Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 3


Fool For You Part 3

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

“Apa yang kau lakukan disini sendirian, boy?” Tanya Lian mencoba menutupi rasa gugupnya.

Fellix kembali menundukkan wajahnya. Seolah enggan menanggapi Lian. Lian hanya mengangkat sebelah alisnya karena diabaikan oleh Fellix. “Siapa yang menjemputmu?” Tanya Lian lagi.

“Eomma.” Lirihnya sambil menggenggam ponselnya erat. Lian semakin dibuat bingung dan sedih dalam waktu yang bersamaan.

“Apa Eommamu sudah datang? Kalau belum, aku akan menemanimu.”

“Eomma tidak akan datang.” Sahut Fellix cepat.

Lian mendelik kaget. Apa maksudnya? Sejenak Lian menatap Marcus yang menunggu di mobil. Dia memberi isyarat agar menunggunya sebentar.

“Eomma sudah meninggal.”

Story Begin~

Mendengar tiga kalimat itu langsung membuat Lian mematung seketika. Suara bising di sekitarnya tidak bisa tertangkap indera pendengarannya. Pandangan Lian kosong. Pikirannya kacau. Tiga kalimat yang terucap dari bibir seorang bocah lima tahun yang berhasil membuat Lian kacau. Hati dan pikirannya. Semua ingatan kelam sebelas tahun silam kembali memenuhi kepalanya. Sekali lagi, sebuah kenyataan pahit menghantamnya cukup keras.

Lena sudah meninggal mengenaskan di depan matanya dengan genangan darah dimana-mana. 

Eomma sudah meninggal.

Tiga kalimat itu terus berputar di kepala Lian. Nada datar dan wajah sedih seorang bocah lima tahun di depannya menjadi pusat perhatiannya saat ini. Air mata sudah menggenang di sudut matanya. Jeritan Lena bercampur suara petir, bunyi pedang yang saling beradu, gemuruh hujan, dan suasana gelap itu kembali memenuhi kepala Lian. Tatapan sayu Lena dan hembusan nafas terakhirnya. Lian hampir gila setiap kali mengingat kejadian itu. Dia berulang kali memaki tindakan heroik Lena malam itu.

Seharusnya mereka kabur atau bersembunyi. Bukan malah Lena yang menyembunyikannya di bawah ranjang dan bertarung dengan para penjahat itu. Lian selalu menyalahkan dirinya yang tidak bisa membantu Lena. Disaat Lena sedang bertaruh dengan nyawanya untuk melindunginya, justru dia hanya menyaksikan sambil menangis.

Entah sejak kapan air mata sialan ini jatuh. Lian bahkan tidak sadar kalau saat ini dia masih berada di tempat umum. Seluruh perhatiannya hanya terpusat pada bocah malang di depannya yang tengah menundukkan kepalanya sambil mengusap-usap layar ponselnya. Membayangkan bocah sekecil Fellix yang sudah tidak mempunyai ibu membuat Lian makin merasakan nyeri di dadanya. Hingga sebuah spekulasi itu muncul di kepalanya begitu saja.

Mungkinkah senyum bocah lima tahun ini hilang karena kepergian ibunya? Kepergian ibunya pasti juga membawa serta senyum Fellix sehingga Fellix hanya menampilkan wajah dinginnya. Pasti Fellix sangat kesepian. Diumurnya yang masih kecil seharusnya dia bisa merasakan bagaimana diantar dan dijemput oleh sosok ibu tapi Fellix bahkan tidak pernah merasakannya sekalipun.

Lian merasa kecil seketika. Dia lebih beruntung dari Fellix. Tapi dia tidak lebih kuat dari bocah kecil itu. Lian hanya sibuk menyalahkan diri sendiri dan menghindar dari ketakutan. Bukannya menerima kenyataan. Tangan Lian terulur untuk mengelus-elus rambut coklat Fellix. Rasa ingin berada di samping Fellix tiba-tiba saja muncul. Lian ingin mengembalikan senyum Fellix.

Merasakan sebuah usapan hangat di kepalanya, Fellix langsung mendongakkan wajahnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Lian menangis. Fellix langsung menangkup wajah Lian dengan tangan mungilnya. “Noona? Kenapa noona menangis?” Tanyanya cemas.

Lian tidak dapat menahan senyumnya melihat wajah cemas Fellix. Bagus. Dia bisa melihat ekspresi Fellix yang lain. Lian memegang tangan kecil Fellix yang menangkup wajahnya sambil menghapus air matanya. “Aku teringat dengan Mom.” Jawab Lian jujur sambil berusaha memaksakan senyum.

“Pasti Fellix membuat noona sedih.” Ujar Fellix pelan sambil mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Lian. “Dimana ibu noona?” Tanya bocah kecil itu kemudian.

