Posted in Chapter

COMPLICATED LUV Part 4

 COMPLICATED LUV part 4 

(Beyond Expectation)

Author : brokenangel

Cast :

Kim Li An 

Park Chan Yeol

Park Jin Young

.

.

.

.

.
Tawa menggelegar dari Hanna dan Youngjae terus terdengar seiring dengan candaan yang dilontarkan Jackson dan yang lainnya. Tak heran lagi kalau dengan berkumpulnya mereka bisa membuat suasana rumah bak istana yang selalu sepi setiap harinya menjadi lebih hidup. Dengan terjalinnya hubungan persahabatan antara Lian dan Jinyoung, membuat kedua sahabat Lian juga menjadi dekat dengan teman-teman Mark. Apalagi Yugyeom adalah sepupu dari Sooyoung. Dunia benar-benar sempit.

Berbeda dengan yang lain, Mark nampak gusar sejak Lian dan Appanya masuk ke dalam ruang kerja. Sedari tadi dia terus melihat ke arah pintu ruang kerja Appanya. Dia penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana. Bayangan Lian mengamuk dan membentak Appanya terus memenuhi isi kepalanya.

Brak.

Suara dentuman keras yang berasal dari ruang kerja Tuan Kim membuat semua orang terdiam seketika. Mereka langsung menatap ke sumber suara. Terlihat Lian yang baru saja keluar dari ruang kerja Tuan Kim dengan wajah marah dan penuh air mata. Tanpa bertanyapun, mereka sudah pasti tahu apa yang terjadi. Tidak ada yang tidak tahu diantara mereka kalau pesta nanti malam juga merupakan pesta pertunangan dari salah satu anak Kim Taekwang yang tak lain dan tak bukan adalah Lian.

Selanjutnya, terlihat Nyonya Kim yang berlari menuruni tangga dengan wajah panik. Pasti karena suara dentuman pintu yang dibanting Lian. Nyonya Kim langsung masuk ke ruang kerja suaminya. Dalam waktu yang bersamaan, Mark dan Jinyoung berdiri. Mereka saling bertatapan dengan tatapan yang hanya mereka yang bisa mengartikan.

“Aku harus menemui Lian dulu.” Mark membuka suara. Tanpa menunggu balasan dari teman-temannya, dia langsung berjalan cepat menuju kamar Lian.

Jinyoung mendudukkan tubuhnya dengan wajah lesu. Dia tampak menyesal dan dirundung rasa bersalah karena telah menyembunyikan hal penting ini dari Lian. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi kecewa dan marah Lian nantinya. Tangan Jinyoung terangkat untuk mengacak-acak rambutnya.

“Kau tidak bersalah. Jangan merasa menyesal.” Ucap Jackson saat menangkap raut wajah frustasi Jinyoung.

.

.

.

.

.
“Yeobo?” Suara lirih Nyonya Kim menyapa pendengaran Tuan Kim yang tengah bersandar lesu di sofa. Tangan kirinya memegang dada atas sebelah kiri.

Nyonya Kim berjalan mendekati sang suami dan mengambil tempat di sampingnya. Tangannya langsung mengusap-usap pundak sang suami. Wanita paruh baya itu tahu apa yang baru saja terjadi. Pasti suaminya sudah memberitahukan pertunangan yang akan diadakan nanti malam kepada Lian. Dia tahu bahwa putrinya itu sangat marah dan kecewa. Terlihat sekali dari wajah Lian yang penuh air mata saat mereka berpas-pasan di tangga.

“Apa aku keterlaluan?” Pertanyaan Tuan Kim menyadarkan sang istri.

Nyonya Kim meremas pundak sang suami. “Tidak, yeobo. Kau mengambil keputusan yang tepat.” Jawab Nyonya Kim lembut.

Melihat wajah pucat sang suami membuat Nyonya Kim dilanda panik. Pasti Tuan Kim tertekan dengan reaksi Lian. Melihat kesehatan Tuan Kim yang memang selalu menurun, membuat Nyonya Kim dilanda ketakutan.

“Putriku sangat marah. Aku membuatnya menangis.” Ucap Tuan Kim sangat pelan.

Mata Nyonya Kim berkaca-kaca mendengar penuturan sang suami. “Mark pasti bisa membuat Lian mengerti, yeobo.” Sahut Nyonya Kim

.

.

.

.

.
Lian menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi. Air matanya tak mau berhenti mengalir. Ucapan Appanya beberapa menit yang lalu masih terekam jelas di kepalanya.

“Kalau kau menolak pertunangan ini, lepas jas doktermu dan urus perusahaan Grandpa. Appa membutuhkan seorang penerus.”

“Perjodohan bisnis?” Sahut Lian dengan nada sinis.

“Bukan, sayang. Kumohon dengarkan Appa dulu.”

“Apa yang harus kudengarkan, Appa?! Kau selalu mengambil keputusan sepihak! Aku bukan boneka!” Potong Lian dengan nada membentak. Biarlah dia dianggap sebagai anak yang tidak punya tata krama kepada orangtua. Lian tidak akan semarah ini kalau Appanya tidak mengambil keputusan sepihak dengan menjodohkannya dengan orang yang tidak dia kenal.

“Sayang, Appa mohon. Calon tunanganmu akan membantumu mengingat masa kecilmu.”

“Aku tidak butuh ingatan masa kecilku!” Lian kembali membentak Appanya. Air mata mulai keluar membanjiri pipinya.

Suasana hening sejenak. Hanya ada suara isak tangis Lian. Tuan Kim tampak menghela nafas panjang. Suasana hatinya sangat gundah. Melihat putri kesayangannya menangis, membuat Tuan Kim merasa sangat bersalah dan goyah. Tapi pertunangan ini tetap harus dilakukan.

“Ada sesuatu hal yang penting dan Appa tidak bisa memberitahumu sebelum ingatanmu kembali, Lian. Hanya dia yang bisa membantumu mengingat.”

Suara Tuan Kim terdengar pelan dan memohon. Jika saja dengan membuat Lian membencinya karena keputusan sepihaknya, maka akan Tuan Kim lakukan. Asalkan pertunangan ini tetap dilaksanakan. Setidaknya ini adalah salah satu cara untuk melindungi putrinya dari bahaya.

