Posted in Chapter

COMPLICATED LUV Part 5

COMPLICATED LUV Part 5

(Who Are You?)

Author : brokenangel

Cast :

Kim Lian

Park Chanyeol

Park Jinyoung

Mark Tuan

Choi Sooyoung

Jung Hanna

.

.

.

.

.
Di kepala Chanyeol masih penuh dengan pertanyaan bagaimana Baekhyun bisa mengenal Lian, dimana mereka pernah bertemu, dan apa mereka punya hubungan dekat? Sesekali dia mencuri pandang pada gadis di sampingnya yang sibuk dengan makanannya dan Baekhyun yang tengah mengobrol dengan member lain. Mereka terlihat tidak saling mengenal. Atau jangan-jangan mereka pura-pura tidak saling mengenal? Apakah ini bisa disebut sebagai pengkhianatan? Baekhyun diam-diam mengenal Lian dan tidak pernah memberitahunya. Tapi jelas bukan salah Baekhyun, karena pria manis itu belum tahu rupa Lian.

Kepalanya serasa mau pecah. Dia meneguk habis wine di depannya. Tatapannya tertuju pada jari tengahnya yang sudah tersemat cincin pertunangan. Setelah ini, siapa yang harus dia korbankan? Kepalanya terangkat saat mendengar suara kursi digeser. Ternyata Lian. Mau kemana gadis itu? Mata Chanyeol tidak lepas dari Lian. Namun dia menangkap sesuatu yang ganjal. Lian terlihat lemah dan berjalan sempoyongan.

Semuanya terjadi begitu cepat. Sebelum Lian jatuh ke lantai, dengan cepat Chanyeol berdiri dan berlari menghampiri Lian yang hampir ambruk. Chanyeol tidak peduli dengan jeritan teman-temannya maupun teman-teman dari gadis yang saat ini tengah tidak sadarkan diri di dekapannya. Dia terus-terus menepuk pipi Lian berharap gadis bermata biru ini membuka matanya.

Sedetik kemudian Lian sudah dikerumuni banyak orang. Suara panik mereka sama sekali tidak membantu. Darah Chanyeol mendidih seketika. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengangkat Lian. Membawa Lian keluar dari kerumunan itu. Mark, Jinyoung, dan kedua sahabat Lian mengikutinya. Tapi Chanyeol berusaha mengabaikan mereka. Yang terpenting saat ini adalah Lian. Sejak dia melihat Lian kesakitan di atas panggung tadi, dia sudah yakin kalau gadis dalam gendongannya ini tidak baik-baik saja.

Melihat Lian yang tidak sadarkan diri seperti ini, entah mengapa membuat Chanyeol marah. Dia sangat kawatir. Makanya sepanjang perjalanannya menuju suite room, dia sama sekali tidak bersuara. Takut kalau akan memarahi orang-orang.

.

.

.

.

.

.
Baekhyun tidak pernah merasa sedejavu ini sebelumnya. Untuk yang kedua kalinya, dia melihat Lian tidak sadarkan diri, setelah dua tahun yang lalu dia juga pernah melihat Lian pingsan gara-gara terlalu banyak minuman alkohol. Dua tahun yang lalu, bukan sengaja dia bertemu Lian di sebuah klub malam. Padatnya jadwal bersama EXO membuat Baekhyun merasa bosan dan memilih klub malam sebagai alternatif penghilang penatnya. Di klub malam tersebut tidak sengaja dia melihat Lian yang beberapa hari yang lalu dia temui di backstage sedang meracau tidak jelas bersama salah seorang teman perempuannya. Baekhyun mencoba mengabaikan Lian dan menikmati whiskey yang dipegangnya. Namun suara jeritan seorang gadis membuatnya mau tidak mau menoleh ke sumber suara. Ternyata Lian pingsan. Dia berdecak sinis hingga akhirnya mendekati wanita yang kebingungan mengangkat Lian. Dengan segala kebaikan hatinya, Baekhyunpun mengantar Lian dan teman Lian tersebut ke apartment teman Lian. Pertemuan yang sejujurnya singkat namun sejujurnya membekas dalam ingatan Baekhyun.

