dipastikan pria bawel itu mengadu pada Jungkook. Kalau Jungkook tahu dia menyukai seorang pria, jelas dia akan mendapat pidato panjang dari Jungkook yang Lian sudah hapal isinya.

Lian menatap nanar wajah Taehyung. Sebenarnya dia penasaran kenapa Taehyung bisa koma? Tapi sekali lagi. Dia baru saja mengenal Fellix. Dia sadar untuk tidak terlalu mencampuri urusan keluarga Fellix. Lagipula, setelah ayah Fellix sembuh, Lian yakin kalau dia tidak akan bertemu Fellix lagi. Tidak ada alasan bagi mereka untuk bertemu.

Hembusan nafas berat keluar dari mulut Lian. Dia menundukkan kepalanya. Menatap tangan Taehyung yang terpasang infus. Benar juga. Setelah ayah Fellix sembuh mereka tidak akan bertemu lagi. Lian akan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Kenapa Lian merasa tidak rela jika harus berpisah dengan Fellix? Selain itu tidak ada lagi alasan untuknya agar bisa melihat pria yang mampu membuat hatinya berdebar untuk pertama kalinya.

Lian tersentak kaget saat mendengar suara nyaring dari monitor pendeteksi jantung. Astaga! Apa yang terjadi? Lian bangkit dari duduknya untuk melihat apa yang terjadi.

Appa!” Tahu-tahu Fellix sudah memekik kaget dengan mata berkaca-kaca.

Lian tidak bisa berkata-kata dan hanya diam mematung sambil menatap kosong pria di depannya yang mulai megap-megap. Pikiran Lian melayang dan kosong. Setelahnya Lian tidak tahu apa yang terjadi karena dia sudah digeret Marcus untuk minggir dan membiarkan para dokter memeriksa keadaan Taehyung. Tunggu! Sejak kapan dokter masuk? Tanpa terasa tangan Lian bergetar dan jantungnya mulai berdetak kencang. Dia tidak ingin menyaksikan kematian seseorang lagi. Tidak.

“Kumohon bertahanlah! Demi Fellix. Kumohon!” Jerit Lian dalam hati. Lian tidak tahu kenapa dia sangat peduli dengan pria yang tidak dia kenal itu. Salah satu alasannya adalah karena Fellix. Dia tidak ingin Fellix kehilangan ayahnya. Dan… Dia masih ingin mengenal pria itu.

Pintu ruang inap ini kembali dibuka dengan kasar oleh Taejun yang tiba-tiba datang bersama Younbi dengan tergesa-gesa. Wajah Younbi sudah penuh air mata. Tangisnya pecah saat melihat beberapa dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruangan putranya dengan terburu-buru.

“Apa yang terjadi?” Tanya Younbi

“Kami tidak tahu, nyonya. Tiba-tiba saja seperti itu.” Jawab Marcus

“Astaga! Taehyung-a.” Younbi lemas dan beruntung langsung ditangkap Taejun. Kemudian Taejun menggiring Younbi untuk duduk di sofa.

Lian menundukkan kepalanya sambil menyatukan kedua tangannya. Dia tidak berhenti berdoa agar ayah Fellix dapat bertahan. Lian tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Fellix kalau ayahnya pergi disaat sebentar lagi bocah itu akan berulangtahun. Lian tidak ingin Fellix mengalami hal yang sama sepertinya. Lian tidak sadar kalau pipinya sudah basah oleh air mata. Bahkan dadanya mulai sesak karena suara dari monitor itu makin nyaring.

“Ya tuhan, kumohon jangan ambil ayah Fellix. Kumohon. Kasihan bocah malang itu.” Lian terus berucap dalam hati.

Marcus merangkul pundak Lian dan mengusap-usapnya. Dia tahu apa yang Lian rasakan. Makanya tadi dia langsung menyeret Lian menjauh dari Taehyung. Marcus sedikit takut kalau sepupunya ini tiba-tiba pingsan karena suara monitor yang masih berbunyi nyaring. Lian sangat takut dengan segala jenis suara seperti itu dan sirine. Karena kejadian sebelas tahun yang lalu, Lian mempunyai banyak ketakutan. Bayangkan saja seorang anak melihat kejadian menyeramkan di depan matanya.

“Kau harus terlihat kuat di depan Fellix. Dia membutuhkanmu, Li.” Bisik Marcus

Seketika Lian tersadar. Benar! Fellix. Astaga, dia melupakan Fellix karena terlalu kalut. Matanya mencari sosok Fellix yang ternyata berdiri kaku di samping Marcus. Hati Lian mencelos. Bahkan Fellix tidak menangis disaat kondisi ayahnya sedang kritis. Wajahnya tanpa ekspresi.

“Sstt. Jangan menangis. Kau hanya akan membuat Fellix takut.” Bisik Marcus lagi sambil menghapus air mata Lian.

Setelah dirinya cukup tenang, Lian mendekati Fellix yang tampak menatap kosong para dokter yang sedang memeriksa Taehyung. Lian jongkok di samping Fellix dan mengusap-usap kepala Fellix. Lian berusaha menahan air matanya yang mendesak ingin keluar demi untuk menguatkan Fellix. Malang sekali nasib bocah kecil ini. Dia harus melihat ayahnya berjuang.

Lian mendongakkan kepalanya saat merasakan usapan lembut di bahunya. Ternyata Marcus sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum hangat. Melihat senyum Marcus membuat Lian sedikit tenang. Pandangannya kembali pada Fellix yang masih diam mematung dengan tatapan kosong pada sosok ayahnya yang masih dikelilingi dokter.

Lian menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya berani untuk menenangkan Fellix. Tapi belum sempat Lian mengatakan sesuatu, Fellix lebih dulu berucap yang membuatnya makin sedih.