“Anggap saja ini permintaan terakhir Appa. Kau bisa memilih sekarang. Menerima pertunangan ini dan kau bisa memakai jas doktermu atau kau tetap akan memakai jas doktermu dan menjadi anak durhaka.”

“Aku berharap tidak menginjakkan kakiku lagi di rumah ini.”

Lian membekap mulutnya untuk menahan suara tangisnya yang mungkin bisa terdengar sampai luar. Dia menyalakan shower dan berdiri di bawahnya. Lama kelamaan tubuhnya merosot. Bahunya bergetar hebat. Lian menekuk lututnya dan memeluknya. Dia menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Tidak peduli dengan dinginnya air yang mengguyur tubuhnya.

Pertunangan ini… Lian tidak berharap jalan hidupnya seperti ini. Dia sudah menyusun berbagai rencana saat dia kembali di tanah kelahirannya. Terutama untuk mengejar cinta Jinyoung, sahabatnya. Namun baru saja tiga jam dia menghirup udara segar Korea Selatan, dalam sekejap udara yang tadinya menyejukkan hati Lian kini menjadi menyesakkan karena ucapan Appanya beberapa menit yang lalu.

Sebenarnya Lian benci menangis. Tapi keputusan sepihak Appanya sudah melukai hatinya. Dia merasa harapannya untuk mendapatkan Jinyoung langsung pupus. Appanya menghancurkan harapannya. Lian bukan tipe anak yang suka membangkang. Lian mau saja menerima pertunangan ini asalkan pria yang dijodohkan dengannya adalah Jinyoung. Dia tidak mau bertunangan dengan seseorang yang tidak dia kenal.

Lian tidak peduli dengan tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan. Dia masih betah meratapi nasibnya dibawah guyuran air shower. Hingga akhirnya terdengar suara Mark memanggilnya. Lian tidak peduli. Dia yakin Mark juga mengetahui perihal pertunangan ini.

“Angel!” Pekik Mark kaget saat melihat Lian duduk lemah di bawah guyuran shower. Dia langsung berjalan mendekati Lian dan mematikan shower.

“Apa yang kau lakukan?!” Bentaknya saat melihat Lian yang hanya berdiam diri sambil menyembunyikan wajahnya.

Hiks.

Wajah Mark melembut saat mendengar suara isak tangis Lian. Dia menghela nafas panjang untuk meredam emosinya. Melihat tindakan nekat Lian membuatnya panik dan marah. Saat ini masih musim dingin dan Lian duduk di bawah guyuran air shower. Lihat! Bahkan tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Markpun jongkok di depan Lian. Pasti Lian sangat kecewa dengannya saat ini.

“Jangan seperti ini, Angel. Kau bisa sakit.” Ucap Mark lembut sambil memegang pundak Lian.

Diluar dugaannya, Lian menepis dengan kasar tangan Mark yang memegang pundaknya. Well, Lian benar-benar marah dan kecewa dengan semua orang. Mark mencoba mewajari sikap Lian. Hey! Dia bukan orang yang penyabar. Bahkan dia mati-matian berusaha untuk tidak membentak Lian dan membuat kondisi Lian makin buruk. Mark menghela nafas panjang. Berusaha mengontrol emosinya.

Tanpa berbicara, Mark berdiri dan mengambil jubah handuk kemudian disampirkan di tubuh menggigil Lian. Astaga! Bagaimana bisa Lian tahan dengan air dingin yang mengguyur tubuhnya tadi? Dia bisa saja sakit. Mark yang hanya bersentuhan dengan Lian saja langsung meringis kedinginan. Mark memang selalu dibuat terkejut dengan Lian. Karena tidak mendapat perlawanan dari Lian, Mark menjulurkan tangan kirinya ke bawah lutut Lian dan tangan kanannya ke punggung Lian. Diapun mengangkat tubuh Lian dari lantai dingin itu.

Lian terus memberontak dalam gendongan Mark. Dia memukul-mukul dada Mark, meminta untuk diturunkan. Tidak tahukan gadis keras kepala ini kalau Mark tengah menahan untuk tidak meneriakinya lagi? Mark masih tetap menulikan telinganya. Tidak peduli bajunya ikut basah dan dadanya yang mulai nyeri karena pukulan Lian yang tidak pernah main-main. Jelas. Lian pemegang sabuk tertinggi semua cabang bela diri.

“Bisakah kau diam, Lian?” Mark mulai menggeram marah. Dia mendudukkan Lian di ranjang. Lalu beranjak lagi untuk mengambil handuk yang lain. Setelah dapat dia tidak kembali menghampiri Lian, namun berjalan ke arah pintu kamar Lian.

Mark mendengus sebal saat mendapati Jinyoung berjalan mondar-mandir di depan kamar Lian. Sahabatnya yang satu ini memang sama keras kepalanya dengan Lian. Jinyoung yang mendengar pintu terbuka langsung berhenti dan menatap Mark. Kalau saja dia tidak mendengar suara Mark yang menggelegar tadi, Jinyoung tidak akan nekat kesini. Dia takut Mark akan berbuat kasar pada Lian. Jinyoung berusaha melihat ke dalam untuk tahu bagaimana kondisi Lian. Tapi, sial. Mark sengaja menutupi keadaan di dalam.

“Hyung! Aku ingin melihat Lian!”

“Kau pikir Lian mau bertemu denganmu saat ini?” Tanya Mark cepat sambil tersenyum miring. Puas karena melihat ekspresi Jinyoung yang cemberut. Benar juga. Lian tidak ingin bertemu siapapun yang sudah membuatnya kecewa. Jinyoung termasuk ke dalamnya.

“Apa dia melakukan hal-hal yang melukainya?” Tanya Jinyoung hati-hati. Matanya tetap mencuri celah agar dapat melihat kondisi Lian.

“Jangan lupa kalau dia gadis nekat. Aku bahkan hampir mati saat melihatnya tadi.” Mark menjawab dengan berlebihan yang sukses membuat Jinyoung melototkan matanya.

“Hyung! Jangan menakutiku!”