Mendengar pertanyaan Fellix membuat Lian harus kembali menahan air matanya yang siap meledak. Dia harus kuat. “Mom sudah meninggal.”

Fellix sedikit membulatkan matanya begitu mendengar ucapan Lian. Kemudian terlihat jelas sekali wajah penyesalan dari Fellix. “Mianhae, noona. Aku tidak bermaksud membuat noona menangis.” Lirihnya sambil menundukkan kepalanya.

Lian tersenyum tipis melihat penyesalan dari Fellix. Dia mengusap-usap kepala Fellix membuat Fellix kembali mendongak menatapnya. “I’m fine, boy. Hey! Jangan merasa bersalah.”

“Tapi noona menangis. Aku tidak suka melihat noona menangis.” Sahut Fellix masih dengan wajah penyesalannya. Lian bahkan dibuat gemas melihatnya. Fellix terlihat lebih tampan jika ekspresif.

Sudah hampir setengah jam Marcus menunggu sepupunya itu di dalam mobil. Diapun masih bingung ada hubungan apa Lian dengan bocah kecil itu sampai Lian rela turun dari mobil. Seingatnya Lian tidak mempunyai teman di Korea karena memang ini hari pertama Lian di Korea setelah beranjak dewasa. Jadi mana mungkin Lian punya hubungan dengan bocah lima tahun itu. Dia mengenal Lian dengan baik dan hampir semua teman-teman Lian dia tahu.

Siapapun bocah itu, Marcus tidak terlalu mau ambil pusing. Matanya tetap awas memperhatikan suasana sekitar. Suasana ramai seperti ini biasanya akan mudah bagi musuh untuk memata-matai atau parahnya berbuat jahat. Jadi, Marcus tetap harus siaga dibantu beberapa kawannya yang berada tak jauh dari mobilnya.

Marcus kembali mengawasi Lian. Sebuah senyum tipis terbit dari bibir tebalnya. Lian benar-benar penyayang anak kecil. Lian bisa tersenyum lebar ketika bersama anak kecil. Seumur hidupnya, Marcus tidak pernah menemukan manusia berhati mulai dan mempunyai jiwa sosial tinggi seperti Lian Jeon. Jiwa sosial Lian tidak main-main. Apalagi dengan anak kecil dan manula. Lian sangat ringan tangan. Bahkan Jungkook sampai takut kalau Lian dimanfaatkan karena saking baiknya.

Marcus baru akan memejamkan matanya saat matanya menangkap sesuatu yang membuatnya melotot kaget. Ini buruk! Apa yang terjadi sampai membuat Lian menangis di depan umum? Bagi siapapun yang mengenal Lian dengan baik -seperti Jungkook, Frank, Anna, Aiden, dia, Kate, Jin, dan teman-teman dekat lainnya- tidak ada yang lebih buruk dari melihat Lian menangis. Mereka sangat tahu bagaimana terpuruknya gadis itu saat kematian Lena hingga membuat Lian harus terbaring di rumah sakit selama tiga hari dengan vonis tifus.

Marcus memakai kaca mata hitamnya dan turun dari mobil. Pekikan dari para gadis langsung terdengar begitu Marcus keluar dengan penampilan yang bisa membuat pada gadis meneteskan air liur. Marcus tidak mempunyai waktu untuk meladeni mereka. Dia melangkah lebar mendekati Lian.

“Siapa yang menjemputmu? Kenapa kau disini sendirian?” Tanya Lian begitu sadar kalau Fellix hanya seorang diri.

“Aku memang sendiri. Noona mau pergi kemana?” Jawab dan tanya balik Fellix.

“Li? Are you okay?” Pertanyaan Marcus menginterupsi pembicaraan Lian dan Fellix. Dia memegang pundak Lian dan menatap Lian cemas.

Lian balas menatap Marcus dengan tatapan protes seolah mengatakan, ‘bukankah aku bilang tunggu sebentar?’. Tapi sarkasmenya tersebut tidak membuat kecemasan Marcus berkurang. Bahkan dia tidak peduli dengan tatapan protes Lian. Sementara itu Fellix tampak menatap Marcus dengan tatapan tidak suka. Dia tidak suka Marcus yang tiba-tiba datang dan mengganggu pembicaraannya dengan Lian.

Tatapan Marcus beralih pada bocah kecil di samping Lian yang menatapnya dingin. Rasa sebal langsung saja menyerangnya. “Kau yang membuat Lian menangis?” Todongnya dengan wajah segarang mungkin.

“Ya, Marcus!” Lian memukul lengan Marcus.

Fellix memutar bola matanya malas. Dia balas menatap Marcus tanpa rasa takut sedikitpun. “Kau siapa?” Tanyanya datar.