Sedikit banyak perubahan dalam diri Lian. Dulu rambut Lian berwarna biru dan kulitnya tidak seputih ini. Tapi sekarang Lian benar-benar berubah dan menjelma menjadi titisan Dewi Aprodhite. Bukan. Baekhyun sama sekali tidak tertarik -dalam artian perasaan- pada Lian. Melalui pertemuan dua jam di backstage dulu, Baekhyun sedikit tahu tentang Lian. Dia juga tahu kalau pada awalnya Lian menyukai Chanyeol. Namun sejak rilisnya film pertama Chanyeol bersama artis China pada tahun 2015, Lian beralih pada Baekhyun. Dan mendengar alasan Lian membuat Baekhyun tersenyum geli. Siapa sangka kalau sekarang Lian malah bertunangan dengan Chanyeol, pria yang selama dua bulan setelah rilisnya filmnya selalu mendapat jutaan cacian dari Lian hanya karena adegan ciuman di akhir film? Dunia memang terlalu sempit, kan?

Masih dengan balutan gaun merah hatinya, Lian belum sadarkan diri. Sialan sekali Chanyeol yang menyuntikkan obat tidur untuk Lian. Seharusnya dibiarkan saja Lian sadar sehingga dia bisa menanyakan kabarnya dan Lian bisa mengganti gaunnya dengan pakaian yang nyaman sekaligus membersihkan make upnya. Mungkin dia bisa protes setelah Chanyeol kembali dari mengantarkan para orangtua dan yang lainnya ke bawah.

Chanyeol sengaja menyuruh para orangtua dan yang lain termasuk Mark untuk pulang dan beristirahat. Sedikit memaksa mengingat Mark yang sangat keras kepala dan kekeuh ingin membawa Lian pulang. Namun lama kelamaan Mark mengalah. Lagi pula tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisi Lian. Chanyeol sendiri yang memeriksa Lian.

“Aku tidak menyangka kalau Chanyeol diam-diam menjalin hubungan dengan Lian. Bahkan dia akan bertunanganpun tidak memberitahu kita.” Lay memecah keheningan di dalam suite room tempat Lian dirawat.

“Aku yakin kunyuk satu ini sudah tahu.” Sungut Kai sambil menoyor kepala Baekhyun.

“Ya! Yang kau bilang kunyuk ini hyungmu!” Balas Baekhyun tidak terima.

“Seharusnya kau mengatakan pada kami. Di luar sana fans dan media pasti menunggu konfirmasi dari kita.” Ucap Suho, sang leader.

“Bagaimana bisa Lian Noona terlihat cantik meskipun sedang tidur?” Celetuk Sehun tiba-tiba.

“Kau cari mati denganku?” Sebuah suara berat mengagetkan mereka.

Sehun yang duduk di samping Lian langsung berdiri dan tersenyum tanpa dosa. Chanyeol masuk ke suite room bersama beberapa pelayan wanita. Mengambil tempat di samping Lian, dia memegang kening Lian. Memastikan apakah Lian terserang demam mendadak atau tidak. Hembusan nafas lega terdengar saat dirasa suhu tubuh Lian normal.

Perbuatan Chanyeol tersebut tidak lepas dari pandangan para member. Melihat bagaimana perlakuan Chanyeol terhadap Lian membuat member lain beranggapan kalau Chanyeol benar-benar serius dengan pertunangan ini. Termasuk Baekhyun yang paling tahu alasan adanya pertunangan mendadak ini.

“Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Kalian tunggu saja di kamar Baekhyun. Aku harus mengurus Lian dulu. Sekarang kalian keluar saja dulu.” Ucap Chanyeol sambil melepas aksesoris yang Lian kenakan. Mulai dari anting dan hiasan di rambut. Kecuali kalung berliontinkan matahari.

Tanpa membalas ucapan Chanyeol, para memberpun keluar dari suite room Lian. Saat Baekhyun hendak melangkah keluar, suara Chanyeol menghentikannya.

“Kau juga hutang penjelasan denganku.” Ucap Chanyeol tanpa melepas pandangannya dari Lian.

