Posted in Chapter

COMPLICATED LUV Part 3

COMPLICATED LUV Part 3

(Party…)

Author : brokenangel

Cast :

Kim Li An

Park Chan Yeol

Park Jin Young

.

.

.

.

.
Suasana kamar mendadak sunyi. Lian dan Jinyoung masih saling bertatapan dengan tatapan penuh kerinduan. Mereka seolah mengabaikan dua gadis yang sedang memperhatikan mereka. Seolah di kamar ini hanya ada mereka. Dan waktu seperti berhenti. Keduanya saling memuaskan menatap wajah satu sama lain. Menebus kerinduan dalam waktu empat tahun.

Seolah tidak cukup dengan bertatapan, Jinyoung berlari mendekati Lian yang masih terdiam di sofa kamarnya. Sementara itu Hanna dan Sooyoung saling melempar kode dengan tatapan seperti ‘kita harus pergi.’ Mereka yang paham dengan situasipun langsung berdiri. Sebelum benar-benar keluar, Hanna menatap Lian -yang masih diam membeku di tempatnya- lagi yang kemudian diikuti helaan nafasnya. Setelah itu diapun mengikuti Sooyoung yang sudah keluar lebih dulu dari kamar Lian.

Tinggallah Lian dan Jinyoung yang masih enggan memutus kontak tatapan mereka. Lian harus mendongak menatap Jinyoung karena posisinya yang masih duduk sedangkan Jinyoung berdiri di depannya. Seperti terhipnotis, Lian berdiri dari duduknya. 

Merekapun langsung berpelukan sangat erat. Melampiaskan kerinduan selama empat tahun lamanya.

“Aku merindukanmu, Baby. Sangat merindukanmu.” Lirih Jinyoung sambil sesekali mencium puncak kepala Lian. Lian hanya mengangguk tanda kalau dia mengerti.

Lama mereka berpelukan sampai akhirnya Lian memutuskan untuk melepas pelukannya. Dia masih ingin menatap wajah Jinyoung -sahabatnya, pelindungnya, pria tercintanya, dan segala-galanya-. Jinyoung terlihat semakin tampan dan dewasa diusianya yang hampir dua puluh lima. Pesonanya begitu kuat hingga membuat wanita manapun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta.

Tangan Lian terangkat untuk menyentuh pipi mulus tanpa cacat bak porselen milik Jinyoung. Getaran itu kembali datang. Dan hanya Jinyoung yang berhasil membuat Lian memiliki getaran asing namun hangat ini. Betapa Lian sangat mencintai sahabatnya sendiri. Jinyoungnya sungguh sempurna. Membuat Lian tidak bisa memalingkan wajahnya. Adakah seseorang yang bisa menandingi pesona Jinyoung? Bahkan putra Wakil Presiden Inggris yang selalu mengajaknya makan malampun tidak bisa mengalahi pesona Jinyoung. Mata dan hati Lian memang sudah tertuju pada Jinyoung sehingga pria setampan apapun itu tidak bisa merubah perasaan Lian.

Jinyoung memegang tangan Lian yang menempel di pipinya. Tangan mungil kesukaannya. Tangan yang selalu pas di genggamannya. Matanya tak lepas dari wajah malaikat Lian. Mata biru milik Lian membuat Jinyoung terhipnotis. Sahabatnya, gadis kecilnya yang pendiam, sudah berubah menjadi gadis dewasa dengan wajah malaikat. Jinyoung berani sanksi kalau siapapun yang melihat Lian akan langsung jatuh cinta. Wajah Lian tipikal wajah yang pertama lihat akan langsung membuat jatuh ke dalam pesonanya.

“Aku hampir menyusulmu ke London bersama Mark hyung karena sangat merindukanmu, Baby. Kau tahu bagaimana tersiksanya aku karena hanya bisa melihat wajahmu saat video call?” Gumam Jinyoung sambil merapikan rambut Lian yang mencuat kesana kemari.

“Mianhae, Oppa. Aku hanya tidak ingin terburu-buru pulang saat Oppa dan Mark datang.” Sahut Lian

“Kau memang luar biasa, Kim Li An.” Desis Jinyoung sambil menekan-nekan kening Lian dengan jari telunjuknya. Lian hanya meringis geli melihat wajah sedikit kesal Jinyoung. Dia kembali memeluk Jinyoung.