“Apa kali ini Appa akan pergi meninggalkan Fellix?” Lirih bocah kecil itu sambil menundukkan kepalanya.

Lian menelan ludahnya susah payah. Tidak. Dia tidak akan menangis lagi. “Fellix, ayahmu tidak akan kemana-mana. Percaya padaku kalau ayahmu akan bangun.” Lian berucap pelan sambil memaksakan senyum. Dia mengelus-elus rambut kecoklatan milil Fellix. “Kau jagoan, bukan? Jangan putus asa. Ayahmu akan bangun.” Ucap Lian lagi yakin.

Bahu Fellix bergetar menandakan kalau bocah itu menangis. Menangis tanpa suara. Dia sudah berusaha untuk menahannya tapi tetap tidak bisa. Fellix takut. Sangat takut kalau dia akan kehilangan ayahnya. Secara mengejutkan, Fellix langsung memeluk Lian. Menyembunyikan wajahnya pada bahu Lian. Fellix tidak pernah merasa senyaman ini saat bersama orang lain. Tapi dengan Lian entah kenapa dia merasa aman dan tenang.

Lian agak kaget saat Fellix tiba-tiba memeluknya. Dia bisa mendengar isak tangan Fellix dengan jelas. Lian tidak bisa untuk tidak menangis. Andai saja bisa Lian akan membuat ayah Fellix bangun agar bocah kecil ini tidak menangis. Lian tidak pernah merasakan sesakit ini hanya karena mendengar suara tangisan anak kecil. Fellix benar-benar sangat membawa dampak untuknya.

Everything will be fine, Fellix. Sstt! Jangan menangis, sayang. Kau membuatku sedih.” Bisik Lian sambil mengelus-elus kepala Fellix penuh sayang.

Taejun dan Younbi yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam. Mereka sama-sama berdoa dalam hati untuk keselamatan putranya.

“Taehyung-a, kumohon! Bertahanlah demi anakmu.” Ucap Taejun dalam hati sambil menatap putranya nanar.

Cukup lama para dokter itu memeriksa keadaan Taehyung, membuat mereka yang menunggu semakin cemas dan takut. Fellix sudah lebih tenang saat ini. Dia duduk di pangkuan Lian sambil memeluk leher Lian. Bocah itu kelelahan dan mengantuk tapi memaksakan diri untuk melihat ayahnya. Lian tidak henti-hentinya menghibur Fellix. Entah kenapa dia punya keyakinan besar kalau ayah Fellix akan sadar.

“Bagaimana bisa?” Ucap salah satu dokter tiba-tiba.

Mendengar ucapan dokter, Taejun dan Lian dengan Fellix di gendongannya langsung mendekati sang dokter. Suara monitor itu kembali normal.

Appa?” Lirih Fellix saat melihat ayahnya sudah membuka matanya. Dia langsung meminta untuk turun dari gendongan Lian dan mendekati ranjang Taehyung.

“Tuan, putra anda berhasil melewati masa kritisnya. Kami bahkan terkejut saat melihat putra anda sadar. Sepertinya dia ingin bertemu putranya.” Ucap dokter dengan senyum bahagia saat melihat pasiennya sadar.

Ucapan lega lolos dari.bibir Taejun dan Younbi. Younbi mendekati ranjang putranya. Dan benar. Taehyung sudah membuka matanya. Younbi tidak bisa menahan tangis bahagianya melihat Taehyung sadar. Dia menggenggam tangan Taehyung sambil terus mengucapkan terimakasih.

“Tapi kenapa dia hanya diam saja, dok?” Tanya Younbi saat menyadari kalau Taehyung tidak merespon.

Fellix langsung menatap dokter yang memeriksa ayahnya. Sejak tadi itu yang ingin dia tanyakan. Tapi mulutnya seolah terkunci. Dia terlalu bahagia karena ayahnya bangun. Fellix menggenggam tangan dingin Taehyung yang membuat Taehyung sedikit merespon karena sekarang dia menatap Fellix. Fellix tersenyum haru begitu ayahnya merespon.

Appa?” Panggilnya pelan.

“Hanya karena obat bius. Tidak akan lama. Dokter sebenarnya pasien ini akan kembali memeriksanya. Dia saat ini sedang memeriksa pasien lain. Kalau begitu, kami permisi.” Ucap dokter itu sambil menepuk pundak Taejun. Taejun dan Marcus membungkuk sambil mengucapkan terimakasih pada dokter dan para perawat yang sudah keluar dari ruangan ini.

Lian mematung di tempatnya. Matanya tidak lepas dari sosok yang menarik hatinya yang kini sudah membuka matanya. Jantung Lian berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat mata itu.

Indah.

**

“Sudah berapa lama dia sadar?” Tanya Jungkook pada perawat yang mengikutinya. Dia sedang menuju ruang VVIP tempat dimana pasiennya dirawat.

“Sekitar satu jam, dokter.” Jawab perawat itu.

Dia baru saja selesai melakukan operasi sehingga tadi saat ada panggilan emergency dia menyuruh rekan dokternya. Begitu dia selesai melakukan operasi yang memang tidak terlalu besar, Jungkook langsung bergegas menuju ruangan pasien VVIPnya. Dia lega karena pasiennya itu akhirnya bangun. Entah kenapa saat pertama kali melihat wajah pasiennya itu, Jungkook langsung merasa iba sehingga dia menjadi dokter pasien itu.

**

Suasana di kamar VVIP 27 saat ini berbeda dengan dua hari kemarin. Perasaan bahagia menyelimuti orang-orang yang berada di dalamnya. Bagaimana tidak? Orang yang mereka tunggu-tunggu agar cepat sadar kini sudah bisa berkomunikasi. Ditambah lagi dengan kelakuan polos seorang bocah kecil yang bisa dibilang menjadi orang yang paling bahagia.