Baekhyun memutar bola matanya jengah. Dia sudah menebak apa yang akan ditanyakan Chanyeol. “Arraseo.” Sahutnya singkat lalu meninggalkan Chanyeol bersama Lian dan para pelayan yang lain.

Selepas kepergian teman-temannya, Chanyeol menghela nafas berat. Di otaknya sibuk mengarang cerita untuk teman-temannya nanti. Tidak mungkin dia mengatakan kalau pertunangan ini hanya perjodohan semata. Bisa-bisa mereka beranggapan kalau pertunangan ini hanya untuk menaikkan pamor keluarga Kim. Lalu haruskah dia berpura-pura untuk mencintai Lian?

“Ini air hangat dan dinginnya, Tuan.” Ucap salah satu Kepala Pelayan di hotel ini yang tiba-tiba datang sambil membawa dua baskom yang masing-masing berisi air hangat dan air dingin.

“Taruh disitu saja. Kalian boleh keluar sebentar.” Sahut Chanyeol tanpa melepas pandangannya dari Lian.

Tanpa bersuara, para pelayanpun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Chanyeol dan Lian. Chanyeol menikmati setiap detik yang berjalan untuk merekam detil wajah Lian yang sangat dia rindukan. Benarkah ini Lian? Gadis kecilnya sudah berubah menjadi dewasa?  Tangan Chanyeol terangkat untuk mengelus-elus pipi Lian. Dulu pipi ini selalu habis dia ciumi. Dan kenangan itu selalu membekas dalam ingatannya. Hatinya sedikit nyeri saat menyadari kalau selama ini dia mengingat keningan indah masa kecil sendirian.

“Otakmu mungkin tidak mengenalku. Tapi hatimu selalu mengingatku.” Lirihnya sambil tersenyum getir.

Kemudian dia mengambil baskom berisikan air hangat yang ada di atas nakas dan mencelupkan handuk kecil ke dalam air tersebut. Dibersihkannya make up Lian pelan-pelan. Dia melakukannya dengan sangat telaten. Seolah-olah Lian adalah benda paling berharga yang bernilai tinggi. Setelah make up Lian bersih, kemudian dia mengganti dengan air dingin untuk menyegarkan kulit Lian.

“Sudah waktunya kau mengingatku, Lian.” Ucapnya pelan.

Jinyoung tidak pernah merasa secemas ini sebelumnya. Baru saja dia menginjakkan kakinya di apartment, tapi dia kembali mengkhawatirkan kondisi Lian. Dia belum bisa tenang sebelum melihat dengan langsung bagaimana keadaan Lian. Sayang sekali Chanyeol tadi melarang semua orang untuk melihat kondisi Lian dengan dalih Lian harus beristirahat penuh. Jinyoung tidak bisa membantah Chanyeol karena memang dia tidak berkuasa penuh terhadap Lian.

Jinyoung hanya berjalan mondar-mandir di ruang tengah apartmentnya. Dia menimbang-nimbang haruskah dia menyelinap masuk ke dalam kamar yang saat ini ditempati Lian. Jelas tidak. Dia sangat yakin kalau sepanjang lobi, basement, koridor, tangga darurat, dan lift pasti sudah terdapat orang-orang suruhan Kim Taekwang dan Mark mengingat mereka sangat protective dengan Lian.

Mengingat tentang keprotectivetan mereka, Jinyoung ingat saat Mark membicarakan hal bahaya yang akan terjadi pada Lian kalau Lian tidak dibawa pulang tadi saat masih berada di hotel. Jinyoung masih sangat ingat bagaimana ekspresi Kim Taekwang saat Mark mengatakan hal itu. Hal-hal yang menyangkut Lian, tentu saja menjadi urusannya. Kalau Lian dalam bahaya tentu saja dia harus berbuat sesuatu.

Baru saja Jinyoung ingin menuju kamarnya untuk mandi, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Nama Mark terpampang di layar handphonenya.

“Yobosseyo?” Ucap Jinyoung begitu panggilan dia terima.

“Percaya saja pada Chanyeol kalau Lian baik-baik saja. Aku juga sangat kawatir melebihi kau.” Ucap Mark tiba-tiba. 