Keduanya sama-sama tersenyum bahagia saat penyakit menyiksa bernama rindu itu akhirnya menemukan obatnya. Lian melupakan kekesalannya pada Jinyoung karena tidak menjemputnya di bandara. Dia hanya ingin menikmati waktu dimana dia bisa berada dalam pelukan pria tercintanya. Bukankah mereka baru saja bertemu setelah empat tahun berpisah? Bertengkar karena hal sepele sepertinya buruk.

.

.

.

.

.
Chanyeol harus rela menahan kesalnya saat Eomma dan Appanya terus mengoceh tidak jelas sejak dia menginjakkan kakinya di salah satu butik terkenal di kota Seoul. Tuan Park, seorang Jenderal Angkatan Laut Korea Selatan, yang notabenenya sangat sibuk, rela meluangkan waktu untuk menjemput putra tunggalnya di dorm untuk diajak fitting baju untuk acara penting nanti malam. Dan herannya lagi, pria paruh baya yang sangat tegas dan galak itu tiba-tiba menjadi sangat cerewet. Kedua manusia beda gender itu sibuk memilihkan jas yang cocok untuk putra mereka. 

Chanyeol hanya bisa diam di sofa pojok ruangan sambil sesekali menghela nafas panjang. Tidakkah mereka malu dengan para pelayan butik? Umur mereka sudah tidak lagi muda tapi kelakuan mereka seperti remaja. Sesekali mereka beradu mulut saat memilih warna. Benar-benar memalukan.

Karena sudah jengah mendengar perdebatan kedua orangtuanya, akhirnya Chanyeol berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri kedua orangtuanya. Sekilas Chanyeol dapat melihat pelayan yang berada di dekat Eommanya menjerit tertahan saat dia sudah berdiri tepat di sampingnya. Namun Chanyeol hanya cuek. Saat ini bukan waktunya meladeni fansnya.

“Aku akan memakai yang ini.” Suara Chanyeol membuat dua manusia paruh baya di depannya berhenti berbicara seketika.

Chanyeol mengambil sebuah jas berwarna biru dongker lalu menunjukkannya kepada orangtuanya. “See. Aku sudah menentukan pilihanku. Kalian berhentilah berdebat untuk hal konyol.” Chanyeol berucap dengan dingin lalu pergi begitu saja meninggalkan kedua orangtuanya untuk ke ruang ganti.

Tuan dan Nyonya Park saling bertatapan dengan ekspresi linglung mereka. Di tangan masing-masing masih memegang sebuah jas dengan warna dan jenis yang berbeda. Pelayan yang tadi sempat terpesona dengan Chanyeol hanya terkekeh geli melihat kelakuan lucu dua manusia paruh baya yang cukup terkenal di kalangan masyarakat.

“Yeobo, sepertinya uri Chanyeol masih kesal dengan pertunangan mendadak ini.” Ucap Nyonya Park sambil menggantungkan kembali jas yang tadi beliau pegang.

“Kita tidak punya pilihan, yeobo. Perjodohan ini tidak bisa dibatalkan begitu saja.” Sahut Tuan Park

Nyonya Park hanya menghembuskan nafas berat dan berjalan menuju jejeran gaun pesta. “Apa semuanya akan baik-baik saja?” Tanya Nyonya Park sambil melihat-lihat gaun yang tergantung.

Tuan Park berjalan mendekati sang istri. “Sahabatku itu pasti sudah mengatur semuanya dengan matang. Semuanya akan baik-baik saja.” Jawab Tuan Park dengan senyum bijaksananya.

.

.

.

.

.
Kim Tae Kwang’s House

01.27 p.m

Suasana di kediaman Kim Tae Kwang masih sama seperti tadi. Para pelayan sibuk membereskan ruang makan yang baru saja digunakan untuk makan siang tuan rumah beserta teman-temannya. Sementara itu Mark, Lian, dan teman-teman mereka sedang berkumpul di ruang tengah. Suasana lebih hidup. Sedikit berbeda semenjak kedatangan Jinyoung. Pasalnya, sejak dia tiba hingga selesai makan siang, dia selalu berada di samping Lian. Tidak pernah semenitpun Jinyoung melepaskan Lian. Bahkan saat makanpun, Jinyoung menyuapi Lian meskipun Lian sudah menolak. Begitulah Jinyoung saat bersama Lian. Dia selalu memperlakukan Lian layaknya Lian adalah barang berharganya.