“Pergilah. Aku yang akan mengurusnya. Ah ya! Tolong suruh Eomma untuk membuatkan coklat panas untuk Lian.” Ucap Mark dan langsung menghilang dari balik pintu. Belum sempat Jinyoung membalas ucapannya. Jinyoung mendengus sebal saat kepalanya hampir membentur pintu.


Lian masih terus menghindari Mark yang sedang berusaha untuk mengeringkan rambutnya. Bahkan dia menepis tangan Mark dengan kasar saat Mark hendak menyentuhnya. Membuat Mark harus berkali-kali menghembuskan nafas panjang. Sabar, Mark. Lian sedang kalut. Jangan terpancing. Seperti itulah yang terus dia sugestikan untuknya sendiri.

“Kau ingin tahu siapa pria yang ditunangkan denganmu?” Tanya Mark membuka pembicaraan. Tangannya sibuk mengeringkan kepala Lian. Akhirnya Lian menyerah dan membiarkan Mark mengeringkan kepalanya.

Lian hanya diam saja. Tidak berniat dan berminat untuk membahas masalah pertunangan konyol ini. Mendengarnya saja membuat Lian ingin muntah. Jadi yang dia lakukan hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Dia juga lelah menangis.

“Dia adalah pria yang pernah kau ajak menikah dulu. Dia juga pernah menolongmu saat kau jatuh dari sepeda.” Lanjut Mark sambil sesekali melihat Lian yang seperti patung.

Setelah selesai mengeringkan kepala Lian, Mark kembali berjalan menuju pintu. Lian tidak ingin tahu apa yang dilakukan kakaknya itu. Pikirannya masih belum kembali. Entahlah. Lian kalut saat ini. Dia marah dan butuh pelampiasan. Tak lama kemudian, Mark kembali sambil membawa segelas coklat panas. Mark meletakkan coklat panas itu di tangan Lian. Sedikit mengurangi rasa dingin yang dirasakan Lian. Setelah itu, Mark berlutut di depan Lian.

“Aku menyesal kembali.” Lirih Lian tanpa mengalihkan pandangannya. Air matanya kembali keluar dari matanya.

“Maafkan, Oppa.” Mark menunduk dalam. Benar-benar menyesal dan juga bingung. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membatalkan pertunangan ini, karena pada akhirnya Lian akan tetap menikah dengan pria yang akan menjadi tunangannya.

“Maaf tidak membuat pertunangan ini batal. Kenapa harus aku? Kenapa bukan kau saja?!” Lian berucap dengan nada tinggi dan menatap Mark penuh kemarahan.

“Yang dibutuhkan penerus Shinwa, Lian.”

“Bohong! Shinwa sudah punya penerus! Grandpa sendiri yang bilang kalau aku bisa menjadi dokter dulu! Kenapa, Oppa?! Kenapa kalian menghancurkan mimpiku?!” Akhirnya Lian menumpahkan kemarahannya pada Mark. Pipinya basah oleh air mata.

“Jawabannya ada di calon tunanganmu.”

“Tunangan, tunangan, tunangan! Aku muak mendengar kata itu! Aku tidak akan mati tanpa bertunangan! Apa kalian menganggapku sebagai boneka yang bisa kalian atur sesuka kalian?!” Ucap Lian dengan nada tinggi sambil berdiri dari duduknya setelah meletakkan gelas yang dia pegang di atas nakas. Nafasnya memburu dengan wajah yang merah padam.

“Justru kau akan mati kalau tidak mau bertunangan.” Desis Mark sambil menundukkan kepalanya.

“Aku lebih baik mati saja.” Suara Lian melemah seiring dengan tubuhnya yang meluruh ke lantai. Tangisnya kembali pecah. Dia menangkupkan kedua tangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata.

Mark mendekati Lian dan menarik tubuh ringkih adiknya ke dalam pelukannya. Setetes air mata keluar dari sudut matanya. Sungguh Mark tidak berniat untuk menghancurkan mimpi-mimpi yang sudah dibangun Lian. Tapi Mark tidak mempunyai kuasa untuk membatalkan perjanjian antar keluarga yang sudah dibuat sejak belasan tahun yang lalu. Ya. Alasan penerus Shinwa memang hanya alasan. Alasan sebenarnya hanya bisa dijawab oleh calon tunangan Lian dan Tuan Kim sendiri.

“Oppa mohon, mengertilah. Bersabarlah. Kau akan segera tahu mengapa kami melakukan ini. Kami hanya ingin melindungimu, Lian. Kami menyayangimu.” Bisik Mark sambil mengelus-elus punggung Lian. Lian mencengkram erat kemeja yang dikenakan Mark. Dia menahan jeritannya dan sumpah serapahnya.

Bohong kalau Lian tidak penasaran dan kecewa. Semua orang seolah menyembunyikan sesuatu yang penting darinya. Lian benci menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apapun. Andai saja orangtuanya mendiskusikan hal ini terlebih dahulu pada Lian, Lian tidak akan semarah ini. Setidaknya dia mempunyai waktu untuk berpikir dan mencaritahu apa motif dilakukannya pertunangan mendadak ini. Tapi sekarang? Lian terlanjur kecewa! Dia marah pada semua orang dan kehilangan rasa percayanya.

“Maafkan kami, Angel.” Bisik Mark

.

.

.

.

.

Diamond Kingdom Hotel

19.10 p.m

Suasana modern dengan nuansa putih dan merah tampak membuat ball room yang akan dijadikan sebagai pesta penyambutan putri bungsu dari Menteri Pertahanan Korea Selatan sekaligus acara pertunangan yang dilakukan secara diam-diam ini menjadi indah. Lampu-lampu kristal tergantung indah. Berbagai macam karangan bunga terpasang indah di setiap sudut. Jangan lupakan stan-stan minuman dan makanan yang berjejer di setiap sudut ball room. Yang paling menarik mata adalah dekor panggung yang terlihat elegan dan namun terkesan mewah. Para pelayan berseragam ala Inggris sudah menyebar untuk melakukan pekerjaan masing-masing sejak beberapa jam yang lalu. Mereka terlihat lebih sibuk saat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit.

