Posted in Chapter, Family, Fool For You, Married Life

Fool For You Part 1

Fool For You Part 1

Author : brokenangel

Cast : Lian Jeon – Kim Taehyung – Fellix Kim – Jeon Jungkook – Park Jinyoung – Bae Irene – Park Chanyeol – Anna Boulstern – BTS Member – GOT7 Member

Genre : Action, Angst, Honor, Romance, Married Life

Rate : PG-15

.

.

.

.

.
Lian berjalan terburu-buru di sepanjang koridor rumah sakit yang sedikit lenggang mengingat saat ini sudah hampir malam. Tangannya sedari tadi merogoh isi tasnya guna mencari ponsel. Mulutnya tidak berhenti menggerutu karena begitu banyak isi di dalam tas tangannya. Ingin rasanya Lian menumpahkan semua isi tasnya kalau dia tidak ingat disini rumah sakit. Kemana perginya benda persegi itu?

Untuk sejenak Lian berhenti untuk mengistirahatkan kakinya sekaligus mengatur nafasnya. Demi dewa-dewi! Dia baru saja mendarat dari Swiss dan pria gila itu menyuruhnya untuk segera datang ke rumah sakit. Harusnya pria bergigi kelinci itu yang menjemputnya di bandara, bukan malah dia yang menghampiri pria kesayangannya itu. Lian tidak sempat mengecek penampilannya. Dia sangat lelah dan ingin segera tiba di ruangan Jungkook, pria gila yang menyuruhnya datang kesini.

Lian terlonjak kaget saat tiba-tiba suara deringan ponsel terdengar nyaring di koridor yang sepi ini. Ini suara handphonenya. Dan Lian langsung menepuk keningnya saat merasakan getar di saku coat merah jambunya. Dengan kasar Lian melempar tas tangannya di salah satu kursi ruang tunggu koridor tersebut karena saking kesalnya. Lalu setelah itu tangannya merogoh saku coatnya dan mengambil benda sialan yang sudah membuatnya seperti orang gila. Tanpa melihat ID caller pada layar teleponnya, Lian langsung mengangkat panggilan itu. Tidak perlu merasa bingung dengan siapa si penelepon karena hanya ada kurang dari sepuluh orang yang mempunyai nomor teleponnya.

“Lian Jeon speaking.” Sapaan utama dari Lian saat menerima telepon.

“Kau sudah sampai, baby?”

“Aku akan membunuhmu setelah sampai ruanganmu nanti.” Sungut Lian sambil memijati kakinya yang terasa pegal. Astaga! Dia baru saja berlari dari lobi hingga koridor ini dengan sandal berhak.

Terdengar suara tawa dari ujung telepon membuat darah Lian makin mendidih. “Aku tutup!” Ucapnya ketus lalu memutus sambungan secara sepihak.

Lian kembali mengantongi ponselnya dan meraih tas tangannya. Baiklah. Dia hanya butuh berjalan sedikit lagi untuk sampai di ruangan pria yang menelponnya tadi sekaligus pria yang sangat dia sayangi. Meskipun dia kesal, tetap saja dia menyayangi pria yang mempunyai hobi mengganggunya itu.

Lian baru akan berjalan saat dia mendengar suara tangis di sudut koridor lantai ini. Kepalanyapun langsung bergerak untuk mencari sumber suara. Hingga akhirnya matanya menangkap seorang bocah kecil yang menangis sambil berjongkok. Lian yang pada dasarnya sangat menyukai anak kecilpun langsung melangkahkan kakinya mendekati bocah kecil itu.

Masa bodoh dengan Jungkook yang pasti sudah menunggunya. Lian merasa hatinya tergerak saat melihat bocah kecil itu menangis. Dimana orangtuanya?

“Hey, jagoan!” Lian menyentuh pundak bergetar bocah kecil itu. Dia sudah berjongkok di depan bocah kecil itu.

Anak kecil itu mengangkat kepalanya. Wajahnya penuh air mata. Lian sedikit tertegun saat melihat paras bocah kecil itu. Bagaimana bisa anak sekecil ini memiliki tatapan setajam itu? Wajahnya juga terkesan dingin. Siapa orangtua bocah ini?

Mencoba mengabaikan tatapan tajam bocah kecil itu, Lian memasang senyum mautnya. “Siapa namamu?” Tanyanya berusaha seramah dan setenang mungkin.

Bagaimana bisa seorang bocah kecil bermata tajam bisa membuat seorang Lian Jeon hampir mati kutu?

Come on, Lian! Dia hanya anak kecil! Kau bisa menaklukkan anak kecil ini!

“Kau siapa?” Akhirnya bocah kecil itu membuka mulutnya.

Sumpah demi Dad! Bocah kecil ini sangat dingin. Sedingin es.

Lian menegak liurnya susah payah sebelum tersenyum kembali. “Aku? Mungkin kau bisa memanggilku teman?” Ucapnya berusaha terlihat santai.

“Aku tidak membutuhkan teman. Aku butuh Eomma.” Suaranya terdengar parau dan menyedihkan. Lian sendiri yang mendengarnya langsung merasa nyeri di bagian dadanya.

Aku juga membutuhkan Mom.

Lian mengusap-usap rambut kecoklatan bocah kecil itu. Kemudian dia menghapus air mata bocah kecil itu. “Jadi, siapa namamu?” Tanya Lian lagi.

“Fellix.” Jawabnya lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Oke, Fellix. Dimana orangtuamu? Kenapa kau disini sendirian?” Tanya Lian lagi sambil menuntun Fellix untuk berdiri.

