Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 2


Fool For You Part 2

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Bae Irene – Park Chanyeol – Park Jinyoung –  Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Romance, Action, Angst, Honor, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.

Entah kemana perginya pikiran Lian. Setelah Jin keluar dari kamarnya, tiba-tiba langkahnya tertarik pada meja sudut kamarnya. Tepatnya di dalamnya. Lian membuka laci itu perlahan hingga matanya menangkap sebuah kotak berwarna biru dongker dengan garis-garis putih yang lumayan besar. Lian mengambil kotak itu dengan tangan bergetar.

Nafas Lian tercekat saat tutup kotak itu sudah terbuka. Di dalamnya masih tetap sama. Dress pink magenta hadiah ulangtahun Lena masih tersimpan disitu. Juga bando dan topi pemberian Lena lima hari sebelum kejadian mengenaskan itu. Buku bersampul balon dan bunga sakura yang di dalamnya terdapat tulisannya dan Lena. Yang terakhir foto keluarganya yang diambil lima belas tahun yang lalu di sebuah taman bermain. Di dalam foto itu mereka benar-benar terlihat layaknya keluarga bahagia.

Sebenarnya Lian benci mengingat kejadian itu. Tapi setiap kali melihat sesuatu yang berhubungan dengan Lena, kejadian itu muncul dengan sendirinya. Lian tidak tahu sejak kapan wajahnya sudah penuh air mata. Dadanya sesak. Rasa marah, dendam, rindu, dan menyesal selalu menghantuinya. Bayangan Lena berjuang membuka mata dan bertahan agar bisa terus bernafas sambil menatapnya masih terus melintasi kepala Lian.

“I love you, darling. Jadilah wanita kuat dan tetap sayangi Dad dan Oppamu.”

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Lena sebelum akhirnya mata teduh itu tertutup untuk selamanya. Malam itu, Lian hanya bisa menjerit tertahan dengan deraian air mata. Dia kehilangan ibunya. Mataharinya. Darah yang memenuhi lantai kamar orangtuanya dan juga samurai penuh darah itu masih tetap bersarang dalam ingatan Lian.

Lian menekan dadanya yang terasa sangat sesak. Dia berusaha mengatur nafasnya. Kemudian dia berjalan menuju balkon kamarnya sambil kembali memasang headset di telinganya. Hanya dengan mendengarkan musik Lian dapat menenangkan pikirannya. Dia terus menghembuskan nafas panjang. Berharap agar air matanya mau berhenti mengalir. Namun bukannya berhenti, justru air matanya semakin deras mengalir.

Lena. Mom. Lian sangat merindukan Lena. Melebihi apapun. Bahkan sudah terhitung sejak kejadian itu, Lian tidak pernah mengunjungi makam Lena. Lian hanya terlalu takut.

Sebuah tangan lagi-lagi mendarat di pundak Lian. Dengan cepat Lianpun menghapus air matanya dengan kasar. Hal yang tidak ia sukai adalah saat orang lain melihatnya menangis. Lian anti menunjukkan air matanya di depan orang. Lian menoleh dan mendapati Jungkook tengah menatapnya pilu. Lian berusaha memaksakan senyum.

“Kau sudah pulang? Kenapa sampai malam?” Lian berusaha menyembunyikan raut sedihnya. Dia melepas sebelah headset yang masih terpasang di telinganya dan memeluk Jungkook. “Aku menunggumu.” Lirih Lian sambil membenamkan wajahnya pada dada bidang Jungkook.

Jungkook hanya tersenyum miris sambil mengelus-elus rambut Lian. Sesekali menciumnya. Adik kecilnya. Hati Jungkook sesak melihat senyum palsu Lian. Lebih baik dia melihat Lian menangis sampai meraung-raung daripada harus melihatnya pura-pura tegar. Menanggung semuanya sendiri. Jungkook merasa tidak berguna sebagai seorang kakak. Disaat orang-orang di luar sana selalu menceritakan beban masalahnya kepada orang lain, Lian justru memilih memendamnya sendiri.

Lagi. Setetes air mata keluar dari sudut mata Jungkook. Jungkook sudah berjanji bahwa apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan Lian. Hidupnya hanya untuk membuat Lian bahagia.

Jungkook menyeka air matanya. Lian saja bisa sekuat ini. Dia sebagai kakak, apalagi laki-laki, harus lebih kuat dari Lian. “Kenapa belum makan?” Tanya Jungkook sambil mengelus-elus kepala Lian.

“Aku tidak lapar. Lagipula aku menunggumu.” Jawab Lian sambil mengangkat kepalanya. Menatap wajah kelelahan Jungkook. “Kau pasti sangat kelelahan.” Lanjut Lian sambil mengelus-elus pipi Jungkook.