Appa masih ingat Fellix, kan?” Pertanyaan polos itu tiba-tiba keluar dari bibir kecil Fellix. Bocah kecil itu masih belum percaya kalau ayahnya sudah sadar.

“Tentu saja. Kau putra Appa yang sangat nakal.” Jawab Taehyung sambil mengacak-acak rambut Fellix.

“Aku janji tidak akan nakal lagi, asalkan Appa tidak tidur lama sekali.” Ucap Fellix sambil menundukkan kepalanya.

Arraseo. Appa tidak akan tidur lama lagi.” Sahut Taehyung

Taehyung sangat senang karena dapat membuka matanya lagi. Dia akhirnya bisa kembali melihat orangtuanya dan putra kesayangannya. Taehyung bahagia. Apalagi melihat perubahan Fellix. Fellix banyak bicara dan tersenyum. Diapun sebenarnya penasaran kemana wajah dingin dan suara datar putranya?

Taejun dan Younbi hanya tersenyum tipis melihat keakraban Fellix dan Taehyung yang sudah lama tidak mereka lihat. Berbeda dengan Marcus dan Lian. Mereka hanya diam saja sambil melihat keluarga bahagia itu. Tentu saja mereka juga merasa bahagia. Terutama Lian. Dia sendiripun tidak tahu kenapa dia sangat senang melihat ayah Fellix sadar.

Noona, ahjussi! Kenapa diam saja? Kemarilah.” Ucap Fellix sedikit membuat Lian kaget.

Lian langsung salah tingkah saat tak sengaja dia bersitatap dengan Taehyung. Tatapannya sangat mengintimidasi. Ah! Jadi, Fellix mempunyai tatapan intimidasi itu dari Taehyung. Kalau dilihat dengan seksama, pasangan ayah dan anak itu benar-benar sama kalau saja bibir Fellix sesensual milik Taehyung. Bibir pria itu sangat menggoda kaum hawa untuk menciumnya.

Lian menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikiran liar itu mulai muncul. Pria itu membuatku kacau. Batin Lian sambil mendengus. Lian tidak pernah mengira kalau hanya karena tatapan intimidasi bisa membuatnya kalang kabut. Dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini agar pikirannya tidak kemana-mana. Di sampingnya, tampak Marcus yang sedang menahan senyum karena tingkah sepupu cantiknya itu. Melihat wajah gugup Lian saat pandangannya bertemu dengan Taehyung benar-benar menjadi hiburan untuk Marcus.

Hah! Marcus ingin segera pulang dan menceritakan hal ini pada dua sepupunya. Membayangkan bagaimana reaksi Jungkook saja sudah membuatnya geli. Sepupunya itu memang sangat protektif dalam menjaga Lian.

Noona! Jangan diam saja. Ayo sini! Kau harus berkenalan dengan Appa.” Tiba-tiba saja Fellix sudah di depan Lian dan menarik tangan Lian agar berdiri di dekat Taehyung.

Lian sama sekali belum siap. Kalau saja Fellix bukan anak kecil dan disini tidak ada orangtua Taehyung, sudah bisa dipastikan Lian akan mengeluarkan seluruh kamus umpatannya. Dia menatap Marcus dengan tatapan meminta tolong tapi Marcus kelihatan acuh dan mengangkat kedua bahunya. Lian hanya mendesah pasrah.

Kau bahkan tidak berani mengangkat kepalamu, Li! Memalukan! Jerit Lian dalam hati.

Appa, ini Lian noona. Temanku. Noona ini appa. Taehyung Appa.” Fellix memperkenalkan Lian pada ayahnya, begitu juga sebaliknya.

Taehyung mengamati dengan seksama gadis di depannya. Cantik. Manis. Itulah yang pertama kali terbesit di kepala Taehyung saat melihat Lian berada di dekatnya. Tunggu! Taehyung merasa ada yang aneh. Fellix. Ya! Taehyung tidak pernah melihat putranya tersenyum lebar seperti saat ini. Fellix juga bukan anak yang suka beradaptasi dengan orang asing. Taehyung yakin seratus persen kalau Fellix dan Lian baru saja bertemu karena dia juga baru pertama melihat Lian.

Appa! Aku tahu noona sangat cantik, tapi jangan melihatnya berlebihan.” Fellix membuyarkan lamunan Taehyung.

Mendengar ucapan polos membuat Taehyung dan Lian salah tingkah. Taejun dan Younbi saling berpandangan penuh arti melihat adegan di depan mereka. Pasangan suami istri itu sepertinya mempunyai pemikiran yang sama.

Mereka sangat cocok.

Taehyung mengulurkan tangannya pada Lian. “Kim Taehyung, ayah Fellix.” Ucap pria berhidung mancung itu.

Lian mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali saat melihat uluran tangan itu. Suaranya. Astaga! Lian benar-benar gila karena menganggap suara bariton Taehyung sangat seksi. Dengan ragu, Lian menerima uluran tangan itu. Seperti dialiri listrik. Lian dapat merasakan perutnya bergejolak. Jantungnya berdetak lebih kencang. Bahkan lidahnya terasa kelu.

Marcus menepuk jidatnya saat melihat Lian diam saja dengan wajah konyol. Mungkin setelah ini dia akan mengajari Lian agar terbiasa dengan orang yang disukai.

“Lian Jeon.” Sahut Lian pelan. Dia sangat gugup.

Taehyung sangat menikmati wajah merona alami Lian. Apa dia yang membuat Fellix berubah? Dia tidak sadar kalau tangannya masih menggenggam tangan Lian. Tangan Lian terasa pas digenggamannya.