Fellix nampaknya tidak menolak saat Lian menyuruhnya berdiri. Baiklah. Bocah es ini berhasil luluh.

“Appa sedang tidur. Sudah dua hari Appa tidak bangun.” Jawab Fellix

Lagi-lagi Lian dibuat tertegun dengan jawaban Fellix. Jadi orangtua dari bocah malang ini koma? Mendengarnya membuat Lian semakin merasa simpati. Dia kembali jongkok di depan Fellix sambil tangannya menghapus air mata Fellix yang masih mengalir.

“Kau jagoan, bukan? Seorang jagoan tidak boleh menangis. Kau harus kuat agar Appamu segera bangun.” Ucap Lian

Fellix tampak terdiam setelah mendengar kata-kata Lian. Dia bukan tipe anak kecil yang welcome dengan kedatangan orang baru. Dia juga tidak pernah berbicara lebih dari tiga kata pada orang asing. Tapi saat melihat Lian, entah kenapa Fellix ingin berada di samping Lian terus. Intinya, dia nyaman dengan Lian yang pada dasarnya adalah orang asing.

“Fellix?” Suara berat seseorang menginterupsi dua manusia beda umur itu. Fellix tersadar dari lamunannya dan Lian menoleh ke sumber suara.

Seorang pria paruh baya berjalan mendekati mereka. Lianpun langsung berdiri. Menebak kalau pria paruh baya ini kakek Fellix. Dia membungkukkan badannya sambil tersenyum.

“Anyeonghasseyo, Sir.” Ucap Lian berusaha seramah mungkin.

Lelaki paruh baya itu tampak tersenyum hangat melihat gadis di depannya yang sangat sopan dan anggun. Kemudian tatapan pria paruh baya itu beralih pada Fellix, sang cucu, yang sepertinya habis menangis.

“Aku melihat Fellix menangis disana jadi aku menghampirinya. Kudengar Appanya sedang koma. Aku turut prihatin, Sir.” Ucap Lian sambil menunjukkan wajah sedihnya.

Raut terkejut tidak bisa ditutupi oleh kakek Fellix. Apa Fellix baru saja mengenalkan dirinya pada orang asing? Dan apa Fellix juga yang mengatakan kalau Appanya koma? Bagaimana bisa? Yang kakek Fellix tahu, cucunya itu tidak suka berkomunikasi dengan orang asing. Alih-alih berbicara, menatap saja tidak mau. Tapi bagaimana bisa Fellix terlihat akrab dengan gadis yang baru saja ditemuinya ini?

Lian merasa heran sejak kedatangan pria paruh baya. Yang benar saja. Pria paruh baya itu sejak tadi hanya diam sambil menatapnya dan Fellix bergantian. Apa ada yang salah dengan penampilannya?

“Terimakasih, Nona.” Ucap pria paruh baya itu akhirnya.

“Bukan masalah, Sir. Cucu Anda sangat menggemaskan.” Sahut Lian kembali menatap Fellix yang masih terdiam.

Seulas senyum tulus terbit dari bibir pria paruh baya tersebut. Dia menyukai sikap ramah dan anggun gadis di depannya. Tatapannya beralih pada sang cucu yang masih tertunduk.

“Fellix, ucapkan apa pada Nona itu?” Tanya pria paruh baya itu sambil mengelus puncak kepala Fellix.

“Terimakasih.” Ucap Fellix pelan sambil tersenyum tipis.

“Sama-sama, jagoan. Ingat! Jangan cengeng, okay?” Sahut Lian sambil mengacak-acak rambut kecoklatan Fellix yang dibalas anggukan mantap oleh Fellix.

Kakek Fellix sungguh tidak percaya dengan adegan di depannya. Fellix, cucunya yang pendiam dan tertutup, tersenyum pada orang asing. Bahkan beliau sendiri jarang melihat cucunya ini tersenyum. Hingga akhirnya sebuah keinginan untuk mendekatkan gadis asing dan Fellix muncul.

Sudah waktunya.

“Baiklah, Nona. Terimakasih sudah menemukan cucuku. Kami harus kembali.” Ucap Kakek Fellix sambil menggandeng tangan mungil Fellix.

“No problem, Sir.” Sahut Lian

Lalu dua pria berbeda umur itu berjalan meninggalkan Lian. Lian masih tersenyum sambil menatap Fellix. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Fellix berbalik dan berjalan mendekati Lian. Sontak Lianpun langsung jongkok. Kakek Fellix kembali memperhatikan kelakuan cucunya yang mengejutkan. Setidaknya untuk hari ini.

“Nama Nona siapa?” Tanya Fellix pelan. Dia sudah tidak menangis.

Lian tersenyum menanggapi pertanyaan Fellix. “Lian.” Jawab Lian

“Apa kau mau menjadi temanku? Apa kita masih bisa bertemu lagi?” Tanya Fellix lirih sambil menundukkan kepalanya.

Entah sudah berapa kali Kakek Fellix dibuat terkejut dengan kelakuan Fellix. Kali ini finalnya. Apa Fellix  menemukan sosok Ibu dalam diri gadis muda ini? Kakek Fellix tampak berkaca-kaca melihat kemajuan dalam diri Fellix.

“Tentu saja. Aku besok akan datang kesini lagi. Jadi, mulai sekarang kita berteman?” Ucap Lian sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Fellix tersenyum lebar. Dia membalas acungan jari kelingking Lian dengan menautkan jari kelingkingnya. “Teman.” Ucapnya tampak bahagia.