Tepat pukul tujuh, pelayan sudah berada dalam posisi masing-masing. Satu per satu tamu mulai berdatangan. Tidak sedikit yang berdecak kagum dengan suasana surga dalam pesta ini. Mereka yang datang berasal dari berbagai profesi. Beberapa berseragam tentara, kepolisian, dan masih banyak lagi. Mengingat Kim Tae Kwang adalah orang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dan politik, tentu saja banyak pihak yang diundang. Apalagi acara ini adalah acara yang penting. Untuk pertama kalinya, dunia akan melihat wajah Kim Li An, putri bungsu Kim Tae Kwang dan Shin Rae Hwa -pewaris Shinwa Group-.

Makin lama, suasana ball room makin ramai. Para petugas keamanan sudah tersebar dimana-mana dengan alat komunikasi yang terpasang di telinga masing-masing. Tidak banyak media yang datang. Setidaknya hal penting satu ini yang paling diperhatikan si pembuat pesta alias Kim Taekwang, karena Ayah dua anak ini tahu putrinya tidak suka hal-hal yang berbau dengan media. Kim Taekwang tidak seegois itu, bukan?

Suasana makin ramai dan heboh saat segerombolan pria tampan dan keren memasuki ball room hotel. Pesona mereka nampaknya membuat para tamu wanita menjerit histeris. Mereka berjalan layaknya model dengan penampilan masing-masing. Masih dengan berjalan penuh percaya diri dan sesekali melempar senyum yang mampu membuat para wanita pingsan seketika, mereka berjalan menghampiri seseorang yang sejak tadi hanya duduk di salah satu kursi di pojok ruangan.

“Kau sudah lama?” Tanya salah satu dari kedelapan pria tampan itu yang berambut coklat gelap.

“Sepuluh menit yang lalu.” Jawab pria berlesung pipi itu sambil meminum wine merah yang sejak tadi di pegangnya. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol? Pemeran utama pria di pesta ini.

“Jangan minum banyak. Acara masih lama.” Baekhyun merampas gelas Chanyeol saat Chanyeol hendak menegak kembali minuman beralkohol itu.

“Apa pesta ini tidak berlebihan? Mereka hanya menyambut seorang gadis yang baru kembali dari London, bukan?” Seorang pria berwajah sawo matang angkat suara.

“Kudengar dia adalah penggemar kita. Apa karena itu kita diundang? Wahh aku sangat tersanjung.” Seorang pria bermata sipit menimpali.

“Ya, Jongin-a! Bukankah kekasihmu bersahabat baik dengan putri Tuan Kim? Bagaimana dia? Apa sangat cantik?” Tanya Lay dengan wajah tengilnya. Chanyeol yang mendengarnya sontak melotot. Dia hendak melayangkan protes namun Baekhyun langsung memberinya kode.

“Aku tidak tahu. Dia tidak pernah memperlihatkanku bagaimana rupa Kim Lian.” Jawab Kai alias Jongin, si pria berkulit sawo matang.

“Ah… Mungkin kekasihmu itu takut kalau kau akan jatuh cinta pada putri Tuan Kim.” Ucap Suho, leader EXO. Nampaknya leader yang satu ini sangat gemar meledek Kai.

“Jadi namanya Lian?” Pria pendek yang berdiri di dekat Kai angkat suara. “Namanya saja indah. Apalagi orangnya.” Sambungnya yang langsung mendapatkan jitakan dari Kai dan Baekhyun.

“Dimana orangtuamu?” Tanya Baekhyun

“Di ruang VVIP.” Jawab Chanyeol singkat. Wajahnya nampak tak bersemangat.

Suasana kembali heboh saat enam pria yang tak kalah tampan memasuki ballroom. Sontak pandangan kesembilan pria itu langsung teralihkan ke objek yang menjadi tontonan histeris para wanita. Ternyata bukan hanya enam pria. Di belakang mereka, menyusul dua gadis cantik yang berjalan dengan anggun yang masing-masing mengenakan dress hitam dan biru.

“Bukankah itu kekasihmu? Bagaimana bisa dia bersama pria-pria itu? Siapa mereka?” Tanya Chen beruntun.

Kai tidak menjawab. Dia sibuk melambaikan tangan kepada kekasihnya yang baru saja tiba. Nampaknya kekasihnya itu merespon karena Kai langsung tersenyum lebar. Member lain hanya geleng-geleng kepala melihat pasangan yang baru saja merayakan anniversary mereka ini.

“Kau sudah lama?” Tanya gadis yang memakai dress hitam itu. Dia adalah Hanna. Hanna dan Kai sudah menjalin hubungan sejak setahun yang lalu setelah tiga tahun berteman. Mereka berada di kampus yang sama.

“Belum. Kau cantik.” Jawab Kai sambil mencium pipi Hanna.

“Panas!” Ucap Sehun si pria bermata sipit dengan nada sewot.

“Kau seharusnya mengajak Hani agar tidak iri.” Sungut Kai

Diam-diam Chanyeol melirik ke arah pintu masuk untuk mengecek apakah sahabat kecilnya itu sudah datang. Hatinya berkecamuk sejak tadi. Satu sisi dia merindukan sahabat kecilnya yang mungkin sampai saat ini masih melupakannya. Namun di sisi lain, Chanyeol belum siap dengan pertunangan ini. Hatinya terbagi menjadi dua. Hanna yang tidak sengaja melihat kegelisahan di mata Chanyeol hanya tersenyum simpul.

“Kau siap?” Tanya Mark saat mobil yang mereka naiki sudah berhenti di dekat tangga. Akhirnya setelah menenangkan diri selama dua jam, Lian mencoba menerima pertunangan ini. Tapi dia tetap tidak berbicara dengan orangtuanya. Dia masih sangat kecewa dengan mereka.

Entah untuk yang keberapa kali Lian menghela nafas panjang. Dia sangat gugup. Melebihi saat dia harus sidang di depan dosen galaknya. Dia meremas jari-jarinya sambil menatap gaun merah hati yang dikenakan. Mark mencoba mengerti apa yang adiknya rasakan saat ini. Dia menggenggam tangan Lian untuk mengurangi kegugupan Lian.