Marcus tercengang mendengar pertanyaan singkat bocah lima tahun itu. Bagaimana bisa bocah sekecil itu tidak takut dengannya? Dan bagaimana bisa dia mati kutu hanya karena pertanyaan dingin dari seorang bocah lima tahun? Lian spontan menutup mulutnya agar tawanya tidak menyembur begitu melihat wajah tercengang Marcus. Baru kali ini seorang Marcus Cho atau Cho Kyuhyun dibuat tidak bisa berkata-kata.

Tentu saja Lian tidak lupa kalau Marcus mempunyai rasa tidak suka yang teramat besar pada makhluk polos tak berdosa yang bernama anak kecil.

Mereka merepotkan.

Sebuah alasan tidak masuk akal dari seorang Marcus. Diusianya yang dua puluh delapan, seharusnya Marcus sudah bisa menggendong bayi. Tapi nyatanya pada makhluk tak berdosa itu saja Marcus sangat tidak menyukainya.

“Ya! Kau…”

“Fellix, dia sepupuku. Namanya Cho Kyuhyun.” Lian memotong ucapan Marcus. Dia sedikit memberikan pelototan pada Marcus untuk menjaga sikapnya pada anak-anak.

Diam-diam Fellix bernafas lega mendengar kalau pria itu ternyata sepupu Lian. Bukan seseorang yang Fellix tidak harapkan. Kekasih mungkin. Karena entah mengapa sejak pertama kali melihat Lian, Fellix langsung ingin menjadikan Lian sebagai seseorang yang bisa selalu dekat dengannya. Yang jelas hanya menjadi miliknya seorang.

Beralih dari Fellix yang berhasil membuatnya tercengang beberapa saat, Marcus kembali menatap Lian cemas. Dia menangkup kedua pipi Lian. Membuat Lian mendelik kaget. “Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Siapa yang menyakitimu?” Tanya Marcus beruntun.

Lian mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Dia melihat ke sekelilingnya dan sadar kalau saat ini tengah menjadi pusat perhatian. “Aku baik-baik saja. Dan lepaskan tanganmu. Kita dilihat banyak orang.” Desis Lian geram.

Marcus melihat sekitarnya dan langsung meringis saat tahu kalau mereka menjadi pusat perhatian. Diapun melepaskan tangannya dari pipi Lian. Sementara itu Lian hanya bersungut-sungut karena dia menjadi pusat perhatian saat ini. Pasti mereka mengira kalau dia dan Marcus suami-istri sedangkan Fellix anak mereka.

Lian sudah kebal menjadi kekasih bayangan Marcus. Dia selalu dikira kekasih Marcus karena memang saat di kampus dulu mereka selalu bersama. Berangkat, pulang, makan, dan melakukan aktivitas lain bersama-sama. Apalagi sikap Marcus yang sangat protektif dan jail membuat anggapan kalau mereka sepasang kekasih semakin kuat. Dan Lian harus menjadi bulan-bulanan para penggemar Marcus. Dia mendapat teror dimana-mana.

Marcus memang playboy cap kadal. Dia suka tebar pesona. Berbeda dengan Aiden yang kalem dan berwibawa. Membuat pria itu juga menjadi idola di universitasnya. Marcus dan Aiden memang beda universitas.

“Tunggu saja di mobil.” Ucap Lian kesal.

“Oke! Dan kau anak kecil! Jangan membuat Lian menangis.” Marcus berucap sewot pada Fellix.

“Ya! Kau harus ber-”

Ucapan Lian terhenti seketika saat dia merasakan ciuman hangat di keningnya. Pekikan heboh dari para gadis yang melihat langsung terdengar. Dengan gerakan slow motion Lian mendongakkan kepalanya menatap Marcus yang tersenyum miring menatapnya. Mulut Lian masih setengah terbuka.

“Memberi mereka tontonan sedikit sepertinya menyenangkan.” Bisik Marcus sambil mengacak-acak rambut Lian. Lalu dia meninggalkan Lian yang masih membeku di tempatnya.

Marcus tersenyum penuh kemenangan melihat wajah shock Fellix dan Lian. Desas-desus dari para gadis tentang betapa romantisnya dia masih terdengar. Dan itu membuat Marcus semakin besar kepala. Sementara itu Fellix juga masih tampak kaget setelah melihat adegan beberapa detik yang lalu. Benarkah mereka bersaudara? Itulah yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

Lian seolah tersadar dari lamunannya. Dia memberikan death glare pada Marcus. Aish! Sekarang dia benar-benar menjadi pusat perhatian. Lihat! Bahkan beberapa gadis menatapnya sinis. Marcus benar-benar keterlaluan. Memang dasar playboy ulung. Tidak cukup dengan para gadis di luar sana, sekarang suadaranya juga dirayu.

Lian beralih menatap Fellix yang masih tampak kaget. What the…!!! Fellix yang masih kecilpun melihatnya. Sekarang apa yang harus Lian katakan padanya? Lian menghembuskan nafas panjang dan berusaha tersenyum.