“Tidak lagi karena sudah melihatmu. Sebaiknya kau makan malam dulu. Maagmu bisa kambuh.” Ucap Jungkook sambil memegang tangan Lian yang berada di pipinya. Diapun langsung menarik Lian untuk menuju ruang makan.

“Tapi aku tidak mau makan sendiri.” Lian menghentikkan langkahnya membuat Jungkook berhenti.

“Aku akan menemanimu. Jangan banyak alasan! Aku tidak mau mengurus bayi besar yang sedang sakit karena malas makan.” Sahut Jungkook geram sambil kembali menarik Lian.

Lian memang suka mengabaikan jam makan. Padahal dia penderita maag akut. Apalagi Lian penggemar kopi. Jungkook maupun Frank sampai kewalahan untuk mengingatkan Lian agar tidak lupa makan. Dan salah satu hal yang dibenci Lian adalah saat dia harus makan sendiri. Maka dari itu Lian memilih untuk tidak makan daripada harus makan sendiri.

“Apa Jin Oppa masih disini?” Tanya Lian saat mereka menuruni tangga. Hanya anggukan yang diberikan Jungkook.

“Penggemarmu juga ada disini.” Ucap Jungkook sambil menunjuk seorang pria yang sibuk dengan laptop di depannya. Dia adalah Kim Yugyeom. Penggemar Lian sejak Lian masih menginjak bangku sekolah dasar.

“Gyeomi Oppa!” Pekik Lian senang sambil berlari ke arah Yugyeom.

Merasa namanya dipanggil, Yugyeom langsung menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke sumber suara. Wajahnya terlihat sumringah saat melihat Lian berlari ke arahnya. Di tempatnya, Jungkook hanya tersenyum tipis melihat Lian yang terlihat sangat senang bertemu orang-orang terdekatnya. Jungkook bersyukur karena banyak yang menyayangi Lian. Termasuk teman-temannya.

Jin dan Bambam juga menghentikan diskusi mereka saat mendengar suara nyaring Lian yang memanggil Yugyeom. Melihat wajah bahagia Lian membuat Jin tersenyum senang. Setidaknya Lian baik-baik saja sejauh ini. Berbeda dengan Jin dan Yugyeom yang tampak senang melihat Lian, Bambam justru terlihat memanyunkan bibirnya.

Lian dan Yugyeom langsung berpelukan untuk melepas rindu. Tetakhir mereka bertemu adalah saat perayaan sweet seventeen Lian. Tentu saja di Swiss. Atas permintaan Lian, Frank menjemput Jungkook dan teman-temannya menggunakan private jetnya.

Jungkook tidak dapat menyembunyikan raut bahagianya melihat Lian tersenyum lebar. Rasa lelahnya hilang begitu saja setelah melihat Lian. Rasanya masih seperti mimpi melihat Lian di depannya selepas pulang bekerja.

“Kau hanya akan memeluk Yugyeom?” Celetuk Bambam dengan wajah masamnya. Ah! Nampaknya dia iri dengan Yugyeom.

Lian hanya cekikikan dan beralih memeluk Bambam. “Kau masih cemburuan rupanya.” Ucap Lian disela tawa gelinya. 

Bambam yang mendengarnya hanya mengacak-acak rambut Lian gemas. Bagi Bambam, Lian sudah seperti adiknya sendiri. Makanya dia sangat menyayangi Lian.

“Kurasa cukup acara kangen-kangenannya. Baby, kau harus makan, ingat?” Jungkook menyela aksi peluk-pelukan Lian dan kedua temannya.

Bambam merengut dibuatnya. Dia tahu kalau Jungkook adalah kakak yang overprotective. Tapi setidaknya biarkan mereka saling melepas rindu setelah sekian lama tidak berjumpa. Dengan perasaan kesal, Bambampun melepas pelukannya pada tubuh mungil Lian. Bagaimanapun juga dia tidak lupa kalau Lian penderita maag akut.

“Seharusnya kau makan bersama kami saja agar sekarang aku puas melihatmu.” Ucap Yugyeom dengan wajah tak kalah kesal.

“Bermimpi saja kalian.” Ucap Jungkook sambil membawa Lian ke ruang makan.

Bambam dan Yugyeom hanya mendengus sebal. Jin yang melihatnya hanya terkekeh kecil. Sepupunya itu memang sangat protective pada Lian. Terutama dalam urusan pria-pria yang mendekati Lian. Harus melalui Jungkook. Frank yang ayahnya tidak seperti Jungkook.

