Posted in Chapter, Hurt, I Hate You, I Love You, Married Life

I Hate You, I Love You #1

I Hate You, I Love You #1

Author : brokenangel

Cast : Kim Lian – Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Kim Taehyung – Jung Eunji

Category : Hurt, Married Life

Rate : PG-15

“Kebencianmu hanya akan menjebakmu dalam sebuah perasaan dalam yang perlahan mematikan seluruh kinerja syaraf.”

**

Kim Lian sudah lama sekali kehilangan kehidupan indahnya. Semuanya pergi satu per satu dengan membawa senyum dan semua kenangan indah. Hingga kini, tidak ada kenangan yang bisa Lian kenang selain saat orang-orang berharga menghilang satu per satu. Setiap detik yang Lian jalani tidak pernah bermakna dan Lian tidak pernah membuatnya bermakna. Hidupnya sudah kelabu. Warna itu direnggut satu-satunya orang yang dia harapkan dapat membahagiakannya. Menggantikan beribu kesedihan yang selama ini dia rasakan.

Kim Lian tidak percaya semua orang. Karena saat kau menaruh kepercayaan kepada seseorang, kau akan merasa tersakiti. Lian hanya menganggap hidupnya hanya tinggal menunggu hitungan detik. Hidup Lian sudah hancur. Dan Lian tidak pernah mempunyai niatan untuk memperbaikinya.

Kim Lian sangat berarti untuk semua orang. Gadis dua puluh lima tahun itu memiliki banyak sekali orang yang menyayanginya. Hanya saja hatinya sudah lama mati. Benda itu sudah tidak lagi berfungsi. Lian mati rasa. Hidupnya hanya dipenuhi dengan kebencian. Kebencian pada dirinya sendiri dan semua orang.

Tapi percayalah, dalam hati Lian yang sembilan puluh sembilan persen beku dan usang itu, masih tersisa sedikit rasa cinta. Cinta untuk pria brengsek yang dia temui tujuh tahun yang lalu. Jika saja Lian punya mesin waktu, hal pertama yang akan Lian lakukan adalah kembali pada tujuh tahun yang lalu kemudian dia akan merubah jalannya agar tidak bertemu pria brengsek yang selalu menyiksa batinnya.

Kim Lian membenci kenyataan kalau pria brengsek yang dia cintai itu sudah terikat dengannya. Detik saat dia terikat saat itu adalah detik saat dunia Lian runtuh seketika. Hidupnya lebih tidak berharga. Terlambat. Andai saja Lian tahu lebih awal kalau pria brengsek yang menyandang status sebagai suaminya itu hanya mempermainkamnya.

Hanya kata ‘andai’ yang selalu menjadi penyesalan Lian.

Entah sudah berapa lamanya Lian tidak merasakan sakit baik fisik maupun batin. Seperti saat ini. Tidak terhitung berapa lama gadis dua puluh lima tahun ini berenang di kolam renang rumahnya. Bukan. Rumah mereka. Lian dan suami brengseknya. Berenang adalah salah satu ekspresi pelampiasan perasaan yang melandanya. Baik senang maupun sedih. Tapi, bukankah Lian sudah lama mati rasa?

Benar. Maka dari itu tidak ada yang tahu bagaimana jalan pikiran gadis kepala dua ini. Di cuaca yang sangat dingin ini, tidakkah mereka memilih duduk di depan perapian bersama orang terkasih? Bukan berenang di malam hari seperti yang dilakukan Lian. Di sekeliling kolam renang, para pelayan dan penjaga rumah sudah berkeliling dengan tatapan cemas. Mereka cukup tahu untuk tetap diam dan membiarkan majikan mereka melakukan hal ekstrem itu. Bagi mereka, diam adalah satu hal penting yang harus dilakukan selama bersama Kim Lian.

Satu-satunya yang mereka harapkan saat ini adalah agar Tuan mereka segera pulang. Hanya sang suamilah yang bisa menghentikan aksi nekat Lian. Rose, satu-satunya pelayan yang lumayan dekat dengan Lian, akhirnya mendekat ke arah kolam renang. Dia sudah cukup dibuat serangan jantung saat tiba-tiba Nyonyanya itu menceburkan diri ke dalam kolam renang. Sekarang dia tidak bisa diam saja. Bagaimana kalau gadis rapuh itu sakit?

“Nyonya, sebaiknya Nyonya berhenti berenang. Nyonya bisa sakit kalau tidak keluar dari kolam renang.” Suara Rose terdengar bergetar. Antara kedinginan dan takut.

Seharusnya Rose tahu kalau ucapannya hanya akan dianggap angin lewat oleh Lian. Buktinya gadis -ah sekarang tidak lagi, Lian tetap menyusuri kolam renang seluas 70×55 meter itu.