“Benarkah kalian hanya bersaudara?” Tanya Fellix tiba-tiba.

“Ya?” Lian spontan memekik. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Marcus memang seperti itu. Lupakan saja.” Jawab Lian kikuk.

Fellix beralih menatap Marcus sebal. Dia tidak terima kalau Lian dicium orang lain.

“Fellix, dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang.” Lian mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku tidak ingin pulang.” Ucap Fellix pelan sambil menundukkan kepalanya. Detik itu juga layar handphone Fellix berkedip tanda ada panggilan masuk. Tapi Fellix tidak langsung menjawab panggilan itu. Hanya memandanginya sendu.

“Kenapa tidak dijawab?” Tanya Lian sambil memegang pundak Fellix. Sekilas dia membaca nama ‘Haraboeji‘ tertera di layar ponsel Fellix. Pasti kakek Fellix kawatir.

“Bagaimana kalau kau ikut kami saja? Kau tidak boleh pergi sendirian di tempat ramai. Kakekmu pasti sangat kawatir sekarang.”

Fellix mengangkat kepalanya dan menatap Lian dengan ekspresi tak terbaca. Namun kemudian bocah lima tahun itu berdiri dan menggandeng tangan Lian. Menandakan kalau dia menerima ajakan Lian. Lian tersenyum senang dan langsung menuju mobil bersama Fellix.

**

Di tempat lain, Taejun tampak sangat kawatir karena Fellix tidak bisa dihubungi. Cucunya itu tiba-tiba menghilang saat supir menjemputnya. Dan saat ini Fellix tidak menjawab telepon darinya. Semua guru, teman-teman Fellix, dan Sohyun, kakak Taehyung, juga sudah Taejun hubungi. Tapi mereka tidak tahu keberadaan Fellix.

Fellix masih kecil jika harus berkeliaran sendiri di tempat ramai. Bocah itu tidak pandai berkomunikasi. Taejun takut kalau Fellix akan dibawa orang jahat. Cucunya masih sangat polos untuk tahu dunia luar yang kejam. Taejun sudah memerintahkan beberapa orang-orang kepercayaannya untuk ikut mencari Fellix. Tapi sampai saat ini belum ada kabar baik.

Younbi tak kalah cemasnya. Bahkan wanita paruh baya itu sudah menangis sejak supir mereka memberitahu kalau cucunya tidak ada di tempat murid menunggu jemputan. Younbi sangat takut kalau cucunya diculik oleh pesaing bisnis Taehyung. Hal itu bisa saja terjadi mengingat kondisi Taehyung yang seperti ini juga karena mereka. Kalau Taehyung tahu putranya hilang pasti dia akan sangat marah.

Yeobo, apa belum ada kabar?” Tanya Younbi lagi.

“Bersabarlah. Fellix akan baik-baik saja.” Jawaban yang sama yang diberikan Taejun saat Younbi bertanya.

Jawaban itu tidak membuat Younbi lebih baik. Justru dia semakin takut kalau tebakannya benar. “Cucuku…” Gumam Younbi sambil meremas-remas jarinya.

“Halo?” Younbi langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara suaminya menjawab telepon. Dia langsung mendekati Taejun.

“Astaga! Apa Fellix baik-baik saja, nak?” Tanya Taejun

Younbi menatap suaminya penasaran. Apa Fellix baik-baik saja?

“Lalu dimana dia sekarang?” Tanya Taejun lagi. Dia memberikan isyarat pada sang istri kalau Fellix baik-baik saja. Younbi sedikit bisa bernafas lega. Setidaknya Fellix baik-baik saja.

“Fellix sedang membeli makanan, sir. Kami akan ke rumah sakit setelah ini.”

“Syukurlah kalau Fellix bersamamu. Terimakasih, nak. Kami sangat takut kalau terjadi hal buruk pada Fellix. Tapi sekarang aku lega karena Fellix bersama gadis baik sepertimu.” Ucap Taejun

“No problem, sir. Aku senang bisa bertemu Fellix.”

“Kalau begitu kami tunggu kedatangan kalian. Sekali lagi terimakasih.”

Taejun bernafas panjang setelah sambungan telepon terputus. Dia menatap Younbi dengan senyum lebar. “Gadis itu benar-benar istimewa.”

**

Lian memasukkan ponsel Fellix ke dalam tasnya. Kakek Fellix pasti sangat kawatir tadi. Pandangan Lian beralih pada Fellix yang sedang membeli makanan bersama Marcus di sebuah restoran. Saat sedang menunggu mereka, tiba-tiba saja ponsel Fellix yang tertinggal bergetar. Tanpa pikir panjang Lian langsung mengangkat panggilan itu. Dia tidak mau membuat kakek Fellix semakin kawatir.