Lian menatap Jungkook dengan tatapan protes. Dia juga masih ingin melepas rindu dengan dua sahabat kakaknya itu. “Kau berlebihan, Jung!” Sungut Lian

“Hey! Aku melindungimu dari mereka.” Sanggah Jungkook

Lian mendengus. Alasan yang sama. “Aku besok sudah mulai bekerja.” Ucap Lian sambil duduk di kursi ruang makan. Dengan Jungkook di sampingnya.

Melihat Lian sudah duduk, para pelayan dengan sigap mengambilkan minum dan nasi untuk Lian. Namun Lian langsung menahan mereka. Dia tidak suka orang lain melakukan hal yang dia sendiri bisa lakukan. Lian menatap Kate protes. Seharusnya Kate sudah tahu kebiasaannya itu.

“Kau bisa berkeliling Seoul dulu kalau kau mau.” Ucap Jungkook setelah memberikan kode kepada pelayan untuk pergi.

“Tidak ada yang berubah, bukan? Sungai Han dan Namsan Tower masih banyak pasangan yang pamer kemesraan.” Sahut Lian sewot. Dia menyodorkan sesendok nasi beserta lauk pauknya pada Jungkook yang kemudian dibalas gelengan oleh Jungkook.

Jungkook berdecak sinis. “Kau hanya iri pada mereka.”

Up to you.” Sahut Lian acuh.

Suasana hening. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling berdenting. Jungkook asik menatap Lian yang makan dengan lahap. Terlihat sekali kalau Lian lapar. Hanya saja Lian terlalu acuh dengan kesehatannya. Beruntung Jungkook seorang dokter.

“Siapa yang akan menjadi sekretarisku?” Tanya Lian saat sudah menghabiskan makanannya. Dia menatap Jungkook sambil bertopang dagu.

Jungkook menaikkan sebelah alisnya. Dia pikir, Lian sudah tahu. “Kau akan tahu besok. Tapi kau harus tahu siapa asisten pribadimu. Dad yang mengirim orang itu.” Jawab Jungkook

“Siapa?”

“Sahabat pinangmu. Anna.” Jawab Jungkook santai sambil menyeringai.

Lian melotot kaget mendengar jawaban Jungkook. Anna? Frank mengirim Anna untuk menjadi asistennya? Tidak cukupkah orang-orang berbadan hulk, Aiden, dan juga Marcus untuk menjaganya? Sekarang Anna, sahabatnya, juga harus menjadi asistennya? Haruskah Anna mengiyakan ucapan Frank? Mungkin Lian akan mengomeli Anna besok.

Lian meminum jusnya sembarang dan meletakkan gelasnya dengan kasar. “Kenapa tidak dia saja yang menjadi asistenku? Apa tidak cukup menyuruh Aiden untuk menjadi supir pribadiku dan Marcus menjadi mata-matanya. Ya, Oppa! Kau tahu betapa canggungnya aku saat satu mobil dengan dua pria itu? Tidak adakah orang lain selain mereka? Bagaimanapun juga mereka dulu adalah sunbaeku-”

“Dan saudaramu.” Jungkook memotong cerocosan Lian.

“Apa mereka tidak punya pekerjaan sampai mau menuruti kemauan Dad?” Gerutu Lian

Jungkook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lian yang tidak berhenti menggerutu. “Tidak ada pekerjaan yang lebih sulit dari mengawalmu, baby.” Ujar Jungkook

Lian mendengus sebal sambil berjalan menuju lemari pendingin. Baru saja dia hendak mengambil kopi kalengan, tapi Jungkook langsung menahannya. Bahkan pria bergigi kelinci itu langsung menutup lemari pendingin dan menjadikannya sebagai sandaran tubuhnya. Lian yang tidak terima menatap kakaknya sebal.

“Mereka mau menjadi pengawalmu karena mereka juga yang akan membantumu mengurus perusahaan. Mereka akan menjadi direktur dan wakil direktur.” Jungkook berujar dengan santai sambil melipat tangannya di depan dada.

Lian tampak acuh dengan ucapan Jungkook. Dia memilih untuk meninggalkan Jungkook yang masih bersandar di lemari pendingin.

“Kate, jangan menyetok coffee di lemari pendingin!” Seru Jungkook sambil mengikuti Lian.

“Kau kupecat kalau menurutinya, Kate!” Balas Lian

Pagi pertama Lian di tanah kelahiran. Musim dingin akhir januari tampak membuat Lian enggan untuk membuka mata. Dia merapatkan selimutnya guna menghalau cuaca dingin menyerang tubuhnya yang rentan. Bunyi jam weker yang sejak setengah jam lalu berbunyi nampaknya sama sekali tidak berpengaruh untuknya. Buktinya gadis bermata biru itu masih terlihat nyenyak dengan tidurnya.