Lian sudah berusaha untuk menulikan telinganya. Dia bukan tidak tahu kalau para pelayan dan penjaganya sudah sangat mengkhawatirkannya. Tapi, tidak ada cara lain untuk menyembunyikan air mata kesakitannya. Setidaknya air kolam ini bisa menyembunyikan air matanya. Air dingin ini sebenarnya menyakiti Lian. Rasa sakit itu menembus hingga ke tulang.

Tidak ada lagi rasa sakit yang lebih menyakitkan dari rasa sakit yang kau berikan.

Lian terus berenang dari ujung kembali lagi ke ujung. Pinggir, tengah, ujung, kembali lagi pinggir. Seperti itu terus yang dilakukan Lian selama hampir tiga jam ini.

Suara hentakkan sepatu terdengar sangat tergesa-gesa dan membuat semua pelayan dan penjaga menoleh. Setelah melihat siapa yang datang, mereka langsung menyingkir. Aura gelap langsung mereka rasakan saat pria dengan setelan jas armani itu berjalan menuju halaman samping. Matanya memerah dengan rahang mengeras dan tangan terkepal erat.

Chanyeol tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat istrinya itu menurut. Jangankan menurut, mendengarkan orang lain saja enggan. Dia cukup paham bagaimana keras kepala dan dinginnya wanita itu. Bahkan secara tidak langsung, sikap keras kepala dan tidak mau tahunya Lian sering membuat orang-orang serangan jantung. Bukan satu dua kali.

Chanyeol tidak bisa menyalahkan orang masa lalu Lian karena membuat Lian berubah drastis. Dia juga sadar kalau dia sendiri salah satu diantara orang-orang itu yang membuat hidup wanitanya hancur. Tapi tidakkah tindakan Lian terlalu berbahaya?

Nafas Chanyeol tercekat saat melihat istrinya yang berenang kesana kemari tanpa peduli berapa suhu malam ini. Dengan langkah tergesa dia berlari menuju pinggir kolam renang. Tatapan menghunusnya membuat semua pelayan takut.

“Kalian bisa masuk.” Suara rendah seseorang membuat para pelayan masuk ke dalam rumah dan kembali melakukan pekerjaan mereka. Hanya beberapa yang tinggal karena membawakan handuk dan mantel tebal untuk Lian.

Baekhyun menatap adik tirinya nanar. Hatinya nyeri melihat aksi nekat Lian yang berakhir melukai diri Lian. Dia berdiri di belakang Chanyeol. Membiarkan sahabatnya itu mengurus adik tirinya.

Chanyeol masih menunggu sampai Lian lewat di depannya. Hanya berada di luar saja sudah membuatnya menggigil. Apalagi saat menyentuh air kolam.

“Berhenti, Park Lian.” Chanyeol berucap rendah saat Lian sudah melewatinya.

Chanyeol harus menahan emosinya saat Lian melewatinya begitu saja. Giginya sudah mulai bergemeletuk. Sungguh Chanyeol merasa kesabarannya mulai habis. Dia sangat ketakutan kalau Lian akan hipotermia.

“KUBILANG BERHENTI, PARK LIAN!” Chanyeol tidak bisa lagi menahan emosinya. Suaranya menggelegar memenuhi seluruh penjuru rumah. Bahkan semua pelayan dibuat berjingkat kaget.

Dengan segala kekuatannya, Chanyeol menarik tangan Lian sehingga kepala Lian terangkat dari air. Nafas Chanyeol sudah sangat memburu. See! Bahkan tangan yang saat ini dia pegang sudah sedingin es. Wajah istrinya yang selalu dia agung-agungkan, sudah sangat pucat dengan bibir yang bergetar.

Baekhyun menatap Lian nanar. Apa yang bisa dia lakukan? Bahkan dia tidak punya nyali untuk menunjukkan wajahnya di depan adik tirinya. Dia adalah salah satu sumber kesakitan Lian.

Lian merasa air matanya sudah habis. Tapi dia belum siap untuk melihat wajah suami brengseknya. Bukan. Lian muak melihatnya.

Shit! Lian mengumpat dalam hati saat tulang belulangnya makin ngilu karena kedinginan. Tapi Lian ya Lian. Tidak ada ekspresi lain yang dia keluarkan kecuali ekspresi datarnya. Topeng yang selama ini menutupi ketidakberdayaannya.

Kesadaran Lian mulai berkurang. Oh! Dia tidak pernah mengira kalau efeknya akan seperti ini. Sejak kapan dan bagaimana dia sudah keluar dari kolam renang diapun tidak tahu. Tubuhnya sudah terbalut handuk dan mantel tebal. Di depannya, pria yang selama ini memenuhi otaknya menatapnya nyalang. Siap untuk menelannya hidup-hidup.

Satu per satu pelayan yang masih tertinggal meninggalkan halaman samping. Disusul Baekhyun. Melihat Lian keluar dari kolam renang itupun sudah membuatnya lega.

“Kau pikir apa yang kau lakukan di cuaca dingin seperti ini?” Suara rendah dan mengintimidasi Chanyeol kembali terdengar.