“Kakekmu menunggu. Sampai jumpa besok, jagoan.” Ucap Lian sambil mengacak-acak rambut Fellix.

Fellix kembali berlari menghampiri sang kakek dan langsung menggandengnya. Dia melambaikan tangannya pada Lian masih dengan senyum lebar.

“Terimakasih, Nak.” Ucap Kakek Fellix dengan senyum tulus dan mata berkaca-kaca.

Lian tidak sempat membalas ucapan pria paruh baya itu karena mereka sudah berjalan meninggalkan dia. Namun Lian masih merasakan keanehan. Sejak tadi dia menangkap raut sedih dari mata pria paruh baya itu.

Tidak mau terlalu memikirkannya, Lian kembali pada niat awalnya. Menuju ruangan Jungkook. Dia menghela nafas kasar. Pria kasar itu pasti akan memarahinya.

Masa bodoh!

Lian Jeon. Seorang gadis berumur 22 tahun yang sudah lulus S1 di salah satu universitas di Swiss pada jurusan Managemen. Gadis blasteran Swiss ini kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya setelah empat belas tahun tinggal di Swiss bersama Frank Jeon, ayahnya. Kembalinya ke Seoul adalah untuk membantu sang ayah untuk mengurus perusahaan cabang yang berada disini tentunya.

Hidupnya terbilang datar untuk seorang gadis yang hidup di dalam keluarga terhormat di Swiss. Ayahnya adalah putra dari bangsawan Swiss. Sejak lahir Lian sudah diajarkan berdisiplin, menghormati, melindungi diri, dan menjaga nama baik keluarga. Lian hidup penuh kemewahan dan penjagaan yang ketat. Meski begitu, Lian mengajukan permohonan agar para pria bertubuh seperti hulk suruhan ayahnya berjaga dalam jarak radius dua puluh meter.

Bersyukurlah Frank Jeon, si pria paling protective, menyetujui syarat itu. Hanya Frank dan para pesuruhnya yang tahu kalau semua barang Lian sudah diberi chip yang dapat mendeteksi keberadaan Lian. Licik. Percayalah. Banyak sejata yang siap meledakkan kepala Lian dan Jungkook kalau Frank lengah sekali saja.

Pemandangan pertama kali yang Lian lihat begitu sampai di ruangan kebesaran Jungkook adalah wajah datar pria itu. Oh ayolah! Seharusnya dia yang kesal karena harus datang ke tempat ini. Dia sangat lelah. Dengan pandangan acuh, Lian berjalan menuju sofa ruang kerja Jungkook. Dia melempar tas tangannya asal dan langsung menyandarkan punggungnya. Abaikan tatapan intimidasi Jungkook.

Akhirnya. Lian bernafas lega. Dia bisa beristirahat sejenak di ruangan Jungkook yang super nyaman ini. Lian memejamkan matanya. Berusaha acuh pada Jungkook yang saat ini berjalan mendekatinya.

Jungkook tahu kalau Lian adalah gadis pembangkang yang sialnya sangat keras kepala. Tidak ada yang tahu bagaimana jalan pikiran gadis bermata biru itu. Hari ini contohnya. Mereka tidak bertemu dua tahun. Tidak adakah rasa rindu dari gadis pembangkang itu? Bahkan saat datang bukannya langsung memeluknya dia malah duduk dengan santai. Tanpa sapaan hangat dan penjelasan kenapa dia datang terlambat.

“Apa seperti ini caramu menyapaku setelah dua tahun tidak bertemu?” Tanya Jungkook sarkasme. Tangannya terlipat di depan dada dengan tatapan datar pada Lian.

Lian mendengus sebal. Dia membuka matanya dan menatap Jungkook sebal. “Apa harus dengan wajah seperti itu kau menyambutku? Hey! Aku baru saja mendarat dan seharusnya aku sudah tidur di kamarku. Bukan di ruanganmu!” Sahut Lian kesal.

Jungkook berdecak sinis. Lian memang gadis yang merepotkan dan menyebalkan. Tapi dia sangat menyayangi gadis menyebalkan ini.

Baby?” Suara Jungkook dan wajahnya mulai melembut.

Lian yang mendengarnyapun luluh. Jungkook memang paling bisa meluluhkan hatinya. Dia berdiri dan langsung memeluk pria bergigi kelinci ini dengan erat. Dibalas tak kalah eratnya oleh Jungkook. Mereka saling melampiaskan rindu. Senyum lebar langsung terpatri di wajah keduanya.

Jungkook menghujani Lian dengan kecupan-kecupan ringannya di kepala Lian. Damn! Dia sangat merindukan gadis dalam dekapannya. Sama halnya dengan Jungkook. Pria yang dia sebut gila dan menyebalkan ini, dia sangat merindukan pria ini.

“Gadis pembangkang, I miss you so bad!” Bisik pria bernama Jungkook itu.

“Aku juga, Jung! Sebenarnya aku masih kesal karena kau tidak menjemputku dan malah menyuruhku kesini.” Rajuk Lian sambil melepas pelukannya.

I’m sorry, dear. Ada pasien yang harus kutangani.” Ucap Jungkook dengan wajah menyesalnya.

“Aku cemburu dengan pasien itu.”

“Hey! Kau tahu kalau kau segalanya untukku! Aku selalu memprioritaskanmu, baby.” Ucap Jungkook sambil menjawil hidung Lian.

“Pembual.” Cibir Lian sambil mendudukkan dirinya diikuti Jungkook yang juga duduk di sampingnya.