Seorang gadis tampak berjalan mengendap-endap memasuki kamar Lian. Gadis bule itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lian yang masih tidur pulas. Kemudian gadis bule itu berjalan menuju jendela kamar Lian dan membuka tirainya sehingga cahaya matahari dapat masuk ke kamar Lian. Lian masih tidak terusik sama sekali. Dia hanya menggeliatkan badannya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Anna, gadis bule yang berstatus sebagai sahabat dan sekretaris Lian, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang enggan untuk bangun. Kalau saja hari ini bukan hari pertama Lian bekerja sebagai CEO Giant Corp, Anna tidak akan repot-repot untuk datang ke rumah ini. Mengingat pagi ini ada meeting dewan direksi beserta para investor serta dengan para CEO perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan yang ditanami saham dari Giant Corp, Lian harus berangkat lebih awal.

Anna atau lebih tepatnya Anna Boulstern adalah sahabat Lian sejak Lian pindah ke Swiss. Mereka tumbuh besar bersama dan hampir setiap hari melakukan apapun bersama. Banyak yang menganggap mereka kembar tapi tak sama. Anna dan Lian sama-sama tahu bahaimana kehidupan mereka. Layaknya sahabat. Mereka suka berbagi cerita. Anna dan Lian hanya terpaut lima bulan. Anna berada di fakultas dan universitas yang sama dengan Lian. Maka dari itu saat Frank memintanya untuk menjadi asisten Lian, dia menerimanya. Lagipula dia masih belum siap menggantikan posisi sang ayah untuk perusahaannya dan masih ingin bermain-main.

Anna sebenarnya hafal dengan kebiasaan Lian yang akan selalu bangun pagi ada atau tidaknya kegiatan di pagi hari. Tapi kali ini nampaknya Lian sedikit malas. Sahabatnya ini sudah terlambat bangun setengah jam. Dengan langkah pelan, Anna berjalan menuju ranjang Lian dan dengan sekali tarikan, dia berhasil meloloskan selimut yang membungkus tubuh Lian. Biar saja Lian marah. Toh sudah menjadi kewajibannya sebagai asisten.

Merasa tidurnya terganggu, Lian langsung membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah jendelanya yang sudah terbuka. Lian memicingkan matanya karena merasa silau dengan cahaya matahari yang masuk ke kamarnya.

Anna melipat tangannya di depan dada. Merasa heran dengan tingkah Lian. “Kau tidak lihat sekarang jam berapa?” Sarkasme Anna tersebut membuat Lian langsung mengalihkan pandangannya.

Mata Lian membola lebar saat melihat Anna berdiri di depannya. Lian yakin dia sudah sepenuhnya bangun dan dia juga tidak sedang berhalusinasi. Di depannya Anna. Sahabatnya menatapnya dengan tatapan jengkel. Anna memang percaya kalau Anna akan menjadi asistennya. Tapi Anna sangat terkejut melihat Anna sudah berdiri di depannya. Dia pikir Anna sedang dalam perjalanan kemari dan akan mulai bekerja besok.

“Pagi ini ada pertemuan penting. Bersiaplah! Aiden dan Marcus sudah menunggu di ruang makan. Kita akan sarapan bersama.” Ucap Anna sambil berjalan meninggalkan Lian yang masih terlihat linglung.

Wait!” Seru Lian.

Anna menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lian dengan senyum pongahnya. “Kau tahu aku tidak suka menunggu, Nyonya.” Ucap Anna dengan senyum miringnya.

“Hey! Jangan memanggilku seperti itu! Wait! Kau sungguh Anna? Tapi… Kau… Frank, kau membuatku gila dengan semua ini!” Teriak Lian frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

Anna yang melihatnya hanya terkekeh geli. Dia sangat senang menggoda dan menjaili Lian. Wajah Lian akan terlihat menggemaskan saat kesal. Terbukti saat ini. Dengan penampilan bangun tidur, Lian persis seperti gelandangan. “Yes! Akupun kaget saat Uncle Jeon menyuruhku untuk menyusulmu ke Seoul dan memintaku untuk menjadi asistenmu. Oh my god! Bisakah aku mengundurkan diri saja?” Cerocos Anna

Beruntung Anna mempunyai ayah dari Korea, sehingga dia fasih berbahasa Korea.

“Kau gila!” Desis Lian lalu bangkit dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.

Memikirkan kegilaan Frank membuat kepala Lian serasa mau pecah. Lian tidak menyangka kalau Frank akan sampai sejauh ini. Hey! Lian tidak sedang menjadi incaran mafia jahat lalu untuk apa semua ini?

“Dimana Jungkook?” Tanya Lian saat dia sudah bergabung di meja makan dengan setelan kerjanya. Versi Lian tentunya.