Lian hanya mencibir sinis sambil memalingkan wajahnya. Namun kemudian dia kembali menatap pria brengsek di depannya. “Kau pikir apa yang kau lakukan di cuaca dingin seperti ini?” Lian mengatakan hal yang sama kepada Chanyeol. Hanya saja nada bicaranya terkesan datar. Khas seorang Kim Lian.

“Jangan memancing emosiku, Li!” Sentak Chanyeol

“Bukankah kau sudah emosi?” Balas Lian bengis. Tatapannya masih sama. Datar.

Chanyeol sudah cukup waras untuk tidak terpancing amarahnya. Sumpah demi apapun! Chanyeol sangat mengkhawatirkan kondisi Lian. Bibir wanita itu mulai membiru.

“Masuk!” Titahnya dengan suara rendah.

“Kali ini siapa lagi?” Tanya Lian yang membuat Chanyeol mengurungkan niatnya untuk melangkah. “Wanita mana lagi yang kau tiduri?” Sambung wanita bermarga Kim itu.

“Jangan mulai, Lian.”

“Cih! Bahkan wanita jalang itu meninggalkan bekas lipstiknya.” Desis Lian sambil memalingkan wajahnya.

Tangan Chanyeol terkepal erat. Bahkan buku-buku jarinya terlihat memutih. Dia marah dan menyesal secara bersamaan. Seharusnya dia tidak lupa kalau istrinya ini mempunyai banyak mata.

Kau menyakitinya lagi, bajingan!

“Kau tidak mendengarku? Kubilang masuk!” Kembali Chanyeol berucap tak terbantahkan. Tangannya menggenggam tangan Lian dan sedikit menyeretnya masuk.

“Jangan menyentuhku, brengsek.” Suara rendah Lian membuat Chanyeol menghentikan langkahnya. Otomatis langkah Lian ikut terhenti.

Chanyeol menatap Lian tajam. Tangannya masih menggenggam tangan Lian. Bahkan kali ini lebih erat. Rahangnya mengetat.

Kau lihat? Istrimu bahkan tidak sudi kau sentuh.

“Kali ini tidak lagi, Li. Kau. Harus menuruti kataku. Sekali saja.” Chanyeol berusaha menekan egonya demi kondisi Lian yang makin mengkhawatirkan.

“Jangan ikut campur urusanku. Urusi saja wanita-wanita jalangmu itu.”

“Bisakah kau tidak merendahkanku sekali saja?!” Sentak Chanyeol dengan nafas memburu.

“Aku. Bicara. Kenyataan. Singkirkan tanganm-”

Ucapan Lian langsung terhenti saat bibirnya dibungkam dengan bibir Chanyeol. Sejak tadi pria itu sudah cukup bersabar menghadapi istrinya yang keras kepalanya tidak ada yang menandingi. Bahkan dia meninggalkan klien kerjanya yang datang jauh-jauh dari Jerman karena sebuah pesan yang detik itu juga berhasil membuatnya memecahkan sebuah vas.

Tangan Lian terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. Dia masih cukup sadar saat bibir Chanyeol menempel di bibirnya. Rasa sakit itu kembali menggerogotinya. Mati-matian Lian menahan air matanya yang siap tumpah. Semua sumpah serapah dia ucapkan dalam hati kepada pria yang saat ini masih menciumnya. Lian bisa saja mendorong Chanyeol agar menjauh. Tapi hatinya berkata lain.

Biarkan sekali saja aku melukai harga diriku. Aku merindukannya.

Lian memejamkan matanya. Membiarkan rasa sakit itu memakan habis hatinya. Toh, benda satu itu tidak lagi berguna untuknya. Lian membiarkan Chanyeol melumat bibirnya. Menyecapi rasa manis bibirnya yang kini bergetar hebat karena kedinginan dan menahan perih.

Chanyeol tidak peduli kalaupun Lian akan marah. Tindakan gilanya ini pasti menimbulkan luka lagi dalam hati Lian. Biarkan saja. Chanyeol ingin menghilangkan warna kebiruan di bibir sang istri akibat kedinginan. Selain itu, dia merindukan rasa manis bibir cherry istrinya. Dia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan guna mencari posisi nyaman sekaligus agar Lian tidak kehilangan pasokan udara. Lian hanya diam mematung dalam setiap lumatan yang diberikan Chanyeol.

Hingga akhirnya Chanyeol merasakan tubuh istrinya melemah. Dengan sigap dia menahan pinggang Lian dengan kedua tangannya. Dia menjauhkan wajahnya dan mendapati wajah pucat pasi Lian dengan bibir yang bergetar. Mata Chanyeol membola lebar.

“Jangan menyentuhku, brengsek. Aku tidak sudi disentuh tangan kotormu.” Ucap Lian lirih dengan mata nyaris terpejam. Tatapan matanya mengisyaratkan kebencian.