“Everything will be fine. Trust me.” Ucap Mark lirih. Lian hanya menatap sang kakak nanar dengan senyum tipis. Setelah itu dia turun dari mobil. Lalu berjalan ke sisi mobil yang lain untuk membukakan pintu untuk Lian.

Lian menyambut uluran tangan Mark dengan gugup. Lalu diapun keluar dari mobil. Gaun merah hati yang dikenakannya langsung jatuh saat kedua kakinya sudah menapak di tangga berkarpet. Entah hanya perasaannya saja atau memang semua orang yang ada di luar kini menatapnya kagum. Lian tersenyum canggung pada Mark. Dia menjadi salah tingkah karena tatapan orang-orang.

“Kau membuat semua orang kagum dengan kecantikanmu. Jangan gugup. Aku di sampingmu.” Bisik Mark yang dibalas anggukan pelan oleh Lian.

Mereka berjalan memasuki ballroom hotel. Lian memegang lengan Mark dengan kuat saat mereka makin dekat dengan pintu masuk. Mark tidak berhenti mengucapkan kata-kata yang membuatnya tenang. Saat mereka sudah memasuki ballroom, pandangan langsung tertuju pada putra-putri dari pembuat pesta. Tak sedikit yang terpekik kaget saat melihat betapa cantik dan tampannya dua manusia ini. Mark dengan balutan jas maroonnya tampak gagah berjalan bersanding dengan Lian yang tak kalah anggun dengan gaun merah hatinya. Make upnya tidak berlebihan dan tatanan rambutnya juga terlihat sederhana meskipun banyak sekali aksesoris yang melekat. Kakinya terbalut dengan high heels berwarna hitam. Membuatnya makin anggun.

Lian tersenyum canggung pada oran-orang yang memuji kecantikannya. Dia belum terbiasa seperti ini. Matanya menelisik untuk mencari keberadaan orangtuanya. Ternyata mereka sedang berdiri di dekat panggung bersama sepasang suami-istri yang tengah tersenyum kepadanya.

“Kalian malah terlihat seperti sepasang kekasih.” Ucapan Bambam membuyarkan lamunan Lian. Oh! Ternyata dia sudah bergabung dengan teman-teman Mark.

“Aku memang ingin Mark menjadi kekasihku kalau saja dia bukan kakakku.” Celetuk Lian yang berhasil membuat enam pria itu tertawa. Sepertinya malam ini dia harus banyak berakting. Saatnya memasang topeng.

“Kau memang selalu cantik, baby.” Ucap Jinyoung

“Tentu. Pangeran Henry bahkan selalu mengajakku makan malam.” Sahut Lian dengan penuh percaya diri. Mark hanya menatap Lian nanar. Dia tahu kalau adiknya itu hanya berakting pura-pura ceria.

“Apa kau ingin ikut Eomma dan Appa?” Tanya Mark

“Tidak. Disini lebih baik.” Jawab Lian. Mark hanya mengangguk mendengar jawaban Lian.

“Mereka datang!” Pekik salah satu tamu.

Suasana lebih heboh saat sepasang kakak adik Kim bersaudara memasuki ballroom. Mereka terlihat serasi untuk disebut kakak-adik. Tampaknya pemandangan itu tidak luput dari semua member EXO dan kedua sahabat Lian. Mereka juga sama terpesonanya dengan penampilan Lian. Sementara itu Chanyeol menatap gadis yang berada dalam gandengan Mark itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Baekhyun? Sepertinya dia mempunyai ekspredi paling lebay.

“Laurent?” Desisnya dengan mata yang membulat.

Chanyeol yang tak sengaja mendengar Baekhyun menyebutkan nama yang sangat familiar itu langsung menoleh. Matanya melebar saat tahu arah pandangan Baekhyun adalah Lian. Bagaimana bisa Baekhyun tahu nama barat Lian? Apa hubungan mereka? Dimana mereka pernah bertemu? Kenapa Baekhyun tidak pernah memceritakan padanya? Chanyeol kembali mengalihkan pandangannya pada Lian yang tengah berbincang-bincang dengan Mark dan enam pria tadi.

Chanyeol tidak tahu perasaan apa yang saat ini dia rasakan. Dia sangat merindukan Lian dan mati-matian untuk tidak berlari memeluk Lian. Jelas dia tidak punya hak untuk melakukan itu. Tapi sungguh, Chanyeol tersiksa dengan perasaan yang dirasakannya. Perasaan bahagia, berdebar, dan rindu itu bercampur menjadi satu. Namun lagi-lagi di kepalanya terngiang bagaimana cara Baekhyun menyebut Lian. Chanyeol hendak bertanya pada Baekhyun, tapi seseorang menghentikannya.

“Chanyeol, kami menunggumu sejak tadi. Kenapa kau tidak bergabung bersama kami?” Itu adalah pertanyaan Nyonya Kim. Calon ibu mertuanya. Sejak kapan para orangtua ini disini?

Ketujuh member EXO nampaknya kaget saat melihat Nyonya Kim yang menyapa Chanyeol dengan ramah. Mereka saling berpandangan heran.

“Mianhamnida, Eommonim. Aku baru akan menyapa kalian.” Jawab Chanyeol canggung.

Keterkejutan member EXO bertambah saat Chanyeol memanggil Nyonya Kim dengan sebutan Eommonim.

“Bukankah dia sangat cantik? Lianmu sudah kembali dan menjelma menjadi bidadari.” Tuan Park berbisik kepada Chanyeol. Sengaja menggoda. Chanyeol yang mendengarnya tanpa sadar tersenyum. Benar. Liannya sudah kembali dan menjelma menjadi bidadari. Chanyeol tidak bohong kalau Lian memang sangat cantik. Cantikpun tidak cukup untuk mendeskripsikan bagaimana sosok Lian saat ini.

“Apa kau siap, Chanyeol?” Pertanyaan Tuan Kim membuyarkan lamunan Chanyeol. Chanyeol mendadak salah tingkah. Dia baru saja mengagumi sahabatnya.

“Ne, aboenim.” Jawabnya gugup.

“Mari kita mulai.” Sahut Tuan Kim. Lalu mereka berjalan mendekati panggung.