Appa! Lepaskan tangan noona!” Seru Fellix sambil melepaskan tangan Taehyung yang masih menggenggam tangan Lian. Dia menatap ayahnya sebal.

Ditengah situasi canggung antara Lian dan Taehyung, ponsel Taejun tiba-tiba berbunyi. Taejun menyingkir sebentar untuk mengangkat telepon.

Aigooo Tuan Muda Kim sudah bisa merajuk sekarang.” Ucap Taehyung gemas sambil mengacak-acak rambut Fellix.

“Jangan menggodanya, Tae.” Younbi yang sejak tadi hanya diam kini angkat suara.

Taejun kembali setelah selesai menerima telepon. Tapi wajahnya terlihat cemas.

“Ada apa, yeobo?” Tanya Younbi agak gusar saat melihat wajah cemas sang suami.

Aboeji sakit. Kita harus kesana sekarang.” Jawab pria berumur setengah abad itu.

“Tapi bagaimana dengan Taehyung?”

Eomma, aku baik-baik saja. Haraboeji lebih membutuhkan kalian. Pergilah. Aku akan menyuruh Hobie Hyung untuk menemaniku.” Taehyung menyela percakapan antara kedua orangtuanya.

“Fellix ikut kami, ya?” Taejun beralih pada cucunya. Tidak sesuai harapan, Fellix menggeleng dengan tegas.

“Aku ingin bersama Appa.” Ucap bocah kecil itu.

“Tak apa, Appa. Biarkan Fellix disini. Biar dia bersama noona nanti.” Ucap Taehyung

“Tidak bisa. Sohyun sudah dalam perjalanan kesana bersama suaminya.” Taejun menjawab cepat.

“Aku tidak mau ikut!” Seru Fellix dengan wajah kesalnya.

“Hey, boy! Jangan seperti itu.” Lian menegur Fellix yang baru saja membentak kakeknya.

“Maaf, tuan. Begini saja. Fellix bisa bersama kami kalau kalian mengijinkan. Saya akan jamin kalau dia akan aman.” Marcus tiba-tiba menginterupsi.

“Cho!” Lian memekik kaget. Dia menatap Marcus protes. Tapi Marcus malah mengabaikannya.

Sebenarnya Lian tidak masalah kalau Fellix ikut bersamanya. Tapi bagaimana dengan Jungkook dan Taehyung? Lagipula kenapa tiba-tiba Marcus bersedia menjaga Fellix? Memangnya mereka tidak mempunyai keluarga lain di Seoul? Sementara itu, Taejun dan Younbi tampak berpikir. Sepertinya memang ide yang bagus. Menguntungkan bagi Fellix tentunya.

“Baiklah, nak. Kami percaya dengan kalian. Kami tidak punya saudara di Seoul. Semua keluarga berada Daegu dan Busan.” Putus Taejun akhirnya.

Mendengar jawaban sang kakek langsung membuat Fellix tersenyum lebar. Dia berlari mendekati kakek dan neneknya lalu memeluk mereka. Lain halnya dengan Taehyung. Dia masih bingung akan sesuatu. Kenapa Fellix seakan menurut kata-kata dua orang asing itu? Sebenarnya apa saja yang terjadi selama dia koma? Fellix terlihat sangat akrab dengan mereka.

Akhirnya mau tidak mau Lian menyetujui usul Marcus. Toh tidak ada salahnya kalau Fellix ikut bersamanya. Masalah Jungkook akan dia urus. Lagipula dia bisa punya kesempatan untuk bertemu Taehyung.

“Jaga dirimu baik-baik, Taehyung-a. Kami tidak akan lama.” Ucap Taejun pada putranya.

Sementara itu Younbi tampak mendekati Lian. “Nak, jaga putra dan cucuku. Aku tidak tahu kenapa sangat mempercayaimu tapi kumohon aku titip mereka.” Ucap wanita paruh baya itu sambil menggenggam tangan Lian.

“Aku akan menjaga mereka, nyonya.” Sahut Lian dengan senyum hangatnya.

Taehyung dibuat tertegun oleh pemandangan di depannya. Benar-benar sesuatu telah terjadi saat dia koma. Dan sekarang Fellix bahkan kedua orangtuanya sangat akrab dengan gadis bermata biru itu. Setelah kedua orangtuanya berpamitan dan keluar dari kamar rawatnya, suasana menjadi sepi. Tidak ada yang bicara.

Taehyung menatap ketiga orang di depannya bergantian. Banyak sekali yang ingin dia ketahui. Kemudian tatapannya beralih pada Fellix. Taehyung masih tidak menyangka kalau Fellix berubah sangat pesat. Bocah itu menjadi lebih banyak bicara dan tersenyum. Tidak ada lagi wajah dinginnya. Sebenarnya Taehyung senang karena putranya kembali menjadi anak kecil pada umumnya. Tapi di kepalanya masih banyak pertanyaan.

Tatapan Taehyung beralih pada gadis yang membuatnya terkejut karena sifat keibuannya. Dia masih ingat cara Lian menegur Fellix tadi. Apa benar gadis itu yang membuat Fellix berubah? Kalau iya, Taehyung akan sangat berterimakasih. Keningnya berkerut saat melihat Lian dan pria di sampingnya sedang melempar isyarat dengan tatapan mata. Dia berusaha menahan senyumnya saat melihat wajah menggemaskan Lian yang tengah mempelototi pria itu.