“Jangan bicara. Kau menggigil, Li.” Ucap Chanyeol panik.

“Jangan pedulikan aku.”

“KAU BISA MATI, PARK LIAN!” Teriak Chanyeol saking cemasnya.

Tanpa mempedulikan Lian yang terus memberontak, dia mengangkat tubuh Lian yang makin kurus ke kamar mereka.

“BAEKHYUN, PANGGIL DOKTER!” Teriak Chanyeol saat kakinya berlari menyusuri tangga.

Para pelayan terkejut saat melihat majikan mereka berlarian dengan sang istri yang sudah tak sadarkan diri. Di tempatnya, Baekhyun diam mematung melihat Lian yang pingsan. Bukan yang pertama kalinya Lian melukai dirinya sendiri. Dan Baekhyun merasa sangat tidak berguna karena selama ini dia gagal menjaga adik tirinya.

**

Setelah mengganti semua pakaian Lian yang basah dengan pakaian yang lebih hangat, Chanyeol menyelimuti tubuh menggigil Lian. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri yang kembali membuat istrinya harus berurusan dengan dokter. Sungguh Chanyeol sangat mencintai wanita yang saat ini berada di pelukannya. Tapi memang predikat brengsek dan bajingan tidak bisa lepas dari seorang Park Chanyeol.

Park Chanyeol adalah seorang pria yang ambisius, ditaktor, dan harus dapat apa yang dia inginkan. Termasuk dalam hubungan seks. Bukan hal yang sulit bagi Chanyeol untuk mendapatkan wanita yang dengan rela menyerahkan lubang mereka untuk Chanyeol. Sekali tatap, wanita-wanita seksi akan langsung bisa dia ajak naik ke atas ranjang.

Bagi Chanyeol, nafsu nomor satu kemudian hati. Dia selalu mengesampingkan fakta kalau dia sudah beristri saat sudah bersama para jalang. Kenapa tidak meminta Lian saja? Sudah. Hanya saja Lian sudah tidak sudi menyerahkan tubuhnya untuk seorang bajingan seperti Chanyeol. Cukup tiga kali saja bagi Lian sebelum akhirnya wanita malang itu tahu bagaimana bejatnya sang suami.

Setidaknya kenyataan bahwa sang suami pernah menghamili salah satu simpanannya sudah menjadi kenyataan paling pahit bagi Lian. Lian sudah tersakiti terlalu dalam. Dan sejak itu dia muak melihat suami brengseknya. Belum cukup dengan menjadikannya mainan, hingga akhirnya Chanyeol membuat jalangnya hamil yang kemudian janin haram itu meninggal saat masih berusia tiga bulan.

Chanyeol bangun dari berbaringnya saat pintu terbuka dan menampilkan Baekhyun dengan penampilan kusutnya.

“Dokter sudah datang.” Ucap Baekhyun sesaat kemudian.

Chanyeol menyingkir dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Baekhyun memberikan jalan untuk dokter masuk. Saat itu juga, mata Chanyeol langsung melotot tajam. Tangannya terkepal erat dan rahangnya mengeras. Dia berjalan cepat guna bisa mencapai dokter itu. Chanyeol mencengkram kerah kemeja sang dokter.

“Apa yang ada di otakmu sampai kau berani masuk ke dalam rumahku, sialan?” Desis Chanyeol dengan mata menyalang ke arah dokter di depannya.

Taehyung, dokter pribadi keluarga Lian sekaligus seseorang di masa lalu Lian, menepis tangan Chanyeol dengan kasar. Wajahnya datar. Taehyung menatap Chanyeol tak kalah tajam.

“Dari semua dokter di Seoul, kenapa harus kau yang datang?!” Sentak Chanyeol

“Kau pikir kau siapa? Urusi saja jalang-jalangmu itu.” Sahut Taehyung tenang.

Chanyeol tidak bisa lagi menahan emosinya. Baru saja dia hendak melayangkan tinju untuk Taehyung, sebuah tangan sudah menahannya. Dilihatnya Baekhyun dengan wajah lelahnya.

“Tidak tahukah kalian kalau adikku sedang sekarat?” Lirihnya sambil menatap Chanyeol dan Taehyung bergantian.

Tanpa mempedulikan tatapan bengis Chanyeol, Taehyung berjalan menuju ranjang tempat dimana wanita yang dulu pernah dia cintai terbaring. Dia meringis saat melihat wajah pucat Lian. Kemudian dokter muda itu mulai mengeluarkan alat-alat periksanya.

“Kupikir dengan aku melepasmu kau akan bahagia.” Ucap Taehyung dalam hati. Kemudian dia mulai memeriksa kondisi Lian.