Lian adalah gadis yang sangat menjaga tubuhnya. Dia selalu menggunakan pakaian tertutup. Karena baginya, tubuhnya hanya milik suaminya kelak. Dia tidak akan memperlihatkan keindahan tubuhnya pada orang-orang di luar sana. Paling tidak dia harus menutupi lengannya dan juga area di atas lutut. Pakaian paling minimnya adalah kaos pendek. Lian tidak punya celana pendek.

Jungkook sebagai kakak patut bersyukur karena Lian tidak terbawa arus budaya barat. Lian sangat pandai menjaga dirinya.

Melihat Lian yang tiba-tiba datang membuat penghuni meja makan langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka serempak menatap Lian yang sedang meminum coklat hangatnya. Aiden dan Marcus sebenarnya asli Korea. Hanya saja mereka kuliah di Swiss jadi memutuskan untuk membuat nama barat. Nama asli mereka sebenarnya Donghae dan Kyuhyun.

“Oh! Ternyata kalian sudah menjadi batu.” Sinis Lian sambil memakan sarapannya sembarang. Kesal karena tidak ada yang menjawabnya.

“Tuan Muda sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nona.” Jawab Kate yang tiba-tiba datang sambil membawa buah apel. Makanan wajib Lian di pagi hari.

What? Dia meninggalkanku?!” Pekik Lian

“Kakakmu lebih sibuk daripada kau, Li.” Marcus angkat bicara. Syukurlah dia masih ingat bagaimana caranya berbicara.

“Kupikir kau lupa caranya bicara.” Ucap Lian sinis.

Lian memang berwajah anggun. Tapi jangan kaget jika bibir cherry Lian dapat mengeluarkan kata-kata tajam. Kalau sudah kesal, Lian bisa berbicara tanpa berpikir. Dia juga tidak akan repot-repot memilih kata yang baik. Itulah Lian.

“Jangan mulai, Li. Ini masih pagi.” Aiden mencoba mencairkan suasana.

“Kalian seharusnya menolak pria tua itu! Bagaimana mungkin kalian menjadi bawahanku? Geez! Aku bisa gila!” Gerutu Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Tidak peduli kalau penampilannya akan berantakan.

Listen, Li! Aku dan Marcus tidak peduli menjadi bawahanmu, asalkan kau aman dibawah pengawasan kami. Please, honey! Jangan membuat ini semua menjadi sulit. Kami bekerja, kau aman. Kau tidak harus menganggap kami bawahanmu. Okay?” Ucap Aiden panjang lebar.

Lian tertegun mendengar ucapan panjang Aiden. Sebegitu berharganyakah dia di mata mereka? Kenapa mendadak Lian ingin menangis melihat pengorbanan mereka?

“Hey! Aku disini bukan hanya menjadi asistenmu. Aku sedang berlibur.” Anna akhirnya bersuara.

“Jangan pedulikan status kami. Kau tetap saudaraku yang manja dan suka merajuk. Habiskan sarapanmu dan kita berangkat!” Ucap Marcus dengan nada memerintah.

Ini dia! Marcus si tukang perintah. Lian akan lebih baik kalau mereka memperlakukannya seperti biasa. Selama tiba di Seoul kemarin, mereka berlagak seperti orang asing.

Mobil yang ditumpangi Lian, Anna, Marcus, dan Aiden berhenti di parkiran khusus direksi. Astaga! Apa lagi ini? Kenapa ada orang-orang berjas yang berjejer di depan pintu masuk? Lian makin malas untuk masuk ke gedung berlantai 37 ini. Dia belum tahu ada apa di dalam sana. Hey! Dia ini anak kemarin sore yang hanya diberi amanah untuk mengurus perusahaan di tanah kelahirannya.

Lian tidak mendengarkan semua perkataan Anna. Dia sibuk menghitung jumlah orang-orang yang berjejer itu. Ada sekitar tujuh belas orang. Apa mereka karyawan disini? Lian menghembuskan nafas kasar. Dia melihat penampilannya terlebih dahulu.

Lian dikagetkan dengan suara pintu terbuka. Dia hampir memarahi orang itu sebelum akhirnya sadar kalau orang yang membukakan pintu untuknya adalah orang asing. Lian mengerutkan keningnya. Meneliti penampilan pria di sampingnya yang berdiri dengan wajah datar. Penampilannya sama dengan Marcus dan Aiden.

“Dia sekretarismu. Namanya Park Jinyoung.” Ucapan Anna membuyarkan lamunan Lian.

Apa?

Lian masih belum percaya kalau pria dengan penampilan angkuh ini adalah sekretarisnya. Kenapa harus laki-laki?

“Kalian masuk saja dulu. Aku dan Donghae Hyung akan menyusul.” Ucap Marcus sambil menoleh ke belakang.