Mark memang selalu tahu apa yang Jinyoung rasakan.

“Bagaimana bisa kau setenang ini?” Tanya Jinyoung sarkasme.

“Aku berusaha tenang. Sudahlah. Lebih baik kau istirahat saja. Lian akan baik-baik saja. Keuno.” Mark memutus sambungan secara sepihak.

Jinyoung hanya menghela nafas panjang. Baiklah. Lebih baik berfikir positive. Lian sudah bersama tunangannya dan member EXO yang lain. Jangan lupakan para pengawal dan bodyguard utusan Kim Taekwang dan Mark. Jinyoungpun memutuskan untuk mandi dan bergegas tidur.

“Apa yang ingin kalian tahu?” Tanya Chanyeol to the point setelah dia mengganti pakaiannya. Dia duduk di sofa single yang terdapat di kamar Baekhyun.

Para member hanya diam dan saling bertatapan. Kemudian tatapan mereka berhenti pada Baekhyun. Baekhyun yang mengerti arti dari tatapan teman-teman satu grupnyapun langsung menggeleng.

“Kami dijodohkan sejak kecil. Lian sahabatku sejak aku masih berumur satu tahun. Dia kehilangan ingatannya saat berumur tujuh tahun gara-gara terjatuh dari sepeda dan kepalanya membentur pembatas jalan. Dia sama sekali tidak mengingatku sampai sekarang. Untuk kenapa pertunangan tiba-tiba dilakukan, kalian tidak perlu tahu. Kalau kalian bertanya apa aku mencintai Lian atau tidak, aku juga belum tahu jawabannya.” Jelas Chanyeol panjang lebar. Pandangannya lurus ke depan menerawang jauh.

Ekpresi dari para member setelah mendengarkan penjelasan panjang dari Chanyeol berbeda-beda. Sehun dan Kai tampak seperti orang dungu yang hanya melongo. Kyungsoo hanya menunjukkan wajah datarnya, seperti biasa. Suho, Chen, dan Lay tampak kaget. Xiumin? Dia menunjukkan raut bingung. Baekhyun hanya melongo tidak percaya kalau Chanyeol akan semudah itu menjelaskan pada para member.

“Siapa yang akan kau pilih setelah ini?” Tanya Xiumin setelah hening beberapa saat. Sontak semua pandangan langsung tertuju pada member tertua group itu.

Chanyeol menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab. “Gadis kecil yang mencuri ciuman pertamaku dan mengajakku menikah.” Jawabnya mantap.

“Yang kau maksud itu Laurent?” Tanya Baekhyun

Pandangan para member termasuk Chanyeol langsung tertuju pada Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan tidak suka.

“Siapa lagi Laurent? Ya! Kenapa kalian banyak sekali menyimpan rahasia?” Tanya Suho mulai kesal. Dia menatap couple di groupnya satu per satu.

“Kau diam-diam menemui Lian dan tidak mengatakan padaku? Apa kau sedang mengkhianatiku?” Tanya Chanyeol tajam. Nampaknya dia tidak bisa mengendalikan emosinya saat mendengar Baekhyun memanggil Lian dengan panggilan Laurent.

Baekhyun memutar bola matanya malas. “Apa kau pernah memberitahuku bagaimana wajah Laurent?”

“Berhenti memanggilnya Laurent!” Potong Chanyeol dengan nada tinggi. Ketujuh member lain yang melihat perdebatan itu langsung tersentak kaget. Baru kali ini Chanyeol berani membentak Baekhyun.

Baekhyun berdecak sinis. “Bagaimana bisa kau menganggap sahabatmu sendiri pengkhianat?” Baekhyun menatap Chanyeol sinis. “Seharusnya kau berterimakasih padaku karena sudah membawa Laurent pulang ke apartmentnya. Kalau saja tidak ada aku, Laurent pasti sudah menjadi santapan para pria hidung belang.” Sambungnya sambil berdiri dari duduknya.

“Ya! Kalian ini bicara apa? Bisakah kalian tidak membuat kami semakin bingung?!” Suho sebagai leader mencoba menengahi perdebatan antara Baekhyun dan Chanyeol.