Pertemuan Lian dan Jinyoung terbilang cukup unik. Mereka bertemu di museum nasional peninggalan sejarah sembilan tahun yang lalu. Saat itu, Jinyoung yang sedang melihat salah satu peninggalan dari Raja Jinheung, raja kedua Shilla, tiba-tiba dikejutkan dengan seorang gadis kecil yang sedang berlarian dan menabraknya. Otomatis gadis kecil itu, yang mempunyai name tag di seragamnya Kim Li An, jatuh tersungkur. Melihat Lian terjatuh membuat Jinyoung merasa bersalah dan segera menolong Lian.

FLASHBACK April, 2003

Di siang yang terik ini, para siswa tingkat dua Junior High School Seoul International masih berkeliling untuk melihat barang-barang peninggalan sejarah pada zaman Shilla. Cuaca yang panas rupanya membuat para siswa tidak konsen dalam mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata. Mereka mengeluh karena lelah dan lapar. Wajar saja mereka lapar. Karena jam makan siang ternyata dilewati begitu saja.

Pemandangan berbeda terlihat pada seorang gadis bermata biru dengan rambut coklat sebahu. Dia adalah Kim Li An beranjak remaja. Disaat teman-temannya sibuk mengeluh, dia hanya menyibukkan diri dengan melihat barang-barang yang terpajang. Kesibukkannya dalam dunianya sendiri, rupanya membuat dia tidak sadar kalau rombongan dari sekolahnya sudah pergi dari tempat gadis bermata biru itu berdiri sekarang. Dia terpisah dari rombongan.

Sadar kalau teman-temannya tidak ada, Lian langsung panik. Dia tidak mengenal siapapun dan tempat inipun baru pertama kali dia datangi. Handphone? Handphonenya terbawa Hanna. Jadi sekarang yang bisa dia lakukan adalah celingukkan. Berharap matanya menangkap seseorang yang dia kenal. Nihil. Dia sudah terpisah jauh.

“Lian?” Panggil seseorang dari belakang Lian sambil menepuk pundaknya. Lianpun langsung berbalik dan mengernyit heran saat melihat seorang gadis seumurannya berdiri di depannya.

“Kau siapa?” Tanya Lian waspada. Dia mempunyai ketakutan besar pada orang asing.

Gadis bermata bulat itu tampak tersenyum… Sinis? Tatapannya juga memancarkan kebencian.

Dia mengulurkan tangannya. “Lama tidak bertemu, Lian.” Gadis itu berkata dengan suara yang rendah.

Lian menatap uluran tangan itu dengan perasaan takut. Akhirnya dia menyambut uluran tangan itu. Saat tangannya dan tangan gadis itu hampir berjabat, tiba-tiba sebuah suara besar menginterupsi mereka. Membuat Lian menurunkan tangannya.

“Sayang, apa yang kau lakukan disini? Appa mencarimu.” Pria paruh baya itu merangkul bahu gadis di depan Lian.

“Appa, aku bertemu seseorang.” Gadis bermata bulat itu tidak melepas tatapannya pada Lian. Membuat nyali Lian ciut.

“Siapa?” Pria paruh baya mengalihkan tatapannya pada Lian. Matanya membulat tidak percaya dan seketika terlihat rahang dari pria paruh baya itu mengeras.

“Pembunuh.” Desis pria paruh baya itu sambil menatap tajam Lian.

Lian yang mendengar ucapan pria paruh baya itu terlonjak kaget. Apa katanya tadi? Pembunuh? Siapa? Keringat dingin mulai bercucuran di kening Lian. Mendapat tatapan tajam penuh kebencian dari dua manusia di depannya membuat jantung Lian berdebar kencang. Kakinya mulai melangkah mundur. Di dalam kepalanya hanya terlintas untuk segera lari dari anak dan bapak di depannya. Dengan segenap kekuatannya, Lian berlari menerobos kerumunan di museum nasional itu.


Lian tidak tahu sudah seberapa jauh dia berlari. Yang jelas kakinya sudah mulai lelah dan kepalanya terasa pening. Kepalanya terus menoleh ke belakang, mengantisipasi kalau saja mereka mengejarnya. Matanya mulai berkaca-kaca karena lelah luar biasa dan dia tidak juga melihat satupun dari rombongannya.

Bruk.