“Bagaimana perjalananmu?” Tanya Jungkook sambil mengelus-elus rambut gadis yang amat dia sayangi itu.

“Melelahkan. Aku masih jet lag.” Jawab Lian sambil menyenderkan kepalanya pada bahu kokoh Jungkook.

Nyaman. Lian kembali memejamkan matanya. Jungkook hanya terkekeh kecil melihat kelakuan manja Lian. Dia mengelus-elus rambut Lian. Sesekali menciumnya.

“Bagaimana Dad? Apa dia masih bekerja?” Tanya Jungkook memecah keheningan setelah hening beberapa menit.

“Kau tahu dia workaholic. Katanya dia akan berhenti bekerja kalau aku menikah. Yang benar saja.” Jawab Lian dengan wajah kesalnya.

Jangan salah paham dengan hubungan Lian dan Jungkook. Mereka kakak beradik yang memang terlihat seperti sepasang kekasih. Umur mereka hanya terpaut dua tahun. Jungkook tinggal lebih lama di Seoul. Tentu saja setelah lepas dari kesedihannya semenjak kepergian sang ibu sebelas tahun yang lalu. Dia besar di Seoul bersama sang nenek dan diberi amanat untuk menjadi direktur di rumah sakit di bawah perusahaan milik ayahnya. Sayang sekali sang nenek sudah meninggal dua bulan yang lalu. Maka dari itu Lian memajukan tanggal keberangkatan ke Seoul.

“Bagaimana rasanya merangkap pekerjaan? Direktur dan dokter bedah.” Lian mendongakkan kepalanya guna melihat wajah sang kakak yang masih sangat dia rindukan.

“Tidak buruk. Banyak yang membantuku.” Jawab Jungkook

“Jimin Oppa?” Lian memekik kegirangan saat seorang pria berambut coklat berjas putih tiba-tiba masuk ke ruangan Jungkook.

Tanpa mengetuk pintu!

“Ice Princess! Kau sudah sampai? Apa sudah lama?” Sahut pria bernama Jimin itu sambil duduk di salah satu sofa single.

Wajah girang Lian berubah menjadi murung begitu mendengar panggilan Jimin terhadapnya. Sementara itu Jungkook tampak menatap Jimin sinis karena masuk ruangannya tanpa ijin.

“Sudah yang ketiga kalinya, Dokter Park.” Sindir Jungkook

“Kau tahu aku tidak peduli.” Sahut Jimin acuh.

Sementara itu Lian hanya mendengus sebal melihat dua pria di depannya. Waktunya dengan Jungkook sudah habis.

“Aku akan pulang sekarang.” Ucap Lian sambil meraih tas tangannya.

“Kenapa buru-buru sekali, baby? Aku masih sangat merindukanmu.” Tanya Jungkook dengan nada kecewa.

“Ice Princess, kau akan pulang? Kau bahkan belum memelukku.” Ucap Jimin

“Berhenti merayu adikku! Dan jangan memanggilnya Ice Princess. Dia tidak suka.” Sungut Jungkook

Sorry, Oppa. Kau tahu, Jeon Oppa tidak akan mengijinkanku memelukmu. Lagipula aku sangat lelah.” Sahut Lian dengan senyum andalannya.

“Baiklah. Istirahatlah, Li.” Ucap Jimin

Lian hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia beralih menatap Jungkook yang juga sedang menatapnya dengan tatapan menyesal. “Tak apa. Aku bisa pulang dengan Aiden. Jangan pulang larut karena aku akan menunggumu!” Ucap Lian seolah tahu arti tatapan Jungkook.

Tentu saja Jungkook merasa bersalah karena tidak bisa mengantarkan Lian pulang. Pekerjaannya masih banyak. Beruntung Lian sangat pengertian dan tidak manja. Kadang.

Setelah mendaratkan ciuman di pipi sang kakak, Lian keluar dari ruangan Jungkook. Sebenarnya dia juga masih ingin bersama Jungkook. Sayangnya, Jungkook bukan orang yang punya waktu luang banyak. Diapun harus rela menunggu Jungkook nanti malam.

Setelah Lian menghilang dari balik pintu, Jungkook kembali duduk di kursi kebesarannya. Dia tidak tahu kalau pekerjaan sebagai direktur rumah sakit akan sesibuk ini. Matanya kembali menatap Jimin yang sibuk bermain ponselnya. Temannya yang satu itu memang tidak pernah menghormatinya sebagai atasan.

“Ada yang bisa kubantu, Dokter Park?” Tanya Jungkook dengan nada menyindir. Pertanyaannya berhasil membuat Jimin melihatnya. Pria berwajah baby face itu kembali memasukkan ponselnya di saku jas.

“Kau terlalu kaku, Kookie.” Ucap Jimin santai. Tidak merasa bersalah dengan panggilannya untuk Jungkook.

Hey, Park Jimin! Yang kau panggil Kookie itu atasanmu! Pemilik rumah sakit ini!

“Lian sudah sebesar itu. Dia semakin cantik. Apa dia sudah punya pacar?” Tanya Jimin dengan wajah bingarnya.

“Hyung!” Jungkook mulai kesal karena Jimin masih saja bercanda sekaligus menggoda Lian.

Hey! Lian itu mutiara untuknya. Jungkook selalu selective pada pria-pria yang mendekati Lian, terutama Jimin. Dia tahu betul bagaimana Jimin. Mereka berteman sejak Senior High School. Resiko mempunyai adik perempuan yang sialan sangat cantik membuat Jungkook harus waspada. 