“Seminggu lagi aku ulangtahun tapi Appa belum bangun. Setiap kali aku pulang aku ingat Appa. Aku takut kalau Appa tidak bangun. Fellix memang tidak pernah menuruti kata Appa, tapi Fellix sangat mencintai Appa.”

Lian masih ingat ucapan Fellix tadi. Wajah sedih dan takut dari seorang bocah lima tahun. Lian semakin merasa ingin menjaga Fellix dan membuat bocah itu tersenyum. Bagaimanapun juga Lian pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan dan takut. Dan perasaan itu juga dirasakan Fellix yang masih kecil.

Ucapan Fellix tadi juga membuat seorang Marcus luluh dengan anak kecil. Wajah kasihan Marcus pada Fellix masih Lian ingat betul. Hingga akhirnya kedua pria berbeda umur itu berada di restoran menunggu makanan pesanan mereka. Marcus tiba-tiba saja mengajak Fellix untuk membeli es krim yang kemudian langsung disetujui Fellix. Lian sengaja menolak untuk ikut turun dengan alasan lelah. Padahal dia ingin mengakrabkan Marcus dengan Fellix.

Lamunan Lian terbuyar saat mendengar teriakan Marcus. Rupanya mereka sudah selesai membeli makanan.

“Hey, anak nakal! Jangan berlari! Kau bisa jatuh.” Tegur Marcus pada Fellix yang sedang berlari menuruni tangga.

Mendengar teguran Marcus, Fellix langsung berhenti. Dia menunggu Marcus tiba di sampingnya. Tangannya memegang sebuah es krim cone rasa coklat yang hampir meleleh. Sedari tadi Fellix ingin menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Namun ragu.

Ahjussi!” Panggil Fellix

“Apa?” Sahut Marcus ketus.

“Kenapa ahjussi mencium noona? Bukankah kalian bersaudara?” Tanya Fellix dengan wajah sedikit kesalnya.

Marcus yang mendengar pertanyaan Fellix spontan tertawa. Dia sudah menduga kalau Fellix akan bertanya seperti itu. Lalu dia jongkok di depan Fellix dan mengacak-acak rambut Fellix gemas. “Aku menciumnya karena menyayanginya.” Jawab Marcus

“Tapi kenapa harus mencium?” Tanya Fellix sewot.

“Ada tiga jenis ciuman. Kening, pipi, dan bibir. Ciuman di kening menandakan kalau kau menyayanginya. Tapi kalau ciuman di bibir dan pipi menandakan kalau kau mencintainya.” Jawab Marcus enteng. Seolah sedang menjelaskan pada teman sebayanya. Padahal yang saat ini bersamanya adalah Fellix. Seorang bocah lima tahun. Dan Marcus membicarakan ciuman dan cinta.

Fellix mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak paham sama sekali. “Memangnya cinta dan sayang berbeda?” Tanya Fellix lagi. Dia melupakan es krimnya yang susag mencair dan mengotori tangannya.

“Sayang itu perasaan yang dimiliki semua orang. Misalnya kau menyayangi Lian. Tapi cinta-”

“Apa kalian akan membuatku menunggu lama?”

Seruan Lian memotong pemjelasan Marcus. Dan hal itu membuat Fellix sedikit kecewa. Dia masih penasaran akan satu hal itu.

“Nah, tuan putriku sudah menunggu. Kau harus cari tahu sendiri apa itu cinta. Kau akan menemukan jawabannya dengan mudah. Tapi, jangan tanyakan pada Lian. Aku bisa masuk rumah sakit kalau kau bertanya padanya. Arraseo?” Marcus mengacak-acak rambut Fellix gemas. “Kajja!” Seru Marcus sambil menggandeng tangan Fellix.

**

Tidak membutuhkan waktu lama, merekapun sampai di rumah sakit. Mereka langsung berjalan beriringan menuju lantai dua puluh enam tempat para pasien VVIP dirawat. Sepanjang lobi, mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit dan beberapa perawat. Tak sedikit yang berdecak iri dengan keharmonisan mereka. Mereka berpikir kalau mereka adalah keluarga.

Lian mencoba untuk mengabaikan tatapan para pengunjung rumah sakit. Dia hampir gila karena mendengar bisikan mereka yang malah terdengar seperti jeritan bagi Lian. Kalau saja bukan di tempat umum, Lian sudah dapat memastikan kalau wajah Marcus yang selalu diagung-agungkan para kaum hawa itu hancur.

Ingin rasanya Lian cepat sampai di ruangan tempat ayah Fellix dirawat. Setelah itu dia ingin menemui Jungkook dan mengadu perbuatan Marcus padanya. Selain itu dia ingin protes karena Jungkook pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.

Terlalu banyak berpikir membuat Lian tidak sadar kalau dia sudah berada di depan pintu kamar VVIP 27. Kemudian Marcus membuka pintu itu. Seperti dugaan Lian. Di dalam ada kakek dan nenek Fellix dan seorang pria seumuran Jimin terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya. Seperti judulnya. Kamar VVIP ini memang sangat luas dan dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap. Hanya manusia berdompet tebal yang dapat berada di kamar mewah ini.