“Ah!” Karena tidak melihat jalan di depannya, membuat Lian menabrak seseorang. Tubuhnya tersungkur. Beberapa orang melihatnya. Tatapan orang-orang itu entah mengapa terlihat menakutkan bagi Lian. Tangannya bergetar dan air matanya mulai keluar.

“Oppa…” Mulutnya berujar lirih.

“Hey? Kau baik-baik saja?” Suara lembut yang menyapa telinga Lian membuat Lian mengangkat kepalanya hati-hati. Di depannya seorang pria yang seumuran dengan kakaknya, Mark, menatapnya kawatir. Hati Lian menghangat. Ketakutannya hilang seketika hanya dengan menatap wajah teduh pria di depannya. Pria yang dikenal sebagai Park Jin Young.

“Kau bisa berdiri sendiri?” Suara lembut itu kembali terdengar di telinga Lian. Lian hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu diapun berdiri dengan sedikit dibantu pria di depannya.

“Nah, gadis manis, siapa namamu?” Tanya pria bersuara berat itu.

“Lian.” Jawab Lian pelan dengan kepala menunduk. Dia malu karena menangis di depan orang yang tidak dia kenal.

“Baik, Lian. Dimana orangtuamu? Kenapa kau sendirian dan berlari-lari di tempat ramai? Kau bisa terluka nanti.” Tanya Jinyoung dengan lembut.

Lian menghapus air matanya. Pria ini benar-benar membuatnya merasa aman.

“Aku terpisah dari teman-temanku, Oppa.” Jawab Lian pelan.

Mendengar jawaban Lian, membuat Jinyoung tersenyum tipis. Entah kenapa saat dia menatap mata biru berair Lian, dia langsung mempunyai rasa ingin melindungi.

“Apa kau dari JHS Seoul International?” Tanya Jinyoung yang dijawab anggukan oleh Lian.

“Kalau begitu, aku akan membantumu mencari teman-temanmu. Kau benar baik-baik saja?” Tanya Jinyoung lagi.

“Gwaenchanha, Oppa.” Jawab Lian pelan.

“Baiklah. Namaku Jinyoung. Ayo kita cari teman-temanmu.” Ucap Jinyoung yang berhasil menciptakan sebuah senyum di bibir Lian.



FLASHBACK OFF



Setelah kejadian di museum nasional itu, Lian kembali dipertemukan dengan Jinyoung secara tidak sengaja di sebuah cafe saat dia dan Mark akan makan siang. Yang lebih mengejutkan, ternyata Mark dan Jinyoung berada di sekolah yang sama. Mark adalah senior Jinyoung. Mereka juga cukup dekat karena berada dalam satu club basket. Dunia memang sempit, bukan? Sejak saat itu, Jinyoung lebih sering mengunjungi dan menjemput Lian. Hubungan persahabatan merekapun mulai terjalin.

Dua manusia berlainan jenis tidak mungkin hanya bersahabatan tanpa adanya perasaan lebih. Di zaman serba canggih ini, tidak ada pertemanan antara pria dan wanita. Dan hal itu berlaku bagi Lian. Buktinya setelah persahabatan mereka terjalin selama empat tahun, perasaan aneh nan menyenangkan bernama cinta itu muncul. Entah bagaimana prosesnya. Perasaan itu muncul tiba-tiba. Tanpa diundang.

“Bagaimana?” Lian dikagetkan dengan suara Jinyoung yang masuk ke telinganya. Oh! Ternyata dia melamun. Mengenang memori pertemuan pertamanya dengan Jinyoung.

Lian menatap Jinyoung bingung. “Apa?” Pertanyaan polos itu meluncur begitu saja.

Mendengar Lian bertanya seperti itu, nampaknya membuat semua orang menatapnya. Dan seketika Lian menyesal karena terlalu banyak melamun. “Kau melamun?” Tanya Jinyoung sambil mengelus-elus rambut Lian.

“Jadi kau tidak mendengarkanku dari tadi?” Tanya Mark dengan nada yang dibuat-buat kesal.

“Apa?” Tanya Lian lagi. Dia tidak mau mengaku kalau dia memang sedang melamun.

“Kami membicarakan pesta penyambutanmu nanti malam.” Jawab Jinyoung

Mendengar jawaban Jinyoung, lantas Lian langsung menolehkan kepalanya menatap Jinyoung. “Pesta?” Tanya Lian dengan nada sinis. “Aku tidak minta pesta. Berlebihan.” Lanjutnya sambil menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.