Lian hanya mengangkat tangannya tanda dia malas menanggapi. Kemudian dia keluar dari mobil diikuti Anna yang membawakan tasnya. Lian tidak menyuruhnya. Anna sendiri yang memaksa agar dia terbiasa mendalami perannya sebagai asisten.

Lian menatap sekretarisnya sejenak sebelum melangkah masuk. Bahkan  pria angkuh ini tidak menyapanya. Baru kali ini Lian tidak dihargai seorang pria.

Setelah memastikan kalau Lian masuk, Marcus langsung mengambil earpiece dan beberapa alat komunikasi jarak jauh lainnya.

“Kau yakin, Hyung?” Tanya Marcus

“Aku sangat yakin. Sepertinya mengenalkan Lian di depan orang banyak bukan hal yang tepat. Aku melihat dengan jelas wajah pria-pria itu. Mereka dari Jepang.” Jawab Aiden penuh keyakinan.

“Lion! Bawa Lian masuk melalui lift khusus direksi.” Ucap Marcus melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

“Jangan! Mereka akan curiga.” Ucap Aiden santai.

“Hyung!”

“Eagle, cari tahu pemilik mobil yang terparkir dua mobil di belakangku. Aku ingin secepatnya.” Ucap Aiden

Aiden memang pintar. Tapi sayang dia sangat misterius. Butuh waktu lama untuk tahu apa yang akan Aiden lakukan. Seperti halnya sekarang. Marcus sungguh tidak tahu bagaimana jalan pikiran saudara sepupunya itu. Lian sudah dalam status waspada tapi Aiden terlihat sangat santai.

Tanpa mempedulikan tatapan penuh tanya Marcus, Aiden keluar dari mobil dengan gagahnya. Berusaha bersikap setenang mungkin. “Bersikaplah biasa.” Ucap Aiden saat Marcus sudah di sampingnya. Lalu dia dan Marcus masuk ke gedung berlantai 37 ini dengan sambutan para karyawan dan kepala manajer.

Jungkook mendengarkan dengan seksama penjelasan seseorang melalui sambungan teleponnya. Dia menyandarkan tubuhnya pada meja kerjanya sambil memijat pelipisnya. Tiap kata yang keluar dari mulut Yoongi, sahabatnya yang bertugas memantau Lian, seperti bilah pisau yang menyayat kulitnya. Merenggut nyawanya secara perlahan. Dan kali ini Jungkook merasakan kepalanya mau pecah. Dia baru saja selesai mengoperasi pasiennya dan langsung mendapat kabar buruk ini.

Jungkook memutus sambungan telepon secara sepihak. Dia sudah tidak mau lagi mendengar ucapan Yoongi yang hanya semakin membuatnya pusing dan takut. Jungkook tidak perlu takut Yoongi akan marah karena dia yakin hyungnya itu tahu keadaannya saat ini. Berkali-kali Jungkook menghembuskan nafas kasar. Sesekali tangannya bergerak untuk mengacak-acak rambutnya.

Seharusnya sejak awal Jungkook bisa menduganya. Seharusnya dia tahu kalau Lian tidak aman berada di rumah itu. Bagaimanapun juga rumah yang saat ini dia tempati adalah sasaran utama dari para pemburu nyawa Lian. Yoongi baru saja mengabarinya kalau sebuah mobil berisikan tiga orang sudah mengawasi rumahnya sejak tadi malam. Itu artinya mereka tahu Lian sudah kembali.

“Apa yang terjadi?” Tanya Jimin yang tiba-tiba datang.

Tanpa mengetuk pintu. Lagi.

Jungkook masih sibuk dengan berbagai ketakutannya. Dia menundukkan kepalanya sambil tangannya tidak berhenti memijati pelipisnya.

Seharusnya Lian tidak kembali.

Mereka sudah menemukan Lian.

Lian dalam bahaya.

Apa yang harus aku lakukan?

Pikiran Jungkook kalut. Dia terlalu takut membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada Lian. Melihat Jungkook yang tampak kacau, Jimin berjalan mendekati Jungkook. Lalu menepuk pundaknya berkali-kali. Berharap Jungkook dapat kembali berfikir jernih.

“Jangan lemah di depan peri kecilku, Kookie.” Ucap Jimin sambil meremas pundak Jungkook.

Lian sama sekali tidak merasakan sesuatu yang istimewa di hari pertamanya bekerja. Bahkan dia tidak ikut rapat dewan direksi pagi ini dengan alasan dia sibuk. Seperti itulah yang dikatakan Marcus. Sehingga hanya Aiden dan Jinyoung yang mewakilinya. Lian sudah layaknya boneka. Tidak membantah dan hanya menurut.