Taehyung meringis saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Lian. Sebenarnya apa yang terjadi? Itulah yang sejak tadi memenuhi kepalanya saat tiba-tiba Baekhyun menghubunginya bahwa Lian sakit. Lian yang sekarang sangat berbeda dengan Lian yang dia temui sembilan tahun yang lalu. Setidaknya, dulu dia masih bisa melihat senyum tipis Lian yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dia pikir dengan merelakan Lian kepada Chanyeol, hidup gadis itu akan berubah. Dia menaruh harapan besar pada Chanyeol karena Lian selalu antusias saat bercerita tentang pertemuan mereka. Bahkan Taehyung harus rela menelan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Namun apa yang terjadi? Lian kembali dilukai. Chanyeol menjadikan Lian taruhan sekaligus berselingkuh di belakang Lian.

Detik saat Taehyung mengetahui fakta itu, detik itu juga Chanyeol langsung terbaring di rumah sakit karena mendapat pukulan membabibuta darinya. Usia pernikahan mereka saat itu masih berusia dua bulan. Pernikahan mereka bukan murni atas kemauan mereka. Melainkan perjodohan.

Taehyung melepaskan stetoskopnya dan kemudian membereskan alat-alatnya. Dia menatap Lian sekali lagi sebelum dia benar-benar harus pergi.

“Berbahagialah, Li. Agar aku tenang saat jauh darimu.” Ucap Taehyung dalam hati sambil mengelus-elus kepala Lian.

Lagi-lagi Chanyeol harus dibuat marah saat melihat Taehyung menyentuh istrinya. Dia memilih untuk memalingkan wajahnya daripada harus menyaksikan pemandangan menyakitkan di depannya. Chanyeol sadar seratus persen kalau rasa sakit yang Lian rasakan lebih dari rasa sakitnya.

“Bagaimana? Apakah ada yang serius?” Tanya Baekhyun sambil berjalan mendekati Taehyung.

“Apa lagi yang dilakukan si brengsek itu sampai membuat Lian seperti ini?” Ucap Taehyung pelan. Dia hendak berdiri namun tangannya ditahan oleh Lian.

Taehyung menatap tangannya dan Lian bergantian. Dia bernafas lega saat melihat mata Lian terbuka. “Li? Kau sadar?” Bisik Taehyung

Baekhyun dan Chanyeol yang mendengar ucapan Taehyung langsung beringsut mendekat. Keduanya bernafas lega saat melihat mata Lian yang sepenuhnya sudah terbuka. Chanyeol hendak duduk di samping Lian, namun tertahan saat melihat tatapan terluka Lian. Siapa yang tahan dengan tatapan terluka itu?

“Apa yang kau lakukan sampai kau kedinginan seperti ini?” Tanya Taehyung dengan nada kawatirnya. Tangannya mengusap-usap pipi Lian.

Nan gwaenchanha.” Ucap Lian pelan.

“Aku sangat kawatir, Li. Kumohon jangan sakit lagi.” Lirih Taehyung dengan nada meminta.

“Pulanglah. Kau sangat kelelahan.”

“Aku akan menemanimu sampai kau tidur.”

“Aku ingin sendiri. Jangan khawatirkan aku.” Tolak Lian

Taehyung menghela nafas pasrah. Sekalipun Lian tidak pernah berkata kasar padanya, dia tetap tidak berani untuk membantah. “Baiklah. Segeralah sembuh.” Ucap Taehyung sambil mengelus-elus kepala Lian. Lian hanya membalas dengan anggukan pelan.

Kemudian Taehyung pergi dengan diantar Baekhyun. Selepas kepergian Taehyung dan Baekhyun, Chanyeol langsung duduk di samping Lian. Bohong kalau dia tidak khawatir. Dia sangat khawatir. Hanya saja Chanyeol tipe orang yang sulit mengekspresikan perasaannya. Bodohnya lagi, dia tidak bisa berhenti melukai istrinya.

Lian kembali membuka matanya saat merasakan usapan lembut di pipinya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah khawatir Chanyeol. Lian memalingkan wajahnya. Melihat wajah Chanyeol hanya akan membuatnya lemah.

“Maafkan aku.” Ucap Chanyeol pelan.

“Aku bosan mendengar permintaan maafmu.” Sahut Lian dengan suara paraunya.

Chanyeol menghela nafas panjang. Lalu dia berbaring di samping Lian dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk sang istri. Tidak ada penolakan seperti biasanya. “Tidurlah.” Bisiknya sambil membenarkan selimut Lian.

Lian membiarkan tangan Chanyeol memeluknya. Biarkan sekali saja dia melukai harga dirinya. Dia terlalu merindukan Chanyeol. Suami brengseknya. Maka, dia ingin merasakan hangatnya pelukan Chanyeol di sekitar perutnya. Merasakan hangatnya deru nafas Chanyeol yang menerpa wajahnya. Nyaman. Masih sama.