“Pasien VVIP belum sadar sampai sekarang.” Ucap Jimin mulai pada topik serius.

Jungkook berhenti memutar-mutarkan kursinya. Tatapannya tertuju pada sebuah rekam medis pasien yang masih terbuka di atas mejanya. “Dia akan bangun besok.” Ucap Jungkook penuh keyakinan.

“Aku heran manusia seperti apa dia sampai bisa mendapat dua peluru di perutnya.” Ucap Jimin

“Aku juga heran.” Balas Jungkook sambil menatap lembaran kertas di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Apa tidak papa Lian kembali ke Seoul? Kupikir dia masih trauma dan berbahaya untuk nyawanya.” Jimin beralih duduk di depan Jungkook. Wajahnya terlihat sangat serius.

“Aku bisa mengatasinya, Hyung.” Sahut Jungkook singkat. Berusaha menutupi wajah gugupnya saat Jimin membahas masalah ini. Padahal sejak tadi dia sudah berusaha agar terhindar dari topik ini.

“Aku percaya padamu. Lebih baik kau cepat selesaikan pekerjaanmu dan lihat keadaan pasien VVIP itu agar bisa pulang lebih awal. Aku tidak mau pe-ri-can-tik-ku menunggumu sampai malam.” Ucap Jimin sambil berdiri dari duduknya.

Jungkook sudah melotot tajam pada Jimin karena kembali menggodanya. Belum sempat Jungkook membalas ucapan Jimin, pria berambut coklat itu sudah keluar dari ruangannya.

Tanpa permisi! Khas seorang Park Jimin.

“Aku melihatnya tersenyum lebar hari ini.” Ucap seorang pria paruh baya sambil menatap seorang pria berumur dua puluh tahunan yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya.

Sementara itu seorang wanita paruh baya langsung berhenti mengelus-elus rambut bocah kecil di pangkuannya. Dia adalah Fellix, yang berada di pangkuan neneknya, Kang Younbi. Dan pria paruh baya itu Kim Taejun, kakek Fellix.

“Dia tersenyum pada seorang gadis asing.” Sambung Taejun dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Younbi menepuk-nepuk punggung Fellix saat bocah kecil itu menggeliat kecil. “Cucuku melakukan itu?” Gumamnya dengan mata berkaca-kaca.

Merasa senang, tidak percaya, sekaligus terharu. Selama dua tahun ini, sosok Fellix sangat berubah karena kepergian sang ibu. Tidak ada senyum dan tata krama. Fellix menjadi sosok pendiam, dingin, dan misterius. Tidak ada yang bisa mengembalikan sosok Fellix yang dulu. Termasuk sang ayah yang sampai sekarang masih terbaring lemah.

“Gadis itu…” Taejun memotong kalimatnya. Menghela nafas panjang. “Aku dapat merasakan kasih sayang yang gadis itu berikan pada Fellix. Dia bisa membuat cucuku tersenyum.” Sambung Taejun dengan suara pelan.

“Seharusnya Taehyung melihatnya.” Ucap Younbi pelan sambil mengelus-elus rambut sang cucu. “Kapan Taehyung akan bangun? Ini sudah dua hari.” Sambung Younbi dengan wajah sedih.

“Kita hanya perlu menunggu.” Sahut Taejun dengan wajah sendunya.

Taehyung atau Kim Taehyung, anak kedua mereka, mengalami kecelakaan mengenaskan dua hari yang lalu. Dia tertembak dua peluru yang mengakibatkan dia koma selama dua hari ini. Peluru itu dia dapat dari musuh salah satu saingan bisnisnya saat dia menghadiri pesta peresmian hotel baru di daerah Insandong. 

Taehyung sudah menikah. Lima tahun yang lalu dan menghasilkan bocah kecil tampan nan menggemaskan yang kemudian diberi nama Fellix Kim. Istrinya meninggal karena sebuah tusukan di bagian jantungnya oleh seseorang yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Sampai saat ini Taehyung memilih untuk membesarkan putranya sendiri, sedikit bantuan dari orangtuanya, kakaknya, dan juga mertuanya.

Sesampainya di rumah, Lian disambut oleh tiga pelayan perempuan dan laki-laki, kemudian dua satpam, dan beberapa penjaga di rumah ini. Mereka sangat ramah dan Lian tidak merasa risih sekalipun. Namun ada yang berbeda di rumah ini. Tidak ada empat anggota keluarga yang akan berkumpul saat malam minggu tiba. Tidak ada Frank yang akan memarahi putra-putrinya saat mereka terlambat bangun dan tidak ada lagi Lena yang mengajarinya membuat kue kesukaan Jungkook dan Frank.

Lian tidak sadar sejak kapan pipinya sudah basah oleh air mata. Dia hanya merasakan sesak di dadanya saat mengingat kenangan indah keluarga lengkapnya sebelas tahun yang lalu. Sebelum akhirnya sebuah kejadian mengerikan itu menghancurkan hidup Lian.

Lena, Momnya, terbunuh tepat di depan matanya dengan cara yang mengenaskan. Sungguh biadap para manusia itu yang dengan kejinya menyabet Lena dengan sabetan samurai. Saat hujan, petir, dan gelap. Bayangkan saja! Seorang anak kecil berumur sebelas tahun harus menyaksikan nyawa ibunya direnggut. Hancur sudah hidup Lian! Momnya meninggal tepat sehari sebelum dia berulangtahun.