Perhatian keempat manusia itu tertuju pada pintu saat mendengar pintu terbuka. Muncullah sosok pria berjas putih bersama seorang perawat wanita. Lian dan Marcus membulatkan mata mereka saat mengetahui siapa sosok berjas putih itu. Jeon Jungkook. Dia berjalan tergesa-gesa mendekati Taehyung tanpa sadar kalau adik dan sepupunya juga disitu.

Marcus dan Lian saling bertatapan. Benarkah itu Jungkook? Mereka kembali menatap Jungkook yang saat ini sibuk menginterogasi pasiennya. Selang beberapa menit, pintu kembali terbuka dan muncullah sosok pria yang seumuran dengan Taehyung. Pria itu tampak melempar senyum pada Lian dan Marcus dan mendekati Taehyung dan Fellix.

“Hipotesisku memang selalu benar. Aku tahu kau akan sadar hari ini.” Ucap Jungkook setelah selesai memeriksa Taehyung. Dia bahkan sudah tidak lagi memakai bahasa formal. Hanya berbicara layaknya teman.

“Terimakasih, dok. Aku tahu putraku sedang menunggu.” Sahut Taehyung sambil mengelus-elus kepala Fellix.

“Bagaimana keadaannya, dok? Apa otaknya masih berfungsi?” Tanya seseorang yang tiba-tiba datang.

Hyung!

“Paman!”

Ayah dan anak itu memekik girang dengan panggilan berbeda. Hoseok atau yang akrab dipanggil Hobie itu hanya menunjukkan cengirannya.

“Hai, Fellix.” Sapanya pada Fellix.

“Hai, paman.” Sahut Fellix dengan senyum lebarnya. Hoseok sampai terkejut saat melihat senyum Fellix. Mungkin karena ayahnya sadar makanya dia senang.

“Jadi bagaimana, dok?” Hoseok kembali bertanya pada Jungkook.

Hyung! Yang tertembak itu perutku!” Sungut Taehyung

“Maka dari itu! Kau orang gila yang mendapat dua peluru di perutnya.” Balas Hoseok sambil melepas kacamatanya dan disangkutkan pada saku kemejanya.

“Tolong jangan banyak bergerak, tuan. Perawat akan datang setiap sore untuk mengganti perban. Kalau begitu saya permisi.” Pamit Jungkook

“Terimakasih, dok.” Ucap Fellix dengan senyum manisnya.

Jungkook hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Fellix. Diapun berbalik untuk keluar dari kamar rawat Taehyung. Namun begitu dia berbalik, matanya langsung membulat lebar saat melihat dua orang yang sangat dia kenal berdiri di depannya.

Baby?!” Pekik Jungkook sambil berjalan mendekati Lian dengan langkah cepat.

Taehyung, Hoseok, dan Fellix sangat terkejut saat mendengar Jungkook memekik keras. Bukan hanya mereka. Tapi juga perawat yang bersama Jungkook tadi. Tapi bukan itu saja yang membuat mereka terkejut. Melainkan panggilan Jungkook yang ditujukan pada Lian. Tunggu! Baby? Apa mereka sepasang kekasih? Itulah yang pertama kali mereka pikirkan.

“Ternyata sudah memiliki kekasih. Benar-benar pasangan serasi.” Ucap Taehyung dalam hati. Namun di kalimat keduanya dia menggunakan nada sewot.

Fellix langsung menunduk sedih saat mendengar panggilan yang ditujukan Jungkook pada Lian. Dia sering melihat di drama kalau seseorang yang memanggil baby itu sepasang kekasih atau suami-istri. Dia tidak akan rela jika Lian sudah dimiliki orang lain. Sama halnya dengan Fellix. Perawat itu sedih dan senang secara bersamaan. Sedih karena idola para perawat sudah memiliki kekasih dan senang karena dia menjadi satu-satunya yang tahu kalau atasannya tersebut sudah memiliki kekasih. Dia bisa pamer dengan para penggemar Jungkook.

Kembali lagi pada Jungkook. Dia sangat kaget melihat Lian dan Marcus berada di tempat yang sama dengannya. Dia tidak tahu kalau Lian maupun Marcus berteman dengan pasiennya. Lian juga tidak memberitahunya kalau dia akan datang.

“Kau… Apa yang kau lakukan disini? Dan kau! Kenapa mau menurutinya untuk keluar? Seharusnya kau menolak.” Jungkook langsung menyalahkan Marcus.

“Seandainya kau tahu bagaimana caranya membawaku keluar.” Sahut  Marcus cuek.

Jungkook kembali menatap Lian.  Dia menuntut penjelasan dari adiknya. “Kenapa kau kesini? Bagaimana pekerjaanmu? Kenapa kau meninggalkan pekerjaanmu?” Tanya Jungkook beruntun. Dia sepertinya lupa tempat.

Fellix mendengus sebal saat mendengar pertanyaan beruntun dari Jungkook. Dia tidak suka Jungkook. Jungkook sudah mengambil miliknya.

“Apa aku harus punya alasan untuk menemui orang yang aku rindukan.” Jawab Lian sambil tersenyum miring. Dia melipat tangannya di depan dada.

So sweat.” Gumam Hoseok sambil menggigit jarinya. Taehyung yang mendengarnya hanya mendesis sebal.

“Apa mereka sedang pamer kemesraan disini? Menyebalkan.” Gerutu Taehyung dalam hati sambil menatap sebal Jungkook dan Lian.

“Aku serius, baby!

“Aku juga, Jeon Jungkook.” Balas Lian cuek.

“Ah! Bukan sepasang kekasih tetapi suami-istri.” Ucap Taehyung dalam hati saat tahu kalau mereka mempunyai marga yang sama.

Bukan hanya Taehyung yang beranggapan seperti itu. Tapi perawat itu juga. Dia memekik girang. Akan menjadi hot news di rumah sakit ini saat semua orang tahu presiden direktur mereka sudah beristri.