“Ini bukan hanya sekedar pesta, Putriku.” Sebuah suara besar menginterupsi pembicaraan mereka. Semua pandangan langsung tertuju pada sumber suara. Mereka dibuat terkejut saat melihat Tuan Kim sudah berdiri di ruang tengah.

“Appa.” Mark dan Lian berucap serempak. Kakak beradik itupun berdiri dari duduk mereka diikuti teman-teman mereka.

Kim Taekwang hanya menanggapi keterkejutan anak-anak muda itu dengan senyum tipis. Lalu pria paruh baya itu menghampiri putri kesayangannya yang sangat dia rindukan. 

“Gadis kecil Appa sudah besar sekarang.” Ucap Tuan Kim sambil mengusap-usap puncak kepala Lian.

Lian hanya menatap Appanya dengan tatapan yang sulit diartikan.  Antara rindu dan kesal bercampur jadi satu. “Appa…” Lirihnya

Taekwang merentangkam tangannya, berharap Lian mau memeluknya. Dia bukan tidak menyadari kalau hubungan mereka sedikit renggang. Maka dari itu, Taekwang rela tidak ikut makan siang dengan para jenderal karena ingin menemui putrinya yang sangat dia rindukan.

Setelah berpikir sedikit lebih lama, Lianpun memeluk Appanya. Hati memang tidak bisa berbohong. Kekesalannya karena ketakutan kehilangan kasih sayang Appanya. Dia sangat dekat dengan Appanya. “Aku merindukanmu, Appa.” Ucapnya pelan. Lian benci dengan suasana mellow.

“Appa lebih merindukan gadis kecil Appa.” Sahut Taekwang

Mereka yang melihat adegan antara bapak dan anak ini hanya tersenyum haru.

“Appa tidak akan bertanya kabarmu karena kau terlihat sangat baik. Bagaimana Grandpa? Apa masih sering melarangmu pergi keluar dengan seorang pria?” Tanya Tuan Kim tiba-tiba.

“Appa…” Lian sedikit malu saat Appanya bertanya perihal pria di depan Jinyoung dan juga teman-teman Mark.

“My darling!” Seru seorang wanita paruh baya yang muncul bersama dua orang pelayan di belakangnya. Dia dikenal sebagai Shin Raehwa. Ibu dari dua anak hebat.

“Eomma…” Lian langsung melepas pelukannya. Membuat Taekwang sedikit kecewa. Lian langsung berlari mendekati Eommanya dan saat itu juga dua wanita beda umur itu langsung berpelukan erat. Melepas kerinduan.

Mark.yang melihatnya diam-diam bernafas lega. Setidaknya Lian tidak sampai pada tahap membenci orangtuanya. Dia merasakan ketakutan Lian.

“Darling, Eomma sangat merindukanmu.”

“Aku juga, Eomma.” Sahut Lian

Setelah puas berpelukan, Nyonya Kim melepas pelukannya. Matanya menelisik penampilan Lian dari bawah sampai ujung kepala.

“Kau benar-benar hidup dengan baik bersama Grandpamu. Astaga, sayang! Kau sangat cantik.” Raehwa benar-benar tidak berbohong soal yang satu ini. Semua orangpun pasti beranggapan sama.

Lian hanya tersenyum malu mendengar pujian dari Eommanya. Namun, matanya tiba-tiba menangkap sebuah gaun yang dibawa oleh pelayan di belakang Eommanya. Raehwa nampaknya menyadari kemana arah tatapan putrinya.

“Kau menyukainya?” Tanya Raehwa sambil menunjuk gaun panjang berwarna merah hati itu.

“Indah.” Gumam Lian

“Eomma.memang merancangnya khusus untuk kau pakai nanti.” Ucap Raehwa dengan senyum lebar. Lega karena Lian menyukai gaun rancangannya.

“Jadi pesta itu benar?” Tanya Lian dengan ekspresi yang langsung berubah. Tidak seperti tadi saat berpelukan dengan orangtuanya. “Apa harus diadakan pesta hanya untuk menyambutku? Kupikir itu terlalu berlebihan, Appa.” Lian beralih menatap Appanya.

Entah hanya perasaan Lian, atau memang kenyataannya seperti ini. Lian melihat kedua sahabatnya, Mark, Jinyoung, dan juga teman-teman Mark menjadi tegang. Sisi kepekaan Lian mulai bereaksi.