Jangan tanyakan bagaimana ekspresi para member EXO yang lain. Mereka saling berpandangan bingung dengan sejuta pertanyaan. Apa yang akan terjadi? Kenapa mereka terlihat akrab?

“Kau tahu sesuatu?” Tanya Kai saat melihat Hanna terus tersenyum.

“Kau akan tahu.” Jawab Hanna dengan senyum misteriusnya.

“Naya! Kau lupa kita harus membawakan cincin mereka?” Pertanyaan Sooyoung menginterupsi pasangan kekasih itu. Hanna langsung melepas tangan Kai yang memeluk pinggangnya. Tanpa berpamitan, diapun sedikit berlari bersama Sooyoung. Kai yang melihat kekasihnya pergi tanpa berpamitan hanya melongo.

“Aku tahu akan ada sesuatu yang mengejutkan malam ini.” Celetuk Suho sambil menatap Lian yang masih memgobrol dengan Mark.

“Kalau tahu diam saja.” Balas Baekhyun tanpa melepas pandangannya dari Lian. Dia masih sangat kaget melihat Lian yang dia kenal sebagai Laurent ternyata adalah putri sulung dati Kim Taekwang sekaligus calon tunangan Chanyeol, sahabatnya.

Lian makin gugup saat melihat kedua orangtuanya berjalan menuju panggung bersama sepasang suami-istri tadi dan seorang pria jangkung yang dia yakini sebagai calon tunangannya. Dia mengeratkan pegangannya pada Mark. Perasaannya berkecamuk. Ingin lari tapi percuma. Berkali-kali Lian menyemangati dirinya dan mencoba menenangkan pikirannya agar tetap tenang. Mark yang menyadari kegelisahannya hanya menepuk-nepuk tangannya.

“Baby?” Panggil Jinyoung sambil memegang pundak Lian. Lian yang memang sejak awal tidak fokus, langsung terlonjak kaget. Jinyoung mengerutkan keningnya melihat wajah gugup Lian.

“Ne, Oppa?” Sahut Lian pelan.

Jinyoung tersenyum tipis sambil menggenggam tangan kiri Lian. “Jangan pikirkan apapun. Semua akan baik-baik saja.”

“Aku tidak memikirkan apapun.”

“Matamu mengatakan sebaliknya. Maafkan Oppa tidak bisa menemanimu disana.”

Lian memaksakan senyumnya. “Gwaenchanha, Oppa.” Sahutnya singkat.

“Acara akan dimulai. Sebaiknya kita kesana. Kau harus berkenalan terlebih dahulu dengan calon tunanganmu.” Mark menginterupsi obrolan Lian dan Jinyoung.

Lian hanya menatap calon tunangannya nanar. “Aku tidak bermimpi.” Lirihnya

Mark dan Lianpun bergabung bersama orangtua mereka dan keluarga calon tunangan Lian. Mereka terlihat tengah membicarakan sesuatu yang serius. Dapat Lian lihat dari ekspresi Appanya dan juga pria jangkung yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Lian mencoba mengabaikan tatapan orang-orang yang makin lama makin membuatnya risih. Mereka terlalu berlebihan dalam memujinya.

Mata Lian membulat lebar saat melihat salah satu member dari boygroup kesukaannya. Chanyeol EXO? Benarkah? Haruskah Lian merasa senang karena harus bertunangan dengan member EXO? Jawabannya tidak. Dengan siapapun dia bertunangan, Lian tetap tidak suka kalau hanya dari keputusan sepihak orangtuanya.

“Oh, Lian! Benar kau Lian?” Seorang wanita paruh baya yang berada di dekat Eommanya tiba-tiba memegang pundaknya.

Lian yang kaget hanya bisa tersenyum kikuk. “Ne, ahjumma. Anyeonghasseyo.” Sahut Lian sambil sedikit membungkukkan badannya.

“Aigooo! Kau sangat cantik, Lian. Bagaimana bisa kau berubah menjadi seperti bidadari?” Puji wanita paruh baya itu yang tak lain dan tak bukan adalah Nyonya Park, Ibu Chanyeol.

“Gamsahamnida, ahjumma.” Balas Lian malu-malu.

“Kemarilah, Putriku.” Tuan Kim angkat bicara sambil mengulurkan tangannya.

Lian menatap uluran tangan itu. Haruskah dia menerima uluran tangan Appanya? Dia masih sangat marah dan kecewa. Namun senggolan Mark pada lengannya menyadarkan Lian. Akhirnya diapun menerima uluran tangan Appanya dan melepas rangkulannya pada lengan Mark.

“Selamat berjumpa lagi, Lian. Sudah lama sekali, bukan? Berapa tahun?” Kini pria paruh baya yang berdiri di samping Appanya giliran menyapanya.

“Lima belas tahun.” Sahut Tuan Kim cepat.

Sebenarnya Lian sangat bingung dengan orang-orang yang baru saja menyapanya. Mereka seperti sangat mengenalnya dan menyayanginya. Lalu apa tadi kata Appanya? Lima belas tahun? Benarkah dulu dia pernah bertemu keluarga dari calon tunangannya? Kenapa sangat lama sekali? Banyak pertanyaan yang ada di kepala Lian. Tentang siapa sebenarnya mereka, apa hubungannya dengan mereka sehingga bisa sedekat ini, dan kenapa mereka terlihat familiar?

“Jangan memaksa untuk mengingat-ingat siapa mereka. Mereka sebentar lagi akan menjadi keluarga kita.” Ucapan Tuan Kim menyadarkan Lian dari lamunannya.

Ah! Jadi benar dugaan Lian. Mereka berhubungan dengan masa kecil Lian yang tidak Lian ingat sampai sekarang. Lian merasa bersalah karena sampai saat ini dia benar-benar tidak bisa atau tidak mau mengingat masa kecilnya.

“Mianhamnida. Aku tidak mengingat masa kecilku.” Ucapnya dengan badan sedikit membungkuk.

“Tak apa. Kami mengerti.” Sahut Tuan Park dengan senyum khas kebapakannya. Lian yang melihatnya merasa sedikit tenang.