“Selesaikan urusan kalian di tempat lain. Bukankah pasien membutuhkan ketenangan, Presdir Jeon?”  Marcus menampilkan seringainya yang dihadiahi kedipan dari Lian.

Jungkook mendengus sebal dan langsung menarik Lian untuk diajak ke ruangannya tanpa mempedulikan semua orang yang menatap mereka bingung. Marcus menghela nafas. Pasti setelah ini Lian akan diinterogasi Jungkook. Marcus baru sadar kalau dia saat ini tengah menjadi pusat perhatian. Pasti mereka salah paham dengan hubungan Lian dan Jungkook.

“Mereka sepupuku. Maafkan kelakuan mereka.” Ucap Marcus ditengah kecanggungan yang terjadi.

“Jadi mereka saudara?” Tanya Hoseok retoris.

Marcus mengangguk. “Kakak beradik yang terlihat seperti suami-istri memang.” Jawabnya asal.

Mendengar ucapan Marcus kalau Lian dan Jungkook yang hanya kakak-adik, rupanya membuat sedikit perasaan Taehyung lega. Berbeda dengan Fellix. Bocah itu masih kesal karena panggilan yang ditujukan Jungkook untuk Lian. Kalau kakak-adik kenapa memanggil baby? Pikirnya.

Marcus nampaknya menyadari wajah kesal Fellix. Bocah kecil itu benar-benar sangat menyukai Lian. Terbukti saat dia mencium kening Lian tadi dan saat Jungkook memanggil Lian dengan panggilan baby. Sebenarnya apa yang membuat Fellix sangat menyukai Lian? Marcuspun heran. Sepupunya yang bar-bar, bermulut tajam, dan manja itu bisa membuat hati para anak kecil luluh. Tapi memang Lian bisa membuat siapa saja merasa nyaman. Marcus akui itu. Diapun juga. Maka dari itu keinginan untuk menjaga dan melindungi Lian sangatlah besar.

**

“Jelaskan!” Hardik Jungkook saat dia sudah membawa Lian ke ruangannya. Ruangan presiden direktur.

Lian tidak langsung menjawab. Dia melenggang menuju sofa empuk berwarna abu-abu itu dan merebahkan tubuhnya. Sebenarnya dia hanya bingung ingin menjelaskan dari mana.

“Lian Jeon?” Ucap Jungkook tidak sabar.

Lian menatap kakaknya sebal. Kalau Jungkook sudah memanggil nama panjangnya itu artinya Jungkook sangat kesal. Tapi apa yang membuatnya kesal? Seharusnya Lian yang kesal karena Jungkook pergi tanpa pamit. “Kau bisa sabar tidak, sih?” Sewot Lian

Jungkook menghela nafas panjang lalu duduk di samping Lian. Langsung saja dia merangkul pundak Lian posesif. Astaga, Jeon Jungkook! Dia benar-benar seperti seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya.

“Kau terlihat sangat kesal denganku. Kenapa? Apa karena aku menyeretmu kesini dan kau tidak bisa melihat pasienku? Sebenarnya kalian ada hubungan apa? Kenapa kau bisa ada disi-”

Oh god! Jung, please! Aku akan menjelaskan semuanya. Dan ya! Aku kesal padamu karena kau pergi tanpa berpamitan denganku.” Lian memotong ucapan Jungkook dengan kesal.

Jungkook mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Dia menunggu sampai akhirnya adiknya itu mau bercerita. Tapi Lian hanya diam saja sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Melihatnya malah membuat Jungkook semakin penasaran. Dan, ya. Memang tadi pagi dia tidak berpamitan dengan Lian. Siapa yang tega mengusik tidur nyenyak Lian yang jarang sekali Jungkool lihat? Dia bahkan hanya membuka pintu kamar Lian setelah itu langsung menuju rumah sakit karena ada operasi darurat.

Oppa?” Lian memanggil kakaknya pelan.

Mendengar Lian memanggilnya dengan nada lembut sontak membuat Jungkook menoleh dan mengangkat sebelas alisnya. Bertanya melalui tatapan matanya yang berkata kenapa? Setahu Jungkook, Lian bukan gadis yang suka basa-basi.

“Apa kau akan marah kalau bocah yang tadi berada di ruangan pasienmu menginap di rumah kita?” Tanya Lian hati-hati. Takut kalau Jungkook tidak mengijinkan. Kalaupun tidak mengijinkan, Lian tetap akan membawa Fellix ke rumahnya. Jangan lupa kalau Lian gadis nekat yang tidak suka dibantah.

“Jangan basa-basi! Katakan yang sesungguhnya!” Ucap Jungkook tegas. Dia tidak suka Lian yang terlalu mengulur waktu.

Lian menghembuskan nafasnya panjang. Lalu dia menceritakan semuanya pada Jungkook. Dari saat pertama kalinya dia melihat Fellix kemarin, kemudian pertemuannya dengan Fellix hari ini hingga akhirnya dia bisa berada di ruangan itu dan terakhir Fellix yang ditinggal kakek dan neneknya ke Daegu. Semuanya dia ceritakan tanpa terkecuali. Ah! Tidak untuk ketertarikannya dengan Taehyung. Akan panjang urusannya jika dia menceritakan tentang pria itu.

Jungkook mendengarkan penjelasan adiknya dengan serius. Dia bisa melihat raut kesedihan saat Lian bercerita tentang Fellix yang sudah kehilangan ibunya. Sama seperti mereka. Dan Jungkook bisa menyimpulkan kalau Lian sudah jatuh cinta dengam bocah kecil itu. Dia tahu kalau adiknya mempunyai rasa sayang yang besar pada anak kecil. Apalagi Fellix yang bernasib sama dengannya.