Lian bergerak gelisah dalam pelukan Chanyeol. Ternyata membiarkan Chanyeol memeluknya merupakan opsi buruk. Lian kembali ingat kalau tangan yang saat ini melingkari perutnya adalah tangan yang juga digunakan untuk menjamah tubuh para jalang di luar sana. Mengingat itu semua membuat Lian harus kembali menekan rasa nyeri di dadanya. Andai saja dia punya kekuatan lebih dan ego tidak sedang menguasainya, Lian akan menepis dengan kasar tangan Chanyeol.

Merasakan pergerakan gelisah dari istrinya, Chanyeol membuka matanya. Dia menatap Lian cemas. “Sayang? Ada apa?” Tanyanya cemas sambil membawa kepala Lian untuk bersandar pada dadanya.

Sekali lagi air mata itu kembali mengalir di pipi Lian. Sekuat dan sedingin apapun seorang Kim Lian, pertahanannya akan runtuh saat benar-benar merasa lelah.

“Aku membencimu, sialan.” Desis Lian dengan suara bergetar.

Chanyeol menghela nafas panjang. Tangannya tidak berhenti mengelus-elus rambut sang istri. “Aku mencintaimu.” Balas Chanyeol lalu mencium puncak kepala Lian.

**

“Setelah adanya mereka kau masih bisa mengelak?”

“Bukan begitu. Aku-“

“Bahkan kalian sudah berselingkuh sebelum kita menikah?!”

“Dengarkan aku dulu.”

“Apa yang harus kudengarkan?! Kau membohongiku! Kau mengkhianatiku!”

Lian bersembunyi di balik dinding saat melihat kedua orangtuanya bertengkar hebat. Disana dia juga melihat seorang wanita yang tengah menggandeng seorang anak laki-laki. Siapapun mereka, yang jelas Lian membencinya karena kedua orangtuanya mulai bertengkar saat dua orang itu datang.

Ingin rasanya Lian keluar dari persembunyiannya dan memeluk ibunya. Dia tidak suka melihat ibunya menangis. Ibunya adalah mataharinya. Bukankah matahari tidak pernah mengeluarkan air? Tapi apalah daya dia yang hanya seorang gadis kecil berumur tujuh tahun?

Jadi, Lian hanya bisa menunggu ibunya datang menghampirinya. Memeluknya. Mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Sekarang kau yang tentukan! Aku dan Lian pergi atau kau mengusir mereka!” Ibu Lian nampak murka dengan wajah penuh air mata sambil menunjuk wanita yang berada di samping Ayah Lian.

Lian tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak keluar. Dia takut. Dia tidak ingin pergi dari rumah. Dia ingin tinggal bersama ayah dan ibunya.

“Tidak bisa.” Suara lemah Ayah Lian terdengar.

“Baik. Aku dan Lian akan meninggalkan rumah ini.” Ibu Lian hendak melangkah pergi namun ditahan Ayah Lian.

“Tidak bisa! Kalian tidak boleh meninggalkan rumah ini!” Teriak Ayah Lian

“Kalau begitu suruh jalangmu itu pergi!”

Plak!

Lian melotot kaget saat Ayahnya menampar Ibunya. Selama ini Ayahnya tidak pernah berbuat kasar. Tapi kenapa sekarang dia malah menampar ibunya? Kaki Lian tidak bisa dicegah untuk berhenti. Dia berlari mendekati sang ibu yang tengah menangis sambil memegangi pipinya.

Lian memeluk kaki Ibunya. Dia ikut menangis. Takut dan kecewa bercampur jadi satu.

Kim Jeha, Ayah Lian, tampak kaget saat tiba-tiba putri kecilnya datang. Dia menatap tangannya yang bergetar dengan penuh penyesalan. Putri kecilnya pasti sangat ketakutan.

“Eomma…” Bisik Lian ditengah isakannya.

Anna, Ibu Lian, jongkok dan memeluk putri kesayangannya. “Tak apa, sayang.” Bisiknya sambil mencium puncak kepala Lian.

Lian beralih menatap ayahnya sengit. Dia kecewa karena pria yang selama ini dia banggakan melukai ibunya. Bahkan saat Jeha hendak menyentuhnya, dia langsung menghindar.

“Sayang?”

“Appa jahat! Appa memukul Eomma! Aku benci Appa!” Jerit Lian

“Sttt, sayang, jangan seperti itu. Eomma baik-baik saja.”

“Tapi Appa menyakiti Eomma. Mereka juga membuat Appa dan Eomma bertengkar. Aku benci mereka.” Lian menunjuk wanita yang berada di samping ayahnya dan juga bocah kecil itu.

“Lian!”

“Jangan membentak putriku!” Anna balas membentak Jeha karena tidak terima putrinya dibentak.

“Eomma…” Lian semakin menangis tersedu-sedu saat ayahnya baru saja membentaknya.

“Maafkan Appa, sayang.” Jeha kembali berusaha menyentuh putrinya. Namun lagi-lagi Lian menghindar. Lian sangat takut dengan ayahnya saat ini.

“Sayang, apa kau mau ikut Eomma ke rumah Eomma? Kita tinggal disana berdua.” Ucap Anna hati-hati.