“Sebaiknya kau ikut Appa ke ruang kerja Appa dulu.” Suara Tuan Kim memecah keheningan yang sempat terjadi selama beberapa menit.

Lian hanya mendengus sebal. Diapun mengikuti Appanya yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju ruang kerjanya.

.

“Appa, aku sungguh-sungguh dengan ucapanku tadi. Pesta? Aku benar-benar tidak menginginkannya, Appa.” Lian kembali mengajukan protesnya saat dia sudah berada di ruang kerja Appanya.

“Duduklah dulu, putriku.” Ucap Tuan Kim lembut. Terlihat sekali aura kebapakannya.

Lian menuruti ucapan Appanya. Dia duduk di samping Tuan Kim.

“Kalau alasan Appa untuk merayakan ulangtahunku bulan lalu, aku tidak menerimanya. Bukankah Appa tahu aku tidak suka pesta?”

“Aku memang tahu, sayang.”

“Lalu kenapa Appa mengadakan pesta?” Tanya Lian cepat.

“Sudah kukatakan, bukan, kalau ini bukan hanya sekedar pesta.” Jawab Tuan Kim tenang. Bukan. Sebenarnya hanya pura-pura tenang.

“Maksud Appa?” Tanya Lian dengan suara pelan.

Taekwang tampak menghela nafas panjang. “Berjanjilah untuk mendengarkan penjelasan Appa sampai selesai.” Lian langsung mengangguk. “Sebenarnya nanti malam akan ada acara pertunangan.” Lanjut Taekwang yang berhasil membuat Lian melongo karena terkejut.

“Per… Tu… Nangan?”

Wah! Berita mengejutkan sekali. Sedari tadi tidak ada yang menyinggung perihal pertunangan. Bahkan Mark juga tidak menampilkan ekspresi senang. Apa Mark bermaksud memberinya kejutan?

“Kenapa Oppa tidak memberitahuku kalau dia akan bertunangan?” Tanya Lian tepat kepada dirinya sendiri. Lian sangat senang karena akhirnya Mark mempunyai calon pendamping.

“Bukan Mark yang akan bertunangan, Lian.” Ucapan Tuan Kim membuat Lian menatapnya dengan wajah penasaran.

Kalau bukan Mark, lalu siapa? Apa sepupu laki-lakinya, Cho Kyuhyun, akan bertunangan nanti?

“Lalu siapa, Appa? Apa Kyuhyun? Tidak mungkin kalau V, karena dia ada di Sidney sekarang.” Tanya Lian penasaran. Lian tidak bisa membayangkan kalau sepupu evilnya itu akan melepas masa lajangnya.

“Kau.” Jawab Tuan Kim sambil menatap Lian.

Senyum Lian memudar seketika. Dia ingin memastikan kalau pendengarannya tidak bermasalah. Tidak. Lian tidak pernah mempunyai masalah pendengaran. Dia yakin Appanya tadi mengatakan ‘kau’ dengan sangat jelas. Tapi kenapa Lian malah seperti mendengar lelucon?

“Hahahaha….” Lian tertawa keras sekali. Lelucon yang dibuat Appanya sangat lucu. Lian bahkan tidak menyangka kalau Appanya yang galak itu mempunyai selera humor yang tinggi.

“Appa sangat lucu. Mana mungkin aku akan bertunangan? Aku belum punya kekasih?” Ucap Lian saat tawanya mereda.

“Appa tidak sedang melawak, Lian.” Sahut Taekwang pelan namun masih cukup bisa didengar Lian.

Wajah Lian menegang seketika. Senyumnya langsung pudar. Dia berusaha mencari kebohongan di mata Appanya? Berpisah selama empat tahun tidak mungkin membuat Lian lupa bagaimana sikap Appanya. Setahunya, Kim Taekwang tidak pernah bermain-main dengan ucapanna. Dan… Terbukti dengan apa yang Lian lihat sekarang. Mata Appanya memperlihatkan kejujuran dan perasaan bersalah.

Lian berharap ilmu Psikologinya hilang untuk saat ini. Dia berharap Appanya benar-benar melawak. Atau… Dia berharap ini hanya mimpi. Namun semuanya terlalu nyata.

“Kau yang akan bertunangan, Lian.”

To be Continued~

Advertisements

Author:

Hanya seorang gadis berumur 18 tahun yang mempunyai imajinasi tinggi dan berakhir pada tulisan ngawur~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s