Marcus dan Lian membungkuk hormat sambil mengucapkan salam kepada kakek dan nenek Fellix. Merekapun masuk ke dalam kamar itu. Suara nyaring pendeteksi jantung itu langsung terdengar.

“Fellix sayang! Kau dari mana saja? Astaga!” Nenek Fellix langsung mendekati Fellix dan memeluknya. “Kau tidak terluka, kan? Tidak ada yang menyakitimu? Cucuku! Halmoei sangat takut kau kenapa-napa.” Younbi memeluk Fellix dengan erat.

Mianhae, halmoeni. Aku janji tidak akan mengulangi lagi.” Ucap Fellix pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Sudah kubilang cucuku akan baik-baik saja.” Taejun mengusap-usap kepala Fellix gemas.

Younbi berdiri dan beralih mendekati Lian. Lalu wanita paruh baya itu memeluk Lian tiba-tiba. Membuat Lian sedikit kaget.

“Terimakasih, nak. Terimakasih sudah membawa cucuku dengan selamat.” Ucap Younbi

Dengan canggung, Lian mengelus-elus punggung Younbi sambil berbisik sama-sama. Berada dalam pelukan nenek Fellix tiba-tiba saja membuat Lian ingat dengan Lena. Lagi. Matanya sudah memanas dan kalau berkedip sekali saja, Lian yakin air matanya akan keluar. Marcus langsung menggelengkan kepalanya saat tahu kalau sepupunya itu akan menangis.

Halmoeni, jangan memeluk noona terlalu lama. Noona bisa sesak nafas.” Celetuk Fellix yang kemudian membuat Younbi melepas pelukannya pada Lian dan menatap Fellix dengan mata berkaca-kaca.

Benarkah yang baru saja berbicara padanya Fellix? Cucunya? Nyatakah yang saat ini dia lihat? Younbi kembali melihat wajah berbinar Fellix setelah tiga tahun kematian Yomi, ibu Fellix. Selama ini Fellix tidak pernah bicara lebih dari tiga kata kepada siapapun. Bahkan bocah lima tahun itu tidak pernah mau menatap lawan bicaranya saat bicara. Tapi kali ini Younbi melihat sesuatu yang berbeda dari cucunya.

Younbi tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengelus-elus kepala Fellix. Dalam hatinya dia sangat berterimakasih karena cucunya kembali seperti dulu.

“Apa itu ayahmu? Kau tidak menyapanya?” Marcus berusaha mencairkan suasana dengan bertanya pada Fellix.

Mendengar pertanyaan Marcus, sontak seluruh perhatian langsung tertuju pada sosok pria yang terbaring tanpa terusik sedikitpun. Fellix berjalan mendekati ayahnya dan langsung menggenggam tangan Taehyung. Keempat manusia dewasa itu juga ikut mengelilingi ranjang Taehyung.

Appa, mianhae karena aku pulang terlambat. Tapi aku baik-baik saja. Aku juga mengajak teman baruku. Appa harus bangun agar aku bisa mengenalkan Appa pada Lian noona.” Ucap Fellix sambil menatap ayahnya dengan sedih. Lian yang mendengar ucapan Fellix hanya tersenyum pilu.

Appa, Lian noona sangat baik dan cantik. Bahkan dia juga mengantar Fellix sampai sini. Appa akan menyesal kalau tidak melihat Lian noona.” Kali ini Fellix berbicara dengan wajah binar. Bocah lima tahun itu terlihat antusias saat menceritakan sosok Lian.

Siapapun yang mendengar ucapan Fellix pasti akan langsung merasa iba. Bahkan Younbi tidak bisa lagi menahan air matanya saat melihat cucunya berceloteh panjang lebar pada Taehyung. Di sampingnya, Taejun mengelus-elus pundak Younbi. Menenangkan istrinya. Marcus dan Lian nampaknya juga merasakan hal yang sama dengan Younbi. Lian bahkan hanya menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat pemandangan di depannya.

“Putraku, cepatlah sadar. Kau harus melihat putramu tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia. Kau harus segera sadar, nak. Demi putramu.” Ucap Younbi dalam hati.

“Taehyung-a, tidakkah kau ingin melihat senyum manis putramu? Putramu bisa tersenyum lagi. Dia menemukan kebahagiaannya, Taehyung-a. Cepatlah sadar. Kau harus melihat gadis pembawa kebahagiaan Fellix.” Ucap Taejun dalam hati.

“Nak, apa aku bisa merepotkan kalian lagi?” Taejun memecah keheningan. Dia menatap Lian dan Marcus bergantian.