Sejak Lian bergabung dengannya dan orangtua mereka, Chanyeol tidak bisa melepas pandangannya dari gadis bergaun merah hati yang saat ini sedang berbicara dengan Appanya. Lian melebihi seorang bidadari. Chanyeol tidak dapat menampik desiran aneh pada dirinya. Matanya, telinganya, otaknya, semua tertuju pada gadis bermata biru itu. Adakah seseorang yang bisa menariknya dari pesona seorang Kim Lian?

“Chanyeol, kau tentu tidak lupa dengan Lian, kan?” Pertanyaan dari Tuan Kim membuyarkan lamunan Chanyeol. Chanyeol menjadi salah tingkah sendiri saat ketahuan tengah memperhatikan Lian.

“Tentu saja tidak, aboenim. Aku mengingatnya setiap hari.” Jawab Chanyeol spontan. Dia tidak sadar dengan apa yang dia katakan sehingga dia langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Lian melongo di tempat mendengar jawaban pria jangkung di depannya yang terkesan spontan. Membuat dia salah tingkah sendiri. Apalagi saat tidak sengaja dia bersitatap dengan pria bernama Chanyeol itu. Para orangtua yang melihatnya hanya terkekeh geli.

“Bagaimana denganmu, Lian? Apa kau sama sekali tidak mengingat Chanyeol?” Tuan Kim beralih menatap Lian yang masih salah tingkah.

“Aku tidak mengenalnya.” Jawab Lian sambil menundukkan kepalanya.

Chanyeol merasakan nyeri di hatinya saat Lian mengatakan kalau dia sama sekali tidak mengenalnya. Selama ini masih belum mengingatnya? Dia berusaha memaksakan senyum saat lagi-lagi matanya bertatapan dengan mata biru milik Lian. Lian menatapnya dengan tatapan rasa bersalah. Tidak. Bukan salahnya. Lian tidak bermaksud melupakannya. Bahkan semua orang dulu Lian lupakan. Jadi kenapa harus merasa sakit hanya karena seorang Lian melupakannya?

Lian tidak pernah merasa segelisah dan segugup ini. Pria di depannya ini mempunyai mata yang indah. Setiap kali menatap Chanyeol, Lian selalu dibuat terpaku. Ada perasaan mengganjal yang sejak tadi mengganggunya. Lian seperti… Merindukan Chanyeol? Bahkan mereka baru pertama kali bertemu tatap seperti ini. Saat EXO konser di Manchester dulu, Lian hanya bertemu Baekhyun. Yang ada di pikirannya saat ini adalah, benarkah dulu mereka sangat dekat?

“Sebaiknya kita mulai acaranya.” Ucapan Tuan Park membuyarkan lamunan Lian.

Para orangtua berjalan terlebih dahulu menaiki panggung. Lian nenghembuskan nafas gugup. Dia meremas-remas jarinya sebagai pengalihan rasa gugup. Tatapannya beralih pada Jinyoung yang berdiri di depan panggung. Jinyoung tersenyum manis, seperti biasa. Membuat Lian merasa sedikit tenang. Nampaknya Chanyeol kurang suka saat melihat Jinyoung tersenyum ke arah Lian. Dia terlihat sewot.

“Jadi…” Gumaman Lian menghentikan langkah Chanyeol. Dia berbalik menatap Lian. “Haruskah kita berakting saling mencintai? Di depan semua orang?” Tanya Lian sambil menatap Chanyeol intens.

Chanyeol tersenyum tipis. Dia mendekati Lian dan mengulurkan tangan kirinya. “Tidak perlu. Kita memang sudah akrab dulu.” Jawabnya sambil menggandeng tangan Lian.

Lian menghela nafas panjang sebelum akhirnya mereka melangkah menaiki tangga. Seketika semua tatapan langsung tertuju pada mereka. Beberapa menatap mereka kaget.

“Oppa, seperti apa menikah itu?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu.”

“Aku ingin menikah. Seperti Princess. Memakai sepatu kaca.”

Tiba-tiba sebuah potongan percakapan antara dua anak kecil lain jenis, melintas di kepala Lian. Mereka terlihat sedang bermain di bawah sebuah pohon. Gadis kecil itu tengah bermain boneka panda. Mengenakan kalung berliontinkan matahari, sama seperti yang Lian gunakan. Sedangkan anak laki-laki itu terlihat sedang menyusun balok.

“Kau mau kemana, Oppa?”

“Aku harus pergi, Princess.”

“Andwe! Oppa sudah berjanji tidak akan pergi!”

“Maafkan aku.”

“Oppa!!!”

“Sayang, jangan mengejarnya.”

Potongan peristiwa lain lagi-lagi mengganggu pikiran Lian. Lian mencoba mengabaikan peristiwa yang baru saja dia lihat.

“Kau siapa?”

“Aku pangeranmu, Princess.”

“Aku tidak mengenalmu.”

Lian memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing. Dia mencoba untuk tetap fokus pada acara.

“Oppa, kau menikah denganku?”

“Akh!” Desis Lian sambil memegangi kepalanya yang makin terasa berat. Dia hampir jatuh kalau saja Chanyeol dan Mark tidak menahannya.

Memang dasar Jinyoung. Matanya tetap tertuju pada Lian. Dia melotot kaget saat tiba-tiba melihat Lian yang kesakitan dan hampir jatuh kalau saja Mark dan Chanyeol tidak menahannya. Dia nyaris berlari menghampiri mereka kalau saja Jaebum tidak menahannya.

“Lian, gwaenchanha?” Tanya Mark cemas. Beruntung acara sudah dibuka dan para tamu sedang memperhatikan MC yang memandu acara.

“I’m fine.” Jawab Lian pelan sambil tetap memegangi kepalanya.

“Kau yakin? Atau kau mengingat sesuatu?” Giliran Chanyeol bertanya. Mark menatap Chanyeol terkejut.

“Bukan apa-apa. Aku baik-baik saja.” Dusta Lian sambil memaksakan senyum.

“Baiklah.” Sahut Mark ragu.

Acara penyambutan Lian terus berlangsung. Kim Taekwang memperkenalkan Lian kepada seluruh tamu dan seluruh dunia secara tidak langsung. Para tamu undangan tampak terpesona dengan Lian. Tak sedikit pria, termasuk para member EXO, yang menggoda Lian. Membuat Chanyeol harus menahan keinginannya untuk mengumpati mereka. Hingga kini tibalah di acara yang utama. Pasang cincin.