Biarkan saja mereka berbuat semau mereka. Pikir Lian dalam hati.

Ngomong-ngomong tentang sekretaris. Lian akui kalau Jinyoung sangat bisa diandalkan dan pekerjaannya tidak akan mengecewakan. Terbukti dengan sigap dan tanggapnya dengan pekerjaan yang Lian berikan. Jinyoung sudah seperti sangat tahu bagaimana dunia bisnis. Mungkin ini menjadi alasan kenapa Frank memilih pria angkuh ini.

Lian sudah cukup dibuat lelah dengan banyaknya berkas-berkas laporan dan email yang harus dia cek. Lian belum terbiasa. Lihat saja di mejanya! Tumpukan dokumen yang harus Lian lihat masih terlihat utuh. Lian sama sekali belum menyentuhnya.

Karena sudah sangat bosan dan lelah, lagipula perutnya lapar, Lian berjalan keluar ruangannya. Mencari ruangan Marcus. Suasana di lantai 37 sangat sepi. Wajar saja. Lantai ini daerah kekuasannya. Hanya orang-orangnya yang berada disini. Bahkan suara heels Lian terdengar sangat jelas.

Lian masih celingukan mencari ruang kerja Marcus. Sampai akhirnya dia bertemu sekretaris angkuhnya. Park Jinyoung menatapnya dengan tatapan tanpa hormat. Lihat saja ekspresi pria kaku ini! Datar.

“Anda mencari apa, Nona?” Tanyanya terkesan enggan.

Heol! Siapa disini yang menjadi atasan? Lian merasa tidak dihormati.

“Ruangan wakil direktur.” Jawabnya singkat karena sudah sangat kesal dengan sikap Jinyoung.

“Di ujung sana, Nona. Perlu saya antar?” Jawab Jinyoung sambil menunjuk sebuah ruangan yang tertutup rapat.

“Tidak perlu. Lebih baik kau makan siang. Aku tidak ingin melihat pegawaiku kelaparan.” Balas Lian sinis. Lalu Lian meninggalkan Jinyoung yang masih menatapnya. Namun baru beberapa langkah, Lian menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Belajarlah tersenyum, Sekretaris Park. Itu akan berguna.” Ucap Lian lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Mendengar ucapan Lian, atasannya, membuat bibir Jinyoung sedikit melengkung ke atas. Jinyoung tidak tahu apa alasannya tersenyum. Yang jelas dia cukup kagum dengan sosok Lian Jeon.

“Kau tidak harus menculikku seperti ini, Li.” Kesal Marcus saat mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Sesampainya Lian di ruangan Marcus, Lian langsung menyeret Marcus untuk menemaninya makan siang lalu menuju rumah sakit. Lian ingin kabur sejenak dari pekerjaan menumpuknya. Dan Marcus orang yang tepat untuk diajak membolos. Meskipun Marcus suka memerintah tetap saja Lian lebih nyaman dengan pria bermarga Cho ini.

Aiden? Dia terlalu misterius. Lagipula Aiden sedang sibuk. Bersama Anna. Mereka mendapat limpahan pekerjaan dari Lian. Beruntung Aiden tidak menolak apalagi marah saat saudaranya Lian culik.

“Aku sangat lelah, Cho. Aku belum terbiasa dengan pekerjaan ini.” Ucap Lian sambil memasang wajah paling memelas.

Kalau sudah begini Marcus bisa apa? Diapun akhirnya memilih untuk menemani Lian kemanapun Lian akan pergi. Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan keheningan. Marcus fokus dengan kemudinya sambil sesekali melirik ke arah spion mobil. Memastikan apakah ada gerak-gerik mencurigakan yang mengikuti mereka. Namun kemungkinan besar tidak ada yang mengikuti mereka karena mereka menggunakan mobil yang berbeda dan sudah menyuruh Yoongi untuk mengunci keamanan CCTV di gedung Giant Corp agar sulit diretas.

Sementara Marcus sibuk dengan kemudinya, Lian hanya melihat pemandangan di sepanjang jalan yang sesekali menarik perhatian. Kebanyakan pemandangan yang dia dapat adalah para pejalan kaki dan orang yang menunggu bus di halte. Seoul sudah berubah. Sekarang banyak sekali gedung-gedung bertingkat di sepanjang jalan dan juga papan iklan besar yang terpasang di atas gedung.

Lian mendengus sebal saat melihat seorang siswa dan siswi SMA tengah berciuman di depan toko dengan disaksikan orang-orang. Lian heran. Bagaimana bisa mereka berciuman di tempat umum? Tidakkah mereka malu. Namun Lian sedikit dapat menebak kalau mereka baru saja resmi berpacaran karena di tangan gadis itu memegang sebuah bunga mawar merah.