“Lian tidak mau! Lian hanya mau tinggal disini bertiga! Appa, suruh mereka pergi! Mereka membuat Eomma menangis.”

“Tidak, sayang. Kita akan pergi.” Paksa Anna

“Anna, kumohon.” Pinta Jeha dengan wajah penyesalannya.

“Seharusnya kau berpikir dulu saat ingin menikahiku dulu. Aku menyesal. Ayo, sayang.” Anna menggandeng tangan Lian hendak pergi.

“Biarkan aku saja yang pergi.” Akhirnya wanita itu angkat suara.

“Tidak! Kalian semua harus tetap disini!” Seru Jeha frustasi.

“Eomma, aku takut.” Lirih Lian

“Kau menakuti putrimu! Terserah apa maumu! Aku akan pergi bersama Lian!” Ucap Anna sambil kembali menggandeng Lian untuk pergi.

“Eonni, jangan pergi.” Wanita itu menahan lengan Anna. 

Melihat tangannya dipegang oleh wanita selingkuhan suaminya, langsung saja Anna menepisnya dengan kasar hingga wanita itu tersungkur ke lantai.

“Jangan gunakan tangan kotormu itu untuk menyentuhku, jalang!” Desis Anna

“Jaga bicaramu, Anna!” Sentak Jeha lagi sambil membantu wanita itu berdiri.

“Kalau kau mau pergi, pergilah! Tapi jangan pernah membawa Lian!”

“Jadi kau memilih wanita itu? Sebegitu tidak berharganyakah aku di matamu? Kau bahkan memilih wanita itu daripada istrimu sendiri!” Air mata Anna semakin deras mengalir.

Lian hanya diam terisak melihat orangtuanya saling berteriak. Dia sangat takut.

“Baiklah. Aku akan pergi. Kita bercerai.” Putus Anna

Mendengar kata cerai dari mulut sang istri langsung membuat Jeha melotot kaget. Dari semua kata yang ada, dia menghindari kata maksiat itu agar tidak keluar dari mulut Anna. Cerai berarti kiamat. Dia tidak bisa. Dia terlalu mencintai Anna.

“Sayang, kau tidak bisa mengambil keputusan gegabah.”

“Kau juga tidak bisa menyakitiku! Lian sayang, tetaplah disini. Jangan ikuti Eomma.” Anna menghapus air mata putrinya.

“Eomma, aku takut.”

“Tak apa, sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis. Kau gadis yang kuat. Kau harus menjadi wanita kuat, sayang. Jangan lemah seperti Eomma.”

“Anna-“

“Eomma mencintaimu. Eomma akan selalu datang untuk melihatmu. Berjanjilah pada Eomma kalau kau tidak akan membenci mereka. Mereka akan menyayangimu seperti halnya Eomma.”

“Eomma, aku juga menyayangimu. Aku ingin bersama Eomma terus.” Lian memeluk ibunya dengan erat.

“Tidak bisa, sayang. Eomma harus pergi jauh. Lian disini bersama Appa, ahjumma, dan ahjussi. Mereka berdua juga akan menjadi keluargamu.” Susah payah Anna mengatakan itu semua. Dia berusaha melawan rasa sakitnya agar putrinya tidak takut.

“Eonni-“

“Eomma mencintai Lian.” Bisik Anna lalu mencium kening Lian cukup lama.

Jeha hanya diam mematung di tempatnya. Bahkan dia ikut menangis. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik.

“Ahjumma!” Anna memanggil pelayan rumah mereka.

“Ya, nyonya?”

“Tolong jaga putriku. Aku harus pergi sekarang.” Anna menyerahkan Lian pada pelayan rumah mereka.

Shin Ahjumma hanya menuruti perintah majikannya. Dia hanya pelayan dan tidak berhak ikut campur. Dia juga tidak tuli untuk mendengar semua pertengkaran itu. Air mata Shin Ahjumma juga ikut mengalir.

Kemudian Annapun mulai melangkah pergi meninggalkan Lian yang masih menangis sambil berteriak memanggilnya. Jeha seolah tersadar. Dia mengejar istrinya agar tetap tinggal. Sungguh dia menyesal telah mengucapkan kalimat itu.

“Eomma!” Jerit Lian sambil berlari mengejar Anna.

“Nona!” Shin Ahjumma mengikuti Lian yang sudah berlari mengejar ibunya.

“Eomma!” Lian terus berteriak memanggil ibunya.

Brak!

Semuanya terjadi begitu cepat. Tubuh Anna terpental jauh di jalanan hingga berakhir dengan membentur pembatas jalan. Jeha dan Shin Ahjumma berteriak histeris saat melihat Anna yang sudah tergeletak di jalan dengan tubuh dan wajah penuh darah. Jeha langsung berlari menghampiri istrinya. Memangku kepala sang istri.