“Aku tahu kalian lelah. Tapi bisakah kalian bicara dengan kepala dingin dan membuat semuanya jelas? Kau, Baekie! Duduk!” Xiumin selaku member yang tertua juga ikut angkat bicara.

Seperti perintah si member tertua, Baekhyunpun kembali duduk dengan malas. Dia tahu Chanyeol emosi dan lelah, tapi menyebutnya sebagai pengkhianat tetap menyakitinya. 

“Jelaskan pelan-pelan sehingga tidak ada kesalahpahaman. Kau, Chanyeol! Jangan terbawa emosi! Tahan dulu sifat temperamentmu itu!” Xiumin kembali berucap setelah Baekhyun duduk. Dia mungkin pendiam. Namun saat melihat para dongsaengnya bertengkar, dia akan angkat bicara dan menasehati mereka. Bukankah itu tugasnya sebagai member tertua?

Chanyeol menghela nafas panjang, berusaha mendinginkan kepalanya. “Tanyakan apa yang ingin kalian tahu pada Baekhyun. Kurasa dia sangat tahu semuanya.” Ucap Chanyeol lalu berdiri dari duduknya dan langsung pergi begitu saja.

“Ya! Chanyeol! Park Chanyeol, kau mau kemana?!” Teriak Suho saat Chanyeol mulai keluar dari kamar Baekhyun.

Baekhyun hanya menghela nafas kasar. Chanyeol memang selalu seenaknya. Sekarang apa yang harus dia katakan pada teman-temannya yang saat ini tengah menatapnya menunggu penjelasan?

“Hyung?” Sehun memanggil Baekhyun setelah lama hening. Baekhyun menatap Sehun malas. “Lian Noona dan Laurent, siapa yang paling cantik?” Sambungnya yang langsung mendapat pukulan bertubi-tubi dan makian dari para hyungnya.

Chanyeol membuka pintu suite room Lian pelan-pelan. Berusaha tidak menimbulkan suara. Lian masih tertidur pulas dengan piyama sutra polkadotnya. Chanyeol melangkah dengan pelan mendekati Lian dan mengambil tempat di samping Lian. Ditatapnya Lian dengan lekat. Apakah keputusannya dalam memilih Lian sudah tepat? Akankah dia menyesal? Entahlah. Yang terpenting saat ini gadis pencuri ciuman pertamanya sudah kembali. 

Tangan Chanyeol terangkat untuk mengelus-elus pipi Lian dan bergerak menuju hidung mancung Lian. Dua organ itu adalah favoritnya dulu. Namun sekarang semua yang ada pada Lian menjadi favoritnya. Terutama mata biru dan bibir cherry Lian. Melihat bibir cherry Lian membuat Chanyeol ingin menciumnya. Namun dia sadar kalau itu salah. Hingga akhirnya dia hanya mencium kening Lian cukup lama.

“Apapun hubunganmu dengan Baekhyun, kau akan tetap menjadi milikku, Ana.” Ucapnya lirih.

Setelah itu dia memutuskan untuk tidur di sofa panjang yang terdapat di suite room tersebut. Aktivitasnya seharian ini membuatnya sangat lelah dan penat. Dia harus siap menghadapi pertanyaan Lian esok hari.

.

.

.

.

.
Chanyeol baru saja selesai mandi. Dia mengenakan celana panjang selutut dan kaos hitamnya. Sebuah handuk kecil masih menggantung di lehernya. Tangannya sesekali mengacak-acak rambut coklatnya yang masih sedikit basah. Dilihatnya Lian yang masih tidur pulas di tempat tidur king size itu. Tidak salah Chanyeol menyuntikkan obat tidur untuk Lian. Setidaknya tunangannya itu bisa beristirahat dengan tenang.

Chanyeol melirik jam dinding yang terpasang di dinding suite room tersebut. Pukul delapan. Waktu yang tepat untuk membangunkan Si Putri Tidur. Lagi pula sarapan mereka sudah menunggu di meja makan. Chanyeol berjalan menuju jendela kaca besar lalu membuka tirainya. Membiarkan cahaya matahari pagi yang menyehatkan kulit masuk ke dalam ruangan besar ini.

Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca besar di suite room Lian nampaknya membuat si penghuni terusik. Tangannya yang tersembunyi di dalam selimut terangkat untuk menutupi silau akibat cahaya matahari yang masuk. Matanya sedikit menyipit. Namun tak lama setelah itu, gadis bermata biru itu kembali terlelap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Udara musim dingin di akhir bulan Februari nampaknya membuat Lian betah berlama-lama di atas kasur empuknya.

Cukup lama Chanyeol memperhatikan Lian yang kembali asik dengan mimpinya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil posisi di samping Lian. Dia tidur menyamping menghadap Lian dengan tangan kanan sebagai penopang kepalanya. Di bibirnya muncul sebuah senyum tipis.

“Tunanganku sangat pemalas.” Gumamnya diikuti kekehan kecil.

Pelan-pelan, Chanyeol menyingkirkan selimut yang menutupi wajah Lian. Senyumnya makin lebar saat melihat wajah innocent Lian saat tidur. Sangat damai. Tangannya terangkat untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Lian.

“Ngh~ Mark, jangan menggangguku. Biarkan aku tidur seharian ini.” Racau Lian dengan mata yang masih terpejam.

Sebelas alis Chanyeol terangkat saat mendengar racauan Lian. Jadi Lian mengira kalau dia adalah Mark? Lalu… Apa ini?! Lian memeluknya! Wajahnya terbenam di dada Chanyeol. Perasaan aneh itu muncul lagi. Mendebarkan.

“Baumu kenapa berubah? Badanmu juga terasa lebih besar.” Gumam Lian tanpa membuka matanya.

Chanyeol menahan nafasnya saat merasakan nafas hangat Lian yang menembus kaos hitam tipisnya. Bagaimana bisa Lian tidak ingat kalau dia tidak berada di rumah? Chanyeol mencoba menormalkan degup jantungnya sebelum akhirnya untuk membangunkan Lian.

“Ya! Kau tidak mau bangun? Kita harus sarapan sekarang.” Ucap Chanyeol sambil menggoyang-goyangkan tubuh Lian.

Tidak ada reaksi sama sekali. Yang ada malah wajah Lian yang terlihat semakin pulas. Chanyeol hanya menghela nafas panjang. Tangannya terangkat ke atas kepala Lian dan mengelus-elusnya.

“Ana, bangun. Kita harus sarapan sekarang.” Ucapnya lebih lembut. Bukan tipe seorang Park Chanyeol.

Nampaknya usaha Chanyeol tidak sia-sia. Lian nampak mengerjap-ngerjapkan matanya lucu. Kepalanya juga sedikit di jauhkan dari dada lebar Chanyeol. Satu fakta yang Chanyeol dapat dari Lian dewasa adalah Lian akan langsung bangun kalau kepalanya dielus-elus. Kesadaran Lian nampaknya belum terkumpul sepenuhnya. Terbukti dari pelukannya yang tidak merenggang. Tidak ada yang menandingi kecantikan Lian saat bangun tidur. Chanyeol harus mati-matian menahan untuk tidak melahap habis bibir Lian.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Lian dengan suara serak khas bangun tidur.

“Delapan.” Jawab Chanyeol singkat sambil berusaha menahan tawanya.

“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” Tanya Chanyeol

“Hem. Oppa, kenapa suaramu besar sekali? Kau lebih gemuk.” Tanya Lian dengan mata menyipit. Kepalanya terangkat untuk menatap wajah sosok yang saat ini dia peluk. Dan saat itu juga matanya langsung terbelalak kaget.

“Kau!” Pekiknya langsung sadar sepenuhnya. Dia menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol dan mengeratkan selimutnya. “Apa yang kau lakukan di kamarku?!” Pekiknya dengan wajah panik.

Chanyeol hanya menampilkan senyum jailnya. “Menurutmu apa? Lagi pula ini bukan di kamarmu.”

Spontan Lian menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya membulat kaget saat melihat tubuhnya yang sudah terbalut piyama bermotif polkadot. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Bukan kamarnya.

“Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?” Tanya Chanyeol sambil mendekatkan wajahnya.

Lian langsung bangkit dari tidurnya saat Chanyeol mendekatkan wajahnya. Namun yang dia dapat malah kepalanya yang sangat sakit. Diapun kembali terduduk di pinggir ranjang. Chanyeol yang melihat itu langsung bangun dari tidurnya dan mendekati Lian. Dia jongkok di depan Lian.

“Apa yang kau rasakan?” Tanyanya dengan wajah serius.

Lian hanya sibuk memegangi kepalanya. Potongan peristiwa itu kembali berkeliaran di kepalanya. Membuat rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.

“Ana?”

“Ana, jangan pernah lepas kalung ini. Kalung ini pemberian Haraboeji untukmu.”

“Akh!” Lian sampai menjambak rambutnya saat rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.

Potongan peristiwa baru muncul di kepalanya. Ana? Lian merasa familiar dengan panggilan itu.

“Apa yang kau lihat? Tenanglah, Ana.” Chanyeol berusaha menenangkan Lian.

“Kau… Kalung.” Jawab Lian dengan suara lemah.

Chanyeol menghela nafas panjang. Dugaannya benar, bukan? Lian hanya sedang menahan potongan peristiwa masa kecilnya.

“Tak apa. Jangan ditahan. Kau…”

“Kau siapa?” Potong Lian cepat dengan tatapan menghunus mata Chanyeol.

Chanyeol sedikit terkejut mendengar pertanyaan Lian yang tiba-tiba. Dia berdehem pelan untuk menormalkan ekspresinya. “Tunanganmu. Kita resmi bertun…”

“Siapa kau sampai Appa memilihmu untuk dijodohkan denganku?!” Lian memotong ucapan Chanyeol lagi namun kali ini dengan nada tinggi.

Ada dua hal yang membuat Lian melampiaskan kemarahannya pada pria berlesung pipi di depannya. Pertama, karena dia merasa tidak tahu apa-apa dan dengan ketidaktahuannya itu dimanfaatkan Appanya sendiri untuk mengatur pertunangan ini. Kedua, alasan konyol yang membuatnya tidak menyukai Chanyeol sejak dua tahun yang lalu. Mengingat hal itu membuat darah Lian mendidih.

Chanyeol mencoba untuk tidak ikut terpancing emosi. Bagaimanapun juga, saat ini dia sedang menghadapi seorang gadis yang mengalami amnesia masa kecilnya, dimana masa kecil itu terdapat banyak hal penting. Lagi pula, bukankah wajar bagi Lian untuk marah? Disaat dia baru saja tiba, dia dikejutkan dengan pertunangan mendadak ini. Chanyeol sendiripun masih merasa kesal.

Chanyeol menunjukkan senyum termanisnya untuk gadis di depanny yang sekarang berstatus sebagai tunangannya. “Kau tahu jawabannya melalui potongan peristiwa yang kau lihat.” Ucapnya santai. “Dan kurasa kau juga dapat mengambil kesimpulan sendiri, kalau aku, orang yang sangat penting untukmu.” Tambahnya diikuti senyum miringnya.

Lian berdecak sinis. Tatapannya semakin tajam pada Chanyeol. “Kau bodoh.” Desisnya

Chanyeol melotot kaget. Barusan Lian mengatainya bodoh? Bahkan orangtua dan teman-temannya tidak pernah mengatainya bodoh.

“Kau tidak mengenalku dengan baik, tapi menerima pertunangan ini.

“Justru karna aku sangat mengenalmu, aku menerima pertunangan ini.” Ucap Chanyeol dengan suara rendah.

Suasana hening seketika. Dua manusia itu hanya saling bertatapan tajam. Hanya Tuhan yang tahu kalau Chanyeol sangat berusaha menahan untuk memakan mulut Lian yang ternyata sangat pedas. Hingga akhirnya dia sadar. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Alangkah baiknya jika menjelaskan pada Lian pelan-pelan. Tugas pertamanya akan segera dimulai.

“Hentikan perdebatan tidak penting ini. Sekarang lebih baik kita sarapan.” Chanyeol melembutkan wajah dan suaranya.