Karena merasa muak, Lianpun memalingkan wajahnya. Melihat orang berciuman sebenarnya mengingatkan Lian pada kejadian tiga tahun lalu. Dimana sore itu dia diajak bertemu oleh temannya di taman belakang kampusnya. Lian pikir ada hal penting yang akan dikatakan. Ternyata temannya itu menyatakan perasaannya pada Lian. Jelas Lian tolak dengan halus karena Lian memang tidak menyukai pria itu. Mungkin karena kesal dan merasa dipermalukan, pria itu tiba-tiba menyudutkan Lian pada sebuah pohon. Otak Lian langsung berpikir keras untuk bisa bebas dari temannya.

Saat jarak wajahnya dan wajah pria itu tinggal beberapa senti, Marcus datang dan langsung menghajar teman Lian. Lian bersyukur karena Marcus datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, Lian tidak tahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya. Kejadian itu sedikit membuat Lian trauma dan benci ketika melihat orang berciuman.

“Jangan melihatnya.” Ucap Marcus seolah tahu apa yang mencuri perhatian Lian. Lian menatap Marcus sewot. Cara Marcus memperhatikannya memang sedikit aneh.

Lian mendengus sebal sambil melihat ke arah Lian. Marcus dan Anna yang sangat tahu bagaimana ketakutannya Lian waktu itu karena mereka melihatnya secara langsung. Wajar jika Lian sensitif dengan hal-hal yang berbau intim karena dia sendiri sangat membencinya.

Entah kebetulan atau bukan, Lian melihat sosok bocah kecil berwajah dingin yang kemarin dia temukan menangis sedang duduk di sebuah halte. Sendirian. Hey! Dia anak kecil dan bagaimana bisa dia sendirian di tempat ramai seperti ini sendirian?

“Cho, bisakah kau menghentikan mobilnya di depan halte itu?” Sebenarnya itu perintah dengan cara halus. Marcus mengikuti arah jari telunjuk Lian.

“Kenapa? Apa disana ada salah satu kekasihmu?” Tanya Marcus dengan senyum jailnya.

“Ya!” Seru Lian sambil memukul lengan Marcus.

Lampu sudah berganti menjadi hijau. Sesuai dengan perintah Lian, Marcus menghentikan mobilnya tepat di depan Fellix. Tanpa banyak bicara, Lian langsung turun dan mendekati bocah bermata tajam itu. Dalam hatinya, Lian berpikir kenapa bocah kecil ini disini sendirian dan siapa yang menjemputnya. 

Marcus menatap Lian penasaran. Apa lagi yang akan dilakukan Lian? Namun rasa penasarannya berganti rasa heran saat melihat Lian duduk di samping bocah berumur lima tahunan.

Lian duduk di samping Fellix. Tampaknya Fellix belum menyadari keberadaan Lian. Bocah itu hanya menunduk sambil memegang sebuah ponsel. Fellix seperti tidak mempedulikan keadaan sekitarnya yang cukup ramai, mengingat saat ini masih jam makan siang.

“Hey!” Sapa Lian sambil menepuk pundak Fellix. Fellix yang merasa terusik akhirnya mengangkat kepalanya dan menoleh. Tepat ke arah Lian.

Wajah anak ini sangat datar. Benar-benar tanpa senyum. Melihatnya membuat hati Lian sedikit nyeri. Bagaimana bisa anak sekecil ini kehilangan senyumnya? Sebenarnya apa yang menimpanya? Dan hati Lian tergugah ingin tahu lebih banyak tengang Fellix. Dan rasa ingin selalu berada di samping Fellix itu kian membuncah.

Baru kali ini Lian merasa salah tingkah karena ditatap oleh bocah lima tahun. Lian menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “Apa yang kau lakukan disini sendirian, boy?” Tanya Lian mencoba menutupi rasa gugupnya.

Fellix kembali menundukkan wajahnya. Seolah enggan menanggapi Lian. Lian hanya mengangkat sebelah alisnya karena diabaikan oleh Fellix. “Siapa yang menjemputmu?” Tanya Lian lagi.

“Eomma.” Lirihnya sambil menggenggam ponselnya erat. Lian semakin dibuat bingung dan sedih dalam waktu yang bersamaan.

“Apa Eommamu sudah datang? Kalau belum, aku akan menemanimu.”

“Eomma tidak akan datang.” Sahut Fellix cepat.

Lian mendelik kaget. Apa maksudnya? Sejenak Lian menatap Marcus yang menunggu di mobil. Dia memberi isyarat agar menunggunya sebentar.

“Eomma sudah meninggal.”

.

.

.

.

.

To be continued~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s