“Tidak masalah. Aku juga menyukai Fellix.” Ucap Jungkook akhirnya.

Senyum di wajah Lian merekah. Dia baru akan berterimakasih saat kemudian Jungkook berkata, “Lalu siapa yang akan mengurus mereka? Kau harus bekerja. Begitu juga dengan Marcus dan Aiden. Anna? Aku tidak yakin gadis manja itu mau.”

Lian terdiam. Benar juga. Kenapa Marcus tidak berpikir sejauh itu? Dia lupa kalau sekarang sudah menjadi wanita sibuk. Pekerjaan menantinya dan dia tidak bisa menunda mereka.

“Tidak bisakah aku menyerahkan pekerjaanku pada Aiden untuk sementara waktu?” Gumam Lian putus asa.

Jungkook mengelus-elus rambut Lian. “Aku akan menyuruh Yoongi Hyung menjaga Fellix selama pulang sekolah.”

“Tapi, oppa, Fellix tidak suka bersosialisasi dengan orang asing.” Sahut Lian cepat. Masih jelas di ingatannya pertemuan pertama Marcus dan Fellix tadi siang.

Okay. Aku tetap akan bekerja. Tapi saat jam tiga, aku akan kesini untuk mengecek keadaannya. Kalau perlu aku akan membawa pelerjaanku kesini. Fellix akan kubujuk untuk bisa bersama Yoongi Oppa.” Putus Lian

“Oh, baby. Kau benar-benar mengagumkan. Saat-saat seperti ini aku malah ingin menjadikanmu istriku.” Sahut Jungkook sambil mencubit pipi Lian gemas.

“Urusi saja para penggemarmu! Apa kau selalu berpenampilan seperti ini? Penampilanmu ini bisa membuat para wanita meneteskan air liur. Kau ini sengaja atau tidak, sih?” Ucap Lian sebal sambil mengancingkan satu kancing kemeja Jungkook yang terbuka.

“Aku sudah terbiasa seperti ini, baby!” Jungkook hendak membuka kembali kancing bajunya. Namun Lian langsung memukul tangannya dan menunjukkan wajah tidak setujunya.

“Akan kubunuh wanita-wanita yang berani menggodamu.” Desis Lian dengan tatapan tajamnya.

**

Karena hari sudah larut, Jungkook dan Lian memutuskan untuk pulang setelah banyak berbincang-bincang di ruangan Jungkook. Mereka tidak hanya berdua. Tapi juga dengan Jimin meskipun tidak lama karena Jimin harus memeriksa pasiennya. Jungkook sudah memarahi Jimin karena mengatakan hal yang tidak-tidak di depan para perawat dan dokter. Beruntung Lian membela Jimin yang memang tidak tahu kalau Marcus adalah sepupunya.

Sepanjang perjalan menuju parkiran, Jungkook dan Lian selalu berpas-pasan dengan dokter lain yang kebanyakan dokter senior. Jungkook memperkenalkan Lian kepada mereka sebagai adiknya. Dan melihat hal itu secara langsung jelas membuat Lian merasa bangga dan senang. Dia bangga mempunyai kakak yang hebat dan cerdas seperti Jungkook. Diusianya yang masih muda Jungkook bisa menjadi dokter sekaligus memimpin rumah sakit milik keluarganya tersebut.

“Astaga!” Pekik Lian sambil menepuk jidatnya saat dia ingat sesuatu.

“Kenapa?” Tanya Jungkook sambil menghentikan langkahnya dan menatap Lian heran.

“Tasku dan mantelku tertinggal di ruangan Taehyung. Aku akan mengambilnya sebentar.” Jawab Lian dan pergi begitu saja meninggalkan Jungkook.

Jungkook membiarkan adiknya mengambil tasnya sendiri. Lagipula dia lelah kalau harus ikut mengambilnya. Diapun menunggu di dalam mobil tanpa tahu kalau seseorang mengikuti Lian.

**

Lian berhenti di depan ruangan Taehyung. Bahkan dia masih berada di luar ruangan tapi jantungnya sudah berdetak kencang. Tangannyapun gemetar saat hendak menyentuh knop pintu. Dia persis seperti remaja labil yang baru jatuh cinta yang hendak menemui pujaan hatinya. Kau hanya perlu masuk, mengambil tasmu, lalu pergi. Batin Lian berkata seperti itu. Tapi tubuhnya seolah kaku untuk sekedar digerakkan.

Lian menghembuskan nafas panjang berkali-kali. Berusaha menormalkan detak jantungnya dan menghilangkan rasa gugupnya. Tangannya sudah memutar knop pintu. Sangat pelan. Diapun masuk ke dalam ruangan Taehyung dengan perasaan yang tidak karuan. Sepi. Dimana Marcus dan Fellix? Jangan katakan kalau dia hanya sendirian!

Mendengar suara pintu dibuka membuat Taehyung mengalihkan pandangannya dan handphone ke arah pintu. Dia sedikit terkejut saat melihat Lian yang masuk sendirian. Namun sedetik kemudian dia sudah memasang senyumnya. Berusaha menghilangkan segala perasaan aneh yang tiba-tiba melandanya.

Lian hampir memekik kaget saat mendapati Taehyung yang ternyata sedang menatapnya dengan senyuman. Astaga! Senyum itu justru membuat Lian semakin gugup. Hatinya meleleh dan dia rasa kakinya sudah akan berubah menjadi jeli. Kenapa senyum bisa membawa dampak yang begitu hebat?

Good evening.” Sapa Lian sambil sedikit membungkuk dan memamerkan senyum manisnya. Dan Lian baru merasa kalau sapaannya barusan terdengar sangat konyol. Dia merutuki dirinya sendiri yang mengucapkan selamat sore. Memangnya dia petugas toko?