Andai saja Lena tidak menyembunyikan dia di bawah tempat tidur, sudah jelas Lian tidak akan bisa menghirup udara musim dingin detik ini juga. Lena sudah mengorbankan hidupnya untuk Lian. Lian sempat menyalahkan tindakan nekat Lena yang menantang orang-orang berpakaian ninja dulu dan tidak memilih untuk lari. Seumur hidupnya, Lian tidak akan melupakan kejadian itu.

Lian tersentak kaget saat merasakan sebuah usapan lembut di pundaknya. Sudah berapa lama dia berdiam diri di ambang pintu sambil ditatap para pelayan dan penjaga rumah? Dan… Sejak kapan Jin ada disini? Di sampingnya. Merangkul pundaknya sambil tersenyum hangat. Lian menatap Jin dengan tatapan sendu. Seolah menyampaikan kepedihan hatinya. Jin mengangguk sambil meremas bahunya. Mengerti apa yang dirasakannya saat ini.

Detik selanjutnya, Jin menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tengah. Sebelumnya dia sudah menyuruh Kate, kepala pelayan rumah ini yang sudah mengabdi selama hampir 30 tahun, untuk membuatkan teh hangat. Tinggalah mereka berdua di ruang tengah. Lian masih larut dalam kesedihannya. Didampingi Jin, sepupunya. Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya sesekali terdengar suara helaan nafas berat Lian.

“Terimakasih, Oppa.” Lirih Lian masih dengan kepala tertunduk. Jin hanya diam. Namun Lian masih bisa melihat dari ekor matanya kalau Jin mengangguk.

Kate datang dengan membawa teh hangat pesanan Jin. Kemudian pergi lagi. Jin menyodorkan cangkir teh itu kepada Lian. Menyuruh Lian meminumnya agar lebih tenang. Dan Lianpun menurutinya. Jin kembali meletakkan cangkir itu setelah Lian meminumnya. Sedikit. Keduanya masih saling diam. Sebenarnya Jin sudah sangat ingin bertanya kabar Lian karena dia sangat merindukan gadis bermata biru ini. Tapi melihat kondisi Lian yang seperti itu membuat Jin harus sedikit bersabar.

Jin rela meninggalkan semua pekerjaannya di kantor saat tahu kalau adik sepupunya ini sudah sampai di Seoul. Terakhir dia bertemu Lian adalah saat natal enam tahun yang lalu. Wajar, bukan, kalau dia merindukan Lian? Tapi apa yang dia lihat saat hendak menaiki tangga menuju pintu utama rumah Lian? Ekspresi para pelayan, satpam, dan penjaga rumah yang kawatir dan sedih dengan pandangan pada Lian yang tertunduk lemah dan bahu yang bergetar.

Jin tentu tahu apa yang Lian rasakan. Biadap sekali orang-orang yang membunuh Lena tepat di depan Lian. Karena mereka Lian harus menjalani masa kecil yang suram dan mengalami trauma yang sampai saat ini masih sering kumat. Bahkan saat Lian memutuskan untuk kembali ke Seoul, Frank dan Jungkook sudah melarang Lian dengan keras. Tapi memang, Si Lian yang Pembangkang! Bukan Lian namanya kalau tidak mendapat yang dia inginkan. Setelah meyakinkan sang ayah dan kakak kalau dia akan baik-baik saja, akhirnya Frank mengijinkan Lian. Dengan berat hati.

Jin percaya pada Lian kalau dia akan baik-baik saja. Tapi setelah melihat keadaan Lian yang seperti ini, Jin menjadi ragu. Apakah Lian akan seperti ini terus? Melihatnya saja Jin sudah tidak tega.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jin setelah hening beberapa menit.

I’m okay, Oppa.” Jawab Lian dengan senyum yang dipaksakan. Senyum itu nampaknya menular pada Jin, karena saat ini Jin juga tersenyum. Nanar.

“Kau kelelahan. Lebih baik kau mandi dan istirahat selagi menunggu makan malam. Aku akan menemanimu.” Ucap Jin

Lian menggeleng. “Oppa, aku merindukanmu.” Bisik Lian sambil memeluk Jin erat.

“Aku lebih merindukanmu, gadis nakal.” Sahut Jin sambil membalas pelukan Lian dengan erat.

Jin tahu. Jin dapat merasakan ketakutan Lian melalui pelukan ini.

“Bagaimana perjalanannya?” Tanya Jin

“Melelahkan.” Jawab Lian singkat.

“Sudah kubilang, kau harus istirahat. Jungkook akan pulang sebentar lagi.” Jin kembali memaksa Lian.

Usahamu akan sia-sia, Jin! Jangan lupa kalau Lian adalah gadis keras kepala! Dan Jinpun hanya pasrah saat Lian tetap bersikeras ingin menunggu Jungkook pulang. Tentu saja setelah Lian membersihkan diri terlebih dahulu. Jin membiarkan Lian menuju kamarnya. Sendirian. Jin berusaha yakin kalau Lian pasti bisa menghadapi traumanya sendiri. Lian harus belajar.

Jin terus memperhatikan Lian yang tengah menaiki tangga menuju kamarnya. Dibalik langkah tegas Lian, Jin yakin kalau sebenarnya hati Lian tengah bergejolak. Antara melawan dan menyerah. Jin terlalu mengenal Lian. Akhirnya Lian hilang dari pandangannya. Jin terus mensugesti kalau dia tidak boleh menyusul Lian. Lian akan turun dengan wajah ceria. Jin hanya perlu menunggu adik sepupunya itu selesai mandi dan mereka akan menunggu Jungkook bersama.