“Jangan sungkan, tuan. Kami memang  sedang membolos kerja.” Jawab Marcus sambil sedikit bergurau. Dia melirik Lian yang tampak tidak fokus.

“Kami akan makan siang sebentar. Bisakah kalian menjaga putraku dan Fellix sebentar?” Tanya Taejun

“Tentu, tuan. Kami akan menjaga mereka.” Jawab Marcus

“Terimakasih, nak. Kalau begitu kami pergi dulu.” Ucap Taejun

Marcus membungkukkan badannya sebelum pasangan suami istri itu pergi. Kemudian pandangannya beralih pada sepupunya yang tampak tidak fokus. Dia menghela nafas panjang saat tahu kalau Lian fokus menatap pada sosok di depannya yang terbaring di ranjang. Diapun memutuskan untuk duduk di sofa sampai Lian tersadar dari lamunannya.

Marcus bukan orang awam mengenai cintai dan teman-temannya. Dia tahu arti tatapan Lian. Tatapan yang tidak lepas dari sosok itu dan berhasil menyedot perhatiannya.

Lian tidak tahu apa yang terjadi padanya. Semua inderanya tidak berfungsi dengan baik saat matanya melihat wajah pucat dari pria di depannya yang masih terpejam.  Pusat perhatiannya tertarik pada Taehyung yang bahkan masih dalam posisi koma. Lian dapat melihat kalau Fellix mempunyai bentuk hidung dan mata yang sama dengan ayahnya. Semua yang ada pada wajah Taehyung tergambar sempurna. Bibir tebalnya, hidung mancung, rahang tegas, dan bola mata yang tertutu itu. Pasti di dalamnya mempunyai warna yang indah.

Lian menggeleng-gelengkan kepalanya saat mulai berkhayal yang tidak-tidak. Mana mungkin dia tertarik pada pria yang bahkan sedang koma? Lian tidak pernah merasa penasaran pada pria. Dia tidak pernah terang-terangan menatap pria. Tapi kali ini seorang pria yang bahkan sedang koma mampu menyedot perhatiannya.

Noona?” Panggil Fellix sambil menarik kemeja Lian.

Entah karena suara Fellix yang terlalu kencang atau memang reaksi Lian yang berlebihan. Tapi yang jelas Fellix memanggilnya tidak terlalu kencang. Lian terlalu fokus memperhatikan Taehyung hingga dia sangat kaget saat Fellix memanggilnya. Dia bahkan memegang dadanya karena saking kagetnya.

“Ya?” Sahut Lian gugup sambil mengusap-usap kepala Fellix.

Di tempatnya, Marcus menahan tawanya melihat ekspresi Lian yang gugup karena kedapatan Fellix sedang melihat ayahnya. Marcus yakin setelah ini akan ada sesuatu yang terjadi pada Lian.

Noona melamun? Apa yang noona pikirkan?” Tanya Fellix polos.

“Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa. Ah! Bukankah kau belum makan siang? Ayo makan dulu.” Lian mengalihkan pembicaraan dan segera menggandeng tangan Fellix untuk bergabung bersama Marcus.

“Apa noona mau menyuapi Fellix?” Tanya Fellix sambil menatap Lian penuh harap.

“Tentu saja.” Jawab Lian sambil membuka makanan yang dibeli Marcus dan Fellix tadi.

**

“Jeon Jungkook!” Seru Jimin dambil membuka ruangan dokter Jungkook dengan kasar.

Jimin mengumpat kala tidak mendapati Jungkook di ruangannya. Dia menelusuri ruangan Jungkook yang lebih luas dari ruangannya. Lagi-lagi Jimin mengumpat saat sadar kalau ruangan Jungkook memiliki fasilitas lengkap. Bahkan ruangannya tidak memiliki kulkas dan sofa empuk seperti yang dimiliki Jungkook. Mungkin setelah ini dia akan minta kulkas untuk ruangannya.

Kembali lagi pada Jimin. Pria berwajah baby face itu membuka kamar mandi di ruangan ini dengan kasar tanpa peduli apa di dalam ada orang atau tidak. Di kamar mandipun tidak ada sosok yang dia cari. Dengan langkah terburu-buru, Jimin keluar dari ruangan Jungkook dan mencari di tempat lain.

Sial. Saat ada berita penting saja Jungkook sangat sulit ditemukan. Pria yang lebih muda darinya dua tahun itu memang mempunyai kesibukan yang tiada duanya.

Jimin mendekati sekumpulan perawat dan dokter yang sedang bergosip di meja resepsionist.

“Oh, Dokter Park! Ada apa? Kau terlihat terburu-buru?” Tanya salah satu dokter.

“Kalian lihat Jungkook?” Tanya Jimin tanpa basa-basa dan tanpa dosa.

Bukannya langsung menjawab, para perawat dan dokter itu malah saling bertatapan. Benarkah Jimin mengatakan Jungkook? Presdir mereka? Orang yang paling dihormati di rumah sakit ini?