Lian berjalan canggung masuk ke ruangan VVIP itu. Tatapan Taehyung tidak lepas dari Lian. Seolah siap menerkamnya kapan saja dia mau. Dan itu membuat Lian makin tidak karuan. Taehyung berusaha menahan senyumnya saat melihat wajah gugup gadis manis itu. Lian mempunyai wajah yang enak dipandang.

Sangat terasa suasana canggung di dalam ruangan itu. Baik keduanya masih belum ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Lian yang sedang sibuk menutupi kegugupannya sedangkan Taehyung masih menikmati wajah gugup Lian yang membuatnya semakin cantik. Saking gugupnya, Lian sampai lupa apa tujuannya kemari. Dia melupakan sugestinya yang segera mengambil tas lalu pergi. Yang ada sekarang dia sibuk mengatur detak jantungnya.

“Sepupumu sudah pergi bersama Fellix untuk mengambil keperlian Fellix selama di rumahmu.” Taehyung akhirnya membuka pembicaraan. Matanya masih tidak lepas dari Lian.

“Aku kesini untuk mengambil tasku.” Sahut Lian yang saat itu langsung sadar apa tujuannya kemari. Diapun segera mengambil tasnya yang berada di atas sofa.

Lian mengecek isi tasnya. Bukan dia curiga kalau barang-barangnya akan hilang. Kalaupun hilang, tentu Lian tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Marcus yang sangat suka mengambil ponselnya untuk membajak akun SNSnya. Sepupunya yang satu itu memang tidak diragukan lagi kejailannya. Sikapnya tidak mencerminkan usianya yang sudah dua puluh delapan.

Masih ada. Ponselnya juga masih ada. Namun dia tetap mengecek ponselnya. Dan ternyata ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Aiden dan Anna. Apa ada sesuatu yang penting? Tanpa mempedulikan Taehyung yang masih menikmati wajahnya, Lian menekan speed dial nomor 6 yang langsung terhubung dengan Aiden. Lian kembali mengobrak-abrik tasnya guna mencari tabletnya.

Taehyung mengerutkan keningnya saat melihat gadis di depannya yang mendadak sibuk sendiri. Dan, sial! Wajah seriusnya benar-benar seksi di mata Taehyung. Taehyung yakin ada yang aneh dalam dirinya. Tidak mungkin koma selama dua hari membuat otaknya sedikit geser.

“Ada apa? Aku tidak bisa kembali ke kantor karena ada situasi mendesak.”

Ucapan Lian membuyarkan lamunan Taehyung. Dan dia kembali melihat Lian yang sibuk dengan tabletnya. Dia penasaran seperti apa gadis di depannya ini? Apa yang membuatnya begitu sibuk? Dan… Apa yang istimewa dari Lian hingga putra dinginnya bisa luluh?

No! Aiden, I know you can handle that! Sekretaris Park bisa membantumu. Aku tidak suka bernegosiasi.” Ucap Lian yang masih sibuk dengan tablet di tangannya. Banyak sekali email masuk dari Jinyoung dan Aiden tentang beberapa proposal pengajuan kerja sama bersama perusahaannya. Melihatnya saja membuat Lian pusing.

“Aiden, tidakkah kau kasihan padaku? Aku baru saja kembali dari Swiss. Bisakah kalian membiarkanku bernafas paling tidak tiga hari?” Lian terdengar frustasi karena Aiden tetap memaksanya untuk mau bertemu dengan CEO dari salah satu perusahaan yang menginginkan kerja sama dengannya.

Taehyung tidak bisa lagu menutupi senyumnya. Menarik. Benar-benar menarik. Terlihat sekali kalau gadis di depannya ini seorang tipikal yang tegas. Tapi dia sedikit penasaran. Apa yang dia lakukan di Swiss? Dan mendengar ucapan Lian bersama seseorang di ujung telepon membuat Taehyung yakin kalau dia bukan gadis main-main.

“Terserah!” Lian mengakhiri panggilannya dengan kesal. Dia memasukkan ponselnya dengan asal dan juga tabletnya. Saat itu juga dia baru sadar kalau masih berada di ruang rawat Taehyung. Dia menatap Taehyung yang sedang menatapnya dengan heran.

“Maaf. Kau pasti terganggu.” Ucap Lian kikuk.

“Tak apa.” Sahut Taehyung singkat. Dia berusaha menghilangkan rasa gugupnya karena ketahuan tengah menatap Lian.

“Kalau begitu aku pergi sekarang. Tenang saja. Fellix akan aman bersamaku.” Ucap Lian sambil menyampirkan tasnya ke lengannya.

“Ah, ya. Terimakasih sebelumnya.” Sahut Taehyung kikuk. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Aku senang bisa membantu. Hope you better soon, Tuan Kim.” Balas Lian sambil sedikit membungkukkan badannya. Kemudian dia keluar dari kamar rawat Taehyung.

Taehyung masih menatap kepergian Lian sampai pintu kamar rawatnya tertutup. Rasa penasaran Taehyung akan sosok Lian makin besar. Dia ingin tahu apa yang dilakukan Lian hingga bisa meluluhkan hati Fellix yang sudah sedingin kutub selatan. Taehyung yang statusnya ayah saja tidak bisa mencairkan hati Fellix.

Apapun yang dilakukan Lian, Taehyung sangat berterimakasih. Dan mulai sekarang dia harus belajar berbicara lancar di depan Lian. Gadis itu sungguh membuat Taehyung kacau. Kata-katanya hilang semua.

Mimpi itu sangat nyata.

.

.

.

.

.

.

To  be continue~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s