Sembari menunggu Lian selesai mandi, Jin kembali mengurus pekerjaannya yang tadi sempat dia tinggal. Dia mengecek beberapa email masuk yang kebanyakan tentang perjanjian bisnis dan laporan-laporan seputar perusahaannya. Jin adalah seorang Presiden Direktur Empire Inc., perusahaan teknologi dan software terbesar di Korea Selatan. Perusahaan itu dibangun sendiri oleh Jin yang dibantu ayahnya, Jungkook, dan Yugyeom. Kebetulan dua sahabatnya itu pecinta game sehingga mendukung penuh keinginan Jin yang hendak mendirikan perusahaan teknologi dan software yang kebanyakan game.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Jin tahu kalau seorang perempuan akan lama saat mandi. Tapi apa harus selama ini? Apa saja yang Lian lakukan? Jin mulai gusar. Dia sudah berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat ke arah tangga. Setiap detik yang berjalan membuat Jin semakin merasa cemas.

Ini buruk. Akhirnya Jin memutuskan untuk menyusul Lian. Setidaknya dia harus memastikan kalau adik sepupunya itu baik-baik saja. Namun baru mencapai tangga ketiga, Lian sudah muncul dengan wajah yang lebih segar. Jin bernafas lega. Lian baik-baik saja.

Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi di kamar Lian. Dan hanya Tuhan yang tahu kalau Lian sedang berakting terlihat baik-baik saja.

You’re such a great actress, Lian!

“Apa aku lama?” Lian memecah keheningan saat sudah berada di depan Jin. Jin tersenyum sambil menggeleng.

“Kookie Oppa belum pulang?” Tanya Lian lagi. Dia berjalan menuju sofa ruang tengah diikuti Jin di sampingnya.

“Sebentar lagi akan pulang.” Jawab Jin

“Tuan, Nona, makan malam sudah siap.” Ucap Kate ramah dengan kepala tertunduk.

“Baiklah. Sebaiknya kita makan malam dulu. Aku yakin kau belum makan sejak siang tadi.” Ucap Jin

Lian menggeleng. “Aku akan menunggu Kookie Oppa.” Sahut Lian sambil berdiri dari duduknya. “Aku akan menunggu di kamar, Oppa. Apa tidak papa kutinggal?” Tanya Lian ragu.

“Tak apa. Kau butuh istirahat. Aku akan disini. Lagipula Yugyeom dan Bambam akan kesini.” Jawab Jin sambil tetap mempertahankan senyum hangatnya.

Setelah berpamitan Lianpun menuju kamarnya. Membiarkan Jin menemaninya di ruang tengah. Jujur saja, Lian sangat lelah. Dia ingin segera tidur tapi Jungkook belum pulang. Dia hanya akan tidur kalau Jungkook sudah pulang.

Sudah jam delapan. Jungkook mulai kesal dan resah. Pekerjaannya belum selesai. Masih ada pasien yang harus dia tangani. Tapi dia ingin segera pulang karena dia yakin Lian masih menunggunya. Setelah melihat keadaan pasien VVIP ini, Jungkook bisa pulang. Sialan sekali Jimin yang melemparkan tugasnya pada Jungkook.

Jungkook memasuki ruangan VVIP ditemani dua suster dan satu lagi rekan dokternya. Seperti biasa. Ruangan itu dihuni sepasang suami istri yang dikenal sebagai orangtua pasien itu dan juga seorang bocah kecil, anak dari pasien itu. Melihat Jungkook masuk, pria paruh baya yang diketahui bernama Taejun langsung berdiri. Pria paruh baya itu menunduk sopan pada Jungkook sebelum akhirnya memberi ruang untuk mereka agar leluasa dalam mengecek kondisi putranya.

Masih tetap sama. Tidak ada kemajuan. Setiap kali memeriksa pasiennya yang satu ini, Jungkook selalu kasihan dengan bocah kecil yang saat ini tidur di salah satu sofa ruangan VVIP ini. Jungkook menghela nafas panjang setelah membaca catatan medis pasiennya yang bernama Kim Taehyung ini. Peluru itu tidak menembus perutnya terlalu dalam, tapi kenapa sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemajuan?

Jungkook memberikan catatan medis itu kepada suster. Kemudian dia mendekati Taejun yang tampak menunggunya dengan wajah yang selalu cemas.

“Bagaimana, Dokter Jeon? Apa putraku ada kemajuan?” Tanya Taejun

Jungkook mencoba tersenyum agar keluarga tetap berpikir positive. “Dia akan segera sadar, Tuan Kim. Jangan berhenti berdoa.” Jawab Jungkook

Taejun menghela nafas panjang. Pandangannya beralih pada sang putra yang masih setia memejamkan matanya. “Terimakasih, Dokter.” Ucap Taejun berusaha memaksakan senyum.

“Sudah menjadi kewajiban kami, Tuan. Kalau begitu kami permisi, Tuan, Nyonya. Jika ada sesuatu bisa memencet tombol itu.” Ucap Jungkook sambil menunjuk sebuah tombol di atas brankar Taehyung.

“Ya, Dokter. Terimakasih.” Sahut Taejun

Setelah berpamitan, rombongan Jungkookpun keluar dari ruangan VVIP ini. Dia bernafas lega. Pekerjaannya selesai dan dia bisa pulang bertemu Lian. Jungkook berpamitan pada rekan dokter dan dua suster itu. Dia langsung menuju parkiran khusus jajaran direksi rumah sakit ini.