“Kau mencoba menyuapku?”

“Jangan mendebatku atau aku akan menciummu sekarang juga!” Ancamnya

Lian merasa kalah. Dia semakin dibuat kesal dengan pria jangkung di depannya. Moment dimana seharusnya dia memeluk Chanyeol dan meminta maaf sudah dia coret. Kekesalan karena adegan sialan yang tidak pernah dia lupakan itu lebih mendominasi diri Lian. Mengabaikan Chanyeol yang masih jongkok di depannya, Lian berdiri dan langsung menuju kamar mandi.

Chanyeol hanya bisa mengelus-elus dadanya. Dia tidak menyangka kalau gadis kecilnya yang dulu sangat manja dan cengeng kini menjadi sangat cuek, kejam, dan bermulut pedas. Diapun menuju ruang makan untuk menunggu Lian keluar dari kamar mandi.

Suasana sarapan pagi ini melebihi kuburan di malam hari. Dua manusia itu bahkan tidak saling melirik dan seolah menganggap rekan makannya patung. Keduanya sibuk dengan menu sarapan di hadapan mereka. Tanpa diketahui dua manusia ini, Baekhyun menyaksikan aksi diam pasangan baru itu sejak lima menit yang lalu. Dia berdiri bersandar pada dinding pembatas kamar dan ruang makan.

Seumur hidupnya, Chanyeol tidak pernah melalui pagi seperti ini. Biasanya dia akan melontarkan candaan disela sarapan bersama member EXO maupun orangtuanya. Tapi untuk pagi ini Chanyeol sadar kalau dia sedang berhadapan dengan gadis bermulut pintar. Jadi, dari pada emosinya tersulut, lebih baik dia diam sebelum Lian mengajaknya berbicara.

“Apa kita memang sangat dekat?” Lian yang nampaknya tidak betah dengan suasana hening akhirnya membuka suara. Dia juga sudah menyelesaikan sarapannya.

“Kau tahu jawabannya melalui kalung yang selalu kau pakai itu.” Jawab Chanyeol sambil menggedikkan dagunya pada kalung yang Lian pakai.

Lian memegang liontin kalungnya. “Sebenarnya kau ini siapa?” Tanyanya pelan.

Chanyeol tersenyum getir mendengar pertanyaan Lian. “Aku Park Chanyeol. Sahabatmu sejak kecil dan sekarang menjadi tunanganmu. Aku juga idola para gadis di luar sana.” Chanyeol memaksakan untuk menjawab meskipun hatinya sakit.

“Lupakan tentang kau yang idola para gadis. Aku muak!” Lian jujur dengan ucapannya.

Baekhyun merasa kalau sudah cukup dia memperhatikan dua manusia itu diam-diam. Diapun berjalan mendekati Lian.

“Kau muak dengan gadis-gadis di luar sana atau gadis China itu?” Baekhyun menginterupsi pembicaraan Lian dan Chanyeol. Dia mengambil tempat duduk di samping Chanyeol. Untuk sementara ini dia melupakan kalau mereka sedang bertengkar. Toh, nanti juga akan baikan.

Chanyeol menatap Baekhyun kaget. Jujur dia masih kesal karena Baekhyun yang sudah mengenal Lian tanpa memberitahunya. Tapi dia juga merasa bersalah telah menyebut Baekhyun sebagai pengkhianat. Dia tidak pernah menunjukkan wajah Lian. Jadi tidak seharusnya dia marah. Rasa kesalnya itu adalah sebagai bentuk kecemburuannya pada Baekhyun.

“Hai, Laurent.” Ucap Baekhyun sambil melambaikan tangannya pada Lian.

Senyum Lian mengembang saat melihat Baekhyun yang tiba-tiba datang. “Oppa!” Pekiknya senang.

Chanyeol menatap Lian tidak suka saat mendengar Lian memanggil Baekhyun dengan panggilan Oppa. Baekhyun nampaknya menyadari tatapan tidak suka Chanyeol. Dalam hati dia tertawa geli.

“Bagaimana kabarmu, Laurent?”

BRAKK

.

.

.

.

.

To be contuniued~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s