Lian masih diam mematung setelah menyaksikan kejadian yang baru pertama kali dia lihat. Dia menatap mobil yang baru saja menabrak ibunya dan ibunya yang sudah tergeletak dengan darah dimana-mana bergantian.

“Eomma…” Lirih Lian hendak berjalan mendekati ibunya namun langsung ditahan oleh Shin Ahjumma. Bahkan matanya juga ditutupi.

Lian duduk dengan kedua lutut ditekuk di depan pintu ruang operasi. Tangisnya tidak mau berhenti. Sudah lebih dari dua jam ibunya berada di dalam ruang operasi. Lian takut. Sangat takut sampai siapapun yang mengajaknya bicara hanya dia diamkan.

Lian masih sangat ingat saat mobil itu menabrak tubuh ibunya. Wajah Anna yang penuh darah. Anna yang memejamkan matanya dan tidak mau dia ajak bicara. Ingatan terakhirnya berhenti saat ibunya menangis karena kedatangan tiba-tiba orang asing. Lalu ayahnya yang menampar ibunya. Ayahnya yang membentak ibunya. Lian sangat ingat. Hingga akhirnya Anna meninggalkannya.

Lian bangun dari duduknya saat mendengar suara pintu digeser. Dia menghapus air matanya dan segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. “Dokter, dimana Eomma? Apa Eomma sudah bangun?” Tanya Lian

Dokter itu tampak menghela nafas berat. Dia menatap Lian iba. “Maafkan dokter.” Ucap dokter itu pelan.

Jeha, Shin Ahjumma, dan dua orang yang membuat ibu Lian menangis langsung menangis histeris. Jeha seolah mendapat pukulan keras saat mendengar permintaan dokter. Bukan kata itu yang dia inginkan.

“Dokter, Eomma masih bisa bermain dengan Lian, kan? Kenapa dokter minta maaf? Lian tanya apa Eomma sudah bangun, bukan minta dokter minta maaf.” Tanya Lian lagi.

Lian memang cerdas. Dia bukan tidak paham dengan maksud sang dokter. Hanya saja Lian masih belum percaya. Bisa saja mereka mengerjainya karena sebentar lagi ulangtahunnya.

“Eomma sudah tidur dengan tenang. Lian tidak bisa bermain dengan Eomma sekarang.” Jawab dokter itu. Bahkan dokter itu juga ikut menangis karena merasa kasihan dan bersalah pada gadis kecil di depannya.

“Sayang…” Jeha hendak mendekati Lian namun Lian kembali menghindar.

Melihat penolakan putrinya membuat Jeha beribu-ribu kali lebih terpukul. Bahkan putrinya tidak sudi disentuh olehnya.

“Dokter, kata guruku di sekolah kau punya tangan ajaib yang bisa menyembuhkan manusia. Tapi kenapa dokter tidak bisa membuat Eomma bangun? Lian ingin ikut Eomma. Lian takut.”

“Maafkan dokter, ya, cantik. Dokter sudah berusaha semampu dokter, tapi Eomma tidak bisa bangun lagi. Tuhan terlalu menyayangi Eommamu.” Dokter itu menghapus air mata Lian.

“Eomma tidak boleh pergi meninggalkan Lian sendiri! Eomma!” Jerit Lian tersedu-sedu.

“Maafkan dokter, sayang.” Ucap dokter itu lagi.

“Sayang, sudah. Biarkan Eomma tidur dengan tenang. Lian tidak boleh menangis.” Jeha mendekati putrinya dan menghapus air mata Lian.

“Appa jahat! Appa yang membuat Eomma menangis. Seharusnya Appa tidak memukul dan membentak Eomma. Sekarang Eomma pergi! Lian sendiri. Eomma!” Lian semakin keras menangis dan hendak masuk ke dalam ruang operasi namun Jeha langsung menahannya.

“Maafkan Appa, sayang. Appa menyesal. Maafkan Appa.” Lirih Jeha sambil menggenggam tangan mungil Lian.

“Eomma sudah pergi! Appa jahat! Kalian juga! Seharusnya kalian tidak datang agar Eomma tidak menangis! Appa dan Eomma bertengkar karena kalian!” Lian beralih memarahi dua orang yang sejak tadi diam terisak.

“Sayang, mereka tidak bersalah. Appa yang salah. Jangan salahkan mereka.”

“Kalian yang membuat Eomma meninggal! Aku benci kalian!” Jerit Lian makin tak terkendali. Gadis kecil itu sudah menjadi tontonan para dokter dan perawat saat ini. Mereka menatap Lian iba.

“Nona…”

“Eomma!!!”

.

.

.

.

.

To be continue~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

2 thoughts on “I Hate You, I Love You #1

  1. Hallo salam kenal 🤗
    Ijin baca ceritanya yak..
    Aku baca cerita ini feelnya dapet bgt, sedih beneran sampe mo nangis bahasanya juga bagus pokoknya ditunggu nextnya jgn lama” hihihi
    Keeep writing 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s