Sudah hampir pukul sembilan. Jungkook belum pulang. Jin, Yugyeom, dan Bambam masih di ruang tengah rumah Jungkook. Mereka juga sudah makan malam terlebih dahulu. Tanpa Lian. Lian masih menolak untuk makan kalau tidak ada Jungkook. Sampai sekarangpun, gadis blasteran Swiss itu masih mengurung diri di kamar. Terakhir Jin lihat, Lian sedang duduk di balkon sambil mendengarkan musik. Sekarang? Entahlah. Jin sibuk menyelesaikan project game baru perusahaannya yang akan dirilis dua bulan lagi.

Saat mereka sedang melakukan meeting kecil, terdengarlah suara mobil yang diyakini adalah milik Jungkook. Dalam hati Jin bernafas lega namun juga kesal. Sudah berkali-kali Jin menyuruh Jungkook untuk fokus pada posisi direktur. Tapi Jungkook kekeuh untuk memakai jas dokternya. Mengobati orang sakit adalah bidangnya.

Jungkook masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Dia melihat mobil Jin dan Bambam terparkir di depan rumah. Jungkookpun sedikit lega karena Lian tidak sendirian di rumah. Jungkook disambut Kate di depan rumah. Kebiasaan Kate sejak Jungkook mulai bekerja.

“Tuan, Nona tidak mau makan sampai sekarang. Dia sejak tadi berada di kamarnya. Tuan Muda Jin juga sudah memaksa agar Nona makan, tapi Nona tetap tidak mau makan.” Ucap Kate sepanjang perjalanan menuju ruang tengah.

Ucapan Kate tersebut berhasil membuat Jungkook marah. Adiknya itu punya penyakit asam lambung akut. Di ruang tengah, dia hanya mendapati Jin, Yugyeom, dan Bambam yang nampak sibuk dengan laptop di depan mereka. Dalam hatinya berterimakasih pada Jin yang rela melaksanakan meeting di rumahnya. Setidaknya Lian mendapat pengawasan dari Jin.

“Kau pulang?” Sapa Jin saat menyadari Jungkook sudah di ruang tengah.

“Ya. Ada pasien yang harus kutangani.” Jawab Jungkook sambil melepas jas dokternya dan memberikan pada Kate. “Kalian sudah makan malam?” Tanyanya kemudian.

“Sudah. Tapi adikmu sangat keras kepala. Dia mengurung dirinya di kamar. Padahal aku ingin melihatnya.” Jawab Bambam

“Aku sudah melarangnya berdekatan dengan pria sepertimu.” Ucap Jungkook dengan senyum miringnya. Bambam sontak memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Jungkook. “Lanjutkan saja pekerjaan kalian. Anggap rumah sendiri.” Sambungnya lalu menuju kamar Lian. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan Lian sampai tidak mau turun untuk menyapa kedua sahabatnya.

Jungkook tadi memang sempat kawatir kalau trauma Lian akan kembali. Tapi bagaimanapun juga, Jungkook harus percaya pada Lian. Dia juga tidak mau membatasi ruang gerak Lian. Biarkan saja Lian berbuat sesuai keinginannya selama itu tidak merugikan untuk Lian sendiri dan orang-orang sekitarnya.

Jungkook langsung membuka pintu Lian tanpa mengetuk pintu. Hanya dia dan Frank yang berani masuk kamar Lian tanpa mengetuk pintu. Bukan sudah dikatakan sejak awal kalau Lian selalu berhati-hati dan menjaga privasinya. Kamar termasuk di dalamnya. Jungkook tidak mendapati Lian di ranjang maupun sofa. Namun pandangannya jatuh pada sebuah kotak yang terbuka dan terletak di lantai, tepatnya di sisi meja yang ada di sudut kamar Lian.

Jungkook melangkah masuk ke kamar dan menutup pintu. Dia mendekat ke arah kotak itu. Penasaran dengan isi kotak yang lumayan besar itu. Keningnya berkerut saat melihat isi kotak itu. Ada sebuah dress kecil berwarna pink magenta, topi, bando, buku bersampul balon dan bunga sakura, dan yang terakhir yang membuat Jungkook kaget adalah foto keluarga mereka saat Lian masih berumur tujuh tahun dan Jungkook sembilan tahun. Foto itu diambil di taman bermain.

Kemudian Jungkook teringat pada Lian. Dimana Lian? Apa selama mengurung di kamar, Lian membongkar kardus ini? Akhirnya Jungkook dapat bernafas lega saat melihat Lian berdiri di balkon kamarnya dengan headset yang terpasang di telinganya.

Jungkook berjalan perlahan mendekati Lian. Adiknya yang malang. Tinggal tiga langkah Jungkook berhasil mencapai Lian, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara isakan. Lian menangis. Adiknya menangis. Jungkook mengurungkan niatnya untuk mendekati Lian. Memilih untuk melihat dan mendengar Lian yang tengah menangis dari belakang. Mendengar setiap isakan yang keluar dari bibir mungil Lian, hati Jungkook serasa ditusuk ribuan jarum. Sakit. Lian bukan seorang gadis cengeng. Terakhir menangis adalah saat neneknya menangis.

Jungkook bukan tidak tahu apa yang membuat Lian menangis. Diapun dapat merasakan bagaimana hancurnya Lian. Jungkook ikut menangis. Menangis dalam diam. Baginya melihat Lian bersedih adalah kesakitannya.

‘Mom, kau lihat betapa Lian sangat merindukanmu? Lian menjadi gadis kuat yang mengagumkan. Aku janji akan selalu menjaga Lian dan tidak akan membiarkan Lian menangis. Aku janji, Mom.’

.

.

.

.

.


To be continued~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s