“Apa maksudmu Presdir Jeon?” Tanya salah satu perawat.

Jimin menatap perawat itu geram. “Terserah kalian memanggilnya siapa! Kalian lihat Jungkook tidak?” Tanyanya lagi jengkel.

Sekali lagi mereka saling berpandangan. Kenapa dia? Pikir mereka dalam hati. Dari sekian banyak dokter baru kali ini mereka menemukan dokter seperti Jimin yang cenderung tidak mau tahu dan terkesan kurang ajar. Bahkan baru saja dia memanggil presdirnya hanya dengan nama.

Bohong kalau mereka tidak takut dengan Jimin. Pasalnya ayah Jimin adalah salah satu dokter senior terbaik sekaligus ketua manager di rumah sakit. Siapa yang berani main-main dengan anak orang penting rumah sakit ini? Tapi sekalipun Jimin adalah anak dari ketua manager rumah sakit ini, tetap saja Jimin harus hormat dengan presdirnya. Ayahnya saja sangat menghormati Jungkook. Kenapa Jimin tidak?

Jimin mulai hilang kesabaran saat yang dia mintai jawaban hanya diam saja. “Ya! Kalian mendengarku tidak?” Serunya

“Itu…” Jawab perawat yang lain sambil menunjuk ke belakang.

Jimin berbalik dan melotot sebal saat melihat Jungkook baru saja keluar dari ruang operasi. “Ya! Jeon Jungkook!” Serunya sambil berjalan cepat menghampiri Jungkook yang sedang melepas masker, kaus tangan, dan jas operasinya.

Para perawat dan dokter yang mendengar bagaimana Jimin memanggil Jungkook hanya memekik kaget. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati agar dokter muda satu itu bisa tetap bekerja di rumah sakit ini.

Jungkook berjingkat kaget saat mendengar namanya dipanggil dengan nyaring. Dia mengelus-elus dadanya dan menatap jengkel pada Jimin yang sudah berada di depannya dengan nafas ngos-ngosan.

“Ada apa, Dokter Park?” Tanya Jungkook berusaha terlihat wibawa.Bukan berusaha. Memang perawakannya sudah wibawa.

“Aku tahu kalau Lian hanya gadis polos dan baik. Dan aku juga tahu kalau kau sangat menjaga Lian. Tapi-”

Hyung! Bisakah langsung pada intinya?” Potong Jungkook sebal.

Dia takut terjadi sesuatu pada Lian karena wajah Jimin yang terlihat sangat serius.

Para perawat dan dokter tampak dibuat terkejut lagi saat mendengar Jungkook memanggil Jimin dengan sebutan hyung. Apa mereka sedekat itu hingga hanya berbicara informal? Banyak sekali yang ada di kepala mereka.

Kenapa mereka sangat akrab?

Siapa Lian?

Apakah presdir punya kekasih?

“Aku melihat Lian.”

“Dimana?” Potong Jungkook lagi. Wajahnya memperlihatkan ketidaksabarannya.

Apa yang dilakukan Lian di rumah sakit? Kenapa tidak ada satupun orang yang memberitahunya?

Jungkook mendengus sebal saat Jimin tidak kunjung menjawabnya. Diapun menendang kaki Jimin.

“YA! KAU! ARGH SIALAN!” Pekik Jimin sambil mengangkat kakinya yang baru saja ditendang Jungkook.

Entah sudah berapa kali para perawat dan dokter dibuat dengan kelakuan Jimin? Apa Jimin baru saja mengatai atasannya?

“Aku melihat Lian kesini bersama seorang pria dan bocah kecil! Apa Lian sudah menikah dan mempunyai anak? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Lian sudah meni-”

“Apa?! Ya! Kau ini bicara apa? Lian belum menikah dan punya anak!” Potong Jungkook sebal. Sahabatnya ini sepertinya butuh psikiater. Bahkan Jungkook tidak pernah mendengar kalau Lian menyukai seorang pria.

Mereka nampaknya tidak sadar kalau sedang menjadi pusat perhatian. Beberapa tampak berdecak kagum karena bisa melihat ekspresi kesal Jungkook yang semakin membuat pria bergigi kelinci itu tampan. Tapi mereka juga masih dibuat penasaran dengan sosok yang saat ini dua pria itu bicarakan.

“Kalau tidak percaya, tanya saja pada Lian! Aku merasa dikhianati, tahu?!” Sungut Jimin lalu berlalu begitu saja dari hadapan Jungkook.

“Ya, Park Jimin! Kau masih hutang penjelasan padaku!” Teriak Jungkook kesal.

Jimin tidak menjawab dan hanya melambaikan tangannya.

“Kau kupecat!”

“Aku sangat berterimakasih!” Balas Jimin

.

.

.

.

.

To be continue~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s