“Seperti hadirin sekalin ketahui, malam ini kamu juga menyiapkan acara pertunangan untuk salah satu anakku.” Ucap Tuan Kim

“Wahh! Pasti Mark.”

“Siapa kira-kira wanita yang beruntung itu?”

“Aku iri dengan wanita itu.”

Suasana heboh seketika. Para tamu sibuk menebak-nebak siapa yang akan menjadi tunangan Mark.

“Putriku, Kim Lian, dengan Park Chanyeol.” Lanjut Tuan Kim

“Apa?!”

“Bagaimana bisa?! Mereka bahkan baru bertemu?”

“Aku tidak  mendengar kabar mereka berkencan.”

“Apa perjodohan bisnis?”

Suasana makin heboh saat Kim Taekwang menyebutkan siapa yang akan bertunangan. Banyak yang kaget dan bertanya-tanya. Termasuk para member EXO. Mereka memekik tak kalah keras. Tidak ada yang tahu kalau Chanyeol akan bertunangan. Dengan Lian.

“Jadi benar? Ada sesuatu.” Celetuk Suho sambil melirik Baekhyun.

“Daebak! Chanyeol hyung diam-diam memacari Lian.” Kai dan Sehun sama-sama terpelongo.

“Akan menjadi rumit.” Sahut Xiumin

“Mereka mengenal sejak kecil dan sangat pintar merahasiakan hubungan mereka.” Sambung Taekwang sambil menatap Lian dan Chanyeol.

“Mereka serasi. Aku akui.”

“Aku sangat iri.”

Beberapa masih sibuk berbisik mengomentari Lian dan Chanyeol. Namun suasana hening seketika saat Hanna dan Sooyoung menaiki tangga sambil membawa sebuah nampan beralaskan bantal. Di masing-masing nampan itu ada cincin yang harus Lian dan Chanyeol pasangkan ke jari tengah mereka. Hanna dan Sooyoung berdiri di tengah-tengah Lian dan Chanyeol yang sudah berhadapan.

“Chanyeol, silahkan pasangkan cincin ke jari Lian. Dan setelah itu Lian pasangkan ke jari Chanyeol.” Ucap Tuan Kim memberi aba-aba.

Chanyeol mengambil cincin yang dibawa Hanna. Lalu dia memegang tangan kiri Lian yang sudah basah oleh keringat. Melihat itu membuat Chanyeol tidak bisa menahab senyumnya. Dia mengangkat kepalanya untuk menatap wajah gugup Lian. Ah, cantiknya.

“Ternyata kau sangat gugup. Aku suka.” Ucapnya persis seperti bisikan. Pipi Lian memerah dibuatnya.

Cincin itu berhasil terpasang di jari tengah Lian. Sangat pas. Chanyeol tidak juga melepas genggaman tangannya pada tangan Lian. Lian melotot ke arah Chanyeol. Setelah tangannya bebas dari Chanyeol, Lian mengambil cincin milik Chanyeol dengan tangan bergetar.

“Kau sangat lama.” Sungut Sooyoung. Dia benar-benar sengaja berkata seperti itu. Hanya untuk menggoda Lian.

Akhirnya mereka berdua resmi bertunangan. Riuh tepuk tangan memenuhi ballroom. Media gencar mengambil gambar dan video pasangan yang baru saja tunangan itu sementara Lian harus berakting seolah semuanya baik-baik saja. Ya. Sejauh ini masih baik-baik saja.

“Jadi kau mendahului Oppamu?”

“Bukan aku yang minta.” Jawab Lian sinis.

Saat ini mereka -Lian, Mark, dua sahabat Lian, enam sahabat Mark, EXO- sedang menikmati hidangan di salah satu ruangan yang sudah disediakan Kim Taekwang.

“Kau keterlaluan. Seharusnya memberitahu kami.” Suho terlihat kesal dengan Chanyeol.

“Ceritanya panjang.” Jawab Chanyeol tanpa merasa berdosa karena menyembunyikan kabar penting ini dari para hyung dan donsaengnya.

Lian kembali teringat dengan potongan peristiwa itu. Mungkinkah gadis kecil dan bocah kecil itu dia dan Chanyeol? Benarkah mereka sedekat itu? Belum selesai rasa ingin tahunya, potongan peristiwa lain muncul lagi.

“Ya hati-hati! Kau bisa jatuh!” Bocah kecil itu tampak mengejar gadis kecil yang tengah menaiki sepeda.

Bruk.

“Ahh! Appo!” Pekik gadis itu saat sepedanya menabrak pembatas jalan. Lutut dan sikunya berdarah.

“Sudah kubilang hati-hati. Kalau sudah begini, aku juga yang repot.” Omel bocah kecil itu.

“Eomma…” Gadis kecil itu mulai menangis.

“Jangan menangis. Naiklah ke punggungku.” Bocah kecil itu membalikkan badannya dan jongkok di depan gadis kecil yang menangis.

“Tapi aku berat.”

“Kau itu seperti kapas. Cepat naik!”

Lian berusaha menepis potongan peristiwa yang baru saja melintas di kepalanya. Sungguh menyakitkan. Kepalanya berdenyut nyeri namun berusaha dia abaikan. Lian tidak bisa lagi fokus pada hidangan dan obrolan di sekitarnya. Lama kelamaan penglihatannya buram dan potongan-potongan peristiwa dari yang melintas tadi kembali mengganggunya.

Baekhyun masih tidak percaya kalau gadis bule yang dulu dia temui  di backstage sehabis konser adalah Lian. Dulu Lian mengenalkan dirinya sebagai Angela Laurent, tapi Baekhyun memanggilnya Laurent. Tapi saat ini dia melihat sosok Laurent sebagai Lian.

“Aku ke toilet sebentar.” Ucapnya para Mark. Tanpa menunggu jawaban dari Mark, Lian langsung berdiri dari duduknya dan menuju toilet.

Brukk.

“LIAN?!”

“LAURENT?!”

.

.

.

.

.

To be continued~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s